20. Pengantar Redaksi (18)

20. Pengantar Redaksi (18)

Salinan Pidato Kim Jong Un

. 

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-18 bertarikh 14 Mei 2012.

Pada pengeposan kali ini Redaksi memilih (diberi tajuk) Salinan Pidato Publik Kim Jong Un Pemimpin Republik Demokratis Rakyat Korea. Silakan simak hlm 20a. Salinan Pidato Publik … atau klik ini.

Komentar kami, mendasari alasan pemuatan pidato dimaksud, alhamdulillah, puji syukur!

Pasalnya, dengan absurditas para pembohong  dan agresor/PA (pinjam Robert Mugabe, Presiden Zimbabwe di SU PBB 2011–simak hlm 14a atau klik ini) ketika seenaknya melibas Irak-Libia, ternyata di Korea Demokratis, mereka benar-benar mati kutu.

Supremasi teknologi militer bukanlah monopoli imperialis lagi, dan waktunya sudah berlalu untuk selamanya saat-saat musuh mengancam dan mengintimidasi kita dengan bom atom… begitu salah satu penggalan pidato Kim Jong Un.

Artinya, syukur, sudah ada kekuatan yang, setidaknya, mampu menahan kebrutalan para PA itu. Sekaligus, bagi Redaksi, makin kuat tekad bahwa kita harus kembali percaya pada jati diri kita: Pancasila dan UUD 1945. Amendemen, bagi kami, bukanlah barang haram. Lamun, seyogianya amendemen dimaksud makin memerkuat kolektivitas bukan malah menggusurnya.

Juche atau Chuch’e Korea Demokratis adalah sebuah ajar juga bukti betapa jati diri sebuah bangsa pada akhirnya memberi warna kuat (untuk tidak mengatakan hal paling esensi) bagi martabat bangsa dan kedaulatan negara.

Perlu kami tambahkan bahwa, komentar pembaca Bung Andre Ranti menyoal sosialisme berkarakteristik Indonesia juga (bukunya) John Perkins dan (kaitannya dengan) Sri Mulyani–yang Redaksi tanggapi–mungkin menarik untuk disimak. Silakan saja tilik komentar di bagian bawah hlm 13a. Ambon Berduka … atau klik ini.


Warita Terbarui Sekilas Mancanegara pasca14 Mei ’12 .

PKF Mengecam Masuknya Kapal Selam AS di Perairan Filipina .

Partai Komunis Filipina (PKF) mengecam masuknya di perairan Filipina kapal selam penyerang berkemampuan nuklir (the attack nuclear-capable submarine–Red) USS North Calorina sebagai pelanggaran kedaulatan Filipina. Warita lengkap simak hlm 20b atau klik ini.

Selamat Membaca Kawan.

19. Pengantar Redaksi (17)

19. Pengantar Redaksi (17)

Marinir AS di Darwin 2012:

“Ancaman” RRT

dan/atau … ?.

HAM-Demokrasi di Timtim & Papua,

Jawab WPAT & ETAN-Noam Chomsky, Mengalihkan  

(Sejatinya: Minyak Timor Leste  & Emas Freeport) .

 

 Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-17 bertarikh 14 April 2012.

Kali ini Redaksi menilik warita gelombang pertama marinir Amerika yang ditempatkan di Darwin, Teritorial Utara, Australia—4 April 2012.

Dunia internasional pun bereaksi keras. Tentunya reaksi dari dunia (termasuk Redaksi di dalamnya) yang tambah gerah dengan tingkah (mantan?) adidaya satu ini yang (masih) doyan dan percaya betul kemakmuran rakyatnya (masih) perlu lewat mesiu–sesuatu yang ironis sekaligus sangat hewani ketika dunia sudah di era teknologi informasi.

Terlebih reaksi Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Yang oleh petinggi RRT disebut sebagai “mentalitas perang dingin”.

Sebuah komentar yang menunjukkan “kedewasaan” sebuah negara raksasa, berjaya, dan berasas ML. (Simak warita oleh pewarta Li Xiaokun dan Li Lianxing [China Daily] termuat di People’s Daily On Line, 1/12/2011, bertajuk US Military Base in Australia Shows ‘Cold War Mentality’).

