54. Peng Red (52) – 14 Mar ’15

Standar

Tiga Tanya untuk PDI-P
Jelang Kongres IV, Denpasar, Bali, 9-12 April 2015

.

Oleh Redaksi Dasar Kita

.

.

1) Bagaimana sejatinya sikap PDI-P terhadap UUD 2002?

 .

Sebuah konstitusi baru yang bukan lagi amendemen atas UUD 1945, yang diopsikan Dimyati Hartono dengan memberlakukan kembali konstusi awal tersebut plus diamendemen pada semangat Tritunggal (Pembukaan-Batang Tubuh-Penjelasan) UUD 1945?

.

2) Bagaimana sejatinya sikap PDI-P atas “4 pilar bangsa” (Pancasila, UUD 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika)?

.

Empat pilar yang sudah dibatalkan Mahkamah Konstitusi, sementara MPR (bukan lagi locus of power/Presiden bukan lagi “Mandataris MPR” sebagai produk UUD 2002) masih mensosialisasikannya dengan kata lain bukankah lembaga sangat terhormat ini sedang mengabaikan hukum dengan sengaja melawan keputusan MK meski kemudian ada “kompromi politik” antara MK dan MPR (sama-sama produk UUD 2002) ala “penyelundupan hukum” terbitnya UUD 2002 itu?

.

3) Bagaimana sejatinya sikap PDI-P terhadap “Jalan Ideologis” dari Visi Misi Pemerintahan Jokowi-JK yakni Trisakti-Gotong Royong?

.

Jalan ideologis yang sesungguhnya “disempurnakan” Sukarno menjadi Manipol USDEK (UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, Kepribadian Indonesia) sebagai konsep Sosialisme Indonesia, yang menjadi bagian tak terpisahkan dari Panca Azimat (Nasakom–Pancasila–USDEK–Trisakti–Berdikari) dengan cita-cita Ampera (NKRI–Masyarakat Adil Makmur–Hapusnya Penindasan Manusia/Nasion atas Manusia/Nasion), konsep yang didengung-dengungkan jelang/selama beliau di-Kudeta-Merangkak; Ampera yang seharusnya disosialisasikan PDI-P ketimbang 4 pilar; Panca Azimat-Ampera yang sejatinya adalah “formasi sosial sosialistis di mana berdiri superstruktur yang bersesuaian: PANCASILA-UUD 1945”?

.

Catatan Redaksi Dasar Kita

Silakan klik kata-kata/kalimat yang berwarna biru, untuk akses ke halaman/link terkait.

***

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-52 bertarikh 14 Maret 2015.

Pada pengeposan kali, Redaksi Dasar Kita dalam menyambut Kongres PDI-P IV, Denpasar, Bali, 9 – 12 April 2015, menurunkan tiga tanya seperti terpampang di atas.

Sekaligus, berbeda dengan risalah-risalah sebelumnya, Redaksi membatasi diri hanya pada ketiga pertanyaan tersebut. Tanpa elaborasi lanjut.

Dengan alasan, meski kami “bukan apa-apa atau siapa-siapa”, sebagai warga yang mendukung tanpa reserve pemerintahan Jokowi-JK, kami terus terang bingung dengan sepak terjang PDI-P. Sebuah parpol berkuasa, parpol pengusung Presiden Joko Widodo. Khususnya, ketika parpol ini mengemuka, kondang sebagai penganut “Sukarnois” atau “Marhaenisme”.

PDI-P yang meskipun sukses besar “menemukan dan mengorbitkan” Jokowi bahkan digenapi “Jalan Ideologis” dalam visi misi Trisakti-Gotong Royong – pemikiran esensial Sukarno yang “menghilang” sejak junta militer Suharto berkuasa – pada saat bersamaan muncul keraguan.

Keraguan parpol tua ini ketika harus tanpa reserve mendukung Jokowi-JK dalam (sebutan kami) DEI (devide et impera) KPK-Polri, atau terhadap “sejawat strategis” Jokowi dalam DEI DPRD DKI-Ahok, adalah pangkal kebingungan-kebingungan yang kami maksud itu.

