Dari Tiongkok ke Libia: Sebuah Kritik atas “Mengenang Pemberontakan Tiananmen” Kasama

.

Oleh BJ Murphy

Dikirim pada 4 Juni 2011

.

Sumber: blog BJ Murphy The prison gates are opens … , alamat:

 http://redantliberationarmy.wordpress.com/2011/06/04/from-china-to-libya-a-critique-to-kasamas-remembering-the-rebels-of-tiananmen/

.

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita

.

Dua tahun lalu saya menulis artikel ini sebagai bidasan atas pemelintiran kontrarevolusioner demonstrasi Lapangan Tiananmen oleh Proyek Kasama. Saya masih tegak pada analisis ini. (BJ Murphy)

. 

“Eliminasi kaum kontrarevolusioner adalah perjuangan saling berlawanan yang terjadi di antara kita sendiri dan musuh.

Di kalangan rakyat, ada beberapa orang yang melihat persoalan ini dalam pandangan agak berbeda.

Ada dua jenis orang yang memiliki pandangan berbeda dengan kita.

Mereka yang dengan deviasi Kanan dalam pemikirannya, tidak membeda-bedakan diri kita dengan musuh dan menganggap musuh sebagai orang kita sendiri. Mereka menganggap sebagai kawan orang yang justru oleh massa yang luas dianggap sebagai musuh.

Mereka yang dengan deviasi “Kiri” dalam pemikirannya, memerbesar kontradiksi antara diri kita dan musuh sedemikian rupa, sehingga memandang kontradiksi tertentu di antara rakyat sebagai kontradiksi antara kita dengan musuh dan memandangnya sebagai orang-orang kontrarevolusioner yang sebenarnya bukan.

Kedua pandangan ini salah. Baik kemungkinan penanganan yang tepat atas masalah eliminasi kaum kontrarevolusioner ataupun penilaian yang tepat atas pekerjaan ini.

“Untuk membuat evaluasi yang tepat dari pekerjaan kami dalam mengeliminasi kaum kontrarevolusioner, mari kita lihat dampak dari insiden Hongaria yang terjadi di Tiongkok. Setelah kejadian tersebut ada beberapa kerusuhan di antara bagian intelektual kami, tapi tidak ada bencana. Kenapa? Salah satu alasannya adalah, harus dikatakan, keberhasilan kami dalam mengeliminasi kontrarevolusioner secara cukup menyeluruh. “

-Mao Zedong (Tentang Penanganan yang Tepat Kontradiksi di antara Rakyat)

.

Kini  pada 4 Juni, di seluruh dunia, orang akan merayakan penghormatan untuk para mahasiswa “prodemokrasi” yang disebut “pembantaian” Lapangan Tiananmen.

Sama seperti yang media lakukan 22 tahun lalu, media akan kembali melukiskan potret sangat jelas “penindasan” Komunis terhadap apa yang dijenamai (dilabeli—Red) sebagai para mahasiswa Tiongkok yang mencari “demokrasi” dan “kebebasan”.

Padahal, ini sangat mindset (sebuah kebiasaan atau karakteristik sikap mental yang menentukan bagaimana Anda akan menginterpretasikan  dan merespons situasi—Red/The Free Dictionary by Farlex) atas peristiwa 1989 tersebut bahkan tidak hanya direnggut oleh mereka yang dari berbagai media borjuis, tetapi juga saling berbagi di antara pilihan luas kaum kiri revolusioner (revolutionary leftists—Red), khususnya yang dari ultra-kiri Maois Barat (ultra-leftist Western Maoist—Red) seperti yang menjalankan blog berita Proyek Kasama (Kasama Project).

Kenyataannya, artikel dimaksud ini adalah sebuah bidasan pada yang lain (response to another), ditulis oleh pendiri blog tersebut Mike Ely.

Menurut Ely, “rezim di Tiongkok menindas gerakan pemberontakan sangat kuat, menggunakan Tentara Pembebasan Rakyat (TPR—Red) melawan mahasiswa dan buruh yang berkumpul di jantung kota Beijing.” (Ely, Kasama)

Dengan kata lain, seperti halnya yang dilukiskan  media atas potret ini, TPR adalah orang-orang jahat –kaum penindas dari kapitalis—dan para mahasiswa tentu saja orang-orang baik—”pelopor pembebasan” dari sosialis (Ely, Kasama).

