Tiongkok adalah Kontribusi Terbesar Dunia bagi Pengembangan Riil Hak-Hak Asasi Manusia

.

Oleh John Ross

.

.Sumber: blog John Ross Key Trends in Globalisation, China’s is the world’s greatest contribution to the real development of human rights, 02 October 2014

.
Dibahasaindonesikan oleh Redaksi Dasar Kita

.

.
Artikel berikut awalnya diterbitkan pada 2 Juni 2014 dan berkaitan dengan resolusi yang disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat AS.

Namun argumen [dalam artikel dimaksud – Red DK] tersebut secara jelas bertalian dengan isu hak-hak asasi manusia [selanjutnya HAM] pada umumnya.

Oleh alasan yang diberikan di situ, dengan mudah menjadikan Tiongkok adalah kontribusi terbesar dunia bagi HAM dibanding negara mana pun di dunia.

* * *

Pada 28 Mei (2014 – Red DK), DPR AS memilih untuk memerdebatkan resolusi mengungkapkan keprihatinannya atas masalah “HAM” di Tiongkok. Hal ini membuatnya layak dijadikan sebuah perbandingan catatan riil atas HAM AS dan Tiongkok.

Ini adalah masalah penting karena kesejahteraan manusia tentunya satu-satunya tujuan dari setiap kebijakan yang tepat – termasuk di dalamnya hak setiap nasion untuk mengejar kedaulatan nasional dan kebudayaan nasional, di mana mengapa “kebangkitan nasional” Tiongkok [China’s “national revival”] dan kemajuan manusia [Tiongkok] secara menyeluruh tidak terpisahkan.

Manusia riil memiliki sejumlah besar kebutuhan dan keinginan mulai dari yang mendasar, memiliki kesehatan yang baik dan cukup untuk makan, hingga yang paling kompleks – bidang yang paling canggih dari kebudayaan atau ilmu pengetahuan manusia.

Secara obyektif hanya masyarakat yang dikembangkan secara ekstrim, dengan sumber-sumber daya ekonomi dan sosial yang besar, dapat mendekati pemenuhan semua kebutuhan tersebut.

Konsekuensinya, upaya untuk mereduksi “HAM” pada sebuah struktur politik gaya Barat, yang mengira dengan memiliki sistem “parlemen” merupakan hal terpenting menghadapi manusia, adalah konyol.

Masalah sebenarnya dengan sangat baik dilaporkan oleh koresponden BBC di Tiongkok, Humphrey Hawksley:

“Saya mendengar dari seorang fotografer pernikahan Irak yang kehilangan begitu banyak teman dan para anggota keluarga, bahwa ia akan dengan senang hati bertukar haknya untuk memilih, dengan air, listrik dan keamanan; dari seorang pembuat sepatu Argentina yang membarter para pelatih, dengan makanan karena ekonominya hancur; dan dari petani kakao Afrika yang percaya pada pasar bebas Barat yang membuat dia sekarang tiga kali lebih miskin ketimbang dia tiga puluh tahun yang lalu”.

Contoh dari perempuan di Tiongkok dan India dapat dengan mudah diambil untuk menggambarkan masalah riil menyangkut HAM.

Harapan hidup seorang perempuan Tiongkok adalah 77 tahun dan melek huruf di kalangan perempuan Tiongkok di atas usia 15 adalah 93 persen, seorang perempuan India memiliki harapan hidup 68 dan tingkat melek huruf di atas usia 15 adalah 66 persen.

India mungkin sebuah “republik parlementer”, tetapi HAM seorang perempuan Tiongkok (sayangnya) jauh lebih unggul dari HAM seorang perempuan di India.

Siapa pun yang tidak mengerti atau tidak mengakui bahwa HAM yang lebih baik jika seseorang [bisa] hidup kurang lebih sembilan tahun [lagi] [usia harapan hidup Tiongkok-India 77-68 fakta di atas] serta apakah mereka [rakyat] melek huruf atau buta huruf, bisa salah satu: kehilangan kepekaan terhadap realitas atau seorang pembohong.

Jika arti sebenarnya istilah “HAM” yang digunakan, jelas bahwa Tiongkok memiliki catatan HAM terbaik di dunia – dan kata-kata tersebut dipilih secara cermat. Tiongkok telah mengangkat lebih dari 630 juta orang keluar dari kemiskinan [simak John Ross di hlm 41a] – lebih dari seluruh penduduk Uni Eropa atau benua Amerika Latin, dan hampir dua kali lipat populasi AS. Tiongkok telah membawa perlindungan jaminan sosial 820 juta orang, dan perawatan kesehatan untuk lebih dari satu miliar orang. Tiongkok bertanggung jawab atas 100 persen pengurangan jumlah penduduk miskin di dunia [ibid Ross hlm 41a].

Tidak ada negara lain di dunia memiliki pencapaian-pencapaian yang memenuhi hal-hal ini sepenuhnya bagi kesejahteraan riil umat manusia.

Apa yang sangat mencolok adalah kontras faktual antara apa yang Tiongkok telah capai dan klaim menggelikan dari AS untuk sebuah catatan “HAM” unggul [a superior “human right” record].

Di Dunia di luar Tiongkok jumlah orang yang hidup dalam kemiskinan pada sebuah sistem ekonomi yang didominasi AS, sesuai kriteria internasional yang ditetapkan Bank Dunia, meningkat dalam 30 tahun terakhir.

