Memeringati Hari Buruh 1 Mei 2013

 

Imperialisme versi James Petras-Coen Husain Pontoh:

Sibuk  ‘Memahami Dunia’,

‘Otokritik’ bagi Sang Tuannya, Imperialis?

.

‘Perjuangan Kelas’ Minus Kediktatoran Proletariat

.

(Bagian Pertama dari Dua Tulisan)

.

.

Tadinya, jelang atau pas Hari Buruh Redaksi bermaksud menurunkan risalah untuk menyambut hari para pekerja, kaum penjual tenaga kerja sedunia itu.  Lamun Redaksi gagal menemukan kabar maupun tulisan terkait yang inspiratif.

Padahal, Redaksi prihatin sekaligus “gemas” melihat sebagian kaum buruh kita yang sama sekali tidak menyentuh hulu dari karut-marut negeri ini: konstitusi awal kita (UUD 1945) yang bermahabencana  (baca: UUD 2002/niramendemen UUD45) notabene hasil intervensi kaum pembohong dan agresor (pinjam Robert Mugabe, Presiden Zimbawae, di SU PBB 2011—silakan klik hlm 14a), alias kaum imperialis beserta para begundalnya. (Simak pula hlm 21a).

Sebagian kaum buruh itu, masih pertama-tama menyoalkan kenaikan upah buruh. Masih saja  perjuangan mereka mengemuka dengan ekonomisme.

Hal yang, hemat Redaksi, meski berdalih kesejahteraan buruh—mengacu historis kita sendiri maupun di berbagai belahan dunia—sangat rentan menjauhkan mereka dari hakikat perjuangan kaum buruh. Mengucilkan kaum buruh dari esensi perjuangan untuk ikut berandil bagi sebuah nasion yang lebih baik ke depannya: perjuangan politik.

Gerakan “Getok Monas” tahun lalu, misalnya, yang menyebabkan para pengusaha di beberapa kawasan industri Jakarta dan sekitarnya kehilangan triliunan rupiah, bisa jadi bagi sebagian buruh itu adalah sebuah “keberhasilan” dalam menentang kapitalisme.  Padahal sejatinya mereka sedang melakoni sebuah perjuangan apolitis. (Simak hlm 24d). Atau malah bisa jadi, inilah tujuan akhir. Sebuah kekuatan politik signifikan negeri ini sedang dilumpuhkan oleh kekuatan politik riil lain lagi yang … paralel imperialis.

Sementara pada saat bersamaan pendekatan “ganyang kapitalis” tersebut makin sangat serius dipertimbangkan secara diametral oleh kaum Marxis-Leninis abad ke-21 ini, ketika reformasi pasar sedang  berlangsung di negeri-negeri yang dinamakan, pinjam konsep Vince Sherman, “sosialisme sesungguhnya ada”.

RRT Republik Rakyat Tiongkok, salah satu di antara negeri-negeri dimaksud, yang ekonominya tak lama lagi akan menduduki posisi nomor wahid dunia (simak hlm 27b), memiliki rekam jejak fenomenal: setidaknya 662 juta orang terangkat dari kemiskinan ekstrim dalam kurun kurang dari 3 dasawarsa (simak risalah John Ross hlm 41a).

Sebaliknya, Vietnam yang masih tergolong negara miskin dan tidak “segegap-gempita” RRT, dengan tetap berpegang (seperti halnya RRT) pada kediktatoran proletariat, tingkat penganggurannya praktis nihil—kecuali para pekerja yang sedang pindah kerja.  Dan yang sangat menarik demo buruh pun bukanlah hal tabu bagi pemerintah, justru dipandang untuk memerkuat tujuan bersama, sebuah masyarakat sosialis. (Simak hlm 30e).

Sehingga, kegemasan Redaksi bertambah ketika sebagian buruh itu berencana menggelar demo besar-besaran dengan sekian ribu buruh di jantung Jakarta pada Hari Buruh itu.

Lamun, niat Redaksi untuk meladeni kegemasan itu baru terlaksana sekarang.

Tulisan yang sedang Kawan Pembaca Budiman simak ini, bisa hadir berkat risalah Coen Husain Pontoh bertajuk  Imperialisme, Motor Penggerak Sejarah Kontemporer dengan subjudul Tinjauan atas Pemikiran James Petras. Risalah (selanjutnya Redaksi singkat  IMPSK) yang termuat di INDOPROGRESS, Jurnal Pergerakan Progresif, Edisi III, Januari 2013. Diperoleh Redaksi (medio Mei 2013, Rp 40.000) di toko buku besar terkenal kawasan timur berbatasan Jakarta Pusat.

