Sosialisme Sesungguhnya Ada di Vietnam

.

Oleh Vince Sherman

.

 [2/2 — Red DK]

.

Sumber: blog Vince Sherman Return to the Source, alamat:

http://return2source.wordpress.com/2013/01/08/actually-existing-socialism-in-vietnam/

Dibahasaindonesiakan dan Dibagi atas 2 Bagian oleh Redaksi Dasar Kita

.

Serikat Buruh & Sosialisme Sesungguhnya Ada di Vietnam

Serikat Buruh di Vietnam merayakan Bulan Buruh.

Serikat Buruh di Vietnam merayakan Bulan Buruh.

Dalam persoalan serikat buruh, Konfederasi Jenderal Buruh Vietnam (KJBV/VGGL Vietnam General Confederation of Labor—Red) memainkan peran penting dalam mewakili kebutuhan dan keluhan sehari-hari dari para pekerja, termasuk juga bertindak sebagai wakil mereka pada masalah-masalah (terkait—Red) legislatif yang lebih besar.

Kritik sinis mengklaim bahwa serikat buruh di negeri-negeri sosialis bertindak sebagai stempel karet dari inisiatif pemerintah, tetapi Simon Clarke dan Tim Pringle dari Universitas Warwick, Inggris, menemukan bahwa sebaliknya yang terjadi.

Menulis sebuah studi banding antara serikat buruh di Vietnam dan Tiongkok (Writing in a comparison study between trade unions in Vietnam and China—Red) bertajuk ‘Dapatkah Partai membawa serikat buruh mewakili para anggotanya?’ (‘Can party-led trade unions represent their members?’—Red), Clarke dan Pringle menemukan:

“Sampai 2007 KJBV langsung terlibat dalam penyusunan draf seluruh legislasi (pembuatan undang-undang—Red/Badudu, 2005) perburuhan, dan tetap memiliki hak konsultasi secara hukum (statutory right of consultation—Red/Echols-Shadily, 2005).

Selama lima tahun terakhir KJBV telah mengambil posisi yang semakin mandiri dalam menekan pandangan sendiri terhadap pemerintah, terutama dalam mengkritik ketidakmampuan pemerintah menegakkan legislasi buruh, menekan (pemerintah—Red) untuk kenaikan upah minimum dan bersikeras pada retensi (memertahankan—Red/KBBI, 1996) hak mogok dalam revisi Peraturan Perburuhan tahun 2006.”

Bertentangan dengan propaganda yang diterbitkan media Barat (dan dilahap para kritikus kiri sesat [misguided leftist critics—Red]), pemogokan adalah legal di Vietnam, meskipun ada prosedur hukum formal yang diperlukan untuk melansir pemogokan.

Lamun, sebagian besar pemogokan di Vietnam, seperti Tiongkok, belum tentu sesuai hukum tetapi juga tidak terganggu atau dibubarkan oleh pemerintah. Clarke dan Pringle menulis:

“Menghadapi kerusuhan industri yang meningkat, serikat buruh dan partai-negara dipaksa kembali ke peran pemadam kebakaran. Di Vietnam kantor lokal (dinas setempat—Red) Kementerian Ketenagakerjaan dan Sosial (Kemnegsos/MOLISA Ministry of Labor and Social Affairs—Red) umumnya mengambil (posisi—Red) memimpin, membujuk manajemen untuk memenuhi tuntutan para pekerja, setidaknya sejauh pemogokan telah diprovokasi oleh pelanggaran hukum, sementara perwakilan KJBV lokal mendorong para pekerja untuk kembali bekerja sebelum pemogokan menyebar ke perusahaan-perusahaan tetangga.

Polisi juga akan dipanggil untuk menjaga ketertiban begitu para pekerja tumpah ke jalan-jalan. Jarang di situ ada tindakan polisi terhadap para pemogok, meskipun pemimpin pemogokan, jika diidentifikasi, selanjutnya dapat menjadi korban majikan.”

Pemogokan-pemogokan bahkan yang tidak sah, berfungsi sebagai pengecek gejolak yang kritis (critical pulse-checker—Red) atas sentimen massa dan kondisi ekonomi yang dihadapi oleh pekerja, dan hal itu (pemogokan dimaksud—Red) biasanya memprovokasi legislasi baru propekerja oleh Partai.

