43. Peng Red (41)-14 Apr ’14

Standar

Era Presiden Joko Widodo

Saatnya Bicara Lagi Sosialisme Indonesia?

.

Oleh Redaksi Dasar Kita

.

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-41 bertarikh 14 April 2014.

Saat pengeposan ini, belum genap dua pekan sejak digelar pemilu legislatif Rabu (9/4/2014) lalu.

Hasilnya menurut sejumlah lembaga “hitung cepat” atau yang bukan versi resmi dari Komisi Pemilihan Umum (sesuai pengalaman-pengalaman sebelumnya tidak jauh meleset dari versi resmi), PDI-P unggul.  Lamun tidak mencapai 20 persen. Sehingga parpol tua ini—sesuai aturan main—harus menggandeng partai politik lainnya agar bisa mengusung Jokowi sebagai presiden.

Redaksi meyakini, republik tercinta ini sudah pasti memiliki seorang presiden baru di tahun ini bernama Jokowi alias Joko Widodo.

Sekaligus Redaksi yakin tugas pertama Presiden Jokowi membatalkan demi hukum UUD 2002 plus diamendemen pada greget Tri Tunggal (Pembukaan-Batang Tubuh-Penjelasan) UUD 45.

Apalagi Jokowi rajin blusukan ke berbagai parpol menjaja sistem presidensial (tepatnya semi-presidensial menurut Prof Sofian Effendi) dan (istilah Redaksi) “Front Persatuan” yang pertama-tama bukan bagi-bagi kursi. Hal sejatinya seturut sila ke-4 Pancasila dan salah satu wujud dari MPR yang kembali lagi sebagai locus of power pasca-UUD 2002 dibatalkan.

Sehingga mencagun (muncul) pertanyaan Redaksi seperti di atas, sebuah tajuk risalah dari kami pada pengeposan kali ini.

Semoga media ini bermanfaat.

Sekamat membaca Kawan Pembaca Budiman.

42. Peng Red (40)-14 Mar ’14

Standar

Tugas Pertama Presiden Jokowi:

Restorasi Indonesia

Berlakukan UUD 1945 + Diamendemen pada Greget Tri Tunggal: Pembukaan, Batang Tubuh & Penjelasan UUD 1945

.

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-40 bertarikh 14 Maret 2014.

Saat-saat terakhir akan diunggah, tersiar kabar “gempar”. Jokowi bersedia menjadi calon presiden dari PDI-P dalam Pilpres 2014. Dideklarasikan Jokowi sendiri saat blusukan di Rumah Pitung, Marunda, Jakarta Utara, Jumat, 14 Maret 2014 (Kompas.com,14/3/2014).

Redaksi yang secara kebetulan sedang menyiapkan tulisan terkait amendemen UUD 45 versi Prof Dimyati Hartono, langsung saja mengalihkannya ke isu Jokowi nyapres.

Dengan mencoba menitipkan sebuah harapan. Yang sejak blog ini hadir mengikhtiarkan hapusnya UUD 2002/niramendemen UUD 45.

Malahan sebagai harapan pada tugas perdana Jokowi—bila terpilih sebagai Presiden RI ke-7—seperti tercantum pada tajuk di atas.

Sebuah gagasan yang dilansir Prof DR Dimyati M Hartono di dalam bukunya Problematik & Solusi Amandemen Undang-Undang Dasar 1945 (Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2009). Langkah awal era Restorasi Indonesia pascaera Reformasi.

Pasalnya, Redaksi kuatir peluang  “emas” untuk menghapus UUD 2002 (yang mestinya batal demi hukum), diabaikan oleh PDI-P.

Sehingga sebuah RI perkasa berjati diri 3-sakti (berdaulat bidang politik, berdikari/mandiri bidang ekonomi, berkepribadian budaya sendiri) mungkin akan dicapai juga namun Redaksi kuatir akan lama sekali. Keburu masalah-masalah elementer berbangsa dan bernegara akan menghadang, mengerem laju kemajuan itu sendiri.

