Pidato Pemimpin Revolusi Islam 

 Ayatollah Seyyed Ali Khamenei

.

pada

. 

Pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi 

Gerakan Non-Blok ke-16

.

Teheran, 30 Agustus 2012

.

Sumber: http://www.presstv.ir/detail/2012/08/30/259025/leaders-inaugural-speech-at-nam-summit/

.

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita

.

.

.

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah, Tuhan dari Dua Dunia (Lord of the Two Worlds—Red), dan kiranya kedamaian dan rahmat atas Rasul yang terbesar dan terpercaya beserta pengikutnya yang murni, sahabat-sahabat pilihannya, serta semua nabi-nabi dan utusan ilahi.

Saya mengucapkan selamat datang kepada para tamu yang kami hormati, para pemimpin serta para wakil delegasi negara-negara anggota Gerakan Non-Blok, dan para peserta lainnya dari pertemuan puncak internasional akbar ini.

Kita berkumpul di sini untuk melanjutkan sebuah gerakan dengan petunjuk dan bimbingan Allah dalam memberikan kehidupan dan momentum baru pada basis syarat-syarat dan kebutuhan-kebutuhan terkini dari dunia.

Gerakan yang didirikan hampir 6 dasawarsa lalu berkat kecerdasan, kesadaran waktu, dan keberanian dari beberapa pemimpin politik yang peduli dan bertanggung jawab yang menyadari kondisi dan keadaan zaman mereka.

Para tamu kami yang berkumpul di sini dari lokasi-lokasi geografis yang berbeda, jauh dan dekat, serta memiliki berbagai kebangsaan dan ras yang berbeda, dengan ideologi, kebudayaan, historis, dan sifat-sifat terwariskan yang berbeda, tetapi seperti yang dikatakan Ahmad Sukarno, salah seorang pendiri gerakan ini di Konferensi Bandung pada tahun 1956 yang terkenal itu, (bahwa—Red) dasar dari pendirian Gerakan Non-Blok bukanlah kesatuan geografis atau ras dan agama, melainkan kebutuhan akan kesatuan.

Pada waktu itu, negara-negara anggota Gerakan Non-Blok membutuhkan suatu ikatan yang dapat menjadi pelindung mereka terhadap jaringan otoritarian, arogan dan tak puas-puasnya (insatiable—Red) dan sekarang dengan progres serta penyebaran instrumen hegemoni, kebutuhan ini tetap eksis.

Saya ingin menunjukkan kebenaran yang lain.

Islam telah mengajarkan kita bahwa umat manusia meskipun berbeda ras, bahasa dan budaya, mereka berbagi sifat yang sama, yang memanggil mereka untuk kemurnian, keadilan, kebajikan, kasih sayang dan kerja sama.

Ini adalah sifat manusia yang universal itu yang—jika secara aman dapat menjauhi motif menyesatkan—merupakan panduan umat manusia atas monoteisme dan pemahaman esensi transenden (di luar batas kemampuan manusia untuk memahaminya—Red/Badudu, 2005) Allah.

Kebenaran brilian ini memiliki potensi yang dapat membentuk fondasi dari masyarakat yang bebas dan membanggakan serta pada saat yang sama menikmati kemajuan dan keadilan.

Hal ini dapat memerluas cahaya spiritualitas untuk semua usaha materiil dan duniawi manusia dan dapat menciptakan surga di bumi bagi manusia mendahului surga dunia-lain, yang telah dijanjikan oleh agama-agama ilahi.

Dan inilah kebenaran umum dan universal yang dapat membentuk dasar kerja sama dalam persaudaraan antara nasion-nasion yang tidak berbagi kesamaan apapun dalam hal struktur luar (outward structures—Red), latar belakang sejarah dan lokasi geografis.

Setiap kali kerjasama internasional didasarkan pada fondasi semacam itu, para pemerintah akan membangun hubungan mereka satu sama lain tidak atas dasar ketakutan dan ancaman, atau keserakahan dan kepentingan sepihak, atau mediasi oleh individu culas dan mudah disuap, tetapi atas dasar kepentingan bersama dan sehat dan yang lebih penting, kepentingan umat manusia.

Dengan cara ini, para pemerintah dapat meredakan kebangkitan kesadaran mereka dan menempatkan pikiran masyarakat mereka dengan lebih mudah.