Dalam pengertian ini, sifat kelas sebenarnya dari negara Vietnam dinyatakan sebagai proletarian. Setelah itu semua, jika langkah-langkah negara untuk memediasi dan memaksa konsesi dari manajemen, durasi pemogokan secara alami akan dipersingkat. Kita simak lagi Clarke dan temuan Pringle:

“Pemogokan-pemogokan pada ledakan industri baru kapitalis di Tiongkok dan Vietnam terus meningkat dalam skala dan luasnya, sehingga ‘perundingan bersama menghadapi  kerusuhan’ (collective bargaining by riot—Red) (Hobsbawm 1964, hlm 6 -7) telah menjadi metode normal di mana pekerja membela hak dan kepentingan mereka.

Para pekerja telah mengembangkan ide yang sangat baik dari apa yang mereka bisa peroleh dan seberapa jauh mereka bisa bergerak, sehingga pemogokan dan protes yang tajam dan pendek itu telah menjadi cara yang sangat cepat dan efektif untuk memerbaiki keluhan mereka. “

Memang, hal ini membongkar kritik yang dikenakan terhadap negeri-negeri sosialis oleh banyak kritikus kiri, yang fokus pada keterbatasan legal dari pemogokan ketimbang pemogokan-pemogokan tidak sah dan bentuk-bentuk lain dari aktivisme (pengunaan langsung, seringnya aksi konfrontasi, seperti demonstrasi atau pemogokan, menentang atau mendukung kausa/penyebab—Red/The Free Dictionary by Farlex) pekerja. Untuk terakhir kalinya, kami mengutip kesimpulan Clarke dan Pringle:

“Keterbatasan hak untuk mogok sama sekali bukanlah sebagai faktor signifikan tidak adanya kebebasan berserikat dalam (hal—Red) menghambat aktivisme pekerja serta reformasi serikat buruh di Tiongkok dan Vietnam.

Isu pentingnya, bukanlah begitu banyak atau sedikit pemogokan legal seperti halnya efektif atau tidaknya. (Tetapi—Red) pemogokan-pemogokan di Tiongkok dan Vietnam telah terbukti menjadi metode yang sangat efektif bagi para pekerja untuk mencapai tuntutan segera mereka, sementara pihak berwenang menahan diri untuk menindas pemogokan kuatir memerburuk situasi dan menekan pengusaha sesegera mungkin memenuhi tuntutan para buruh, mencegah pemogokan menyebar. “

Setiap kali pemogokan berlangsung di negeri-negeri sosialis, para kritikus kiri cepat berdalih bahwa hal ini secara  inheren menunjukkan kepentingan antagonis negara dan pekerja. Berkali-kali, mereka mengaburkan persoalan riil yang sedang terjadi, bahwa tuntutan pekerja hampir selalu dipenuhi oleh negara. Hal ini, pada kenyataannya, pentingnya menyoroti konsep ‘sosialisme sesungguhnya ada’.

Bagi beberapa kritikus kiri, seharusnya tidak ada perjuangan kelas di bawah sosialisme. Setiap pekerja harus dalam keadaan kebahagiaan abadi, menurut pandangan mereka, karena bukti kondisi kerja yang buruk atau eksploitasi—biasanya dari perusahaan asing—adalah bukti bahwa negara yang dimaksud adalah bukan sosialis.

Sosialisme adalah suatu akhir yang tuntas, sebuah utopia (suatu sistem sosial politik yang sempurna yang hanya ada dalam khayalan karena sulit dan tidak mungkin diwujudkan dalam kenyataan—Red/Badudu, 2005).

 Secara intrinsik (terkandung di dalamnya nilai-nilai—Red/Badudu, 2005), ini adalah sebuah konsepsi idealis sosialisme yang tidak pernah akan memanifestasikan dirinya dalam realitas, selamanya.

Sosialisme hanya bernilai bila sesungguhnya eksis di dunia materi, maka ‘sosialisme sesungguhnya ada’. Perjuangan kelas berlanjut lantaran tindakan-tindakan yang perlu diambil untuk memerbaiki kehidupan rakyat tertindas, langkah-langkah yang sering membawa banyak hal-hal buruk (unsavory—Red), dan memang kontradiksi-kontradiksi, kapitalis. Lamun, perjuangan ini, tidak menyangkal eksistensi sosialisme. Pada kenyataannya, (malah—Red) mengkonfirmasi eksistensinya.