Satu-satunya masalah dengan lukisan sangat bagus ini adalah bahwa ia betul-betul sebuah kepura-puraan!

Hal ini, tentu saja, tidak dikatakan sebagai sarana “oportunisme” atau pun menjadi kontroversial.

Poin  dari artikel ini adalah untuk membela kebenaran dari peristiwa ini: sebuah kontrarevolusi dipimpin oleh para mahasiswa pro”demokrasi” Barat dengan sasaran objektif destabilisasi Partai Komunis.

Sebuah Revolusi dari Langit?

Ratusan warga Tiongkok berkumpul di deapn "Tembok Demokrasi".

Ratusan warga Tiongkok berkumpul di depan “Tembok Demokrasi”.

Sebagai anggota dari Freedom Road Socialist Organization-Fight Back!, Mick Kelly pernah berujar tentang peristiwa itu, “apa yang disebut gerakan ‘demokrasi’ tidak jatuh dari langit, suatu ketika,” (Kelly, FRSO) seperti gambaran Ely yang tampaknya dilukiskan melalui artikel pendeknya itu.

Dalam mindset Ely, serangkaian protes pada 1989 adalah sebuah peristiwa yang meletus dari udara tipis, sebuah respons terhadap reformasi ekonomi  Deng Xiaoping dan Li Peng.

Ini adalah mutlak kebohongan!

Sebuah penyesatan pada saat itu, seperti Ely yang tampaknya dengan mudah sekali meninggalkan peristiwa-peristiwa sejarah penting tertentu menjelang protes Tiananmen. Salah satunya, yang bermula dengan apa yang dikenal sebagai “Tembok Demokrasi”.

Seperti yang ditunjukkan Mick Kelly, “itu mungkin satu-satunya tempat di Tiongkok di mana seseorang bisa mendengar Mao dikecam sebagai seorang ‘fasis’.” (Kelly, FRSO)

Padahal, “Tembok Demokrasi” berkiprah sebagai tempat berkumpulnya para warga dengan beberapa ideologis berbeda. Sebagian di antaranya yang menderita selama Revolusi Kebudayaan. Sementara bagi yang lain, itu adalah lahan subur untuk kegiatan-kegiatan kontrarevolusioner. Dan karena kegiatan tersebut meningkat, apa yang dikenal sebagai “Tembok Demokrasi” itu akhirnya ditutup.

Sejak saat itu, perpecahan antara PKT (Partai Komunis Tiongkok/CPC Communist Party of China—Red)—termasuk dengan rakyat pada siapa mereka sendiri bersekutu—mulai meningkat.

Keberlangsungan sebuah Kecenderungan Kontrarevolusioner

Sampai sekarang, (dalam—Red) memerkenalkan topik terdekat lainnya,  Ely juga berpegang pada posisi terakhir, mirip dengan apa yang kita saksikan di sini pada peristiwa Lapangan Tiananmen hingga ke Libia.

Meski saya tidak bisa men-link Anda ke percakapan ini antara saya dan Ely, itu adalah perdebatan yang terjadi antara kami mengenai konflik internal (sekarang dipimpin imperialisme NATO) di Libia, di mana para pemberontak yang menguasai di Benghazi melancarkan (kontra)revolusi terhadap pasukan yang setia pada Kolonel Khadafi.

Meskipun upaya saya untuk mencoba menunjukkan bahwa para pemberontak secara jelas reaksioner (clearly reactionary) dan tak membutuhkan dukungan oleh yang kiri revolusioner (revolutinary left—Red), Ely condong bahwa para pemberontak adalah “sebuah kekuatan demokratis untuk kebaikan.”

Tapi apa juntrungannya ini dengan protes-protes  Lapangan Tiananmen?

