Trisakti-Gotong Royong Jokowi-JK:
Kegagalan Doktrin Truman di Indonesia

.

Dinyatakan Punah Ternyata Kiprah

.

Oleh Redaksi Dasar Kita

.

Sejak pelantikan Jokowi Widodo-Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia pada 20 Oktober 2014, dengan mengusung visi Jalan Ideologis Trisakti-Gotong Royong (simak hlm 44b.1), tak pelak lagi pemikiran Soekarno kembali tampil di pentas politik Indonesia, menjadi kebijakan politik negara setelah nyaris setengah abad tersingkir.

Trisakti notabene adalah salah satu dari lima azimat atau Panca Azimat Revolusi yang digagas Soekarno: Nasakom, Pancasila, Manipol/USDEK, Trisakti (Tri Shakti, di teks pidato Soekarno, lihat bawah), Berdikari.

———

“Sebagaimana juga di dalam Panca Azimat Revolusi, lima Panca Azimat ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Apa itu Panca Azimat Revolusi? Nasakom, Pancasila, Manipol/USDEK, Tri Shakti, Berdikari. Tidak bisa lima hal ini dipisahkan satu sama lain. Bahkan tiap-tiap unsur pun tidak bisa dipisahkan dalam artiannya satu sama lain.

Nasakom adalah satu kesatuan; Nas, A, Kom. Jangan dipisahkan satu sama lain. Pancasila adalah satu kesatuan, jangan dipisahkan satu sama lain, atau sekadar diambil daripada Pancasila itu, itu yang ditonjol-tonjolkan, tidak bisa.

Kalau kita berkata, kita adalah Pancasilais, pergunakanlah Pancasila itu benar-benar sebagai entity, sebagai satu kesatuan daripada kelima-lima unsur, kelima-lima sila dari Pancasila.

Manipol/USDEK itu adalah pun satu kesatuan. USDEK, Manipol.

Demikian pula Tri Shakti, satu kesatuan yang terdiri daripada tiga unsur, yaitu berdaulat sepenuh-penuhnya di lapangan politik, berdikari di lapangan ekonomi, berkepribadian di lapangan kebudayaan. Itu adalah Tri Shakti. Bukan kok satu bagian saja, tidak. Ketiga-tiganya adalah satu  entity, satu kesatuan.

Berdikari (berdiri di atas kaki sendiri — Red DK) adalah satu kesatuan pula. Berdikari di lapangan ekonomi, di dalam segala hal berdikari.”

(Amanat PJM Presiden Soekarno pada Pelantikan/Penyumpahan Menteri/Panglima Angkatan Udara yang Baru, Komodor Udara Roosmin Nurjadin di Istana Negara, Jakarta, 7 April 1966 — “Revolusi Belum Selesai, Kumpulan Pidato Presiden Soekarno 30 September 1965-Pelengkap Nawaskara”, Penyunting Budi Setiyono dan Bonnie Triyana, PT Serambi Ilmu Semesta, 2014: 467)

Pemikiran-pemikiran Soekarno yang bersama-sama dengan Marxisme-Leninisme yang diusung kaum kiri-antirevisionisme era Presiden Soekarno, berikut ratusan ribu hingga jutaan kader/simpatisan partai politik yang kali pertama menggunakan nama “Indonesia” 25 tahun sebelum proklamasi 17 Agustus 1945 “harus tumbang akibat teror brutal yang dilakukan saudara sebangsanya sendiri sejak tahun 1965” (Bilven {ed} dalam Busyarie Latief, Ultimus, 2014: v).

“Tetapi, di mata mereka yang telah merampas pedang dari tangan Tuhan, jasadnya tak layak dimakamkan, karena anaknya dipercaya jadi dalang pembantaian para jenderal.” (Cerpen “Melarung Bro di Nantalu” dalam Kumpulan Cerita Pendek karya Martin Aleida “Mati Baik-Baik, Kawan”, Ultimus, 2014: 157).

