Pentagon Sedang Bergiat dalam Rencana untuk Mengkonversi Khalifah Negara Islam Menjadi Benteng Pemberontak Suriah yang Didukung AS

.

Oleh Stephen Gowans

.

Sumber:  what’s left, 6 Mei 2016

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita

.

Washington sedang  bersiap-siap menggelar suatu kampanye dalam mentransfer kendali atas wilayah Suriah yang saat ini dipegang oleh ISIS untuk memberontak, yang beroperasi di bawah pengaruh AS, [dengan — Red DK] membentuk benteng pemberontak dari mana para wali AS [US proxies] dapat terus melancarkan perang di Damaskus, serta membangun fondasi negara boneka AS di Suriah.

Kunci strategi AS adalah perpecahan-konflik artifisial [artificial division of the conflict] yang menjadi bagian yang akan diselesaikan dengan cara-cara militer melibatkan ISIS, bagian yang akan diselesaikan melalui penyelesaian politik melibatkan semua formasi pemberontak lainnya.

Front Nusra, dikecualikan, untuk diabaikan dan diganti namanya. Sebagai franchise [waralaba] Al-Qaeda-nya Suriah, [kenyataan akan] hal ini hampir tidak dapat dianut secara terbuka oleh Amerika Serikat, meskipun ada buktinya [front tersebut] diperlengkapi diam-diam oleh CIA.

Penunjukan pemberontak non-ISIS sebagai pihak-pihak untuk suatu penyelesaian politik, mengikuti semboyan bahwa konflik, selain peran ISIS di dalamnya, tidak dapat diselesaikan secara militer. Ini mungkin benar, tetapi hanya karena para pemberontak non-ISIS telah dilatih dan dipersenjatai oleh negara-negara Barat dan sekutu regional mereka dan karena itu mempunyai suatu signifikansi militer yang mereka tidak akan menyatakan memilikinya.

Upaya awal Damaskus untuk sampai pada suatu penyelesaian politik dengan mencabut pembatasan kebebasan politik dan mengamendemen konstitusi tidak menghasilkan apa-apa. Hal ini karena tujuan dari oposisi bersenjata adalah penggantian dari sebuah negara nonsektarian sekuler dengan satu negara berdasarkan interpretasi Suni konservatif atas Al-Qur’an, dan lantaran dukungan militer dari negara-negara Barat dan regional yang kuat menawarkan tak adanya insentif bagi Islamis militan untuk berkompromi.

Pada saat yang sama, kenyataan bahwa pemerintah Baathis di Damaskus bertahan terus meskipun pasukan internasional tangguh yang terorganisasi menentangnya, berbicara banyak tentang dukungan publik yang kuat atas komandonya.

Survival politiknya, [di mana] pada tahun kelima perang multinasional terbuka terhadap hal [politiknya] itu, dan lebih dari satu dasawarsa  setelah Washington melansir sebuah program rahasia atas perubahan rezim yang bertujuan membersihkan ideologi Baathis dari negara Suriah <1>, [semua perlawanan atas politiknya itu] tidak akan mungkin dalam menghadapi oposisi luas dari masyarakat Suriah.

dk-mei 2016-stephen gowans
Pasukan Khusus AS merekrut dan memerlengkapi pejuang Arab Suni untuk mengusai Raqqa, ibukota kekhalifahan ISIS. Setelah dikuasai, wilayah itu kemungkinan akan tetap di tangan pengganti AS [US surrogates – Red DK] tersebut dan hampir pasti tidak akan dikembalikan kepada pemerintah Suriah yang sah. Sebaliknya, [kota – Red DK] itu akan membentuk inti dari rezim boneka-AS di Suriah.

Tujuan memertajam perbedaan antara ISIS dan organisasi pemberontak lainnya adalah untuk melegitimasi kampanye pimpinan AS terhadap sang mantan [the former], dan untuk melemahkan legitimasi Suriah-Iran-Rusia-Hizbullah, upaya untuk memertahankan negara Suriah dan loyalis terhadap semua kekuatan pemberontak lainnya, bahwasanya, mereka didukung oleh AS dan sekutunya.

