57f. Edisi 13 Juli 2015, 6-Pekan Pasca-1 Juni 2015, 5-Pekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

Standar

57f. Edisi 13 Juli 2015, 6-Pekan Pasca-1 Juni 2015, 5-Pekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

.

70 Tahun Pancasila
1 Juni 1945 – 1 Juni 2015

.
70 Tahun Republik Indonesia
17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2015

.

Jalan Ideologis Trisakti-Gotong Royong
Pemerintahan Jokowi-JK yang dilantik pada 20 Oktober 2014

.
pada hakikatnya:

.
Menegakkan satu dari Panca Azimat Revolusi (Nasakom, Pancasila, USDEK, Trisakti, Berdikari) yang sejatinya “lima Panca Azimat ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain”.

.
Yang sejatinya pula untuk mencapai sebuah Indonesia yang mengemban Ampera, Amanat Penderitaan Rakyat.

.
Yang sejatinya pula, Panca Azimat, Ampera, adalah Revolusi Indonesia yang “belum selesai”.

(Redaksi Dasar Kita)

.

♦ ♦ ♦

.

Saya ulangi lagi, perjuangan antiimperialisme harus kita jalankan terus, juga atas skala internasional.

Kita menyadari dan tahu benar bahwa perikehidupan bangsa di abad XX sekarang ini tidak mungkin lagi kita jalankan sendiri-sendirian.

Dunia sekarang ini memang telah menjadi kecil. Bola dunia sekarang ini telah menjadi laksana satu kelereng kecil di dalam tangannya Si Pembuat Sejarah. Segede mrico binubut ing astane Sang Murbeng Dumadi.

John Foster Dulles dalam perdebatannya dengan saya mengatakan bahwa Amerika menjalankan satu politik dunia – menjalankan satu global policy.

Well! Sekarang saya menjawab, Indonesia, terutama sekali dalam perjuangannya melawannya antiimperialisme, menjalankan strategi dunia – Indonesia menjalankan satu global strategy.

Apalagi kalau kita ingat bahwa Revolusi Indonesia hanyalah satu bagian saja daripada revolusi umat manusia, satu bagian saja daripada the universal revolution of man.

Dan apakah inti daripada the universal revolution of man itu? Apakah ini daripada tiap-tiap revolusi dalam abad XX ini?

Inti hakiki dari tiap-tiap revolusi dalam abad XX ini ialah kemerdekaan bagi manusia, kemerdekaan bagi bangsa, antiimperialisme, anti-exploitation de l’homme par l’homme dan anti-exploitation de nation par nation.

Karena itulah maka sebagai salah satu mercu suar daripada universal voice – mempunyai suara sejagad, Indonesia didengarkan, dilihat, diperhatikan, sering-sering dikagumi oleh orang di lima benua dan tujuh samudra!

Inilah kemercusuaran kita, berkat perjuangan kita berdasarkan Proklamasi Kemerdekaan dan Deklarasi Kemerdekaan kita itu.

Saudara-saudara, saya pernah dihadiahi dengan coretan tembok yang berbunyi: “Mercu suar politik no, mercu suar ekonomi yes”.

Wah, wah, wah, wah hebat bener nih! Hebat bener!

Tapi saya tanya: Siapa bisa dalam abad XX memisahkan politik dari ekonomi, baik nasional maupun internasional?
Dalam abad XX dua hal ini, ekonomi dan politik, adalah kait-mengait, kait-mengait satu sama lain, rante-rinante satu sama lain, interwoven satu sama lain.

Apalagi buat kita, ekonomi kita!

Sebab, ekonomi kita kejar bukan ialah ekonomi atas dasar orde baru, ekonomi atas dasar orde sosialis, bukan ekonomi seperti di Amerika atau ekonomi seperti di Jepang, satu ekonomi sosialis tanpa exploitation de l’homme par l’homme.

Tetapi saya tanya lagi, ekonomi tanpa exploitation de l’homme par l’homme apakah mungkin tanpa perjuangan, tanpa menghilangkan exploitation de nation par nation?

Ekonomi tanpa exploitation de l’homme par l’homme tak dapat kita selenggarakan tanpa hilangnya exploitation de nation par nation, yaitu tanpa hilangnya imprialisme! Membangun ekonomi sosialis dengan bersama-sama dengan itu menggempur imperialisme, menggempur imperialisme untuk bersama-sama dengan itu membangun sosialisme, inilah rantai yang saya maksudkan, itu adalah Dwi Tunggal!

Dwi Eka! Dwi Simultanisme!

Karena itulah maka Ampera bukan hanya urusan isi perut.

Ampera adalah urusan isi perut dan negara merdeka dari imperialisme plus Dunia Baru.

Ampera adalah Dwi Tunggal politik dan ekonomi, Dwi Tunggal ekonomi dan politik.

Dan tidak ada ke-ambeg-parama-arta dari yang satu di atas yang lain.

Malah Ampera adalah Tritunggal, yaitu:

Negara Merdeka – politik!

Masyarakat adil dan makmur – ekonomi!

Dunia Baru – politik!

Pun di dalam Tri Tunggal Ampera ini tidak ada ke-ambeg-parama-arta-an.

Karena itulah maka saya tempo hari berkata bahwa hati saya plong karena MPRS memberi kepada Kabinet Ampera tugas Catur Karya, bukan Eka karya: satu, ekonomi, dua, gempur imperialisme, tiga, politik bebas aktif, empat, pemilihan umum.

Ekonomi dan politik bersama-sama, ekonomi dan politik simultan, ekonomi dan politik door elkaar en aan elkaar. 〈12〉

.———
〈12〉 Tercampur dan terkait

Bagaimana hal stabilisasi ekonomi dan stabilisasi politik? Bagaimana itu Dwi Dharma yang ditugaskan oleh MPRS ?
Itu pun tak dapat dipisahkan satu sama lain. Itu pun interwoven satu dengan yang lain.

