57h. Edisi 27 Juli 2015, 8-Pekan Pasca-1 Juni 2015, 3-Pekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus (55-9) Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

Standar

57h. Edisi 27 Juli 2015, 8-Pekan Pasca-1 Juni 2015, 3-Pekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus (55-9) Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

.

70 Tahun Pancasila
1 Juni 1945 – 1 Juni 2015

.
70 Tahun Republik Indonesia
17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2015

.

Jalan Ideologis Trisakti-Gotong Royong
Pemerintahan Jokowi-JK yang dilantik pada 20 Oktober 2014

.
pada hakikatnya:

.
Menegakkan satu dari Panca Azimat Revolusi (Nasakom, Pancasila, USDEK, Trisakti, Berdikari) yang sejatinya “lima Panca Azimat ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain”.

.
Yang sejatinya pula untuk mencapai sebuah Indonesia yang mengemban Ampera, Amanat Penderitaan Rakyat.

.
Yang sejatinya pula, Panca Azimat, Ampera, adalah Revolusi Indonesia yang “belum selesai”.

(Redaksi Dasar Kita)

.

♦ ♦ ♦

.

Nah, itu yang saya lihat di Indonesia Saudara-saudara, sesudah 30 September.

Kita gontok-gontokan satu sama lain, bakar-membakar semangat satu sama lain, sampai saya mengancam pada waktu itu di Bogor, Sidang Paripurna Kabinet, hayo, kalau ada golongan yang membakar-bakar semangat, saya sebagai Pemimpin Besar Revolusi, sebagai apa, sebagai pemimpin rakyat Indoensia ini, Pemimpin Bangsa Indonesia ini, saya merasa bertanggung jawab atas kesatuan bangsa Indonesia, golongan yang membakar semangat akan saya bubarkan.

[…]

Semua partai-partai yang mengajak gontok-gontokan, against ourselve Saudara-saudara, antara bangsa kita dengan bangsa kita, saya bubarkan.

[…]

Wartawan pun sudah saya ancam juga. Kalau ada surat kabar yang membakar-bakar semangat, pun akan saya bubarkan surat kabar itu.

[…]

Apa sebab?

Oleh karena saya bertanggung jawab atas bangsa Indonesia ini. Oleh karena saya bertanggung jawab atas keselamatan bangsa Indonesia ini. Saya tidak bisa toelaten bangsa Indonesia ini dirobek-robek oleh bangsa kita sendiri, tidak.
Malahan saya di Sidang Kabinet Paripurna telah berkata, saya punya politik dan sikap inilah, dan alls jullie mij nog lust, behoudt mij. Als jullie mij niet meer lust, trap mij eruit. 〈4〉

———
4〉 Kalau kalian masih suka sama saya, pertahankanlah saya. Kalau kalian tidak senang lagi, tendanglah saya.

[…]

Kalau jullie donder mij eruit, saya masih mempertanggungjawabkan saya punya pimpinan ini terhadap kepada Tuhan Yang Mahakuasa, saya insya Allah berkata, ya Allah ya Rabbi, I have done well.

Bahwa rakyat tidak ngikuti saya atau pemimpin-pemimpin, pentol-pentol rakyat tidak ngikuti saya, sorry, tetapi terhadap kepada-Mu, ya Tuhan ya Rabbi, saya bisa mempertanggungjawabkan segala saya punya pimpinan politik itu.

Karena saya berusaha memimpin bangsa Indonesia ini supaya tetap bersatu.

Nah, Saudara-saudara, yang saya mintakan account and discharge, Saudara benarkan, Syukur! Saudara tidak benarkan, ya sudahlah trap mij eruit!

Saudaralah yang menetapkan saya menjadi Presiden. Saudaralah yang menetapkan saya menjadi Pemimpin Besar Revolusi. Saudaralah yang menetapkan saya menjadi Mandataris.

Kalau Saudara masih membenarkan saya punya pimpinan, terima kasih. Sampai akhir hidup saya ini, Saudara-saudara, saya, insya Allah Swt. Dengan karunia Tuhan Yang Mahakuasa, akan tetap menyumbangkan jiwa ragaku ini kepada bangsa dan negara dan cita-cita bangsa.

Tapi kalau Saudara-saudara tidak membenarkan saya, O.K., O.K., trap mij eriut. Malah tidak perlu trap eruit itu, katakan saja kepada saya, saya akan mengundurkan diri.

Sebab Saudara-saudara, saya ini kadang-kadang, laillahaillallah, tiap-tiap golongan, tiap-tiap surat kabar menulis, taat kepada Pemimpin Besar Revolusi, taat kepada komando Bung Karno, tetapi apa yang saya lihat, dan itu pun sudah saya ucapkan, kadang-kadang saya merasa dikentuti, Saudara-saudara!

.

(Amanat PJM Presiden Soekarno pada Pembukaan Sidang Pimpinan MPRS ke-10 di Istana Negara, Jakarta, 6 Desember 1965 di dalam “Revolusi Belum Selesai” Kumpulan Pidato Soekarno 30 September 1965-Pelengkap Nawaskara, Penyunting Budi Setiyono dan Bonnie Triyana, PT Serambi Ilmu Semesta, 2014: 202-203; cetak tebal dari kami, Red DK)

.
ooOoo

.