Tatanan ideal ini tepat berlawanan dengan tatanan hegemoni yang ditegakkan, dipropagandakan oleh negara-negara kuat Barat (Western powers—Red) dalam abad-abad terakhir ini serta oleh pemerintah dominering (domineering: bersifat menguasai dengan keras sekali—Red/Echols-Shadily, 2005)  dan agresif Amerika saat ini.

Para hadirin, saat ini setelah melewati hampir enam dasawarsa, cita-cita utama dari Gerakan Non-Blok tetap hidup dan kukuh: cita-cita seperti anti-kolonialisme, kemerdekaan politik, ekonomi dan budaya, tidak memblok dengan satu pun kekuatan, serta meningkatkan solidaritas dan kerja sama di antara negara-negara anggota.

Realitas dari dunia sekarang ini tidak memenuhi nilai-nilai tersebut, lamun (namun—Red) keinginan bersama dan upaya komprehensif untuk melampui serta memateriilkan cita-cita ini meski penuh tantangan, adalah menjanjikan dan berpahala.

Di waktu yang lalu, kita menyaksikan kegagalan kebijakan era Perang Dingin dan unilaterisme (kecenderungan nasion-nasion yang menyelenggarakan kebijakan politik luar negeri secara individual, dicirikan oleh konsultasi minim dengan nasion-nasion lain bahkan dengan sekutu mereka—Red/The Free Dictionary by Farlex) yang mengikutinya.

Ajar yang dipetik dari pengalaman sejarah ini, dunia berada dalam transisi menuju suatu tatanan internasional baru dan Gerakan Non-Blok dapat dan harus memainkan peran baru.

Tatanan baru ini harus didasarkan pada partisipasi publik dan hak yang sama untuk semua nasion. Dan sebagai para anggota dari gerakan ini, solidaritas kita merupakan suatu kebutuhan nyata pada era sekarang, untuk mendirikan tatanan baru ini.

Untungnya, prospek perkembangan global menjanjikan suatu sistem multifaset (banyak segi—Red/Echols-Shadily, 2005/Badudu, 2005) di mana blok-blok kekuatan tradisional diganti dengan sebuah kelompok berbagai negeri, budaya dan peradaban dari asal usul ekonomi, sosial dan politik yang berbeda.

Peristiwa mencolok yang kita saksikan pada tiga dasawarsa lalu jelas memerlihatkan bahwa munculnya kekuatan-kekuatan baru berbarengan dengan penurunan kekuatan-kekuatan tradisional.

Transisi gradual kekuatan-kekuatan ini memberi negeri-negeri non-blok kesempatan untuk memainkan suatu peran yang signifikan dan layak di panggung dunia dan menyiapkan dasar bagi manajemen global yang adil serta benar-benar partisipatif.

Kendati beragam perspektif dan orientasi, kita negara-negara anggota dari gerakan ini telah berhasil memertahankan solidaritas dan ikatan kita untuk jangka waktu yang panjang di dalam kerangka cita-cita bersama dan ini bukan suatu pencapian yang sederhana dan kecil. Ikatan ini dapat menyiapkan dasar bagi peralihan menuju tatanan yang adil serta manusiawai.

Kondisi global saat ini memberi pada Gerakan Non-Blok suatu kesempatan yang mungkin tidak pernah muncul lagi.

Pandangan kami bahwa ruang kontrol atas dunia tidak harus dikelola oleh kehendak diktator dari beberapa negeri Barat.

Seharusnya hal tersebut memungkinkan untuk membangun dan memastikan suatu sistem partisipatif untuk mengelola urusan internasional yang bersifat global dan demokrasi.

Ini yang dibutuhkan oleh seluruh negeri yang secara langsung maupun tidak langsung dirugikan sebagai hasil pelanggaran dari beberapa negeri yang menggaham (bullying, mengintimidasi, menggertak–Red/Echols-Shadily, 2005; Endarmoko, 2006) dan hegemoni.

Dewan Keamanan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa—Red) memiliki struktur dan mekanisme yang tidak logis, tak adil dan sama sekali tidak demokratis.

Ini  adalah bentuk kediktatoran yang berandang (gamblang–Red), kuno dan usang serta yang tanggal kadaluwarsanya sudah lewat.

