116. Pengeposan Khusus (114) Memeringati Hari Lahir Karl Marx ke-200, 5 Mei 2018: “Sebuah Penghargaan untuk Trier” oleh Wu Weishan [Pematung Tiongkok Pembuat Patung Perunggu Karl Marx untuk Trier] (China Daily/China.org.cn)

Standar

Patung Karl Marx di kampung halamannya menanamkan jiwa filsuf dengan seni, tulis pematung Wu Weishan

.

DK-116-Statue in Tier
Seniman Tiongkok Wu Weishan mengerjakan patung filsuf Jerman Karl Marx di studionya. Patung itu akan diresmikan di Trier, Jerman, pada Sabtu [5/5/2018], kelahiran ke-200 Marx. [Foto diberikan ke China Daily; dari sumber: China Daily–RDK]

.

Sebuah Penghargaan untuk Trier

.

Oleh Wu Weishan, Direktur National Art Museum of China

.

Sumber: China Daily/China.org.cn, 4 Mei 2018

.

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita

.

Dalam sejarah peradaban manusia, masyarakat telah mendirikan patung-patung untuk menunjukkan pengakuan mereka terhadap nilai-nilai manusia [human values] dan untuk memeringati orang-orang yang memiliki signifikansi khusus [special significane].

Dengan demikian, sejarah Barat dapat dibaca melalui patung-patung yang tidak hanya tentang apresiasi estetika tetapi juga memiliki nilai dari budaya dan era-penting [cultural and epochal value].

Pada peringatan ke-200 kelahiran Karl Marx, patung perunggu Marx, dengan ketinggian 5,5 meter, akan menempati sebuah lapangan umum di Trier, Jerman, kampung halaman [kelahiran] Marx pada Sabtu [5/5/2018].

Patung itu juga mencerminkan tradisi historis dan budaya yang mendalam dari kota tersebut [the city’s profound historical and cultural traditions].

Sebagai pematung dari patung perunggu tersebut, saya bangga bahwa kemunculannya di Trier menarik perhatian dunia.

Berhubung sejarah telah memercayakan saya misi untuk menanamkan jiwa filsuf dengan seni, hal yang bukan hanya tentang penyampaikan gaya dan emosi pribadi, tetapi juga persahabatan antara warga Tiongkok dan Jerman.

Mengenang dua tahun proses penciptaan patung membangkitkan gelombang emosi dalam diri saya.

Kisah dimulai dengan perjalanan saya ke Trier pada Januari 2016, dengan rasa hormat dan impian selama beberapa dasawarsa.

Sebagai salah satu kota tertua di Jerman, Trier sudah memeroleh kemasyhuran sejak 2.000 tahun yang lalu pada masa Romawi. Sungai Moselle yang mengalir pelan meliuk-liuk, mencerminkan keanggunan kota dan kesederhanaan primitif. Bukit-bukit batu-pasir merah dan hutan ungu hangat di bawah sinar mentari musim dingin bergema dengan arsitektur Romawi, yang nada puitisnya mengingatkan saya pada lukisan-lukisan minyak Renaissance awal.

Menyaksikan sekian banyak pejalan kaki datang dan pergi selama ribuan tahun, jalan-jalan batunya kilap berkilauan. Melodi kudus dari organ gereja dan irama kehidupan yang lamban menuturkan sejarah panjang kota ini. Semuanya ini dipenuhi dengan kedalaman historis dan kultural dari tempat kelahiran orang besar itu.

Wolfram Leibe, Tuan Walikota, Andreas Ludwig, Direktur Departemen Perencanaan Kota, dan seluruh warga, saya lihat bersemangat tinggi.

Di Karl Max House, bekas kediaman Marx, saya merasakan mengapa seorang anggota keluarga pengacara dilahirkan dengan gen akal dan logika [gens of reason and logic]. Marx telah menghabiskan masa kecilnya dan sebagian dari kehidupan remaja di Trier sebelum ia melanjutkan ke Universitas Bonn pada usia 17, dan kemudian belajar hukum di Universitas Berlin, di mana ia terpesona oleh filsafat dan sejarah.

Selangkah demi selangkah, ia berjalan menuju garis depan kebudayaan Eropa dan kemudian membuat jalannya sendiri menuju dunia.

Itulah saat saya muncul dengan konsep patung Marx. Ditemani oleh Walikota, kami pergi ke lokasi patung yang sudah dirancang.

Mengetahui bahwa kota [Trier]  mengundang seorang seniman Tiongkok untuk patung itu, beberapa rekan Jerman saya datang dari Berlin. Dan sejumlah wartawan, para perwakilan warga serta role-players of Marx juga ada di sana.