Seperti sudah terbukti satu dasawarsa terakhir ini …

Silakan simak hlm 42a.

ooOoo

Warita/Risalah Sekilas Mancanegara 14 Mar ’14-(1/1)

Putin pada Obama: Hubungan Rusia-Amerika Tidak Boleh Dikorbankan untuk Perbedaan atas Masalah Internasional

.

Dari mancanegara, kudeta di Ukraina yang menjatuhkan Presiden Victor Yanukovych, memicu ketegangan antara Rusia dan Amerika Serikat.

Redaksi mencoba mengangkat versi RT/Russia Today atas sikap “perdamaian dunia” Putin menghadapi—seperti biasanya—Amerika. Yang masih saja berjualan “demokrasi”. Sembari bergaya cowboy menodongkan pistol ke pelipis sang calon pembeli.

Silakan simak hlm 42b.

Semoga media ini bermanfaat.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

41. Peng Red (39)-14 Feb ’14

Standar

Warita/Risalah Sekilas Mancanegara 14 Feb ’14 (1 dari 2) 

Tiongkok Menyumbang 100 % Pengurangan Jumlah Penduduk Dunia yang Hidup dalam Kemiskinan

Oleh John Ross

.

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-39 bertarikh 14 Februari 2014.

Kembali Redaksi menghadirkan John Ross, masih tentang Tiongkok (sebelumnya simak hlm 27b). Kali ini menyoal kontribusi Tiongkok terkait isu pengurangan jumlah penduduk dunia yang hidup dalam kemiskinan. Sebuah risalah terkini tentang Tiongkok ditulis ekonom asing (Amerika) yang tinggal dan mengajar di Tiongkok.

Berharap, ada yang bisa kita petik.

Silakan simak hlm 41a.

 ooOoo

Warita/Risalah Sekilas Mancanegara 14 Feb ’14 (2 dari 2)

 Di AS, Laporan Utama [Media] Menelanjangi Diri Sendiri: Citra Perang Dingin Dibangkitkan dalam Menghantam Sochi

.

Kabar satu ini terkait Olimpiade Sochi sangat menarik. Bersumber dari RT/Russia Today, Redaksi kini mafhum bahwa pers kita bahkan salah satu yang sudah tua  yang lahir nyaris bareng Orde Baru, rupanya “terjangkit” (atau malah “belum sembuh”?)  fobia jadul era Perang Dingin ini.

Coba saja simak media online milik koran tua itu ketika melansir warita pembukaan Olimpiade Sochi keesokan harinya (Kompas.com, 8/2/2014). Dari tajuknya saja sudah sinis: Atraksi Gagal di Upacara Pembukaan Olimpiade Sochi, Televisi Rusia Siarkan Rekaman Latihan. Jadi berharap memeroleh berita seputar pembukaan sebuah olimpiade,  kita akan kecewa.

Ini antara lain alasan Redaksi membahasaindonesiakan kabar bersumber RT itu.

Silakan simak hlm 41b.

Semoga media ini bermanfaat.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

ooOoo

 .

40. Peng Red (38)-14 Jan ’14

Standar

 

Warita/Risalah Sekilas Mancanegara 14 Jan ’14 (1 dari 3)

Di Sudan, AS Menembak Kakinya Sendiri

.

 

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-38 bertarikh 14 Januari 2014.

Memasuki tahun yang baru ini, terus terang Redaksi sangat terganggu dengan pertempuran bersenjata yang merebak (kembali) di Sudan Selatan, negara baru di Afrika Tengah, di ujung tahun lalu.

Konflik sesama warga, antara para pengikut Presiden Salva Kiir dan Riek Machar, Wakil Presiden yang digulingkan.

Lamun, yang sungguh memprihatinkan, keterlibatan sebuah negara yang dalam salah satu pernyataan tajam mendiang Nelson Mandela yang jarang dikutip media arus utama:

“Jika ada negara yang telah melakukan kekejaman tak terbayangkan di dunia, itu adalah Amerika Serikat. Mereka tidak peduli terhadap umat manusia,” (Simak hlm 39b)

Malah dalam tulisan yang Redaksi bahasaindonesiakan dari situs Russia Today/RT untuk ditampilkan dalam pengeposan kali ini, disebutkan antara lain “Washington adalah salah satu kampiun utama pemisahan Sudan Selatan.”