Hal tersebut melalui penyalahgunaan mekanisme tidak benar bahwa Amerika dan antek-anteknya berhasil menyamarkan gaham (intimidasi—Red) mereka sebagai konsep yang mulia dan memaksakannya pada dunia.

Mereka melindungi kepentingan Barat atas nama “hak asasi manusia”. Mereka campur tangan secara militer di negara lain atas nama “demokrasi”. Mereka menargetkan rakyat tak berdaya di perdesaan dan perkotaan dengan bom-bom dan persenjataan mereka atas nama “memerangi terorisme”.

Dari perspektif mereka umat manusia dibagi atas para warga negara kelas satu, dua dan tiga. Kehidupan manusia dianggap murah di Asia, Afrika dan Amerika Latin, tapi mahal di Amerika dan Eropa Barat. Keamanan Amerika dan Eropa dipandang penting, sedangkan keamanan umat manusia lainnya dianggap tak penting.

Penyiksaan dan pembunuhan dibolehkan dan dapat diabaikan sama sekali bila itu dilakukan oleh Amerika, Zionis dan para bonekanya.

Hati nurani mereka tidaklah terusik bahwa mereka memiliki para tahanan rahasia di berbagai tempat pada benua berbeda, di mana para tahanan tak berdaya yang tak punya representasi hukum dan tidak diajukan ke pengadilan, diperlakukan dengan cara paling mengerikan dan menjijikan.

Baik dan buruk didefinisikan dalam cara yang benar-benar sepihak dan selektif.

Mereka memaksakan kepentingan mereka pada nasion-nasion di dunia atas nama “hukum internasional”. Mereka memaksakan kata-kata yang dominering dan ilegal atas nama “komunitas internasional”.

Memanfaatkan jaringan media mereka yang eksklusif dan terorganisasi, mereka menyamarkan kebohongan mereka sebagai kejujuran, kebatilan mereka sebagai yang benar, dan penindasan mereka sebagai upaya untuk mempromosikan keadilan.

Sebaliknya, cap mereka sebagai kebohongan (maka—Red) setiap pernyataan yang benar mengekspos tipu daya mereka dan label setiap tuntutan yang sah sebagai durjana (roguish, jahat seperti bajingan—Red/Echols-Shadily, 2005).

Para sahabat, situasi yang cacat dan berbahaya ini tidak dapat berlanjut. Setiap orang menjadi letih oleh struktur internasional yang salah ini.

Gerakan 99-persen dari rakyat Amerika terhadap pusat-pusat kemakmuran dan kekuasaan di Amerika serta protes-protes yang populer di Eropa Barat terhadap kebijakan-kebijakan ekonomi dari para pemerintahan mereka menunjukkan bahwa rakyat kehilangan kesabaran mereka dengan situasi ini.

Adalah perlu untuk memulihkan situasi irasional ini. Ikatan yang kuat, logis dan komprehensif antara anggota negara-negara Gerakan Non-Blok dapat memiliki dampak besar bagi penemuan dan pengelolaan sebuah pemulihan.

Para hadirin yang terhormat, keamanan dan perdamaian internasional adalah salah satu di antara isu-isu kritis dunia dewasa ini, dan penghapusan senjata pemusnah massal yang merupakan katastrofe (malapetaka besar yang datang secara tiba-tiba—Red/KBBI,1999), adalah suatu kebutuhan mendesak dan sebuah tuntutan universal.

Dalam dunia sekarang ini, keamanan adalah kebutuhan bersama di mana di situ tidak ada ruang untuk diskriminasi.

Mereka yang menimbun persenjataan anti-kemanusiaan di arsenal (bangunan permanen tempat penyimpanan, pembuatan, dan perbaikan senjata, amunisi, dan alat-alat perang lainnya—Red/KBBI, 1999) mereka, tidak punya hak untuk mendeklarasikan dirinya sebagai standard-bearers (pemimpin yang dihormati, pembawa panji militer—Red/The Free Dictionary by Farlex) atas keamanan global.

Tak pelak lagi, hal ini tidak akan mendatangkan keamaman bahkan bagi diri mereka sendiri.

