Sebuah Tawaran Menjawab Tantangan Ahok:

.

Parpol Baru? Kenapa Tidak!
Landasannya: Pemikiran USDEK-Sukarno
.

.
Oleh Redaksi Dasar Kita

.
“Walaupun semua parpol di Indonesia enggak beres, yang namanya bernegara ya harus berpolitik, politik ya harus masuk ke parpol, itu sudah konstitusi yang mengatur. Kalau tidak mau masuk parpol yang ada, ya bikin parpol baru yang isinya anak-anak muda idealis, yang penting lakukan perubahan,” ujar Basuki seperti ditulis Kompas.com (12/4/2015) di bawah tajuk “Ahok Ajak Para Pemuda Mau Jadi Anggota DPRD”.

Meski cuma pewarta warga atau gagah-gagahannya aktivis-klik (dalam pengertian ikutan “berkesadaran politis”) yang semuanya itu tak lebih dari omdo, kami, Redaksi Dasar Kita, antusias membidas. Merespons dengan “sebuah tawaran menjawab tantangan Ahok” seperti tajuk di atas.

Tawaran sebuah partai politik baru dengan landasan “ideologi” berupa pemikiran USDEK-Sukarno. USDEK yang adalah kependekan dari Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme ala Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, Kepribadian Indonesia.

Atau, saat kali pertama dilansir oleh Sukarno lengkapnya adalah “Manipol/USDEK” (Manifesto Politik/USDEK) yang bersumber pada pidato Kenegaraan 17 Agustus 1959 “Penemuan Kembali Revolusi Kita” dalam konteks Manipol “kembali ke UUD 1945” pada tahun itu yang dinyatakan lewat Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Manipol yang dicantumkan, disampaikan kembali, menjadi bagian dari pidato kenegaraan tersebut, melegendariskan pidato itu sebagai: Manipol/USDEK.

Lamun, untuk keperluan landasan sebuah parpol, cukup disingkat USDEK – USDEK-Sukarno saat ingin memertegas. Tetapi secara historis sebutan Manipol atau Manipolis untuk kaum yang mengusung USDEK tentunya juga tepat, tergantung konteksnya. Dan parpol baru ini pun tidak keberatan bila disebut kaum manipolis. Atau lebih pasnya: manipolis-materialis (simak tilikan selanjutnya).

Mengapa USDEK?

Pertama, sebagai bidasan atas “kata kunci”, kalimat kunci Ahok dalam kutipan di atas “bikin parpol baru yang isinya anak-anak muda idealis, yang penting lakukan perubahan”. Yang kami maknai sebagai parpol baru – berisi kaula muda idealis – dengan visi “lakukan perubahan” untuk sebuah Indonesia yang lebih baik.

Aksi, tindak perubahan yang kami pahami lanjut dalam kerangka ucapan kondang VI Lenin diamini Mao Zedong, Sukarno, juga oleh Surya Paloh bahkan kami sendiri (simak hlm 2b): “Tak ada gerakan revolusioner tanpa teori revolusioner.” (“Indonesia di Jalan Restorasi, Politik Gagasan Surya Paloh” oleh Willy Aditya, 2013: 86).

Artinya, parpol baru ini adalah partai revolusioner dengan teori revolusioner. Dan Teori revolusioner itu bernama USDEK.

Sari patinya (nanti akan dielaborasi lanjut, lihat bawah): teori revolusioner USDEK sejatinya sebagai “penyempurnaan”, “ultimate”-nya pemikiran Soekarno yang termanifestasaikan dalam sebuah “Manifesto Politik” (pada momentum menyejarah republik ini “kembali ke UUD 1945/Dekrit 5 Juli 1959).

