Catatan Redaksi Dasar Kita atas

Kuliah Umum Sri Mulyani Indrawati “Membangun Fondasi untuk Pertumbuhan yang Berkelanjutan”, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, 5 Januari 2017 [hlm 81a]

.

Kiri-Revisionis Indonesia Abad XXI

Melanjutkan Ciri Khas Kaum Trotskyit “Pengabaian/Penghilangan Fakta”

  Ketika Salah Kutip “Defisit Keseimbangan Primer” & “Penerimaan Negara”

.

Tetapi Bak Tong Kosong Nyaring Bunyinya:

.

“… haruskah Jokowi terus menggenjot ambisinya pada pembangunan infrastruktur dan ‘membiarkan’ APBN terus berdarah-darah, akibat turunnya penerimaan dan semakin membesarnya defisit keseimbangan primer?

.

Kalau saya jelas, Jokowi  tanggalkan dahulu ambisimu, kini rakyat semakin menderita.”

.

Teriakan bak tong kosong nyaring bunyinya berupa tanya dan dijawab sendiri Edy Burmansyah di dua alinea penutup tulisannya yang bertajuk “Ambisi Jokowi dan Defisit Keseimbangan Primer” — dimuat di media kaum Kiri-revisionis Indonesia abad XXI Harian Indoprogress (5/12/2016).

Sementara “Defisit Keseimbangan Primer” (selanjutnya DKP) APBN 2017 versi Edy (entah dari mana sumber datanya, kita tidak diberi tahu) sebesar Rp 111, 4 triliun — yang seharusnya Rp 109,0 triliun.

Jadi kenaikan terhadap DKP APBN-P 2016 (Rp 105,5 triliun) adalah Rp 3,5 triliun bukan Rp 5,9 triliun — Edy yang menyebut APBN 2016 bukan APBN-P 2016.

Begitu pun sisi penerimaan atau Pendapatan Negara (selanjutnya PN) ABPN 2017 versi Edy Rp 1.737,6 triliun yang seharusnya Rp 1.750,3 triliun.

Termasuk PN pada APBN 2016 versi Edy adalah Rp 1.822,5 triliun yang seharusnya Rp 1.786,2 trilun pada APBN-P 2016.

Sehingga penurunan PN versi Edy sebesar Rp 84,9 triliun berbeda dengan yang seharusnya Rp 35,9 triliun.

.

dk-81a-membangun-fondasu-utk-pertumbuhan-sri-mulyani-i-univ-syiah-kuala-5-1-2017-03

Defisit Keseimbangan Primer & Penerimaan Negara APBN 2017 — APBN-P 2016 Pemerintah/Menkeu vs Versi Indoprogress (Grafis oleh Red DK)

.

dk-81a-membangun-fondasu-utk-pertumbuhan-sri-mulyani-i-univ-syiah-kuala-5-1-2017-04

Hlm 19 Kuliah Umum Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati, Universitas Syiah Kuala, 5 Januari 2017 (Grafis oleh Red DK)

Bukan Sekadar Salah Kutip

Bagi kami, bukan sekadar salah kutip memalukan lantaran disasar adalah pucuk tertinggi sebuah negeri yang dalam dua tahun terakhir ini sedang melepaskan diri secara “subtil” dari cengkraman Kekaisaran Finansial — sosok mutakhir sang imperialis. Makanya kami tak sungkan menyebut beliau “Soekarno Abad XXI” saat perhelatan karya akbarnya DOA 212 berbarengan prosesi abu mendiang Kamerad Fidel Castro menuju peristirahatan terakhir (simak/klik hlm 80a).

Tetapi lebih dari itu, sejarah panjang kaum revisionis, kaum Trotskyit ini sejak era Vladimir Lenin hingga di hari gini abad XXI, “pengabaian/penghilangan fakta” adalah salah satu ciri khas, “cacat bawaan” menonjol kaum ini. (Risalah berikut ini, salah satu acuan dalam tengarai kami atas kaum Trotskyit, “Nasion-Nasion Inginkan Pembebasan:Nasion Sabuk Hitam di Abad ke-21”).

Tentu saja, Indoprogress — yang akukan diri “kiri” berbasis doktrin Marxian — pertama-tama telah berangkat dari fakta-fakta APBN terkait.