Sangatlah disayangkan untuk menyaksikan negeri-negeri yang memiliki arsenal-arsenal nuklir terbesar tidak punya ikhtiar serius dan tulus untuk menghapus persenjataan mematikan ini dari doktrin militer mereka dan mereka tetap memandang persenjataan semacam itu sebagai instrumen untuk menghalau ancaman serta sebagai sebuah standar penting yang mendefinisikan politik dan posisi internasional mereka.

Konsepsi ini harus sama sekali ditolak dan dikutuk.

Persenjataan nuklir tidak menjamin keamanan, juga tidak untuk mengkonsolidasi kekuatan politik mereka; malahan persenjatan tersebut adalah ancaman baik terhadap keamanan maupun kekuatan politik. Peristiwa yang terjadi pada 1990-an menunjukkan bahwa kepemilikan persenjataan semacam itu bahkan tidak dapat menjaga sebuah rezim seperti Uni Soviet terdahulu.

Dan hari ini kita menyaksikan negeri-negeri tertentu yang terkena gelombang ketidakamanan mematikan sekalipun memiliki bom-bom atom.

Republik Islam Iran memandang penggunaan persenjataan nuklir, kimia dan yang serupa itu sebagai dosa besar dan tak terampuni.

Kami mengusulkan gagasan “Timur Tengah bebas persenjataan nuklir” dan kami berkomitmen pada hal tersebut.

Hal ini bukanlah berarti meninggalkan hak kami dalam penggunaan tenaga nuklir untuk maksud damai dan produksi bahan bakar nuklir.

Berdasarkan hukum internasional, penggunaan energi nuklir untuk maksud damai adalah hak setiap negeri.

Semua (negeri—Red) harus dapat menggunakan sumber energi maslahat (wholesome, berfaedah, bermanfaat, kebaikan—Red/Echols-Shadily, 2005; KBBI, 1996) ini untuk berbagai penggunaan vital negeri dan rakyat mereka, tanpa tergantung pada pihak lain dalam melaksanakan hak ini.

Beberapa negeri Barat, mereka sendiri memiliki persenjataan nuklir dan bersalah atas tindakan ilegal ini, ingin memonopoli produksi bahan bakar nuklir. Dengan cara bergerak mengindap-indap (surreptitious moves, sembunyi-sembunyi—Red) untuk mengkonsolidasi suatu monopoli permanen atas produksi dan penjualan bahan bakar nuklir di pusat-pusat yang mengusung label internasional, tapi nyatanya di dalam kendali beberapa negeri Barat.

Suatu ironi pahit dari era kita bahwa pemerintah AS, yang memiliki cadangan terbesar dan mematikan dari gaman (senjata—Red/Endarmoko, 2006) nuklir dan persenjataan lainnya pemusnah massal serta satu-satunya negeri yang bersalah atas penggunaannya, hari ini bersemangat untuk membawa panji oposisi terhadap proliferasi (perkembangbiakan—Red/Endarmoko, 2006; Echols-Shadily, 2005) nuklir.

AS dan para sekutu Baratnya memersenjatai sang perampas kuasa (usurper—Red/Echols-Shadily, 2005; Endarmoko, 2006) rezim Zionis dengan persenjataan nuklir dan menciptakan ancaman besar atas kawasan sensitif ini.

Lamun kelompok penipu yang sama, tidak mentoleransikan penggunaan energi nuklir untuk maksud damai oleh negeri-negeri independen dan malahan menentang, dengan segala kekuatannya, produksi bahan bakar nuklir untuk radiofarmasi (radiopharmaceuticals, senyawa radioaktif untuk diagnosis atau terapi—Red/The Free Dictionary by Farlex) dan maksud-maksud damai lainnya serta sebagai juru penolong (humanae—Red).

Dalih mereka adalah ketakutan terhadap produksi persenjataan nuklir.

Dalam kasus Republik Islam Iran, mereka sendiri tahu bahwa mereka berbohong, tetapi kebohongan yang disetujui oleh jenis politik yang sepenuhnya tanpa jejak sedikit pun dari spiritualitas.

Orang yang membuat ancaman nuklir dalam abad ke-21 dan tidak merasa malu, akankah merasa malu berbohong?

Saya tekankan, bahwa Republik Islam tidak pernah memertimbangkan persenjataan nuklir dan tidak akan pernah menyerah (atas—Red) hak rakyatnya untuk menggunakan energi nuklir bagi maksud-maksud damai.

