129. Pengeposan-Khusus Pengujung 2018, HM Isbakh: Limitasi Revolusi Industri 4.0 Dipandang dari Perspektif Teori Nilai Kerja

Standar

Pengeposan-Khusus Pengujung 2018

.

Limitasi Revolusi Industri 4.0

Dipandang dari Perspektif

Teori Nilai Kerja

.

Oleh HM Isbakh

.

BS di KKI 2018
Halaman depan foto-kopi Pidato Kebudayaan Budiman Sudjatmiko di Kongres Kebudayaan Indonesia 2018, Kamis (6/12/2018) sore; yang dibagikan pada para hadirin. (Foto-grafis: Red DK)

.

Tidak dipungkiri bahwa fenomena bisnis dalam jaringan atau daring (on-line) dan media sosial (medsos) telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kita; dari kota ke desa; dari kelas atas sampai kelas bawah tidak ada yang mengalami kesulitan mengakses jaringan internet.

Dalam bidang transportasi misalnya, transportasi on-line telah meruntuhkan dominasi bisnis transportasi swasta yang dominan (lihat kasus gojek menaklukkan si burung biru).

Dalam bidang sosial-politik platform medsos seperti Facebook atau WhatsApp telah sukses menghubungkan berbagai individu sehingga terkoneksi satu sama lain selama 24 jam, yang pada satu sisi dapat memercepat penyebaran informasi, namun di sisi lain juga sukses dalam mengacaukan pemahaman orang melalui penyebaran hoax.

Kumpulan “fakta-fakta empiris” (empirical facts) yang disebutkan di atas baru merupakan contoh-contoh kecil dari suatu kategori yang lebih besar yakni revolusi industri 4.0.

Saking masifnya otak kita dibombardir oleh fakta-fakta empiris macam begitu, para peneliti fakta empiris (investigators of empirical facts) [simak/klik hlm 71a] dengan hanya merespons kulit luar fenomenanya saja tergesa-tergesa menyimpulkan watak “revolusioner” dari revolusi industri 4.0.

Tidak terkecuali Budiman Sudjatmiko (BS).

Dalam pidatonya yang berjudul “Indonesia 4.0: Berguru Kepada Alam Yang Terkembang” dalam Kongres Kebudayaan Indonesia tanggal 6 Desember 2018 di Jakarta, BS dengan percaya-dirinya memberikan tawaran kepada rakyat (pekerja) Indonesia agar menguasai teknologi revolusi industri 4.0 sebagai jalan menuju kesejahteraan1.

Sebagai aktivis kiri (apakah masih?) maka wajarlah bila pemikiran BS yang dituangkan dalam pidato kebudayaan tersebut dianalisis dari perspektif tradisi kiri.

Dalam artikel ini kami bermaksud menyampaikan kritik atas tawaran revolusi industri 4.0 BS dari perspektif teori nilai kerja.

Manusia Sosial vs Manusia Ekonomi sebagai Idealisme vs Materialisme

Konsepsi jaringan menempatkan interaksi, kerjasama, dan kolaborasi sebagai hal yang fundamental dalam proses kreasi dan kinerja sistem. Di era digital saat ini kita merayakan kembali kelahiran Manusia Sosial (Homo Socialis) sebagai alternatif dari Manusia Ekonomi (Homo Economicus). Berbeda dengan Manusia Ekonomi yang independen dan egois, Manusia Sosial hidup dalam jaringan kolaborasi. Ia berupaya mengejar keinginannya sembari mempertimbangkan dampak dari setiap keputusan yang diambil terhadap lingkungan kolaborasi yang dihidupinya. Dengan berempati terhadap lingkungannya (perspektif, kepentingan dan kesuksesan orang lain), Manusia Sosial menjadi responsif terhadap efek eksternalitas dari setiap keputusannya. Dengan cara demikian Manusia Sosial menciptakan faedah secara sistemik sembari memeluk kepentingannya sendiri.

