Suriah: AS Bicara Senjata Kimia,

Sebuah Dalih untuk Perang

Analisis oleh Staf Fight Back! News

9 Desember 2012

.

Sumber:

http://www.fightbacknews.org/2012/12/9/syria-us-talk-chemical-weapons-pretext-war

Mengacu pada blog Vince Sherman: Return to the source beralamat:

http://return2source.wordpress.com/2012/12/09/syria-u-s-talk-of-chemical-weapons-a-pretext-for-war/

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita

.

Nyaris sepuluh tahun setelah invasi AS (Amerika SerikatRed) ke Irak, déjà vu (pengalaman berpikir bahwa sesuatu yang baru dialami sudah pernah terjadi sebelumnya—Red/The Free Dictionary by Farlex) itu berulang lagi.

Pekan silam, AS, Prancis dan sejumlah pemerintahan imperialis lainnya sekali lagi mengancam Republik Arab Suriah dengan intervensi militer.

Menggaungi retorika (ala—Red) pemerintahan Bush jelang perang di Irak, Menteri Luar Negeri Hillary Clinton dalam sebuah konferensi pers di Brusel membangkitkan ketakutan  bahwa Presiden Suriah Bashar al-Assad akan menggunakan senjata kimia untuk mengakhiri kerusuhan 21 bulan itu.

Begitu pula, Presiden Barack Obama, bicara tak mengenakkan mengenai “konsekuensi-konsekuensi” bagi pemerintah Assad bila senjata kimia digunakan.

Prancis dan Inggris juga bergabung dengan AS dalam desain retorika menjajakan-ketakutan (scare-mongering—Red/The Free Dictionary by Farlex) untuk membangun konsensus yang cepat dan panik bagi intervensi militer di Suriah.

Sederhananya, upaya-upaya untuk menjelek-jelekkan pemerintah Suriah didasarkan pada kebohongan.

Pemerintah Suriah tidak mengakui secara terbuka atas kepemilikan senjata kimia dan sebaliknya AS sampai sekarang tidak menawarkan satu pun bukti konkret.

Lamun, bila pemerintah Suriah memang memiliki senjata kimia, Menteri Luar Negeri Suriah menegaskan ulang pada 3 Desember bahwa mereka “tidak akan menggunakan senjata kimia, jika (punRed) memilikinya, terhadap rakyat sendiri dalam keadaan apapun.”

Ironisnya, pemerintah Suriah menyatakan kekuatirannya atas pemberontak dukungan-asing yang baru-baru ini melepaskan senjata kimia, dalam sepucuk surat kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Kementerian Luar Negeri (Suriah—Red) menulis, “Apa yang menimbukan perhatian (kami—Red) sehubungan beredarnya berita ini oleh media, adalah kekuatiran kami yang serius bahwa beberapa negeri yang membeking terorisme dan kaum teroris akan melengkapi kelompok-kelompok teroris dengan senjata kimia dan mengklaim bahwa pemerintah Suriahlah yang menggunakan senjata kimia.”

Sejak dimulainya kerusuhan pada Maret 2011, AS dan negeri-negeri imperialis lainnya mendukung secara materiil pemberontak dengan kekerasan yang berusaha menjatuhkan pemerintah Assad.

Prancis kini membeli persenjataan dan amunisi untuk para pemberontak dukungan-asing melalui Turki, dan AS memasok bantuan (bersifat—Red) mematikan untuk para pemberontak lewat para pemerintahan boneka seperti Arab Saudi.

Musim panas ini, mereka ingin melansir sebuah kampanye pengeboman yang dipimpin NATO, seperti pembunuhan di Libia tahun lalu, tetapi usulan zona-larangan terbang dihalangi oleh Tiongkok (Republik Rakyat Tiongkok—Red) dan Rusia.

Retorika berbahaya dari AS ini mencerminkan bertambahnya frustrasi Washington dengan oposisi Suriah tak terorganisasi, yang menderita kekalahan strategi militer dalam pertumpuran Aleppo awal musim gugur ini.

Apa yang dinamakan Tentara Pembebasan Suriah/TPS (FSA Free Syrian Army—Red), tentara gerilyawan pemberontak yang melawan pemerintah Suriah, telah mengasingkan kelompok-kelompok keagamaan dan etnik yang besar di Suriah, melalui serangan mereka atas target-target sipil dan itu merupakan seruan terbuka bagi intervensi militer Barat.

Selain itu, demonstrasi antiperang yang masif oleh rakyat di Turki membatasi kemampuan pemerintah Turki untuk intervensi secara militer atas nama TPS.