Tetapi kaum ini, yang oleh Lenin di-compressed dalam satu kalimat paling represen kiri-revisionis, “gerakan adalah segala-galanya, tujuan akhir nothing, “cacat bawaan”-nya ini seolah “melekat” pada pendekatan nonmaterialis kaum ini yang tak lebih dari “kaum penyidik fakta-fakta empiris” (“investigators of empirical facts”). 

Kaum yang tahun lalu secara relatif panjang lebar kami diskusikan dengan Kamerad Yuang dan diposkan di bawah tajuk “Investigators of Empirical Facts”: Berpikir ala Machisme Ketika “Kiri” Minus “Ultimate Aim” (hlm 71a).

Kami tak akan mengulanginya di sini diskusi dimaksud, kecuali mensitir terkait “seek truth from facts” kaum materialis Tiongkok (lihat selanjutnya di bawah) dan merujuk beberapa bagiannya lewat alamat pranala (link),  serta mengutip dua alinea penutup kami di risalah hlm 71a tersebut:

“Posisi “the investigators of empirical facts”. Posisi kaum Machian, yang berkelit mengambil lini ketiga yang “netral” antara materialisme dan idealisme. Sejatinya menghindar posisi idealisme subjektif yang mengarah pada solipsisme, berlindung di balik pandangan mentereng: positivisme-baru abad XX sambil, tentu saja, mencampakkan konten objektif.

Sebuah refleksi menarik seperti tengari Yuang, atas salah satu acara BKF [Belok Kiri Festival], setidaknya untuk kami … Jakarta hari-hari ini disesaki: “Investigators of Empirical Facts”: Berpikir ala Machisme Ketika ‘Kiri’ Minus ‘Ultimate Aim’.”

Sehingga, kaum ini yang ikut sesaki Jakarta itu “cacat bawaan” yang kami sebut di atas — “pengabaian/penghilangan fakta” — hemat kami sangat kuat “dibentuk” dan “diproduksi” oleh pendekatan idealisme subjektif mereka apalagi “digenapi” ultimate aim gerakan sosialis mereka yang nothing.

Kebiasaan bahkan tradisi menanggalkan konten objektif — oleh keyakinan mereka pada  “positivisme-baru abad XX” — digenapi gerakan sosialis mereka yang tak bertujuan itu, “pengabaian/penghilangan fakta” dalam semisal membidas anggaran APBN 2017, adalah hal yang “lumrah” sekaligus bukti: lebih dari sekadar salah kutip.

Bahkan ketika data (yang keliru) ini menjadi amunisi untuk menggebuk @jokowi, sang “Soekarno Abad XXI” — paralel upaya repetitif banyak pihak hari-hari ini untuk tegakkan kembali Doktrin Truman yang terbukti gagal per 20 Oktober 2014; hari pelantikan pemerintahan bervisi jalan ideologis Trisakti.

Seek Truth From Facts

Jadinya, jauh panggang dari api mengharapkan kaum Troskyit abad XXI di bumi Nusantara ini merespons APBN 2017 mengalaskan pada apa yang di kalangan kaum materialis — mengacu kaum Marxis-Leninis (ML) Tiongkok — dikenal sebagai “mencari kebenaran dari fakta” (seek truth from facts) *. Sebuah pendekatan yang setidaknya diyakini kaum ML Tiongkok bukan saja yang memenangkan Revolusi Oktober 1949 bahkan menjadikan RRT seperkasa hari ini, Seeking Truth from Facts: The Secret to the Success of China’s Policy-Making by Hu Angang and Mao Jie.

———

Salah satu ungkapan kondang Kamerad Deng Xiaoping ** yang sesungguhnya berasal dari 4 aksara Kamerad Mao Zedong: 实事求是 , shí shì qiú shì, “seek truth from facts”, ditorehkan Mao pada 1942 . Ringkasan Mao atas garis ideologis materialisme dialektik dan historis.

——–

** Selanjutnya, saya ingin mengatakan sesuatu tentang garis ideologis. Sidang Paripurna Ketiga menetapkan – atau lebih tepatnya, menegaskan kembali [/reafirmasi – Red DK] – garis ideologis dari Partai Marxis. Marx dan Engels mengajukan garis ideologis materialisme dialektik dan historis, sebuah garis di mana Kamerad Mao Zedong meringkasnya dalam empat aksara Tionghoa “Mencari kebenaran dari fakta”.

Untuk mencari kebenaran dari fakta, kita harus melanjutkan dari realitas dalam segala hal, teori ditautkan dengan praktik dan terus berlatih untuk menjadi batu ujian kebenaran – itulah garis ideologis Partai kita.