Kita belajar tentang karakter kelas yang esensial dari negara ketika memandang orientasi secara keseluruhan. Sebuah negara kapitalis tidak menengahi perselisihan antara serikat buruh dan manajemen dalam mendukung para pekerja. Pemogokan berlangsung singkat di negeri-negeri kapitalis karena mereka ditindas dengan kekuatan militer (force—Red/The Free Dictionary by Farlex). Negara kapitalis tidak mengizinkan serikat buruh untuk duduk di kursi pilot dalam membuat rancangan undang-undang perburuhan.

Tetapi semua hal ini terjadi di Vietnam. Ketika menyimak orientasi kelas dari negara, hal tersebut menentang semua logika dan bukti—dan jika para kritikus kiri Barat itu jujur dengan diri mereka sendiri, menentang pengalaman mereka sendiri dengan negeri-negeri kapitalis—untuk mengklaim bahwa Vietnam adalah sebuah negeri kapitalis.

Reformasi Pasar Sebagai sebuah Tuntutan Massa

Ada kesalahpahaman atas reformasi pasar sebagai fenomena murni top-down, ketimbang tuntutan aktual dari massa di Vietnam.

Sementara banyak dari kebijakan yang dibuat oleh PKV—partai yang sebagian besar terdiri dari kaum buruh dan tani—kebanyakan lahir sebagai tuntutan massa aktual yang  dibangkitkan dari desa dan kota.

Di Saigon, misalnya, para pekerja perkotaan (urban—Red) mulai merenovasi rumah mereka sendiri dan menciptakan pusat-pusat produksi pangan mereka sendiri untuk memenuhi tuntutan di mana ekonomi negara yang dilanda krisis tidak memungkinkan.

Meskipun perubahan ekonomi ini secara teknis ilegal, negara Vietnam tidak memiliki kepentingan untuk menindak mereka karena mereka memperkuat, bukannya melemahkan, sosialisme. Hayton mencatat:

“Rumah-rumah dan mata pencaharian itu adalah ilegal, tetapi jika negara menegakkan hukum hasilnya akan berupa kemelaratan dan ketidakstabilan. Sebaliknya, para rumah tangga dan negara mencapai kompromi yang pragmatis dan enak.

Pada 1989, berhubung perusahaan-perusahaan  milik negara dan militer  memberhentikan (pemutusan hubungan kerja—Red) satu setengah juta orang,  jalan-jalan pun ‘dibuka’ dan dimulailah revolusi jajanan-jalanan Vietnam (Vietnam’s street-food revolution—Red).

Para perempuan pemimpinnya.

Mereka mengambil kendali atas alat-alat produksi (means of production—Red): pembakar arang, panci besar dan beberapa bangku kayu (belakangan plastik) tak bersandar, dan mulai menghidupi diri dan keluarga mereka dengan menjual teh, sup mi-pho, mi-mini kebab bun cha, lau rebus, dan lain-lainnya semua bikinan sendiri kesukaan banyak orang, yang membuat makanan Vietnam kini menjadi cukup terkenal.

Usaha-usaha kecil yang sebelumnya akan cepat-cepat dan benar-benar diberi stempel (oleh negara—Red): keluar. Sekarang, perubahan dalam perilaku kebijakan membuat jelas bahwa mereka (negara) telah diberitahu agar membiarkan saja para perempuan itu. “

Reformasi pasar ekonomi menguntungkan pekerja perkotaan, khususnya para perempuan, dengan memungkinkan mereka untuk memenuhi tuntutan yang (tadinya—Red) tak terpenuhi karena masa krisis yang disebabkan oleh menurunnya bantuan.

Kebanyakan para pencela dari kaum kiri melihat reformasi pasar secara sederhana dari perspektif pimpinan puncak di PKV dan memandangnya sebagai suatu kebijakan yang dibuat oleh birokrasi Partai untuk membuat lebih banyak uang.

Dari pengalaman Saigon pada akhir tahun 80-an menunjukkan, tidak ada yang bisa lebih jauh dari kebenaran.

Sosialisme Sesungguhnya ada menemukan dirinya dalam batas-batas dunia yang didominasi oleh imperialisme. Setelah perpecahan Sino-Soviet dan jatuhnya Uni Soviet, perbaikan terus-menerus atas syarat-syarat material bagi massa dikompromikan, dan meskipun upaya terbaiknya, negara tidak bisa ajek memberikan layanan pada tingkat yang sama seperti mereka lakukan sebelumnya.

