32. Peng Red (30)-14 Mei ’13

Standar

Memeringati Hari Buruh 1 Mei 2013

 

Imperialisme versi James Petras-Coen Husain Pontoh:

Sibuk  ‘Memahami Dunia’,

‘Otokritik’ bagi Sang Tuannya, Imperialis?

‘Perjuangan Kelas’ Minus Kediktatoran Proletariat

(Bagian Pertama)

 

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-30 bertarikh 14 Mei 2013.

Meski sudah lewat dua pekan, Redaksi memiliki alasan tersendiri untuk memeringati Hari Buruh 1 Mei 2013.  Adalah tulisan Coen Husain Pontoh sebagai tinjauan atas pemikiran James Patras, merupakan dalihnya..

Lamun, dengan menyadari sepenuhnya blog ini sebagai pewarta warga, yang Redaksi bisa lakukan adalah menguraikan beberapa “indikasi kuat” (bukan analisis ilmiah) atas imperialisme versi Patras-Coen itu. Bahwa inilah sebuah karya kaum revisionis.

Kaum yang, meminjam Lenin, memusuh Marxisme di dalam Marxisme itu sendiri. Lalu memasuki abad ke-21, seorang Marxis-Leninis Vince Sherman menjuluki mereka: secara de facto sebagai perisai-kiri imperialisme (left-cover for imperialism).

Subjudul tajuk di atas adalah ‘kata-kata kunci’ yang terambil dari indikasi-indikasi  kuat itu.

Jadi, silakan disimak hlm 32b.

Dan, semoga media ini bermanfaat.

Selamat membaca Kawan Pembaca Budiman.

31. Peng Red (29)-14 Apr ’13

Standar

‘Tidak Ada Krisis’ di Semenanjung Korea

Kecuali

Tegarnya Sebuah Martabat

dengan Laras Senapan (Nuklir)

.

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-29 bertarikh 14 April 2013.

Menghangatnya situasi semenanjung Korea awal bulan ini, terlebih mencoloknya sikap tak tahu malu yang membuka aibnya sendiri sebagai sang pembohong dan agresor di Irak-Libia (pinjam Robert Mugabe PBB 2011—simak hlm 14a atau klik ini), Redaksi tergelitik untuk menampilkan warita terkait.

Pasalnya, setidaknya bagi Redaksi, sesungguhnya ‘tidak ada krisis’ di semenanjung Korea kecuali tegarnya sebuah martabat dari Republik Demokratis Rakyat Korea (RDRK) dengan laras senapan (nuklir).

RDRK, dengan jalan sosialisme melalui ideologi Juche (klik ini), yang meski tidak mencantumkan Marxisme-Leninisme (berbeda dengan Tiongkok yang secara jelas tertera), mereka menerapkan atau paling tidak paralel dengan apa yang antara lain ditulis Mao Zedong di “Buku Merah Kecil” (versi Bahasa Indonesia, Edisi Pertama, 1967, dicetak di RRT).

“Kekuasaan politik lahir dari laras senapan.” (Hlm 74-75).

“Kita adalah penganjur dikenyapkannya perang, kita tidak menghendaki perang; tetapi perang hanya dapat dilenyapkan melalui perang, dan untuk meniadakan senapan harus angkat senapan.” (Hlm 76).

“Negeri kita dan dan semua negeri sosialis membutuhkan perdamaian, begitu juga rakyat semua negeri di dunia. Yang haus akan perang dan tidak menghendaki perdamaian hanyalah grup-grup kecil kapitalis monopoli tertentu dalam sejumlah kecil negeri kecil imperialis, yang menjadi kaya raya dari melakukan agresi.” (Hlm 78).

Atau Redaksi melihatnya sebagai  ’aksioma geometris kaum Marxian’-nya Lenin (simak hlm 21b atau klik ini) yang ‘kontekstual’ di bumi Korea dalam wujud ideologi Juche dan kebijakan Songun/Utamakan Militer (Military-First policy). Hal yang hemat Redaksi sejajar ideologi Pancasila yang digali Soekarno dilengkapi kebijakan UUD 1945 yang sejatinya (juga) berkeinginan kuat menghapus penjajahan (baca: imperialisme) di muka bumi.

Sehingga, bagi Redaksi Korea Demokratis tak pelak lagi sebuah negeri yang Indonesia perlu memelajari dengan cermat perkembangannya. Bukan hanya secara historis hubungan internasional mereka memiliki kedekatan dengan kita, tetapi justru secara ideologis: salah satu dari beberapa negeri  yang termasuk (pinjam Vince Sherman) ‘sosialisme sesungguhnya ada’ (simak hlm 29a atau klik ini dan hlm 30e atau klik ini).

Ada dua warita terkait mendasari argumentasi Redaksi di atas.

Pertama, wawancara aktivis asal Chicago Stansfield Smith dengan pemandu tur warga Korea sewaktu Smith berwisata ke Korea Demokratis akhir Maret lalu.

Kedua,  pernyataan resmi, yang ternyata bukan dari Presiden Kim Jong Un, tetapi dari pemerintah, partai-partai politik, dan organisasi-organisasi RDRK.

Hal yang makin mengungkapkan tabiat asli sang imperialis—seperti sudah jauh-jauh hari diwanti-wanti Mao itu—kaya raya dari melakukan agresi.

Maka ketika Korea Demokratis (mengacu ‘terminologi cowboy’)  mengokang dan membidik lebih dulu senapan (nuklir) ketimbang sang imperialis,   berteriaklah pembohong-agresor itu kencang-kencang bak anak kecil untuk menarik perhatian dunia: “Korea Utara mau serang dengan senjata nuklir!”

Termasuk Jepang, yang—belum juga kapok sebagai imperialis bengis PD II; seperti terwujud dalam dominasinya meminggirkan mobnas kita—ternyata ingin mengubah pasukan bela diri mereka menjadi tentara regular lewat isu “Korea Utara yang berbahaya”.

Jadi, untuk warita terkait Korea Demokratis silakan simak hlm 31a atau klik ini; juga hlm 31b atau klik ini.

Sementara untuk kabar terkait Pemprov DKI yang—menempati halaman khusus di blog ini—Redaksi kutip warita kunjungan Jokowi ke Markas Kopassus dan menawarkan kerja riil bantu rakyat, justru ketika pasukan elit ini sedang diterpa masalah.

Redaksi membacanya sebagai langkah pancasilais seorang pejabat penting negeri ini yang berpikir jauh ke depan untuk mencoba (ikut) menegakkan sebuah negara Indonesia yang kuat—termasuk memiliki pasukan elit yang kuat.

