57i. Edisi 3 Agustus 2015, 9-Pekan Pasca-1 Juni 2015, 2-Pekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus (55-10) Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

Standar

57i. Edisi 3 Agustus 2015, 9-Pekan Pasca-1 Juni 2015, 2-Pekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus (55-10) Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

.

70 Tahun Pancasila
1 Juni 1945 – 1 Juni 2015

.
70 Tahun Republik Indonesia
17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2015

.

Jalan Ideologis Trisakti-Gotong Royong
Pemerintahan Jokowi-JK yang dilantik pada 20 Oktober 2014

.
pada hakikatnya:

.
Menegakkan satu dari Panca Azimat Revolusi (Nasakom, Pancasila, USDEK, Trisakti, Berdikari) yang sejatinya “lima Panca Azimat ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain”.

.
Yang sejatinya pula untuk mencapai sebuah Indonesia yang mengemban Ampera, Amanat Penderitaan Rakyat.

.
Yang sejatinya pula, Panca Azimat, Ampera, adalah Revolusi Indonesia yang “belum selesai”.

(Redaksi Dasar Kita)

.

♦ ♦ ♦

.
Saudara-saudara, pada hari ini kita meresmikan pembukaan Patal Senayan. Patal, pabrik pemintalan, Senayan.

Dan sebagai tadi telah dipidatokan oleh para menteri, Menteri Ashari, Menteri Wakil Perdana Menteri III Doktor Chaerul Saleh, semuanya itu berpusat kepada usaha kita untuk berdikari, berdiri di atas kaki sendiri.

Berdikari adalah singkatan daripada berdiri di atas kaki sendiri. Sesuai dengan apa yang berulang-ulang kukatakan, bahwa kemerdekaan barulah kemerdekaan yang sempurna jikalau bangsa yang merdeka itu atau kita yang merdeka itu bisa berdiri di atas kaki sendiri.

Malahan saya sering ucapkan hal ini dalam bahasa Inggris, The crown atau the crowning of independence is the ability to stand on our own feet. The corwn or the crowning of independence is the ability to stand on our own feet.

Bangsa yang tidak bisa stand on our own feet, yang tidak bisa berdiri di atas kaki sendiri, bangsa yang demikian itu sebenarnya tidak merdeka atau atau belum merdeka.

Karena itu saya yang merasa bertugas dan berkewajiban untuk membantu dan memimpin perjuangan rakyat Indonesia ini untuk menjadi suatu bangsa yang benar-benar [merdeka – Red DK].

Sejak dari dahulu, lebih dari 30 tahun yang lalu, hampir-hampir 40 tahun yang lalu, sudah saya tekankan akan hal ini. Berusahalah agar supaya kita berdiri di atas kaki sendiri, sebagai kita percaya kepada diri sendiri.

Supaya kita menjalankan politik yang dinamakan politik self reliance. Malahan saya tambah lagi dengan satu perkataan, self reliance no mendicancy. Mendicancy itu apa artinya? Ngemis. Pengemisan.

Self reliance ialah percaya kepada diri sendiri, berdirilah di atas kakimu sendiri, jangan dan tidak ngemis-ngemis.
Self reliance no mendicancy bukan saja di lapangan politik, tetapi juga di segala lapangan yang lain.

Nah ini, ide self reliance no mendicancy, belakangan Saudara-saudara, bertumbuh, bertumbuh, bertumbuh, bertumbuh, menjadi apa yang kita sekarang kenal dengan perkataan Trisakti; berdaulat penuh di lapangan politik, berdikari di lapangan ekonomi, berkepribadian di lapangan kebudayaan.

Hanya bangsa yang ber-Trisakti, hanya bangsa yang berdaulat penuh di lapangan politik, dan juga berdikari di lapangan politik, dan juga berdikari di lapangan ekonomi, dan juga berkepribadian sendiri di lapangan kebudayaan, bangsa yang demikian adalah bangsa yang benar-benar merdeka. [305-306 — Red DK, cetak tebal dari kami]

[…].