(BS, Indonesia 4.0, hal. 15)1

Jejaring merupakan wadah alami bagi kemunculan ekonomi baru yang berlandaskan pada kolaborasi dan partisipasi, layaknya gotong royong rakyat desa. Ia kita sebut sebagai masyarakat pasar partisipatoris. Saya sangat percaya bahwa ini adalah sebuah alternatif baru. Bukan hanya karena paradigma yang ada saat ini tidak lagi cukup menyediakan lapangan kerja, menghasilkan ketimpangan yang tajam dan efek lingkup yang ekstrim di berbagai belahan dunia. Tapi juga karena dunia yang berubah (cara hidup kita, bekerja dan berinteraksi dengan orang lain) oleh revolusi teknologi informasi telah banyak membuka kemungkinan-kemungkinan baru.

(BS, Indonesia 4.0, hal. 16)1

Setelah berfantasi melakukan perjalanan dengan mesin waktu mengunjungi manusia gua, kerajaan Tarumanagara, kantor penerbitan di Batavia di tahun 1744, perusahaan listrik di Weltevreden di tahun 1897 [nyaris seluruh Jakarta Pusat sekarang] dan kampus manajemen komputer di [Jakarta] tahun 1977, BS terperangah menyaksikan realitas saat ini yang berada dalam revolusi industri 4.0.

Menurut BS revolusi industri pertama (1770-1900) dimotori oleh penggunaan mesin uap yang berhasil mentransformasi masyarakat agraris menjadi masyarakat industri. Revolusi industri kedua (1900-1940) terjadi saat industri telah mengenal rantai produksi, pembagian kerja dan elektrifikasi. Revolusi industri yang ketiga (1940-1990) didorong oleh teknologi elektronik dan komputerisasi.

Dari sejarah perkembangan teknologi produksi tersebut BS menemukan fenomena unik yang muncul pada revolusi industri yang keempat (4.0) yakni konektivitas atau jejaring.

Dan yang mengagumkan lagi, BS berspekulasi bahwa era digital yang ditandai dengan jejaring antarsubyek dengan serta merta akan membentuk “Manusia Sosial”.

Bagi BS, adapun Manusia Sosial tersebut berbeda dengan “Manusia Ekonomi” yang independen dan egois.

Konsepsi Manusia Ekonomi ini merupakan konsep manusia materialis di mana oleh Hobbes ([Thomas Hobbes] yang dihargai oleh Marx dan Engels sebagai salah satu kontributor penting pemikiran materialisme) kita diajarkan bahwa manusia adalah mahluk egois; serigala bagi yang lain (homo homini lupus). [Homo homini lupus].

[Sementara] Manusia Sosial merupakan manusia yang bermoral yang hidup berkolaborasi dengan yang lain serta memikirkan kepentingan orang lain.

Jadi oleh BS dengan konsep Manusia-Sosial-nya kita disodorkan oleh dua idealisasi.

Pertama, hakikat manusia itu sendiri disampaikan dalam bentuk yang idealis yakni Manusia Sosial yang bermoral, tidak egois; dan yang kedua, bahwa kemunculan Manusia Sosial tersebut berasal dari jejaring.

Marx dan Engels pun juga mendambakan masyarakat komunis di mana manusianya juga bermoral, tidak egois, di mana manusia dapat hidup dalam suatu masyarakat tanpa negara yang memaksakan hukum-hukumnya (state withers away). [Whitering away of the stateThe state is not “abolished”. It dies out: Engels Anti-Duhring].

Namun perwujudan manusia komunis diperoleh melalui proses dialektik perjuangan kelas, dengan mengabolisi milik pribadi dan dengan demikian menghapus eksistensi kelas-kelas sosial. Hal itu juga ditunjang oleh kecukupan kebutuhan material masyarakat komunis.

Jadi ada dasar material, kemunculan manusia yang bermoral.

Sedangkan oleh BS kita ditawarkan secara absurd bahwa dengan menciptakan jejaring antarsubyek (melalui internet dan medsos) maka kondisi itu cukup untuk melahirkan manusia yang bermoral.

BS mencampur-adukkan keadaan hidup manusia dengan sifat manusia itu sendiri.

Bahwa era revolusi industri 4.0 memermudah akses koneksi antarsubyek, tidak serta merta membuat hubungan antarsubyek menjadi saling berkolaborasi atau menjadi bermoral, bergotong-royong, peduli terhadap kesusahan orang lain.

Adalah fakta bahwa peningkatan akses antarsubyek justru dapat dimanfaatkan oleh orang yang bermaksud jahat dengan melakukan disinformasi, menyebarkan berita bohong, melakukan penipuan dan sebagainya.

