Menyambut

71 Tahun RI  (17 Agustus 1945 – 2016)

45 Tahun Decoupling Dolar AS-Emas (15 Agustus 1971 – 2016)

.

DK-76-Qiao Liang-Logo RI 71--JPEG dari PDF

“Perjuangan Kemerdekaan Jilid 2, Tarung-Sengit Finansial Abad XXI”

 Grafis oleh Redaksi Dasar Kita; simak/klik dalam format PDF, untuk kembali ke laman ini klik ikon <== di pojok kiri atas.

Terinspirasi “Logo HUT RI ke-71 Mirip Infanteri AS, Ini Kata Bekraf” Yoga Hastyadi Widiartono – Kompas Tekno, Rabu, 10 Agustus 

* * *

… peristiwa yang paling penting dari abad ke-20 bukanlah Perang Dunia I, Perang Dunia II, dan runtuhnya Uni Soviet. Peristiwa paling penting dari abad ke-20 adalah decoupling dolar dan emas 15 Agustus 1971.

[…]

Banyak orang berpikir bahwa setelah surutnya Kekaisaran Inggris, sejarah kolonial pada dasarnya telah berlalu. Kenyataannya tidak seperti itu, karena setelah Amerika Serikat menjadi sebuah kekaisaran finansial, ia mulai menggunakan dolar sebagai ekspansi “kolonial” tersembunyi: Amerika mengendalikan ekonomi-ekonomi nasional melalui dolar, sehingga membuat berbagai negara di dunia “koloni-koloni” finansialnya. 

[…]

Karena mereka tidak menyadari bahwa sebuah era besar sedang berakhir, Amerika Serikat akan tumbang seiring berjalannya waktu [fall with time] karena kapitalisme finansial telah dibawa ke tahap tertinggi [“Imperialism the Highest Stage of Capitalism” salah satu buku karya VI Lenin, 1920].

Di satu sisi, melalui ekonomi virtual, Amerika Serikat telah melahap [eaten up] semua keuntungan kapitalisme. Di sisi lain, melalui inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi – yang [di sini] berbangga sebagai pemimpin dunia  – Internet, data besar, dan awan [the cloud] mendorong ke ekstrim yang pada akhirnya akan menguburkan Amerika Serikat  sebagai representatif dari oponen paling penting kapitalisme keuangan. [Artinya, internet dan awan akan mendapatkan kehidupan mereka sendiri dan melawan pemerintah AS — dari sumber, Red DK].

(Jend Qiao Liang)

* * *

.

One Belt, One Road [OBOR]

.

Jend Qiao Liang

.

Sumber: Heartland http://temi.repubblica.it/limes-heartland/one-belt-one-road/2070

.

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita

.

.

[Pengantar Redaktur Jurnal Heartland]

.

Pidato Jenderal Qiao Liang, di mana kami telah diizinkan untuk mempublikasikan, disampaikan di Universitas Pertahanan , sekolah militer Tiongkok papan atas, melontarkan seberkas cahaya pemikiran strategis baru Tiongkok.

Dokumen ini, yang Jenderal Qiao Liang telah mengijinkan kami untuk mempublikasikan, disampaikan di Universitas Pertahanan, sekolah militer papan atas Tiongkok, di mana sang jenderal bertanggung jawab atas kurikulum pendidikan bagi para perwira. Pidato tersebut karenanya harus mendapat persetujuan dari para pemuka sekolah tersebut dan akhirnya juga dari ketua Komisi Militer, Bapak Xi Jinping.

Dokumen tersebut  melontarkan seberkas cahaya pemikiran strategis baru Tiongkok.

Tantangan terbesar Beijing bukanlah geopolitik tapi ekonomi.  Hal ini berasal dari analisis perilaku AS yang kaku dan kejam sejak 1944, saat perjanjian Bretton Woods, dan yang lebih penting sejak 1971, dengan dolar yang decoupling dari emas, dan 1973 dengan AS yang memaksakan penggunaan petro-dollar.