Di Jerman, untuk membangun patung di ruang publik, diperlukan partisipasi sosial, diskusi publik berulang kali di media dan pemungutan suara melalui parlemen.

Menghadapi media dan publik, saya berbicara tentang komitmen Marx terhadap dedikasi kebahagiaan untuk semua orang, ketekunannya dalam mencari kebenaran, ketenangannya ketika mengatasi kesulitan dalam hidupnya, serta optimisme dan keyakinannya untuk memperkaya hidupnya. Marx telah dipilih sebagai “pemikir terbesar milenium” oleh pembaca BBC News Online dan posisi teratas beberapa daftar filsuf terbesar dalam sejarah, yang membuat Jerman bangga.

Selama satu abad, masyarakat Tiongkok telah mencapai kemajuan besar dengan menggabungkan Marxisme dengan realitas sosial Tiongkok.

Dalam arti itu, patung Marx oleh seorang pematung Tiongkok akan menjadi ikatan persahabatan antara Tiongkok dan Jerman.

Sebagai seorang seniman Tiongkok, saya tumbuh dengan potret Marx di rumah. Gaya rambut dan kumisnya yang ikonik, sama seperti ekspresinya yang dalam [thoughtful] itu, berlabuh di hati dan jiwaku.

Citra seseorang berubah sesuai dengan tahapan yang berbeda dalam hidupnya.

Sebagai patung luar ruangan [outdoor] besar yang pertama di kota itu, saya bermaksud untuk menyelaraskannya dengan identitas Marx sebagai seorang pemikir dan filsuf besar dan sementara itu menerapkan citra yang telah mewakili impresi orang-orang Tiongkok tentang dirinya.

.

DK-116-A Tribute in Tier-02
Patung perunggu Karl Marx yang dibuat oleh Wu Weishan. [Foto diberikan ke China Daily; dari sumber China Daily–Red DK]

.

Saya ingin patung itu ditempatkan di ruang terbuka. Tidak seperti patung-patung firaun Mesir, Buddha dan ikon agama lainnya, atau patung politisi dengan gesture [gestur-Wikipedia], patung Marx harus menekankan kebesarannya sebagai manusia biasa.

Saya berpikir tentang dia yang sedang duduk atau berdiri, tetapi kemudian memutuskan gerakan maju [forward movement] dari patung itu, mengingat bahwa ide-idenya telah memainkan peran tidak hanya di zamannya tetapi juga di masa depan.

Saya mengapresiasi Walikota, bahwa beliau respek pada desain saya. Dan Ludwig menemaniku di tengah hujan, memutuskan lokasi dan ketinggian patung. Akhirnya, kami memutuskan bahwa patung itu akan berada di depan museum kota, dekat Porta Nigra, arsitektur Romawi, yang dengan Karl Marx House hanya berjarak 200 meter.

Jelas, patung itu, yang tingginya ditentukan sekitar 6 meter, akan berintegrasi dengan lingkungan tersebut.

Dengan konsensus pada patung itu, orang Jerman bersulang perpisahan bersama saya [toasted me goodbye] dengan anggur lokal dan saya menulis: “Kampung halaman dari seorang lelaki yang luar biasa — rumah rohani permanen kami.”

Dan Walikota menulis bahwa patung Karl Marx tersebut akan membangun sebuah jembatan emas antara Tiongkok dan Jerman.

Segera setelah kembali ke Tiongkok, saya memulai penciptaan saya. Bahkan, saya telah membuat beberapa patung Marx dalam beberapa tahun terakhir, terus menerus memelajari literatur dan konsultasi dengan para peneliti filsafat Marxis selama proses tersebut. Akumulasi pengalaman memungkinkan saya untuk membandingkan dari berbagai perspektif dan menemukan posisi dan cara berekspresi yang akurat.

Dengan inspirasi dari kampung halaman Marx, saya menciptakan sebuah maket berukuran 60 sentimeter, yang menyajikan Marx mengenakan mantel dan berjalan melawan angin dengan sebuah buku di tangannya. Rambut dan jenggotnya yang lebat, konsisten dengan ekspresi wajah dan sedang melangkah [pace] itu. Base-nya didesain sebagai poligon [“sudut banyak”], melambangkan perjalanan hidup Marx: Trier, Bonn, Berlin, Paris, Brussels dan London.

Para pakar di Trier mengakui desain tersebut, memuji bahwa [patung] itu menggabungkan semangat Marx.

Tak lama, Leibe datang ke studio saya di Beijing. Setelah melihat maket berukuran 60 sentimeter dan model intermediate setinggi 2,3 meter, ia dengan suka cita mengatakan bahwa Karl Marx telah hidup kembali dan filsafatnya telah divisualisasikan pada abad ke-21.