Pasalnya, isu yang mengemuka di balik aksi militer Obama ini adalah “ancaman” (baca: kegentaran terhadap) RRT.

Lamun (tapi)–mungkin lantaran Redaksi sebagai warga Indonesia yang juga bermukim di Nusantara ini—kami lebih melihat kehadiran serdadu sang (pinjam Mugabe Zimbabwe; simak hlm 14a atau klik ini) pembohong dan agresor di Irak-Libia ini sebagai “ancaman” (baca: kesewenang-wenangan atas) Indonesia.

“Ancaman” atas kedaulatan negeri kita lewat (emas) Freeport di Papua Barat dan “ancaman tak langsung” via (minyak) Timor Leste. Pasalnya, Darwin hanya “selemparan batu”, hanya beberapa ratus kilometer dari Papua Barat maupun Nusa Tenggara Timur.  Soalnya, yang namanya imperialisme itu nyala “keganasan”-nya tak lain adalah dari bara nafsu penguasaan sumber-sumber daya alam di negeri-negeri “lemah” seantero dunia seperti Nusantara–hari-hari ini.

Argumen Redaksi ini “terinspirasi” surat terbuka sebandung (sepasang) organisasi internasional WPAT dan ETAN– dengan salah satu pentolannya di ETAN jauhari (cendekiawan) kondang tingkat dunia Noam Chomsky—ditujukan kepada Presiden AS Obama bertarikh 15 November 2011. Surat bertajuk Open Letter to President Obama from West Papua Advocacy Team (WPAT) and East Timor and Indonesia Action Network (ETAN).

Tanggal surat yang jatuh bertepatan dengan awal kunjungan Obama ke Australia yang melansir pernyataan resmi rencana penempatan pasukan AS di Darwin pada 2012. (Simak warita Kompas.com, 11/11/2011, AS Gelar Pasukan Marinir Permanen di Darwin).

Surat terbuka yang kental menyoal “HAM/hak asasi manusia dan demokrasi” dari rakyat di Timor Leste  dan Papua Barat dan secara umum Indonesia. Tapi (ternyata) tidak ada hubungan sama sekali dengan penempatan tentara AS di Darwin.

Sehingga bagi Redaksi justru sebuah “hikmah” menarik.

Sebuah “inspirasi” bagus dari suatu kaum yang berkiprah sebagai, pinjam Vince Sherman, “perisai-kiri imperialisme” (lef-cover for imperialism).

Maka surat terbuka itu pun “dibaca” Redaksi sebagai (pertama-tama) terkait sumber daya alam di Timor Leste dan Papua Barat baru kemudian “ancaman” RRT.

Jadi, buat Redaksi, “HAM dan demokrasi”  di Timor Leste dan Papua Barat itu biarlah menjadi “gawe”-nya Noam Chomsky dan rekan-rekannya.

Redaksi tak tertarik. Artinya, dengan segala maaf khususnya kepada Pak Chomsky, biarlah kita, rakyat Indonesia boleh menggunakan “hak asasi” kita sendiri dalam memilih dan menentukan “demokrasi” tanpa paksaan secara “halus” apalagi “kasar dan penuh kekerasan” dari entitas apapun dan siapapun di luar kita.

Artinya pula, yang namanya “globalisasi” yang sedang mengglobal tidaklah serta merta “HAM dan demokrasi” itu bermakna tunggal didefinisikan oleh semata wayang pihak yang doyan kekerasan bermesiu pula.

Dunia ini terlalu kaya untuk dimiskinkan dan terlalu miskin untuk diperkaya hanya menurut citra dan oleh kaum yang terbukti sedang menggali liang lahatnya sendiri ketika kapitalisme dipahami dan diagung-agungkannya perlu dilengkapi mesiu.

Apalagi makin kuat dugaan keterlibatan sang pembohong dan agresor di Irak-Libia ini atas amendemen UUD45 yang (analisis Prof Sofian Effendi) melahirkan UUD 2002 yang menjadikan dasar negeri tercinta ini  (pinjam Kiki Syahnakri) tertransplantasi gen darah “demokrasi liberal”.