Berlangsungnya dendam (animus—Red) masyarakat yang inovatif, massa yang mendorong banyak hal dari reformasi pasar ini untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri secara langsung. Khususnya para perempuan yang mengemban tugas ini di akhir tahun 80-an, dan negara menghormati tindakan mereka sebagai pembangkangan sipil. Ini menunjukkan kesatuan kepentingan kelas antara massa dan negara, yang keduanya berorientasi pada kelas pekerja di Vietnam. Di dalamnya adalah esensi sosialisme sesungguhnya ada.

Biarkan Seribu Bunga Merekah: Protes & Kediktatoran Proletariat di Vietnam

Pertemuan Ho Chi Minh dan Mao Zedong

Pertemuan Ho Chi Minh dan Mao Zedong

Kaum Kanan (The Right—Red) mengandalkan citra negeri-negeri sosialis sebagai totaliter yang merupakan bahan bakar perang propaganda melawan Marxisme-Leninisme. Bahkan kaum kiri antikomunis—yang paling umum dalam bentuk trotskyit dan anarkis—sering menyatakan bahwa negara-negara sosialis yang ada membungkam perbedaan pendapat dan hal ini membuat mereka pasti bukan sosialis.

Terlepas pembacaan aneh atas sosialisme sebagai persoalan hak-hak sipil borjuis, kritik ini tidak memiliki dasar fakta aktual. Protes dan kritik memainkan peran penting dalam sosialisme sesungguhnya  ada, sekalipun peran yang sangat berbeda dari yang di bawah kapitalisme. Di mana pun (di bawah kapitalisme—Red) tidak ada semangat dan dinamisme protes serta kritik-kritik diri terlihat lebih menonjol ketimbang di Vietnam.

Dalam sebuah artikel untuk Asia Sentinel bertajuk “Protes-Protes yang Tidak-Begitu-Jarang di Vietnam”, (In an article for Asia Sentinel called “Vietnam’s Not-So-Rare Protests,”), reporter David Brown menggambarkan protes-protes sering terjadi di Vietnam pada segala macam isu. Ia mulai dengan mengutip Pasal 69 dan 79 Undang-Undang Republik Sosialis Vietnam, yang mengabadikan hak rakyat untuk kebebasan berbicara dan berkumpul, tetapi juga memerkuat tuntutan atas rakyat untuk menegakkan dan mematuhi hukum. Protes sering terjadi di Vietnam, meskipun (berbeda dengan—Red) apa yang diklaim para pencela dari kaum Kiri dan Kanan. Brown menulis:

“Selalu saja AFP, Reuters, Associated Press, dan lain-lain menggambarkan demonstrasi sebagai sesuatu yang ” langka “. Kantor-kantor berita itu salah. Meskipun jajak pendapat informal baru-baru ini dari para akademikus  spesialis Vietnam gagal memunculkan (pendapat—Red) mereka yang dijajaki secara cermat, sebuah konsensus dengan mudah terbentuk bahwa protes publik telah menjadi relatif umum di Vietnam. “

Negara memiliki pemahaman dialektis dari kedua artikel konstitusional ini (mungkin maksudnya paragraf I & II karya Mao berikut—Red) dalam tradisi “Tentang Penanganan yang Tepat Kontradiksi di antara Rakyat” Mao Zedong (“On the Correct Handling of Contradictions Among the People”) di mana protes dan demonstrasi muncul dari tuntutan nyata massa—ketimbang dari harapan kaum restorasi kapitalis dan upaya-upaya para kontra-revolusioner—harus didorong, dipromosikan, dan dihormati. Mao menulis:

“Orang mungkin bertanya, karena Marxisme diterima sebagai ideologi pembimbing oleh mayoritas rakyat di negeri kita, dapatkah ia dikritik? Tentu saja bisa.

Marxisme adalah kebenaran ilmiah dan tak takut dikritik. Jika tidak, dan jika bisa digulingkan oleh kritik, ia akan menjadi tidak berharga.

Faktanya, bukankah kaum idealis mengkritik Marxisme setiap hari dan dengan segala cara? Dan mereka yang menjadi tempat berlabuhnya kaum borjuis dan borjuis kecil dan tidak menginginkan perubahan, bukankah mereka juga mengkritik Marxisme dengan segala cara?