Sebagai contoh, serangan terakhir TPS untuk menguasai bandara internasional di Damaskus telah dihentikan, menurut  sebuah artikel oleh Xinhua, kantor berita Tiongkok. Lamun, media Barat—CNN, Fox News, BBC, MSNBC, dst—terus melaporkan bahwa keruntuhan rezim sebentar lagi.

Distorsi seperti ini memungkinkan pemerintah AS menggambarkan Assad sebagai yang bertambah nekat dan ingin menggunakan senjata kimia, sehingga (makin –Red) membakar seruan itu untuk intervensi militer yang lebih lagi.

Kenyataannya, mayoritas orang Suriah mendukung pemerintah Assad, menurut sebuah jajak pendapat pada 2012 yang didanai Yayasan Qatar.

AS dan para pemerintah Eropa Barat memandang pemberontak di Suriah sebagai sebuah gerakan prodemokrasi, seperti perjuangan pembebasan murni di Tunisia dan Mesir, sejak awalnya.

Sementara mereka (AS dan Eropa Barat—Red) mengklaim bahwa pemberontakan diawali dengan serangkaian  protes damai, bahkan Reuter dan Arutz Sheva—jaringan kantor berita proIsrael, antiSuriah—mengakui bahwa para pemrotes yang bersenjata membunuh pasukan keamanan Suriah dan membakar bangunan-banguan pemerintah dalam sepekan protes-protes awal itu.

Kenyataannya, pemberontak di Suriah tidak ada hubungannya dengan demokrasi, dan segala sesuatunya terkait dengan Washington yang (ingin—Red) menggulingkan sebuah pemerintahan yang melawan hegemoni AS di Timur Tengah.

Selama Perang Dingin, pemerintah Suriah beraliansi erat dengan Uni Soviet, dan pemerintah mengontrol banyak industri dan sumber-sumber daya negeri itu.

Bahwa AS dan para pemerintah Eropa Barat tidak peduli pada hak-hak demokrasi terbukti oleh dukungan mereka untuk menumpas para pemrotes di Bahrain, di mana para anggota keluarga kerajaan secara pribadi  mengambil bagian dalam penyiksaan atas lawan-lawan demokrasi.

Motif sesungguhnya bagi Barat untuk mendukung pemberontak adalah memeroleh akses ke tenaga kerja, pasar-pasar, sumber-sumber daya alam, serta untuk mendapatkan kontrol atas Timur Tengah.

Dukungan pemerintah Suriah untuk gerakan antiimperialis di kawasan tersebut menjadikannya target dari Washington.

Presiden Bashar al-Assad adalah pendukung setia Hezbollah di Lebanon dan perjuangan pembebasan nasional Palestina, membuat ia seorang lawan dari hegemoni AS di Timur Tengah.

Meski makin ditekan oleh Washington, Suriah dan Iran erat mendukung satu sama lain dan masing-masing saling menjujung hak untuk menentukan nasib sendiri.

AS dan Eropa Barat melihat kerusuhan sebagi sebuah kesempatan untuk menyingkirkan kunci kendala berperang dengan Iran, dan berharap dapat meng-install sebuah  rezim boneka yang akan mendukung kebijakan properang mereka

Sepuluh tahun lalu, pemerintah Bush secara histeris menabuh genderang perang terhadap Irak di bawah pretensi (dalih, bersifat pura-pura—Red/Badudu, 2005) bahwa Presiden Irak Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal.

Sementara di dalam negeri (AS—Red) sendiri hak untuk tidak sepakat (/membangkang, rights of dissident—Red) dibatasi melalui (perundang-undangan—Red) Patriot Act dan pengawasan domestik, mereka (AS—Red) berbicara tentang membawa ‘demokrasi’ ke Irak melalaui tank dan rudal jelajah. Kini, rakyat di AS menemukan diri mereka sendiri di dalam suatu iklim politik  serupa yang menggelisahkan, dengan pemerintahan Obama.

Pemerintah Suriah dijadikan momok  dengan dijuluki (demonized—Red) sebagai “brutal” dan “tiranis”, walau Assad terus mendorong untuk suatu solusi polititik oleh orang Suriah sendiri.

Dan sekarang, tabuhan genderang itu makin nyaring ketimbang sebelumnya melalui klaim gadungan bahwa militer Suriah akan menggunakan senjata kimia pada pemberontak.

Invasi Irak dan serangan atas Libia membuktikan bahwa hal (intervensi—Red) semacam itu bukanlah “intervensi kemanusiaan”.

Setiap kali AS menginvasi negeri lain, tidak pernah membawa kemerdekaan bagi rakyat dan selalu meninggalkan ribuan, kalau bukan jutaan orang yang meninggal.

Para aktivis dan organisator antiperang di AS harus menuntut, “Jangan Menggapil Suriah”.

ooOoo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s