Memeringati Hari Buruh 1 Mei 2013 (Bagian Kedua/Sambungan Bulan Lalu Hlm 32a)

Memeringati Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2013

 .

Imperialisme versi James Petras-Coen Husain Pontoh:

Sibuk  ‘Memahami Dunia’

yang Sudah Terjelaskan Secara Hakiki dalam Doktrin Marxian

&

Gagasan 4 Pilar Kebangsaan versi Para Pengusungnya:

Sibuk ‘Memahami Indonesia’

yang Sudah Terjelaskan Secara Hakiki dalam Pancasila-UUD 45

 .

Biarlah Jokowi Tetap Gubernur, Kecuali …

.

(Bagian Kedua dari Dua Tulisan)

.

 

“Proletariat tidak akan kehilangan apapun selain belenggu mereka. Mereka akan memenangkan sebuah dunia (They have a world to win). Kaum buruh sedunia bersatulah!”

Sebagai kaum yang m2M, memusuhi Marxisme di dalam Marxisme, (simak Bagian Pertama, hlm 32a).

Juga pandangan mereka yang utopia dalam hal kepermanenan revolusi  (baca: utopis, ketika seluruh negeri di dunia sudah berevolusi sosialis).

Tentu saja kaum ini sangat “bergairah” menyambut seruan Marx-Engels itu: “Kaum Buruh Sedunia Bersatulah”.

Coen, misalnya, menggemakan seruan itu  saat menutup tulisannya yang lain lagi di jurnal (yang sama) INDOPROGRESS III Januari 2013 bertajuk BENIH PERLAWANAN ITU BERSEMI SUDAH (hlm 127). Menyoal perlawanan Wisconsin (RUU dari Gubernur kepada parlemen Negara Bagian Wisconsin, Amerika Serikat, 11 Februari 2011—hlm 128).

Di mana dengan pendekatan m2M lewat seruan kondang itu Coen “mengangkat”-nya ke tingkat dunia .

Greget Coen yang pada esensinya sangat berbeda dengan semangat Vince Sherman, Frank Thomson, dan Black Uhuru, misalnya. Mereka yang menyoal perlawanan warga tertindas Amerika Serikat abad ke-21: Kaum Kulit Hitam di Sabuk Hitam (simak hlm 22b dan hlm 23b).

Sehingga, hemat kami, seruan m2M Coen di abad ke-21 ini tentu saja tidak dimaksudkan untuk kaum buruh khususnya di negeri-negeri yang termasuk, mengacu konsep Vince Sherman, ’sosialisme sesungguhnya ada. Republik Rakyat Tiongkok, Republik Sosialis Kuba, Republik Sosialis Vietnam, Republik Demokratis Rakyat Korea, dan Republik Demokratis Rakyat Laos.

Kaum buruh di negeri-negeri tersebut, yang bersikap kritis-otokritik terhadap (masing-masing) pemerintah kediktatoran proletariat, dalam ‘melapang-lancarkan’ jalan sosialis. Dengan segala kontradiksi-kontradiksi (sesuai perkembangan) kapitalistis khas masing-masing negeri itu.

Bersatu dalam keserupaan langkah dengan kaum buruh sedunia untuk memenangkan sebuah dunia yang lebih baik: dari masing-masing sesuai kemampuannya, kepada masing-masing sesuai kebutuhannya. (Simak hlm 30e).

Imperialisme di Depan Mata, 4 Pilar 

Jadinya tidak heran, Coen pun setali tiga uang sibuk “memahami dunia” menguntit Petras menyoal imperialisme dalam risalahnya IMPSK itu (simak Bagian Pertama hlm 32a).

Seperti pengakuan Coen sendiri atas risalah Petras (sudah Redaksi singgung di bagian Pertama), “… memberi kita perspektif yang segar mengenai proses akumulasi kapital di tingkat global…”, tetapi tidak memberikan inspirasi sama sekali untuk menimbang sepak terjang imperialis di depan matanya: bumi Nusantara tercinta.

Negeri yang sejak kudeta merangkak (dukungan CIA) atas Soekarno pada 1965.

Hemat kami, adalah sebuah “prelude” sambil bertopeng “Kesaktian Pancasila” untuk “digenapi” dengan lahirnya UUD 2002/niramendemen UUD45.Hasil intervensi NDI/National Demcoratic Institute Madeleine Albright, mantan Menteri Luar Negeri AS.