Kaum Marxis tidak perlu takut dikritik dari pihak mana pun. Justru sebaliknya, mereka menjadi marah dan perlu mengembangkan diri mereka sendiri dan memenangkan posisi baru dalam gigitan kritik di tengah badai dan ketegangan perjuangan.

Melawan ide-ide yang salah bagaikan divaksinasi—seseorang mengembangkan kekebalan tubuh lebih besar terhadap penyakit akibat vaksinasi.

Tanaman yang dibesarkan di rumah kaca tak akan bertahan. Melaksanakan kebijakan membiarkan seratus bunga merekah dan ratusan aliran pemikiran tidak akan melemahkan, tapi memerkuat posisi terpenting Marxisme di bidang ideologi. “

Kami menemukan bukti dari sikap PKV terhadap kritik dan perbedaan pendapat yang berprinsip oleh massa pekerja negeri itu, dalam pengumuman terbaru Partai untuk memertimbangkan legalisasi pernikahan sesama jenis.

Menurut Huffington Post (according to the Huffington Post), Kementerian Kehakiman Vietnam mengumumkan rencana untuk memasukkan pernikahan sejenis dalam sebuah undang-undang reformasi pernikahan baru yang diusulkan pada Juli 2012.

Sementara langkah ini meningkatkan kemarahan sinis ekspatriasi (tindakan seseorang untuk melepaskan kesetiaan pada negara—Red/Badudu, 2005) Vietnam di AS (has raised the cynical ire of Vietnamese ex-pats in the US), hal itu merupakan tanggapan terhadap bertumbuhnya gerakan hak-hak gay di Vietnam dan evaluasi ulang persoalan gay oleh partai-partai berkuasa Marxis-Leninis di seluruh dunia.

Jika proposal ini menjadi undang-undang, Vietnam akan menjadi negara sosialis pertama dan negara Asia pertama—dan hanya 12 negara di dunia—yang sepenuhnya melegalkan pernikahan sesama jenis.

Juga, sebuah artikel AFP pada 5 Agustus 2012 (an AFP article from August 5, 2012), menggambarkan parade megah dari kaum gay yang  pertama di Hanoi menyusul pengumuman Kementerian Kehakiman itu. Meskipun kecil, para aktivis dan penyelenggaranya tidak menghadapi represi negara dan merasakan dukungan luar biasa dari masyarakat Vietnam dalam menggelar ke publik hak-hak gay. Kami kutip sitiran singkat dari artikel:

“Parade megah kaum gay yang pertama di Vietnam komunis berlangsung di ibukota Hanoi pada hari Minggu dengan puluhan pengendara sepeda menampilkan aneka warna balon dan bendera yang berduyun-duyun melintasi jalan-jalan kota.

Diselenggarakan oleh komunitas kecil kota yang sedang bertumbuh Lesbian Gay Biseksual dan Transgender (LGBT), acara berangsung dengan damai tanpa upaya polisi untuk menghentikan konvoi warna-warni dari sekitar 100 aktivis meskipun tidak memiliki izin resmi.

‘Tidak adanya intervensi merupakan hal yang baik bagi Vietnam,’ ujar salah seorang penyelenggara, Tam Nguyen. “

Apakah disahkan atau tidak pernikahan sesama jenis yang masih di atas meja itu, tapi isu tersebut menyoroti hubungan antara Partai dan massa. Protes-protes yang memperkuat sosialisme dan posisi massa, diperbolehkan dan didukung.

Lamun, di sisi lain dari hal ini menyangkut kritik dan perbedaan pendapat dari nonMarxis.

Dalam karya yang sama, Mao menulis, “Apa seharusnya kebijakan kita terhadap ide-ide nonMarxis? Sejauh jelas kontra-revolusioner dan penyabot dari kausa (sebab yang menmbulkan suatu kejadian—Red/Badudu, 2005) sosialis menjadi konsideran, masalah ini mudah, kita tinggal menghalangi mereka dari kebebasan berbicara.”

Ini adalah fungsi proteksi dari kediktatoran proletariat—kekuatan kelas pekerja untuk menghancurkan agen-agen imperialisme, para pemungkas (wreckers—Red), dan kaum kontra revolusioner.