Kita bekerja keras untuk stabilisasi ekonomi dan stabilisasi politik, bersama-sama.

Tapi stabilisasi adalah satu pengertian yang relatif. Stabilisasi adalah satu relatief begrip!

Jangan takut memasuki z.g. instabilisasi, kalau instabilisasi itu sementara perlu mencapai stabilisasi.

Memang revolusi ia punya antithesa dan synthesa, dengan ia punya dialektika, adalah satu rantai panjang instabilisasi dan stabilisasi.

Dan terutama sekali camkan dalam hatimu dan pikiranmu, camkan secam-camnya bahwa stabilisasi yang kita perlukan sekarang bukanlah stabilisasi imperialis tetapi stabilisasinya perjuangan kita yang revolusioner, sebagai batu loncatan untuk meneruskan revolusi dan memenangkan revolusi itu.

Saudara-saudara, saya bergembira pula bahwa MPRS mengenai PBB berkata, “Harus meningkatkan perjuangan untuk mengadakan perombakan dalam tubuh PBB, baik struktural maupun komposisional, untuk disesuaikan dengan perkembangan zaman.”

(Pidato Presiden Soekarno pada Hari Ulang Tahun ke-21 Republik Indonesia, Jakarta, 17 Agustus 1966; di dalam “Revolusi Belum Selesai” Kumpulan Pidato Soekarno 30 September 1965-Pelengkap Nawaskara, Penyunting Budi Setiyono dan Bonnie Triyana, PT Serambi Ilmu Semesta, 2014: 598-600)

.
ooOoo

.

Catatan Redaksi Dasar Kita

Menyambut 70 tahun Pancasila dan 70 tahun Republik Indonesia pada 2015 ini, secara periodik setiap Senin, terhitung sejak 1 Juni 2015 (kemudian 8 Juni, 15 Juni, 22 Juni, dan seterusnya) hingga berakhir Senin, 17 Agustus 2015, Pengeposan Khusus ini akan hadir. Dengan catatan bahwa “tradisi” pengeposan bulanan setiap tanggal 14, untuk 3 bulan ini digantikan Pengeposan Khusus pada 15 Juni, 13 Juli dan 17 Agustus.

Pengeposan Khusus hadir dengan “cuplikan-cuplikan” sambutan/pidato Soekarno yang kami kutip dari buku “Revolusi Belum Selesai” dimaksud seperti tersajikan di atas.

(Selengkapnya simak Pengeposan Khusus Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila).

.

ooOoo

.

Catatan untuk Pengeposan Khusus Edisi 13 Juli 2015

Kami, Redaksi Dasar Kita, tegaskan ulang, buku “Revolusi Belum Selesai” dimaksud ini merupakan salah satu referensi terpenting dalam upaya, istilah kami, “mencabut chips ’kentuti BK (Bung Karno)’ yang ditanam kaum imperialis di kepala kita masing-masing” setengah abad terakhir ini. (Simak pengeposan terbarui hlm 57h).

Chips “kentuti BK”, yang (salah satunya) “berhasil menunda” terbitnya pidato-pidato Soekarno setidaknya selama 50 tahun sebelum Budi Setiyono dan Bonnie Triyana bersama PT Serambi Ilmu Semesta melansir kerja akbar “Revolusi Belum Selesai” pada 2014.

Berbarengan naiknya Jokowi-JK yang memilih Jalan Ideologis pada tahun yang sama (20 Oktober 2014) dengan mengusung (salah satu unsur) Panca Azimat: Trisakti. Sekaligus “bukti” gagalnya Doktrin Truman (penghadangan komunisme sejagat termasuk pikiran-pikiran Soekarno) di Indonesia.

Maka “Revolusi Belum Selesai”, setidaknya bagi kami bagaikan “booster”/penambah tenaga dalam menegakkan kembali batang yang tumbang (bukan tenggelam) untuk tegaknya sebuah RI ber-Panca Azimat dengan Ampera yang “bukan hanya urusan perut” itu.

Jalan Ideologis Trisakti-Masohi/Gotong Royong Jokowi-JK yang bagi kami adalah “solusi cerdas dan cantik” penggelaran “karpet merah” untuk atasi konstitusi gadungan UUD 2002. Lantaran, mustahil visi misi Jokowi-JK akan mencapai hasil optimal sebuah RI Hebat (baca: Ampera) bila Jalan Ideologis itu berada di “habitat” bukan revolusi Agustus 1945.

Sekaligus, Jalan Ideologis Jokowi-JK secara alamiah/natural itu akan “melapangkan jalan” – seiring hadirnya negara secara bertahap dan signifikan – hapusnya UUD 2002 setidaknya makin optimal syarat-syarat material bagi amendemen pada greget Tritunggal (Pembukaan-Batang Tubuh-Penjelasan) UUD 45.

Dalam konteks (Jokowi-JK di abad ke-21) ini, ucapan Soekarno menjadi sangat bermaka: “Memang revolusi ia punya antithesa dan synthesa, dengan ia punya dialektika, adalah satu rantai panjang instabilisasi dan stabilisasi.”

.

ooOoo

.

Simak rangkaian Pengeposan Khusus:

Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila

Edisi 8 Juni 2015

Edisi 15 Juni 2015

Edisi 22 Juni 2015/488 Tahun Jakarta

Edisi 29 Juni 2015

Edisi 6 Juli 2015

Edisi 13 Juli 2015

Edisi 20 Juli 2015

Edisi 27 Juli 2015

Edisi 3 Agustus 2015

Edisi 10 Agustus 2015

Edisi 17 Agustus 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s