Karenanya, Redaksi yang sedang belajar memahami jalan berpikir kaum materialis (dari basis ke superstruktur; simak hlm 23a atau klik ini), tidak serta merta menanggapi ‘negatif’ reaksi keras Danjen Kopassus dalam warita (terbarui) Kompas.com (16/4/2013) bertajuk ‘Tak Boleh Ada yang Ganggu Kopassus’.

Lantaran, Redaksi masih ‘panasaran’ dengan UUD 2002/niramendemen UUD 45 yang cacat hukum tapi diacu itu. Konstitusi gadungan yang berdampak negatif (salah satunya) pada mesin pemukul, pasukan elit, negara Republik Indonesia. Apalagi, HAM dan demokrasi versi sang pembohong dan agresor itu berandang terbukti di Irak dan Libia–ketika “politik luar negeri Indonesia menjadi lembek dan proBarat” (Asvi W Adam; simak hlm 24a atau klik ini) alias tidak lagi segarang era Soekarno dalam menghadapi Barat yang imperialis itu.

Singkat cerita, Redaksi gregetan. Kok kita masih seperti era Suharto saja, yang tidak kritis dengan “HAM-demokrasi”-nya sang pembohong dan agresor itu. Padahal merekalah yang intervensi melahirkan konstitusi gadungan tersebut!

Hal yang serupa ketika Redaksi mengutip warita mulai digelarnya lelang jabatan lurah dan camat. Soalnya, Redaksi juga membacanya sebagai langkah pancasilais Pemprov DKI dalam menegakkan sebuah aparatur pemerintah yang prorakyat khususnya pada koridor kebijakan blusukan-musyawarah.  Yang, hemat Redaksi, juga ‘berefek samping’ salah satunya: kerja KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) akan sangat berkurang atas Pemprov DKI untuk tidak mengatakan KPK sejatinya tidak dibutuhkan oleh sebuah konstitusi bernama UUD 1945—kecuali oleh gadungannya: UUD 2002!

Jadi, warita Pemprov DKI terkait Kopassus simak hlm 31c atau klik ini.

Dan untuk kabar lelang jabatan lurah dan camat simak hlm 31d atau klik ini.

Dermikianlah, semoga media ini bermanfaat.

Selamat membaca Kawan Pembaca Budiman.

30. Peng Red (28)-14 Mar ’13

Standar

 

Soekarno dan Wafatnya Marx

Trotskyit dan Wafatnya Chavez

.

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-28 bertarikh 14 Maret  2013; bertepatan dengan 130 tahun wafatnya Karl Marx pada 14 Maret 1883, serta 9 hari setelah berpulangnya Presiden Venezuela Hugo Chaves Frias pada 5 Maret 2013.

Sebagai sebuah pewarta warga yang bersimpati dan mendukung perjuangan revolusioner rakyat tertindas di bumi pertiwi ini, juga di seantero dunia, termasuk pada rakyat revolusioner dan Penjabat Presiden Venezuela Nicolás Maduro beserta PVC, Redaksi Dasar Kita menurunkan tulisan-tulisan terkait dalam pengeposan kali ini.

Silakan simak pariwara tulisan-tulisan dimaksud dalam guliran di bawah ini. Termasuk lanjutan tulisan  Vince Sherman Sosialisme Sesungguhnya Ada (Bagian Kedua).

Juga, tak ketinggalan, Gema Praksis Jati Diri-Dasar Kita ala Jokowi-Ahok, yang kali ini mengangkat dampak signifikan tawaran halus Jokowi ke PLN untuk blusukan—terkait kebakaran akibat aliran listrik liar.

Semoga bermanfaat.

Selamat membaca Pembaca Budiman.

130 Tahun Wafatnya Marx

.

Kita, sebagai orang Indonesia, beruntung. Setidaknya bagi Redaksi, bahwa Soekarno pernah menulis khusus tentang Marx dalam memeringati 50 tahun wafatnya.

Mengapa? Pertama-tama, Redaksi berharap Pembaca Budiman sudi membaca (ulang) tulisan Sokarno dimaksud pada hlm 6a blog ini atau klik ini.

Soalnya, dari tulisan itu, sangat jelas Soekarno tidak ada masalah sama sekali dengan ajaran-ajaran Marx. Malah sebaliknya, menyambut positif. Soekarno, dalam tulisan yang relatif singkat itu, menunjukkan pemahamannya atas esensi “teori-teori yang dalam dan berat” dari seorang Marx.

Dan tak cukup hanya memahami—seperti halnya Tesis ke-11 Marx kepada Feuerbach—Soekarno (ikut) merubah (sepotong) dunia bernama Indonesia  … “Nasionalisme di dunia Timur itu lantas ‘berkawinlah’ dengan Marxisme itu, menjadi suatu nasonalisme baru … Nasonalisme baru inilah yang kini hidup di kalangan Marhaen Indonesia.”

Maka sehari setelah Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan Hatta, konstitusi awal kita itu, Pancasila-UUD 1945, ternyata sangat kuat mencerminkan nasionalisme baru yang dimaksud Soekarno.

Maka mestinya bukan kejutan ketika perjuangan pembebasan nasional yang diperjuangkan Soekarno dan rakyat Indonesia itu paralel pemikiran Lenin tentang perlunya negeri-negeri jajahan pertama-tama membebaskan dirinya dari imperialis kemudian melangkaui (mem-bypass) kapitalisme menuju orientasi sosialis—yang ‘baru akan’ dilakoni Soekarno lewat Demokrasi Terpimpin.

Tetapi ketika di awal abad ke-21 anak dan menantunya Soekarno pegiat parpol tua nan besar yang masih membangga-banggakan sang  ayah lantas bicara tentang 4 pilar bangsa (Kompas,10/3/2013 ), tetapi entah kenapa tidak risi terhadap UUD 2002/niramendemen UUD 45.

Maka setidaknya bagi Redaksi, adalah sebuah parpol, sebuah kekuatan politik negeri ini sedang  paralel menjalani apa yang ditulis Profesor Toad menanggapi sebuah artikel kaum Trotskyit Venezuela yang (ternyata) tidak tulus dalam belasungkawa atas meninggalnya Chavez: “Artikel ini benar-benar bercerai dari yang riil, perasaan manusia, kelas pekerja Venezuela .

Jadi sekali lagi, jangan kapok menyimak tulisan Soekarno itu: Memperingati 50 Tahun Wafatnja Karl Marx.

ooOoo

Warita/Risalah Sekilas Mancanegara 14 Mar ’13 .

