57c. Edisi 22 Juni 2015/488 Tahun Jakarta, 3-Pekan Pasca-1 Juni 2015, 8-Pekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus (55-4) Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

Standar

Edisi 22 Juni 2015/488 Tahun Jakarta, 3-Pekan Pasca-1 Juni 2015, 8-Pekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus (55-4) Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

.

70 Tahun Pancasila
1 Juni 1945 – 1 Juni 2015

.
70 Tahun Republik Indonesia
17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2015

.

Jalan Ideologis Trisakti-Gotong Royong
Pemerintahan Jokowi-JK yang dilantik pada 20 Oktober 2014

.
pada hakikatnya:

.
Menegakkan satu dari Panca Azimat Revolusi (Nasakom, Pancasila, USDEK, Trisakti, Berdikari) yang sejatinya “lima Panca Azimat ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain”.

.
Yang sejatinya pula untuk mencapai sebuah Indonesia yang mengemban Ampera, Amanat Penderitaan Rakyat.

.
Yang sejatinya pula, Panca Azimat, Ampera, adalah Revolusi Indonesia yang “belum selesai”.

(Redaksi Dasar Kita)

.

♦ ♦ ♦

.

(Pengambilan sumpah telah dilakukan—peny.)

Saudara-saudara sekalian,

Beberapa saat yang lalu alhamdulillah Sudara Mayjen Ali Sadikin telah mengucapkan sumpah menjadi Gubernur/Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta, menjadi Gubernur Jakarta.

Wah, itu bukan pekerjaan yang mudah.

Dalam hal mengangkat walikota-walikota daripada beberapa kota, saya sering mengalami kekecewaan. Sesudah saya angkat, yang tadinya saya kira dan saya anggap walikota itu dapat dapat menjalankan tugasnya sebagai walikota dengan cara yang baik, kiranya tidak memuaskan.

Misalnya, saya pernah mengangkat seorang walikota [… —Red DK]. Kemudian setelah beberapa bulan dia menjalankan kewajibannya sebagai walikota, ternyata amat, atau setidak-tidaknya mengecewakan.

(Amanat PJM Presiden Soekarno pada Pelantikan/Penyumpahan Mayor Jenderal KKO Ali Sadikin Menjadi Gubenur/Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya Istana Negara, Jakarta, 28 April 1966; di dalam “Revolusi Belum Selesai” Kumpulan Pidato Soekarno 30 September 1965-Pelengkap Nawaskara, Penyunting Budi Setiyono dan Bonnie Triyana, PT Serambi Ilmu Semesta, 2014: 495-502)

(Selengkapnya simak hlm 57c.1).

ooOoo

Catatan Redaksi Dasar Kita

Menyambut 70 tahun Pancasila dan 70 tahun Republik Indonesia pada 2015 ini, secara periodik setiap Senin, terhitung sejak 1 Juni 2015 (kemudian 8 Juni, 15 Juni, 22 Juni, dan seterusnya) hingga berakhir Senin, 17 Agustus 2015,

Pengeposan Khusus ini akan hadir. Dengan catatan bahwa “tradisi” pengeposan bulanan setiap tanggal 14, untuk 3 bulan ini digantikan Pengeposan Khusus pada 15 Juni, 13 Juli dan 17 Agustus.

Pengeposan Khusus hadir dengan “cuplikan-cuplikan” sambutan/pidato Soekarno yang kami kutip dari buku “Revolusi Belum Selesai” dimaksud seperti tersajikan di atas.

(Selengkapnya simak Pengeposan Khusus Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila).

ooOoo

Catatan untuk Pengeposan Khusus Edisi 22 Juni 2015/488 Tahun Jakarta

Pada edisi khusus kali ini, bertepatan dengan Hari lahir kota Jakarta yang ke-488.

Dan secara kebetulan dalam konteks mencuplik buku “Revolusi Belum Selesai” , ada sebuah amanat Soekarno yang setidaknya bagi Redaksi Dasar Kita, masih relevan sampai hari ini. Yakni: pidato Soekarno setelah pengambilan sumpah Bang Ali alias Ali Sadikin sebagai Gubernur Jakarta pada 28 April 1966.

Terlebih, ketika hari-hari ini Jakarta dipimpin oleh seorang sosok yang bagi kami adalah salah satu “fenomenal” — bukan saja bagi DKI Jakarta, tapi bahkan bagi historis negeri akbar ini awal-awal abad ke-21: Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama.

Ya, Bang Ahok bagi kami — di tengah “banyak kontroversial” — malah “nyaris tak bercela”.

Ketika Jakarta bukan saja membutuhkan seorang yang mengerti sebatas, kutip Bung Karno, kekotaprajaan, tapi juga istilah kami “tetap menjadi perawan di sarang penyamun”. Ketika penyamun di Jakarta itu, kutip Ahok, dari yang miskin sampai konglomerat. Sebuah “panen raya” atas benih “transaksional” — anak kandung formasi sosial kapitalistis (simak hlm 44a dan hlm 45a) yang secara legalitas diatur oleh konstitusi gadungan UUD 2002 (simak hlm 21a dan hlm 22a juga hlm 39a)– yang ditebar sejak Bung Karno di-kudeta-merangkak, “digenapi” di Senayan Jakarta, bareng marak-maraknya kerusuhan Ambon .