Qiao Liang berpendapat bahwa tujuan AS selama bertahun-tahun tidak hanya geopolitik; [tetapi] untuk penambahan [accrue] profit, dan Amerika Serikat menemukan caranya setelah perang mahal yang membawa bencana dengan Korea Utara dan khususnya Vietnam, [AS] mendapatkan profit  dari krisis regional dengan atau tanpa perang. Sang jenderal menemukan sebuah siklus dolar sekitar 16 tahun: 10 tahun mata uang AS lemah, 6 tahun kuat. Awal dolar yang kuat sesuai dengan krisis regional yang menghancurkan ekonomi regional.

Lamun, AS gagal dalam upaya terbaru untuk menciptakan sebuah krisis regional di seluruh Tiongkok pada 2012 karena Beijing tidak jatuh dalam perangkap AS dan terseret ke dalam konflik dengan Jepang atau Filipina atas Senkaku atauScarborough Shoals [wilayah sengketa di Laut Tiongkok Selatan antara RRT, Taiwan dan Filipina; simak  Scarborough Shoals].

Qiao Liang yakin bahwa Tiongkok tidak akan jatuh dalam krisis regional dan percaya bahwa perubahan dramatis baru ada di depan kita. Sejumput [mata] uang baru [RMB/yuan] yang juga bisa tumbuh untuk mendominasi keuangan dunia menantang proses transaksi lama, dan 3D printing secara dramatis dapat mengubah metode produksi. Perubahan ini menciptakan situasi yang sama sekali baru bagi setiap orang dan di sini Qiao Liang mengatakan AS harus berkolaborasi dengan negara-negara lainnya.

Oleh karena itu, menurut analisis tidak memihak [dispassionate] ini, Tiongkok tidak hanya tidak melihat perlunya untuk berperang namun percaya bahwa perang secara langsung atau tidak langsung terhadap Amerika akan melawan kepentingan nasional Tiongkok.

Mereka [Tiongkok] berpikir bahwa Washington tidak akan melawan Beijing selama sepuluh tahun ke depan, tetapi untuk memastikan bahwa dalam sepuluh tahun AS tidak berubah pikirannya, Tiongkok harus menata urusan-urusan dalam rangka serta internasionalisasi mata uangnya, RMB.

Visi strategis yang luas ini juga menyediakan justikasi yang mendalam untuk kampanye antikorupsi yang sedang berlangsung. Tiongkok harus buru-buru untuk memerbaiki secara total [overhaul] ekonominya menghadapi risiko dasawarsa berikutnya. Jika tidak melakukannya sekarang, dalam satu dasawarsa bisa jadi malapetaka.

Analisis ini kemudian meninggalkan banyak ruang untuk bekerja sama dengan AS pada risiko di masa depan yang dihadapi kedua belah pihak.

Dalam analisis ini, Tiongkok yakin seyakin-yakinnya dan memiliki arah yang jelas.

Para ekonom mungkin setuju atau tidak setuju dengan analisis siklus dolar  tersebut, tapi apa yang paling penting adalah bahwa analisis ini mengubah ajang permainan [the playing field] bagi militer Tiongkok: menembakkan senjata menjadi tidak sepenting memahami dan mengelola keuangan. [Dan] Hal ini juga harus membantu militer dan para ahli strategi Amerika untuk lebih memahami pemikiran Tiongkok.

(oleh Francesco Sisci)

 

.

Pertama, situasi seputar Tiongkok dan siklus nilai tukar dolar AS [US dollar exchange-rate cycle – Red DK]

[1] 1. Untuk Pertama Kalinya dalam Sejarah, Munculnya Kekaisaran Finansial [Financial Empire]

Pada  isu ini, saya percaya ada banyak kamerad, para ahli keuangan, yang lebih pantas dari saya untuk berbicara tentang ekonomi. Yang berbeda adalah bahwa saya berbicara tentang hal ini dalam term strategis [strategic term].

