57j. Edisi 10 Agustus 2015, 10-Pekan Pasca-1 Juni 2015, Sepekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus (55-11) Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

Standar

57j. Edisi 10 Agustus 2015, 10-Pekan Pasca-1 Juni 2015, Sepekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus (55-11) Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

.

70 Tahun Pancasila
1 Juni 1945 – 1 Juni 2015

.
70 Tahun Republik Indonesia
17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2015

.

Jalan Ideologis Trisakti-Gotong Royong
Pemerintahan Jokowi-JK yang dilantik pada 20 Oktober 2014

.
pada hakikatnya:

.
Menegakkan satu dari Panca Azimat Revolusi (Nasakom, Pancasila, USDEK, Trisakti, Berdikari) yang sejatinya “lima Panca Azimat ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain”.

.
Yang sejatinya pula untuk mencapai sebuah Indonesia yang mengemban Ampera, Amanat Penderitaan Rakyat.

.
Yang sejatinya pula, Panca Azimat, Ampera, adalah Revolusi Indonesia yang “belum selesai”.

(Redaksi Dasar Kita)

.

♦ ♦ ♦

.

Oleh karena itulah belakangan ini selalu saya menangis, bahkan donder-donder, marah-marah, he bangsa Indonesia jangan gontok-gontokan!

Sampai saya men-citeer Gibbon dan Toynbee. A great civilization never goes down unless its detroys itself from within. Lincoln berkata, kataku juga berulang-ulang, a nation divided against itself cannot stand.

Kena apa kita kok destroy ourselves from within? Kena apa kok kita divided against ourselves?

Nah, sekarang ini malahan, Saudara-saudara, kita punya pemuda-pemudi kita maki-maki kepada bapak-bapaknya yang duduk di sini ini; menteri goblog!

Cobalah, cobalah, cobalah cobalah! Waar gaan wij naar toe bangsa kita ini, kalau anak-anak kecil sudah begitu, bagaimana ini? Saudara-saudara?

Pendek kata, Saudara-saudara, saya melihat keadaan ini lama-lama saya ini lantas mupus [putusan pewaris? – Red DK]. Saya selidik diri sendiri. Saya mengadakan introspeksi kepada diri sendiri. Saya sekarang ini, Saudara-saudara, sesudah saya introspeksi ini, apakah seluruhnya salah saya?

Kok saya sebagai pemimpin dari Koti, kok saya sebagai Panglima Besar Koti, kok saya sebagai Pemimpin Besar Revolusi, kok kejadian ini. Harga naik, harga tidak bisa diturunkan, dan lain sebagainya.

Saya mengadakan introspeksi, saya selidiki, selidiki, selidiki. Ada saya menemukan satu hal, dan saya tidak menuduh engkau lo, saya tidak menuduh mahasiswa, dengarkan ini: nekolim ikut-ikut, nekolim ikut-ikut. Nekolim ikut-ikut untuk menjatuhkan Soekarno.

Tenslotte gaat het teggen Soekarno! Ini penyelidikan saya yang sedalam-dalamnya. Bukan tegen Bandrio, meskipun engkau dinamakan Durna, yang hidupnya seperti betet. Bukan engkau Chaerul Saleh, meskipun engkau dikatakan penjual daripada bangsa! Bukan Achmadi, bukan ini, bukan itu, tidak! Pada pokoknya, semua meruncing pada Soekarno.

[…]

Sekarang sudah saya melihat kejadian-kejadian ini, wah. Ini ndodro [ndadra: lebih buruk lagi – Red DK] kalau begitu. Karena itu saya sekarang mengeluarkan ucapan lain. Saya mengucapkan apa?

Hier, ini Soekarno, Pemimpin Besar Revolusi, Presiden Republik Indonesia, Saya Pemimpin Besar Revolusi ini, saya di sini, ayo, siapa yang mau ikut saya, ikutlah kepada saya! Saya tidak akan bergeser satu milimeter pun.

Ya, saya yang bertanggung jawab terhadap kepada bangsa, terhadap kepada Tuhan Yang Maha Esa Swt., Nabi Muhammad saya bawa-bawa.

Ini saya Soekarno, Pemimpin Besar Revolusi. Sebagaimana Luther, Martin Luther di gereja Wurtemberg berkata, hier ben ik, ik kan niet anders! Saya pun berkata, ini aku Soekarno berdiri di sini, Pemimpin Besar Revolusi, ik kan niet anders, saya tidak bisa lain daripada ini. Ayo, siapa yang senang kepada Soekarno sebagai Pemimpin Besar Revolusi, ayo kumpulkan tenagamu, barisanmu susun, pertahankan Soekarno!

Sebab, ini saya melihat Soekarno sekarang ini mau didongkel-dongkel oleh orang lain. Cuma kepada pengikut-pengikut saya, saya berkata, jangan betindak liar. Tunggulah komando saya.

[…]

Saya tidak mau didongkel dengan cara seperti ini. Dengan cara gelap-gelapan. Dengan pamflet-pamflet gelap, dengan cara gelap-gelapan yang lain.

Demikian pula kepada KAMI, saya berkata saya tidak senang perbuatan-perbuatanmu.

Maka oleh karena itu saya bermaksud untuk mengadakan satu persatuan daripada seluruh mahasiswa. Dan aku sendiri akan membuat, yang terdiri ya KAMI, ya dari PMII, semua golongan mahasiswa bersatu menjadi satu National Union of Indonesian Students.