Bukti kediktatoran proletariat berlimpah di Vietnam. Selama serangkaian skala kecil perbedaan politik antara tahun 2006 dan 2007, negara Vietnam mengambil langkah-langkah untuk membedakan antara kritik yang ditujukan untuk meningkatkan sosialisme—dengan kata lain, kritik yang datang dari keinginan untuk persatuan—dan kritik dirancang merusak kekuatan pekerja. Hayton menulis:

“Peristiwa 2006-7 tampaknya telah menghasilkan modus vivendi (jalan tengah/penyelesaian sementara menjelang suatu pertikaian diselesaikan—Red/Badudu, 2005) baru antara pembangkang dan pasukan keamanan.

Para pembangkang yang ditangkap dan dipenjara tidak hanya mereka yang berpikiran pembangkang atau bahkan menulis tentang penguasa secara online. Mereka melanggar batas toleransi Partai dengan cara yang jauh lebih signifikan—terutama dengan melanggar monopoli organisasi politik dengan partai-partai independen dan para serikat buruh.

Mereka juga terlibat pada tingkat jauh lebih dalam dengan aktivis yang berbasis di luar Vietnam, mereka menerima uang dari kaum antikomunis di luar negeri dan mereka mencoba untuk membawa pesan kaum itu kepada rakyat —di universitas-universitas, pabrik-pabrik dan jalan-jalan Vietnam

Memang, di Vietnam hanya protes dan perbedaan pendapat yang menghasut dari luar negeri untuk tujuan merusak sosialisme, yang ditangani dengan kasar dan ditindas. “Para pembangkang yang tidak melakukan hal-hal ini—mayoritas adalah penandatangan manifesto asli—mungkin telah dilecehkan atau diinterogasi oleh polisi, tetapi mereka tidak dipenjara,” menurut Hayton.

Hal ini juga (berarti—Red) sama-sama mengikuti tradisi politik Mao, (beliau—Red) yang kemudian  menulis dalam karya yang sama (seperti disinggung di atas—Red):

“Ada juga sejumlah kecil individu dalam masyarakat kita yang mencemoohkan kepentingan publik, sengaja melanggar hukum dan melakukan kejahatan. Mereka cenderung untuk mengambil keuntungan dari kebijakan kami dan mendistorsinya, dan sengaja mengajukan tuntutan tidak masuk akal untuk menghasut massa, atau sengaja menyebarkan gosip untuk membuat masalah dan mengganggu ketertiban umum.

Kami tidak mengusulkan untuk membiarkan orang-orang ini memiliki cara mereka.

Sebaliknya, tindakan hukum yang tepat harus diambil terhadap mereka. Menghukum mereka adalah permintaan dari massa, dan itu akan bertentangan dengan kehendak rakyat jika mereka tidak dihukum. “

Para pembangkang yang mendapat perhatian besar di Barat adalah mereka yang berusaha untuk memulihkan kapitalisme di Vietnam, seperti Bloc 8406 yang memeroleh notoritas (kemasyuhuran karena sesuatu yang kurang baik—Red/Echols-Shadily, 2005) pada 2006.

Hayton mendedikasikan satu bagian substansial dari bukunya untuk menggambarkan jatuh bangunnya hal ini yang disebut gerakan dan mengapa ia (gerakan tersebut—Red) gagal untuk mendapatkan satu pun daya tarik substansial.

Bahkan estimasi kaum liberal atas keanggotaan Bloc tersebut adalah “sekitar 2.000 pendukung terbuka dalam negeri, kira-kira satu dari 40.000 penduduk Vietnam.”

Media AS dan Eropa memuji gerakan pateteis (menyedihkan—Red/Endarmoko, 2006) ini, yang kekurangan basis massa sebagai sebuah gelombang reformasi senada Solidaritas (gerakan di Polandia dulu—Red) yang merupakan front CIA yang menggulingkan Republik Rakyat Polandia. Hayton membuyarkan perbandingan itu di wajah mereka:

“Perbandingan idealistis mereka [Bloc 8406] dengan Polandia dan Solidaritas adalah salah alamat.

