57g. Edisi 20 Juli 2015, 7-Pekan Pasca-1 Juni 2015, 4-Pekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus (55-8) Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

Standar

57g. Edisi 20 Juli 2015, 7-Pekan Pasca-1 Juni 2015, 4-Pekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus (55-8) Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

.

70 Tahun Pancasila
1 Juni 1945 – 1 Juni 2015

.
70 Tahun Republik Indonesia
17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2015

.

Jalan Ideologis Trisakti-Gotong Royong
Pemerintahan Jokowi-JK yang dilantik pada 20 Oktober 2014

.
pada hakikatnya:

.
Menegakkan satu dari Panca Azimat Revolusi (Nasakom, Pancasila, USDEK, Trisakti, Berdikari) yang sejatinya “lima Panca Azimat ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain”.

.
Yang sejatinya pula untuk mencapai sebuah Indonesia yang mengemban Ampera, Amanat Penderitaan Rakyat.

.
Yang sejatinya pula, Panca Azimat, Ampera, adalah Revolusi Indonesia yang “belum selesai”.

(Redaksi Dasar Kita)

.

♦ ♦ ♦

.

Nah, Saudara-saudara, saya ulangi, inspirasi adalah pertemuan antara sadar dan tidak sadar dalam manusia, pertemuan secara scheppen, secara membina, membangun, cipta.

Nah, lantas revolusi itu apa?

Revolusi itu adalah kataku, razende inspiratie van de geschiedenis atau razande inspiratie, jadi tidak hanya hasil daripada bewuste. Sebab inspirasi adalah pertemuan antara bewuste dan onderbewuste.

Nah, karena revolusi adalah razende inspiratie, maka revolusi itu adalah bukan hasil daripada bewuste saja, tetapi hasil juga daripada onderbewuste daripada masyarakat, daripada yang onbewust dan bewust ini harus bertemu. Meledak pertemuan ini menjadi revolusi.

Nah, pada waktu itu saya berdiri di sini, saya terangkan hal itu. Saya beri contoh, lihat revolusi, baik revolusi kita maupun Revolusi Soviet, atau revolusi bangsa-bangsa lain, apakah yang menjalankan revolusi itu semuanya bewust, hasil pikiran mereka? Tidak, tidak.

Ambil rakyat kita. Rakyat kita itu banyak yang tidak bisa bicara, tidak bisa mengutarakan pikiran-pikiran. Bahkan pikiran pun tidak sampai-sampai tinggi-tinggi, jauh-jauh. En toh mereka melahirkan revolusi. Justru oleh karena dia punya bewuste en onderbewuste bertemu satu sama lain.

Bukan saja di kalbu manusia ada pertemuan antara bewuste dan onderbewuste, juga di kalbu masyarakat, kalbu rakyat ada pertemuan antara bewuste dan onderbewuste, dan itu menjadi revolusi.

Karena itu saya tadi berkata, revolusi mempunyai selfbirth, lahir dengan sendirinya. Revolusi bukan bikinan manusia, revolusi menjalankan sendiri dia punya darma bakti.

Sehingga saya tadi berkata, one can teach the leaders, one can teach the masses as well, but can we teach the revolution something? Tidak.

Keluar daipada onderbewuste daripada rakyat jelata Indonesia, ingin makan cukup. Keluar daripada onderbewuste rakyat Indonesia ingin mempunyai negara. Keluar daripada onderbewuste rakyat Indonesia itu ingin, sekadar ingin, yang tidak bisa diutarakan, ingin supaya anaknya bisa membaca dan menulis. Keluar daripada ondebewuste daripada masyarakat

Indonesia itu, ingin mempunyai rumah yang tidak bocor. Keluar daripada onderbewuste rakyat Indonesia itu ingin menjadi suatu bangsa yang terhormat.

Marhaen atau rakyat jelata atau rakyat apapun tidak tahu teori revolusi, tidak tahu Marx, tidak tahu Sun Yat Sen, tidak tahu Rizal dari Filipina, tidak tahu Mustafa Kamil dari Mesir, tidak tahu pemimpin-pemimpin lain, tidak tahu what the French revolution is fighting for, tidak tahu demokrasi parlementer, tidak tahu demokrasi yang dinamakan demokrasi terpimpin, tidak tahu.

En toh massa ini berevolusi! Sampai membakar rumahnya sendiri, sampai membakar jembatan-jembatan, sampai bersedia mati, sampai merelakan suaminya menjadi pejuang, sampai merelakan anaknya maju ke medan pertempuran, sampai ibu, nenek-nenek ini ikut di dalam gerakan yang dinamakan revolusi itu.