[…]

Pemikiran Mao itu tidak hanya bagi kepentingan Partai Komunis Tiongkok dan bangsa Tiongkok, tetapi juga bagi gerakan komunis internasional.

(Dikutip dari “Patuhi Garis Partai dan Perbaiki Metode Kerja” oleh Deng Xiaoping, 29 Februari 1980 — sumber: The Selected Works of Deng Xiaoping Modern Day Contributions To Marxism-Leninism; dibahasaindonesiakan oleh Red DK).

(“Materialis mengakui bahwa semua pengetahuan kita berasal dari pengalaman, tetapi saat bersamaan, ia [Lenin] menekankan bahwa pengalaman ini terlibat dengan [deals with] dunia objektif eksternal [external objective world], dengan kata lain, pengalaman kita memiliki sebuah konten objektif.” Hemat kami, Redaksi Dasar Kita, pendekatan Lenin ini yang mendasari empat aksara Mao Zedong “seek truth from facts” dalam meringkaskan, menjadikan moto garis ideologis “dialetik materialisme historis”;… Selengkapnya simak/klik hlm 71a)

Dengan kata lain “mencari kebenaran dari fakta” adalah  seperti yang dikatakan Mao dalam salah satu sitiran dari buku kumpulan kutipan-kutipan Mao yang juga dikenal sebagai”Buku Merah Kecil” (“Little Red Book”):

“… dialektika materialis beranggapan bahwa sebab-sebab luar [external causes] adalah syarat bagi perubahan [condition of change] dan sebab-sebab dalam [internal causes] adalah dasar bagi perubahan [basis of change], dan bahwa sebab-sebab luar memainkan peranannya melalui sebab-sebab dalam. Dengan suhu yang cocok, telur berubah menjadi anak ayam. Tetapi suhu tak mungkin mengubah batu menjadi anak ayam, karena dasar masing-masing berbeda”.

(Versi Bahasa,”Kutipan Kata-Kata Ketua Mao Tse Tung”, Edisi Pertama 1967, Dicetak di Republik Rakyat Tiongkok, hlm 252 atau Mao Tse Tung, Quotations from Mao Tse Tung,  22. Methods of Thinking and Methods of Work, ibid. p. 314).

Sejatinya, “mencari kebenaran dari fakta” hemat kami “penajaman khas Tiongkok” atas pendekatan “basis-superstruktur” yang mengemuka oleh kaum ML Uni Soviet saat menyoal materialisme dialektik dan historis. Kami pun, blog Dasar Kita, mencoba berpendekatan serupa lewat jauhari Arief Budiman. (Simak hlm 2a dan hlm 23a).

——–

 * Yang oleh Kamerad Yuang saat membidas wawancara majalah Prisma dengan Arief Budiman (hlm 71d) (cetak tebal dari kami, Red DK):

Pendekatan mulai dari basis materi/tenaga produktif inilah yang disebut Arief di awal wawancara, sebagai  “pengetahuan apriori”.

Ini nyambung dengan dialektika yang apriori dan empiris pada diskusi kita dengan Binsar yang lalu itu [diskusi kecil Redaksi DK-Binsar-Yuang; simak/klik hlm 71a]. Binsar bertolak dari yang empiris/fakta – dan menolak pendekatan “dari atas” – sebenarnya ia menolak pengetahuan apriori pendekatan kaum Marxis yakni basis material.

Kaum Marxis bertolak dari pengetahuan apriori itu yakni pendekatan menganalisis basis material. Dan basis material kita [Indonesia khususnya] adalah kapitalisme tahap tertinggi: imperialisme. Sehingga kaum Marxis [Indonesia abad XXI ini pun dalam] melakukan analisis mestinya mulai dari memelajari kelakuan imperialis.

Bukan Pokok Mendahului yang Pokok

Atau, kembali ke Beijing, dalam ungkapan Mao yang lebih “dekat” dengan konteks kita ini, kaum revisionis Indoprogress yang membidas APBN 2017 mustahil berpendekatan “mencari kebenaran dari fakta”:

“Cara kawan-kawan ini meninjau masalah tidak benar. Mereka tidak meninjau segi-seginya yang hakiki atau yang pokok, melainkan menekankan segi-seginya bukan pokok. Harus ditunjukkan bahwa segi-segi yang bukan hakiki atau yang bukan pokok tidak boleh diabaikan dan harus dipecahkan satu demi satu. Akan tetapi segi-segi itu tidak boleh dipandang sebagai segi-segi yang hakiki atau yang pokok, kalau tidak, kita sendiri akan tersesat”.

