90. Pengeposan Khusus (88) Memeringati Hari Lahir Soekarno ke-116, 6 Juni 2017: “Soekarno Komunis?” — Sebuah Tawaran Diskusi di Era Jokowi -Term I

Standar

“Soekarno Komunis?”

.

Sebuah Tawaran Diskusi di Era Jokowi-Term I

.

Oleh Redaksi Dasar Kita

.

Pengantar Diskusi

Diskusi dalam rangka Memeringati Hari Lahir Soekarno ke-116 dengan topik “Soekarno Komunis?” ini, sesungguhnya berangkat dari bidasan, respons kami atas tuduhan terkait “PKI (Partai Komunis Indonesia)”. Khususnya tuduhan yang dialamatkan kepada Presiden Joko Widodo termasuk pembantu terdekatnya Teten Masduki, Kepala Staf Kepresidenan Indonesia.

Jokowi dituduh anak dari orang tua/keluarga anggota PKI dan Teten sebagai kader PKI.

Baik Jokowi maupun Teten sudah membantah, bahkan Teten telah melaporkan ke pihak berwajib. Hingga tulisan ini disiapkan tampaknya masih diproses-lanjut ke tingkat pengadilan.

Dari sumber-sumber yang kami miliki, kami berkeyakinan — seperti telah dijawab Jokowi dan Teten — tuduhan-tuduhan tersebut tak berdasar sama sekali.

Malahan tengarai kami (setidaknya sejak Kudeta Merangkak atas Soekarno) sudah menjadi “barang dagangan politik” oleh entitas yang kami sebut Deep State (DS)*. Khususnya para begundalnya yang tampil dipanggung politik Indonesia piawai “mensterilkan” DS dalam berbagai telaah politik kita pascakudeta itu.

Tuduhan PKI menjadi isu seksi yang sewaktu-waktu “dimainkan” para begundal itu dan terbukti efektif untuk “fragmentaris” bagian dari politik devide et impera DS. Setidaknya DS berhasil memertahankan NKRI yang menjadi “darling” DS selama tiga-plus-satu dasawarsa di bawah dua penguasa berlatar-belakang militer. (Simak/klik hlm 35a)

———

*DS, sebuah istilah bukan baru, yang dimunculkan kembali oleh Putin pasca-Trump menyerang Suriah dengan dalih kibul ala WMD-Irak “kepemilikan senjata kimia” (lihat bawah). DS, bagi kami, lebih pas sebagai represen “imperialisme tahap akhir/tertinggi kapitalisme” ketimbang pemerintah Amerika Serikat.

Pemerintah  AS lebih sebagai “komite”/”panitia” bagi kepentingan-kepentingan borjuis, kepentingan-kepentingan imperialisme, kepentingan-kepentingan DS, ketimbang sebagai sebuah pemerintahan “mandiri” yang berpihak pada rakyat Amerika. (Bandingkan era Jokowi-BTP di DKI, simak/klik hlm 33b).

“Orang-orang berpakaian gelap dengan kepentingan-kepentingan finansial-militer” begitu julukan Putin atas DS dalam dua kesempatan berbeda yang kami coba gabungkan (simak/klik hlm 88a.2 dan hlm 88a.1) .

Hal yang salah satunya ditunjukkan secara signifikan oleh naik-turunnya para Presiden AS. Tetapi tetap memiliki gaya imperialistis serupa: monopolistis, tak segan-segan menggunakan kekerasan senjata. Semisal perang Vietnam, yang menguras tenaga, dana dan korban jiwa anak-anak muda para serdadu AS, tak membuat DS jera.

Pemerintah AS yang dihadirkan DS hemat kami dijargonkan dengan “nyaris”-pas oleh penulis Amerika Gore Vidal: we are United State of Amnesia, we learn nothing because we remember nothing. [Kita adalah Amnesia Serikat, kita tidak belajar apa-apa karena kita tidak ingat apa-apa].

“Nyaris”, lantaran sesungguhnya ada yang diingat DS yaitu “perang”.

That’s why Americans are fighting for dollars, begitu kesimpulan Qiao Liang, seorang jenderal RRT yang menulis “One Belt, One Road” [OBOR]. Amerika yang disebut Qiao sebagai Kekaisaran Finansial (Financial Empire), negeri bodong (hollow country). Yang sejak 1971 (decoupling dolar-emas) tidak lagi andalkan ekonomi riil, membuat kami berani menyebut doktrin DS dalam “berbisnis dan mengatur” kebijakan ekonomi dan politik pemerintah AS: “war, riot & regional crisis”.