Ini berarti bahwa meski kita tidak menyangkal revolusi industri 4.0 meningkatkan konektivitas antarsubyek, masih diperlukan kerja atau upaya lain di luar kapasitas inheren revolusi industri 4.0 yang harus dilakukan, untuk mewujudkan manusa bermoral ala Manusia Sosial.

Industri 4.0 bukanlah segala-galanya.

Kaum materialis percaya, bahwa perubahan moral manusia dapat dicapai dengan merubah kondisi material manusia. Bukan kesadaran manusia yang menentukan eksistensi mereka, namun sebaliknya, eksistensi sosial mereka menentukan kesadaran mereka.2

Kesatuan Produsen dan Konsumen sebagai Alienasi

Kolaborasi konsumsi dan produksi menjadi wajah ekonomi di era digital. Platform teknologi seperti gojek dan airbnb meminimalkan transaksi, memudahkan koordinasi antara produsen dan konsumen dan melahirkan aktivitas ekonomi baru dengan memanfaatkan asset yang tidak optimal digunakan.

Di era digital produser dan konsumen tidak lagi terbedakan. Maka lahirlah entitas ekonomi baru yang disebut prosumen. Seseorang disebut prosumen pada saat ia ikut serta memproduksi barang yang dikonsumsinya. Dengan kata lain, terjadi kolaborasi produksi yang menghilangkan batas-batas antara produsen dan konsumen. 

(BS, Indonesia 4.0, hal 16-17)1

Terbius oleh sihir konsep jejaring dan kolaborasi, BS terus-menerus merepetisi konsep ini di mana-mana. Tak terkecuali ranah produksi dan konsumsi.

Bagi BS ranah produksi dan ranah konsumsi (dalam era kapitalisme ini) telah menyatu (baca: berkolaborasi).

Subyek pelaku ekonomi pun tidak dibedakan lagi menjadi produsen dan konsumen, melainkan sekarang telah menjadi prosumen (kesatuan produsen dengan produsen).

[Tetapi] Bahwa pertemuan antara produsen dan konsumen dipermudah dan dipermurah, tidaklah berarti dengan serta merta hal tersebut menghilangkan batasan antara siapa produsen dan siapa konsumen.

Yang terjadi dalam kapitalisme, bukanlah penyatuan melainkan justru separasi atau pemisahan antara pekerja dengan alat produksinya; pemisahan pekerja dengan hasil kerjanya; pemisahan penjualan dengan pembelian yang mengakibatkan pemisahan antara produsen dengan konsumen.

Kelas buruh terbentuk dari kejatuhan kelas-kelas menengah akibat terampasnya alat produksi dan kapital mereka karena kalah bertarung dengan kapital kelas borjuis yang lebih besar.

Atau dalam bahasa Marx dan Engels:

Lapisan bawah kelas menengah, yaitu kaum pengusaha kecil, tuan toko dan tuan riba pada umumnya, kaum pengrajin dan kaum tani, semua ini lambat laun jatuh menjadi proletariat, sebagian karena kapitalnya yang kecil tidak cukup untuk menjalankan Industri Modern dan kalah bersaing dengan kaum kapitalis besar, sebagian karena keahlian khusus mereka menjadi tidak berharga untuk cara-cara produksi baru. Begitulah proletariat terbentuk dari semua kelas penduduk.

[Marx & Engels, MPK, hal. 33]3

Dan kita tahu bahwa seseorang menjadi proletariat itu berarti ia tidak memiliki alat produksi apapun selain tenaga kerjanya. Kapitalisme memisahkan proletariat dari alat produksi dan memberikan hak milik kepada kapitalis untuk menguasainya. Hal yang sama terjadi dengan produk-produk hasil kerja.

Dalam magnum opus [adikarya, masterpiece] Marx, menunjukan bahwa proses kerja buruh dalam kapitalisme dicirikan oleh dua hal: pertama, buruh bekerja dalam kontrol kapitalis yang telah membeli (dan dengan demikian memiliki) tenaga kerjanya; kedua, produk hasil kerja buruh dimiliki oleh kapitalis. (MarxCapital Vol 1, p. 184-185)4

Dalam buku Kemiskinan Filsafatyang merupakan kritik Marx terhadap Proudhon, Marx menunjukan bahwa buruh tidak memiliki sebagian besar komoditi yang diproduksinya. Posisi tersebut merupakan kebalikan dari posisi pengikut kaum Ricardian [David Ricardo] yang beranggapan buruh memiliki seluruh produk sosial.