(Ibid “Kutipan Kata-Kata Ketua Mao Zedong”, hlm 254-255 atau ibid Mao Tse Tung, July 31, 1959)

Artinya, kaum kiri-revisionis Trotskyit ini kami berani pastikan tidak bakal pertama-tama menyoal hal esensi, hal pokok dari APBN 2017 pemerintah itu. Dan terbukti!

Indoprogress yang langsung menggempur (beramunisi data salah-kutip) Defisit Keseimbangan Primer dan Penerimaan Negara lalu Edy menimpali dengan sinis, menjadikan APBN 2017 “berdarah-darah” dan rakyat semakin menderita dampak “ambisi” Jokowi: infrastruktur.

Indoprogress yang langsung menyoal nominal triliun rupiah yang kasat mata tanpa terlebih dulu menimbang ideologi pemerintah sebagai hal hakiki yang melandasi (tujuan) APBN 2017.

Padahal, jalan ideologis yang dicanangkan pemerintah Jokowi-JK lewat visi Trisakti-Gotong Royong dengan 9-Agenda Prioritas/Nawa Cita visi misi, oleh Jokowi hakikat tujuannya tetap Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat) versi Soekarno: NKRI, Masyarakat Adil Makmur; Sebuah dunia baru tanpa penindasan manusia oleh manusia, penindasan nasion oleh nasion.

Hal terakhir ini, tujuan ketiga Ampera-Soekarno, yang paralel untuk tidak mengatakan bertujuan serupa kaum materialis nonrevisionis atas sebuah masyarakat ideal tanpa kelas di masa depan nun jauh di sana: from each according to his ability, to each according to his needs — tapi (pinjam pandangan jauh ke depan Soekarno) … pastilah Sinar itu tercapai juga. Sinar itu dekat”.

Meski, cita-cita Ampera-Soekarno di-updated oleh Jokowi, tetapi tetap dalam tiga tujuan dan hakikatnya pun tak berbeda dengan Bung Karno: Pengentasan Kemiskinan, Pengentasan Kesenjangan Sosial, Pertumbuhan Ekonomi yang Berkualitas (simak/klik hlm 74d).

Dan yang sangat menarik untuk kami, Bu Ani “merangkum” kedua Ampera Soekarno dan “Soekarno Abad XXI” tersebut sebagai “Tujuan Pembangunan Ekonomi Indonesia” yakni “Masyarakat yang Adil dan Makmur”.

Dengan tiga subtujuan versi “Soekarno Abad XXI” tersebut yang “dipertajam” dalam terminologi-ekonomi tantangan di milenium ketiga: Mengentaskan Kemiskinan, Meningkatkan Produktivitas dan Daya Saing, Mengurangi Ketimpangan — seperti ditunjukkan di hlm 4 Kuliah Umum Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dimaksud.     

.

dk-81a-membangun-fondasu-utk-pertumbuhan-sri-mulyani-i-univ-syiah-kuala-5-1-2017-05

Hlm 4 Kuliah Umum Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati, Universitas Syiah Kuala, 5 Januari 2017  (Grafis oleh Red DK)

.

Sehingga setidaknya bagi kami, harapan politisi PAN Dradjat Hari Wibowo terhadap Mbak Ani sewaktu diangkat Jokowi menjadi Menteri Keuangan, tampaknya makin ke arah positif. Mengingat hemat kami APBN 2017 diletakkan Sri Mulyani Indrawati justru pada Nawa Cita, pada garis ideologis Trisakti-Gotong Royong walau tak dengan sengaja berpendekatan seek truth from facts.

“Saya hanya berharap ideologi ekonomi Sri Mulyani sekarang lebih ke tengah, tidak terlalu di kanan, seperti masa tugas yang bersangkutan sebelumnya. Siapa tahu? Orang bisa berubah lebih bijak dan empati kepada rakyat kecil sejalan bertambahnya umur.”

