19. Pengantar Redaksi (17)

Standar

Marinir AS di Darwin 2012:

“Ancaman” RRT dan/atau … ?

.

“HAM-Demokrasi di Timtim & Papua,”

Jawab WPAT & ETAN-Noam Chomsky, Mengalihkan  

(Sejatinya: Minyak Timor Leste  & Emas Freeport)

.

John Pilger East Timor: A Lesson In Why The Poorest Threaten The Powerful .

 

 Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-17 bertarikh 14 April 2012.

Kali ini Redaksi menilik warita gelombang pertama marinir Amerika yang ditempatkan di Darwin, Teritorial Utara, Australia—4 April 2012.

Dunia internasional pun bereaksi keras. Tentunya reaksi dari dunia (termasuk Redaksi di dalamnya) yang tambah gerah dengan tingkah (mantan?) adidaya satu ini yang (masih) doyan dan percaya betul kemakmuran rakyatnya (masih) perlu lewat mesiu–sesuatu yang ironis sekaligus sangat hewani ketika dunia sudah di era teknologi informasi.

Terlebih reaksi Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Yang oleh petinggi RRT disebut sebagai “mentalitas perang dingin”.

Sebuah komentar yang menunjukkan “kedewasaan” sebuah negara raksasa, berjaya, dan berasas ML. (Simak warita oleh pewarta Li Xiaokun dan Li Lianxing [China Daily] termuat di People’s Daily On Line, 1/12/2011, bertajuk US Military Base in Australia Shows ‘Cold War Mentality’).

Pasalnya, isu yang mengemuka di balik aksi militer Obama ini adalah “ancaman” (baca: kegentaran terhadap) RRT.

Lamun (tapi)–mungkin lantaran Redaksi sebagai warga Indonesia yang juga bermukim di Nusantara ini—kami lebih melihat kehadiran serdadu sang (pinjam Mugabe Zimbabwe; simak hlm 14a atau klik ini) pembohong dan agresor di Irak-Libia ini sebagai “ancaman” (baca: kesewenang-wenangan atas) Indonesia.

“Ancaman” atas kedaulatan negeri kita lewat (emas) Freeport di Papua Barat dan “ancaman tak langsung” via (minyak) Timor Leste. Pasalnya, Darwin hanya “selemparan batu”, hanya beberapa ratus kilometer dari Papua Barat maupun Nusa Tenggara Timur.  Soalnya, yang namanya imperialisme itu nyala “keganasan”-nya tak lain adalah dari bara nafsu penguasaan sumber-sumber daya alam di negeri-negeri “lemah” seantero dunia seperti Nusantara–hari-hari ini.

Argumen Redaksi ini “terinspirasi” surat terbuka sebandung (sepasang) organisasi internasional WPAT dan ETAN– dengan salah satu pentolannya di ETAN jauhari (cendekiawan) kondang tingkat dunia Noam Chomsky—ditujukan kepada Presiden AS Obama bertarikh 15 November 2011. Surat bertajuk Open Letter to President Obama from West Papua Advocacy Team (WPAT) and East Timor and Indonesia Action Network (ETAN).

Tanggal surat yang jatuh bertepatan dengan awal kunjungan Obama ke Australia yang melansir pernyataan resmi rencana penempatan pasukan AS di Darwin pada 2012. (Simak warita Kompas.com, 11/11/2011, AS Gelar Pasukan Marinir Permanen di Darwin).

Surat terbuka yang kental menyoal “HAM/hak asasi manusia dan demokrasi” dari rakyat di Timor Leste  dan Papua Barat dan secara umum Indonesia. Tapi (ternyata) tidak ada hubungan sama sekali dengan penempatan tentara AS di Darwin.

Sehingga bagi Redaksi justru sebuah “hikmah” menarik.

Sebuah “inspirasi” bagus dari suatu kaum yang berkiprah sebagai, pinjam Vince Sherman, “perisai-kiri imperialisme” (left-cover for imperialism).

Maka surat terbuka itu pun “dibaca” Redaksi sebagai (pertama-tama) terkait sumber daya alam di Timor Leste dan Papua Barat baru kemudian “ancaman” RRT.

Jadi, buat Redaksi, “HAM dan demokrasi”  di Timor Leste dan Papua Barat itu biarlah menjadi “gawe”-nya Noam Chomsky dan rekan-rekannya.

Redaksi tak tertarik. Artinya, dengan segala maaf khususnya kepada Pak Chomsky, biarlah kita, rakyat Indonesia boleh menggunakan “hak asasi” kita sendiri dalam memilih dan menentukan “demokrasi” tanpa paksaan secara “halus” apalagi “kasar dan penuh kekerasan” dari entitas apapun dan siapapun di luar kita.

Artinya pula, yang namanya “globalisasi” yang sedang mengglobal tidaklah serta merta “HAM dan demokrasi” itu bermakna tunggal didefinisikan oleh semata wayang pihak yang doyan kekerasan bermesiu pula.

Dunia ini terlalu kaya untuk dimiskinkan dan terlalu miskin untuk diperkaya hanya menurut citra dan oleh kaum yang terbukti sedang menggali liang lahatnya sendiri ketika kapitalisme dipahami dan diagung-agungkannya perlu dilengkapi mesiu.

Apalagi makin kuat dugaan keterlibatan sang pembohong dan agresor di Irak-Libia ini atas amendemen UUD45 yang (analisis Prof Sofian Effendi) melahirkan UUD 2002 yang menjadikan dasar negeri tercinta ini  (pinjam Kiki Syahnakri) tertransplantasi gen darah “demokrasi liberal”.

Soalnya pula, adalah John Pilger yang telah terlibat di Timor Timur jauh sebelum berdirinya negara Timor Leste, berbidasan (berespons) menarik.

Mengunjungi Australia November lalu, Presiden Barack Obama melansir ancaman terselubung lainnya ke RRT dan mengumumkan pembentukan pangkalan Marinir AS di Darwin, tepat di seberang laut dari Timor Timur. 

Obama mafhum bahwa negara-negara kecil yang miskin kerap dapat merupakan ancaman terbesar bagi negara kuat predator, sebab jika negara-negara kecil itu tidak bisa diintimidasi dan dikontrol, siapa yang bisa?

(Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita dari risalah John Pilger East Timor: A Lesson in Why the Poorest Threaten the Powerful) 

Hemat Redaksi, meski risalah Pilger tersebut “terbatas” pada Timor Leste (baca: tidak  mencakup Freeport Papua Barat dan Indonesia secara umum), tapi esensinya cukup terwakili–seperti ditunjukkan pada tajuk tulisannya itu.

Jadi, menutup pengantar ini, alih-alih, seharusnya, Redaksi menilik lanjut  penempatan  marinir AS di Darwin pada 2012 , lamun dengan disertai permintaan maaf, kiranya Pembaca Budiman dapat mengklik tajuk risalah John Pilger di atas dan … atau simak di sini!

Semoga media ini bermanfaat.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s