Moto kami: “Energi nuklir untuk semua dan senjata nuklir tidak untuk siapa pun”.

Kami akan akan bersikukuh pada kedua pemahaman (dari moto—Red) ini, dan kami mafhum bahwa pemutusan monopoli negeri-negeri Barat tertentu atas produksi energi nuklir dalam kerangka Perjanjian Non-Proliferasi merupakan kepentingan seluruh negeri-negeri independen, termasuk para anggota Gerakan Non-Blok.

Pengalaman sukses Republik Islam dalam perlawanan terhadap gaham dan tekanan komprehensif oleh Amerika beserta sekutu-sekutunya telah sangat meyakinkan bahwa perlawanan dari sebuah nasion yang bersatu dan bertekad kuat dapat mengatasi segala kebencian dan permusuhan serta membuka jalan kemuliaan bagi tujuan keagungannya.

Kemajuan komprehensif yang dibuat negeri kami dalam dua dasawara terakhir ini, adalah fakta bagi semua untuk disimak, seperti berulang dibuktikan kebenarannya oleh para pengamat internasional yang resmi.

Semua ini terjadi di bawah sangsi-sangsi, tekanan ekonomi dan kampanye propaganda oleh jaringan-jaringan yang berafiliasi dengan Amerika dan Zionisme.

Sangsi-sangsi tersebut, yang dianggap melumpuhkan oleh para komentator pembual (nonsensical—Red/The Free Dictioanary by Farlex), tidak hanya tidak dan tidak akan melumpuhkan kami, tetapi membuat langkah kami makin mantap, meningkatkan tekad kami dan memerkuat kerpercayaan diri kami pada kebenaran analisis kami dan kapasitas bawaan dari nasion kami.

Dengan mata kepala kita sendiri berulang kali menyaksikan bantuan ilahi dalam tantangan-tantangan ini.

Para tamu yang terhormat, saya menganggap perlu untuk berbicara mengenai sebuah isu penting, yang meski terkait dengan wilayah kami dimensinya telah meluas jauh melampaui wilayah kami itu dan yang memengaruhi kebijakan-kebijakan global dalam beberapa dasawarsa.

Isu ini adalah isu penderitaan tiada tara (agonizing—Red) dari Palestina.

Ikhtisar dari masalah ini, bahwa berdasarkan plot Barat yang mengerikan dan di bawah arahan Inggris pada 1940-an, sebuah negeri independen dengan identitas historis yang jelas bernama “Palestina” telah diambil dari rakyatnya melalui penggunaan senjata, pembunuhan, dan penipuan serta diberikan kepada sekelompok orang yang mayoritas dari mereka adalah para imigran dari negeri-negeri Eropa.

Perampasan akbar ini—di mana pada awalnya disertai dengan pembantaian rakyat tak berdaya di perkotaan dan perdesaan serta terusirnya mereka dari rumah-rumah dan tanah airnya ke negeri-negeri yang berbatasan—telah berlangsung lebih dari enam dasawarsa dengan kejahatan yang sama dan berlanjut sampai hari ini.

Ini adalah salah satu isu penting dari komunitas umat manusia.

Para pemimpin militer dan politik dari sang perampas kuasa rezim Zionis selama ini tidak menghindari setiap kejahatan: mulai dari membunuh rakyat, merusak perumahan dan perkebunan mereka, menangkap dan menyiksa para perempuan dan bahkan anak-anak mereka, hingga merendahkan dan menistakan nasion tersebut dan berupaya menghancurkannya dalam rangka mencernanya dalam perut santapan haram rezim Zionis itu, sampai menyerang kamp-kamp pengungsian mereka di Palestina itu sendiri dan di negeri-negeri tetangga di mana jutaan pengungsi hidup.

Nama-nama seperti Sabra dan Shatila, Qana dan Deir Yasin telah tergores dalam sejarah wilayah kami dengan darah dari rakyat Palestina yang tertindas.

Bahkan sekarang setelah 65 tahun, jenis kejahatan yang sama menandai perlakuan terhadap orang-orang Palestina yang tersisa di teritorial yang diduduki oleh serigala Zionis yang buas itu.

Mereka melakukan kejahatan baru satu demi satu dan menciptakan krisis-krisis baru di wilayah tersebut.