Yang (kok bisa?)  berbarengan terbitnya 1 “amendemen” per tahun, total 4 “amendemen” (1999-2002) selama kerusuhan Ambon masih marak-maraknya.

(Simak hlm 21a; informasi lebih lanjut klik buku tentang Amin Arjoso, 2010; juga simak buku Kembali! ke Jati Diri Bangsa, Djon P Lalanlangi, 2012, hlm 304).

Lalu, masih “belum cukup”.

Mencuat—terlebih setelah berpulangnya tokoh senior parpol tua diketuai anak kandung Soekarno, isteri almarhum—gagasan “4 pilar kebangsaan” Pancasila, UUD 45, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika.

Konsep yang sudah ditolak (Redaksi mufakat) sebagian anak bangsa.

Seperti sikap penolakan secara ‘halus’ Kompas (1/6/2013) baik dalam tajuk rencananya Sakti Tidaknya Pancasila maupun sikap ‘akomodatif’ (dengan dimuatnya pada terbitan yang sama) tulisan Guru Besar UI Sri-Edi Swasono Pancasila dan Ide Persatuan.

Serta penolakan secara ‘keras’ seperti ditunjukkan oleh demo di bundaran Universitas Gadjah Mada oleh Masyarakat Pembela Pancasila Jogja, Solo, Semarang (MPP Joglosemar).

Mereka yang antara lain berargumen, ‘Menempatkannya (Pancasila—Red DK) sebagai salah satu pilar tidak langsung mendegradasi Pancasila’ (Tajuk Rencana Kompas, 1/6/2013); ‘Tanpa dasar, pilar-pilar akan mengambang’ (Sri-Edi Swasono; Kompas, 1/6/2013); “Pancasila sebagai dasar negara adalah harga mati,” ujaran Teguh, Koordinator Aksi MPP (Kompas.com,31 Mei 2013).

Penolakan-penolakan sebagian anak bangsa itu yang, hemat Redaksi, bila mereka konsisten akan jumpa dengan suara-suara lain dalam masyarakat bahwa kita sudah kembali dijajah.

Lantaran Pancasila-UUD45, jati diri nasion besar ini, sudah masuk kotak—hal yang akhirnya diakui pula oleh Kompas dalam tajuk rencananya dimaksud. Meski (masih ‘beruntung’) sebatas de facto bukan de jure lantaran (ini ‘nasib baik’ itu) “terganjal” Dekrit Soekarno 5 Juli 1959 yang monumental itu. (Simak hlm 21a dan hlm 22a).

Jadinya, gagasan 4 pilar kebangsaan yang tak menyoal sama sekali UUD 2002/niramendemen UUD45 cacat hukum itu. Sulit bagi Redaksi untuk tidak menempatkannya sebagai “cara lain” dalam mengukuhkan UUD 2002 hasil intervensi imperialis itu. Dengan kata lain, 4-Pilar adalah “turunan” UUD 2002.

Konstitusi gadungan yang membuat sebuah Indonesia “sesuai citranya sang imperialis”. Melakoni demokrasi dan ekonomi neoliberal. Berdampak, salah satunya, seperti alinea penutup tulisan Sri-Edi di Kompas dimaksud:

“Keterjerumusan kita pada neoliberalisme berdasar untung-rugi ekonomi telah memertajam ketimpangan teritorial, merenggangkan persatuan hati, dan merusak kohesi nasional’.

Dengan presidennya  (hasil sistem pemilihan umum/ketatanegaraan yang dengan sendirinya cacat hukum pula) yang maaf, jauh dari kebijakan blusukan-musyawarah. Tetapi bisa bertahan dua periode, memeroleh takzim internasional pula. Tanpa hirau protes keras publik, salah satunya dari salah seorang rohaniawan minoritas terkemuka negeri ini Romo Magnis-Soeseno (simak Kompas.com,17 Mei 2013 & Kompas.com, 31 Mei 2013)—menggondol piala ACF di New York, sehari sebelum 68 tahun Pancasila yang digali bukan ditemukan Soekarno dari negeri akbar ini.

Sehingga, bila perjuangan kemerdekaan jilid 2 berhasil menghapus UUD 2002, 4 pilar kebangsaan itu sesungguhnya tidak diperlukan alias mubasir. Bernasib serupa seperti penataran P4 (Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila) di era junta militer Suharto.