Lagi-lagi, hemat Redaksi, ini satu lagi bagi kita petik ajar dari sebuah nasion Dunia Ketiga, negeri yang tercabik-cabik oleh ulah sang pembohong dan agresor (pinjam Presiden Zimbabwe Robert Mugabe di SU PBB 2011; simak hlm 14a) alias sang imperialis.

Artinya, dalam konteks perjuangan kemerdekaan jilid 2 hapus UUD 2002 untuk sebuah RI perkasa berjati diri 3-sakti USDEK, sudah saatnya secara bertahap tapi pasti kita perlu mengambil jarak dengan sang imperialis satu ini.

Silakan simak risalah RT tentang Sudan Selatan tersebut dengan tajuk seperti di atas yang kami bahasaindonesiakan dari judul yang metaforis impresif  US shoot itself in the foot in Sudan; klik hlm 40a.

.

ooOoo

Warita/Risalah Sekilas Mancanegara 14 Jan ‘14  (2 dari 3) 

Ekonomi Pasar dan Jalan Sosialis

.

Oleh Dong Zhongqiao

.

Maka sehubungan dengan perilaku imperialis dimaksud yang tak berubah bahkan makin merangsek di Dunia Ketiga (termasuk di kita pula) diawal abad ke-21, Redaksi dengan segala keterbatasan dan kealitan, berikhtiar untuk sedikit banyak (ikut) melengkapi sisi “teori”–yang revolusioner untuk berevolusi, seperti ujaran Lenin dan Mao.

Makalah Dong Zhongqiao, Guru Besar di Sekolah Filsafat, Universitas Renmin, Beijing, Republik Rakyat Tiongkok, adalah salah satunya.

Tulisan beliau yang dalam bahasa Inggris bertajuk Market Economy and Socialist Road, adalah makalah yang disampaikan pada 3rd International Conference on The Works of Karl Marx and the challenges of the 21st Century, di Havana, Kuba, 3-6 Mei 2006.

Perlu Redaksi jelaskan bahwa sebagian dari makalah beliau telah Redaksi bahasaindonesiakan, khususnya di bawah dua subtajuk berturut-turut: 1 Marx mengenai Hubungan antara Ekonomi Pasar dan Sosialisme dan 2 Mengapa negara-negara seperti RRT harus mengembangkan ekonomi pasar?

Kedua penggalan tulisan Dong yang Redaksi sisipkan di salah satu tulisan bersambung tilikan atas film The Founding of a Republic dengan tema utama: Tiongkok itu Sosialis. (Silakan simak hlm 10a)

Di pengeposan kali ini, makalah Dong Zhongqiao dimaksud dimuat utuh. Pasalnya, di subtajuk yang ketiga akan semakin jelas arah risalah Dong ini: 3. Mengapa negara-negara kapitalis maju seperti Amerika Serikat tidak bisa bergerak menuju sosialisme melalui ekonomi pasar?  

Pertanyaan kedua dari dua pertanyaan yang mendasari makalah Guru Besar filsafat ini.

Yang hemat kami, bisa membantu menjelaskan perilaku imperialis satu ini seperti pernyataan tajam Mandela di atas.

Silakan simak hlm 40b.

.

ooOoo

.

Warita/Risalah Sekilas Mancanegara 14 Jan ’14 (3 dari 3)

‘Itu Bagus untuk Bisnis, Memiliki Para Pengungsi Suriah yang Menderita’

.

Masih dari mancanegara, dan kembali untuk kesekian kalinya Redaksi mengangkat isu Suriah.