Soalnya pula, adalah John Pilger yang telah terlibat di Timor Timur jauh sebelum berdirinya negara Timor Leste, berbidasan (berespons) menarik.

Mengunjungi Australia November lalu, Presiden Barack Obama melansir ancaman terselubung lainnya ke RRT dan mengumumkan pembentukan pangkalan Marinir AS di Darwin, tepat di seberang laut dari Timor Timur. 

Obama mafhum bahwa negara-negara kecil yang miskin kerap dapat merupakan ancaman terbesar bagi negara kuat predator, sebab jika negara-negara kecil itu tidak bisa diintimidasi dan dikontrol, siapa yang bisa?

(Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita dari risalah John Pilger East Timor: A Lesson in Why the Poorest Threaten the Powerful) 

Hemat Redaksi, meski risalah Pilger tersebut “terbatas” pada Timor Leste (baca: tidak  mencakup Freeport Papua Barat dan Indonesia secara umum), tapi esensinya cukup terwakili–seperti ditunjukkan pada tajuk tulisannya itu.

Jadi, menutup pengantar ini, alih-alih, seharusnya, Redaksi menilik lanjut  penempatan  marinir AS di Darwin pada 2012 , lamun dengan disertai permintaan maaf, kiranya Pembaca Budiman dapat mengklik tajuk risalah John Pilger di atas dan … simaklah!

Selamat Membaca Kawan.

18. Pengantar Redaksi (16)

18. Pengantar Redaksi (16)

Suriah,

(Ternyata) Salah Satu

Beyond the Axis of Evil

____

Sikap Seorang Kiri Inggris

Tariq Ali vs Carlos Martinez .

 

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-16 bertarikh 14 Maret 2012.

Pada Pengantar Redaksi pengeposan 14 Januari 2012 lalu, rupanya ada 9 negara di dunia yang dikatagorikan oleh (para petinggi) Amerika Serikat sebagai:

Poros Setan The Axis of Evil (Irak, Korea Demokratis, Iran)

Setelah Poros Setan Beyond the Axis of Evil (Kuba, Libia, Suriah)

Pos-pos Terdepan Kaum Tirani Outposts of Tyrrany (Belarus, Zimbabwe, Myanmar).

Setelah sedasawarsa, “hanya” Irak dan Libia yang sudah “dikalahkan”.

Sisanya masih alot untuk tidak mengatakan sebagian dari ke-7 negara itu malah bertambah tegar semisal Korea Demokratis dan Iran. Bahkan Irak sendiri, seperti tengara Dahlan Iskan (klik ini), “tinggal tunggu waktu yang tepat untuk menjadi amat mesra” dengan Iran. Hal yang, tentu saja, membuat sang pembohong dan agresor (PA) di Irak (pinjam Mugabe Zimbabwe) itu, “kecele” bukan kepalang.

Jadi, jika hari-hari ini sang PA menggapil (campur tangan) di Suriah, bukanlah sebuah kejutan. Suriah, (ternyata) salah satu dari Beyond the Axis of Evil.

Makanya, kini giliran kekisruhan di Suriah yang Redaksi tampilkan dalam pengeposan kali ini.

Untuk itu Redaksi mengangkat risalah Carlos Martinez yang merupakan bidasan (respons) atas wawancara seorang Kiri Inggris kondang Tariq Ali di Russia Today.

Berharap risalah Martinez dapat memberikan gambaran (sekilas) kemelut di Suriah yang berseberangan dengan umumnya (tidak seluruhnya tentu saja) pewartaan arus utama, nasional maupun internasional, yang telah dibahasaindonesiakan itu.

Di samping, sebagai ajar dari seorang “kiri progresif/radikal” kondang macam Tariq Ali—yang di Nusantara tercinta ini–menurut hemat Redaksi–banyak yang senada beliau.

Silakan simak hlm 18a atau klik ini.

Selamat membaca kawan.

17. Pengantar Redaksi (15)

17. Pengantar Redaksi (15)

Vince Sherman: Ketegaran Korea!.