Wafatnya Chavez

Vince Sherman: Beristirahatlah dalam Kekuasaan, Comandante Hugo Chavez

.

“Artikel berikut ini ditulis oleh Profesor Toad … tentang opurtunisme kiri memalukan oleh kekuatan Trotskyit pada kaum Kiri Venezuela. Ini adalah komentar penting pada politik internal Partai Persatuan Sosialis Venezuela (PSUV), dan kaum revolusioner harus membacanya untuk lebih memahami perlunya solidaritas dengan Wakil Presiden Maduro (sekarang Penjabat Presiden—Red) dan pimpinan PSUV terhadap politik memecah belah, politik faksionalis.”

Demikian tulis Sherman dalam salah satu paragraf tulisannya Beristirahatlah dalam Kekuasaan, Comandante Hugo Chavez.

Silakan simak risalah Sherman itu di hlm 30a atau klik ini.

ooOoo

Warita/Risalah Sekilas Mancanegara 14 Mar ’13 .

Wafatnya Chavez

Profesor Toad: Kita Tidak Semua Berkabung dalam Ketulusan

.

Jadi, pada dasarnya, kita diberitahu bahwa ahli waris Chavez yang dipilih, mereka yang diakui dari sikap politik yang sama seperti dia, akan segera memberikan negeri tersebut ke Amerika Serikat.

Kepercayaan ini hanya mungkin bagi mereka yang mengabaikan sepenuhnya seluruh sejarah hubungan Bolivarian Venezuela dengan Amerika Serikat;

Mereka yang tidak ingat kudeta yang disponsori Amerika pada 2002;

Mereka yang tidak ingat ucapan Chavez tentang bau belerang George Bush yang hadir di Perserikatan Bangsa-Bangsa;

Mereka yang tidak ingat solidaritas yang ditunjukkan  Venezuela dengan Kuba dan Bolivia. Dan seterusnya.”

Demikian kutipan salah satu alinea tulisan Profesor Toad.

Silakan simak hlm 30b atau klik ini.

ooOoo

Warita/Risalah Sekilas Mancanegara 14 Mar ’13 .

Wafatnya Chavez

Venezuela: PVC Mendukung Calon Presiden Maduro

.

Seperti diamanahkan almarhum Hugo Chavez, partai Komunis Venezuela (PVC) dalam Konferensi XII Partai Komunis Venezuela telah menempatkan Wakil Presiden Nicholas  Maduro sebagai Penjabat Presiden Venezuela. Juga mendukung Maduro sebagai calon presiden dalam pemilu 14 April mendatang.

Silakan simak laporan pewartaan ini di hlm 30c atau klik ini.

ooOoo

Warita/Risalah Sekilas Mancanegara 14 Mar ’13 .

Wafatnya Chavez

Pidato Historis Presiden Nicholas Maduro di Konferensi Nasional Partai Komunis Venezuela

Masih dengan laporan pewartaan, kali ini dari Konferensi XII Partai Komunis Venezuela. Berisikan beberapa cuplikan menarik pidato Maduro.

Silakan simak hlm 30d  atau klik ini.

ooOoo

Warita/Risalah Sekilas Mancanegara 14 Mar ’13 .

Sosialisme Sesungguhnya Ada

di Vietnam

Oleh: Vince Sherman 

(Bagian Kedua)

.

Lanjutan tulisan Vince Sherman yang bagian awalnya sudah dimuat pada pengeposan bulan lalu, makin meyakinkan kita, setidaknya Redaksi, bahwa betapa pentingnya jati diri kita.

Apalagi jati diri kita itu pernah menjadi dasar suatu kebijakan yang bernama “Demokrasi Terpimpin”—yang ternyata inilah ‘model’ demokrasi yang sangat tidak disukai kaum imperialis.

Soalnya, ‘sederhana’.

Demokrasi ala Soekarno itu, tidak bakal memberi peluang bagi segelintir orang berpunya pengakumulasi kapital untuk ‘seenaknya’ menguras kekayaan alam termasuk mengeksploitasi mayoritas rakyat yang tak berpunya itu—kecuali mereka di bawah kontrol ketat negara, untuk meningkatkan tenaga-tenaga produktif rakyat ke kelas dunia. Menjamin keadilan dan kemakmuran rakyat dalam sebuah orientasi sosialis ala Indonesia, berkarakteristik Indonesia.

Silakan simak hlm 30e atau klik ini.

Warita/Risalah Khusus Pemerintah Provinsi DKI Jakarta 14 Mar ‘13

Gema Praksis Jati Diri-Dasar Kita ala Jokowi-Ahok

Blog Dasar Kita murni nirprofit, dan tidak ada hubungan sama sekali dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta termasuk secara personal dengan pejabat/para pejabat terkait apalagi dengan Bang Jokowi maupun Bang Ahok; ini semata karena kepemimpinan  mereka menurut hemat kami sangat pancasilais juga sangat menginspirasikan bagi perjuangan kemerdekaan jilid 2

.

Cegah Kebakaran: Jokowi Desak PLN Putus Aliran Listrik Liar

Kompas.com, 14/3/2013

.

Bagi Redaksi warita sepintas tampak rutin ini, membawa dampak signifikan bagi negeri kita paling tidak di DKI Jakarta.

Maksud Redaksi, selama ini kita harus akui PLN untuk melistriki negeri atau urusan elektrifikasi negeri ini, boleh diacungi jempol. Namun, hemat kami, kelihatannya ‘semangat tinggi’ itu nyaris identik ‘asal meteran terpasang’ setidaknya dalam kasus yang disinggung Jokowi.

Artinya, kaidah-kaidah yang biasanya cukup ketat—lewat para instalatir resmi pula—untuk sebuah bangunan, rumah tinggal sederhana, katakanlah, tetapi kenapa begitu tampak ‘semrawut’ (kabel-kabel yang melintas ‘seenaknya meski berinduk pada sebuah meteran resmi PLN) untuk pasokan listrik bagi para pedagang kaki lima, rumah-rumah yang dimaksud Jokowi.

Jangan-jangan “aliran listrik liar” dimaksud Jokowi itu, adalah aliran listrik resmi (kalau tidak sudah lama diputus) tapi instalasinya yang “liar” alias tidak sesuai aturan baku PLN sendiri.

