Mengubah Sikap Menuju Sosialisme: Editorial Tahun Baru

dari

Return to the Source.

Oleh: Vince Sherman

.

Sumber: blog Vince Sherman Return to the Source, alamat

http://return2source.wordpress.com/2013/01/06/changing-attitudes-towards-socialism-a-new-years-editorial-from-return-to-the-source/

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita

.

Walaupun konsep generasi sering disalahgunakan oleh para sejawaran idealis sebagai pengganti analisis materialis atas perubahan besar dalam masyarakat, ada unsur kebenaran dalam ide bahwa seperangkat pengalaman dunia memengaruhi kepercayaan dan tindakan kaum muda.

Di dunia Barat, kelas berkuasa berupaya keras untuk “menyangkal” sosialisme—dan lebih spesifik Marxisme-Leninisme—dengan segala macam distorsi, kebohongan, dan kebatilan. Dengan  nyaris monopoli pada media berita dan akademisi, mereka berhasil mengobarkan perang ideologi terhadap sosialisme untuk mendampingi represi negara secara fisik atas kaum revolusioner di Amerika Serikat dan Eropa Barat.

Lamun, upaya-upaya mereka tidak selalu berhasil, dan seringkali di dalam sejarah, kaum muda dari kelas pekerja dan perguruan tinggi melihat  lewat propaganda dan mengakui pencapaian-pencapaian dari revolusi-revolusi sosialis dunia.

Mereka menggunakan revolusi-revolusi dan pengalaman-pengalaman ini sebagai inspirasi bagi perjuangan mereka sendiri melawan kelas berkuasa imperialis di dalam negeri mereka sendiri, dan mereka menarik (hikmah—Red) kekuatan melalui solidaritas internasional dengan rakyat tertindas di negeri-negeri lain yang yang memenangkan kemerdekaan mereka melalui revolusi.

Sesudah revolusi Oktober 1917 melalui Perang Dunia II, rakyat pekerja di AS—khususnya kaum muda—menarik inspirasi dari pengalaman rakyat Soviet yang membangun sebuah masyarakat baru di mana para pekerja dan kaum tani berkuasa. Mereka melihat suatu alternatif terhadap sistem opresi dan ekploitasi, dan  alternatif tersebut mendorong banyak (orang—Red) untuk berjuang melawan kapitalisme.

Demikian pula, seluruh generasi muda komunis—teradikalkan oleh pengalaman Gerakan Hak-Hak Asasi Manusia di AS dan pemberontakan-pemberontakan pada 1960-an—menarik inspirasi dari revolusi Tiongkok, perjuangan-perjuangan pembebasan antikolonial yang terjadi di Vietnam, Angola, Kuba dan negeri-negeri tertindas lainnya.

Tentu saja, pada setiap titik kala (juncture—Red) mereka bertemu oposisi ideologis dari dua front.

Kelas berkuasa menggunakan setiap kesempatan untuk memfitnah prestasi-prestasi massa pekerja dalam membangun sosialisme. Mereka akan menyebarkan disinformasi mengenai Uni Soviet (They would spread disinformation about the Soviet Union–Red) dan nyata-nyata membayar para akademisi, seperti Profesor dari Harvad Robert Conguest (like Harvard Professor Robert Conquest—Red), untuk  menulis polemik yang menyamar sebagai sejarah yang mendiskreditkan (menjelek-jelekkan—Red) sosialisme. Di mana pun ada setetes kebenaran dalam kritik mereka, di situ ada segalon kebohongan.

Dari front kedua di mana para revolusioner ini berhadapan dengan oposisi ideologis, sebenarnya adalah unsur-unsur kiri. Terperosok ke dalam opurtunisme dan idealisme, “kritik-kritik kiri” ini menggunakan fakta-fakta dan sumber-sumber dari kebanyakan sejarawan borjuis untuk keprigelan (craft/keterampilan—Red/Echols-Shadily, 2005; Endarmoko, 2006) kritik atas ‘sosialisme sesungguhnya ada’ (actually existing socialism; tanda petik dari kami untuk istilah Sherman iniRed) pada basis di mana revolusi-revolusi semacam itu “sesungguhnya bukanlah sosialis”.

Meruah (hailing/memanggil dari jauh—Red/The Free Dictionary by Farlex; Endarmoko, 2006) ke belakang bahkan lebih jauh dari Leon Trotsky, salah satu arsitek prinsip (dasar pendirian—Red/Badudu, 2005) dari antikomunis modern di dunia Barat, kaum kiri ini hanya berfokus pada kelemahan-kelemahan negeri-negeri sosialis, yang mereka besar-besarkan dengan membandingkan kehidupan privilese relatif mereka di negeri-negeri imperialis maju.

Sebagian besar mereka hanya hidup di bawah demokrasi liberal, mereka ini yang disebut kaum kiri, ajek terperanjat pada setiap laporan kaum borjuis—entah benar atau salah—bahwa para pembangkang di negeri-negeri sosialis direpresi, atau kemiskinan tetap berkanjang (persistent, gigih—Red).

