Monthly Archives: Januari 2012

16. Pengantar Redaksi (14)

Standar

Poros Setan

dan

Dahlan Iskan di Iran .

 

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-14 bertarikh 14 Januari 2012.

Masih ingatkah kawan, istilah “Poros Setan” yang dilansir Presiden Amerika kala itu George W Bush pada 2002? Poros Setan (Axis of Evil) yang terdiri dari negara-negara Irak, Korea Utara, dan Iran.

Menurut Wikipedia (klik http://en.wikipedia.org/wiki/Axis_of_evil), rupanya ada urutan berikutnya setelah Poros setan itu. Versi mantan Wakil Menteri Luar Negeri AS John R Bolton yang disebut Beyond the Axis of Evil (Setelah Poros Setan) yakni: Kuba, Libia dan Suriah.

Dan masih ada lagi urutan selanjutnya. Ini versi mantan Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice yang disebut  Outposts of Tyrrany  (Pos-pos Terdepan Kaum Tirani): Belarus, Zimbabwe, dan Myanmar.

Menarik bahwa, bila kita simak sepintas, ke-9 musuh itu memiliki haluan negara berseberangan dengan negara adidaya (?) yang sekarang sedang sempoyongan didera krisis finansial ini. Kalau bukan berasaskan Islam ya, para musuh itu, berideologi sosialis atau malah bisa jadi campuran keduanya.

Tidak heran Soekarno (ternyata juga)  masuk dalam rombongan para musuh serupa—jauh sebelum “setan-setan” ini didefinisikan—lantaran gagasan cemerlangnya “menyatukan” Nasionalisme, Islamisme, Marxisme yang kemudian menjadi “cikal bakal” asas sebuah negara yang berpopulasi no 4 dunia ini.

Dan Soekarno, pinjam istilah sekarang, sudah pula di-irak-libia-kan, lewat (data terbarui) Kudeta Merangkak dan resep obat yang tidak ditebus di ujung hayatnya. Lebih “subtil”, memang—ketimbang Saddam Husein dan Muammar Kadhafi.

Maka, adalah “konsekuensi logis” era pascaSoekarno hingga di awal abad ke-21 ini, RI tidak pernah lagi tergabung dalam rombongan musuh-musuh apalagi di deretan Poros Setan itu.

Makanya juga, tanpa terasa asas lima sila itu di tangan junta militer pascaSoekarno arahnya, cita-cita bangsa, setuju tidak setuju suka tidak suka, bukan lagi sosialisme Indonesia. Bahkan pembicaraan tentang sosialisme Indonesia dianggap sebagai “bagian dari masa lalu yang buruk,” tulis Burhan D Magenda (simak hlm 2b atau klik ini). Sungguh tragis!

Jadi, ceritanya, begitu sang junta militer (yang korup dan tiran seperti umumnya sosok sejenis: Nguyen van Thieu Vietnam Selatan [alm], Zia ul Haq Pakistan, Marcos Filipina, Pinochet Cile) sudah waktunya diganti menurut agenda si bos, dirasakan perlu adanya sebuah “jaminan legalitas”. Jaminan, agar dasar lima sila itu setelah lepas dari sang junta militer itu—(dapat) diatur secara legal—tidak (bisa) balik lagi seperti semula di era Soekarno: bercita-cita sosialisme Indonesia.

Maka galibnya teknik penguasaan sebuah target, lebih dulu perlu diciptakan sebuah “kekalutan amat sangat” (baca: kerusuhan horisontal merebak di mana-mana dan ada yang [perlu] berlangsung lama). Baru berlanjut  “serangan” oleh “rombongan berdasi”—dengan kolaborasi para antek setempat—untuk melakukan perubahan radikal pada target dimaksud: perangkat lunak vital dari negara (baca: menciptakan undang-undang dasar baru “mengangkangi” yang lama yang tak perlu dihapus karena bisa “ramai”).

Hasilnya?

Ketika mantan Rektor UGM Yogyakarta Prof Sofian Effendi pada 2006 menyebut amendemen UUD 1945 dengan sebutan UUD 2002 yang liberalis—berarti RI punya 2 konstitusi; dan lalu Kiki Syahnakri (awal 2011) menimpali dengan “Pancasila yang tertransplantasi gen darah demokrasi liberal”; maka inilah, menurut hemat Redaksi,  jawaban tanya di atas.

Lamun, sudah cukupkah perubahan radikal itu?