“Begitulah, suatu pagi, ayah Mangku diseret ke tepi lubang, tengkuknya dihantam linggis, dan bersama petani senasib, dia ditimbuni tanpa doa, konon pula airmata. / Di tempat lain dalam huru-hara paling bengis itu, anak-anak menyertai ayah mereka ke dalam lubang. Mangku mujur. Airmata kanak-kanaknya jadi juru selamat. Pemilik tanah membiarkannya menempati gubuk orang tuanya. Dia jadi pembantu di rumah tuantanah itu.” (Cerpen “Mangku Mencari Doa di Daratan Jauh”, ibid: 2)

“Malamnya, Mangku meratap bertahan-tahan isak tangis. Di hadapannya sahabatnya terkapar di tikar. Kera itu kejang. Mulutnya berbuih. / Paginya para pemancing menemukan bangkai anjing, rupanya, anjing pembawa rabies yang menyerang kera Mangku, mati, dan orang membuangnya ke laut./ Mangku takkan memperlakukan sahabatnya seperti itu. /Dia membungkus jasad sahabatnya itu dengan hormat, membawanya menyeberang selat. Sesampai di Sumatera Mangku membopong tubuh kaku kera itu menuju daratan agak tinggi, menatap selat. / Mangku tegak di atas lutut menghadap lubang. / Berdoa beberapa saat, lantas dia menimbuni lubang kuburan itu dengan tanah. Juga airmata. ‘Persis sebagaimana kau dikuburkan ini, begitulah kematian yang kau inginkan. Mati baik-baik, kawan. Diiringi doa …’ “ (Ibid: 11).

“Selama Soeharto berkuasa, melalui berbagai alat propaganda negara, seperti buku-buku, film, monumen, upacara peringatan, dan lain-lain, rezim ini secara masif menanamkan kesadaran palsu kepada masyarakat akan bahaya laten komunis, bahwa hantu PKI adalah kekuatan jahat dan pengkhianat negara. Bahkan hingga kini, 16 tahun setelah Soeharto lengser, propaganda bahwa PKI adalah momok jahat masih belum hilang, sewaktu-waktu masih bisa dipakai oleh siapa pun untuk kepentingan negatif tertentu.” (Ibid Bilven: vi)

“Demikian besar peranan dan pengaruh PKI dalam perjuangan merebut dan membela kemerdekaan nasional Indonesia, hingga tidak sedikit pakar sejarah, luar dan dalam negeri menulis buku tentang PKI. […] / Terlepas dari sikap para penulis yang aneka ragam, mulai dari yang anti-komunis, sampai pada yang bersikap tak menentang juga tak mendukung, bahkan yang simpati pada perjuangan adil PKI, semaunya ini menunjukkan pengakuan akan eksistensi satu Partai Komunis besar yang ikut berjasa dalam perjuangan pembebasan nasional, anti-feodalisme, dan anti-fasisme, bercita-cita membangun sosialisme di Indonesia. […] ‘dia adalah anak zaman yang melahirkan zaman’. **

———

**

Kini Ia Sudah Dewasa

.
Ia lahir,
dengan kesakitan,
kelas termaju,
sebagai anak zaman,
yang akan melahirkan zaman.

(Sajak karya DN Aidit, 35 tahun PKI, 23 Mei 1955, dalam ibid Busjarie:7. Catatan kaki ini ** oleh Redaksi DK).

Tapi borjuasi internasional dikepalai Amerika Serikat tidak rela lahirnya zaman baru, zaman tanpa penghisapan manusia oleh manusia karena berarti borjuasi masuk liang kuburnya maka jelas-jemelas hal yang demikian tidak berkenan di hati borjuasi.

Maka tak ayal lagi dengan sekuat tenaga mengobarkan Perang Dingin, merealisasi  the policy of containment — politik pembendungan  dan pembasmian komunisme sejagat yang diprakarsai Presiden Truman seusai Perang Dunia kedua dan dilanjutkan para penerusnya.***

———

***

[Eisenhower (1953-1961); Kennedy (1961-1963); Johnson (1963-1969) dan … tampaknya tak berubah di abad ke-21 ini. Entitasnya negeri satu ini sebagai kapitalisme tahap tertinggi/terakhir: imperialisme; entitas yang telah merampas pedang dari tangan Tuhan, memaksa Mangku bersahabatkan hewan bukan manusia, sekaligus bukti kegagalan mereka: Mangku, rakyat Indonesia, justru akan semakin menjunjung tinggi harkat manusia ketika menyeberang selat Mangku Mencari Doa di Daratan Jauh,  untuk memakamkan keranya: mati baik-baik, kawan. Diringi doa …

Ya, entitas ini tak berubah. Kecuali “dalih”-nya. Bukan lagi komunisme. Tapi “demokrasi”, “HAM”, “terorisme”, dan paling anyar “Perang Dunia III”.