Ketika Jakarta sebagai Ibukota sebuah republik yang menjadi bagian dari Asia Pasifik yang tengah bergeliat dan ikut — dibawah kepemimpinan Jokowi-JK — bersama Tiongkok yang terus menjauhi kebijakan jadul “perluasan empire of chaos“; atas dasar win-win deals yang tak lain adalah perwujudan “spirit Bandung” di abad ke-21. (Ref hlm 53a).

Sehingga, singkat kata, dengan mengutip, memuat utuh amanat Bung Karno saat pelantikan Bang Ali ini, kami berupaya ikut “merenda kembali historis” kita yang setengah abad ini kita punggungi bahkan “kentutin”: Panca Azimat (Nasakom, Pancasila, USDEK, Trisakti, Berdikari) dan lanjutkan cita-cita revolusi Ampera (NKRI, Masyarakat Adil Makmur, Hapusnya Penindasan Manusia atas Manusia — Penindasan Nasion atas Nasion). 

Sekaligus, “secara teknis”, ini adalah “langkah pertama” Redaksi Dasar Kita (sebagai pewarta-warga biasa, bukan apa-apa/siapa-siapa):

Mendukung Bang Ahok

sebagai

DKI-1 pada Pilkada DKI Jakarta 2017

.

(Simak pengeposan terbarui kami terkait: “AHOK UNTUK PILKADA DKI 2017”)

Semoga.

“Untuk Bang Ahok dan seluruh jajarannya: Selamat Hari Lahir Jakarta ke-488”.

ooOoo

Simak rangkaian Pengeposan Khusus:

Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila

Edisi 8 Juni 2015

Edisi 15 Juni 2015

Edisi 29 Juni 2015

Edisi 6 Juli 2015

Edisi 13 Juli 2015

Edisi 20 Juli 2015

Edisi 27 Juli 2015

Edisi 3 Agustus 2015

Edisi 10 Agustus 2015

Edisi 17 Agustus 2015

One response »

  1. Semua yang ditulis ini untuk “negara proklamasi” (merdeka dari penjajahan — Red DK) dengan dasar Pancasila. Yang sejak amendemen UUD 1945, dirubahnya Pasal 2 ayat 1 UUD 1945, maka berubahlah sistem kolektivisme; sistem MPR menjadi individualisme-liberalisme dan sistim pemerintahannya presidensial. Maka Pancasila-Preambul UUD 1945 dan “negara proklamasi” sudah tidak ada.

    Redaksi Dasar Kita

    Terima kasih Bung Prihandoyo Kuswanto, sudah mampir lagi dalam rangkaian pengeposan khusus kami ini, dan menegaskan ulang sikap yang paralel dengan kami dalam merespons "amendemen" UUD 1945. Perubahan konstitusi awal kita yang bukan lagi "amendemen" tapi — seperti sudah dikemukakan beberapa pakar hukum tata negara kita — sebuah konstitusi baru: UUD 2002, diametral UUD 1945.

    Sebuah konsekuensi logisnya, seperti Bung katakan, "negara proklamasi" sudah tidak ada.

    Dalam pemahaman kami, secara de facto; memang demikian, tapi secara de jure tidak!

    Lantaran masih tegak tak tergoyahkan Dekrit 5 Juli 1959. Sebuah dekrit Bung Karno yang monumental sekaligus sebuah “harapan” bagi tegaknya kembali “negara proklamasi” itu.

    Apalagi, setidaknya untuk kami, Trisakti — satu dari Panca Azimat Soekarno — hari-hari ini menjadi pilihan “jalan Ideologis” dari kebijakan politik pemerintahan Jokowi-JK, apapun bagaimanapun “sederhana”-nya pikiran-pikiran BK itu ditafsirkan/diimplementasikan di sebuah RI abad ke-21. Hal, yang pernah kami sebutkan, membuat banyak pihak (terlebih kaum yang “kentutin BK”) terkaget-kaget: kok Doktrin Truman gagal! (Hal yang kami coba telisik ala pewarta warga di hlm 56a).

    Jadi, Bung Prihandoyo, sekali lagi, kami sangat bahagia bahwa hari-hari ini kami memiliki (kalau Bung tidak keberatan kami sebut) seorang “kawan seperjuangan” dalam sebuah upaya yang nyaris mustahil bagi banyak orang Indonesia.

    Pamrihnya?

    Setidaknya untuk kami, anak cucu tidak “kentuti” kami di alam baka lantaran kami sengaja memilih “tidak kentutin BK” karena “BK baik, PKI baik, BK sangat baik, PKI sangat baik. Mereka tinggalkan “belang macan dan gading gajah”: Panca Azimat & Ampera untuk sebuah negeri maritim nan akbar populasi nomor empat dunia seluas daratan Eropa, kaya SDA & SDM dengan satu Bahasa. .

    Salam hangat. Tetap Merdeka!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s