Memang bisa saja PLN berkilah, kewajibannya ya menyediakan listrik sesuai permintaan (calon) pelanggan hanya sampai ke meteran. Tapi bukankah dengan kehadiran instalatir resmi itu wilayah instalasi listrik (calon) konsumen sudah dimasuki?

Jadi? Di titik inilah, hemat Redaksi, PLN ditantang untuk mencari terobosan.

Hal ini yang Redaksi maksud, peristiwa rutin ini berdampak signifikan. Yakni, ketika PLN mau menjawab tantangan Jokowi untuk blusukan.

Sekaligus mendidik kita semua bahwa listrik itu, sama seperti hasil teknologi tertentu lainnya, bisa sangat berbahaya—kebakaran contohnya.

Lamun, tentu saja, bukan perkara mudah bagi para insinyur listrik yang terbiasa dengan semangat melistriki negeri mengurusi interkoneksi Jawa-Bali bahkan dengan Sumatera, harus blusukan di perkampungan, pelosok-pelosok, termasuk pedagang kaki lima.

Lamun, bila DKI oke sebagai proyek percontohan PLN, bukankah berdampak bagi seluruh pelanggan di Nusantara ini?

Dan, untuk Indonesia yang kuat berikut BUMN-nya, seperti yang sedang dibangun Jokowi-Ahok di DKI lewat blusukan-musyawarah, kenapa tidak PLN!? Semoga.

Warita selengkapnya dari Kompas.com (14/3/2013) simak hlm 30f atau klik ini.

ooOoo

29. Peng Red (27)-14 Feb ’13

Standar

Mengenang Kerusuhan Ambon Memasuki Abad ke-21.

Ikon

Porakporandanya Jati Diri Kita

di Sebuah Desa di Suatu Hari Minggu 14 Februari

 .

.

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-27 bertarikh 14 Februari 2013.

Tepat di hari yang bagi banyak orang dirayakan sebagai hari kasih sayang, Redaksi pun mencoba mengajak Pembaca Budiman menengok sepotong masa lalu kita yang justru diametral kasih sayang.

Pasalnya, Redaksi termasuk yang percaya dan berikhtiar “masa kini menguasai masa lalu, bukan sebaliknya”—ketika mengenang kerusuhan di kawasan timur kita memasuki abad ke-21 lalu itu.

Apalagi, mencuat sejumlah tanya. Bagaimana bisa, misalnya, pertikaian antarkampung bisa begitu luas menyebar ke desa-desa lain menjadi kerusuhan berdarah-darah jiwa-jiwa melayang dan berlangsung begitu lama.

Sementara pada waktu  bersamaan sekumpulan orang berpredikat “wakil rakyat” di ruang yang sejuk dan nyaman, Senayan, Jakarta, selama 4 tahun berturut-turut (1999-2002) menerbitkan 1 “amendemen” per tahun menjadi total 4 “amendemen”  atas UUD 1945 alias UUD 2002 yang ternyata cacat hukum—dibantu pihak asing pula.

Sebuah RI hari-hari ini, hemat Redaksi, adalah sebuah konsekuensi logis dari sepotong masa lalu itu.

Sekaligus, Redaksi percaya bahwa jati diri kita yang digali dan bukan ditemukan oleh seorang Soekarno itu sedang dipraksiskan sosok-sosok macam Jokowi-Ahok tanpa berjargon-jargon kosong lewat blusukan-musyawarah di “medan paling ganas” di republik ini: DKI Jakarta; menjadikannya pemicu terbentuknya bola salju penghapus UUD 2002/niramendemen UUD45.

Silakan simak hlm 29a atau klik ini.

Juga silakan simak risalah Sekilas Mancanegara dari Vietnam lewat pengantarnya di bawah ini.

Semoga media ini bermanfaat.

Selamat Membaca Pembaca Budiman

ooOoo

Warita/Risalah Sekilas Mancanegara 14 Feb’13 .

Sosialisme Sesungguhnya Ada

di Vietnam.

Oleh: Vince Sherman

.

Ini kali pertama Redaksi mengangkat Vietnam, lewat Vince Sherman, sebagai salah satu negeri sosialis. Atau negara yang oleh Sherman disebut dalam istilahnya yang kemudian dipakai dalam judul karangannya ini: “sosialisme sesungguhnya ada” (actually existing socialism).

Terus terang, Redaksi tiba-tiba bergairah, bersemangat dan makin percaya diri atas secuil upaya selama ini: berikhtiar menegakkan Pancasila-UUD 45—ketika memetik ajar dari kebijakan Doi Moi Vietnam.

Malah, bisa saja Redaksi dicap berlebihan, ketika berpendapat bahwa blusukan-musyawarah Jokowi-Ahok adalah paralel Doi Moi untuk tidak mengatakan sama sebangun.

Bedanya, Doi Moi untuk seluruh negeri Vietnam, sementara blusukan-musyawarah hanya sebatas DKI Jakarta.

Karenanya, Redaksi tak sungkan-sungkan mengulangi kalimat pada pengantar warita di atas terkait blusukan-musyawarah Jokowi-Ahok:

“… menjadikannya pemicu terbentuknya bola salju penghapus UUD 2002/niramendemen UUD45.”

Silakan simak hlm 29b atau klik ini.

ooOoo

28.Peng Red (26)-14 Jan ’13

Standar

.RSBI-SBI Bubar 

MK: RSBI Tidak Sesuai Konstitusi.

 

Kompas.com,8/1/2013

 

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-26 bertarikh 14 Januari 2013.

Setelah BP Migas bubar oleh Mahkamah Konstitusi (MK) jelang akhir tahun lalu dengan alasan bertentangan konstitusi UUD 1945, kini di awal tahun menyusul sebuah lagi keputusan MK, dengan alasan yang sama. Bubarnya Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional-Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI-SBI).

Untuk itu, pada pengeposan kali ini Redaksi memuat warita terkait yang dikutip utuh dari sumbernya Kompas.com melalui alamat link seperti tercantum di atas.

Pemuatan warita ini, seperti halnya sewaktu bubarnya BP Migas, sekadar menegaskan ulang, seturut niat ingsun sebagai pewarta warga yang ikut berupaya menegakkan Pancasila-UUD 1945 setelah lahirnya UUD 2002/nir amendemen UUD 1945.

Memang, dalam pola terbarui (update), kabar bubarnya RSBI-SBI sudah disisipkan pada tulisan kami  pengeposan bulan lalu di halaman khusus terkait kepemimpinan Jokowi-Ahok (simak hlm hlm 27a atau klik ini). Lamun mengingat, sekali lagi, alasan MK yang setidaknya bagi Redaksi sangat strategis dan signifikan bagi masa depan negeri ini, Redaksi memuatnya secara khusus di blog ini (simak hlm 28a atau klik ini).