Ya, kendati fakta bahwa, di kedua peristiwa itu, Ely memiliki kecenderungan yang jelas dengan melontarkan dukungannya terhadap para pemberontak kontrarevolusioner, itu adalah (juga—Red) fakta ia mudah memutuskan untuk meninggalkan setiap penyebutan sikap antimigran Afrika dari para pemberontak Libia sepanjang  seluruh artikelnya (all his articles ) yang ditulis mengenai peristiwa Libia tersebut.

Benar, sikap bukan hanya dalam perkataan, tetapi juga dalam tindakan. Aksi-aksi mengerikan pada saat itu, mulai dari pemenjaraan, eksekusi (imprisonment,execution) bahkan  menempuh jalan untuk men-lynching (hukuman mati tanpa pengadilan—Red/Echols-Shadily, 2005) mereka (lynching them).

Korelasi di sini adalah fakta, bahwa seperti dalam subjek Libia, pada 1988, hanya setahun sebelum para demonstran “pro-demokrasi” membuat gerak final mereka di Lapangan Tiananmen, ada sebuah demonstrasi mahasiswa anti-Afrika (an anti-African student demonstration) yang diadakan di Tiongkok.

Walau ini tidak sebesar seperti peristiwa Lapangan Tiananmen, dan sama sekali tidak dekat dengan penindasan kekerasan terhadap orang Afrika seperti yang di Libia, (demo—Red) itu mencirikan pertumbuhan sayap kanan yang kuat di antara para mahasiswa universitas Tiongkok.

Mengenang Hu Yaobang, Mencagunnya (Timbulnya–Red) Tiananmen

18 April (1989—Red): Para mahasiswa memajang tinggi-tinggi spanduk yang menyerukan "Pencerahan Kebebasan & Demokrasi" di Monumen Martir,  Lapangan Tiananmen, dihiasi potret besar Hu Yaobang, dikelilingi karangan bunga yang didedikasikan kepadanya oleh para warga dari berbagai perguruan tinggi.

18 April (1989—Red): Para mahasiswa memajang tinggi-tinggi spanduk yang menyerukan “Pencerahan Kebebasan & Demokrasi” di Monumen Martir, Lapangan Tiananmen, dihiasi potret besar Hu Yaobang, dikelilingi karangan bunga yang didedikasikan kepadanya oleh para warga dari berbagai perguruan tinggi.

Hal lain yang menarik untuk dicermati, salah satunya yang tampaknya juga dengan mudah ditinggalkan Ely, adalah fakta bahwa protes Lapangan Tiananmen meletus untuk menghormati kematian Sekretaris Jenderal PKT (Partai Komunis Tiongkok—Red) Hu Yaobang. Dan saya yakin ada alasan bagi Ely untuk bungkam atas peran Hu Yaobang dalam protes-protes itu.

Seperti yang ditunjukkan dalam Tiongkok: Revolusi dan Kontrarevolusi (China: Revolution and Counter-revolution—Red) oleh Partai untuk Sosialisme dan Pembebasan (PSP/PSL Party for Socialism and Liberation—Red), “Boris Yeltsin versi Tiongkok adalah Sekretaris Jenderal Hu Yaobang, yang secara luas dipandang sebagai penganjur dalam mendorong reformasi ke depan pada langkah yang lebih cepat hingga  pengunduran diri pada 1987. “(PSP, Tiongkok hlm.73)

Boris Yeltsin adalah juru bicara reformasi ekonomi prestorikanya pemimpin Soviet Gorbachev. Tidak seperti niat gagal Gorbachev memertahankan sosialisme, yang sementara memungkinkan privatisasi pasar di bawah komando negara Soviet, Yeltsin malah berniat menyaksikan sosialisme berakhir sama sekali.

Alur cerita yang sama selama periode “perestroika” Tiongkok, ketika Deng Xiaoping meletakkan seterusnya reformasi ekonomi, yang digunakan sebagai sarana modernisasi Tiongkok dari kemalangannya sebagai negara raksasa dengan ekonomi terkebelakang (massive underdeveloped economic state ) yang ditinggal setelah  kematian Mao.

Lamun, hasil dari alur cerita sangat jauh berbeda. Tidak seperti keberhasilan Yeltsin dalam pembajakan periode reformasi Rusia, sehingga mengakhiri sosialisme Soviet, Hu Yaobang ditinggalkan tanpa kemenangan (left with no victory) dalam menghancurkan perjuangan sosialis Tiongkok.