Kami percaya bahwa adalah sangat masuk akal bagi AS untuk berperang melawan sektarian, teroris, ISIS, tapi dengan begitu Damaskus harus menegosiasikan perdamaian dengan sektarian, teroris, sepupu ideologinya ISIS.

Hal ini telah banyak dilaporkan di surat kabar terkemuka AS, dan telah diakui oleh wakil presiden AS, bahwa Front Nusra dipersenjatai oleh para sekutu AS, Arab Saudi, Qatar, dan Turki. Surat kabar yang sama juga sering merujuk pada dukungan Barat atas kelompok-kelompok pemberontak lainnya.

Kelompok-kelompok ini telah banyak digambarkan oleh para pewarta terkemuka AS sebagai yang bekerja dengan, terperangkap dengan, kooperasi dengan, berjuang bersama dari dan beroperasi di bawah lisensi untuk waralaba Al-Qaeda Suriah, dan telah dilaporkan [para pewarta itu] untuk berbagi senjata dengan [pemegang lisensi] itu <2>.

Keduanya Nusra dan para pasukan pemberontak non-ISIS lainnya serumpun ideologi ISIS [ISIS’s ideological cognates], berbagi ultrakonservatifnya, ideologi Islamis terinspirasi-Saudi [Saudi-inspired islamist ideology], tetapi menolak gagasan bahwa sebuah khalifah adalah satu-satunya bentuk pemerintahan yang sah. Upaya untuk memersenjatai pemberontak non-ISIS dikoordinasikan, menurut The New York Times, oleh CIA. <3>

Mendudukan keduanya dan berdua-duaan bersama, bila regional AS memerlengkapi Front Nusra, dan CIA mengkoordinasikan upaya mereka, maka CIA mempersenjatai waralaba Qaeda di Suriah, di [posisi] top dari antara kelompok-kelompok pemberontak lain yang beroperasi bersama itu .

Ini mungkin menjelaskan mengapa program CIA adalah rahasia, sementara program Pentagon $ 500 juta paralel untuk melatih dan memerlengkapi pemberontak yang tidak memiliki hubungan dengan Al Qaeda, tidak [rahasia]. Program yang ditinggalkan, setelah Pentagon gagal merekrut non-Qaeda yang cukup setara para pejuang. <4>

Pemerintah Suriah diminta untuk menerima dialog politik dengan pemberontak non-ISIS dan untuk masuk ke dalam perjanjian gencatan senjata dengan mereka, sementara pada saat yang sama Amerika Serikat dibiarkan bebas mengejar, dengan sekutunya, kampanye militer terhadap ISIS – salah satu yang melibatkan injeksi pasukan khusus Barat ke wilayah Suriah dan karena itu merupakan pelanggaran ilegal kedaulatan Suriah.

Kampanye tersebut, yang sekarang berlangsung, melibatkan beberapa ratus personel militer Barat yang beroperasi di darat untuk merekrut dan memerlengkapi para pejuang Arab Suni dalam merebut wilayah di Suriah yang kini dipegang oleh ISIS.

Akan tampak bahwa strategi tersebut memiliki dua tujuan.

  • Untuk memerluas wilayah Suriah di bawah kendali para pasukan wali AS dengan merebut wilayah yang saat ini dipegang oleh ISIS. Setelah direbut, [wilayah] itu akan dipegang oleh para wali AS.
  • Untuk menghentikan pencapian lebih lanjut oleh pasukan Suriah-Iran-Rusia dan Hizbullah terhadap kaum Islamis yang didukung AS, [yaitu] dengan menekankan pada penghentian permusuhan terhadap mereka dan dialog politik.

