Menanggapi Wawancara Prisma dengan Arief Budiman pada 1983 ….

.

Dalam pengeposan yang lalu ada dua risalah yang sesungguhnya saling terkait. Yang pertama di hlm 71a. “Investigators of Empirical Facts”: Berpikir ala Machisme, Ketika “Kiri” Minus “Ultimate Aim”. Dan yang kedua di hlm 71c. Arief Budiman: Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Ahistoris (Prisma, No 6 Juni 1983).

Pada risalah pertama hlm 71a Redaksi mencoba merekam dan mengaksarakan sebuah diskusi kecil antara kami dengan Binsar (bukan nama sebenarnya) yang berlanjut lewat WA justru dengan Yuang (juga bukan nama sebenarnya). Yuang yang saat diskusi kecil di sela-sela rehat salah satu acara “Belok Kiri Festival” itu juga hadir tapi belum sempat berkomentar keburu acara BKF berlanjut.

Berdasarkan diskusi kecil Redaksi-Binsar-Yuang yang termuat pada hlm 71a itu, kami yang sudah lama berniat memuat utuh wawancara Arief Budiman dengan majalah “Prisma” edisi Juni 1983 itu, segera browsing. Beruntung, di dunia maya masih ada. Jadinya kami muat (silakan simak) di hlm 71c.

Langsung meminta Yuang menanggapinya. Yuang sempat mengaitkan dengan diskusi kecil di acara BKF itu.

Tanggapan Yuang di bawah ini kami bagi atas dua subjudul: “Membidas Arief Budiman dan “Membidas ‘Prisma’ “. Yang terakhir ini, menurut Yuang posisi majalah ini sebagai pewawancara perlu pula dibidas, ditanggapi. Kami menangkapnya, sebagai sebuah respons Yuang yang serupa terhadap  kaum ahistoris yang dikritik Arief itu — Kaum Kiri Secara Tidak Marxis, sebutan Yuang. 

***

Membidas Arief Budiman

Menanggapi wawancara Prisma dengan Arief Budiman pada 1983 (saat Soeharto masih kuat-kuatnya), tidak ada masalah apabila ilmu sosial historis yang dimaksud Arief [jauhari bukan non-Marxis menurut Yuang, lihat bawah] ditafsirkan sebagai materialisme historis alias Marxisme. [Di samping] Jaman Soeharto memang orang enggak bisa omong terang-terangan sehingga kata “materialisme” di depan “historis” kudu dihilangkan.

Arief sebagai intelektual non-Marxis merasa kecewa dengan ilmu sosial liberal karena mentok (gagal saat diaplikasikan), sehingga ia mencari pendekatan lain yang dijadikan referensi teori. Dalam hal ini dependensia dari Andre Gunder Frank dan teori sistem dunia dari Wallerstein. Kedua teori tersebut menimba inspirasi dari Marxisme dan pengembangannya tidak menimbulkan kerusakan (do no harm) pada Marxisme.

Melalui kedua teori tersebut (ilmu sosial yang historis atau materialisme historis kaum Marxis) saat menganalisis realitas, akan dimulai dari struktur sosial (baca: basis material atau tenaga-tenaga produktif). Sedangkan teori sosial liberal titik tolaknya adalah individu, psikologi/mentalisme seperti yang dikritik Arief kepada teknokrat yang sekolah di Amerika dan juga ahli antropologi [seperti] Koentjaraningrat.

Pendekatan mulai dari basis materi/tenaga produktif inilah yang disebut Arief di awal wawancara, sebagai  “pengetahuan apriori”.

Ini nyambung dengan dialektika yang apriori dan empiris pada diskusi kita dengan Binsar yang lalu itu [diskusi kecil Redaksi DK-Binsar-Yuang; simak hlm 71a]. Binsar bertolak dari yang empiris/fakta – dan menolak pendekatan “dari atas” – sebenarnya ia menolak pengetahuan apriori pendekatan kaum Marxis yakni basis material.