Kapitalislah yang memiliki alat produksi dan hasil produksi, sehingga karena itu pandangan yang menyatakan ada kesatuan antara produsen dan konsumen merupakan hal yang absurd.

Dalam kapitalisme, buruh berproduksi bukan untuk dirinya bahkan bukan cuma untuk kebutuhan orang di Negara mereka melainkan untuk pasar yang sangat jauh di Negara orang lain. Produksi dan konsumsi dilakukan dalam skala global, di lokasi-lokasi yang terpisah-pisah bahkan berjauhan satu dengan lainnya.

Inilah ekonomi kapitalisme modern, yang jauh berbeda dengan ekonomi ala Robinson Crusoe [Robinson Crusoe (novel)] yang hidup seorang diri dan hidup subsisten (hidup prosumen dalam istilah BS) di mana ia berproduksi untuk dikonsumsi sendiri.

Dalam kalimat-kalimat Marx dan Engels sendiri:

Borjuasi melalui penghisapannya atas pasar dunia telah memberikan sifat kosmopolitan kepada produksi dan konsumsi di setiap negeri. Kaum reaksioner merasa sangat sedih sekali karena borjuasi telah mencabut dari bawah kaki industrinya landasan nasional tempatnya berdiri. Semua industri nasional mapan yang sudah tua telah dihancurkan atau sedang dihancurkan setiap hari. Mereka digantikan oleh industri-industri baru, yang pelaksanaannya menjadi masalah hidup dan mati bagi semua bangsa beradab, oleh industri-industri yang tidak lagi mengerjakan bahan mentah dalam negeri, tetapi bahan mentah yang didatangkan dari wilayah-wilayah dunia yang paling jauh letaknya; industri yang hasil produksinya tidak saja digunakan di dalam negeri tetapi di segenap pelosok dunia. Sebagai pengganti kebutuhan masa lampau, yang dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri, kita menjumpai kebutuhan-kebutuhan baru, yang untuk memuaskannya dibutuhkan hasil dari negeri-negeri dan daerah-daerah iklim yang sangat jauh letaknya.

[Marx & Engels, MPK, hal. 28]3

Demikian pula penjualan (sale) dan pembelian (purchase). Dalam kapitalisme terjadi kekacauan produksi dan konsumsi. Kapitalis berproduksi namun demikian hasil produksinya belum tentu terjual/terbeli sehingga memampukan kapitalis untuk melakukan reproduksi lagi.

Siklus C-M-C [Commodity-Money-Commodity; Marx, Capital Vol. 1 p. 72] kadang kala terinterupsi. Inilah yang terjadi saat krisis-krisis ekonomi6.

Barang tidak terjual, hutang tidak terbayar, inflasi, PHK, kekacauan di mana-mana, dsb, dsb.

Namun dengan mendengarkan tawaran-tawaran BS, sepertinya kita masuk dalam dunia fantasi yang serba harmonis di mana produsen dan konsumen menyatu dalam kolaborasi.

Produsen menjadi konsumen sekaligus. Produksi match dengan konsumsi, tidak ada disproporsi produksi-konsumsi, tidak ada overproduksi, tidak ada krisis.

BS sedang menyodorkan kepada kita suatu dunia yang tidak realistis. Ia memberikan kesadaran palsu.

Sesungguhnya penghapusan distingsi antara produsen dan konsumen ada dalam masyarakat komunis. Karena alat produksi dimiliki bersama masyarakat tersebut, menjamin produk-produk hasil kerja mereka dimiliki bersama.

Produksi dilakukan oleh mereka berdasarkan kemampuannya namun hasil produksi didistribusikan kepada anggota masyarakat sesuai dengan kebutuhannya. [From each according to his ability, to each according to his needs]

Di situ produksi match dengan konsumsi. Disproporsi dan overproduksi dilenyapkan. Distingsi produsen dan konsumen dihilangkan.

Namun sekali lagi, bentuk masyarakat seperti itu dicapai melalui: perjuangan kelas dan penghapusan milik privat.

Kedua hal ini, [justru] menghilang dalam pidato kebudayaan BS.