Dengan begitu bidasan (respons) Redaksi seputar bubarnya RSBI-SBI sudah disampaikan, maksudnya dapat disimak pada pengeposan lalu tersebut (hlm 27a klik ini). Kalau pun ada yang Redaksi perlu tambahkan, bahwasanya konstitusi awal Pancasila-UUD 45, jati diri negeri akbar itu, adalah hal tak terelakkan. Terlebih cita-cita  utama sosialisme Indonesia, sosialisme khas Indonesia, sosialisme berkarakteristik Indonesia dinyatakan dengan kuat dalam konstitusi awal ituseperti sudah disinggung Arief Budiman jauh-jauh hari (HIPIS Palembang, 1984); simak hlm 2a atau klik ini.

Lamun, dengan tiba-tiba muncul tulisan Yudhistira ANM Massardi RSBI: Hancurlah Sudah Bangsa Ini di Kompas.com (14/1/2013), Redaksi tergelitik membidas (merepons). Silakan simak bidasan Redaksi, yang kami tempatkan di bagian bawah kutipan utuh warita Kompas.com (8/1/2013) ini dengan, sekali lagi, alamat link seperti tercantum pada tajuk di atas atau ke hlm 28a atau klik ini. 

ooOoo

Warita/Risalah Sekilas Mancanegara Tenggang 14 Des ‘12-14 Jan ’13 (1/2).

Mengubah Sikap Menuju Sosialisme: Editorial Tahun Baru dari Return to the Source.

Oleh: Vince Sherman

 

Hal (sosialisme berkarakteristik Indonesia) yang, setidaknya menurut hemat Redaksi, paralel dengan tulisan Vince Sherman yang Redaksi bahasaindonesiakan di bawah tajuk Mengubah Sikap Menuju Sosialisme: Editorial Tahun Baru dari Return to the Source (simak hlm 28b atau klik ini).

Sherman yang percaya, khususnya terhadap kaum sosialis muda Amerika dan Eropa Barat ‘angkatan’ tahun 2000-an, bahwa para pemuda ini berbeda—lebih terbuka—ketimbang generasi sebelum dalam melihat negeri-negeri sosialis dari abad ke-20 lalu.

“Generasi para revolusioner yang baru ini mulai melihat melalui kotoran dan memahami kebenaran,” tulis Sherman.

Artinya, risalah Sherman ini bagi Redaksi ternyata pas juga ditujukan bagi kaum muda revolusioner kita di Indonesia di awal abad ke-21. Mereka, yang Redaksi harapkan pula, seperti cuplikan Sherman lainnya, “Mereka harus melihat ke pengalaman unik dari lima negara sosialis yang ada (Kuba, Tiongkok, Vietnam, Laos dan Republik Demokratis Rakyat Korea—Red) lantaran mereka (negeri-negeri sosialis ini—Red) bertarung untuk bertahan hidup dan tumbuh kembang, sekalipun dikelilingi oleh imperialisme.”

Artinya, tidak seperti generasi mereka sebelumnya—terutama di Jakarta—yang terlalu ”terpaku” hanya pada Venezuela, sembari memandang sinis pada RRT (Republik Rakyat Tiongkok) untuk tidak mengatakan menganggap RRT sudah negara kapitalis, misalnya.

Meski di sisi lain, Redaksi sepakat klaim Sherman, “…secara eksplisit bukanlah bahwa kaum muda makin meningkat bergerak menuju Marxisme-Leninisme.” Tapi yang paling penting, tulis Sherman mengakhiri risalahnya itu, mereka harus mengorganisasi tempat-tempat kerja, komunitas-komunitas, kampus-kampus untuk melawan imperialisme dan membangun perjuangan revolusioner melawan kapitalisme.

Jadi, sekali lagi, silakan simak Vince Sherman secara utuh, di hlm 28b atau klik ini.

ooOoo

Warita/Risalah Sekilas Mancanegara Tenggang 14 Des ‘12-14 Jan ’13 (2/2).

Presiden Belarus Lukashenko kepada Apologis Imperialisme:

‘Kalian Akan Membayar untuk Kejahatan yang Kalian Lakukan di Suriah’.

.

Dan Redaksi berharap pembaca budiman, sambil mengacu sepenggal kalimat, lagi-lagi dari risalah Vince Sherman di atas,

“Argumen-argumen antikomunis klasik dari kelas berkuasa dan ‘kiri degenerasi’ (‘degenerate left’/degenerasi bermakna kemunduran/kemerosotan suatu generasi—Red/Badudu, 2005) gagal total dalam berhadapan dengan imperialisme yang tak terkendalikan yang menandai abad ke-21,”

bisa menikmati hasil wawancara audio-visual dengan Presiden Belarus Lukashenko terkait kiprah imperialisme paling anyar di Suriah.

Silakan simak hlm 28c atau klik ini.

ooOoo

Warita/Risalah Khusus Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Januari ’13

Gema Praksis Jati Diri-Dasar Kita ala Jokowi-Ahok

———————————————————————-

Jokowi Bantah Ada Tekanan

dari

Pemerintah Pusat 

.

Kompas.com 11/1/2013

.

 

Dan bila kita menyoal kiprah, sebutan Redaksi, kaum kapitalis-birokrat pancasilais, Jokowi-Ahok dalam hal ini, yang sedang menyudahi praCopernican UUD 2002/niramendemen UUD45 dengan blusukan-musyawarah: bumi (Jakarta) mengorbit matahari (simak hlm 27a atau klik ini), maka “konsistensi” seorang pejuang revolusioner di medan laga itu sejatinya tidak hitam-putih.

Artinya, “konsistensi” yang dituntut oleh seorang pangamat perkotaan Nirwono Joga, misalnya, Redaksi tempatkan dalam pemahaman ini; terlebih ketika beliau sudah mengklaim “ada tekanan”, apalagi, hemat Redaksi, “luar biasa” gedenya “tekanan” dimaksud Nirwono itu.

Jangankan sejarah kita, dari sejarah dunia saja, seorang Mao Zedong mundur dari markas PKT di Yan’an, ketika dibombardir pesawat-pesawat Chiang Kai-shek, sambil berucap: “Aku bertukar Yan’an untuk seluruh Tiongkok”. Dan hanya kurang dari 1,5 tahun Yan’an sudah direbut kembali—sebuah langkah maju menuju proklamasi RRT (simak hlm 4a atau klik ini).