P4 yang sepintas berpendekatan nirmaterialis; padahal sejatinya berpendekatan materialis yang “subtil” memusuhi Pancasila-UUD 45 di dalam Pancasila-UUD 45 itu sendiri. Sarat petuah-petuah moral ideal seorang manusia Indonesia minus/tak ada urusannya dengan  praksis keseharian. Lantaran kepraksisan dalam kehidupan riil itu justru ditentukan oleh syarat-syarat material konstitusi Pancasila-UUD 45 yang sudah di -“tafsirkan” lebih dulu berdiametral dengan konstitusi awal itu sendiri. Sejak  BK dikup  dan “digenapi” 3,5 dasawarsa kemudian dalam UUD 2002 (simak risalah terbarui dari Redaksi DK di hlm 35a) .

Hal yang makin mencolok saat di-“benchmark” (tolok ukur) dengan blusukan-musyawarah Jokowi-Ahok.

Kebijakan mereka berdua yang langsung mempraksiskan sikap pancasilais sejati tanpa perlu “gembar-gembor”. Berhadap-hadapan syarat-syarat material itu dalam sikap sejatinya sangat sederhana: prorakyat! Menjadikan blusukan-musyawarah, hemat kami, pemicu terbentuknya bola salju  yang akan menghancurkan konstitusi gadungan itu.

Ya, menyusul P4, 4 pilar kebangsaan Redaksi yakini bakal tinggal kenangan pula.

Lantaran bukan hanya sepintas berpendekatan nirmaterialis tapi sejatinya materialis yang justru memusuhi jati diri itu sendiri, lamun yang sudah terjelaskan dalam sebandung kesatuan konsep—dirumuskan dengan cemerlang oleh putra-putri terbaik negeri ini sehari setelah proklamasi: Pancasila-UUD45. (Simak Arsip AG Pringgodigdo dan AK Pringgodigdo dalam orasi ilmiah Prof DR Sofian Effendi “Mencari Sitem Pemerintahan Negara” di hlm 2b.2).

Dengan kata lain, hemat Redaksi, seperti halnya Petras-Coen yang sibuk ‘memahami dunia’ lewat imperialisme dalam versi mereka yang sesungguhnya sudah terjelaskan secara hakiki dalam doktrin Marxian. Para pengusung gagasan 4 pilar kebangsaan pun sibuk ‘memahami Indonesia’ lewat 4 pilar kebangsaan dalam versi mereka yang sesungguhnya sudah terjelaskan secara hakiki dalam Pancasila-UUD 45.

Ujung-ujungnya, kedua-duanya, imperialisme versi Petras-Coen dan 4 pilar kebangsaan versi para pengusungnya, sama-sama secara hakiki menjauhkan rakyat tertindas (tak terbatas buruh-tani, kaum marhaen istilah Soekarno) dari hakikat perjuangan bagi pembebasan dirinya terhadap kaum penjajah: sang imperialis di abad ke-21 ini, di nasionnya sendiri: bumi Nusantara tercinta.

Sehingga, hemat kami, baik Coen maupun para pengusung 4 pilar kebangsaan akan bersikap diametral atau setidaknya memandang sebelah mata untuk seruan rapatkan barisan bagi perjuangan kemerdekaan jilid 2: “Hapus UUD 2002/niramendemen UUD 45!”

Sikap diametral yang bagi Redaksi, dengan segala maaf, paralel kaum imperialisme di awal milenium ketiga planet ini. Sikap kaum pembohong dan agresor (pinjam sitiran pidato Robert Mugabe, Presiden Zimbabwe, di SU PBB 2011; simak hlm 14a) yang sangat berandang atas negeri-negeri seperti Irak, Libia, Iran, Suriah, Korea Demokratis.

Menambah berat perjuangan kemerdekaan kita sekarang ketimbang era bambu runcing. Lantaran dulu, kaum penjajah juga begundalnya “relatif mudah teridentifikasi setidaknya secara fisik” termasuk kebijakan kolonial yang berandang atas buyut, kakek-nenek kita, orang-orang tua kita: kaum bumi putra.