Sejak 15 Agustus 1971, setelah decoupling [pelepasan/dilepaskan] dolar AS dari emas, kapal dolar mengangkat jangkarnya, sang emas itu.

Mari kita mulai dari awal.

Pada Juli tahun 1944, dalam rangka mengambil alih kepemimpinan dari Inggris dan mata uang mereka, AS mempromosikan pembentukan tiga sistem dunia: sistem politik PBB; sistem perdagangan GATT (yang kemudian menjadi WTO); serta sistem moneter dan keuangan, sistem Bretton Woods [Sistem Bretton Woods].

Sistem Bretton Woods, sesuai dengan keinginan dari orang Amerika, adalah untuk membangun kepemimpinan dolar. Namun pada kenyataannya setelah 27 tahun penuh, 1944-1971, kepemimpinan moneter Amerika itu tergelincir karena keberatan emas.

Pada awal sistem Bretton Woods, yang mengafirmasi kepemimpinan dolar, Amerika berjanji untuk dunia: uang dari berbagai negeri akan di-locked [dikunci] pada dolar, sementara dolar akan di-pegged [dipatok] dengan emas. Bagaimana cara mematoknya? Dengan harga tetap untuk konvertibilitas $ 35 per ons emas.

Dengan komitmen ini pada dunia, Amerika tidak bisa melakukan apapun yang mereka inginkan dengan dolar. Sederhananya, konvertibilitas $ 35 per ons emas itu berarti bahwa Amerika tidak bisa seenaknya mencetak dolar secara berlebihan; jika Anda mencetak lebih dari $ 35, treasury Anda harus memiliki lebih dari satu ons cadangan emas.

Amerika bisa membuat komitmen tersebut pada dunia karena kemudian memiliki sekitar 80 % dari cadangan emas dunia. Tapi situasi lalu menjadi tidak sesederhana yang Amerika inginkan. Setelah Perang Dunia II, Amerika Serikat terlibat secara pandir dalam perang Korea dan Vietnam. Ini adalah dua perang mahal bagi AS, terutama Perang Vietnam. Perang Vietnam memusnahkan hampir $ 800 milyar melalui pengeluaran militer. Dengan meningkatnya biaya perang tersebut, Amerika Serikat telah berkiprah lebih dari kemampuannya. Menurut janji AS, hilangnya setiap $ 35 berarti hilangnya satu ons emas.

Pada Agustus 1971, Amerika masih memiliki lebih dari 8.800 ton emas. Pada saat itu Amerika tahu mereka memiliki beberapa masalah, dan orang lain yang menciptakan masalah baru. Misalnya, Presiden Prancis Charles de Gaulle [yang] tidak percaya pada dolar, sehingga ia menyuruh menteri keuangan dan gubernur bank sentral Prancis untuk memeriksa cadangan dolar Prancis. Prancis ternyata memiliki sekitar $ 2,2-2,3 milyar dan de Gaulle kemudian memerintahkan mereka untuk mengembalikan semua dolar ke AS dan pengembalian itu sesuai dengan nilai emas. Pukulan Prancis menghasilkan respons yang sama dari negara-negara lain. Mereka mengatakan hal yang sama kepada Amerika: kami tidak ingin dolar; kami ingin emas. Ini membuat Amerika tersudut.

Dengan demikian, maka pada 15 Agustus 1971 Presiden AS Richard Nixon mengumumkan penutupan jendela  emas – dolar diputuskan tautannya dengan emas [delinked from gold]. Ini adalah awal dari runtuhnya sistem Bretton Woods, tetapi juga saat Amerika kembali pada janji mereka. Tapi sejauh dunia perhati, hal tersebut [sesungguhnya] tidaklah sepenuhnya jelas pada saat itu.