Konteks dan penindasan global yang lebih besar dari imperialisme, bukanlah masalah bagi kaum kiri ini yang tetap puas di dalam kehidupan Barat mereka yang terisolasi itu untuk menuliskan pengalaman ‘sosialisme sesungguhnya ada’ sebagai “kapitalis negara” (“state capitalist”—Red).

Kejatuhan Uni Soviet lebih memerburuk kecenderungan ini, dengan banyaknya kaum Trotskyite dan kaum kiri-komunis yang percaya bahwa keruntuhan dari sebagian besar blok sosialis memertahankan fitnah mereka atas ‘sosialisme sesungguhnya ada’.

Bagi sebagian mereka, ini (kejatuhan Uni Soviet—Red) adalah salah satu sistem kapitalisme—kapitalisme pasar bebas (free-market capitalism—Red)—menggantikan lainnya, yang disebut kapitalisme negara.

Bagi sebagian lagi yang lain, seperti Organisasi Sosialis Internasional ( like the International Socialist Organization—Red) ini adalah sebuah peristiwa yang “membuat setiap sosialis sejati bersuka cita.” (1) Kiri antikomunis ini, seperti Michael Parenti menyebutnya di bukunya, Blackshirts & Reds, menyebabkan banyak yang disebut kaum kiri mengambil posisi sangat melampaui batas.

Bagi generasi muda kiri yang tumbuh pada 1990-an, kejatuhan Uni Soviet merupakan peristiwa politik sangat penting dalam membentuk kesadaran politik mereka. Olok-olokan mencela Marxisme-Leninisme yang menguntit—dari kiri ataupun kanan—mendorong mereka dengan kuat menjauhi “sosialisme sesungguhnya ada” menuju anarkisme atau reformisme, termasuk beberapa yang memilih Trotskyisme sebagai alternatif.

Jadi, banyak dari para aktivis yang datang pada usia (muda—Red) di tahun 1990-an itu percaya dan tetap percaya pada kebohongan-kebohongan antikomunis yang bercerita tentang negeri-negeri sosialis seperti Tiongkok, Kuba, dan Vietnam, dan secara terbuka memusuhi Marxisme-Leninisme.

Lamun, generasi revolusioner yang datang pada usia (muda—Red) tahun 2000-an di AS dan Eropa Barat—menyaksikan krisis ekonomi global yang terbesar sejak Depresi Besar (Great Depression—Red)—lebih terbuka dalam mengevaluasi-ulang sosialisme secara keseluruhan.

Setelah suatu periode di mana kelas berkuasa mendeklarasikan bahwa “Tidak ada alternatif” bagi kapitalisme, perhatian dan kesukaan kaum muda meningkat terhadap sosialisme.

Sebuah jajak pendapat oleh Pew Research Center yang dilansir pada Desember 2011 (A Pew Research Center poll published in December 2011—Red), menemukan bahwa kaum muda (18-29) lebih  menyukai sosialisme ketimbang kapitalisme dengan marjin dari 49 % sampai 46 %. Hal ini menunjukkan perubahan yang nyata dari generasi sebelumnya, dengan hanya 34 %  berusia 30 sampai 49 tahun yang menyukai pandangan sosialisme.

Tidak ada data yang menunjukkan sikap kaum muda terhadap negeri-negeri sosialis yang ada—Kuba, Tiongkok, Vietnam, Laos, dan Republik Demokratis Rakyat Korea (RDRK)—dan tak seorang pun bakal kaget saat menemukan pandangan ketidaksenangan yang besar atas negeri-negeri ini di antara penduduk umumnya di negeri-negeri Barat. Klaim penulis ini (Vince Sherman—Red) secara eksplisit bukanlah bahwa kaum muda makin meningkat bergerak menuju Marxisme-Leninisme.

Lamun, pengalaman-pengalaman  yang mendorong begitu banyak generasi lebih tua dari kaum kiri di AS dan Eropa Barat ke anarkisme dan reformisme tidak berandil pada kaum revolusioner yang datang pada usia (muda—Red) saat ini.

Pengalaman sosialisme pasar Tiongkok (lihat cuplikan tulisan Vince Sherman di hlm 10a atau klik ini–Red) mungkin bukan inspirasi bagi para aktivis Occupy Wall Street seperti Ted Offensive yang dilakukan para mahasiswa radikal pada 1960-an, tetapi cemohan-cemohan keji atas “sosialisme sesungguhnya ada”—dengan kata lain upaya-upaya sungguh-sungguh untuk membuktikan bahwa kebanyakan negeri-negeri sosialis adalah semata negeri-negeri kapitalis dalam penyamaran—telah berhenti, untuk sebagian besar.