WawancaraRussia Today/ RT dengan Moeen Raoof, seorang konsultan pertahanan dan penelaah konflik, makin menunjukkan bukan saja kaum imperialis seperti pernyataan Mandela di atas “… mereka tidak peduli terhadap umat manusia”, bahkan lembaga dunia satu ini Perserikatan Bangsa-Bangsa pun menjadi bagian dari kapitalis monopolis imperialisme kapitalisme tahap tertinggi–salah satu judul buku Lenin.

Hal yang sudah lama ditengarai, bahkan Soekarno pernah mengusulkan agar Markas Besar PBB dpindahkan ke negeri lain–dalam salah satu pidato monumental beliau To Build the World Anew (30/9/1960, SU PBB ke-15). Yang salah satu bagiannya juga mengusulkan Pancasila dapat memerkuat, memerbaiki Piagam PBB.   

Silakan simak hlm 40c.

Semoga media ini bermanfaat.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

ooOoo

39. Peng Red (37)-14 Des ’13

Standar

Poin-Poin Renungan Akhir Tahun

Menyongsong Pemilu 2014

 

Negeri dan Bangsa Bacam Apakah Kita ini, yang di Usia Nyaris 70 di Abad 21 Pula Bisa Adem Ayem Tanpa Rasa Bersalah Melenggang Dengan Alas-Hukum Cacat-Hukum?

 

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-37 bertarikh 14 Desember 2013.

Di pengeposan penghujung tahun ini, Redaksi turunkan Poin-Poin Renungan Akhir Tahun Menyongsong Pemilu 2014.

Tentunya, tak lepas dari konteks jati diri kita yang sedang bermahabencana dengan hadirnya konstitusi gadungan cacat hukum UUD 2002/niramendemen UUD 45—11 tahun sudah.

Yang ironisnya, salah satu produknya adalah pemilihan umum itu sendiri, legislatif maupun presiden—kali ketiga di tahun yang baru nanti.

Negara dan bangsa macam apakah kita ini, yang di usia nyaris 70 di abad 21 pula bisa adem ayem tanpa rasa bersalah melenggang dengan alas-hukum cacat-hukum?

Silakan simak hlm 39a.

.

Warita/Risalah Sekilas Mancanegara 14 Des ’13  

Pernyataan-Pernyataan Tajam Mandela yang Jarang Dikutip di Media Arus Utama

.

Dari Sekilas Mancanegara, sehubungan meninggalnya tokoh tingkat dunia dari Afrika Selatan Nelson Mandela, Redaksi membahasaindonesiakan risalah terkait. Bersumber pada RT/Russia Today edisi bahasa Inggris.

Alasan Redaksi memuatnya, seperti tercermin dengan jelas pada tajuk di atas.

Silakan simak hlm 39b.

Jadi, sekali lagi, untuk tilikan Redaksi atas Pemilu 2014, seperti disebutkan di atas, silakan klik hlm 39a.

Semoga media ini bermanfaat.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

38. Peng Red (36)-14 Nov ’13

Standar

Menyambut   1 Oktober  2013

48 Tahun Perjuangan Kemerdekaan Jilid 2

 

 

Sebuah Bidasan atas 17 Poin Rekomendasi PDI-P 2013

(Bagian Ketiga)

 

Soekarno yang Dihampiri Minus Pendekatan Materialis
Greget Hapus Penjajahan pun Meredup
Alih-Alih Hapus UUD 2002 Hasil Intervensi Imperialis, Malah Muncul 4 Pilar
 
Perubahan Mentalitas Warga Kampung Deret Johar Baru
Perubahan Mentalitas Pengguna PT KAI Commuter Jabodetabek
Abai Dijadikan Petik Ajar
 
Bagaimana pun PDI-P Hari Ini adalah “Titik Tolak”:
Titik untuk Ditolak oleh Para Kader Muda Progresif-Revolusioner

 

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-36 bertarikh 14 November 2013.

Pengeposan kali ini masih melanjutkan risalah Redaksi bulan lalu—Bagian Ketiga. Menilik 17 Poin Rekomendasi PDI-P 2013.