Isu yang mulai ditiup-tiup kaum revisionis Amerika. Antisipasi hubungan makin mesra RRT-Rusia (atas dasar win-win deals untuk peningkatan ekonomi bukan aliansi yang imperialistis-invasif) yang akan sangat mengancam “hegemoni”◊ Washington.  (◊ istilah yang “digemari” di kalangan revisionis, kaum yang sejatinya diametral “kediktatoran proletariat”; simak hlm 18b-catatan kaki 3 hlm 64 Amouz)

Cara pandang kaum revisionis — yang disebut Vince Sherman: … fungsi mereka secara de facto sebagai left-cover for imperialisme yang selalu saja mengabaikan RRT sebagai tegaknya keperkasaan sebuah negeri kaum proletariat — seperti disinggung Suar Soroso di bawah — sebagai bukti berandang “sosialisme sesungguhnya ada“, bukan pertama-tama isu PD III.

Isu jadul, yang malah ingatkan kita pada era Perang Dingin The Cuban Missile Crisis, October 1962.

Gagal total, ciut dan mundur teraturnya kekuatan pemukul imperialis AS, yang berencana lewat Operation Mongoose melanjutkan kegagalan invasi Teluk Babi, Kuba. Namun, terhalang Uni Soviet yang “nekat” menantang tarung nuklir (berpotensi pecah PD III) membela Kuba yang sama-sama berorientasi sosialis — Red DK].

Bergendang paha* menyambut robohnya Tembok Berlin yang disusul oleh kehancuran Uni Republik-Republik Sovyet Sosialis dan negara-negara sosialis Eropa Timur dan tengah, Presiden George Bush dalam pidato kenegaraannya awal tahun 1992 ‘Perang Dingin sudah usai, komunisme sudah mampus, dan kita menang!’.

———

* bergendang paha: bersukacita karena orang lain mendapat kesusahan (“1100  Pribahasa Indonesia”, disusun oleh Y Sidi Marajo, dkk, CV Usaha Nasional, Surabaya, 1976: 92, nomor 1068).

Dan pakar teori pembela tangguh kapitalisme, Francis Fukuyama, memproklamirkan ‘Dunia sudah sampai pada akhir sejarah … liberalisme sudah mengungguli Marxisme!’ Samuel P Huntington dalam karyanya  The Clash of Civilizations and the Remarking of the World Order, memaparkan keyakinannya bahwa dengan rontoknya Uni Sovyet, maka telah usailah Perang Dingin dan telah bangkrut komunisme.

Di Indonesia telah terjadi pembantaian manusia tak berdosa demi membasmi kekuatan komunisme dan pendukung Bung Karno. Memang berhasil menggulingkan Bung Karno dan mendirikan kediktatoran fasis orba Soeharto. Peristiwa ini jelas ikut mengamini pandangan Bush, Fukuyama, dan Huntington.

Tapi betapapun juga, PKI tidak bisa dihapus dari sejarah. Kaum komunis dan gerakan komunisme tidaklah punah. Marxisme yang menjadi dasar teori dan gerakan komunisme tidaklah daluwarsa. Di belahan timur bumi raya, Tiongkok yang dihuni seperlima penduduk dunia, sedang bangkit mengagumkan dunia, dari negeri miskin dan terbelakang di pertengahan abad XX, kini menjadi negeri kedua terbesar di bidang ekonomi. Ini jelas adalah berkat pembimbing Marxisme-Leninisme. Kejayaan Tiongkok membangun sosialisme berciri Tiongkok, adalah  reform dan politik terbuka yang diprakarsai Deng Xiaoping semenjak tahun 1978.” (Suar Suroso dalam ibid Busjarie: xviii-xix)

Ya, Batang itu Telah Tumbang, Tapi Tidak Tenggelam

“Rakyat Indonesia dengan bersenjatakan Marxisme, teori perjuangan yang ilmiah, yang dipadukan dengan situasi konkret Indonesia, akan bangun kembali, membangkit batang terendam*, membangun Indonesia baru.” (Ibid: xx).

———

* membangkit batang terendam: mengangkat kembali nama baik yang sudah lama hilang (ibid Y Sidik Marajo, dkk:30, nomor 264).

Lamun, dalam keadaan “terendam” itu — ini yang kami, Redaksi Dasar Kita yakini dan ingin berbagi (sharing) — adalah PDI-P/Megawati yang berhasil menaikkan kadernya Joko Widodo ke RI-1 dengan mengusung Jalan Ideologis visi Trisakti-Gotong Royong — gotong royong sebagai esensi dari Panca Azimat.

Artinya, sekali lagi, satu dari Panca Azimat telah “diadopsi” menjadi kebijakan negara di bawah pemerintahan Jokowi-JK.

Artinya pula, kegagalan Doktrin Truman.

Kegagalan yang bukan saja dalam membendung pemikiran-pemikiran Bung Karno (BK) dan Marxisme-Leninisme, malah hasil “pengaruh-memengaruhi” BK-PKI untuk tidak mengatakan “kolaborasi” atau “sinergi” BK-PKI dalam “wujud” Panca Azimat kini riil sebagai jalan ideologis visi Trisakti-Gotong Royong Jokowi-JK.