Kini, kaum imperialis dan para begundal kerap adalah “teman sendiri”, seperti sumber inspirasi risalah Redaksi ini. Mereka yang bahkan melengkapi diri dengan pembelaan secara teoritis-ilmiah—m2M itu: memusuhi Marxisme di dalam Marxisme itu sendiri—jadinya sepintas ‘marxis-progresif-revolusioner’, sulit dibantah. Padahal sejatinya bersumber pada para jauhari di kubu borjuasi: kaum left-cover for imperialism.

Belum lagi dengan bantuan “bala nyamuk pers” mereka yang gencar menebar kebohongan dan fitnah—seperti koran The Guardian jelang Soekarno dikup (simak Budiarto Shambazy “45 Tahun Kudeta Merangkak” hlm 2b.1)—lewat apa yang, sudah disinggung di Bagian Pertam risalah ini, Stephen Gowans sebut:  public relation assault (serangan humas/hubungan masyarakat; simak hlm 20c).

Untung (seperti halnya perkembangan transportasi kereta api di era manifesto-partai-komunis Marx-Engels paruh abad ke-19), adanya perkembangan teknologi informasi/internet, dan hadirnya para pewarta bukan arus utama seperti Russia Today, China Daily, Xinhua, FARS News Agency (Iran), dll, juga para bloger termasuk Wikileaks. Para pewarta progresif yang masohi, gotong royong berkontribusi sebagai “pengimbang” signifikan—hal yang Redaksi (ikut) manfaatkan untuk memerkaya acuan blog ini.

Biarlah Jokowi Tetap Gubernur: Pemicu Perjuangan Kemerdekaan Jilid 2, Kecuali …

Dengan begitu, ketika gagasan 4 pilar kebangsaan “kuat mengelilingi” Jokowi, Gubernur Provinsi DKI Jakarta Joko Widodo, hari-hari ini. Redaksi dengan berat hati harus mengatakan bahwa biarlah beliau tetap orang No.1 DKI.

Biarlah Jokowi tetap gubernur hingga 2 periode, sebagai pemicu perjuangan kemerdekaan jilid 2. Dan bukan sebagai calon presiden bahkan untuk 2019.

Kecuali …

Tampilnya partai politik (parpol) pembela sejati jati diri nasion: Pancasila UUD45—pendukung Jokowi.

"Saya tidak mau digosok-gosok, digoda-goda, dikompor-kompori masalah itu. Konsentrasi saya masih banjir, rusun, macet, waduk," ujarnya. Simak Kompas.com, 27/6/2013, bertajuk

“Saya tidak mau digosok-gosok, digoda-goda, dikompor-kompori masalah itu. Konsentrasi saya masih banjir, rusun, macet, waduk,” ujarnya. Simak Kompas.com, 27/6/2013, bertajuk (klik) Jokowi Ogah Digoda soal Dukungan Jadi Capres. (Penulis: Fabian Januarius Kuwado; Editor: Caroline Damanik; Foto: Robertus Belarminus).

Pasalnya, Redaksi dengan berpendekatan materialis (kali pertama dilansir pasca-BK dikup oleh Arief Budiman di HIPIS Palembang, 1984; simak hlm 2a juga hlm 23a), meyakini bahwa perubahan radikal itu kudu bermula dari basis (base) baru/sembari berlanjut ke superstruktur (superstructure).

Dan bagi sebuah Indonesia, awal perjuangan kemerdekaan jilid 2, pembebasan nasional itu, bermula dari: hapus UUD 2002/niramendemen UUD45!

Dan, dalam sejarah dunia modern perjuangan rakyat tertindas, sebuah perubahan radikal, sebuah revolusi atas basis itu, butuh partai revolusioner yang beralas teori revolusioner pula. Yang dalam konteks Nusantara tercinta abad ke-21 ini, tampilnya sebuah parpol pembela sejati jati diri nasion. Dengan tekad kuat pembebasan nasional, hapusnya UUD 2002.

(Keyakinan yang Redaksi pastikan sangat tidak disukai kaum revisionis yang akunya ‘marxis-progresif-revolusioner’ lamun terbiasa berbohong pada diri sendiri. Lantaran kerap ber-m2M plus pendekatan ahistoris utopis mereka: kepermanenan revolusi sosialis. Jadinya memandang remeh terhadap kekuatan sendiri Pancasila-UUD45 yang sejatinya bercita-cita utama sosialisme berkarakteristik Indonesia. Menjadikan alasan mengapa Pancasila perlu-perlunya dibuat masuk kotak oleh imperialis; simak hlm 23a, 24a, 25a).