Problem Perencanaan Pusat

Berapa pun dana yang digulirkan pemerintah ke desa, desa-desa di era digital tidak akan mampu bertahan dan bersaing secara global jika masih bertindak sendiri-sendiri. Desa-desa harus menjalin kolaborasi ekonomi dengan desa-desa lain di sekitarnya, maupun antar desa di seluruh wilayah Indonesia.

[…]

Namun jejaring antardesa juga belum cukup.

Jejaring desa-kota dan jejaring kampung-kampus harus segera dirintis dan dibangun. Desa, dengan segala modal ekonomi dan sosial yang dimilikinya saat ini harus segera dihubungkan dengan pelaku ekonomi, penggerak sosial dan inovator teknologi yang ada di kota dan di dunia untuk dapat bekerjasama mengeksplorasi peluang yang terbuka oleh karena perkembangan teknologi. Kreativitas kota, kebajikan desa dan peluang dunia harus bertemu untuk membangun dan berbagi solusi digital yang inovatif, dengan didasari semangat partisipasi, kolaborasi, desentralisasi, keterbukaan dan multidisiplin.

Karena itu pula, sebuah ikhtiar dan kerjasama raksasa harus dibangun diantara mereka yang bekerja untuk membuat masyarakat cerdas (pejabat publik yang visioner, pendidik yang inovatif dan wirausahawan sosial yang inklusif), mereka yang membuat alat teknologi cerdas (pakar kecerdasan buatan/mesin pembelajar, pakar ilmu data, ahli blockchain dan sebagainya) dengan mereka yang membuat tubuh biologis kita cerdas (ahli neuroscience, perekayasa genetik, pakar biologi sintetik dan semacamnya). Merekalah inovator-inovator sosial dan teknologi yang terus belajar dari alam dan memastikan semua yang dibuat oleh manusia sesuai dengan hukum-hukum alam, bicara dengan bahasa alam (baca: matematika) dan rangsang neuron (denyut sel saraf otak).

(BS, Indonesia 4.0, hal 22-23)1

Konsep jejaring dan kolaborasi kembali diresepkan lagi oleh BS sebagai agen untuk mendongkrak kemajuan desa.

BS mengakui perlu ada kerja sama antardesa dan kerja sama desa-kota namun tidak menjelaskan dengan terang bagaimana kerja sama itu dibangun.

Namun kita juga tidak dapat menyalahkan BS, karena posisi idealisnya akan hakikat manusia.

Jejaring dengan sendirinya akan memunculkan Manusia Sosial. Dengan demikian, dengan adanya jejaring pembangunan kerja sama antardesa dan antardesa-kota spontan saja berlangsung.

Mengapa demikian? Karena para inovator, pakar AI, pakar data, ahli neurosains, perekayasa genetik, pakar biologi sintetik pada hakikatnya adalah Manusia Sosial yang tidak egois dan peduli terhadap keterbelakangan desa.

Sialnya kaum materialis tidak percaya dengan idealisasi hakikat manusia tersebut. Bagaimana mungkin para manusia serigala tersebut spontan berkolaborasi?

Dalam hal ini perencana dan pengendali dari pusat diperlukan: Negara harus hadir!

Perencanaan terpusat tetap diperlukan, sebab bagaimana desa menentukan apa yang harus diproduksi dan apa yang perlu dikonsumsi bila disyaratkan harus sinkron dengan desa-desa lain?

Kaum materialis yang mencurigai keegoisan manusia serigala tidak dapat menyerahkan sepenuhnya perencanaan kepada hiruk pikuk pemerintahan desa.

Sekali lagi, BS menyodorkan kepada kita idealisasi hakikat manusia yang kini berkembang menjadi idealisasi sistem ekonomi politik.

Masalah Yang Perlu Diatasi: Kesenjangan Sosial

Hari ini 10 persen individu menguasai 90 persen kekayaan dunia. Ini adalah gambaran persoalan ketimpangan yang kita warisi dari era sebelumnya. Dan jurang ini akan semakin membesar oleh efek disrupsi teknologi jika tidak diantisipasi.

[…] Kita juga harus segera memikirkan model jaring pengaman sosial baru yang fit dengan karakteristik kerja era digital. Hal ini karena skema kesejahteraan yang ada saat ini dibangun berdasarkan ide, mode kerja dan jenis pekerjaan produk era revolusi industri kesatu.