Amerika Serikat telah melancarkan serangkaian perang agresif di Irak dan Afghanistan di mana ratusan ribu orang tewas – tidak bicara tentang perang sebelumnya di Vietnam di mana mereka membunuh 3 juta orang.

Bahkan mengesampingkan realitas ekonomi, di bidang murni-politik, sejak Perang Dunia II, komentator AS William Blum [Blum di dalam BJ Murphy, simak hlm 22a] mencatat, AS telah:

• menjatuhkan bom pada rakyat lebih dari 30 negara;
• berusaha untuk menggulingkan lebih dari 50 pemerintah asing, sebagian besar terpilih secara demokratis;
• berusaha untuk membunuh lebih dari 50 pemimpin asing.

Selain itu, fakta menetapkan dengan jelas bahwa serangan atas catatan HAM Tiongkok oleh pemerintah AS, dan [sebaliknya] pihak-pihak yang mereka dukung, hanyalah kemunafikan.

Tiongkok secara terbuka menyatakan prinsip kebijakan luar negerinya – bahwa setiap negara berhak untuk memilih bentuk pemerintahan sendiri, dan apakah menginginkan monarki absolut tanpa hak-hak politik, sebuah republik parlementer, atau sosialisme bukanlah urusan Tiongkok.

AS, sebaliknya, dalam pernyataan mengklaim hak untuk mengkritik negeri-negeri lain, mengatasnamakan keharusan “nilai-nilai universal” [in the name of supposed “universal values”] dari bentuk kekuasaan politik Barat.

Tetapi kenyataannya, secara transparan berbeda atas hal ini. Sebuah negeri seperti Arab Saudi, yang merupakan monarki absolut, di mana partai-partai politik dilarang, di mana perempuan dilarang bahkan untuk mengendarai mobil, tidak tunduk pada kampanye AS mengenai “HAM”. Juga tidak bagi Bahrain, monarki absolut lain, yang melayani sebagai pangkalan untuk Armada Kelima AS.

Keterlibatan AS dalam peristiwa-peristiwa seperti penggulingan militer Presiden Cile Allende adalah gambalang, dan AS bahkan secara resmi mengakui perannya dalam penggulingan pemerintahan terpilih dari Mosaddegh di Iran (simak hlm 36b – Red DK).

Di Rusia pada 1993 pemerintah AS mendukung serangan Yeltsin dengan tank atas parlemen Rusia, sementara mereka mengutuk Putin sebagai “anti-demokrasi”, ia yang tidak hanya pemilu tapi setiap jajak pendapat menunjukkan perolehan dukungan paling populer di antara setiap pemimpin Rusia dalam beberapa dekade – perbedaan antara keduanya adalah bahwa Yeltsin mengejar kebijakan subordinat pada AS, sementara Putin mengejar kebijakan independen darinya.

Fakta-fakta ini yang tegak sangat pasti, bahwa masalah bagi pemerintah AS dengan Tiongkok bukanlah “HAM” – jika Tiongkok sebuah rezim otoriter yang mendukung AS, tidak bakal dikritik.

Masalah sebenarnya dengan Tiongkok bagi neokon [neokonservatif] AS dan para pengikutnya, adalah bahwa kebangkitan nasional Tiongkok membuatnya kuat.

Alih-alih mengklaim, DPR AS sangat disarankan untuk meloloskan sebuah resolusi ucapan selamat kepada Tiongkok atas kontribusinya yang tak tertandingi untuk kesejahteraan umat manusia dalam mengangkat lebih dari 600 juta orang keluar dari kemiskinan, [lantas] mengadakan suatu penyelidikan untuk mencari tahu mengapa AS yang mendukung kebijakan ekonomi dunia di luar Tiongkok, tidak dapat membuat kontribusi HAM seperti itu, dan [selanjutnya] secara terbuka meminta maaf atas ratusan ribu orang yang tewas dalam medan-medan perangnya – termasuk ribuan tentara AS biasa yang meninggal di situ.

Hanya ketika hal itu terjadi, DPR AS mulai memahami masalah-masalah riil yang terlibat dalam HAM bagi orang-orang riil dari dunia riil.

ooOoo

.

Catatan Redaksi Dasar Kita

dk-83a-john-ross-bio

 

 

John Ross saat ini adalah Peneliti Senior di Institut Studi Finansial Chongyang, Universitas Renmin Tiongkok [Senior Fellow at Chongyang Institute for Financial Studies, Renmin University of China].

Selengkapnya dalam Bahasa Inggris klik John Ross Biography atau data terbarui About John Ross di blog beliau yang lain lagi Learning from China.

.

.

.

Versi Bahasa oleh Redaksi ini adalah sepengetahuan dan seijin John Ross melalui surat elektronik-Tweeter, meski kesalahan baik grafis maupun konten/isi dari versi Bahasa ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Redaksi,  di mana secara khusus beliau berharap para pembaca blog Redaksi Dasar Kita akan menyukai tulisannya ini. 

 Kami mengucapkan terima kasih atas kerja sama dan ijin yang diberikan oleh John Ross.

.

Simak/klik hlm HK-2. Artikel-artikel John Ross dalam Versi Bahasa di Blog Dasar Kita (termasuk artikel ini butir 4):

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s