Pada 1980-an, ekonomi Polandia stagnan. Vietnam bertumbuh; Solidaritas mendapat dukungan dari Gereja Katolik tetapi tidak ada dukungan massa setara di Vietnam, dan para aktivis keduanya (Polandia dan Vietnam—Red) tidaklah sama—(di Polandia—Red) para anggota serikat buruh galangan kapal tidak sebanyak para pengacara ibukota. Keduanya tidak memiliki akar komunitas yang sama

Kesejajaran gerakan di Polandia pun kurang  dibandingkan dengan Cekoslovakia. Gerakan pembangkang Ceko, kelompok yang dikenal sebagai Charter 77, terdiri intelektual vokal yang tetap terisolasi dan tidak dikenal oleh massa penduduk sampai kepemimpinan Partai akhirnya retak pada 1989. “

Kaum idealis kiri yang menyerang Vietnam dan negeri-negeri sosialis lainnya sering melihat ke gerakan pembangkangan sebagai bukti alamiah penindasan negara, tetapi dengan begitu, mereka mengabaikan tingkat isolasi yang hebat dari para pembangkang ini terhadap massa yang sangat mendukung pemerintah Vietnam.

Selain itu, mereka mengabaikan praktik-praktik imperialis yang terang-terangan,  antisosialis, dan benar-benar ilegal serta percaya pada ‘kelompok-kelompok  oposisi’ ini.

Salah satu yang ‘terbesar’ dari kelompok-kelompok konstituen Bloc 8406 adalah sebuah faksi kecil aneh secara keliru disebut Partai Progresif Nasional Vietnam  (PPNV)(VNPP Vietnam National Progresive Party—Red).

Hayton menggambarkan seruan mereka untuk serikat buruh yang independen ‘oportunistik’ karena “platform sementara mereka sedikit membicarakan tentang hak-hak pekerja. Memang, satu-satunya hal yang dikatakan mereka dalam persoalan ekonomi adalah bahwa mereka akan ‘menetapkan ulang dan melaksanakan hak penuh dan sah Rakyat Vietnam untuk kepemilikan pribadi’, yang disarankan  bahwa hal itu mungkin lebih menguntungkan kepentingan pemilik modal ketimbang kaum proletar.”

Walaupun tidak semua protes dan seruan untuk reformasi yang antikomunis dan proimperialis berada di negara-negara sosialis, kelompok-kelompok ini sering diorganisasi dan didukung oleh AS dan Eropa Barat untuk mendorong agenda prokapitalis.

Bahwa kelompok-kelompok ini hanya menghadapi represi ketika mereka secara aktif diorganisasi adalah bukti atas tingkat perbedaan pendapat dan perdebatan yang dibolehkan di sebuah negeri seperti Vietnam. Hayton dengan bagus meringkas hubungan antara negara Vietnam dan disebut gerakan pembangkang itu:

“Paranoia pihak berwenang tidak sepenuhnya salah. Berbagai pengikut fanatik yang berbasis di AS, secara periodik menyelenggarakan rencana otak-udang (hare-brained plans—Red/mengacu The Free Dictionary by Farlex) untuk menghasut pemberontakan di Vietnam.

Rencana mereka ini telah meremehkan baik terhadap kontrol pasukan keamanan maupun kesetiaan sebagian besar orang Vietnam pada negeri mereka.

Sebagian besar rakyat, dalam kenyataannya, relatif senang dengan banyaknya peningkatan (hidup—Red) mereka dan cukup bahagia menjadi warga negara yang setia dari Republik Sosialis itu.

Tapi, mereka  [pembangkang berbasis di luar negeri], dari sudut pandang sendiri yang jauh, para pelarian itu  meyakinkan diri bahwa hal ini mesti merupakan hasil dari propaganda dan bahwa jika saja mereka bisa mematahkan cengkeraman pada media, Partai Komunis akan digulingkan. “

Apa yang banyak kritikus kiri tampaknya tidak bisa menangkap adalah mengenai aturan massa di negeri-negeri sosialis seperti Vietnam.

Seperti para pembangkang asing yang tak memiliki rasa sentuhan (out-of-touch atas Vietnam—Red) ini, mereka meyakinkan diri bahwa propaganda yang mereka dengar adalah benar dan mereka berfokus semata pada perubahan kosmetik dalam masyarakat Vietnam.

Ya, di sana ada sektor swasta. Ya, di sana ada represi negara atas beberapa perbedaan pendapat. Tapi dengan gagalnya mengontekstualisasikan fakta-fakta ini, mereka mengaburkan sifat kelas yang riil dari Vietnam, yang diperintah oleh dan berorientasi pada kelas pekerja.

Apa Arti Sosialisme Sesungguhnya Ada bagi Kaum Sosialis di AS?