Sementara pemerintah Suriah terlibat dalam pembicaraan sia-sia dengan militan Islam yang didukung Barat, sebuah benteng pemberontak [rebel redoubt] yang dikontrol AS akan didirikan di sebelah timur Suriah, dari mana perang terhadap Damaskus akan terus berlanjut.

Dialog adalah sia-sia karena para pemberontak, dan para pembayar gaji mereka [paymasters], sangat menentang kompromi.

Siapa saja yang percaya bahwa Washington jujur berusaha untuk menumbuhkan perdamaian di Suriah (kecuali pada istilah mereka sendiri, bahwasanya, hanya jika ideologi Baathis dapat ditarik kembali terhapus dari balirung kekuasaan di Damaskus) adalah tertipu. Kaum imperialis, seperti diamati Mao, tidak meletakkan pisau jagal mereka untuk menjadi umat Buddha.

Sementara itu, Front Nusra akan beroperasi di bawah berbagai nama yang berbeda. Memang, tampaknya, mengingat luasnya saling penetrasi [inter-penetration] para pemberontak yang didukung Barat dengan waralaba Qaeda di Suriah, hal itu sudah terjadi.

Jerat ini dengan pengakuan kepala intelijen AS James Clapper bahwa “moderat” bermakna tidak lebih dari “bukan ISIS” <5>; yang dapat dikatakan, [pengakuan] ini menunjukkan tidak ada apa-apa sama sekali menyangkut tujuan atau metode kelompok, dan melayani fungsi propaganda yang berkonotasi “baik.”

Para pemberontak “moderat”, kita pahami adalah para pemberontak yang “baik”, meskipun tujuan dan metode mereka mungkin sebagian besar tidak bisa dibedakan dari ISIS dan waralaba Qaeda Suriah [di mana] mereka terperangkap dengannya.

AS Dapat Melawan Para Pemberontak, Tetapi Tentara Suriah Harus Mengejar Suatu Penyelesaian Politik dengan Mereka

“Gedung Putih,” menurut The Wall Street Journal, “mengatakan sebuah resolusi politik di Suriah pada akhirnya diperlukan untuk menyelesaikan konflik di sana dan untuk mengalahkan ISIS, yang menentang (pemerintah) Presiden Bashar al-Assad.” <6>

ISIS juga menentang pemerintah Abadi di Irak, kediktatoran Sisi di Mesir, dan kediktatoran Saudi di Semenanjung Arab, tetapi Gedung Putih tidak menyerukan resolusi politik di negara-negara ini.

Dengan begitu akan membuka diri terhadap kritik bahwa itu adalah konseling kapitulasi [bimbingan menyerah kalah pada musuh] pada terorisme, sebuah sikap yang tidak akan diadopsi dalam berurusan dengan ancaman teroris itu sendiri atau bonekanya, tetapi siap diadopsi untuk mengeliminasikan pemerintah di Suriah yang tidak seperti Irak, Mesir dan rezim Saudi, bersikeras pada kebebasan dari dominasi Barat.

Mengistimewakan penduduk lokal pada perusahaan-perusahaan AS adalah bentuk lese-majesty [serangan pada otoritas] terhadap keutamaan global AS [US global primacy].

Pelanggaran kaum Baathis pada ideologi hegemon memerintah dari globalisasi [atau] istilahnya Amerikanisasi, dikonfirmasi dalam desakan Assad [Assad’s insistence], bahwa “Suriah adalah sebuah negara merdeka yang bekerja untuk kepentingan rakyatnya, ketimbang membuat rakyat Suriah bekerja untuk kepentingan Barat.” <7>

Departemen Luar Negeri AS mengeluh bahwa Suriah telah “gagal bergabung dengan ekonomi global yang semakin saling terkoneksi “dan dirugikan yang oleh “alasan ideologis” terus mencegah pemerintah Assad dari liberalisasi ekonomi Suriah.