Menurut Leibe, Trier telah [merencanakan] mendirikan patung setinggi 6,9 meter berdasarkan desain saya setelah mengumpulkan pendapat umum. Dia secara pribadi menghabiskan satu hari bepergian dengan bus dan mendapatkan umpan balik publik. Desain diterima oleh mayoritas besar [vast majority] dan memenangkan 42 suara dari total 53 di dewan kota, dengan empat abstain. Sarannya hanya untuk menyesuaikan ketinggian patung agar pas dengan tampilan ruang.

Kemudian saya melakukan banyak interaksi tatap muka dan video mengenai ukuran patung tersebut. Kami memutuskan bahwa patung harus setinggi 4,6 meter dan dasanya harus 90 sentimeter, menambahkan hingga 5,5 meter, yang menunjukkan hari lahir Marx dan cocok dengan lingkungan secara keseluruhan.

Pada Januari 2017, Ludwig mengunjungi studio saya bersama dengan ahli seni dan teknik serta jurnalis Jerman. Dengan menaiki perancah [scaffold] setinggi 4,6 meter dan menyaksikan model terakhir patung Marx, dia mengatakan kepada para reporter, “Ini adalah Marx di lubuk hati kami!”

Mereka yang hadir melihat bahwa sosok Marx menyerupai pegunungan dan bumi, dan bahkan lipatan jubahnya mengalir dengan keanggunan alami. Saya memberi tahu mereka bahwa itu terinspirasi oleh pemandangan Trier yang indah dan freehand brushwork [Wikipedia] dari karya seni Tiongkok. Garis-garis kaligrafi Tiongkok dan Sungai Moselle memberkahi patung dengan spiritualitas seni.

Saat membuat patung tersebut, saya menggabungkan realisme Barat dan impresionisme Tiongkok. Patung-patung realistis Barat dari Yunani dan Roma kuno telah memberi saya pisau tajam untuk memunculkan bentuk fisik dan roh karakter, sedangkan impresionisme Tiongkok memberi saya sayap untuk mengekspresikan sentimen puitis dengan bebas.

Apa yang selalu saya perjuangkan adalah mengubah patung-patung saya menjadi filosofi puitis.

Ludwig adalah arsitek dan perencana kota yang sangat berprestasi, yang penuh gairah dan rasional. Setelah melihat patung itu, dia menulis bahwa dia senang menyaksikan pengubahan konsep menjadi kenyataan.

“Apa yang kita lihat dan rasakan adalah sublimitas murni [sublim-KBBI daring]. Karya-karya Marx dihidupkan kembali. Patung Profesor Wu penuh dengan vitalitas,” imbuhnya.

Meskipun saat itu musim dingin, studio menjadi hangat dengan passion, persahabatan, seni, dan filsafat. Di depan patung Karl Marx, Tiongkok dan Jerman membuat perbincangan spiritual tentang seni.

Setelah patung itu selesai dan dikirim ke provinsi Shanxi untuk pengecoran [casting], saya masih khawatir.

Model tanah liat dibuat di dalam ruangan, sehingga pencahayaan luar ruangan dapat menghasilkan penyimpangan visual pada bentuk [shape] dari patung.

Untuk memastikan efek visual luarnya, saya memindahkan model itu kembali ke Beijing dan memodifikasinya di luar ruangan persegi. Itu adalah awal Februari ketika Beijing berada di antara -8 C dan -12 C. Saya naik turun perancah dalam angin dingin dan membentuk model dengan plester. Setelah 5 jam kerja terus menerus, tangan saya hampir membeku.

Pada pagi hari 28 Februari [2017], pengecoran perunggu selesai dan patung itu akan diangkut ke Jerman dengan pesawat besar. Saya pergi ke bandara untuk melihat kepergian patung tersebut dan menunggu di apron [KBBI daring] dari jam 1 dini hari sampai jam 5 pagi. Tepat ketika hari mulai menyingsing, pesawat perlahan-lahan bergerak dan dengan cepat lepas landas, membawa harapan terbaik dari rakyat Tiongkok.

Patung perunggu Karl Marx telah didirikan di kampung halamannya! Dua ratus tahun sudah, sejak kelahiran Marx hingga patung tersebut dipasang.

Hidup itu terbatas tetapi rohnya tidak terbatas. Buku di tangan Marx dan jalan di bawah kakinya telah sepenuhnya membuktikan bahwa umat manusia akan terus maju dengan kebijaksanaan dan kekuatannya sendiri.

.

ooOoo

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s