Warita/Risalah Sekilas Mancanegara 14 Feb ’14-Terbarui (1/4)

Pemerintah Tidak Memulai Kekerasan di Kiev—Menteri Luar Negeri Ukraina kepada RT

.

Sumber: RT/Russia Today, alamat http://rt.com/news/ukraine-kozhara-violence-protest-781/?utm_source=browser&utm_medium=aplication_chrome&utm_campaign=chrome

Waktu publikasi: 19 Februari 2014, Pk 23.41

Waktu sunting: 20 Februari 2014, Pk 02.36

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita

.

Reuter/Stringer

Bukan pemerintah Ukraina yang memulai pecahnya kekerasan terakhir di Kiev, Menteri Luar Negeri Leonid Kozhara kepada RT, mengomentari tuduhan oleh oposisi yang menimpakan kesalahan pecahnya konfrontasi berdarah kepada para pejabat.

“Pertama-tama, bukan pemerintah Ukraina [ yang memulai] kekerasan itu” Kozhara menuturkan pada Egor Piskunov dari RT.

Dalam beberapa minggu terakhir, Presiden Viktor Yanukovich dan pemerintah Ukraina “benar-benar menahan diri dari semua tindakan ofensif,” ujar diplomat teras Kiev ini. Dia menambahkan bahwa “bukanlah rahasia” mitra Barat Ukraina meminta mereka untuk tidak melakukan aksi-aksi semacam itu.

“Itulah mengapa kita berpikir bahwa hari ini seluruh tanggung jawab atas tindakan kekerasan tersebut berada di tangan oposisi. Itulah sebabnya jika kita berbicara sanksi saya pikir, hari ini para pemimpin oposisi Ukraina dapat menjadi subjek dari sanksi-sanksi tersebut,” ucapnya .

Sementara pada Rabu (19/2), Departemen Luar Negeri AS mengumumkan penerapkan sanksi visa terhadap 20 pejabat Ukraina yang dipercayai bertanggung jawab atas penggunaan kekerasan. Jika sanksi visa tidak cukup, AS siap dengan langkah-langkah lebih lanjut dalam koordinasi dengan Uni Eropa untuk menghentikan kekerasan di Ukraina, Reuters mengutip ucapan seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri (AS—Red DK).

Sebelum terjadi kerusuhan pada Selasa (18/2), “oposisi mengumumkan bahwa mereka akan berarak secara damai menuju tempat parlemen Ukraina,” kata Kozhara. Tapi apa yang diharapkan sebuah demonstrasi damai berubah menjadi pengambilalihan dengan kekerasan.

“Para pemimpin oposisi menyerukan pada kerumunan orang dan terorganisasi dengan baik, agresif, kelompok-kelompok ekstrimis untuk merebut gedung-gedung pemerintah dan untuk melawan dengan kekuatan terhadap polisi. Itu adalah titik awal dari semua kerusuhan yang terjadi kemarin (18/2—Red DK) dan tadi malam.”

Menteri Luar Negeri Leonid Kozhara

Menteri Luar Negeri Ukraina Leonid Kozhara

Pemerintah Ukraina menyerukan pada oposisi “untuk, salah satu, menjauhkan diri dari orang-orang ekstrimis atau untuk mengambil tanggung jawab atas terjadinya peristiwa yang disesalkan dalam hari-hari terakhir ini.”

Ukraina berada dalam kontak terus-menerus dengan Barat, Menteri Luar Negeri menambahkan. “Kami berharap banyak pengunjung asing tingkat atas.” Barat mengatakan pada Ukraina bahwa “kekerasan harus dihentikan dan negosiasi damai antara pemerintah dan oposisi harus berlangsung,” yang merupakan posisi Presiden Ukraina. “Yanukovich membuat pernyataan yang menyerukan oposisi untuk memulai kembali negosiasi-negosiasi. Dan kami berpikir bahwa lebih baik untuk melakukan berbagai jenis proses perundingan damai ketimbang terlibat kerusuhan di jalanan.”

Kozhara menekankan bahwa tekanan dari AS terhadap pemerintah Ukraina untuk menahan diri dari tindakan ofensif mendorong beberapa bagian radikal dari oposisi mengadopsi tindakan agresif. “Status tindakan tanpa hukuman (unpunishable—Red DK/Echols-Shadily, 2005)  menginspirasi banyak dan lebih banyak lagi (orang-orang—Red DK) radikal untuk berpartisipasi dalam kerusuhan jalanan, dan melakukan penyerangan terhadap kantor-kantor pemerintah, serta melawan polisi.”