Indikasi Kuat: Memusuhi Marxisme di dalam Marxisme itu Sendiri

Tak ayal lagi, tulisan IMPSK yang Redaksi sebut sebagai imperialisme versi James Petras-Coen Husain Pontoh tersebut dari pemahaman Redaksi sulit untuk tidak dikatakan terindikasi kuat termasuk dalam karya-karya kaum revisionis.

Kaum yang, dalam istilah Lenin, “memusuhi Marxisme di dalam Marxisme itu sendiri” (selanjutnya Redaksi singkat m2M; simak hlm 21b). Atau di awal abad ke-21 ini oleh Marxis-Leninis Vince Sherman disebut fungsi mereka secara de facto adalah sebagai “perisai-kiri imperialisme” (left-cover for imperialism; selanjutnya Redaksi singkat PIKI; silakan simak hlm 17a).

Redaksi sebut “terindikasi kuat” lantaran blog ini, sebagai sebuah media pewarta warga, tidak memiliki kompetensi untuk menunjukkan secara ilmiah posisi mereka sebagai kaum revisionis. Meski Redaksi berani pastikan dan tegaskan bahwa IMPSK sangat kuat bergantung pada sumber-sumber borjuis sambil m2M.

Sebuah sikap yang pernah Redaksi tunjukkan ketika menanggapi buku (sebatas Kata Pengantar) karya Olle Törnquist Penghancuran PKI. (Silakan simak hlm 24a).

Sehingga yang Redaksi bisa lakukan adalah menunjukkan satu dua indikasi kuat IMPSK  sebagai sebuah karya kaum revisionis yang m2M: menggunakan pemahaman Marxisme untuk pada akhirnya berseberangan dengan Marxisme, memusuhi Marxisme itu sendiri—secara subtil, “santun-ilmiah”.

Coba kita simak.

Redaksi mulai dari subtajuk Penutup IMPSK (hlm 192). Pasalnya, Coen di sini menyediakan beberapa  “petunjuk” menarik bagi indikasi-indikasi kuat itu.

Pertama, Coen menyambut positif Petras:

“Studi Petras tentang imperialisme tak pelak memberi kita perspektif yang segar mengenai proses akumulasi kapital di tingkat global.” (IMPSK hlm 192).

Pernyataan Coen ini, bagi Redaksi adalah indikasi kuat (pertama) dimaksud.

Masalahnya, tajuk IMPS itu sendiri adalah sebuah judul sangat pas atas isinya sebuah telaah ilmiah—yang, sekali lagi, bergantung kuat pada sumber-sumber borjuis sambil m2M—atas terminologi imperialisme; menjadikan lema imperialisme pada ujungnya sebuah entitas yang tidak perlu memertimbangkan  “aksioma geometris doktrin Marxian”-nya  Lenin (simak hlm 21b).

Lantaran imperialisme versi Petras-Coen ini adalah  “Motor Penggerak Sejarah Kontemporer Dunia”, sebuah dunia yang kaum itu (sadar tidak sadar) tidak pedulikan sedang mengggahi alam,  “dipaksa statis” oleh imperialisme itu sendiri, persis seperti di era praCopernicus, matahari mengorbit bumi.  (Temuan ilmiah Copernicus ini oleh John Ross digunakan untuk menunjukkan keberhasilan RRT menolak kebijakan neoliberal; simak lagi hlm 27b juga pada risalah Redaksi di hlm 27a).

Elaborasi atas definsi imperialisme, terkesan kuat bagi Redaksi, sedang mengutak-atik istilah tersebut secara ilmiah (borjuis yang m2M itu), jadinya sibuk  “memahami dunia”: menginterpretasikan dunia dalam berbagai cara–Tesis ke-11 Marx kepada Feuerbach; simak catatan kecil Kedua di bawah ML hlm 2b).

Sehingga Redaksi bertanya-tanya.

Tuluskah studi kaum ini untuk kepentingan perjuangan kelas proletar melawan imperialisme?

Ataukah, jangan-jangan sejatinya sebuah ‘otokritik’ dari kaum PIKI bagi sang tuannya, imperialis, dengan arit pembuka-studi m2M?

Soalnya lagi, kepedulian sejati, urusan “merubah dunia” (ibid Tesis ke-11 Marx) ternyata hanya disinggung singkat  itu pun dalam subtajuk Penutup IMPSK yang menekankan pentingnya perjuangan kelas dan merebut arena negara.