Singkat cerita, adalah kematian Hu Yaobang yang dialihkan sayap kanan dari  ideal ke praktik:

“Masa berkabung yang mengikuti kematiannya menyediakan pembukaan yang ditunggu-tunggu gerakan “prodemokrasi”. Karangan-karangan bunga besar mulai tampil di monumen martir, Lapangan Tiananmen. Pada banyak karangan bunga ini inskripsi yang ditulis, menyerang pimpinan Partai dan menuntut bahwa kritik-kritik “keliru golongan kanan” (rightist errors—Red) dari Hu dibuang dari catatan sejarah.

[…]

“Pada 18 April, 4000 mahasiswa dari Universitas Beijing dan Universitas Rakyat mengadakan rapat umum kampus. Kemudian hari itu sekitar 2000 mahasiswa berbaris ke Lapangan Tiananmen, membawa spanduk dengan slogan “Selamanya menghargai memori Yaobang, jiwa Tiongkok”.

Malam itu sekitar 200 mahasiswa tinggal di lapangan tersebut. The Washington Post melaporkan enam tuntutan yang diajukan. Tuntutan-tuntutan itu adalah: keterbukaan atas pendapatan para pemimpin nasional; penolakan terhadap perjuangan melawan liberalisasi borjuis dan polusi spiritual berbarengan dengan rehabilitasi bagi mereka yang dikritik; peningkatan pendanaan untuk pendidikan; tidak ada pembatasan pada demonstrasi jalanan; kebebasan berbicara dan pers; serta penilaian ulang atas Hu Yaobang. “(Kelly, FRSO)

Segera setelah itu, sebulan penuh pada April, ribuan orang berkumpul di Lapangan Tiananmen, melanjutkan tuntutan mereka, yang juga menyebabkan beberapa pengunjuk rasa berusaha menyerbu Zhongnanhai, kantor pusat PKT. Meskipun tidak berhasil, hal itu menandai awal kehadiran kekerasan yang semakin meningkat di antara para pengunjuk rasa “pro-demokrasi”.

Ini bukan untuk mengatakan bahwa setiap pengunjuk rasa di Lapangan Tiananmen adalah sayap kanan kontrarevolusioner. Bagian yang baik dari mereka pada awalnya adalah para demonstran yang sah mencari baik jawaban maupun tindakan dari reformasi tersebut, yang memungkinkan privatisasi lebih dari sepertiga ekonomi (nasional—Red), termasuk perawatan kesehatan.

“Pada 26 April, kebijakan politbiro dilansir dalam editorial People’s Daily. Tajuk Rencana tersebut membuat catatan dari niat baik banyak peserta demonstrasi dan menunjukkan beberapa hal di mana keinginan gerakan mahasiswa tumpang tindih dengan Partai. Namun, apa yang benar-benar menarik perhatian rakyat adalah tuduhan bahwa protes tersebut dimanipulasi oleh kekuatan-kekuatan yang ingin membuang sosialisme dan meniadakan peran utama Partai. ” (Kelly, FRSO)

Hal ini lebih jauh diperjelas oleh Yenica Cortes, anggota PSP, yang menyatakan:

“Ada sejumlah besar mahasiswa yang terlibat dalam demo-demo itu […] Dan sementara ada banyak kecenderungan politik dalam gerakan mahasiswa, ada sebuah kelompok kepemimpinan yang dominan. Tujuan kelompok ini tidak ada hubungannya dengan demokrasi bagi mayoritas luas rakyat miskin dan kelas pekerja Tiongkok. ” (PSP, Tiongkok hlm.76)

Faktanya adalah bahwa dari April sampai Mei, sebagian besar para mahasiswa pengunjuk rasa meninggalkan lapangan tersebut dan kembali ke kampus. Walau apa yang media (Barat—Red) upayakan dan gambarkan (sebagai—Red) kerusuhan sebelum 03-04 Juni oleh para mahasiswa “pro-demokrasi”, PKT terus menggelar negosiasi damai (laid out peaceful negotiations) dengan ribuan pengunjuk rasa. Beberapa di antaranya nyaris berhasil seketika. Dalam sambutan Chen Xitong, yang adalah walikota Beijing, pada Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional (National People’s Congress Standing Committee—Red), ia menyatakan:

“Dibandingkan dengan demonstrasi pada 27 April, jumlah mahasiswa yang mengambil bagian pada 4 Mei turun dari 30.000 lebih menjadi kurang dari 20.000, dan yang ikut menonton menurun cukup besar. Setelah demonstrasi 4 Mei, 80% dari para mahasiswa itu kembali ke bangku kuliah  sebagai hasil kerja Partai dan para pimpinan administrasi berbagai universitas dan perguruan tinggi. Setelah publikasi editorial People’s Daily pada 26 April, situasi di bagian lain negara dengan cepat menjadi stabil. Jelaslah, dengan sedikit lagi kerja, gejolak yang dihasut oleh segelintir orang memanfaatkan kerusuhan mahasiswa, tampaknya akan tenang kembali …” (Kelly, FRSO)

Meskipun analisis walikota itu secara keseluruhan benar, kesimpulannya atas analisis tersebut tidaklah demikian.

Simbol dari “Demokrasi” Mereka

Para mahasiswa "prodemokrasi" membawa sebuah patung besar Dewi Liberty di Lapangan Tiananmen.

Para mahasiswa “prodemokrasi” membawa sebuah patung besar Dewi Liberty di Lapangan Tiananmen.

Untuk melambangkan tuntutan mereka bagi “demokrasi” dan “kebebasan”, tidak seperti para pengunjuk rasa asli yang melambaikan potret Mao, menenteng Buku Merah Kecil (Little Red Book, kutipan kata-kata Mao Zedong; Edisi Bahasa Indonesia, di cetak di RRT, 1967—Red), dan menyerukan akhir reformasi, mahasiswa sayap kanan, yang tujuannya untuk membajak reformasi dan menggulingkan PKT, membawa sesuatu yang lain: patung besar Dewi Liberty (diresmikan pada 1886 berlokasi di Pulau Liberty, muara Sungai Hudson, Dermaga New York, Amerika—Red/wikipedia) sebagai simbol mereka untuk “demokrasi” dan “kebebasan”, pencuraian (penggambaran—Red) menakutkan Patung Liberty-nya AS (eerily depicting that of the U.S.’s Statue of Liberty—Red).

Patung ini dibuat oleh Federasi Mahasiswa Akademi (Federation of College Students—Red) sebagai sebuah atraksi untuk membantu menyemangati para pengunjuk rasa.  Hal ini kemudian dianggap sebagai “Patung Liberty di Lapangan Tiananmen”, meskipun tidak resmi di atas kertas, lantaran keberatan-keberatan atas  patung tersebut:

“Federasi menyarankan agar patung itu menjadi replika Patung Liberty, seperti ukurannya lebih kecil yang dibawa dalam suatu prosesi oleh oleh para demonstran di Shanghai dua hari sebelumnya. Tapi para mahasiswa (pembuat—Red) patung menolak gagasan tersebut: Ini bisa dipandang sebagai terlalu terbuka pro-Amerika dan mengopi sebuah karya yang sudah ada adalah bertentangan dengan prinsip-prinsip mereka sebagai seniman kreatif.

[…]

“Tempat (patung—Red) tersebut di Lapangan dipilih dengan jeli. Yakni pada sumbu besar sarat simbolisme, yang ditarik dari pintu masuk utama Kota Terlarang (Forbidden City—Red), ke potret besar Mao Zedong, melalui monumen Para Pahlawan Rakyat (People’s Heroes—Red) yang menjadi markas besar para mahasiswa. Patung tersebut ditata tepat di seberang jalan yang luas dari (foto—Red) Mao sehingga akan berhadap-hadapan dengannya. “[cetak tebal ditambahkan] (Kelly, FRSO)

25 April: Sebuah slogan Revolusi Amerika di sprei seseorang digantung di Universitas Peking.

25 April: Sebuah slogan Revolusi Amerika di sprei seseorang digantung di Universitas Peking.

Klarifikasi lebih lanjut dari maksud sebenarnya para mahasiswa itu kemudian dibuat setelah pembuatan patung tersebut:

“Tulisan-tulisan mereka dalam bahasa Inggris. Simbol mereka, yang disebut ‘Dewi Demokrasi’, memiliki kemiripan yang mencolok dengan Patung Liberty. Banyak mengekspresikan harapan mereka untuk mendirikan sebuah organisasi mahasiswa baru pada 4 Juli—Hari Kemerdekaan di Amerika Serikat. “(PSP, Tiongkok hlm 76)

Padahal, meskipun dukungan mereka baik atas Hu Yaobang maupun simbol mereka “demokrasi”, sosok peringkat atas lainnya yang diakui oleh para mahasiswa “pro-demokrasi”: Zhao Ziyang, Perdana Menteri RRT (Republik Rakyat Tiongkok/PRC People’s Republic of China—Red) sayap kanan dan seorang penasehat terbuka (umum–Red) untuk ekspansi perusahaan bebas (an open advocat for free-enterprise expansion; atau menurut versi Wikipedia an advocat of the privatization state-owned enterprises: penasehat privatisasi para badan usaha milik negara/BUMN—Red/ wikipedia).

Di antara mereka yang melancarkan mogok makan di Lapangan Tiananmen, salah seorangnya adalah Liu Xiaobo. Di mana Liu menyatakan bahwa, “Kita harus mengorganisasi kekuatan bersenjata di antara rakyat untuk mewujudkan kembalinya Zhao Ziyang.” (Kelly, FRSO)

Kini, Liu Xiaobo sedang dipenjara karena berbagai seruannya menggulingkan PKT dan untuk memerluas privatisasi atas mayoritas ekonomi Tiongkok yang sedang ditempuh Negara.

Pemimpin lain yang terkenal dari para demonstran mahasiswa adalah Liu Gang.

Dari Liu sendiri, orang bisa memahami karakter kelas dari para mahasiswa  “prodemokrasi”: sebuah karakter kelas anti-Komunis, seperti yang dinyatakan oleh Liu sendiri (stated by Liu himself—Red):

“Ada sejumlah fisikawan yang tidak proporsional di antara para pembangkang. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, hampir semua gerakan mahasiswa di Beijing dimulai oleh para mahasiswa fisika.

Enam dari 21 pemimpin mahasiswa yang paling dicari adalah fisikawan. Fenomena ini dapat dijelaskan. (Bahwa—Red) Di bawah pemerintahan Komunis, pendidikan telah dikendalikan oleh doktrin-doktrin Marxis, Leninis dan Maois, khususnya dalam ilmu-ilmu sosial. Bahkan matematika dipelajari menurut pandangan Marx.”

Pembantaian Lapangan Tiananmen: mitos atau realitas?

Sebelum kita masuk ke dalam “pembantaian” itu sendiri, yang terbaik adalah pertama-tama mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi beberapa minggu sebelumnya.

Memahami peristiwa-peristiwa berikut sangat penting dalam pemahaman menyeluruh  atas posisi TPR (Tentara Pembebasan Rakyat/PLA People’s Liberation Army—Red) sebagai korban, bukan algojo, bertentangan dengan apa yang diklaim oleh pers borjuis internasional itu.

Meskipun berminggu-minggu PKT lebih mengemuka dengan penekanan negosiasi terhadap para pegunjuk rasa itu, pada 20 Mei, mereka (PKT—Red) kemudian memutuskan untuk mengumumkan keadaan darurat.

Hal ini tentu saja, bukan tindakan kekerasan oleh TPR yang dikirim ke Lapangan Tiananmen jauh sebelum keadaan darurat diumumkan. Sebaliknya, kekerasan dilancarkan terhadap TPR tak bersenjata, dengan tujuan terbuka memicu kekerasan dari TPR itu sendiri, seperti yang diakui pada 28 Mei oleh salah satu pemimpin mahasiswa Chai Ling:

“Saya merasa sangat sedih. […] Bagaimana  bisa saya memberi tahu [para mahasiswa di Lapangan itu] bahwa apa yang kita sesungguhnya harapkan (justru—Red) adalah pertumpahan darah, momen ketika pemerintah siap untuk membantai rakyat yang kurang ajar? Hanya ketika Lapangan ini dibanjiri darah baru rakyat Tiongkok membuka mata mereka. Baru setelah itu mereka akan benar-benar bersatu. ” (PSP, Tiongkok hlm 74)

4 Mei: Lebih dari 100.000 mahasiswa “prodemokrasi mengelilingi sekelompok polisi tak bersenjata, menuntut “demokrasi” dan “kebebasan”.