Padahal dia tidak tahu teori, tidak tahu. Tetapi dia punya onderbewustzijn, Saudara-saudara, dia menggerakkan, bertemu dengan dia punya bewutzijn.

Oleh karena itu maka saya berkata, revolution leads itself, revolusi adalah selfbirth, bukan keinginanku, bukan bikinanmu, bukan bikinanmu, bukan bikinanmu, bukan bikinanmu.

Nah, Revolusi Indonesia dus tidak bisa diselewengkan manusia. Tujuannya sudah tetap, tidak bisa di—saya punya perkataan akhir-akhir ini—tidak bisa diperkanankan. Oleh karena lahir sebagai bayi kiri. Kiri, sejak lahirnya kiri. Bayi kiri, dalam arti politik sosial kiri.

Bukan kok bayi yang tidak punya tangan kanan, cuma punya tangan kiri saja, tidak.

Revolusi Indonesia adalah revolusi kiri.

Menghendaki bukan saja satu masyarakat yang lepas daripada imperialisme, tetapi satu masyarakat yang benar-benar boleh dinamakan masyarakat sosial ekonomi kiri.

Antikapitalisme, kiri. Masyarakat yang sama rasa sama rata, kiri.

.

(Amanat PJM Presiden Soekarno pada Hari Ulang Tahun Lembaga Kantor Berita Antara di Istana Bogor, 12 Desember 1965;di dalam “Revolusi Belum Selesai” Kumpulan Pidato Soekarno 30 September 1965-Pelengkap Nawaskara, Penyunting Budi Setiyono dan Bonnie Triyana, PT Serambi Ilmu Semesta, 2014: 227-229)

.

ooOoo

.

Catatan Redaksi Dasar Kita

Menyambut 70 tahun Pancasila dan 70 tahun Republik Indonesia pada 2015 ini, secara periodik setiap Senin, terhitung sejak 1 Juni 2015 (kemudian 8 Juni, 15 Juni, 22 Juni, dan seterusnya) hingga berakhir Senin, 17 Agustus 2015, Pengeposan Khusus ini akan hadir. Dengan catatan bahwa “tradisi” pengeposan bulanan setiap tanggal 14, untuk 3 bulan ini digantikan Pengeposan Khusus pada 15 Juni, 13 Juli dan 17 Agustus.

Pengeposan Khusus hadir dengan “cuplikan-cuplikan” sambutan/pidato Soekarno yang kami kutip dari buku “Revolusi Belum Selesai” dimaksud seperti tersajikan di atas.

(Selengkapnya simak Pengeposan Khusus Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila).

.

ooOoo

.

Catatan untuk Pengeposan Khusus Edisi 20 Juli 2015

“Revolusi Indonesia adalah revolusi kiri.

Menghendaki bukan saja satu masyarakat yang lepas daripada imperialisme, tetapi satu masyarakat yang benar-benar boleh dinamakan masyarakat sosial ekonomi kiri.

Antikapitalisme, kiri. Masyarakat yang sama rasa sama rata, kiri”

Sangat berandang, gamblang, terlebih pasca-1/2-abad, era pemerintahan Jokowi-JK pula (baca: hakikatnya lanjutkan “Revolusi Belum Selesai” Bung Karno) . Bahwa yang Soekarno tawarkan dan wariskan — “berkolaborasi” dengan kaum kiri-materialis-nonrevisionis kala itu — adalah Ampera (NKRI, Masyarakat Adil dan Makmur, Hapusnya penindasan manusia atas manusia, penindasan nasion atas nasion). Dengan “jalan ideologis” Panca Azimat (Nasakom, Pancasila, USDEK–UUD 45-Sosialisme Indonesia-Demokrasi Terpimpin-Ekonomi Terpimpin-Kepribadian Indonesia –Trisakti, Berdikari).

ooOoo

.Simak rangkaian Pengeposan Khusus:

Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila

Edisi 8 Juni 2015

Edisi 15 Juni 2015

Edisi 22 Juni 2015/488 Tahun Jakarta

Edisi 29 Juni 2015

Edisi 6 Juli 2015

Edisi 13 Juli 2015

Edisi 27 Juli 2015

Edisi 3 Agustus 2015

Edisi 10 Agustus 2015

Edisi 17 Agustus 2015

ooOoo

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s