Tiba-tiba kami teringat kembali Kamerad Yuang saat menanggapi wawancara Prisma dengan Arief Budiman (hlm 71d) (cetak tebal dari kami, Red DK) …

Saat Ahok atau katakanlah Jokowi mau membenahi atau membangun infrastruktur. Dalam proses itu pastilah terjadi relokasi penduduk (baca: penggusuran). Kaum Kiri Secara Tidak Marxis (menolak pengetahuan apriori basis material) menolak pembangunan infrastruktur. Mereka teriak-teriak tolak penggusuran, tolak reklamasi pantai dan sebagainya.

Kaum Kiri Secara Tidak Marxis itu tidak melihat basis material sosialisme yang mereka perjuangkan itu yakni industri. Dan untuk mendukung industri perlulah dibangun infrastruktur yang baik. Mana bisa bikin industri bila tidak ada jalan, bandara, pelabuhan, sistem transportasi, pembangkit listrik yang baik, dan sebagainya.

Pembangunan dan pembenahan infrastruktur adalah hal yang mutlak dalam sosialisme. Bahwa ada segelintir orang yg dirugikan atau susah akibat proses tersebut jangan dijadikan alasan untuk menghambat cita-cita besar di masa depan.

Ini semua akibat Kaum Kiri Secara Tidak Marxis itu menolak pengetahuan yang apriori itu. Pendekatan yang diagung-agungkan itu adalah fakta empiris. Bahwa ini ada warga yang digusur dan itu tidak manusiawi. Betul-betul memprihatinkan!

Sebab Kaum Kiri Secara Tidak Marxis itu sesungguhnya membaca Marxisme tapi tidak mengimani dan akibatnya tidak mengamalkan.

Beda dgn kaum teknokrat mafia Berkeley think tank-nya Soeharto. Mereka yang memang secara tidak sadar di-training jadi liberal.

Tapi Kaum Kiri Secara Tidak Marxis ini kan mereka baca dan seharusnya tahu Marxisme. Kalau meminjam istilah teologia injil, maka dosa mereka lebih besar karena mereka tahu tapi tidak mengamalkan.

Tetapi kami kuatir, jangan-jangan bukan saja tahu tapi tidak mengamalkan, malah seperti analisis Lenin di dalam “Marxisme dan Revisionisme” (hlm 21a) : “memusuhi Marxisme di dalam Marxisme itu sendiri”.

Jangan-jangan dengan teriakan bak tong kosong nyaring bunyinya itu, Kaum Kiri Secara Tidak Marxis (pinjam Kamerad Yuang) di Nusantara abad XXI ini yang sejatinya tanpa tujuan akhir apa-apa tentang sebuah Indonesia di kemudian hari — entah di era Soekarno, Soeharto, SBY, termasuk Jokowi …

Jangan-jangan malahan sedang “merelatifkan” untuk tidak mengatakan “menggagalkan” tujuan sebuah RI Hebat yang dengan cantik diadopsi Bu Ani dari “kedua” Soekarno kita ini sebagai tujuan APBN 2017 tersebut. 

“Soekarno Abad XXI” pasca-1/2-abad yang tampil mengusung Trisakti-Soekarno dengan meng-updated cita-cita Ampera-Soekarno  menjadi Ampera yang “diaplikasikan” di era global kental-bisnis mengemuka dengan “win-win deals” — ciri menonjol konsep Beijing di bawah kepemimpinan Xi Jinping: OBOR/“One Belt,One Road” — membuat sang Kaisar Finansial makin “gemas” melihat Jakarta. Juga ikut-ikutan sebal para pembelanya, kaum yang oleh Vince Sherman fungsi mereka secara de-facto sebagai left-cocer for imperialism.

Tetapi lebih dari itu, Indoprogress lewat Edy sedang menelanjangi diri sendiri sebagai kaum Kiri Secara Tidak Marxis. Yang dapat dipastikan sama sekali tidak terlatih dan bakal tidak lulus dalam ujian membenturkan teori dan praktik sebagai kelanjutan realitas dalam upaya mencari kebenaran dari fakta — pinjam cara berpikir kaum materialis Tiongkok, terinspirasikan Mao, “direvitalisasikan” Deng saat melakoni “reformasi pasar”.

Mencari kebenaran dari fakta yang berbukti berhasil berkontribusi signifikan mengentaskan kemiskinan dalam waktu relatif singkat itu (700 juta jiwa, kurun 36 tahun). Cetak biru Marx* masyarakat sosialis itu lahir dari kapitalisme maju, sudah (dalam pemrosesan) di “end user” oleh kaum materialis Tiongkok.

———

*1. Marx Mengenai Hubungan antara Ekonomi Pasar dan Sosialisme

Apa itu ekonomi pasar?

