89. Pengeposan Khusus (87) Memeringati 72 Tahun Pancasila: Sambutan Presiden RI Dalam Rangka Hari Lahir Pancasila 1 Juni 1945 – 1 Juni 2017 (setneg.go.id via salatiga.go.id)

Standar

89. Pengeposan Khusus (87) Memeringati 72 Tahun Pancasila:

.

Sambutan Presiden RI Dalam Rangka Hari Lahir Pancasila 1 Juni 1945 -1 Juni 2017

.

Sumber: Setneg.go.id via salatiga.go.id 

.

Jkw-1-6-17

[Grafis/screenshot oleh Red DK]

Selengkapnya simak/klik dalam format PDF

.

Terkait:

Hlm 89a. Peraturan Presiden No 54 Tahun 2017 Tentang Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila [UKP-PIP] (peraturan.go.id)

Hlm 89b. Presiden Jokowi Teken Perpres Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (setkab.go.id)

.

ooOoo

.

Catatan Redaksi Dasar Kita

.

Konsistensi Jokowi Sejak Pilpres: Tegakkan Jalan Ideologis

.

“Reformasi 1998 menjanjikan lahirnya Indonesia baru yang lebih demokratis, sejahtera, berkeadilan, dan bermartabat.

Namun, 16 tahun kemudian, jalan menuju pemenuhan janji-janji reformasi itu tampak semakin terjal dan penuh dengan ketidakpastian. Selama 16 tahun itu pula Indonesia terbelenggu dalam transisi yang berkepanjangan.

Ketidakpastian dan transisi berkepanjangan itu harus segera dihentikan untuk memberi jalan bagi kelahiran Indonesia Hebat.

Perubahan menjadi sebuah keniscayaan.

Jalan perubahan adalah jalan ideologis. [Cetak tebal dari kami — Red DK]

Secara historis, jalan ideologis itu bersumber pada Proklamasi, Pancasila 1 Juni 1945, dan Pembukaan UUD 1945.

Proklamasi dan Pancasila 1 Juni 1945 menegaskan jati diri dan identitas kita sebagai sebuah bangsa yang merdeka dan berdaulat.

Pembukaan UUD 1945 dengan jelas mengamanatkan arah tujuan nasional dari pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.” [Cetak tebal dari sumber]

Demikianlah “Pendahuluan: Berjalan di Bawah Amanat Konstitusi” dari “Visi Misi dan Program Aksi Jokowi Jusuf Kalla 2014”.

Dan setelah mengemukakan dan merinci “Tiga Problem Bangsa”: merosotnya kewibawan negara; melemahnya sendi-sendi kehidupan nasional; merebaknya intoleransi dan krisis kepribadian bangsa. Dilanjutkan “Meneguhkan kembali Jalan Ideologis” yang diawali:

“Kami berkeyakinan bangsa ini mampu bertahan dalam deraan gelombang sejarah apabila dipandu oleh suatu ideologi. [Cetak tebal dari kami].

Ideologi sebagai penuntun; ideologi sebagai penggerak; ideologi sebagai pemersatu perjuangan; dan ideologi sebagai bintang pengarah.

Ideologi itu adalah PANCASILA 1 JUNI 1945 dan TRISAKTI.”

Pancasila 1 Juni 1945 (afirmasi Pancasila-Soekarno) dan Trisakti (satu dari Panca-Azimat: konsep “sosialisme ala Indonesia” versi Soekarno) tak lain merupakan visi dari Jokowi-JK: TERWUJUDNYA INDONESIA YANG BERDAULAT, MANDIRI DAN BERKEPRIBADIAN BERLANDASKAN GOTONG ROYONG.

Dan setelah 2,5 tahun Jokowi-JK memerintah, ketika gelombang deraan sejarah justru makin “memuncak” — yang dalam tengarai kami ulah Deep State bersama para begundalnya yang sudah pasti anti-18845 –, Jokowi konsisten pada tegaknya jalan ideologis yang dipegangnya saat mencalonkan diri sebagai Presiden RI. Dengan membentuk Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-UPP) lewat Perpres No 5/2017, di usia 72 tahun Pancasila.

“Tidak ada pilihan lain kecuali kita harus bahu membahu menggapai cita-cita bangsa sesuai dengan Pancasila.

Tidak ada pilihan lain kecuali seluruh anak bangsa harus menyatukan hati, pikiran dan tenaga untuk persatuan dan persaudaraan.

Tidak ada pilihan lain kecuali kita harus kembali ke jati diri sebagai bangsa yang santun, berjiwa gotong royong dan toleran.

Tidak ada pilihan lain kecuali kita harus menjadikan lndonesia bangsa yang adil, makmur dan bermartabat di mata internasional”. [Cetak tebal oleh kami].

Tak pelak, setidak untuk kami, Jokowi sang “Soekarno Abad XXI” telah “on-track” dalam konteks negeri-negeri Dunia Ketiga mengatasi Deep State: entitas penjajahan/imperialisme milenium ketiga yang di era Trump makin tampak wujudnya dalam sepak terjangnya yang absurd.

Dengan Jokowi yang justru makin erat memeluk jalan ideologis. Sambil menempuh jalan kapitalis yang sedang nge-tren di era OBOR: win-win deals. Menggenjot infrastruktur dengan APBN yang prudent — menjamin beyond pemerataan: Masyarakat yang adil dan makmur.

Seperti halnya terbukti pada Tiongkok sang raksasa ekonomi dunia (sebentar lagi menyalib AS), yang sejak proklamasi 1949 bukan saja tetap berpegang pada jalan ideologis “Sosialisme Berkarakteristik Tiongkok” malahan makin diperkuat oleh para pemimpin RRT pasca-Mao Zedong-Deng Xiaoping hingga Xi Jinping yang kini mengusung One Belt, One Road  (OBOR).

Sekaligus bagi kami, sebuah “persiapan” menghadapi Pilpres 2019. Bukan pertama-tama untuk melanggengkan kekuasaan apalagi berambisi personal, tetapi yang disikapi betul oleh “Soekarno Abad XXI” dalam sambutan ini yang kami kutip diatas sebagai sederetan  “tidak ada pilihan lain kecuali …” 

.

Jokowi untuk 2019!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s