Catatan Redaksi Dasar Kita

Menyambut 70 tahun Pancasila dan 70 tahun Republik Indonesia pada 2015 ini, secara periodik setiap Senin, terhitung sejak 1 Juni 2015 (kemudian 8 Juni, 15 Juni, 22 Juni, dan seterusnya) hingga berakhir Senin, 17 Agustus 2015, Pengeposan Khusus ini akan hadir. Dengan catatan bahwa “tradisi” pengeposan bulanan setiap tanggal 14, untuk 3 bulan ini digantikan Pengeposan Khusus pada 15 Juni, 13 Juli dan 17 Agustus.

Pengeposan Khusus hadir dengan “cuplikan-cuplikan” sambutan/pidato Soekarno yang kami kutip dari buku “Revolusi Belum Selesai” dimaksud seperti tersajikan di atas.

(Selengkapnya simak Pengeposan Khusus Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila).

.

ooOoo

.

Catatan untuk Pengeposan Khusus Edisi 27 Juli 2015

” … kadang-kadang saya merasa dikentuti, Saudara-saudara!”

Ya, “dikentuti”. Malah hemat kami sudah berlangsung setengah abad ini.  Bung Karno kita “kentuti”. 

Yang bagi kami bukan saja kita memunggungi Soekarno, kita malah membuang gas busuk dari tubuh kita ke Soekarno.

Kita terus saja “kentuti” Bung Karno dengan menjauhi Panca Azimat (Nasakom, Pancasila, USDEK–UUD 1945-Sosialisme ala Indonesia–Demokrasi Tepimpin-Ekonomi Terpimpin-Kepribadian Indonesia, Berdikari) dan Ampera/Amanat Penderitaan Rakyat (NKRI, Masyarakat Adil Makmur, Hapusnya Penindasan Manusia atas Manusia, Nasion atas Nasion).

Lema “Nasakom” atau USDEK dengan “Sosialisme ala Indonesia” atau “Demokrasi Terpimpin” misalnya, bernasib “serupa” dengan lema “PKI”.

Makanya bagi kami, metafornya, imperialis berhasil “menanam” (pinjam sebuah produk teknologi komputer personal) chips di kepala kita masing-masing. “Chips-kentuti BK”. Menyusul Doktrin Truman yang (di kemudian hari “digenapi” konstitusi gadungan UUD 2002 semasa kerusuhan Ambon sedang marak-maraknya) sukses besar dengan Kudeta Merangkak yang bukan saja berhasil gusur BK berikut pikiran-pikirannya, Partai Komunis Indonesia pun di abad ke-21 ini masih diemohi dan malah dicerca kaum muda kita. Khususnya kaum kiri-revisionis (baca: left-cover for imperialism) didukung/pro ideologi yang diusung kaum cendekiawan borjuis.

Tetapi kaum imperialis tampaknya tidak pernah membayangkan. Jokowi yang “diorbitkan” Bu Mega (ideologis berbeda dengan sang Ayah yang konsisten memusuhi imperialisme) melalui kendaraan politik PDI-P, ternyata malah seorang “Soekarno abad ke-21”. Tapi yang justru merangkul para pebisnis negeri-negeri imperialis itu. Sembari mantap memilih model (versi Pepe Escobar) “pengintegrasian Eurasia” dengan bergabung ke AIIB yang digagas RRT bagian dari “One Belt, One Road”.

Tak pelak, sebuah pendekatan ala USDEK/Panca Azimat sedang direvitalisasi Jokowi.

Apalagi pascamangkatnya Lee Kuan Yew, dunia disuguhi semacam data empiris baru. Bahwa pilihan “struktur demokrasi vertikal” (pinjam istilah cendekiawan non-Marxis Naisbitt, 2010: 246) oleh RRT (prodoktrin Marxian) dan Singapura (antidoktrin Marxian) menghasilkan RRT macam apa dan Singapura macam apa hari ini.

Apalagi “intisari” (oleh Stephen Gowans — simak hlm 60) atas pidato Presiden Suriah al-Assad pada 27 Juli 2015 di Damaskus. Makin berandang, setidaknya bagi kami, kesejajaran apa yang dialami Assad dengan Soekarno — padahal sudah setengah abad berlalu. Bukti, “kemunduran” luar biasa Barat dalam memaknai “harkat manusia” sebagai mahluk penghuni planet ini di samping hewan dan fauna yang tak urusannya dengan martabat dan harga diri sebuah nasion.

Sehingga.bagi kami, mendukung Jokowi-JK tanpa reserve sama sebangun upaya mencabut “chips kentuti BK” dari kepala kita masing-masing” adalah keniscayaan.

ooOoo

Simak rangkaian Pengeposan Khusus:

Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila

Edisi 8 Juni 2015

Edisi 15 Juni 2015

Edisi 22 Juni 2015/488 Tahun Jakarta

Edisi 29 Juni 2015

Edisi 6 Juli 2015

Edisi 13 Juli 2015

Edisi 20 Juli 2015

Edisi 3 Agustus 2015

Edisi 10 Agustus 2015

Edisi 17 Agustus 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s