Dan dari Ibu Kota seputar banjir yang menggenangi berbagai titik begitu memasuki awal bulan November 2013 ini. Mencoba menggaungi upaya-terkait Pemprov DKI di bawah pimpinan duet blusukan-musyawarah Jokowi-Ahok yang baru menginjak usia 13 bulan.

Dari mancanegara, Redaksi pilih warita yang dilansir Xinhua. Kabar mengenai komunike hasil sidang pleno Komite Sentral PKT ke-18, pertengahan bulan ini. Komunike yang menarik lantaran merupakan uraian atas cetak biru reformasi pasar.  Sebuah negara jalan sosialis yang ekonominya sebentar lagi bakal menyalip AS.

Terlebih dalam komunike tersebut yang mengemuka adalah menyoal relasi perkotaan-perdesaan. Hal yang sejatinya menjadi salah satu kebijakan negara kita dalam dalam mengetaskan kemiskinan. Memersempit jurang kaya miskin, lantaran Indeks Gini terus memburuk dari tahun ke tahun.

Tetapi poin utamanya bagi Redaksi, bukan pada komunike itu sendiri. Tapi dengan merunut hingga menyimak konstitusi PKT (terakhir diperbarui November 2012), kita bisa saksikan bahwa ternyata ideologi RRT, jati diri mereka tidak berubah sama sekali. Malahan makin “diperkuat” khususnya oleh para pemimpin tertingginya pasca-Mao.

Ajar yang seyogianya kita petik dari RRT.

Jadi, untuk tulisan terkait 17 Poin PDI-P itu silakan simak/klik hlm 38a.

Untuk Pemprov DKI terkait banjir silakan simak/klik hlm 38b.

Dan dari mancanegara terkait reformasi (lanjutan) 2013 RRT silakan simak/klik hlm 38c.

Semoga media ini bermanfaat.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

37. Peng Red (35)-14 Okt ’13

Standar

Menyambut   1 Oktober  2013

48 Tahun Perjuangan Kemerdekaan Jilid 2

 

 

Sebuah Bidasan atas 17 Poin Rekomendasi PDI-P 2013

(Bagian Kedua)

 

Soekarno yang Dihampiri Minus Pendekatan Materialis
Greget Hapus Penjajahan pun Meredup
Alih-Alih Hapus UUD 2002 Hasil Intervensi Imperialis, Malah Muncul 4 Pilar
 
Perubahan Mentalitas Warga Kampung Deret Johar Baru
Perubahan Mentalitas Pengguna PT KAI Commuter Jabodetabek
Abai Dijadikan Petik Ajar
 
Bagaimana pun PDI-P Hari Ini adalah “Titik Tolak”:
Titik untuk Ditolak oleh Para Kader Muda Progresif-Revolusioner

 

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-35 bertarikh 14 Oktober 2013.

Pengeposan kali ini adalah lanjutan risalah Redaksi bulan lalu—Bagian Kedua.

Risalah bersambung dalam rangka menyambut 1 Oktober  2013, 48 Tahun Perjuangan Kemerdekaan Jilid 2, kami menyebutnya demikian. Tulisan yang Redaksi beri judul utama “Sebuah Bidasan atas 17 Poin Rekomendasi PDI-P 2013”. Pasalnya, 17 Poin rekomendasi tersebut hemat kami sangat pas “merepresentasikan” keprihatinan dan kegemasan kami atas parpol satu ini dalam hal “menghindar” dari (salah satu) cara berpikir Soekarno yang materialis.

Tentu saja sebagai pewarta warga, untuk kesekian kalinya kami tegaskan, bahwa (juga) di dalam tulisan bersambung ini bukanlah tilikan ilmiah. Kami sedang belajar memahami cara berpikir kaum materialis, lalu mencoba menimbangnya dalam satu dua buah pikiran Soekarno (dan para founding father). Khususnya benang merah greget antiimperialisme mereka yang lalu tercermin di dalam konstitusi awal kita: Pancasila-UUD 45.

Silakan simak hlm 37a.

Semoga media ini bermanfaat.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

ooOoo