Persis pada titik inilah ini saya memikirkan tentang model Pendapatan Dasar Universal yang secara luas mulai diperbincangkan saat ini sebagai Universal Basic Income.

PDU adalah sebuah model jaminan kesejahteraan dimana negara berbagi melalui upaya pemenuhan kebutuhan dasar universal (Universal Basic Income) warganya. Negara menyediakan pendapatan minimum bagi setiap orang untuk dapat melanjutkan kehidupannya meski tanpa bekerja. Konsep ini berbeda dengan kebijakan pro-kesejahteraan seperti bantuan langsung tunai karena berlaku untuk setiap orang terlepas dari level pendapatan dan status pekerjaannya.

(BS, Indonesia 4.0, hal. 28)1

Akhirnya, BS  pun mengakui bahwa masalah yang perlu dipecahkan adalah kesejangan sosial. Jurang antara yang kaya dengan yang miskin semakin melebar.

Di sini, BS menyadari bahwa efek disrupsi teknologi semakin memerparah kesenjangan tersebut.

Dan bagaimana BS dengan konsep jejaring dan kolaborasinya menyelesaikan persoalan ini?

Aneh bin ajaib konsep-konsep tersebut menghilang. Yang ada, untuk menyelesaikan persoalan tersebut, BS mengimpor konsep baru yang disebut Pendapatan Dasar Universal (PDU) yang harus disediakan Negara!?

Dengan demikian BS mengkontradiksikan dirinya sendiri.

Pertama, ia menawarkan revolusi industri 4.0 yang dilengkapi dengan jejaring dan kolaborasi sebagai resep kemajuan untuk Indonesia; kedua, ia mengakui efek disrupsi teknologi (termasuk teknologi industri 4.0) yang akan memperlebar kesenjangan sosial; ketiga, untuk menyelesaikan masalah yang ditimbulkan oleh resepnya sendiri ia memanggil bantuan Negara agar menyediakan PDU.

Sebenarnya masih tersisa pertanyaan besar untuk BS yaitu: bagaimana Negara memeroleh dana untuk memenuhi PDU tersebut.

Namun kami sudahi sampai di sini saja, lantaran jawaban dari pertanyaan tersebut berada di luar dari konsep jejaring dan kolaborasi yang sanggup dipikirkan BS. Kami pun tidak tega menanyakannya kepada BS.

Penutup

Indonesia mungkin beruntung memiliki BS yang idealis dan punya kepedulian memikirkan cara untuk memajukan desa. Namun niat baik saja tidak cukup.

Tawaran-tawaran BS dalam pidato kebudayaannya mengingatkan kami kepada kaum sosialisme borjuis yang direpresentasikan dalam MPK oleh Proudhon.

Adapun cirinya dalam kalimat Marx dan Engels sendiri:

Borjuis sosialis menghendaki semua kebaikan dan manfaat dari syarat-syarat sosial modern tanpa perjuangan dan bahaya-bahaya yang mesti ditimbulkannya. Mereka menginginkan keadaan masyarakat sekarang tanpa anasir-anasirnya yang revolusioner dan yang mendatangkan kehancuran. Mereka menghendaki suatu borjuasi tanpa proletariat. Borjuasi tentu saja menganggap dunia di mana ia dipertuan sebagai dunia terbaik. Sosialisme borjuis mengembangkan anggapan yang menyenangkan ini menjadi berbagai sistem lengkap atau setengah lengkap.  […] ia dalam kenyataannya hanyalah menghendaki agar proletariat tetap berada di dalam batas-batas masyarakat yang ada sekarang, tetapi harus membuang semua ide yang membenci borjuasi.

[Marx & Engels, MPK, hal. 56 — di bawah subbab III.2. Sosialisme Konservatif atau Sosialisme Borjuis]3

Dari naskah yang sama, Marx dan Engels telah menyebutkan:

Borjuasi tidak dapat hidup tanpa senantiasa merevolusionerkan alat-alat produksi dan karenanya merevolusionerkan hubungan-hubungan produksi, dan dengan itu semua merevolusionerkan seluruh hubungan di dalam masyarakat.

[Marx & Engels, MPK, hal. 28]3

Dengan demikian revolusi industri 4.0 merupakan bagian dari strategi bertahan borjuis dari krisis.

Peningkatan derajat konektivitas antarsubyek dan juga antarprodusen dan konsumen mengefisienkan perdagangan dan transaksi.