Sekaligus dengan doktrin DS ini, lebih menjelaskan keabsurditas sebuah negara kapitalis-maju (capitalist advance country)** mantan-adikuasa (?) yang sangat hipokrit, tetapi juga (meminjam Qiao) sedang menggali liang lahatnya sendiri.

PDB (Pendapatan Domestik Bruto) yang trennya terus menurun bukan sebatas year-to-year tapi dalam “perlambatan jangka panjang” seperti ditunjukkan John Ross (simak/klik hlm 83a) adalah prediksi-statistik yang mendukung tesis “liang lahat” versi kaum filsuf doktrin Marxian. Doktrin yang digandrungi Soekarno sejak muda itu.

———

**Negeri-negeri kapitalis maju (seperti AS) sesuai peta jalan yang dibayangkan oleh Marx sejatinya telah “matang” untuk menuju sosialisme. Lamun cendekiawan Tiongkok Duan Zhongqiao membantahnya:

“… negeri-negeri tersebut bagi sebagian besar memiliki prasyarat untuk mewujudkan perekonomian perencanaan dibayangkan oleh Marx, dan oleh karena itu, bagi mereka, masalah bagaimana untuk mewujudkan sosialisme adalah bukan bagaimana untuk melanjutkan dan mengembangkan ekonomi pasar, tapi bagaimana untuk menghapuskan ekonomi pasar dan membangun perekonomian perencanaan, selangkah demi selangkah. (Simak/klik hlm 40b).

Entitas DS atau imperialisme — musuh bebuyutan Bung Karno sejak muda — ini yang kami tawarkan hadir dalam diskusi “Soekarno Komunis?”. Ketika kami ajukan referensi karya Soekarno-muda “Nasionalisme, Islamisme, Marxisme” (1926; simak/klik “Bacaan Diskusi” di bawah) sebagai salah satu di antara tiga (saja) referensi diskusi ini.

Dua acuan lainnya: “Memperingati 50 Tahun Wafatnya Karl Marx” (1933, simak/klik “Bacaan Diskusi”) karya Soekarno-muda lainnya dan “Revolusi Belum Selesai” (2014, simak/klik “Bacaan Diskusi”): buku kumpulan pidato Soekarno periode Kudeta Merangkak (1965-1967) dengan sebandung penyuntingnya Budi Setiyono dan Bonnie Triyana.

Kami “Tahu Diri”: Gayung Bisa Jadi Tak (Pernah) Bersambut

Lamun, perlu pula kami tambahkan bahwa sejujurnya kami “tahu diri”. Kami sadar, kami bukan apa-apa bukan siapa-siapa. Gayung diskusi ini bisa jadi tak (pernah) bersambut. Meski, kami tetap optimis ada kawan pembaca budiman yang membidas tawaran diskusi ini.

Karena sesungguhnya tawaran ini hanyalah salah satu saja di antara berbagai upaya banyak pihak, untuk mencoba membentuk kembali potongan-potongan puzzle di tacit knowledge (pengetahuan noneksplisit yang ada di benak) kita masing-masing yang telah berantakan di-brain-washing DS.

Dalam artian, nalar kita menjadi “terbiasa” ahistoris, mensterilkan DS dalam setiap percakapan politik untuk sebuah Indonesia — notabene mantan koloni-imperialis — yang lebih baik dan maju ke depannya.

Pendekatan “strukturalis” yang melihat pertama-tama syarat-syarat material formasi sosial dalam masyarakat ketimbang langsung berserah diri pada pendidikan (individual) sebagai “obat mujarab” masa depan Indonesia lebih baik, seperti ditawarkan Arief Budiman tiga dasawarsa lalu, kini malah seolah “ahistoris”. (Simak/klik hlm 43a & hlm 45a).

Bahkan kita adem-ayem tanpa rasa bersalah melenggang atas “sukses besar” sang DS merubah konstitusi awal kita berdalih “amendemen UUD 1945” menjadi konstitusi gadungan sarat neolib: UUD 2002 (Simak/klik hlm 39a). False flag “reformasi” pun dikibarkan, “pahlawan”-nya pun dihadirkan. Luar biasa memang DS!