4 Mei: Lebih dari 100.000 mahasiswa “prodemokrasi” mengelilingi sekelompok polisi tak bersenjata, menuntut “demokrasi” dan “kebebasan”.

Meskipun telah diberikan peringatan dini bagi para demonstran yang berkemah di Lapangan Tiananmen untuk meninggalkan (tempat itu—Red) secara damai sebelum terjadi kekerasan, banyak yang tidak menanggapi dan tetap di tempatnya (untungnya, beberapa dari mereka yang memprotes itu ternyata mematuhi peringatan tersebut dan akhirnya meninggalkan [Lapangan—Red] sebelum kekerasan pecah).

Sebagai respons (pemerintah—Red), sebuah kelompok pasukan tak bersenjata dari TPR dikirim ke Lapangan Tiananmen, meskipun kemudian akhirnya diblokir oleh para pengunjuk rasa, hanya tertinggal untuk merasakan murka mereka para mahasiswa yang menghasut “truk tentara dan kendaraan lapis baja pengangkut personel terbakar, awaknya (tentara yang diangkut—Red) terbakar.” (“army trucks and armoured personnel carriers ablaze, their crews incinerated.” —Red). Banyak (tentara—Red) yang disandera:

“Pada 2 Juni, pasukan Tentara Pembebasan Rakyat bersenjata didatangkan untuk mendapatkan kembali kontrol atas Lapangan tersebut. Para mahaswa meninggalkan Lapangan untuk menghadapi pasukan di jalan-jalan yang mengarah ke Lapangan. Beberapa pasukan tak bersenjata disandera.

“Pada 3 Juni, tentara dilengkapi senjata—“meskipun di bawah perintah untuk menghindari kekerasan,” seperti dilaporkan dalam sebuah artikel di Wall Street Journal, 5 Juni.

Lamun pada 4 Juni, demonstran melakukan serangan dengan kekerasan terhadap tentara dengan merebut peralatan militer dan mensita persenjataan.” (PSP, Tiongkok hlm 75)

Jay Matthews, seorang reporter The Washington Post, yang dikirim ke Beijing (was sent to Beijing—Red) untuk meliput demonstrasi Lapangan Tiananmen.

Apa yang dia temukan bukanlah “pembantaian” apapun, bukan pula pemberontakan kekerasan terhadap PKT dan TPR, yang mengarah ke jumlah kematian yang dilaporkan sekitar 300 di luar Lapangan Tiananmen, meskipun media menyesatkan dengan pelaporan kematian di antara pengunjuk rasa Lapangan Tiananmen :

“Beberapa orang mungkin telah dibunuh oleh penembakan acak di jalan-jalan di dekat Lapangan tetapi semua saksi mata yang diverifikasi mengatakan bahwa para mahasiswa tetap tinggal di Lapangan ketika pasukan tiba (dan—Red) diizinkan meninggalkan (Lapangan—Red) secara  damai. Ratusan orang, kebanyakan dari mereka adalah para pekerja dan yang kebetulan lewat, meninggal malam itu, tapi di tempat berbeda dan dalam situasi yang berbeda.

“Pemerintah Tiongkok memerkirakan lebih dari 300 korban jiwa. Perkiraan Barat agak lebih tinggi. Banyak korban ditembak oleh tentara pada ruas Changan Jie, Jalan Raya Perdamaian Abadi, sekitar satu mil barat Lapangan, dan dalam konfrontasi-konfrontasi yang tersebar di bagian lain kota, di mana, harus ditambahkan, beberapa prajurit dipukuli atau dibakar sampai mati oleh para pekerja yang marah.”