Dari perspektif teori nilai kerja fungsi industri 4.0 tidak lain hanya bersifat membantu sirkulasi kapital.

Seperti kita ketahui di atas krisis-krisis kapitalisme dapat muncul akibat kegagalan dalam penjualan dan pembelian sehingga menginterupsi sirkuit C-M-C yakni proses metamorfosis di mana kapitalis harus menjual hasil produksinya (C yang pertama) agar memperoleh kapital uang (M) untuk mengulangi produksi kembali menghasilkan produk lagi (C yang kedua).

Bila tahapan penjualan produk (C-M) gagal maka krisis dapat terwujud melalui efek berantai yang merembet ke kredit macet di sektor perbankan, inflasi, PHK, dsb.

Karena industri 4.0 pada hakikatnya hanya berfungsi membantu sirkulasi kapital, industri ini tidak menghasilkan nilai tambahan atas produk-produk material yang sudah diproduksi oleh sektor industri riil.

Apa yang menjadi strategi adaptasi borjuis ini rupanya dirayakan BS sebagai solusi untuk kemajuan Indonesia.

Tidak ada salahnya tentunya bila sebagian rakyat bergerak dalam sektor industri ini. Namun demikian industri ini tidak dapat dijadikan sebagai industri strategis, cukup suplemen.

Setelah infratruktur dibangun maka diperlukan penataan produksi melalui pembangunan industri-industri strategis nasional untuk memenuhi kebutuhan material utama rakyat. Indonesia masih membutuhkan petani yang bekerja di sawah dan perkebunan serta buruh yang bekerja dalam gemuruh mesin di pabrik.

Fungsi kebudayaan dan kesenian mestinya mengagungkan kerja kaum proletariat.

 

Referensi

  1. Budiman Sudjatmiko, Indonesia 4.0: Berguru Kepada Alam Yang Terkembang, Pidato Kebudayaan disampaikan dalam Kongres Kebudayaan Indonesia, 6 Desember 2018. [Untuk menunjukkan halaman yang diacu, dikutip sebagai: BS, Indonesia 4.0, hal …; tersedia dalam format PDF, silakan simak/klik Isi Pidato Kebudayaan BS]
  2. Karl Marx, A Contribution to The Critique of Political Economy, dikutip dalam Marx & Engels, Basic Writings on Politics and Philosophy, Editor: Lewis S. Feuer, Anchor Books, 1989.
  3. Karl Marx dan Frederik Engels, Manifesto Partai Komunis, Surakarta, 17 Agustus 1995. [Marx & Engels, MPK]
  4. Karl Marx, Capital, Vol. 1, Foreign Language Publishing House, Moscow, Tanpa Tahun. [Marx, Capital, Vol. 1]
  5. Karl Marx, Kemiskinan Filsafat, Terj. Oey Hay Djoen, Oey’s Renaissance, 2007 (e-book). [Tersedia dalam format PDF, silakan simak/klik Kemiskinan Filsafat – Karl Marx]
  6. Marx on Economics, Editor: Robert Freedman, a Pelican Book, 1963 (Catatan: buku ini merupakan kumpulan cuplikan-cuplikan karangan Marx tentang ekonomi Marxian. Penjelasan tentang krisis-krisis kapitalisme sebagian besar dikutip dari Theories of Surplus Value di bagian D buku ini).

ooOoo

Catatan Redaksi Dasar Kita

Penulis risalah ini, HM Isbakh, dengan alasan untuk melengkapi, untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik atas tulisannya itu, menyarankan agar pembaca dapat menyimak selengkapnya transkripsi pidato Budiman Sudjatmiko tersebut — yang sudah tersedia dalam format PDF pada Referensi 1 di atas.

Kami ulangi lagi, silakan klik Isi Pidato Kebudayaan BS.

Kemudian disarankan pula agar dapat menyimak surat “Marx pada PV Annenkov” yang dicantumkan pada Lampiran buku “Kemiskinan Filsafat” Marx di hlm 149-164. Yang juga tersedia dalam format PDF pada Referensi 5 di atas.

Kami ulangi lagi, silakan klik Kemiskinan Filsafat – Karl Marx.– hal. 149-164.

Juga kami sediakan dalam format Jpeg, khusus hal. 149-164, silakan simak/klik hlm 129a.

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s