Sebuah Ajar dari Korea Demokratis.

.

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-15 bertarikh 14 Februari 2012.

Apa yang terjadi selama ini di Republik Demokratis Rakyat Korea (RDRK) atau sebutan tak resmi lainnya—terutama oleh pewarta Barat—Korea Utara (Korut) ternyata sangat menarik. Terlebih bagi kita di Indonesia di mana warita tentang RDRK praktis didominasi pewarta Barat yang (apalagi kalau bukan) “senada” para pembohong dan agresor—pinjam sebutan Presiden Zimbabwe Robert Mugabe (simak hlm 14a atau klik ini).

Itulah kesan yang setidaknya Redaksi tangkap dari tulisan luar biasa Vince Sherman dalam bahasa Inggris bertajuk Korea Resilient! Socialism in Democratic Korea, dimuat di blognya Return to the Source pada 17 Januari 2012 lalu.

Maka Redaksi Dasar Kita  pun mengindonesiakan artikel dahsyat dimaksud, bertajuk Ketegaran Korea! Sosialisme di Korea Demokratis dan dimuat pada pengeposan kali ini; silakan simak hlm 17a atau klik ini.

Ini bukan yang pertama nama Vince Sherman muncul di blog Dasar Kita. Sebelumnya dalam tulisan penutup serial tulisan terkait ajar dipetik dari film The Founding of a Republic(simak hlm 10a atau klik ini) ada kutipan dari artikel Sherman A Question of State & Revolution: China & Market Socialism.

Semoga dari tulisan berharga tersebut ada ajar yang dipetik bagi kita di sini, di Nusantara tercinta ini.

Selamat Membaca kawan.

16. Pengantar Redaksi (14)

16. Pengantar Redaksi (14)

Poros Setan

dan

Dahlan Iskan di Iran .

 

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-14 bertarikh 14 Januari 2012.

Masih ingatkah kawan, istilah “Poros Setan” yang dilansir Presiden Amerika kala itu George W Bush pada 2002? Poros Setan (Axis of Evil) yang terdiri dari negara-negara Irak, Korea Utara, dan Iran.

Menurut Wikipedia (klik http://en.wikipedia.org/wiki/Axis_of_evil), rupanya ada urutan berikutnya setelah Poros setan itu. Versi mantan Wakil Menteri Luar Negeri AS John R Bolton yang disebut Beyond the Axis of Evil (Setelah Poros Setan) yakni: Kuba, Libia dan Suriah.

Dan masih ada lagi urutan selanjutnya. Ini versi mantan Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice yang disebut  Outposts of Tyrrany  (Pos-pos Terdepan Kaum Tirani): Belarus, Zimbabwe, dan Myanmar.

Menarik bahwa, bila kita simak sepintas, ke-9 musuh itu memiliki haluan negara berseberangan dengan negara adidaya (?) yang sekarang sedang sempoyongan didera krisis finansial ini. Kalau bukan berasaskan Islam ya, para musuh itu, berideologi sosialis atau malah bisa jadi campuran keduanya.

Tidak heran Soekarno (ternyata juga)  masuk dalam rombongan para musuh serupa—jauh sebelum “setan-setan” ini didefinisikan—lantaran gagasan cemerlangnya “menyatukan” Nasionalisme, Islamisme, Marxisme yang kemudian menjadi “cikal bakal” asas sebuah negara yang berpopulasi no 4 dunia ini.

Dan Soekarno, pinjam istilah sekarang, sudah pula di-irak-libia-kan, lewat Kudeta Merangkak dan resep obat yang tidak ditebus di ujung hayatnya. Lebih “subtil”, memang—ketimbang Saddam Husein dan Muammar Kadhafi.

Maka, adalah “konsekuensi logis” era pascaSoekarno hingga di awal abad ke-21 ini, RI tidak pernah lagi tergabung dalam rombongan musuh-musuh apalagi di deretan Poros Setan itu.