Hampir tidak ada hari yang berlalu tanpa laporan pembunuhan, para pemuda terluka dan ditahan yang bangkit untuk memertahankan tanah air mereka dan kehormatan mereka dan yang memrotes penghancuran pertanian dan perumahan mereka.

Rezim Zionis, yang melaksanakan pembunuhan-pembunuhan dan menyebabkan terjadinya konflik dan kejahatan selama beberapa dasawarsa dengan mengobarkan perang yang mendatangkan malapetaka, membunuh rakyat, menduduki teritorial Arab dan mengorganisasikan terorisme disponsori-negara di wilayah tersebut dan di dunia, memberi label bangsa Palestina sebagai “teroris”, rakyat yang tegak untuk memerjuangkan hak-hak mereka.

Dan jaringan media yang dimiliki Zionisme serta banyak dari media Barat dan media bayaran mengulangi kebohongan besar ini dalam pelanggaran nilai-nilai etika serta komitmen jurnalistik, dan para pemimpin politik yang mengklaim untuk membela hak-hak asasi manusia telah menutup mata mereka terhadap seluruh kejahatan ini dan mendukung rezim kriminal itu tanpa malu-malu dan berani serta menerima peran mereka sebagai advokat.

Sudut pandang kami adalah bahwa Palestina milik bangsa Palestina dan berlanjutnya pendudukan adalah sangat tidak adil dan tidak dapat ditoleransi serta merupakan suatu ancaman besar bagi perdamaian dan keamanan dunia.

Seluruh solusi-solusi yang disarankan dan ditindaklanjuti oleh negara-negara Barat dan para afiliasinya untuk “memecahkan persoalan Palestina” adalah salah dan tidak berhasil, serta akan tetap seperti itu di masa datang.

Kami telah mengajukan sebuah solusi yang adil dan sepenuhnya demokratis.

Seluruh bangsa Palestina—baik yang saat ini adalah warga negara Palestina maupun mereka yang terpaksa berimigrasi ke negeri-negeri lain tapi tetap memertahankan identitas Palestina termasuk yang beragama Islam, Kristen dan Yahudi—harus mengambil  bagian dalam sebuah referendum yang disupervisi secara hati-hati dan membangun kepercayaan serta memilih sistem politik negeri mereka, dan seluruh bangsa Palestina yang telah menderita selama pengasingan bertahun-tahun harus kembali ke negeri mereka serta mengambil bagian dalam referendum ini dan lalu membantu (menyiapkan—Red) draf Konstitusi serta menggelar  pemilihan umum.

Perdamaian kemudian akan tercipta.

Sekarang saya ingin memberikan sepenggal saran penuh kebajikan kepada para politisi Amerika yang selalu berdiri untuk membela dan mendukung rezim Zionis.

Sebegitu jauh, rezim ini telah menciptakan persoalan-persoalan yang tak terhitung jumlahnya bagi saudara-saudara sekalian. Hal tersebut menampilkan suatu citra kebencian dari saudara-saudara atas rakyat di wilayah itu, dan itu membuat saudara-saudara tampak seperti begundal (antek—Red) dalam kejahatan dari sang perampas kuasa, kaum Zionis.

Biaya materiil dan moral yang dipikul oleh pemerintah dan rakyat Amerika di rekening (terkait—Red) ini mengagetkan, dan bila hal ini berlanjut, biayanya bahkan bisa menjadi lebih berat di masa datang.

Memertimbangkan proposal Republik Islam mengenai referendum dan dengan keputusan yang berani, menyelamatkan saudara-saudara sendiri dari situasi mustahil saat ini.

Tak pelak lagi, rakyat di wilayah tersebut dan semua pakar berpikir bebas (free thinkers—Red/Echols-Shadily, 2005) di seluruh dunia akan menyambut langkah ini.

Para tamu yang terhormat, sekarang saya ingin kembali ke poin awal saya.

Kondisi gobal sensitif dan dunia sedang melewati sebuah titik kala (juncture, titik waktu—Red/Echols-Shadily, 2005; Endarmoko, 2006)  sejarah yang krusial.

Hal tersebut merupakan antisipasi bahwa sebuah tatanan baru akan lahir.