3 Juni: Para prajurit TPR tak bersenjata di luar Balai Agung Rakyat, memerlihatkan pengekangan maksimum yang mereka upayakan untuk memblokade gerak maju dari para pengunjuk rasa.

3 Juni: Para prajurit TPR tak bersenjata di luar Balai Agung Rakyat, memerlihatkan pengekangan maksimum yang mereka upayakan untuk memblokade gerak maju dari para pengunjuk rasa.

Segera setelah para demonstran mahasiswa membuatnya sangat jelas tujuan kekerasan kontrarevolusioner mereka, PKT pun kemudian mafhum apa yang harus mereka lakukan:

“Tidak ada pembantaian di Beijing, setidaknya dalam arti normal penggunaan kata (pembantaian—Red) tersebut. Yang ada, faktanya adalah sebuah pemberontakan, bersifat kontrarevolusioner, yang akhirnya ditumpas oleh kekuatan militer.

Mitos bahwa suatu malam tank bergerak ke Lapangan Tiananmen dan selanjutnya menembaki para mahasiswa yang berdemo secara damai itu, sungguh menggelikan, ketika tidak ada orang yang percaya, termasuk yang menyatakan diri sebagai kaum revolusioner.

“Situasi yang sebenarnya sangat berbeda. Antara 1 Juni dan 4 Juni ada pasang surut kekerasan di Beijing. Meskipun ‘gerakan demokrasi’ telah kehilangan beberapa tenaganya, tetap ada suatu situasi dengan dwi kekuasaan di dalam kota.

Sementara Partai melakukan segala kemungkinan untuk menyelesaikan konflik secara damai, mereka tidak berniat menyerahkan kota pada kekuatan liberalisasi ataupun Zhao. Partai juga tidak berniat untuk memungkinkan krisis berlarut-larut sampai pembukaan Kongres Rakyat Nasional yang dijadwalkan pada 20 Juni, di mana para mahasiswa telah memilih untuk melanjutkan pendudukan mereka atas lapangan itu, hingga (…—Red).”(Kelly, FRSO)

Itu lantaran tindakan-tindakan baik oleh PKT maupun PLA tersebut, melindungi sosialisme Tiongkok dan mencegah kontrarevolusi borjuis. Meskipun keinginan media baik barat maupun berbagai kelompok ultra-kiri untuk melukiskan kisah indah “Daud versus Goliat”, seperti tilikan Ely atas peristiwa itu, kebenaran dari apa yang sebenarnya terjadi pada cerita heroik itu, hari tragis itu kini tak terbendungi lagi.

** TERBARUI ** Terima kasih Wikileaks, kawat-kawat rahasia kini telah dirilis (secret cables have now been released ) menunjukkan, sekali dan untuk selamanya (once and for all—Red), bahwa tidak ada pertumpahan darah di dalam Lapangan Tiananmen selama protes-protes 1989 tersebut.

Catatan (tidak dibahasaindonesiakan—Red):

“China & Market Socialism: A Question of State & Revolution”, Return to the Source, May 20, 2011.

“Chinese Counter-Revolution Crushed”, Lalkar, August 1989.

Ely, M., “June 4: Remembering the Rebels of Tiananmen”, Kasama Project, June 3, 2011.

Gowans, S., “Liu’s Nobel Prize for Capitalism”, what’s left, October 12, 2010.

“In His Own Words: Liu Gang: A Story of Physics and Freedom in China”, APS Physics, October 1996.

Kelly, M., “Continuing the Revolution is Not a Dinner Party”, Freedom Road Socialist Organization, 1989.

Matthews, J., “The Myth of Tiananmen: And the price of a passive press”, Columbia Journalism Review, June 4, 2010.

Mclnerney, Andy, ed. China: Revolution and Counterrevolution. San Francisco, CA: PSL Publications, 2008. Print.

Murphy, B., “From socialist Afghanistan to socialist Libya: al-CIAda are back in business!”, The prison gates are open…, March 31, 2011.

Professor Toad, “The Chinese Economy in 1978″, The Marxist-Leninist, June 14, 2010.

ooOoo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s