Dalam karya-karya Marx, pasar bermakna dunia sirkulasi komoditi-komoditi.

Berhubung ekonomi komoditi terdiri dari produksi komoditi dan sirkulasi komoditi, pasar adalah suatu bagian internal dari ekonomi komoditi.

Maka apa yang disebut ekonomi pasar bukanlah apa-apa tetapi versi lain dari ekonomi komoditi dari sudut sirkulasi komoditi.

Ekonomi komoditi bermakna suatu cara produksi (mode of production—Red DK) yang berlawanan dengan ekonomi natural.

Ekonomi natural bermakna suatu cara produksi yang terutama menghasilkan nilai guna (use-value—Red DK), dan ekonomi komoditi bermakna suatu cara produksi yang terutama menghasilkan nilai tukar (exchange-value—Red DK).

Karena di dalam pandangan Marx, “produksi komoditi maju (developed commodity production—Red DK) adalah produksi kapitalis itu sendiri” (Capital II, Penguin Books, 1978, hlm 1 90), ia mengacu pada ekonomi komoditi sebagai cara produksi kapitalis, dan berbarengan ia mengacu pada ekonomi natural sebagai cara produksi prakapitalis.

Sosialisme adalah tahap terendah dari masyarakat komunis, di mana ekonomi komoditi tidak akan eksis. Seluruh produksi sosial tidak akan lagi bisa diatur secara spontan oleh pasar.

Cara produksi sosialis dapat pula disebut ekonomi terencana (planned economy—Red DK) adalah kontras dengan anarki ekonomi kapitalis (anarchy of capitalist economy—Red DK).

Hubungan antara ekonomi pasar dan sosialisme terwujud dalam dua aspek.

Pertama, pengembangan sepenuhnya ekonomi pasar adalah esensi untuk merealisasikan sosialisme.

Dalam pandangan materialisme historis, pengembangan masyarakat manusia (human society—Red DK) adalah proses pergantian berturut-turut dari masyarakat prakapitalis ke masyarakat kapitalis, kemudian ke masyarakat komunis.

Bersamaan, evolusi formasi ekonomi memertontonkan dirinya sendiri sebagai suatu proses pergantian berturut-turut dari ekonomi natural ke ekonomi komoditi kemudian ke ekonomi terencana.

Maka suatu masyarakat sosialis tidak dapat dibangun pada ekonomi natural prakapitalis, tetapi hanya pada pengembangan sepenuhnya ekonomi komoditi kapitalis.

Kedua, hanya dengan menghapus ekonomi pasar, masyarakat sosialis bisa dibangun.

Ekonomi terencana sebagai suatu ciri dasar (basic feature—Red DK) dari cara produksi sosialis adalah tidak kompatibel dengan ekonomi pasar.

Dasar dari suatu ekonomi terencana adalah kepemilikan publik, tetapi suatu ekonomi pasar bertalian dengan berbagai jenis kepemilikan privat.

Suatu ekonomi terencana bermakna bahwa keseluruhan produksi sosial dikontrol oleh orang-orang yang berkesadaran perencanaan, tetapi suatu ekonomi pasar tergantung pada fakta bahwa keseluruhan produksi sosial secara spontan dijalankan oleh setiap perusahaan sesuai dengan hukum nilai (law of value—Red DK). 

2. Mengapa Negara-Negara Sosialis Seperti RRT Harus Mengembangkan Ekonomi Pasar? 

Marx membayangkan pertama-tama akan terjadi suatu revolusi sosialis dan berhasil di negara-negara kapitalis di mana ekonomi komoditi telah mencapai pengembangan penuh.

Tetapi, gerakan sosialis aktual, bertentangan dengan dugaannya.

Negara-negara yang mengklaim telah merealisasikan sosialisme adalah mereka yang ekonomi komoditinya masih tetap belum berkembang dan ekonomi natural menempati suatu bagian terbesar pada ekonomi nasional.

Mereka semua letih untuk membangun sistem ekonomi mereka dipandang dari sudut cetak biru ekonomi perencanaan yang secara kasar didesain oleh Marx.

(Dikutip dari Duan Zhongqiao “Ekonomi Pasar dan Jalan Sosialis”; hlm 40b)

Materialisme dialetik historis memang tak pernah dikenakan mereka, kaum penyidik fakta-fakta empiris itu, yang menolak — seperti kata Yuang — pengetahuan apriori.

