104. Peng Red (102) — 14 Des ’17

Standar

104. Pengantar Redaksi (102) – 14 Desember 2017

.

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-102 bertarikh 14 Desember 2017.

Silakan saja simak/klik selengkapnya warita di bawah ini.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

Semoga media pewarta warga ini bermanfaat.

.

ooOoo

.

100 Tahun Revolusi Oktober,

100 Tahun Ekonomi Terencana

 .

Oleh Bahalan, 27 November 2017

(Pengeposan Dasar Kita 14 Desember 2017)

.

100 tahun yang lalu, pada 7 November 1917, kaum bolshevik yang dipimpin oleh Vladimir Illich Lenin merebut istana musim dingin St. Petersburg. Peristiwa ini yang disebut Revolusi Oktober menurut penanggalan Rusia menandakan suatu era baru di Rusia … maaf, di dunia. Selanjutnya partai komunis di bawah kepemimpinan Lenin mengkonsolidasikan kekuatan, membentuk soviet-soviet pertama-tama di Rusia kemudian di negeri-negeri sekitarnya dan menancapkan pengaruhnya setelah perang dunia kedua hingga ke Eropa Timur.

Sulit menegasikan pernyataan bahwa Revolusi Oktober dimungkinkan salah satunya karena peran krusial dari Lenin. Revolusi oktober meski memiliki unsur kontigensi (peluang) merupakan hasil dari pekerjaan yang telah direncanakan dengan acuan teori yang militan kepada teori Marx. Lenin bukan saja seorang organisator melainkan juga teoritikus militan Marxis. Kita dapat merunut kiprah Lenin dari karya-karyanya sebelum 1917 yang untungnya terdokumentasi dengan baik. Sebelum revolusi Lenin sibuk membangun organisasi politik proletariat yang berdisiplin besi dan sentralistik, mempelajari kondisi obyektif kapitalisme pada masanya yang telah mengambil bentuk sebagai imperialisme, serta mempertajam pisau analisis teori Marxisme.

Atas modal itulah Lenin memimpin perebutan kekuasaan pada 1917 dan kemudian mengkonsolidasikan kekuatan soviet serta mengkonstruksi sosialisme. Dengan demikian ada suatu kontinuitas kerja di mana hasil ini menjadi landasan kokoh bagi partai komunis generasi berikutnya dalam mewujudkan adanya syarat-syarat bagi masyarakat komunis. Kontinuitas terhadap pemikiran Lenin ini terbukti secara mengejutkan akan kemunculannya pada reformasi sosialisme di Uni Soviet pada 1991.

Pada akhir 80-an, Gorbachev menggunakan pemikiran Lenin mengenai kebijakan ekonomi baru (new economic policy / NEP) dalam melancarkan glasnot (keterbukaan) dan perestroika (restrukturisasi)1. Yang dimaksud di sini dengan keterbukaan adalah demokratisasi dalam politik dan restrukturisasi adalah masuknya kapitalisme dalam sistem perekonomian. Singkat kata keterbukaan dan restrukturisasi tampak sebagai sebagai fenomena di mana negara-negara eks Uni Soviet membuka diri akan masuknya institusi-institusi borjuis. Rusia yang kita lihat saat ini adalah Rusia baru, Rusia yang telah mengalami tiga kali “revolusi” yakni Revolusi 1917, “Revolusi Industri” di bawah kepemimpinan Stalin dan “Revolusi” 1991.

Tetapi apabila “Revolusi” 1991 adalah kembali ke pemikiran Lenin, sebagaimana kata Gorbachev, maka Rusia saat ini sebenarnya hanya melanjutkan NEP-nya Lenin, setidak-tidaknya dalam tingkat pemikiran, yang sempat tertunda oleh komunisme perang (war communism)2. Dalam komunisme perang perekonomian sepenuhnya diambil-alih oleh negara sosialis tanpa memanfaatkan mekanisme pasar. Keterbukaan yang sama terjadi di Tiongkok sejak Deng di mana elemen kapitalisme masuk sampai batas tertentu.

.

Selengkapnya simak/klik hlm 104a.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s