Redaksi tidak sedang membela membabi-buta Jokowi-Ahok. Redaksi sedang kukuh ikut mengembalikan jati diri kita yang sudah masuk boks oleh intervensi kaum penjajah dan para begundalnya. Pembelaaan ini lebih pada dinamika perjuangan revolusioner sebuah Jakarta (baca: Indonesia) di awal abad ke-21 ketika tak sebutir peluru pun mendesing. Ketika duet Jokowi-Ahok sedang menggasak lewat blusukan-musyawarah (simak hlm 27a/klik ini) para begundal itu yang telah berdasawarsa mengabaikan rakyat tertindas sejak era Bang Ali.

Atas sikap Redaksi ini, warita bersumber Kompas.com dengan tajuk dan alamat link-nya seperti tercantum di atas, dimuat utuh pada halaman khusus kami tentang Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Silakan simak hlm 28d atau klik ini.

Dan …

Semoga rangkaian aksara dari Redaksi di atas, termasuk yang terbarui pasca14 Januari 2013 di bawah ini, kiranya bermanfaat.

Selamat Membaca Kawan.

Tetap Merdeka!

ooOoo

TERBARUI:

Warita/Risalah Sekilas Mancanegara Pasca14 Jan ’13

Lebih dari 80 Tewas dalam Ledakan Dua Roket di Universitas Allepo Saat Para Mahasiswa Sedang Ujian 

Untuk warita terbarui (update) Redaksi kutip dari kemelut di Suriah. Ledakan dua roket yang menghantam Universitas Allepo, di kota terbesar Suriah Allepo, pada 15 Januari 2013. Silakan simak hlm 28e atau klik ini.

ooOoo

TERBARUI:

Warita/Risalah Sekilas Mancanegara Pasca14 Jan ’13 .

Partai Pekerja Belgia Menentang Intervensi Imperialis di Mali

Warita terbarui lainnya, intervensi imperialis di Mali. Redaksi memuat utuh pernyataan Partai Pekerja Belgia (PPB) menentang intervensi militer Prancis di Mali, Afrika Utara, di mana Belgia disebut PPB cepat berkontribusi di tengah-tengah langkah-langkah penghematan yang menyakitkan dan pemotongan anggaran sosial. Silakan simak hlm 28f atau klik ini.

ooOoo

TERBARUI:

Warita/Risalah Khusus Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Januari ’13

Gema Praksis Jati Diri-Dasar Kita ala Jokowi-Ahok

———————————————————————-

Jokowi dan Anak (Foto Kompas.com/Kurnia Sari Aziza) 

Silakan simak hlm 28g atau klik ini.

ooOoo

TERBARUI:

Warita/Risalah Sekilas Mancanegara Pasca14 Jan ’13.

Komite Sentral PKN-Maois Mengancam untuk Melancarkan Pemberontakan Rakyat

Ini kali pertama Redaksi menampilkan warita dari Nepal.

Salah satu negeri—di luar 5 negeri yang termasuk ke dalam apa yang Vince Sherman sebut  “sosialisme sesungguhnya ada” (actually existing socialism—Red): Kuba, Republik Rakyat Tiongkok, Vietnam, Republik Demokratis Rakyat Korea, dan Laos–yang disarankan Vince Sherman untuk dipetik inspirasi dan ajarnya dalam perjuangan revolusi mereka untuk menuju negara sosialis seperti kelima negeri tersebut. (Simak hlm 28b atau klik ini.)

Selain Nepal, negeri-negeri yang  dimaksud Sherman antara lain Kolombia, Filipina, Palestina, Venezuela bahkan India.

Ada hal menarik dari warita ini, setidaknya bagi Redaksi. Bahwa PKN (Maois)—yang keluar dari partai berkuasa PKNB (Maois) yang dinilai antinasional—berencana membentuk front bersama dengan kaum  federalis, republiken dan nasionalis.

Front bersama yang pernah Redaksi singgung ketika mengutip pemikiran (para) jauhari era Uni Soviet dalam risalah kami bertajuk Mengapa Pancasila Perlu-Perlunya Masuk Kotak:

 Negara berorientasi sosialis, dalam esensi kelasnya, adalah kekuasaan rakyat revolusioner-demokratis. Sebuah negara yang kekuasaannya bukan dimiliki oleh borjuis nasional, tetapi oleh suatu blok terdiri dari kekuatan-kekuatan berbagai kelas dan kelompok-kelompok sosial revolusioner.

(Simak hlm 25a atau klik ini.)

Front bersama dalam konteks “orientasi sosialis” inilah, menurut hemat Redaksi, yang rupanya sedang diperjuangkan oleh PKN (Maois). Sekaligus di sinilah perbedaan hakiki PKN (Maois) dengan PKNB (Maois). Yang belakangan ini, bersuara kencang tentang “jalan kapitalisme” (simak Shirish B Pradhan UCPN (Maoist): ‘Socialism through Social Democracy, not New Democracy’ yang dimuat di blognya BJ Murphy The prison gates are open … , klik initapi minus “orientasi sosialis” yang setidaknya Redaksi coba pahami ini.

Dan hal ini pulalah yang Redaksi harapkan dari kaum muda ML kita di abad ke-21. Mendukung terbentuknya front bersama ber-platform Pancasila-UUD45 yang sejatinya bercita-cita utama sosialisme Indonesia, sosialisme khas Indonesia, sosialisme berkateristik Indonesia. Dengan agenda utama dan mendesak : hapus UUD 2002/niramendemen UUD 45.

Silakan simak hlm 28h atau klik ini

.

ooOoo

TERBARUI:

Warita/Risalah Sekilas Mancanegara Pasca14 Jan ’13.

Militer Suriah: Pesawat-Pesawat Tempur Israel Membom Pusat Riset Dekat Damaskus

Panik!

Hanya satu kata ini dari Redaksi menangapi serangan udara Israel atas Suriah bersumber dari RT (Russia Today) tersebut.

Bermakna paniknya kaum imperialis di Suriah!

Selebihnya, silakan langsung saja Kawan Pembaca Budiman simak hlm 28i atau klik ini.

.

ooOoo

TERBARUI:

Warita/Risalah Sekilas Mancanegara Pasca14 Jan ’13.

Email yang Dibajak Mengungkapkan

‘Persetujuan Washington’

Atas Rencana untuk Menggelar Serangan Kimia Suriah

.

Memang email ini seperti yang diwaritakan masih dipertanyakan keotentikannya.