Orang percaya pada dolar karena ada emas di balik itu. Dolar telah digunakan sebagai mata uang internasional, setelmen  [settlement, penyelesaian akhir transaksi], dan [sebagai] cadangan selama hampir 30 tahun, dan orang-orang telah terbiasa menggunakan dolar [become use to the dollar].

Jika dolar tiba-tiba direm dan emas tidak ada lagi di baliknya, secara teori, ia menjadi secarik kertas hijau semata [become a piece of a simple green paper] – lantas bagaimana bisa kita masih menggunakannya?

Orang bisa-bisa saja tidak lagi menggunakannya, tapi akan ada masalah, apa ukurannya untuk digunakan dalam setelemen internasional dari nilai barang? Karena uang adalah untuk mengukur nilai, jika seseorang tidak menggunakan dolar, bagaimana bisa orang lain juga percaya pada mata uang lainnya?

Sebagai contoh, antara yuan dan rubel, Rusia (juga Uni Soviet) mengatakan, jika Anda tidak mengakui rubel, kami tidak mengakui yuan, jadinya orang [lain malahan] bisa terus mengambil dolar sebagai alat tukar di antara kami [Tiongkok dan Rusia].

Maka, orang Amerika menggunakan inersia [kelambanan] dunia dan pada Oktober 1973, mendorong Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk menerima syarat-syarat  Amerika: transaksi minyak global harus di-settled [diselesaikan] dalam dolar AS.

Sebelum ini, perdagangan minyak global dapat menggunakan berbagai mata uang untuk setelmen internasional, tetapi setelah Oktober 1973, segalanya berubah, dan OPEC mengumumkan bahwa dolar harus digunakan pada setelmen perdagangan minyak global.

Dengan demikian, setelah decoupling dolar dan emas, Amerika pegged dolar pada komoditas dasar dari minyak. Mengapa? Karena Amerika melihat dengan jelas bahwa orang bisa saja tidak menyukai dolar, tetapi orang tidak bisa melakukan sesuatu tanpa energi: orang dapat melakukan sesuatu tanpa dolar, tetapi apa yang akan Anda lakukan tanpa minyak?

Semua negara harus mengkonsumsi energi, dan semua negara membutuhkan minyak; dalam hal ini, kebutuhan orang akan minyak menjadi setara dengan kebutuhan akan dolar, yang adalah sebuah langkah sangat cerdas Amerika. Bahkan setelah dollar dan emas decoupling pada 1971, dengan peg dolar dan minyak pada 1973, AS menata sebuah tonggak baru, meski segelintir orang yang menyadarinya pada saat itu.

Banyak ekonom – para pakar finansial— tidak melihat dengan jelas bahwa peristiwa yang paling penting dari abad ke-20 bukanlah Perang Dunia I, Perang Dunia II, dan runtuhnya Uni Soviet. Peristiwa paling penting dari abad ke-20 adalah decoupling dolar dan emas 15 Agustus 1971. [Cetak tebal dari kami – Red DK]. Bahkan, yang disebut kepemimpinan dolar dimulai pada saat itu.

Sejak itu, manusia menyaksikan munculnya kekaisaran keuangan [financial empire], dan kekaisaran keuangan ini meraup seluruh perlombaan umat manusia [humnity race] ke dalam sistem keuangannya.

Saat ini [2015] sudah sekitar 40 tahun. Setelah hari itu [15/8/1971], kita memasuki era paper notes yang riil [real paper notes], tapi di belakang dolar tidak ada lagi logam mulia – hal itu sepenuhnya menggunakan kredibilitas dan dukungan pemerintah dari seluruh dunia untuk mendapatkan keuntungan.

Sederhananya, orang Amerika dapat menggunakan secarik kertas hijau yang tercetak [dolar itu] untuk memeroleh kekayaan fisik dari seantero dunia. Kita tidak pernah memiliki hal semacam itu dalam sejarah umat manusia. [Cetak tebal dari kami,Red DK].