Apa yang terjadi di Venezuela hari-hari ini, misalnya, adalah sebuah petik ajar signifikan terkait, setidaknya bagi Redaksi.

Sepeninggal Presiden Chavez, Partai Komunis Venezuela (PVC) langsung mendukung Wakil Presiden Nicholas Maduro yang otomatis menjadi penjabat Presiden Venezuela. Sebagai calon presiden yang mereka sebut calon Presiden Konstitusi (Constitution President) dari sistem pemilu mereka (simak hlm 30c). Hasilnya, Presiden Venezuela hari ini: Maduro.

Tapi lebih dari itu, ini yang Redaksi maksud, kaum oposisi (Redaksi sangat yakin adanya intervensi kaum imperialis seperti yang ditengarai kuat oleh Gloria La Riva) sempat membuat kerusuhan memprotes hasil pemilu yang memenangkan Maduro. Lamun, gagal!

Adalah massa rakyat yang terorganisasi dengan PVC di ujung tombaknya, hemat Redaksi, sebagai faktor utama kesuksesan Maduro itu. Malahan penjamin kelanggengan Maduro memimpin Venezuela ke depannya. Ketika suka tidak suka dunia masih didominasi imperialis. Seperti ungkapan Pramoedya Ananta Toer “Zaman justru sedang memanjakan imperialisme”. (Panggil Aku Kartini Saja, 2007, hlm 21).

(Dan data terbarui petik ajar signifikan lainnya dari Kudeta di Mesir awal Juli 2013 ini. Silakan, kalau memang belum, simak hlm 34a dan hlm 34b; atau juga kabar terpilihnya kembali Robert Mugabe sebagai Presiden Zimbabwe oleh dukungan parpol progresif revolusioner FP-UNAZ, simak hlm 35b)

Tentu saja Indonesia bukan Venezuela (atau data terbarui Zimbabwe) yang juga tidak termasuk negeri ‘sosialisme sesungguhnya ada’ versi Sherman di atas.

Tapi suka tidak suka, ada ajar yang seyogianya kita petik dari Venezuela (dan Zimbabwe).

Bahwa  perjuangan kemerdekaan jilid 2 itu kudu didukung parpol (bukan partai komunis, tentu saja) dengan ciri seperti Redaksi sebut di atas. Yang ketika Jokowi menduduki posisi tertinggi negeri ini oleh dukungan parpol dimaksud serta massa rakyat luas, bukan tidak mungkin ekonomi kaum imperialisme pun makin terpuruk.

Pasalnya, BRICS (Brazil, Russia, India, China, South Africa) akan menjadi BRICSI—“I” terakhir adalah “Indonesia”. Pasar menggiurkan dari 230-an juta penduduk tak lagi mudah didikte. Malah bergabung pula dalam kekuatan ekonomi dunia yang berhadap-hadapan alias setara bahkan lebih (seperti Tiongkok yang tak lama lagi; simak hlm 27b) atas negeri-negeri Barat.

Kejayaan kita sebagai bangsa besar yang disegani pada era BK yang berprinsip 3-sakti (berdaulat di bidang politik, berdikari/mandiri di bidang ekonomi dan berkepribadian sendiri di bidang budaya) akan kembali lagi.

“Oh, No! Tidak boleh terjadi!” Redaksi bayangkan, begitu komentar kaum imperialis.

Karena itu, “kesengsem”-nya mayoritas rakyat (termasuk blog ini) pada gaya blusukan-musyawarah Jokowi-(juga Ahok),  bukan tidak mungkin sekalian “digadang-gadangkan” sebagai capres (2014!) oleh kaum imperialis. Agar, begitu Jokowi naik akan “dieliminasi” dengan satu dan lain cara yang “kita pun ikut-ikutan mengutuk dan memfitnah”—persis seperti nasib Soekarno juga Gus Dur.

“Satu dan lain cara” yang  bukan mustahil bagi kaum imperialis yang sangat piawai (dengan dana “tak jadi soal” pula) dalam mengintervensi Dunia Ketiga. Bahkan seantero dunia dengan “jam terbang” tinggi sejak Perang Dunia II. (Simak hlm “US Interventions” di blog BJ Murphy “The Prison gates are open …” yang memuat cuplikan buku William Blum Killing Hope: US Military and CIA Interventions Since World War II).