Tapi bagi Redaksi, pengalaman Irak dengan isu “senjata pemusnah massal” yang kemudian ternyata bohong belaka lamun agresi itu sudah dan terus berlangsung, sulit untuk tidak percaya pada kabar miring satu ini.

Julukan para pembohong dan agresor oleh Presiden Zimbabwe Robert Mugabe–di Sidang Umum PBB pada 2011–bukan saja pas tapi tampaknya bakal abadi berapa presiden pun pascaObama selesai.

Ya, tak pelak lagi inilah yang namanya tahap tertinggi kapitalisme yang tak lain adalah,  seperti potongan kalimat Vince Sherman di atas, “… imperialime yang tak terkendalikan yang menandai abad ke-21.”

Silakan saja Pembaca Budiman simak hlm 28j atau klik ini.

ooOoo

TERBARUI:

Warita/Risalah Khusus Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Pasca14 Jan ‘13

Gema Praksis Jati Diri-Dasar Kita ala Jokowi-Ahok

Jokowi: Saya Mau Lakukan yang Terbaik.

.

Kompas.com 8/2/2013

.

 .

Alhamdulillah.

Ini komentar Redaksi terkait isu Jokowi untuk maju sebagai calon presiden (capres) dan tanggapan Jokowi sendiri seperti terwaritakan Kompas.com di atas.

Soalnya bagi kami, pertama, bahwa Jokowi-Ahok dengan blusukan-musyawarah diharapkan menjadi pemicu terbentuknya bola salju yang akan memporakporandakan UUD 2002/niramendemen UUD 45 yang cacat hukum/hasil “penyelundupan hukum”, yang membuat jati diri kita, konstitusi awal kita berstatus masuk kotak (simak hlm 27a atau klik ini).

Kedua, Redaksi termasuk yang percaya, seperti sudah pernah dilansir oleh DR Arief Budiman (HIPIS Palembang, 1984), bahwa perbaikan negeri ini bermula dari perbaikan  basisnya, struktur masyarakatnya (baca: ideologi negara), baru bangunan atasnya atau superstruktur dalam hal ini individu-individu yang berperilaku bersesuaian.

Ketiga, jabatan presiden sebuah Republik Indonesia hari-hari ini, hemat Redaksi, tidak lepas dari geopolitik dunia. Ketika memasuki abad ke-21 imperialis justru semakin menjadi-jadi. Dan kita sudah berada di “kubu” mereka, suka tidak suka. Sikap semula kita yang bukan “proBarat” telah “dipatahkan” lewat Kudeta Merangkak (1965-67) “digenapi” dengan UUD 2002/niramendemen UUD45–melalui intervensi bantuan sebuah lembaga swadaya masyarakat mereka.

Mungkin kami berlebihan, lamun Jokowi yang jelas-jelas berperilaku pancasilais, bukan tidak mungkin akan menjadi “bulan-bulanan” mereka bila  berada di posisi RI 1. Seorang tokoh besar, Bapak Bangsa Gus Dur, misalnya, yang “diisukan negatif macam-macam”, tak lama kemudian terjungkal. Sementara yang sekarang ini–maaf dengan sosok integritas yang jauh berbeda dengan Gus Dur dalam sepotong konteks “prorakyat”–malah bisa (?) bertahan hingga dua periode.

Alasan-alasan inilah, menjadi dasar pemuatan utuh warita bersumber Kompas.com ini.

Silakan simak hlm 28k atau klik ini.

batasterbaruipasca14jan2013-ooOoo-batasterbaruipasca14jan2013

27. Peng Red (25)-14 Des ’12

Standar

Warita/Risalah Terbarui Tenggang 14 Nov-14 Des 2012 Khusus Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Gema Praksis Jati Diri-Dasar Kita ala Jokowi-Ahok .

 

Renungan Akhir Tahun:

 

10 Tahun  

PraCopernican UUD 2002/Niramendemen UUD 45 

dan 

Blusukan-Musyawarah Jokowi-Ahok: 

Bumi (Jakarta) Mengorbit Matahari

.

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-25 bertarikh 14 Desember 2012.

Menutup tahun 2012 ini, Redaksi turunkan sebuah Renungan Akhir Tahun.

Penempatannya pun Redaksi pilih di halaman relatif baru ini “… Khusus Pemerintah DKI Jakarta”.

Soalnya, Jokowi-Ahok, bagi Redaksi punya “tempat tersendiri” di blog ini, sebuah pewarta warga yang berkiparah ikut memerjuangkan kemerdekaan jilid 2, kembalinya republik tercinta ini pada jati dirinya: Pancasila-UUD 1945.

Sudah sejak masa kampanye, kedua tokoh ini menoreh gaya prorakyat yang tulus. Kapitalis-birokrat pancasilais, Redaksi menyebutnya. Terlebih, di hari-hari yang belum genap 100 hari pada 2012, mereka konsisten memimpin Jakarta dengan gaya yang khas … blusukan-musyawarah, sebutan lain lagi dari Redaksi.

Sekaligus renungan ini untuk memeringati 10 tahun diberlakukannya UUD 2002/niramendemen UUD 45 (mengacu dilansirnya “amendemen” keempat pada 10/8/2002). Konstitusi gadungan yang berada di luar kotak justru lantaran kelahirannya lewat “penyelundupan hukum” menjadikan konstitusi awal yang asli itu secara “de jure” (dengan tanda kutip) maupun de facto masuk kotak.

(Tulisan selengkapnya simak hlm 27a atau klik ini)

Lalu di halaman Sekilas Warita/Risalah Terbarui Mancanegara Tenggang 14 Nov-14 Des ’12,  ada satu risalah dan dua warita, seperti dipariwarakan di bawah ini.

Semoga yang tersaji bermanfaat bagi Kawan Pembaca Budiman.

Selamat Membaca Kawan dan … Selamat Tahun Baru 2013.

ooOoo

Warita/Risalah Terbarui Sekilas Mancanegara Tenggang 14 Nov-14 Des ’12 (1/3).

John Ross, Catatan untuk Neoliberal: Bumi Mengorbit Matahari

.

Risalah John Ross ini, dari tajuknya saja sudah menarik.

Ross, seorang Profesor Tamu pada Fakultas Ekonomi dan Manajemen Antai, Universitas Jiao Tong, Shanghai, Tiongkok, menolak ekonomi neoliberal, yang dinilai diametral ilmu pengetahuan, sejajar keyakinan era praCopernican (matahari mengorbit bumi), karenanya gagal sebagai sebuah kebijakan ekonomi.