Apa yang dikatakan oleh Pak Menteri PTP dulu itu apa? Dewan Nasional atau bagaimana? Saya akan membentuk. Sebab, saya terang saya tidak senang dengan keadaan yang demikian ini sekarang.

Dan terus terang, sebagai saya tadi katakan, saya sudah datang pada satu garis ketetapan hati. Saya tidak mau dibeginikan. Saya tidak mau didongkel gelap-gelapan.

Ayo , orang-orang yang senang kepada Soekarno, senang kepada Soekarno senang sama Pemimpin Besar Revolusi Soekarno, berdiri di belakang Soekarno, susun kau punya barisan. Persatukan dirimu! Tetapi jangan betindak liar. Jangan berbuat, kecuali jikalau ada komando dari saya.

Inilah, he Saudara-saudara Menteri, saya punya ucapan tegas terhadap kepada seluruh bangsa Indonesia via engkau sekalian.

Maka sekarang saya perintahkan kepada engkau sekalian berkumpul, orang-orang yang kecuali yang dulu dikonsinyir di Cipanas, ditambah mungkin dengan beberapa orang, antara lain ditambah Sri Sultan Hamengkubowono, Wapangsar urusan Ekonomi Koti. Ditambah dengan Kas Koti, Jenderal Soeharto, ditambah dengan apa yang dianggap perlu, berkumpullah sekali lagi untuk memikirkan sekali lagi, memikirkan sekali lagi, memikirkan sekali lagi hal financieel economische maatregelen 〈3〉 yang telah kita ambil itu.

———
〈3〉 Tindakan di bidang keuangan dan ekonomi.

.

Sekian.[]

.

(Amanat PJM Presiden Soekarno di Sidang Paripurna Kabinet Dwikora dengan Dihadiri Juga oleh Wakil-Wakil dari Mahasiswa dan Wartawan-Wartawan, Bogor, 15 Januari 1966, di dalam “Revolusi Belum Selesai” Kumpulan Pidato Soekarno 30 September 1965-Pelengkap Nawaskara, Penyunting Budi Setiyono dan Bonnie Triyana, PT Serambi Ilmu Semesta, 2014: 336-339)

ooOoo

.

Catatan Redaksi Dasar Kita

Menyambut 70 tahun Pancasila dan 70 tahun Republik Indonesia pada 2015 ini, secara periodik setiap Senin, terhitung sejak 1 Juni 2015 (kemudian 8 Juni, 15 Juni, 22 Juni, dan seterusnya) hingga berakhir Senin, 17 Agustus 2015, Pengeposan Khusus ini akan hadir. Dengan catatan bahwa “tradisi” pengeposan bulanan setiap tanggal 14, untuk 3 bulan ini digantikan Pengeposan Khusus pada 15 Juni, 13 Juli dan 17 Agustus.

Pengeposan Khusus hadir dengan “cuplikan-cuplikan” sambutan/pidato Soekarno yang kami kutip dari buku “Revolusi Belum Selesai” dimaksud seperti tersajikan di atas.

(Selengkapnya simak Pengeposan Khusus Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila).

ooOoo

.

Catatan untuk Pengeposan Khusus Edisi 10 Agustus 2015

“Saya mengadakan introspeksi, saya selidiki, selidiki, selidiki. Ada saya menemukan satu hal, dan saya tidak menuduh engkau lo, saya tidak menuduh mahasiswa, dengarkan ini: nekolim ikut-ikut, nekolim ikut-ikut. Nekolim ikut-ikut untuk menjatuhkan Soekarno.”

Ya, Nekolim alias Neo-Kolonialisme atau imperialisme. Hal yang 1/2-abad ini terus “dilupakan” atau setidaknya terus ditempatkan bukan sebagai “musuh revolusi”. Lantaran revolusi yang diusung Bung Karno berikut pikiran-pikirannya yang mengalasi revolusi itu malahan ironinya Bung Karno itu sendiri, “diharamkan”. Mengatasnamakan “pembangunan” berlanjut “reformasi”.

Keadaan yang dengan baik sekali digambarkan oleh Asvi W Adam:

Tahun 1965 menjadi watershed, pembatas zaman.

Terjadi perubahan drastis secara serempak dalam segala bidang. Politik luar negeri Indonesia menjadi lembek dan pro-Barat.

Ekonomi berdikari (berdiri di atas kaki sendiri—Red) berubah jadi ekonomi pasar yang bergantung pada modal asing dan utang.

Polemik dalam bidang politik dan kebudayaan berganti dengan asas tunggal yang tidak membiarkan kritik.

Sekaligus hari-hari ini, perubahan per ’65 (Asvi) tersebut tengah diupayakan “direset” kembali  oleh pemerintahan Jokowi-JK lewat visi mereka jalan ideologis yang bertumpu pada salah satu dari Panca Azimat Bung Karno, yakni Trisakti. Semoga.

ooOoo

Simak rangkaian Pengeposan Khusus:

Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila

Edisi 8 Juni 2015

Edisi 15 Juni 2015

Edisi 22 Juni 2015/488 Tahun Jakarta

Edisi 29 Juni 2015

Edisi 6 Juli 20515

Edisi 13 Juli 2015

Edisi 20 Juli 2015

Edisi 27 Juli 2015

Edisi 3 Agustus 2015

Edisi 17 Agustus 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s