Oh, tidak—tentu saja; bagi kaum yang justru merendahkan hubungan antar-manusia menjadi hubungan uang belaka ketika sesumbar in God we trust lalu atas nama “demokrasi” dan “HAM” merangsek paksa dengan bedil ke negara(-negara) berdaulat; padahal urusannya “cuma” dagang; bisnis yang sejak ratusan tahun dipraktikkan orang-orang Tionghoa—sampai hari ini di era teknologi informasi—tak pakai mesiu.

Ya, tak cukup perubahan drastis legalitas itu! Lalu?

Lalu, perlu (meminjam istilah seorang sosiolog kondang kita) “memelihara macan-macan”. Kelompok-kelompok manusia yang, maaf, berperilaku tak beda hewan liar, garang, sangar, menakutkan. Lebih mengandalkan otot ketimbang otak sambil mengajungkan tinggi-tinggi panji-panji fanatik keyakinan yang justru diametral religiositas.

Gunanya?

Kelompok-kelompok serupa (“mendadak sontak muncul”) yang kerap disebut kaum “pemberontak” atau “oposisi” (baca: pembela “demokrasi” dan “HAM”) terhadap pemerintah yang sah (tapi tidak di mata pendefinisi musuh itu)  seperti yang terjadi di Irak, Libia dan (kini) di Suriah, adalah gunanya mereka.

Tidak heran, di kita pun menjadi absurd ketika kehadiran mereka, kelompok-kelompok sejenis, yang jelas-jelas melecehkan hukum dan aparatnya malah terang-terangan mengancam makar pada pemerintah Jakarta, lamun tetap eksis sampai hari ini tanpa kekurangan satu apapun.

­_

Lalu, kembali ke awal tulisan, apa kabarnya musuh-musuh yang didefiniskan oleh Amerika itu?

Ternyata “hanya” dua negara, Irak dan Libia, yang berhasil diporakporandakan sang pembohong dan agresor—sebutan paling pas dari Presiden Zimbabwe Robert Mugabe.

Berarti di deretan apa yang disebut Poros Setan itu masih bertengger, semakin kuat malah, Republik Islam Iran dan Republik Demokratis Rakyat Korea (RDRK)—yang oleh pewarta Barat kita jadinya ikut-ikutan kerap menyebut Korea Utara.

Bulan lalu, Desember 2011, Presiden RDRK Kim Jong-Il baru saja meninggal secara terhormat dalam perjalanan dinas dengan Kereta Api. Sambil menunggu bahan untuk risalah atau tulisan-jadi mengenai RDRK, kali ini Redaksi memuat utuh sebuah tulisan mengenai Republik Islam Iran.

Redaksi sengaja mengutip Dahlan Iskan. Sosok, yang bagi blog ini—juga bersama Walikota Solo Jokowi, misalnya—adalah saudagar nasional yang pancasilais. Figur pancasilais yang didefinisikan oleh Soekarno sendiri (sang penggali bukan penemu Pancasila):

Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “gotong-royong”.

Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong royong! Alangkah hebatnya! Negara Gotong Royong!

“Gotong Royong” adalah faham yang dinamis, lebih dinamis dari “kekeluargaan”, saudara-saudara! Kekeluargaan adalah satu faham yang statis, tetapi gotong-royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan, yang dinamakan anggota yang terhormat Soekardjo satu karyo, satu gawe.

Marilah kita menyelesaikan karyo, gawe, pekerjaan, amal ini, bersama-sama ! Gotong-royong adalah pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjuangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! Itulah Gotong Royong!

 Prinsip Gotong Royong di antara yang kaya dan yang tidak kaya, antara yang Islam dan yang Kristen, antara yang bukan Indonesia tulen dengan peranakan yang menjadi bangsa Indonesia.

(Sumber: pidato Soekarno “Lahirnya Pancasila”—simak hlm 9a atau klik ini)

Dalam ungkapan sekarang, kurang lebihnya, sosok yang tidak lagi mementingkan diri sendiri. Ya, kecuali, itu tadi: ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama; korup jadinya sangat hewani, bagi mereka.

Soalnya pula, figur-figur saudagar seperti inilah, bila kita mau memetik ajar dari Tiongkok, akan berperan strategis memajukan negara menuju cita-cita yang dimaui dasar kita lima sila itu.

Hanya kaum “kiri” yang non-materialislah gampang terpicu spontan menggelar “anti-kapitalis” yang berjangkau pendek ekonomisme serta ujung-ujungnya sadar tidak sadar membela kaum borjuis global (baca: imperialisme).

Jadi, silakan saja simak risalah Dahlan Iskan “Ke Iran setelah 20 Tahun Diembargo Amerika di hlm 16a atau klik ini.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

Semoga media ini bermanfaat.