Dan Tiongkok yang “menangkal” neoliberal ketika perekonomiannya terdampak situasi global, berhikmah ekonominya malah terakselerasi.

Silakan simak hlm 27b atau klik ini.

ooOoo

Warita/Risalah Terbarui Sekilas Mancanegara Tenggang 14 Nov-14 Des ’12 (2/3).

Suriah: AS Bicara Senjata Kimia Sebuah Dalih untuk Perang

.

Warita teranyar dari Suriah ini juga menarik, satu contoh lagi ketegaran sebuah negara anti imperialis.

Pasalnya tekanan keras politik dan militer atas Suriah lewat para pemberontak dukungan asing untuk menjatuhkan Presiden Assad, malah kini membuat AS dan negara-negara Eropa Barat frustasi. Para begundal kaum imperialis itu, menderita kekalahan.

Silakan simak hlm 27c atau klik ini.

ooOoo

Warita/Risalah Terbarui Sekilas Mancanegara Tenggang 14 Nov-14 Des ’12 (3/3).

Pakar AS Mengatakan Korut Meluncurkan Satelit

.

Kabar prestasi gemilang teknologi ruang angkasa luar Korea Demokratis ini, sebuah greget lain lagi—di samping frustasinya AS dan Eropa Barat di Suriah—di penghujung 2012 bagi rakyat yang (masih) dijajah kaum imperialis seperti kita.

Silakan simak hlm 27d atau klik ini.

26. Peng Red (24)-14 Nov ’12

Standar

BP Migas Bubar

 

MK: BP Migas

Bertentangan dengan UUD 1945

..

Kompas.com 13/11/2012

 

Obama “Kerahkan” Rakyat

Hadapi Republik

.

Kompas.com 12/11/2012

 

 

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-24 bertarikh 14 November 2012.

Pada pengeposan kali ini Redaksi sengaja menurunkan dua warita yang dikutip utuh dari sumbernya Kompas.com. Dengan masing-masing tajuk seperti tercantum di atas, lengkap dengan alamat link-nya yang bisa diklik. Atau untuk masing-masing warita simak hlm 26a/klik ini dan hlm 26b/klik ini.

Sejujurnya Redaksi terkejut sekaligus menyambut positif kabar bubarnya BP Migas (Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi, bukan BPH Migas/Badan Pengatur Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi) melalui keputusan uji materi UU Migas (Undang-Undang No 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi–Red) oleh Mahkamah Konstitusi (MK) pada Selasa, 13 November 2012.

Sebagai pewarta warga yang ikut berupaya menegakkan Pancasila-UUD 1945 setelah lahirnya UUD 2002/nir amendemen UUD 1945, alasan MK dalam keputusan berakibat bubarnya BP Migas itu, sungguh sebuah langkah progresif.

Seluruh hal yang berkaitan dengan Badan Pelaksana dalam penjelasan UU Migas bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat,” demikan Ketua MK Mahfud MD seperti dikutip Kompas.com.

Dan hal menarik bagi Redaksi, bahwa uji materi UU Migas ini diajukan  belasan organisasi massa yang berbasis agama mayoritas negeri ini. Sebuah bukti lagi, bahwa bila berbicara, berikhtiar untuk sebuah Indonesia yang lebih baik ke depannya, jati diri, dasar pijakan negeri ini ketika diproklamasikan, suka tidak suka, mau tidak mau, harus dijadikan platform bersama.

Tak terkecuali kaum yang menamakan dirinya Marxis-Leninis—yang sejatinya menolak sikap ahistoris serta mengutamakan pembebasan nasional dari penjajahan dalam sebuah front persatuan. Harus pula menerima Pancasila-UUD 1945—yang kini masuk kotak—tanpa reserve.

Sehubungan warita ini, dengan permohonan maaf dan tanpa mengurangi rasa hormat berhubung tidak merinci nama-nama, kepada 30 tokoh dan 12 organisasi massa dimaksud (mengacu pada berita “Tidak Sesuai Konstitusi, BP Migas Juga Memihak Asing” Kompas.com/13/11/2012 atau klik ini) Redaksi Dasar Kita menyampaikan penghargaan dan terima kasih.

Warita kedua yang Redaksi gandeng dengan kabar bubarnya BP Migas, sengaja Redaksi pilih dari pascaterpilihnya Obama–yang menyoal pajak bagi orang berpunya–untuk menunjukkan betapa beruntung kita ketimbang mereka.

Kita memiliki sebuah jati diri berikut konstitusi awal yang dirancang putra-putri terbaik, para pendiri republik ini yang walau sudah dimasukkotakkan dengan bantuan asing, tetap menunjukkan keperkasaannya sebagai pijakan sebuah nasion besar bernama Indonesia. Bubarnya BP Migas adalah sebuah bukti teranyar.

Betapa tidak. Dibanding kita, demokrasi mereka yang sudah ratusan tahun, sebuah negeri maju nan kaya pula, masih saja belum mampu menuntaskan ketimpangan, jurang kaya-miskin para warganya.

Sementara RRT Republik Rakyat Tiongkok, misalnya—dengan dasar pijakan yang paralel kita dalam hal keberpihakan pada rakyat tak berpunya—hanya kurang dari 3 dasawarsa berhasil mengangkat sekitar 400 juta warganya keluar dari kemiskinan (data: Bank Dunia, klik ini).

Bahkan dari risalah yang Redaksi sadur dari para penulis kaum Kulit Hitam Amerika, mereka, kaum Kulit Hitam itu sedang merapatkan barisan untuk perjuangan pembebasan nasional (terutama) di kawasan Sabuk Hitam (Black Belt)—simak hlm 22b/klik ini dan hlm 23b/klik ini.

Secuil harapan Redaksi, mudah-mudahan dua kabar berita ini, menginspirasikan kita, mengingatkan kita akan pentingnya sebuah jati diri. Apalagi sebuah nasion besar dan kaya akan sumber daya alam, budaya, juga manusia, berjati diri unik dan khas pula.

Masalahnya sekarang, jati diri yang bernama Pancasila-UUD 1945 itu kini sudah masuk kotak. Yang di luar kotak adalah Pancasila gadungan alias UUD 2002/nir amendemen UUD 45 yang salah satu produknya adalah UU No 22/2001 Tentang Migas itu.

(Silakan simak hlm 21a/klik ini dan hlm 22a/klik ini juga hlm 23a/ini, hlm 24b/klik ini, dan hlm 25a/klik ini)

Selamat membaca Kawan Pembaca Budiman