Upaya Pimpinan AS untuk Menggulingkan Maduro Didorong oleh Kepentingan Bisnis, Bukan Demokrasi

.

Oleh Stephen Gowans

.

Sumber: Blog Stephen Gowans what’s left, 24 Januari 2019

.

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita

.

Intervensi pimpinan AS dan terkoordinasi untuk menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dengan mengakui Juan Guaido, pemimpin Majelis Nasional Venezuela, sebagai presiden sementara [the interim president – Red DK], tidak ada hubungannya dengan restorasi demokrasi di Venezuela ([negeri] yang tidak pernah tercungkal [oleh AS]) dan segala sesuatu yang dilakukan [sesungguhnya] berkaitan dengan mempromosikan kepentingan bisnis AS.

Arogansi kekaisaran dari Washington yang secara efektif menunjuk Guaido sebagai presiden, berusaha untuk mengabaikan kepala per kepala warga Venezuela—yang masing-masing memiliki hak untuk memutuskan siapa pemimpin mereka—dimotivasi oleh berperhatian yang sama yang telah memotivasi intervensi AS lainnya di seluruh dunia: menjatuhkan pemerintah yang menempatkan kepentingan warganya di atas kepentingan investor AS.

Bahwa Washington memiliki kecenderungan untuk terlibat dalam operasi destabilisasi terhadap para pemerintahan kiri [leftwing governments] bukanlah rahasia. Dari 1898 hingga 2004, pemerintah AS melakukan 41 intervensi perubahan rezim yang berhasil di Amerika Latin, rata-rata satu setiap dua setengah tahun. Dan itu tidak termasuk yang tidak berhasil, seperti invasi Teluk Babi [Kuba].

Dalam hampir setiap kejadian, intervensi perubahan rezim AS di seluruh dunia telah dimotivasi baik secara langsung maupun tidak langsung oleh pertimbangan komersial, dan dilakukan untuk memulihkan atau melindungi keunggulan [primacy] kepentingan bisnis AS di tanah asing. Dan dalam banyak kasus, intervensi membuka jalan bagi instalasi kediktatoran sayap kanan [installation of rightwing dictatorships].

Salah satu intervensi AS yang akhirnya gagal adalah kudeta tahun 2002 terhadap Hugo Chavez, pendahulu Maduro. Washington segera mengakui kudeta itu, menyebutnya sebagai kemenangan bagi demokrasi, tetapi secara privat mengakui kudeta itu sebagai kemenangan besar bagi kepentingan-kepentingan bisnis AS di negara kaya minyak yang penuh dengan peluang-peluang menghasilkan profit bagi usaha bebas [free enterprise] AS.

Washington tidak menyukai Chavez karena pemimpin berhaluan kiri [leftist] yang karismatik itu mempromosikan kesejahteraan rakyat jelata Venezuela, ketimbang sebagai kaki tangan [pendering] bagi para investor AS. Namun kudeta terhadap Chavez tidak berlangsung lama. Dalam pukulan terhadap tirani, perubahan rezim dengan cepat berbalik dan Chavez, pemimpin sah negeri itu, dikembalikan ke kursi kepresidenan.

Bertekad untuk melenyapkan pemerintah berhaluan kiri di Amerika Latin, Washington meningkatkan kampanye perang ekonominya melawan negara Amerika Selatan tersebut, bertujuan untuk menjerumuskan ekonominya ke kehancuran dan rakyat Venezuela mengalami kesengsaraan. Ini adalah rencana permainan yang Washington ikuti berkali-kali sebelum dan sejak di Tiongkok, Kuba, Korea Utara, Chile, Zimbabwe, Yugoslavia, Irak, Suriah, dan Iran: hancurkan ekonomi negara target, hubungkan kekacauan itu dengan “kegagalan sosialisme” dan salah urus ekonomi (economy mismanagement], dan menunggu rakyat bangkit memberontak melawan kesengsaraan mereka.

Gagasan bahwa intervensi Washington di Venezuela bahkan [bagaimana pun] memiliki sedikit hubungan untuk melindungi demokrasi adalah menggelikan. Pemerintah AS telah terkenal mendukung serangkaian kediktatoran sayap kanan di seluruh Amerika Latin, termasuk Augusto Pinochet [Chile], yang dipasang setelah kudeta rekayasa AS 1973 terhadap Salvador Allende. Allende merintangi [crossed] Washington dengan melakukan apa yang dilakukan Maduro dan sejumlah pemimpin Dunia Ketiga lainnya: menempatkan kepentingan penduduk lokal di atas kepentingan korporasi Amerika.

Di Timur Tengah, sekutu [bangsa] Arab terdekat Amerika Serikat adalah kediktatoran militer (Mesir) dan monarki absolut di antaranya adalah Arab Saudi, yang kebenciannya pada demokrasi adalah mutlak. Washington memberi penghargaan kepada Mesir dengan $ 1,3 miliar bantuan militer setiap tahunnya, dan dengan kuat mendukung tirani Saudi.