Penyesalan The Wall Street Journal dan Heritage Foundation bahwa Damaskus “mendominasi banyak bidang kegiatan ekonomi, dan … memarjinalkan sektor swasta,” sedangkan studi negeri Suriah [oleh] U.S. Library of Congress merujuk pada “struktur sosialis pemerintah dan ekonomi.” <8>

Moto Partai Baath yang memerintah, [yakni] persatuan (bangsa Arab), kebebasan (dari dominasi asing), dan sosialisme, adalah bertahun-tahun cahaya dari moto Washington yang akan lebih memilih negara-negara penghias spanduk mereka.

Kami menganut atomisme [atomism; bandingkan dengan kaum investigators of empirical facts”], welcome investasi asing, mendewakan [apotheosize] kapitalisme, dan terbuka untuk pangkalan militer AS di wilayah kami, adalah lebih dari [sekadar] sepanjang garis  moto anggota yang baik dari “masyarakat internasional”, [Suriah] diharapkan untuk mengadopsi [paham ini].

Anda perlu tahu sedikit lebih dari sebelumnya untuk memahami mengapa Washington menegaskan bahwa Assad dan kaum Baathis pengikutnya [harus] lengser.

Untuk konseling kompromi dengan teroris, Washington belum mengecam dengan kritik. Dalam keadaan lain, itu akan terjadi.Tapi kemudian, Amerika Serikat memiliki hubungan yang rumit dengan terorisme.

[Definisi] Terorisme adalah penggunaan kekerasan terhadap warga sipil untuk tujuan politik.

Sementara Washington adalah salah satu lawan yang paling gencar dari praktik [terorisme] tersebut, yang juga merupakan salah satu praktisi yang paling bersemangat.

Bom atom Hiroshima dan Nagasaki, kota-kota yang secara militer tidak signifikan, adalah contoh mengerikan terorisme dalam skala besar.

Teror bom dari warga sipil Jerman dan Jepang selama Perang Dunia II dengan cara konvensional, termasuk peledakan bom Dresden, Hamburg dan Tokyo, bertujuan merusak moral sipil, adalah contoh mengerikan yang sama terorisme AS dalam praktik.

Teror bom NATO atas Yugoslavia pada 1999 adalah kasus yang lebih baru. Penjelasan Angkatan Udara AS Letnan Jenderal Michael Short mengenai tujuan perang udara NATO yang dipimpin AS pada 1999 atas bekas Yugoslavia itu klop dengan definisi terorisme [mengacu, lihat atas] pada huruf “t”[-nya].

“Jika Anda bangun di pagi hari dan Anda tidak memiliki listrik untuk rumah Anda dan tidak ada gas untuk kompor dan jembatan yang Anda lewati untuk bekerja rubuh dan akan ada pembohongan di Danube [Danube Swabian] selama 20 tahun ke depan, saya pikir Anda mulai bertanya , ‘Hei, Slobo (merujuk pada pemimpin negara saat itu, Slobodan Milosevic)? Berapa banyak lagi yang macam begini kami harus menanggung? ‘ ” <9>

Amerika Serikat juga telah menggunakan para teroris untuk mengedepankan tujuan kebijakan luar negerinya di Afghanistan melawan modernisasi sekuler yang didukung oleh Uni Soviet, serta di Kuba melawan pemerintah komunis di Havana, untuk menyebut dua kasus. Lebih tak terhitung lagi jumlahnya yang dapat dikemukakan.

Di sisi lain, Washington menentang terorisme dengan keras bila digunakan melawan Amerika Serikat. Pada lapisan ini, ISIS merupakan sebuah alat [berdampak] ganda kebijakan luar negeri AS yang berguna dalam melemahkan negara Suriah tetapi pada saat yang sama merupakan musuh yang mengancam sekutu-AS [yaitu] Abadi, Sisi dan rezim Saudi, serta yang melawan dominasi AS atas dunia Arab dan Muslim.