Atau, pemaknaan yang sangat inspiratif justru dari seorang jauhari, cendekiawan Kristen Protestan Frank L Cooley dalam bukunya “Mimbar dan Tahta” (dikutip dari hlm 38a):

Perkembangan politik semenjak 1940, termasuk masa pendudukan Jepang, berdirinya negara Indonesia Timur, dan eksperimen berbagai lembaga pemrintahan sejak tahun 1950, khususnya setelah tahun 1958 (Dekrit Presiden Soekarno 5 Juli 1959—Red DK) telah memberikan pengaruh dan perubahan yang jauh lebih menonjol dari pada masa-masa semenjak VOC.

[…]

Di bawah pemerintahan kolonial kepentingan ekonomi senantiasa diprioritaskan dan kepentingan politik ditetapkan untuk melayani tujuan-tujuan ekonomi, sedangkan dalam pemerintahan sendiri (Republik Indonesia—Red DK), tampaknya tujuan politik yang diutamakan.

Kepentingan-kepentingan lain disusun dalam rangka kepentingan dan tujuan nasional yang menyeluruh. 

Ini menjadi lebih jelas dengan adanya perkembangan paling akhir (pada 1960-an—Red DK) yaitu usaha untuk membangun suatu  bangsa dan masyarakat baru yang didasarkan pada lima unsur, yang dikembangkan dari penafsiran atas Pancasila oleh bekas Presiden Soekarno. 

Lima unsur itu adalah: Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme ala Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin dan Kepribadian Indonesia.

Akan memakan waktu yang lama sebelum pengaruh gagasan dan lembaga-lembaga yang berkembang nanti, mencapai desa-desa Maluku.

Namun jika itu terjadi, pengaruh itu akan masuk ke dalam suatu lingkungan yang telah terbuka bagi perubahan-perubahan.5     

5 Kalimat-kalimat ini ditulis dalam tahun 1961. Keadaan telah sangat berubah semenjak tahun 1965. Terserah pada pembaca untuk menilai, sampai seberapa jauh masing-masing unsur itu telah berkembang dalam masa sesudah tahun 1965 itu.

.

(Mimbar dan Tahta, Pustaka Sinar Harapan, 1987: 385 dan 419; cetak tebal dari kami)

USDEK, hemat kami sebagai manifestasi atas serangkaian pemikiran-pemikiran revolusioner Soekarno tentang sebuah nasion jauh sebelum menjadi Republik Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945 berlanjut sehari sesudahnya dengan konstitusi awal Pancasila-UUD 1945 — didahului 1 Juni 1945 “Lahirnya Pancasila” (simak hlm 9a) — melaju terus selama dua dasawarsa sebelum Revolusi Indonesia itu terhenti oleh proses Kudeta Merangkak 1 Oktober 1965 – 12 Maret 1967 (simak hlm 2b.1).

Revolusi Indonesia yang tumbang tapi tidak tenggelam. Dan parpol baru ini berikhtiar “membangkit batang terendam, membangun Indonesia Baru” (Suar Suroso di dalam Busjarie Latif, 2014: x).

Manifesto Politik atau USDEK yang, lagi-lagi seperti halnya Pancasila, “esensinya” adalah gotong royong.

Gotong royong atau masohi* yang juga sebagai esensi dari kelima unsur tak terpisahkan di mana – USDEK tercakup di dalamnya – Soekarno menyebutnya sebagai Panca Azimat: Nasakom (Nasionalis, Agamais, Komunis), Pancasila, USDEK, Trisakti (Berdaulat politik, berdaulat ekonomi/berdikari), Berdikari (Berdiri di atas kaki sendiri).

———

* Serapan Melayu Ambon bermakna gotong royong; dipakai Soekarno pada 1957 sebagai nama sebuah kota baru di pesisir selatan Pulau Seram. Kini Masohi Ibukota Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, kawasan kampung halaman sebagian besar orang/etnik Ambon. (Lihat/klik Ode Abdurrachman)

.