Dalam sejarah umat manusia ada banyak cara untuk membuat keuntungan, kadang-kadang dengan pertukaran uang, kadang-kadang dengan menggunakan emas atau perak; di [beberapa] negeri-negeri belahan dunia lain menggunakan perang untuk memeroleh jarahan, tetapi biaya perang tetap besar.

Tetapi setelah munculnya dolar sebagai secarik kertas hijau semata, rasio biaya-manfaat [cost-benefit ratio] untuk Amerika Serikat dapat kita katakan menjadi sangat rendah.

Karena decoupling dolar-emas, emas tidak lagi terseret dolar, dan Amerika Serikat lebih bebas untuk mencetak dolar.

Jika banyak dolar tinggal di Amerika Serikat, akan menyebabkan inflasi di AS. Jika dolar pergi ke luar negeri, maka seluruh dunia akan mencerna [digest] inflasi AS, menjadi salah satu alasan mengapa tingkat inflasi dolar tidak tinggi. Dengan kata lain, arus keluar dolar AS ke luar negeri mencairkan inflasi domestik.

Tapi setelah aliran- global dolar, Amerika tidak punya uang, dan jika mereka terus mencetak uang, dolar terus terdepresiasi, hal yang tidak baik bagi Amerika Serikat.

Jadi Fed juga tidak [ingin], seperti dibayangkan beberapa orang,  berjalan dalam pencetakan uang tak waras [crazily printing money]. Sebenarnya Fed sepenuhnya memahami [untuk] menahan diri. Dalam 100 tahun keberadaannya, 1913-2013, Fed menerbitkan total sekitar 10 triliun dolar.

Sebagai perbandingan, beberapa orang mulai menyalahkan bank sentral Tiongkok. Mengapa? Dari sejak saat ia menerbitkan mata uang  baru – renminbi – tahun 1954 sampai sekarang [2015: ‘hanya’ 61 tahun], bank sentral kami [Tiongkok] telah menerbitkan lebih dari 120 triliun yuan. Bila dikonversi dengan kurs 6,2 per dolar AS, kami telah menerbitkan sekitar $ 20 triliun [dua kali lipat diterbitkan AS selama 100 tahun].

Tapi itu tidak berarti [terjadi] pencetakan uang tak waras di Tiongkok, karena setelah reformasi dan membuka diri, Tiongkok mendapatkan banyak dolar, dan sekarang ada banyak sekali dolar dalam [bentuk] investasi asing di Tiongkok. Berhubung kontrol devisa, dolar tidak bisa beredar di Tiongkok [cetak tebal dari kami, Red DK], sehingga bank sentral harus melepaskan RMB [rembi/yuan] yang sesuai nilai tukar [/kurs] dolar dan mata uang lainnya.

Lamun, investasi asing di Tiongkok, setelah mereka meraih keuntungan, ke depannya dapat ditarik [dari Tiongkok]; pada saat yang sama, akan ada banyak sekali devisa asing [masuk dalam bentuk yuan] untuk membeli sumber-sumber daya, energi, produk-produk dan teknologi. Dengan cara ini, banyak sekali dolar akhirnya akan pindah keluar sementara RMB tetap tinggal [di Tiongkok].

Maka orang tidak mungkin menghancurkan jumlah yang sesuai dari RMB, tetapi hanya bisa membiarkan yuan di Tiongkok terus beredar, sehingga stok dari RMB menjadi kekuatan yang lebih besar daripada dolar.

Hal ini pada gilirannya membuktikan 30 tahun ekonomi Tiongkok yang mengagumkan itu. Bank sentral Tiongkok mengakui bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini mungkin akan diterbitkan lebih dari 20 triliun yuan. Sebagian besar dari jumlah sangat besar ini tinggal di Tiongkok, yang membawa [kita] untuk berbicara tentang masalah berikut: mengapa RMB harus diinternasionalkan [internationalized].