Menaklukkan Kekhalifahan

Pasukan Khusus AS merekrut dan memerlengkapi para pejuang Arab Suni untuk merebut Raqqa, ibukota kekhalifahan ISIS. Sejauh ini mereka telah merekrut 6.000 pejuang, dan sekitar 12.000 sedang diseleksi. <10>

Pentagon telah mengirimkan 250 personel militer ke Suriah, menambah pada 50 yang sudah berada di sana. Para sekutu AS juga telah mengirim pasukan operasi khusus ke Suriah, untuk melakukan “hal yang persis sama,” menurut Menteri Pertahanan AS Ash Carter.  <11>

Introduksi pasukan darat Barat ke Suriah merupakan pelanggaran ilegal kedaulatan Suriah. Hal ini telah ditunjukkan oleh Damaskus, Moskow dan Teheran, tetapi negara-negara Barat, yang para pejabat negara berada dalam kebiasaan kemunafikan [sanctimoniously] menyampaikan khotbah pada aturan hukum, dengan munafik mengabaikannya setiap kali [pengungkapan semacam] itu sesuai tujuan mereka.

Hukum internasional adalah jaring laba-laba di mana [hanya] untuk menjerat yang lemah, sedangkan yang kuat hanya bablas melewati, chauvinis mereka dan media massa yang santun kinclong atas kejahatan.

Sebuah Motif Tersembunyi

Jika satu-satunya tujuan Amerika Serikat dalam berperang melawan ISIS adalah eliminasi organisasi tersebut, hal itu akan merampas kesempatan untuk berkoordinasi dengan pasukan Rusia setelah Moskow memasuki keributan ini dalam rangka melipatgandakan kekuatan dari kampanye melawan organisasi Islam hipersektarian itu, dan untuk memercepat kematiannya.

Sebaliknya, Washington membiarkan kesempatan itu lewat. Lebih penting lagi, [kesempatan] itu bakal merupakan kerja sama dengan tentara Suriah, kekuatan tunggal terbesar melawan ISIS.

ISIS tidak bisa dieliminasikan dengan kekuatan udara saja; pasukan darat sangat penting. Dan, Amerika Serikat telah mengerjakannya dengan melatih dan memerlengkapi para pejuang Arab Suni untuk mengisi peran tersebut.

Amerika Serikat meremehkan setiap kerjasama dengan tentara Suriah, meskipun bisa mudah mengalahkan ISIS dengan bantuan kekuatan udara AS.

Sebaliknya, Washington telah dengan sengaja menahan diri dari mengambil langkah-langkah untuk melemahkan kelompok teroris Arab Suni terkenal keji itu [notorious], berharap bahwa tekanan lanjutan dari cabang Al-Qaeda akan membuat pucat pasi tentara Suriah dan, sebagai konsekuensinya, menekan kaum Baathis di Damaskus untuk lengser. <12>

Bahwa Washington tidak mengambil rute yang jelas untuk mengeliminasikan ISIS menunjukkan bahwa mengalahkan kekhalifahan bukanlah tujuan utamanya. Sebaliknya, AS memiliki motif tujuan yang lebih tinggi dan tersembunyi: transfer wilayah Suriah yang sekarang di tangan ISIS untuk patuh pada para pengganti AS [US surrogates].

Khayalan Rencana AS

The Wall Street Journal membuat sketsa bagaimana Amerika Serikat akan melanjutkan perang melawan negara Suriah. <13>

Mengkaji dan memaknai [reading between the lines], perang tersebut akan dikejar dengan kedok mengeliminasikan ISIS, dan sementara hal ini akan menjadi hasil langsung dari perang jika kampanye tersebut berhasil, tujuan akhir akan berupa penaklukan wilayah Suriah yang dipegang oleh kekhalifahan

Perang akan dilanjutkan di darat oleh para pejuang Arab Suni yang dilatih dan diperlengkapi oleh pasukan operasi khusus Amerika Serikat dan para sekutunya.