Kaum Marxis bertolak dari pengetahuan apriori itu yakni pendekatan menganalisis basis material. Dan basis material kita [Indonesia khususnya] adalah kapitalisme tahap tertinggi: imperialisme. Sehingga kaum Marxis [Indonesia abad XXI ini pun dalam] melakukan analisis mestinya mulai dari memelajari kelakuan imperialis.

Pertanyaan pertama yang mesti diajukan adalah apa yang akan dilakukan imperialis terhadap suatu masalah? Apakah imperialis diuntungkan atau dirugikan dari masalah tersebut? Pertanyaan-pertanyaan ini selalu perlu dijadikan pedoman bagi kaum Marxis saat menganalisis persoalan masyarakat.

[Semisal] Saat ada kaum yang mendukung kemerdekaan Papua, apakah mereka sudah memeriksa dari kepentingan imperialis (Amrik)? Kalau gaya berpikir Binsar, sang investigator of empirical fact, mah gak bakal nyampe ke sono, sebab ia menolak yang apriori: analisis basis material imperialisme.

Yang mereka lihat hanya fakta-fakta sensasi. Bahwa ini ada tentara nembakin orang-orang Papua, … kasihan warga Papua diperlakukan tidak manusiawi … dimerdekakan sajalah.

Gaya berpikirnya subjektif sekali hanya bertolak dari fakta (terbatas) yang ditangkap indera.

Saat Ahok atau katakanlah Jokowi mau membenahi atau membangun infrastruktur. Dalam proses itu pastilah terjadi relokasi penduduk (baca: penggusuran). Kaum Kiri Secara Tidak Marxis (menolak pengetahuan apriori basis material) menolak pembangunan infrastruktur. Mereka teriak-teriak tolak penggusuran, tolak reklamasi pantai dan sebagainya.

Kaum Kiri Secara Tidak Marxis itu tidak melihat basis material sosialisme yang mereka perjuangkan itu yakni industri. Dan untuk mendukung industri perlulah dibangun infrastruktur yang baik. Mana bisa bikin industri bila tidak ada jalan, bandara, pelabuhan, sistem transportasi, pembangkit listrik yang baik, dan sebagainya.

Pembangunan dan pembenahan infrastruktur adalah hal yang mutlak dalam sosialisme. Bahwa ada segelintir orang yg dirugikan atau susah akibat proses tersebut jangan dijadikan alasan untuk menghambat cita-cita besar di masa depan.

Ini semua akibat Kaum Kiri Secara Tidak Marxis itu menolak pengetahuan yang apriori itu. Pendekatan yang diagung-agungkan itu adalah fakta empiris. Bahwa ini ada warga yang digusur dan itu tidak manusiawi. Betul-betul memprihatinkan!

Sebab Kaum Kiri Secara Tidak Marxis itu sesungguhnya membaca Marxisme tapi tidak mengimani dan akibatnya tidak mengamalkan.

Beda dgn kaum teknokrat mafia Berkeley think tank-nya Soeharto. Mereka yang memang secara tidak sadar di-training jadi liberal.

Tapi Kaum Kiri Secara Tidak Marxis ini kan mereka baca dan seharusnya tahu Marxisme. Kalau meminjam istilah teologia injil, maka dosa mereka lebih besar karena mereka tahu tapi tidak mengamalkan.

Kembali lagi ke Arief.

Bila jaman Soeharto Arief mengkritik ilmu sosial yang ahistoris, maka pasca- Soeharto perkembangan ilmu sosial semakin memprihatinkan. Sebab bukannya menjadi historis malahan menjadi antihistoris.

Fenomenanya sudah terlihat dari bagaimana Kaum Kiri Secara Tidak Marxis tersebut menanggapi masalah Papua, masalah pembenahan infrastruktur. Dan ditambah lagi melecehkan negara-negara komunis seperti Tiongkok yang disebut kapitalis, dan sebagainya.