Beruntung ada seorang Jokowi yang mensiasatinya secara cerdas dan cantik — ala  pesilat setingkat-Guru yang memanfaatkan tenaga lawan. Upaya hadirkan negara (nihilkan neolib) dalam 9-Agenda Prioritas visi misi Jokowi-JK atau Nawacita. (Simak/klik hlm 51a). Membatalkan 3.143 Perda bermasalah (simak/klik hlm 74b) serta mengusulkan “Sistem Terbuka Terbatas” (pilih parpol sesuai UUD 45) menggantikan “Sistem Proporsional Terbuka” (pemilu langsung/UUD 2002). (Simak/klik hlm 83c).

Wacana dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan kritis seperti “PKI hancur atau dihancurkan?”; “Nasakom, siapa takut?”; “Sosialisme ala Indonesia versi Soekarno kenapa tidak? hemat kami sudah saatnya tidak lagi menjadi “pornografi politik” hasil rinsonisasi DS itu. Lantaran, setidaknya untuk kami, Soekarno adalah “Bapak Sosialisme ala Indonesia” dan Joko Widodo adalah “Soekarno Abad XXI”.

Hal terakhir ini yang tengarai kami membuat DS belingsatan, terus membuat gaduh. Gubernur DKI  — seorang administrator ulung kelas dunia dalam memaknai agenda prioritas-jalan ideologis-Soekarno Nawa Cita di lingkup Indonesia-kecil DKI Jakarta — bukan saja digagalkan lewat Pilkada malahan dipenjara! Pasalnya itu, DS kali ini (ternyata) lemot antisipasi hadirnya “Soekarno Abad XXI”.

Dua setengah tahun ke depan, bagi kami, sesungguhnya tarung sengit (benih) Sosialisme vs Kapitalisme (tahap akhir) — di Jakarta!

Ketika Jokowi dengan gaya blusukan (akar rumput maupun elite) merangsek dengan menggenjot pembangunan infrastruktur ber-APBN ekspansif & pruden/kehati-hatian. Untuk menjamin “kapitalisme negara” paralel reformasi pasar Deng Xiaoping (baca: paralel Ekonomi Terpimpin ala Soekarno***) yang di era Xi Jinping sedang “mendunia” dalam Inisiatif Sabuk dan Jalan (OBOR) berbasis hal yang “alamiah” dalam berbisnis: win-win deals. Melawan dan (bakal) menyudahi doktrin dari entitas kapitalisme tahap akhir  sejatinya anti-HAM/dunia-multipolar yang damai: war, riot & regional crisis.

———

***Diistilahkan oleh Amiruddin Al-Rahab dalam tajuk bukunya “Ekonomi Berdikari Sukarno” (2014). Referensi menarik setidaknya bagi kami, dari kaum muda non-ML Indonesia Abad XXI khususnya di era kemandirian jalan ideologis Trisakti-Nawa Cita pemerintahan Jokowi-JK.

Relevansi yang diakui sendiri Amiruddin, atas gagasan dasar dari skripsi S1 di Departemen Ilmu Sejarah FSUI ditulis pada 1994-1996. Sebuah tawaran pendekatan historis — “agar kita tidak berjalan dari titik nol, tapi bisa mulai berjalan dengan nukilan pemikiran Sukarno” (: xxx) — yang justru asimetris dengan penulis Pengantar bukunya: Budiman Sudjatmiko. Khususnya pembelaan ahistoris Budiman dalam menggagas UU No 6/2014 Tentang Desa, ketidaktulusannya terhadap jalan ideologis Jokowi-JK (simak/klik hlm 67a).

Ini esensi dari tawaran kami bersawala, berdiskusi dengan topik “Soekarno Komunis?”.

Jadi, silakan saja mulai bersawala dengan berkomentar di kolom yang  disediakan wordpress.com di bagian bawah halaman ini.

.

Bacaan Diskusi

  1. Hlm 23c. Ir Soekarno: Nasionalisme, Islamisme, Marxisme (Suluh Indonesia Muda, 1926)
  2. Hlm 6a. Ir Soekarno: Memperingati 50 Tahun Wafatnya Karl Marx (Fikiran Ra’jat, 1933)
  3. Buku “Revolusi Belum Selesai”, Kumpulan Pidato Presiden Soekarno 30 September 1965 – Pelengkap Nawaksara (2014, Penyunting Budi Setiyono & Bonnie Triyana) — cuplikan dari salah satu pidato, simak/klik hlm 57.

ooOoo

.

Terkait:

Hlm 90a. Screenshot Kicauan Blog Dasar Kita Membidas Pariwara di Kompas.com (12/6/2017) Program AIMAN KompasTV Isu HTI (20.00 WIB)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s