Lamun, bagi Redaksi, pentingnya yang bagaimana perjuangan kelas yang kaum ini maksudkan, ketika …

Ini indikasi kuat kedua …

Dari IMPSK, terkesan sekali kaum ini “tiba-tiba sadar” bahwasanya yang namanya imperialisme itu “…menghilang dari halaman-halaman jurnal-jurnal kaum Marxis di era 1990-an. …” (IMPSK, hlm 169).

Pertanyaan sederhananya, lalu bagaimana jadinya dengan perjuangan kelas oleh kaum ini pada saat itu, khususnya pada sesudah era 1990-an itu, ketika berhadapan dengan kapitalisme sebagai tahap tertinggi imperialisme—seperti tajuk salah satu buku kondang Lenin? Kok sebuah doktrin penting Marxian bisa ‘muncul-tenggelam muncul-tenggelam’? Mungkin jawabannya bisa ditemukan dengan bantuan tanya-canda khas Betawi, “Kemane aje ente?”

Dan, Redaksi bayangkan, lantaran menganggap pertanyaan cemek, remeh-temeh dari pewarta warga “bukan orang sekolahan” ini, mereka pun akan menyahut dan diimbuhi betawian pula,

kaga, ngga kemane-mane cuman ‘diganti oleh tema-tema baru seperti posmodernisme, pasca-kolonialisme, multikulturisme, dan (paling baru?—Red DK) hegemonik, globalisasi dan antiglobalisasi’ … lagian  koran-korannya juga udeh pade engeh  ‘Namun, menjelang dan sesudah invasi AS ke Afghanistan dan terutama Irak, wacana imperialisme kembali menyeruak. Bahkan media-media berpengaruh di AS seperti, the New York Times, the Wall Street Journal, tak lagi tabu memancang kata ini di halaman utamanya”  (IMPSK, hlm 170)”.

“Sahutan” yang malah menunjukkan, untuk tidak mengatakan membuktikan indikasi kuat m2M, ‘otokritik’ kaum PIKI itu bagi kaumnya. Terlebih bagi sang tuannya berikut ‘bala nyamuk pers’-nya yang selama ini setia (atau setidaknya ber-cover both side bersendi HAM-demokrasi versi sang tuan) ikut melancarakan public relation assault (Stephen Gowans; simak hlm 20c) atas Dunia Ketiga (berhasrat kuat berjati diri) lebih-lebih pada negeri-negeri termasuk ‘sosialisme sesungguhnya ada’.

Dan makin berandang ‘muncul-tenggelam muncul tenggelam’ itu ketika Coen memberikan argumen mengapa ia kesengsem dengan Petras:

“Petras penting dibicarakan karena merupakan salah satu pemikir progresif yang paling getol mengembalikan seluruh perbincangan mengenai struktur kekuasaan global dari kacamata imperialisme.”  (IMPSK, hlm 170-171, cetak tebal dari kami—Red)

Lantas, ini indikasi kuat ketiga …

Pentingnya yang bagaimana pula yang namanya merebut arena negara itu, “we cannot change the world without taking power”, ketika …

Lagi-lagi m2M dalam kalimat Inggris akhir-penutup IMPSK tersebut seolah menunjukkan militansi, keprogresifan seorang “Marxis” Indonesia di mata tingkat dunia kaum itu—kaum “kiri” kita pun ikut-ikutan pencitraan.

Tetapi Redaksi berani pastikan, kaum ini tidak akan mufakat sama sekali …

Apabila kaum Marxis-Leninis abad ke-21 menyakini bahwa hari-hari ini ada kelas proletar di negeri-negeri tertentu yang berhasil mengambil alih kekuasaan dari imperialisme dan sedang menjadi “motor penggerak sejarah kontemporer dunia” melalui masyarakat sosialis menuju masyarakat ideal komunis yang berangkat bukan dari impian kosong, bukan dari gagasan-gasasan di isi kepala …

Tapi dari basis (base mendahului superstructure) dominasi relasi produksi kapitalis (formasi sosial kapitalistis, pinjam Arief Budiman, simak hlm 2a) yang berhasil direvolusikan menjadi basis dominasi relasi produksi sosialis (formasi sosial sosialistis, ibid Arief Budiman) berlanjut “dimantapkan” dengan “reformasi pasar”—sambil ajek mengandalkan kekuasaan proletar, kediktatoran proletariat, sang pengambil kekuasaan, penjaga dan penjamin jalannya sosialisme (di dunia yang didominasi imperialis) sekaligus pemimpin demokrasi.