Ini bukan untuk mengatakan bahwa oportunisme tidak menyelimuti sektor besar dari kaum kiri di Barat, di mana (blog yang sedang kami acu ini—Red) Return to the Source kerap menulis tentang hal terkait dengan memerhatikan antiimperialisme di Suriah (writes about frequently with regards to anti-imperialism in Syria—Red) dan Libia.

Memang, beberapa bagian dari kaum kiri di Barat tetap terikat pada andil mereka yang adil dalam menggebuk-Tiongkok (still engage in their fair share of China-bashing—Red).

Lebih jauh lagi, Revolusi Bolivarian di Venezuela yang masih berlangsung telah menginspirasikan banyak kaum muda revolusioner AS dengan memertimbangkan proses pembangunan sosialis.

Upaya-upaya Presiden Hugo Chavez dan rakyat Venezuela untuk membangun sebuah alternatif demokrasi radikal terhadap dominasi kapitalisme mengikuti tradisi revolusi sosialis pada abad ke-20.

Venezuela bukanlah sebuah negeri sosialis saat ini—dan mereka tidak mengklaimnya—tetapi mereka tak terbantahkan berada di jalur sosialis (it is undeniably on the socialist path—Red).

Seperti halnya semua revolusi sosialis, proses di Venzuela adalah unik sesuai kondisi negeri tersebut dan memiliki kemajuan (revolusi sosialis—Red) yang berbeda, tetapi memiliki alternatif fisik terhadap kapitalisme yang bagi kaum muda revolusioner dipandang sebagai sebuah petunjuk.

Penulis ini (Vince Sherman—Red) percaya bahwa kaum sosialis muda di AS bakal datang untuk melihat, secara dramatis berbeda dengan generasi sebelumnya, negeri-negeri sosialis dari abad ke-20.

Mereka akan memuji keberhasilan-keberhasilan, mengkontekstualkan kelemahan-kelemahan, dan di atas segalanya, menelaah dan memelajari dari pengalaman-pengalaman ketimbang mengabaikannya.

Argumen-argumen antikomunis klasik dari kelas berkuasa dan ‘kiri degenerasi’ (‘degenerate left’—Red) gagal total dalam berhadapan dengan imperialisme yang tak terkendalikan yang menandai abad ke-21.

Wikileaks harta karun rahasia negara, pada 2011 mengungkapkan  bahwa tidak ada pertumpahan darah (revealed in 2011 that there was no bloodshed—Red) pada apa yang disebut ‘tindakan keras’ Lapangan Tiananmen 1989. (Simak tulisan BJ Murphy di hlm  33c atau klik ini—Red)

Gerakan massa (Mass movements—Red) di Vietnam (Vietnam—Red) dan Kuba (Cuba—Red) untuk perkawinan gay, terang-terangan menyangkal citra negeri-negeri sosialis sebagai ‘totaliter’. (Untuk Vietnam simak tulisan Vince Sherman di hlm 29b atau klik ini dan hlm 30e atau klik ini—Red)

Bahkan korban meninggal yang dibesar-besarkan dari Uni Soviet sulit dikritik ulang dengan menghadapkan langsung ketika generasi kaum muda ini menyaksikan, dalam hidup mereka, setidaknya 1,2 juta orang terbunuh dalam perang AS di Irak saja (at least 1.2 million people killed by the US war in Iraq alone—Red).

Memandang apa itu imperialisme sebenarnya membuat orang mengerti betapa berbeda — dan jauh lebih baik — sosialisme itu sesungguhnya. Kebohongan-kebohongan dan distorsi-distorsi yang seluruhnya bersandar pada asumsi implisit bahwa kapitalisme Barat lebih baik dari sosialisme, dan dibutuhkan pencucian otak serta penyangkalan diri untuk mencapai kesimpulan tersebut.

Generasi para revolusioner yang baru ini mulai melihat melalui kotoran dan memahami kebenaran (beginning to see through the muck and grasp at the truth — Red).

Mengingat perubahan sikap dari kaum muda menuju sosialisme, kini saatnya untuk mulai berbicara secara terbuka tentang alternatif revolusioner.

Mereka harus melihat ke pengalaman unik dari lima negara sosialis yang ada (Kuba, Tiongkok, Vietnam, Laos, dan RDRK—Red) lantaran mereka (negeri-negeri sosialis ini—Red) bertarung untuk bertahan hidup dan tumbuh kembang, sekalipun dikelilingi oleh imperialisme.

Mereka harus mengambil inspirasi dan ajar dari revolusi yang sedang berlangsung di Kolombia, Filipina, Palestina, India , Venezuela, dan Nepal.

Tapi yang paling penting, mereka harus mengorganisasi tempat-tempat kerja, komunitas-komunitas, kampus-kampus untuk melawan imperialisme dan membangun perjuangan revolusioner melawan kapitalisme.

ooOoo

Catatan Redaksi Dasar Kita

Untuk alasan Redaksi memuat (dan membahasaindonesiakan) tulisan Vince Sherman ini silakan simak hlm 28 atau kilk ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s