Makanya juga, tanpa terasa asas lima sila itu di tangan junta militer pascaSoekarno arahnya, cita-cita bangsa, setuju tidak setuju suka tidak suka, bukan lagi sosialisme Indonesia. Bahkan pembicaraan tentang sosialisme Indonesia dianggap sebagai “bagian dari masa lalu yang buruk,” tulis Burhan D Magenda (simak hlm 2b atau klik ini). Sungguh tragis!

Jadi, ceritanya, begitu sang junta militer (yang korup dan tiran seperti umumnya sosok sejenis: Nguyen van Thieu Vietsel[alm], Zia ul Haq Pakistan, Marcos Filipina, Pinochet Cile) sudah waktunya diganti menurut agenda si bos, dirasakan perlu adanya sebuah “jaminan legalitas”. Jaminan, agar dasar lima sila itu setelah lepas dari sang junta militer itu—(dapat) diatur secara legal—tidak (bisa) balik lagi seperti semula di era Soekarno: bercita-cita sosialisme Indonesia.

Maka galibnya teknik penguasaan sebuah target, lebih dulu perlu diciptakan sebuah “kekalutan amat sangat” (baca: kerusuhan horisontal merebak di mana-mana dan ada yang [perlu] berlangsung lama). Baru berlanjut  “serangan” oleh “rombongan berdasi”—dengan kolaborasi para antek setempat—untuk melakukan perubahan radikal pada target dimaksud: perangkat lunak vital dari negara (baca: menciptakan undang-undang dasar baru “mengangkangi” yang lama yang tak perlu dihapus karena bisa “ramai”).

Hasilnya?

Ketika mantan Rektor UGM Yogyakarta Prof Sofian Effendi pada 2006 menyebut amendemen UUD 1945 dengan sebutan UUD 2002 yang liberalis—berarti RI punya 2 konstitusi; dan lalu Kiki Syahnakri (awal 2011) menimpali dengan “Pancasila yang tertransplantasi gen darah demokrasi liberal”; maka inilah, menurut hemat Redaksi,  jawaban tanya di atas.

Lamun, sudah cukupkah perubahan radikal itu?

Oh, tidak—tentu saja; bagi kaum yang justru merendahkan hubungan antar-manusia menjadi hubungan uang belaka ketika sesumbar in God we trust lalu atas nama “demokrasi” dan “HAM” merangsek paksa dengan bedil ke negara(-negara) berdaulat; padahal urusannya “cuma” dagang; bisnis yang sejak ratusan tahun dipraktikkan orang-orang Tionghoa—sampai hari ini di era teknologi informasi—tak pakai mesiu.

Ya, tak cukup perubahan drastis legalitas itu! Lalu?

Lalu, perlu (meminjam istilah seorang sosiolog kondang) “memelihara macan-macan”. Kelompok-kelompok manusia yang, maaf, berperilaku tak beda hewan liar, garang, sangar, menakutkan. Lebih mengandalkan otot ketimbang otak sambil mengajungkan tinggi-tinggi panji-panji fanatik keyakinan yang justru diametral religiositas.

Gunanya?

Kelompok-kelompok serupa (“mendadak sontak muncul”) yang kerap disebut kaum “pemberontak” atau “oposisi” (baca: pembela “demokrasi” dan “HAM”) terhadap pemerintah yang sah (tapi tidak di mata pendefinisi musuh itu)  seperti yang terjadi di Irak, Libia dan (kini) di Suriah, adalah gunanya mereka.

Tidak heran, di kita pun menjadi absurd ketika kehadiran mereka, kelompok-kelompok sejenis, yang jelas-jelas melecehkan hukum dan aparatnya malah terang-terangan mengancam makar pada pemerintah Jakarta, lamun tetap eksis sampai hari ini tanpa kekurangan satu apapun.

­_

Lalu, kembali ke awal tulisan, apa kabarnya musuh-musuh yang didefiniskan oleh Amerika itu?

Ternyata “hanya” dua negara, Irak dan Libia, yang berhasil diporakporandakan sang pembohong dan agresor—sebutan paling pas dari Presiden Zimbabwe Robert Mugabe.