Apalagi, diwaritakan (Kompas.com, 14/3/2015) bahwa tema Kongres IV itu “Aku Melihat Indonesia” diambil dari pemikiran Sukarno. Yang juga akan menjadi tema pidato pembukaan kongres oleh Ibu Megawati.

Inilah argumentasi kami, berharap (meski apa ada orang PDI-P yang mampir di blog ini?) PDI-P sendiri yang akan menjawab tiga tanya tersebut, mengelaborasinya lebih lanjut. Semoga.

Sementara, sebagai “rencana B” atas “rencan A” yang merupakan jawaban terhadap 3 tanya tersebut, kami kini dan seterusnya ke depan, lebih menaruh harapan pada Partai Nasional Demokrat, NasDem Surya Paloh. Sebuah parpol  – juga Sukarnois – yang kami harapkan dalam ajang politik Indonesia hari-hari ini dan ke depannya akan menjadi andalan Jokowi-JK memerkuat “Front Persatuan” dalam menggolkan visi misi mereka.

Lantaran partai politik (progresif revolusioner) pendukung tanpa reserve penguasa (khususnya di Dunia Ketiga), mutlak bagi perubahan sebuah nasion masyarakat.

Seperti salah satu bukti signifikan, Republik Rakyat Tiongkok, yang dalam tiga dasawarsa berhasil angkat 660-an juta penduduknya keluar dari kemiskinan ekstrim versi Bank Dunia, berkat “partai harus bersatu” (ucapan Presiden RRT Xi Jinping pada Jokowi).

Silakan simak hlm 54a.

ooOoo

.

Pelajaran Fundamental-Ekonomi dari Lee Kwan Yew

Oleh John Ross

.
Sumber: blog John Ross Key Trends in Globalisation, 23 Maret 2015

.
Dibahasaindonesikan oleh Redaksi Dasar Kita

.

Dalam huhungannya dengan kepergian Lee Kwan Yew, John Ross menurukan risalah yang Redaksi bahasaindonesiakan “Pelajaran Fundamental-Ekonomi dari Lee Kwan Yew”. Diposkan sebagai terbarui dari pengeposan bulanan 14 Maret 2015.

Silakan simak hlm 54b.

ooOoo

.

RI dan Kuba Siap Kerjasama Tingkatkan Ketahanan Pangan

.

.

.

Setidaknya untuk Redaksi Dasar Kita, warita satu ini penting. Mengingat pemerintahan Jokowi-JK — konsisten dengan “Jalan Ideologis” (simak visi misi hlm 44b.1 atau hlm 44b atau juga di dalam risalah renungan hlm 51a) — tidak hanya berhubungan dengan negara-negara Barat tapi juga negara-negara (pinjam Vince Sherman) “sosialis sesungguhnya ada”. Tentunya, kesepakatan yang sama-sama menguntungkan atau “win-win deals” yang menjadi salah satu yang mengemuka dari kebijakan Presiden RRT Xi Jinping — bukan penyebaran kekaisaran kaos — seperti ditulis Pepe Escobar

Siakan simak hlm 54c.

.

ooOoo

.

Pendemo Kesal Dibayar Cuma Rp 50.000, Tak Bertemu Ahok Pula

.

.

.

Ini salah satu warita yang dengan jelas mengungkap pendemo yang dibayar. Menariknya lagi, karena demo tersebut diametral Ahok. Sehingga, sulit bagi pihak yang akhir-akhir ini sedang beseteru dengan Ahok, untuk  berkilah. Berdalih menghindar dari tengarai bahwa mereka adalah penyandang dana demonstrasi dimaksud.

Sebuah lagi karut-marut republik ini, yang kami yakini tak terlepas dari hasil yang dipetik sedekade lebih konstitusi gadungan UUD 2002 diberlakukan. Yang hari-hari ini oleh pemerintahan Jokowi-JK sedang digelar “karpet merah” solusi cerdas dan cantik atasi UUD 2002 tersebut (simak hlm 51a).

Silakan simak hlm 54d.

Semoga media ini bermanfaat.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

.

ooOoo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s