Nah, lantas kita berkata, kita melepas daripada imperialisme. Bagaimana kita bisa lepas daripada imperialisme kalau kita hanya melepaskan diri kita hanya dari lapangan politik saja daripada imperialisme. Dan kita tidak melepaskan diri kita daripada imperialisme di lapangan ekonomi. Bahkan juga tidak melepaskan diri kita daripada imperialisme di lapangan kebudayaan? Coba ingat Saudara-saudara, kebudayaan kita beberapa waktu yang lalu boleh dikatakan copy, copy, copy daripada imperialisme, daripada negeri Belanda. [311-312 — Red DK]

[…]

Sudara-saudara, maka saya ulangi lagi, jikalau kita benar-benar menjadi satu bangsa yang hendak mereka, benar-benar merdeka, jalankanlah Trisakti itu dengan segenap konsekuensi.

Tidak ada satu sesuatu yang besar yang bisa dicapai dengan gampang, tidak ada.

Bangsa yang takut akan usaha, bangsa yang takut mencucurkan keringat, bangsa yang takut akan kesulitan-kesulitan, bangsa yang demikian itu tidak mungkin akan bisa menjadi bangsa yang besar dan benar-benar merdeka.

Oleh karena itu kesulitan apapun yang ada di muka kita, mari kita tabrak segala kesulitan itu. Mari kita ganyang segala kesulitan itu.

Dan jikalau kita benar-benar, Saudara-saudara, bisa memecahkan segala kesulitan, menabrak mengganyang segala kesulitan itu sebagai dianjurkan oleh Saudara Chaerul Saleh dengan slogan tenslotte beslist de mens. Manusia Saudara-saudara, harus menabrak, manusia harus mengganyang, manusia harus memecahkan segala persoalan, barulah kita bisa menjadi satu bangsa sebagai yang diidam-idamkan oleh bangsa kita sendiri.

Bismillah, saya beri restu kepada patal ini.

Sekian.

.

(Amanat PJM Presiden Soekarno pada Peresmian Pembukaan Pabrik Pemintalan di Senayan,29 Desember 1965 di dalam “Revolusi Belum Selesai” Kumpulan Pidato Soekarno 30 September 1965-Pelengkap Nawaskara, Penyunting Budi Setiyono dan Bonnie Triyana, PT Serambi Ilmu Semesta, 2014: 305-306, 311-313)

ooOoo

.

Catatan Redaksi Dasar Kita

Menyambut 70 tahun Pancasila dan 70 tahun Republik Indonesia pada 2015 ini, secara periodik setiap Senin, terhitung sejak 1 Juni 2015 (kemudian 8 Juni, 15 Juni, 22 Juni, dan seterusnya) hingga berakhir Senin, 17 Agustus 2015, Pengeposan Khusus ini akan hadir. Dengan catatan bahwa “tradisi” pengeposan bulanan setiap tanggal 14, untuk 3 bulan ini digantikan Pengeposan Khusus pada 15 Juni, 13 Juli dan 17 Agustus.

Pengeposan Khusus hadir dengan “cuplikan-cuplikan” sambutan/pidato Soekarno yang kami kutip dari buku “Revolusi Belum Selesai” dimaksud seperti tersajikan di atas.

(Selengkapnya simak Pengeposan Khusus Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila).

.

ooOoo

.

Catatan untuk Pengeposan Khusus Edisi 3 Agustus 2015

“Sudara-saudara, maka saya ulangi lagi, jikalau kita benar-benar menjadi satu bangsa yang hendak merdeka, benar-benar merdeka, jalankanlah Trisakti itu dengan segenap konsekuensi.”

Apa ini omongan Jokowi? Ya jelas bukan, ini kutipan alinea jelang penutup dari amanat Soekarno di atas.

Tapi kok mirip? Ya jelas mirip. Wong visi pemerintahan Jokowi-JK kan jalan ideologis Trisakti-Gotong Royong.

Makanya bagi kami, Redaksi Dasar Kita, tak pelak, “Soekarno Abadi ke-21” sedang bangkit per 20 Oktober 2014 lalu itu. Persis ketika kita merayakan “kemerdekaan” yang ke-70 pada 2015 ini. Semoga “menjadi satu bangsa seperti yang diidam-idamkan bangsa kita sendiri”.

ooOoo

Simak rangkaian Pengeposan Khusus:

Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila

Edisi 8 Juni 2015

Edisi 15 Juni 2015

Edisi 22 Juni 2015/488 Tahun Jakarta

Edisi 29 Juni 2015

Edisi 6 Juli 2015

Edisi 13 Juli 2015

Edisi 20 Juli 2015

Edisi 27 Juli 2015

Edisi 10 Agustus 2015

Edisi 17 Agustus 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s