Gerakan Non-Blok yang mencakup hampir dua per tiga dari komunitas dunia, dapat memainkan peran utama dalam membentuk dunia.  

Digelarnya konferensi utama ini di Teheran itu sendiri merupakan sebuah acara signifikan yang dapat dimanfaatkan sebagai pertimbangan.

Dengan menyatukan sumber-sumber daya dan kapasitas-kapasitas kita, kita para anggota dari gerakan ini dapat menciptakan sebuah sejarah baru dan peran abadi menuju penyelamatan dunia dari ketidakamanan, perang serta hegemoni.

Tujuan ini dapat dicapai hanya melalui kerja sama yang komprehensif satu dengan yang lain.

Di antara kita sesungguhnya ada beberapa negeri yang sangat makmur dan (ada—Red) negeri-negeri yang menikmati pengaruh internasional. Adalah sangat memungkinkan untuk menemukan solusi bagi persoalan-persoalan melalui kerja sama ekonomi dan media serta melalui kelulusan atas pengalaman-pengalaman yang membantu kita memerbaiki dan membuat kemajuan.

Kita perlu memerkuat kebulatan tekad kita. Kita perlu tetap setia pada tujuan kita.

Kita tidak perlu gentar kekuatan-kekuatan yang menggaham ketika mereka mengeritkan dahi pada kita, juga kita tidak harus menjadi bahagia ketika mereka tersenyum pada kita.

Kita harus memertimbangkan kehendak Tuhan dan hukum-hukum penciptaan sebagai penopang kita.

Kita harus memetik ajar dari apa yang terjadi atas kamp komunis dua dasawarsa lalu serta dari kegagalan kebijakan yang disebut “demokrasi liberal Barat” saat ini yang sinyal-sinyalnya dapat dilihat oleh setiap orang di jalan-jalan negeri-negeri Eropa dan Amerika, serta pada persoalan-persoalan ekonomi yang tak terpecahkan dari negeri-negeri ini.

Dan akhirnya, kita harus memertimbangkan Kebangkitan Islami di wilayah tersebut  dan jatuhnya kediktatoran di Afrika Utara yang tergantung pada Amerika dan para anteknya rezim Zionis, sebagai sebuah kesempatan besar.

Kita dapat membantu memerbaiki “produktivitas politik” dari Gerakan Non-Blok pada pemerintahan global (global governance—Red). Kita dapat menyiapkan suatu dokumen historis yang bertujuan membawa suatu perubahan pada pemerintahan (global—Red) ini serta melengkapi perangkat administrasinya. Kita dapat merencanakan kerja sama ekonomi yang efektif dan mendefinisikan paradigma-paradigma bagi relasi budaya di antara kita sendiri.

Tak ayal lagi, mendirikan suatu sekretariat yang aktif dan bermotivasi dari organisasi ini akan merupakan suatu bantuan yang hebat dan signifikan dalam mencapai tujuan-tujuan tersebut.

Terima kasih.

ooOoo

 

Iklan

2 responses »

  1. We have learn good quality things right here. Certainly really worth saving for revisiting. I question how much energy putting to generate a really amazing educational web page.

    Redaksi Dasar Kita

    Raison Carnel Société d’Avocats, mohon maaf, pertama-tama kami menjawab dalam Bahasa (Indonesia language).

    Kedua, Anda ditandai oleh Akismet sebagai spam yang berasal dari spoorha@gmail.com. Dan kami percaya itu. Dan kami yakin bukan Anda yang menulis komentar di atas, tapi spam tersebut.

    Tapi bagaimana, bila kami “manfaatkan” spam ini (dengan sekaligus mengabaikan mereka) dan berkenalan langsung dengan Anda, Raison Carnel Société d’Avocats, karena Anda sebuah biro hukum. Artinya, sebuah kelompok orang-orang hukum–kaum cendekiawan–yang (kebetulan) menjalankan bisnis di ranah hukum.

    Blog kami, Dasar Kita, mengkhususkan diri menelisik bidang politik khususnya konstitusi dasar negara Republik Indonesia. Siapa tahu, Anda kelak punya klien yang beroperasi di Indonesia dan apa yang kami bahas di blog ini bisa menjadi salah satu referensi. Siapa tahu.

    Sekali lagi, Salam Kenal dan terima kasih.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s