Berikut Pandangan Jonan Mengenai Izin Usaha Pertambangan Khusus

.

Sumber: Maritimnews.com, Published On: Sun, Feb 19th, 2017

.

dk-81c-1-freeport-01-jonan
Pandangan Ignasisus Jonan terkait perubahan Kontrak Karya (KK) menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK)

MNOL, Jakarta – Pemerintah telah dan akan terus berupaya maksimal mendukung semua investasi di Indonesia baik investasi asing maupun investasi dalam negeri tanpa terkecuali. Dalam hal pertambangan mineral logam, Pemerintah tetap berpegangan pada UU Mineral dan Batubara No 4/2009 dengan menerbitkan Peraturan Pemerintah No 1/2017 sebagai revisi dan tindak lanjut semua peraturan yang telah terbit sebelumnya.

Dengan mengacu dan berpegang pada UU dan Peraturan Pemerintah tersebut, Pemerintah Tetap menghormati semua isi perjanjian yang telah dibuat sebelumnya. dan masih sah berlaku.

“Atas dasar itu semua pemegang kontrak karya dapat melanjutkan usahanya seperti sedia kala dan tidak wajib mengubah perjanjian menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), sepanjang pemegang Kontrak Karya tersebut melakukan pengolahan dan pemurnian (hilirisasi) dalam jangka waktu 5 tahun sejak UU Minerba 4/2009 diundangkan (Pasal 169 dan pasal 170 UU No 4/2009),” ungkap Menteri ESDM Ignasius Jonan dalam siaran persnya yang diterima redaksi (19/2).

Dengan fakta bahwa pemegang Kontrak Karya (KK) belum melakuian hilirisasi sebagaimana dimaksud dalam UU Minerba tersebut. Maka, Pemerintah menawarkan kepada semua pemegang kontrak karya yang belum melakukan hilirisasi (membangun smelter) untuk mengubah kontrak karya menjadi IUPK.

Dengan demikian, sambung Jonan, sesuai Pasal 102-103 UU No 4/2009, mereka akan tetap mendapat izin melakukan ekspor konsentrat dalam jangka waktu 5 tahun sejak PP No 1/2017 diterbitkan. Namun mereka tetap diwajibkan membangun smelter dalam jangka waltu 5 tahun.

“Progres pembangunan smelter akan diverifkasi oleh verifikator independen setiap 6 bulan. Jika progres tidak mencapai minimal 90% dari rencana maka rekomendasi ekspor akan dicabut,” jelasnya.

Disampaikan pula fakta terkait, pertama, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) telah menyatakan terima kasih atas persetujuan Pemerintah mengubah perjanjian Kontrak Karya menjadi IUPK.  PT AMNT telah mengajukan permohonan rekomendasi ekspor No 251/PD-RM/AMNT/II/2017 disertai pernyataan komitmen membangun smelter.

“Atas dasar itu Dirjen Minerba telah menerbitkan rekomendasi ekspor No 353/30/DJB/2017 pada Jumat 17 Februari 2017,” terang Jonan.

Kemudian soal PT Freeport Indonesia (PTFI) yang menolak perubahan dari KK menjadi IUPK. Sesuai hasil pembahasan bersama yang melibatkan Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, dan PTFI, Pemerintah telah memberikan hak yang sama di dalam IUPK setara dengan yang tercantum di dalam KK, selama masa transisi perundingan stabilitas investasi dan perpajakan dalam 6 bulan sejak IUPK diterbitkan.

Sesuai Pasal 169 UU No 4/2009, stabilitas investasi memungkinkan untuk didapatkan. Namun PTFI menyatakan tetap menolak IUPK dan menuntut KK tetap berlaku. PTFI telah mengajukan rekomendasi ekspor melalui surat No 571/OPD/II/3017 tanggal 16 Februari 2017 dengan menyertakan pernyataan komitmen membangun smelter.

“Sesuai IUPK yang telah diterbitkan, Dirjen Minerba menerbitkan rekomendasi ekspor untuk PTFI No 352/30/DJB/2017 pada 17 Februari 2017. Menurut informasi yang beredar PTFI juga menolak rekomendasi ekspor tersebut,” tambahnya.

Jonan mengharapkan, kabar tersebut tidak benar karena Pemerintah mendorong PTFI agar tetap melanjutkan usahanya dengan baik. Juga, merundingkan persyaratan-persyaratan stabilisasi investasi, termasuk perpanjakan izin, yang akan dikoordinasi oleh Ditjen Minerba dan Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu serta BKPM.

Ditegaskan kembali, dengan adanya perubahan menjadi IUPK, diharapkan PTFI tidak alergi dengan adanya ketentuan divestasi hingga 51% yang tercantum dalam perjanjian Kontrak Karya yang pertama antara PTFI dan Pemerintah Indonesia, dan juga tercantum dengan tegas dalam PP No 1/2017.

Masih kata Jonan, memang ada perubahan ketentuan divestasi di dalam Kontrak Karya yang terjadi di tahun 1991, yaitu menjadi 30% karena alasan pertambangan bawah tanah. Namun divestasi 51% adalah aspirasi rakyat Indonesia yang ditegaskan oleh Presiden RI, Joko Widodo.

“Diharapkan agar PTFI dapat bermitra dengan Pemerintah sehingga jaminan kelangsungan usaha dapat berjalan dengan baik dan rakyat Indonesia serta rakyat Papua khususnya, juga ikut menikmati sebagai pemilik tambang emas dan tembaga terbesar di Indonesia,” imbuhnya.

Di samping itu, ada wacana PTFI membawa persoalan ini ke arbitrase. Jonan menyatakan itu adalah langkah hukum yang menjadi hak siapa pun. Namun Pemerintah berharap tidak berhadapan dengan siapa pun secara hukum, karena apa pun hasilnya dampak yang ditimbulkan akan kurang baik dalam sebuah relasi kemitraan.

“Namun itu langkah yang jauh lebih baik daripada selalu menggunakan isu pemecatan pegawai sebagai alat menekan Pemerintah. Korporasi global selalu memperlakukan karyawan sebagai aset yang paling berharga, dan bukan sebagai alat untuk memperoleh keuntungan semata,” pungkas Jonan. (TS/MN)

.

ooOoo

Catatan Redaksi Dasar Kita

Pemuatan utuh warita bersumber Maritimnews.com ini, adalah salah satu upaya — mengacu pewartaan media daring arus utama — menguatkan argumentasi kami untuk “membaca” pemerintahan Jokowi-JK pada visi jalan ideologis Trisakti-Gotong Royong dengan Nawa Cita atau 9-Agenda Prioritas dari visi misinya.

Terlebih ketika PTFI ini adalah PMA sulung (1967) era junta militer Suharto yang mengkudeta-merangkak Soekarno (1965-1967) dibantu lembaga intelijen asing, negara asal investor PTFI ini.

Dan dari catatan sejarah, Soekarno bukan saja dilibas secara fisik (obat yang sengaja tak ditebus di ujung hayat Bung Karno), tapi juga pikiran-pikirannya — termasuk Trisakti.

Yang oleh sang Tuan junta militer itu dalam pelaksanaan di lapangan “disatu-paketkan” dengan ajaran komunisme/Marxisme-Leninisme yang secara resmi dilarang lewat Tap MPRS XXV/1966.