Berarti di deretan apa yang disebut Poros Setan itu masih bertengger, semakin kuat malah, Republik Islam Iran dan Republik Demokratis Rakyat Korea (RDRK)—yang oleh pewarta Barat kita jadinya ikut-ikutan kerap menyebut Korea Utara.

Bulan lalu, Desember 2011, Presiden RDRK Kim Jong-Il baru saja meninggal secara terhormat dalam perjalanan dinas dengan Kereta Api. Sambil menunggu bahan untuk risalah atau tulisan-jadi mengenai RDRK, kali ini Redaksi memuat utuh sebuah tulisan mengenai Republik Islam Iran.

Redaksi sengaja mengutip Dahlan Iskan. Sosok, yang bagi blog ini—juga bersama Walikota Solo Jokowi, misalnya—adalah saudagar nasional yang pancasilais. Figur pancasilais yang didefinisikan oleh Soekarno sendiri (sang penggali bukan penemu Pancasila):

Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “gotong-royong”.

Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong royong! Alangkah hebatnya! Negara Gotong Royong!

“Gotong Royong” adalah faham yang dinamis, lebih dinamis dari “kekeluargaan”, saudara-saudara! Kekeluargaan adalah satu faham yang statis, tetapi gotong-royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan, yang dinamakan anggota yang terhormat Soekardjo satu karyo, satu gawe.

Marilah kita menyelesaikan karyo, gawe, pekerjaan, amal ini, bersama-sama ! Gotong-royong adalah pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjuangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! Itulah Gotong Royong!

 Prinsip Gotong Royong di antara yang kaya dan yang tidak kaya, antara yang Islam dan yang Kristen, antara yang bukan Indonesia tulen dengan peranakan yang menjadi bangsa Indonesia.

(Sumber: pidato Soekarno “Lahirnya Pancasila”—simak hlm 9a atau klik ini)

Dalam ungkapan sekarang, kurang lebihnya, sosok yang tidak lagi mementingkan diri sendiri. Ya, kecuali, itu tadi: ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama; korup jadinya sangat hewani, bagi mereka.

Soalnya pula, figur-figur saudagar seperti inilah, bila kita mau memetik ajar dari Tiongkok, akan berperan strategis memajukan negara menuju cita-cita yang dimaui dasar kita lima sila itu.

Hanya kaum “kiri” yang non-materialislah gampang terpicu spontan menggelar “anti-kapitalis” yang berjangkau pendek ekonomisme serta ujung-ujungnya sadar tidak sadar membela kaum borjuis global (baca: imperialisme).

Jadi, silakan saja simak risalah Dahlan Iskan “Ke Iran setelah 20 Tahun Diembargo Amerika di hlm 16a atau klik ini.

Selamat Membaca Kawan.

Pengantar Redaksi (13)

Pengantar Redaksi (13)

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-13 bertarikh 14 Desember 2011.

Kali ini Redaksi menurunkan dua tulisan saduran (dari bahasa Inggris). Tulisan Heiko Khoo Kebangkitan Kembali Komunisme Rusia  dan BJ Murphy Sebuah Analisis Marxis-Leninis atas Pemilu Duma Negara dan Oposisi “Jingga”.

Kedua tulisan tersebut terkait pemilihan umum (pemilu) Duma Negara Rusia pada 4 Desember 2011 lalu. Di mana masing-masing penulis melihat dari sudut berbeda namun satu hal yang sama: menyambut positif keberhasilan Partai Komunis Federasi Rusia meraih hampir 20 % suara atau hampir dua kali lipat perolehannya di tahun 2007.

Dan bagi kita di Indonesia, tulisan Murphy itu membersitkan sebuah tantangan tersendiri bagi para aktivis ML di negeri ini: Rusia saja, sang gembong pembohong dan agresor menggapil (campur tangan) apalagi kita!

Silakan simak hlm 15a dan 15b.

Dan perlu kami tambahkan, bahwa–terima kasih banyak–kamrad BJ Murphy telah bersedia memuat utuh artikel versi Indonesia-nya itu di blognya, termasuk memuat alamat link artikel Heiko Khoo versi Indonesia dimaksud.