Dan selalu saja ada ‘alasan rasional’-nya.

Mulai dari “teori domino jatuhnya negeri-negeri Asia Tenggara ke tangan kaum komunis” (Perang Saudara Mao-Chiang, Perang Korea, Perang Vietnam, Kudeta Merangkak atas Soekarno), sampai yang paling up-to-date: “Syiah vs Suni”. Sentimen bukan lagi agama tapi aliran  yang ‘dimainkan’ ketika sang pembohong & agresor di Irak-Libia (pinjam Presiden Zimbabwe Robert Mugabe di SU PBB 2011; simak hlm 14a) mulai terdesak di Suriah pimpinan Assad yang Alawit Syiah.

Termasuk kapal-kapal perang AS yang  merapat di dermaga Jamrud, Tanjung Perak, Surabaya menyusul latihan gabungan dengan TNI-AL di Situbondo lamun “dibungkus” dengan acara “bakti sosial” (simak Tempo.co, 30 Mei 2012). Ketika sebulan sebelumnya, awal April 2012, gelombang pertama marinir AS ditempatkan di  Darwin, Australia menyusul “unjuk gigi”-nya RRT dalam sengketa regional Laut Tiongkok Selatan (apa pula urusannya AS di sini?) dan sekalian (?) mulai diutak-atiknya keberadaan Freeport di Papua yang hanya ‘selemparan batu’ dari Darwin (simak Pengantar Redaksi, April 2012).

Di titik inilah, kehadiran parpol dimaksud pendukung Jokowi sangat penting dan strategis. Paralel parpol yang mendukung Maduro di Venezuela. Atau seperti, data terbarui, Mugabe di Zimbabwe serta yang kita saksikan pada perjuangan sejati rakyat Mesir yang tanpa dukungan sebuah parpol progresif.

Akankah Kita Ajek Mendukung Jokowi …

Sehingga peringatan seorang kawan Redaksi,

“siapakah kita dulu dan siapakah kita sekarang terhadap sosok yang bernama Soekarno”,

mungkin bisa ditanya ulang dalam konteks kekinian.

Sekaligus membuyarkan omong kosong junta militer Suharto tentang ‘Kesaktian Pancasila’ (berikut paket penataran P4 sepintas nirmaterialis itu) untuk sebuah dasar negara. Konstitusi awal itu yang tak urusannya dengan sakti-saktian lantaran memang terbuka untuk amendemen tapi bukan versi sang penjajah:

Akankah kita ajek mendukung Jokowi sekarang maupun masa yang akan datang bahkan ketika beliau “diterpa macam-macam isu negatif”—bertujuan penggulingan kekuasaan—yang sejatinya direkayasa oleh kaum imperialis dan (dengan bantuan) para begundalnya?

Soalnya, sudah terbukti. Kaum buruh yang perjuangannya pertama-tama bersasar ekonomisme alias kenaikan upah (simak Bagian Pertama hlm 32a) dan tidak memiliki sense sama sekali soal UUD 2002, juga tetap sangar menggelar demo besar-besar dengan sasarannya yang dimaksud itu tanpa hirau sang gubernur satu ini …

Mungkin karena Abang kita ini berpredikat, hal yang sangat diemohi kaum revisionis, kapitalis-birokrat blusukan-musyawarah (simak hlm 27a).

Ya, soalnya pula … mungkin ada baiknya Redaksi kutip Lenin mengakhiri risalah bersambung ini yang terinspirasi tulisan Petras-Coen:

Suatu pelengkap alami terhadap tendensi ekonomi dan politik dari revisionisme adalah sikap mereka terhadap tujuan akhir dari gerakan sosialis. “Gerakan adalah segala-galanya, tujuan akhir tidak ada sama sekali” (The movement is everything, the ultimate aim is nothing–Red DK)—ini yang ditangkap dari frase Bernstein yang mengungkapkan substansi revisionisme lebih baik ketimbang banyak diskuisisi (pemeriksaan, penyelidikan—Red DK/Badudu, 2005) yang panjang.

(Simak hlm 21b; cetak tebal dari kami).

Karena itu, biarlah Jokowi tetap gubernur, kecuali …

ooOoo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s