Ini poinnya dari teriakan bak tong kosong nyaring bunyinya itu.

Dipermalukan Netizen non-Marxis: … harga cabai? Ini mahasiswa apa emak-emak?

Padahal seorang netizen yang  tak berjargon-jargon ria sebagai “Pakar Marxisme”, “Ahli Analisis Perjuangan Kelas”, “Ahli Analisis Manifesto Komunis” (lema “Partai” yang kerap dihilangkan dari judul asli “Manifesto Partai Komunis”; beti Zely Ariene yang ogah berpartai tapi ber-Machisme untuk Papua Merdeka), “Ahli Analisis Gender dari Sudut Marxisme”, “Ahli Analisis Posmo”, dst, dst, sambil berlagak pilon dengan Tesis XI Marx pada Feuerbuch … yang oleh Engels di-komen esensi filsafat kaum proletar.

Justru netizen satu ini, Denny Siregar, dengan “enteng” melakoni ala “mencari kebenaran dari fakta”. Ketika ia “membantai” aktivis mahasiswa tergabung dalam BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) yang menyebut Jokowi gagal dan perlu dilengserkan lantaran kenaikan signifikan harga cabai.

Ada lagi yang lebih lucu…

Seorang mahasiswa dari Universitas Islam Indonesia UII berkata kepada media, “Kenaikan tarif biaya STNK, BPKB, SIM, disusul kenaikan harga BBM dan ditambah tingginya harga cabai hingga mencapai 200 ribu lebih, dianggap menjadi bukti nyata ketidak berhasilan Jokowi memimpin Indonesia”, Permisi, harga cabai? Indikator ketidak-berhasilan Jokowi dilihat dari harga cabai? Ini mahasiswa apa emak-emak?

[…]

Kalian ini nanti lulus cita-citanya mau jadi tukang sayur atau gimana?

Belajar dulu lagilah hitung-hitungan. Jangan nanti salah lagi ngitung peserta demo yang hanya beberapa ratus orang tapi diklaim 7 juta jiwa …

Jadinya, bagaimana kaum “kiri” yang terpesona ala “sensasi”-nya Machisme melambungnya harga cabai yang masih belajar hitung-hitungan akan membidas “APBN 2017 Sebagai Kebijakan Fiskal”?

.

dk-81a-membangun-fondasu-utk-pertumbuhan-sri-mulyani-i-univ-syiah-kuala-5-1-2017-10

.

Yang dalam konferensi pers Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengenai APBN 2017 pada 27 Oktober 2016, antara lain mengatakan (cetak tebal dari kami, Red DK):

“Jadi, bagaimana policy di APBN 2017? Kebijakan fiskal kita adalah ekspansif. Namun dalam prinsip kehati-hatian [pruden/prudent] dan itu hanya bisa dilakukan tanpa membuat fiskal menjadi tidak pruden adalah melalui efisiensi belanja barang.”  

dk-81a-youtube-rapbn-2017

[Konferensi Pers APBN 2017, 26 Oktober 2016, via YouTube ]

.

dk-81a-membangun-fondasu-utk-pertumbuhan-sri-mulyani-i-univ-syiah-kuala-5-1-2017-09

.

Sehingga, bagaimana kaum kiri-revisionis Trotskyit itu bisa bersilang-nalar bukan adu ototnya kaum “Perampas Pedang dari Tangan Tuhan-Martin Aleida” atas satu dua halaman kuliah umum dari Bu Ani di bawah ini …

dk-81a-membangun-fondasu-utk-pertumbuhan-sri-mulyani-i-univ-syiah-kuala-5-1-2017-11

dk-81a-membangun-fondasu-utk-pertumbuhan-sri-mulyani-i-univ-syiah-kuala-5-1-2017-12

dk-81a-membangun-fondasu-utk-pertumbuhan-sri-mulyani-i-univ-syiah-kuala-5-1-2017-14

dk-81a-membangun-fondasu-utk-pertumbuhan-sri-mulyani-i-univ-syiah-kuala-5-1-2017-15

.

… dan kenapa pula jauh-jauh Bu Ani perlu-perlunya gelar Kuliah Umum di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, terkait APBN 2017 pula — kalau bukan “pamrih”-nya subtujuan pertama Ampera-Soekarno: NKRI?

Jadi maaf, sekali lagi, ini bukan sekadar salah kutip.

.

ooOoo

Iklan