Semoga media ini bermanfaat. Selamat Membaca Kawan

14. Pengantar Redaksi (12)

14. Pengantar Redaksi (12)

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-12 bertarikh 14 November 2011.

Sehubungan dengan kematian Moammar Kadhafi, Redaksi menurunkan Pidato Presiden Zimbabwe Robert G Mugabe pada Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, New York, 22 September 2011. Mugabe yang mengecam para penyerbu Libia 2011 sebagai pembohong dan agresor. Silakan simak hlm 14a atau klik

http://dasarkita5sila17845.wordpress.com/14a-pidato-presiden-zimbabwe-rg-mugabe-di-su-pbb-ke-66/

Semoga media ini bermanfaat. Selamat Membaca Kawan

Pengantar Redaksi (11)

Pengantar Redaksi (11)

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-11 bertarikh 14 Oktober 2011.

Seperti dijanjikan pada pengeposan bulan lalu, silakan simak tulisan yang ditulis ulang, direvisi, serta dilengkapi klik hlm 13a Ambon Berduka, Indonesia Terluka, Pembohong dan Agresor Bersuka atau klik

http://dasarkita5sila17845.wordpress.com/13a-ambon-berduka-indonesia-terluka-pembohong-dan-agresor-bersuka/

Selamat Membaca Kawan

Pengantar Redaksi (10)

Pengantar Redaksi (10)

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-10 bertarikh 14 September 2011.

Pada bulan ini, tepatnya 11 September 2011, sepuluh tahun sudah serangan yang meluluhlantakkan menara kembar World Trade Center, New York, Amerika Serikat.

Di situs The Marxist-Leninist dimuat  artikel “FRSO Statement: September eleven ten years later” . (Simak http://marxistleninist.wordpress.com/2011/09/09/frso-statement-september-11-ten-years-later/#more-6669)

FRSO (Freedom Road Socialist Organization) yang menyebut dirinya secara singkat Freedom Road, seperti disebutkan dalam situsnya  www.frso.org, adalah sebuah organisasi sosialis revolusioner dan Marxis-Leninis di Amerika Serikat. “Freedom Road, bercirikan pemahaman kami atas penindasan nasional di Amerika Serikat.”

Yang Redaksi ingin tekankan terkait artikel FRSO itu, adalah cuplikan alinea penutupnya (diindonesiakan Redaksi): “Terjadinya tragedi 11/9 adalah sebagai konsekuensi langsung kebijakan imperialis Amerika di seantero dunia. Selama kebijakan ini, yang menjadi bagian serta paket sistem kapitalis itu sendiri, dibiarkan berlanjut, kita akan menyaksikan tragedi selanjutnya…”

Lantas, di Ambon pada 11 September 2011, meletus sebuah kerusuhan, bentrokan antarwarga yang menimbulkan korban jiwa. Terus terang, artikel FRSO di atas, membuat Redaksi jadinya tidak terpaku pada kerusuhan itu sendiri, tapi justru malah teringat pada kiprah Amerika di Nusantara tercinta ini.

Bahwasanya saat masih berlanjutnya kerusuhan Ambon memasuki abad ke-21 lalu itu, bersamaan para “wakil rakyat” (MPR 1999-2004) menelurkan “amandemen UUD 1945” yang ternyata cacat hukum. Seorang guru besar, ahli hukum tata negara almarhum Prof ASS Tambunan, menengara keterlibatan Amerika dalam proses amandemen konstitusi yang belakangan dijuluki–semisal oleh Prof Sofian Effendi–UUD 2002 itu.

Dan, baru saja awal bulan lalu, “Mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati secara resmi dideklarasikan sebagai calon presiden pada Pemilihan Umum 2014,” tulis pewarta Sinar Harapan/SH (8/8/2011) mengawali waritanya di bawah tajuk “Capres 2014 dan Sponsor AS”.

Deklarasi itu dilakukan, tulis SH selanjutnya, setelah para pendukungnya mendaftarkan Partai Serikat Rakyat Independen (SRI) ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menhukham).