Sehingga, ketika USDEK merupakan landasan ideologi parpol baru ini, pada hakikatnya tak lepas dari historis keberadaannya di dalam kelima azimat dimaksud Soekarno itu. Dan justru dalam penjelasan lanjut ideologi parpol baru ini – melalui elaborasi dalam konteks untuk kebutuhan “pengorganisasian” – akan tampak bahwa USDEK menjelaskan Panca Azimat dan Panca Azimat menjelaskan USDEK.

Garis Besar Elaborasi Ideologi Partai

.UUD 1945, Sosialisme ala Indonesia.

Unsur pertama Undang-Undang Dasar 1945, menunjukkan bahwa parpol baru ini berlandaskan ideologi yang dimiliki negara Republik Indonesia sebagai hasil dari sebuah kemenangan Revolusi 17 Agustus 1945, sebuah konstitusi pascarevolusi yang disusun dan diresmikan pada 18 Agustus 1945 – sehari setelah Proklamasi Kemerdekaan.

Artinya, parpol baru ini menempatkan diri sebagai bagian atau tepatnya sebagai sebuah partai politik, sebuah kekuatan politik dari negara Republik Indonesia yang merdeka dari penjajahan pada 17 Agustus 1945 dengan konstitusinya UUD 1945, Pancasila-UUD 1945.

Kemudian, parpol baru ini memaknai UUD 1945 mengacu (pertama-tama) pada pemikiran DR Arief Budiman seperti tercantum di bawah ini, yang sekaligus memaknai pula unsur kedua dari USDEK: Sosialisme ala Indonesia.

Mengacu (pertama-tama) pada pemikiran Arief, dalam pengertian setidaknya sebagai titik tolak namun bukan sebagai titik untuk kemudian ditolak tapi justru diperkuat. “Disempurnakan” dengan menimbang perkembangan historis-geopolitik dunia khususnya pergantian melinium ketiga, ketika “sosialisme sesungguhnya ada” (simak hlm 28b). Ketika “dinyatakan punah ternyata kiprah” (Suar Suroso, 2009) (simak hlm 56a).

4. Sistem apa yang menggantikan sistem kapitalisme di Indonesia? Menurut saya, sistem sosialisme. Ada dua alasan pokok:

a. Sistem ini memang sudah dikenal dalam masyarakat tradisional kita, yakni dengan nama gotong royong. Kemudian, kalau kita membaca pokok-pokok pikiran dari pendiri negara ini, dari Cokroaminoto sampai kepada Soekarno-Hatta ketika mereka berjuang melawan Belanda dulu, cita-cita mendirikan masyarakat sosialis selalu tercermin kuat.

b. Sistem ini dinyatakan secara kuat pula dalam ideologi negara kita sekarang, yakni Pancasila dan UUD’45. Dengan mudah kita temui cita-cita sosialisme dalam dokumen-dokumen politik kita.

Tapi hendaknya dicatat pula, bahwa dengan sosialisme yang saya nyatakan di atas, bukan berarti kita harus mengikuti secara mentah-mentah sistem negara-negara sosialis yang ada.

Yang saya terima adalah social formation sosialistis bagi Indonesia, di mana kita memerhatikan macam-macam mode of production yang ada di Indonesia sekarang.

Adanya kesadaran akan perbedaan perkembangan sejarah dari masing-masing negara membuat mungkin kita menciptakan sistem sosialisme yang khas Indonesia.

Yang ada sekarang, menurut saya, adalah sistem kapitalisme yang khas Indonesia.

(Arief Budiman dalam sebuah makalahnya bertajuk Menciptakan Masa Depan Indonesia yang Lebih Baik, Masalah Ilmu Sosial dan Proses Regenerasi; disampaikan pada Seminar Nasional Kualitas Manusia Dalam Pembangunan, Palembang, 19-22 Maret 1984, Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIS)

.

(Maaf Kawan Pembaca Budiman, masih dalam proses penyuntingan akan tuntas dalam waktu dekat – Red DK)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s