Orang [Arab] Saudi menganggap keluarga kerajaan mereka yang bersifat parasit itu, sama sekali tidak dapat diterima. Untuk melindungi diri dari penduduknya sendiri, monarki itu memertahankan 250.000 Garda Nasional [National Guard] yang kuat. Keberadaan Garda, bukan untuk membela Arab Saudi dari agresi eksternal, tetapi untuk melindungi monarki dari rakyatnya sendiri.

Pelindung keluarga al-Saud dilatih dan dilengkapi oleh Amerika Serikat dan satelitnya termasuk Kanada, yang memiliki kontrak 10 miliar dolar AS untuk memasok pasukan dengan pengangkut personel lapis baja, yang digunakan untuk menghentikan pemberontakan yang kerap timbul dari warga Saudi yang tidak puas.

Pembuat lapis baja Garda Nasional itu, Kanada, juga mengakui Guaido sebagai presiden sementara Venezuela, secara tidak jujur ​​menghubungkan keputusannya untuk mengikuti pimpinan Amerika Serikat dengan komitmennya pada demokrasi. Ottawa telah berkolusi dengan para diktator Riyadh dalam tindakan keras mereka terhadap para warga Saudi yang telah lama menderita, yang demokrasi dirampas, pada saat yang sama mendukung upaya General Dynamics Kanada untuk mengeruk keuntungan Firaun [to rake in Pharaonic profits] dari penjualan senjata kepada Saudi pembenci demokrasi yang bengis itu.

Mari jujur ​​tentang beberapa hal.

Pertama, agenda para pemimpin politik AS dan Kanada diatur oleh kepentingan-kepentingan bisnis para elite ekonomi yang terorganisasi di mana mereka [para politisi itu] bergantung pada kontribusi-kontribusi kampanye, rekomendasi-rekomendasi kebijakan, dan peluang-peluang pos yang menguntungkan bagi pekerjaan karier politik, dan yang dengannya mereka terintegrasi dengan kuat secara pribadi dan profesional.

Karena itu, mereka peduli pada keuntungan para investor AS dan Kanada, bukan mengenai kesejahteraan, kebebasan atau demokrasi rakyat jelata Venezuela. Memang, mereka diam-diam menyembunyikan penghinaan bagi sebagian besar warganya sendiri dan, untuk sesaat, tidak mentolerir mekarnya demokrasi yang otentik, kuat, di negeri-negeri mereka sendiri. Gagasan bahwa mereka peduli pada penghuni tanah Amerika Selatan yang jauh itu, adalah fantasi bagi orang-orang yang  secara politis polos dan [memang] naif kelemahannya.

Kedua, kampanye perang ekonomi pimpinan AS memang membuat kehidupan rakyat sengsara, dan banyak orang mungkin mengaitkan kesengsaraan mereka dengan tindakan pemerintah mereka sendiri dan ingin melihatnya turun. Yang lain mungkin mengakui bahwa sanksi adalah penyebab kesengsaraan mereka, dan dapat mendukung perubahan rezim sebagai sebuah cara memenangkan pembebasan dari kesengsaraan yang dipaksakan oleh pihak asing. Memang, logika peperangan ekonomi tergantung pada [apakah] asumsi-asumsi ini benar.

Ketiga, pemerintah yang terancam oleh perubahan rezim yang disponsori asing menghadapi keadaan darurat nasional yang sah [legitimate]. Maduro bukan diktator. Dia adalah kepala pemerintahan terpilih yang menghadapi keadaan darurat nasional asli [genuine] yang direkayasa oleh kekuatan asing yang bermusuhan. Langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah untuk membela warganya terhadap tekad Amerika Serikat untuk memberlakukan kebijakan Venezuela yang melayani kepentingan perusahaan Amerika dengan biaya Venezuela sepenuhnya sah; mereka [pemerintah Venezuela] mewakili tindakan demokrasi terhadap tirani internasional yang dipimpin AS.

Penting untuk diingat bahwa pemerintah Maduro, seperti Chavez, telah berupaya untuk menempatkan kepentingan rakyat Venezuela di atas kepentingan para investor AS. Akibatnya, itu telah memicu permusuhan Washington. Intervensi AS di Venezuela dalam mengakui Guaido sebagai presiden-sementara merupakan lambang dari banyak intervensi perubahan rezim AS lainnya.

Selalu, intervensi ini ditargetkan pada pemerintah sayap kiri yang mengancam kepentingan menghasilkan laba dari bisnis AS. Intervensi tidak ada hubungannya dengan demokrasi; sebaliknya, jika berhasil, mereka hampir selalu diikuti oleh rezim sayap kanan yang membangun iklim bisnis ramah investor AS dan mengintegrasikan negara mereka secara ekonomi, militer, dan diplomatis ke dalam tatanan global yang dipimpin Wall Street dan diawasi [superintended] AS. Investor asing dimanjakan, dan penduduk setempat diperlakukan dengan kasar. Jauh dari memacu transisi ke demokrasi, intervensi perubahan rezim AS bertujuan untuk membalikkan demokrasi, dan memerkuat tirani global AS. Intervensi pimpinan AS yang terbaru di Venezuela tidak berbeda, dan hanya sebuah pengulangan, dengan variasi lokal, pada upaya serupa di Suriah, Iran, Kuba dan Korea Utara.

.

ooOoo