Sosialisme pasar tidak sempurna dan tentu tidak lazim. Beberapa orang mungkin menyebutnya revisionis. Poin penting adalah untuk mengkontekstualisasikan kekurangan dan kelemahan sehingga kita dapat memahami dari mana asalnya.

Sosialisme sesungguhnya ada akan selalu jatuh tak jauh dari sosialis ideal lantaran justru yang ideal diterapkan dalam batas-batas realitas. Syarat-syarat obyektif membatasi syarat-syarat subyektif yang kaum revolusioner dapat ciptakan, dan syarat-syarat obyektif Vietnam menjadi jauh lebih sulit setelah 1991.

Namun demikian, sosialisme terus hadir dan makmur di Vietnam.

Bagi para siswa (studi—Red) Marx, cacat dan kesenjangan masih hadir di masyarakat Vietnam seyogianya memicu kata-kata Marx sendiri dalam Kritik atas Program Gotha (Critique of the Gotha Programme—Red) di mana ia menggambarkan  tahap ‘terendah’ sosialisme:

“Apa yang kita bahas di sini adalah sebuah masyarakat komunis, bukanlah dikembangkan  pada dasarnya sendiri, tetapi, sebaliknya, justru ia muncul dari masyarakat kapitalis; yang dengan demikian dalam segala hal, ekonomi, moral, dan intelektual , masih dicap dengan tanda lahir dari masyarakat lama, dari rahim mana ia  muncul. Dengan demikian, produsen individual menerima kembali dari masyarakatsetelah dilakukan pemotongan—persis apa yang dia berikan untuk itu.

Namun cacat-cacat ini tak terelakkan dalam tahap pertama masyarakat komunis karena saat itu baru saja muncul setelah kesakitan bersalin yang berkepanjangan dari masyarakat kapitalis. Kaum Kanan tidak pernah bisa lebih tinggi dari struktur ekonomi masyarakat dan pengembangan budayanya yang disyaratkan demikian. “

Vietnam adalah sebuah nasion yang terjajah, tertindas, dipartisi secara paksa oleh kekuatan-kekuatan imperialis Barat.

Setelah dipartisi, nasion itu mengalami serangan ganas oleh militer AS selama lima belas tahun, dan melawan segala rintangan, rakyat Vietnam mengalahkan imperialisme.

Dipukuli dan babak belur, tapi tidak patah, PKV memimpin bangsa ke depan keluar dari krisis ekonomi ganda untuk membangun masyarakat yang lebih baik, lebih demokratis diperintah oleh kelas pekerja.

Realitas jatuhnya Uni Soviet, dampak lanjutan dari Perang Vietnam (Agent Orange, khususnya), dan pengepungan mereka oleh kekuatan-kekuatan imperialis memaksa revolusi Vietnam untuk membuat beberapa taktis, strategi mundur ke reformasi pasar. Dengan reformasi ini, Vietnam telah mempertahankan integritas struktural berbasis kelas sosialisme dan memerbaiki syarat-syarat hidup untuk hampir 88 juta orang.

Bagi kaum sosialis di Amerika Serikat, membela sosialisme Vietnam sangat penting. Vietnam merupakan pembangkangan terus berlanjut atas imperialisme, dan mereka hadir sebagai sebuah simbol harapan bahwa dunia yang lain—yang lebih baik—adalah mungkin.

Meskipun Vietnam tetap sebuah negeri miskin dan contohnya tidak seinspiratif-dinamis seperti  Uni Soviet pada 1920-an atau Tiongkok pada 1960-an, kaum sosialis di AS harus menggunakan pengalaman Vietnam ketika menjelaskan aspek-aspek positif dari pemerintah oleh dan untuk pekerja, yaitu sosialisme.

Pada saat serikat buruh di AS menghadapi pemusnahan oleh para gubernur negara bagian (berhaluan—Red) sayap kanan, sedekah perusahaan yang menyamar sebagai ‘reformasi perawatan kesehatan’, dan pendanaan pendidikan publik akan dikurangi sampai tulangnya (slashed to the bone—Red), sosialisme sesungguhnya ada di Vietnam menyediakan what-if dari sesuatu yang sangat kuat (a powerful what-if—Red) bagi para pekerja untuk dipertimbangkan.

Dirgahayu Revolusi Vietnam!

 ooOoo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s