Para wali AS di darat – para pejuang Arab Suni yang direkrut dan diperlengkapi oleh Pentagon – akan merebut wilayah yang saat ini dipegang oleh ISIS, yang didukung oleh serangan udara AS.

Setelah direbut, wilayah tersebut akan tetap berada di tangan para pengganti AS. [Wilayah] ini tidak akan dikembalikan kepada pemerintah Suriah yang sah, sebuah poin yang akan terabaikan dalam perayaan kekalahan ISIS itu.

Sebaliknya, [wilayah] itu akan menjadi basis yang dari mana perang akan terus dilancarkan terhadap prokemerdekaan, sekuler, nonsektarian, negara Suriah berorientasi sosialis.

Wilayah yang ditaklukkan akan diberikan nama yang kedengaran mentereng [high-sounding name], bisa jadi diciptakan dan diteliti oleh sebuah perusahaan Humas AS berbayaran tinggi [a high-priced US PR firm], seperti Suriah Bebas atau Republik Suriah Bebas.

Bagaimanapun, hal ini tidak bebas dari dominasi AS, atau bebas untuk menempatkan kepentingan penduduk lokal di atas kepentingan Washington dan Wall Street, atau bebas untuk membina persatuan Arab, mengejar sosialisme, atau membantu Palestina dalam upaya mereka untuk menentukan nasib sendiri.

Bagaimanapun, menjadi bebas untuk mengisi pundi-pundi para bank dan korporasi Barat, bebas untuk membeli senjata dari para manufaktur persenjataan Barat, bebas mengundang Pentagon untuk membangun pangkalan militer di wilayahnya, bebas untuk memungkinkan Departemen Luar Negeri mencampuri urusan dalam negerinya, dan bebas untuk menerima sebagai legitimasi penaklukan Zionis atas wilayah Arab.

Singkatnya, akan menjadi bebas untuk menyerahkan kedaulatannya dan bergabung dengan kekaisaran AS.

[Daftar bacaan tidak dibahasaindonesiakan]

  1. Craig Whitlock, “US secretly backed Syrian opposition groups, cables released by Wikileaks show,” The Washington Post, April 17, 2011.
  2. Stephen Gowans, “US Plan B for Syria: Give Al-Qaeda More Powerful Weapons,” what’s left, April17, 2016.
  3. Mark Mazzetti and Matt Apuzzo, “U.S. relies heavily on Saudi money to support Syrian rebels,” The New York Times, January 23, 2016.
  4. Robert Fisk, “David Cameron, there aren’t 70,000 moderate fighters in Syria—and whosever heard of a moderate with a Kalashnikov anyway?” The Independent, November 29, 2015.
  5. James Clapper: US Director of Intelligence: http://www.cfr.org/homeland-security/james-clapper-global-intelligence-challenges/p36195
  6. Carol E. Lee, “Political unrest tests U.S. influence in Iraq,” The Wall Street Journal, May 2, 2016.
  7. Stephen Gowans, “Syria, The View From The Other Side,” what’s left, June 22, 2013.
  8. Stephen Gowans, “The ‘Anti-Imperialist’ Who Got Libya Wrong Serves Up The Same Failed Analysis on Syria,” what’s left, January 23, 2016.
  9. “What this war is really about,” The Globe and Mail, May 26, 1999.
  10. Paul Sonne, “U.S. seeks Sunni forces to take militant hub,” The Wall Street Journal, April 29, 2016.
  11. Gordon Lubold and Adam Entous, “U.S. to send 250 additional military personnel to Syria,” The Wall Street Journal, April 24, 2016.
  12. Stephen Gowans, “What US Congress Researchers Reveal About Washington’s Designs on Syria,” what’s left, February 9, 2016.
  13. Paul Sonne and Julian E. Barnes, “U.S. Cites Better Intelligence for Stepped-Up Airstrikes on Islamic State,” the Wall Street Journal, May 2, 2016.

.

ooOoo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s