Polisi telah diperintahkan untuk tidak menggunakan senjata api. Namun, ada banyak kasus, oposisi menggunakan senjata api, menurut Kozhara.

“Para korban bersaksi bahwa orang-orang yang tewas bukan dari senjata api yang digunakan oleh polisi, tetapi kebanyakan oleh senjata api buatan sendiri dan untuk berburu. Banyak luka dari orang-orang yang meninggal dunia menunjukkan bahwa mereka ditembak dari belakang. Beberapa korban [dan kecelakaan] terjadi di dalam kerumunan aksi protes itu.”

Ukraina Memenuhi Hampir Seluruh Persyaratan Oposisi

Menteri Luar Negeri menggambarkan situasi di Ukraina menjadi “berada di titik terendah,” tapi “stabil. ”

“Kami berharap bahwa para pemimpin oposisi akan menerima undangan presiden dan akan memulai kembali perundingan. Dan kami semua sangat sedih dan menyatakan simpati sebesar-besarnya kepada para keluarga yang ditinggalkan, mereka yang meninggal dunia kemarin dan tadi malam dalam kerusuhan jalanan tersebut.”

Foto AFP / Louisa Gouliamaki

Foto AFP / Louisa Gouliamaki

Dalam hal negosiasi kompromi, Kozhara mengatakan bahwa Ukraina mengimplementasikan hampir seluruh persyaratan yang diajukan oleh oposisi. “Pihak oposisi meminta melakukan pengunduran diri pemerintah, dan presiden melakukannya. Pihak oposisi juga meminta kami membatalkan semua hukum yang diadopsi pada 16 Januari, dan semua hukum itu dibatalkan … Dan kami siap untuk memulai negosiasi dengan oposisi pada (kerangka—Red DK) reformasi konstitusi.

Pemerintah juga ingin melihat tanggung jawab yang sama ditunjukkan oleh oposisi selama pembicaraan.

“Hari ini, sangatlah penting bahwa kita memiliki negosiasi yang konstruktif dan akan mentransfer debat politik dari jalan-jalan ke tempat parlemen Ukraina. Dan kami sangat berharap bahwa besok (19/2—Red DK) dan Kamis (20/2—Red DK) parlemen Ukraina akan dapat mulai bekerja dan untuk mengambil keputusan-keputusan penting yang dibutuhkan rakyat Ukraina hari ini. “

Para Pemimpin Oposisi Saling Bersaing

Salah satu masalah yang disorot oleh Menteri Luar Negeri adalah pembagian di dalam oposisi. “Kesan kami bahwa ada persaingan yang kuat tentang siapa yang nomor satu di antara para pemimpin oposisi. Dan hari ini Ukraina berada pada malam kampanye presiden yang segera akan dimulai, sehingga persaingan politik ini ada di situ, di dalam oposisi.

Menteri Luar Negeri juga mengomentari penataan budaya Ukraina (cultural makeup—Red DK), mencatat perbedaan regional.

“Kami berkeinginan bahwa perbedaan itu tidak akan dieksploitasi oleh partai-partai politik. Hari ini, Ukraina harus berkonsentrasi pada hal-hal yang menyatukan seluruh orang Ukraina, bukan yang memisahkan kita.

Menteri Luar Negeri menyimpulkan pernyataannya dengan mengatakan bahwa meskipun Ukraina mengambil saran dari keduanya Barat dan Timur, (Ukraina—Red) meminta seluruh pemerintah asing agar “menghormati hak rakyat Ukraina untuk  menentukan nasib sendiri.”

Protes-protes massa oposisi telah melanda Ukraina selama berbulan-bulan, sejak 21 November (2013—Red DK), ketika Yanukovich menolak menandatangani perjanjian asosiasi (association agreement—Red DK) dengan Uni Eropa. Pada Selasa (18/2—Red DK), setelah tiga minggu relatif tenang, bentrokan berdarah antara kelompok-kelompok oposisi radikal dan penegak hukum pecah lagi.

Kekerasan terbaru di ibukota telah merenggut nyawa sedikitnya 26 orang, termasuk 10 petugas. Ratusan orang terluka.

ooOoo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s