Bukan demokrasi yang penjelasannya diawali kalimat tanya Petras-Coen yang makin mengindikasikan dengan kuat kerevisionisan kaum itu:

“Dalam hubungan internasional yang imperialistik seperti itu, bagaimana kita memandang dan kemudian menempatkan demokrasi?” (IMPSK hlm 188).

Tapi demokrasi yang negeri-negeri itu definisikan sendiri, seperti kalimat penutup tulisan Amouz Enampuluh Tahun Berlalu, Kesedihannya Bertambah Sedih-Kematian Benazir di Krisistan (simak hlm 18b),

“Artinya, yang namanya “demokrasi”, “kebebasan berbicara”, “HAM”, adalah hasil definsi kita sendiri, bukan berasal dari penjahat akbar, sang imperialis—dengan ‘teori-teori’ itu.”

Negeri-negeri yang, sekali lagi,  oleh Sherman tercakup dalam konsep “sosialisme sesungguhnya ada”: RRT, Republik Demokratis Rakyat Korea, Vietnam, Kuba termasuk Laos.

Yang oleh Sherman diberi (salah satu) argumen,

“Sosialisme hanya bernilai bila sesungguhnya eksis di dunia materi, maka ‘sosialisme sesungguhnya ada’. Perjuangan kelas berlanjut lantaran tindakan-tindakan yang perlu diambil untuk memerbaiki kehidupan rakyat tertindas, langkah-langkah yang sering membawa banyak hal-hal buruk (unsavory—Red), dan memang kontradiksi-kontradiksi, kapitalis. Lamun, perjuangan ini, tidak menyangkal eksistensi sosialisme. Pada kenyataannya, (malah—Red) mengkonfirmasi eksistensinya.” (Simak hlm 30e).

Dan, sekaligus, dengan mengacu konsep “sosialisme sesungguhnya ada” ini, satu lagi indikasi kuat lainnya yang langsung mengarah pada sang narasumber tulisan Coen: James Petras.

Petras yang dalam tulisannya China: Rise, Fall and Re-Emergences as a Global Power: Some Lessons from the Past (silakan klik http://petras.lahaine.org/?p=1890), bagi Redaksi, sangat jelas penilaiannya atas RRT: negara kapitalis.

Sehingga, bukan kejutan RRT di mata Petras dipandang sedang berjaya malah sedang mengulangi kejayaan masa lalu: kekaisaran Tiongkok.

Padahal pendekatan utama Petras ini—yang tercermin dalam tajuk tulisannya itu—sudah ditolak Marx dan Engels di dalam Manifesto Partai Komunis (MPK):

“Karena itu, di dalam masyarakat borjuis, masa lalu menguasai masa kini; di dalam masyarakat komunis, masa kini menguasai masa lalu. Dalam masyarakat borjuis, kapital adalah bebas, independen, sementara orang yang hidup, living person, [justru] tidak bebas, [dependen] .”

Redaksi coba tangkap dan kembangkan lanjut ungkapan di MPK tersebut dalam konteks risalah Petras dimaksud: bahwa dalam masyarakat RRT kontemporer (bukan kekaisaran Tiongkok), kapital “dibuat” tidak bebas” dan “tidak berkepribadian” oleh kepemimpinan diktator proletar menuju masyarakat komunis yang terdiri dari “orang-orang yang hidup, yang bebas, dan punya kepribadian”, di mana pada saat masyarakat itu dicapai, proletariat, kutip MPK di bagian lain, akan menghapus supremasinya sendiri sebagai sebuah kelas.

Ya, m2M  di sini, di IMPSK ini, sesungguhnya mengambil bentuk: ‘perjuangan kelas’ minus kediktatoran proletariat.

Sehingga, IMPSK yang m2M, bagi Redaksi, pada hakikatnya terindikasi kuat sedang menjauhi kaum buruh (termasuk di Indonesia) sebagai kelas proletar dari tekad kondang mereka seperti dinyatakan oleh Marx dan Engels menutup MPK:

“Proletariat tidak akan kehilangan apapun selain belenggu mereka. Mereka akan memenangkan sebuah dunia (They have a world to win). Kaum buruh sedunia bersatulah!”

(Bersambung di pengeposan bulan depan, simak hlm 33a—Red)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s