Mungkin, Redaksi Dasar Kita sekali-sekali mengajukan pertanyaan ke mereka – Kaum Kiri Secara Tidak Marxis – itu yang mendasar saja. Jangan tanyakan ke mereka apakah Anda percaya Tiongkok sosialis, tapi mulai dari pertanyaan apakah Anda percaya Amerika imperialis?

Bila jawabnya ya, maka mungkin masih ada harapan. Tapi bila jawabannya tidak, berarti sudah tidak dapat diharapkan lagi.

Membidas Prisma

Sepertinya kurang komplit kalau Prisma enggak dibidas juga. Sebab dalam diskusi tentang posisi ilmu-ilmu sosial ini Prisma tampak (jelas banget) berposisi ahistoris. Hal ini terungkap bagaimana pewawancara (Prisma) mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Juga pernyataan-pernyataannya yang dalam wawancara tersebut memerlihatkan posisinya.

Hal tersebut tampak pada beberapa poin berikut.

Pertama, Prisma membuat interpretasi bahwa antikolonialismenya BK [Bung Karno] bersifat revolusi psikologis yang bersumber dari psikologi dependensi orang terjajah. Hal ini menjurus kepada poin berikutnya.

Kedua, Prisma menawarkan solusi “memanfaatkan struktur” di samping “merombak struktur”.

Memanfaatkan  struktur masih dimungkinkan. Tawarkan Prisma berikutnya adalah mengubah pemimpin (bagaimana struktur dan sistemnya, perlu diubah juga enggak? Enggak jelas).

Ketiga, Prisma berpendapat (bertahan bahwa) pendekatan mentalisme juga historis. Padahal sebelumnya, Arief sudah membedakan ilmu yang historis dengan yang ahistoris.

Yang ahistoris pendekatannya mentalisme, psikologisne dan individualistis. Dan dengan pendekatan mentalisme ini Prisma menawarkan solusi perbaikan pada moral pemimpin.

Keempat, Prisma beranggapan bahwa perombakan struktur adalah pemaksaan fisik. Sedangkan yang diperlukan pertama kali adanya pemaksaan ideologi (lagi-lagi ini berakar dari pendekatan mentalisme psikologis Prisma).

Kelima, setelah tawaran ide pemaksaan ideologis (mental/psikologi) ditolak Arief, Prisma kemudian secara absurd menggeser topik pembicaraan.

Bahwa “ilmu” yg mereka diskusikan itu adalah ideologi (bukan ilmu atau sains). Di sini Prisma memuat statement yang menjelaskan posisi ahistorisnya, the investigator of empirical fact: “ilmu hanya mencari, menemukan fakta, melaporkan dan menjelaskan” Jelas sekali posisi Prisma! Kemudian “merombak struktur, merombak mentalitas urusan policy makers“. Jadi “ilmu” hanya mengintepretasikan, haram untuk bertindak mengubah.

Keenam, Prisma menolak pendekatan determinisme materialisme sejarah. Jika sejarah, menurut  Prisma, bergerak ke satu titik (deterministik), maka orang akan mengorbankan banyak hal, ilmu jadi totaliter, tujuan sejarah bukan lagi ilmiah melainkan soal kepercayaan, keagamaan. Jika sejarah bersifat teleologis (deterministik), masih menurut Prisma, ia menjadi tertutup sebab geraknya menuju yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Jadi wawancara Prisma tersebut merupakan dialog antara ilmu sosial yang ahistoris (liberal) dengan yang historis (marxis). Dialog tersebut memerlihatkan bagaimana Arief mementahkan posisi-posisi Prisma yang ahistoris. Juga perlu diperhatikan bahwa posisi Prisma yang ahistoris ini sama sebangun dengan posisi Binsar dalam artikel Dasar Kita sebelumnya di hlm 71a itu.

ooOoo

 

 

.

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s