BK-PKI meninggalkan “belang macan dan gading gajah”. Meminjam subjudul buku “Marxisme suatu kajian” (Suar Suroso, Hasta Mitra, 2009) “dinyatakan punah ternyata kiprah”.

Yang untuk kami, menjadi jelas, bahwa Marxisme-Leninisme (yang diusung PKI) sebagai salah satu pendekatan yang digumuli Soekarno dalam membentuk pemikiran-pemikirannya, justru dalam 50 tahun terakhir ini terus saja diupaya-paksa “dicopot” dari Marhaenisme. Dan gagal!

Padahal kaum imperialis pasca-Soeharto lengser masih meraih “kemenangan signifikan” atas Republik Indonesia. Konstitusi awal kita “diamendemen” menjadi konstitusi gadungan UUD 2002 yang sarat neolib (baca: negara lemah, pebisnis kuat; simak hlm 18b-hlm 54 Hamdani).

Ketika kita “sibuk” dengan kerusuhan Ambon berkepanjangan sementara di Senayan, Jakarta, para “wakil rakyat” melakoni “penyelundupan hukum”: 1 per tahun, total 4 “amendemen” pada kurun 1999-2002 (simak hlm 21a dan hlm 22a juga hlm 13a). Penjelasan UUD 45 dihapus, Batang Tubuhnya diacak-acak dan Pembukaan UUD 45 sekadar “pajangan” (simak hlm 42a juga hlm 39a).

Dan gagal. Truman gagal!

Empat Pilar Kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal) yang sudah almarhum oleh keputusan Mahkamah Konstitusi (simak hlm 43b), adalah contoh kegagalan lain lagi.

Ironisnya, malah disokong PDI-P/Megawati, “bangkit dari antara orang mati” menjadi program sosialisasi MPR berkat “absurditas” kompromi politik MK-MPR. (Data terbarui, alhamdulillah, ada juga pakar hukum tata negara kita yang angkat bicara, Jimly Asshiddiqie: “Sudah Dibatalkan MK, Frasa Empat Pilar Kebangsaan Jangan Digunakan Lagi” — Kompas.com, 18/5/2015).

Pertanyaannya: Apa PDI-P tidak mau mengakui bahwa Trisakti itu bagian dari Panca Azimat dan tidak pernah tercatat dalam sejarah bahwa ada pemikiran Soekarno yang dinamakan 4 Pilar Kebangsaan?

Pertanyaaan senada pernah kami layangkan, Tiga Tanya untuk PDI-P jelang Kongres IV, di Bali, 9-12 April 2015 lalu.

Sehingga tidak heran kaum muda revisionis yang selama ini “berjuang” di bawah panji-panji “prodemokrasi/HAM” di era pemerintahan proimperialis SHT-SBY (simak hlm 35a),  “terkaget-kaget”. Ketika Jokowi-JK– seperti halnya Ahok — yang lebih memilih untuk berpihak kepentingan rakyat banyak tak berpunya (kecuali tenaga kerjanya; simak hlm 33b) ketimbang harus keukeuh pada “demokrasi/HAM” — yang ternyata trennya versi sang imperialis dengan “teori-teori” itu (simak hlm 18b-cacatan kaki 4 hlm 64 & hlm 70 Amouz).

Kami yakini, bila Jokowi-JK bisa bertahan hingga 2019, “akhirnya kita punya harapan” versi Abdee Slank (simak hlm 46a).

Dengan Jalan Ideologis Trisakti-Masohi/Gotong Royong sebagai solusi cerdas dan cantik atasi konstitusi gadungan UUD 2002 (simak hlm 51a), sebuah Indonesia Hebat yang Nawa [9] Cita (simak hlm 44b.1) tak terelakkan makin tampak pada lima tahun berikutnya.

Lantaran Jokowi-JK lebih memilih memunggungi kaum imperialis, mereka yang telah merampas pedang dari tangan Tuhan (Martin Aleida), dan berpaling pada historis nasion akbar ini, pada sepotong “kolaboratif” sang proklamator dengan parpol yang lahir 95 tahun silam pada 23 Mei 1920.

Memerkuat basis Revolusi 17 Agustus 1945 yang di atasnya akan berdiri, akan diperjuangkan superstruktur bersesuaian, membangkit batang terendam, membangun Indonesia baru (Suar Soroso): sosialisme khas Indonesia. (Simak hlm 44a dan hlm 45a).

ooOoo

One response »

  1. Ping-balik: Trisakti Jokowi | trending info

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s