“Sejumlah tokoh tergabung dalam barisan pendukung Sri Mulyani. Mereka antara lain Arbi Sanit, Rocky Gerung, Rachman Toleng, Wimar Witoelar dan Todong Mulya Lubis.”

Nama-nama yang dimunculkan SH di atas, lagi-lagi membuat Redaksi teringat pada Amerika, pada konconya di Indonesia era Soekarno … yang sudah Redaksi singgung sewaktu menyusun “Mengenai Blok ini”, klik  hlm 2b atau klikhttp://dasarkita5sila17845.wordpress.com/about/2b-mengenai-blok-ini-sosialisme-yang-buruk-pascasoekarno/ … yang antara lain tertulis:

PRRI diketuai oleh Syafrudin Prawinegara dari Partai Masyumi. Dan  salah satu menterinya adalah Dr Sumitro Djojohadikusumo (Menteri Perdagangan pada pemerintahan junta militer Soeharto) dari Partai Sosialis Indonesia (PSI). Sumitro yang sudah bergabung dengan Dewan Banteng di Sumatera Barat sejak Mei 1957 karena merasa tak aman di Jawa.

Sumitro disebut May (Brian May dalam bukunya “The Indonesian Tragedy”, 1978–Red) sebagai orang yang memelihara hubungan erat dengan para pejabat Amerika selama bertahun-tahun (hlm 80–Red). Permesta sendiri juga, menurut hemat Redaksi, adalah kaum reaksioner untuk tidak menyebut antek Amerika. Dibawah pengaruh CIA Amerika, tulis May, Permesta menyerukan pada pemerintah untuk melarang Partai Komunis Indonesia (hlm 79–Red).

Hal-hal di atas menjadi pokok bahasan dalam tulisan yang merupakan opini Redaksi pada pengeposan kali ini.

Lamun (namun) dengan berat hati Redaksi harus beritahu bahwa tulisan dimaksud ditunda sampai pengeposan bulan depan, Oktober 2011.

Alasannya, ada warita-warita terbarui (updated) yang muncul pascapengeposan blog ini September 2011. Seperti bom bunuh diri di Solo, Pidato Presiden Zimbabwe Robert G Mugabe di Sidang Umum PBB ke-66 yang mengecam NATO—istilah Redaksi ‘ParaPenyerbu Libia 2011’—sebagai para pembohong dan agresor. Hal yang tidak bakal dilontarkan delegasi Indonesia di PBB pascaera Soekarno. Serta pada 30 September 2011 mendatang, tepat 46 tahun awal “Kudeta Merangkak” oleh junta militer Soeharto atas Soekarno.

Kudeta seperti terjadi di Cile 8 tahun kemudian, yang menurut Arief Budiman:

… gerakan di Cile untuk menggulingkan Allende pada tanggal 11 September 1973 dinamakan Operasi Jakarta. Operasi Jakarta ini sangat mirip dengan peristiwa yang terjadi di Indonesia pada tanggal 30 September 1965, yang berlanjut dengan keberhasilan kaum militer Indonesia menumpas Partai Komunis Indonesia. Pola Indonesia inilah yang dengan sadar ditiru di Cile.” (dikutip dari Arief Budiman “Jalan Demokrasi ke Sosialisme”, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1987, hlm 13)

Semoga media ini bermanfaat dan Selamat Membaca Kawan.

Pengantar Redaksi (9)

Pengantar Redaksi (9)

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-9 bertarikh 14 Agustus 2011.

Menyambut Hari Kemerdekaan RI ke-66, Redaksi mengutip utuh bagian dari buku “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” karya Cindy Adams, Alih Bahasa Major Abdul Bar Salim, PT Gunung Agung, Djakarta, 1966.

Redaksi tindai (scanning) dari Isi butir 25 Ditjulik dan butir 26 Proklamasi (hlm 319-333). Silakan simak blog ini Hlm 11a, klik

http://dasarkita5sila17845.wordpress.com/10a-kutipan-buku-cindy-adams-bung-karno-penyambung-lidah-rakyat-indonesia/.

Semoga media ini bermanfaat.

Selamat Membaca Kawan, dan Selamat hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-66.