[1] 2. Hubungan Siklus Dolar dan Ekonomi Global

Alasan mengapa Amerika Serikat tidak memiliki inflasi terutama karena sirkulasi global dolar [the global circulation of the dollar]. Lamun AS tidak bisa menerbitkan jumlah dolar yang tidak terbatas, yang akan mendevaluasi dolar – Anda butuh kontrol.

Jika penerapan kontrol itu berarti tidak memiliki dolar, apa yang dapat Anda lakukan? Amerika memiliki satu set solusi untuk masalah ini: mereka menerbitkan obligasi dolar [dollar bonds], dan melalui penerbitan obligasi, mereka mendapatkan dolar dari luar negeri yang mengalir kembali ke Amerika. Tetapi ketika arus keluar ini akan kembali ke Amerika Serikat melalui modal utang [debt capital], Amerika mulai memainkan sebuah permainan baru, di satu pihak mencetak uang dan di lain pihak dengan meminjam.

Mencetak uang bisa menghasilkan uang, dan pinjaman juga dapat menghasilkan uang, [artinya] memproduksi uang dengan uang. Bila lebih mudah untuk menghasilkan uang melalui finance ketimbang dengan ekonomi riil, maka siapa yang mau untuk berkeringat melakukan kerja keras pada manufaktur dan pemrosesan yang bernilai tambah rendah [low-value-added] dari ekonomi riil? [Cetak tebal dari kami, Red DK]

Setelah 15 Agustus 1971, Amerika secara bertahap meninggalkan ekonomi riil dengan mendukung ekonomi virtual, berubah menjadi sebuah negeri bodong [hollow country]. [Cetak tebal dari kami, Red DK].

PDB [Pendapatan Domestik Bruto] AS saat ini telah mencapai $ 18 triliun, tapi kontribusi ekonomi riil terhadap PDB tidak melebihi $ 5 triliun – sisanya sebagian besar diciptakan oleh ekonomi virtual. Melalui penerbitan obligasi, AS mendapatkan sejumlah besar dolar beredar di luar negeri yang kembali ke Amerika Serikat dan ke ketiga pasar AS: pasar berjangka [future market], pasar obligasi [bond market], dan pasar saham [stock market].

Uang melahirkan uang dengan cara ini, dan kemudian uang mengalir ke luar negeri, sehingga siklus aliran keluar [outflow] dan aliran masuk [inflow] menghasilkan keuntungan dan dengan ini AS menjadi kekaisaran finansial [financial empire].  Amerika Serikat  mengambilalih sistem keuangan dunia ke dalam dirinya. [Cetak tebal dari kami, Red DK].

Banyak orang berpikir bahwa setelah surutnya Kekaisaran Inggris, sejarah kolonial pada dasarnya telah berlalu. Kenyataannya tidak seperti itu, karena setelah Amerika Serikat menjadi sebuah kekaisaran finansial, ia mulai menggunakan dolar sebagai ekspansi “kolonial” tersembunyi: Amerika mengendalikan ekonomi-ekonomi nasional melalui dolar, sehingga membuat berbagai negara di dunia “koloni-koloni” finansialnya. [Cetak tebal dari kami, Red DK]

Saat ini kita melihat banyak negara yang berdaulat dan merdeka, termasuk Tiongkok, bahwa meskipun berdaulat, dengan konstitusi dan pemerintah mereka sendiri, masih belum bisa melepaskan [can’t shed] dolar. Pada akhirnya, kekayaan negara akan dinyatakan dalam dolar dan mereka akan memiliki kekayaan fisik yang masuk ke AS melalui pertukaran dan aliran teratur [exchange and a steady stream] dari dolar. [Cetak tebal dari kami, Red DK]

Kita bisa menyaksikan hal ini dengan sangat jelas selama periode 40-tahun dalam grafik nilai tukar dolar. Decoupling dolar-emas-AS 15 Agustus 1971 bermakna Amerika menyingkirkan belenggu emas, mereka bisa bebas mencetak dolar, sirkulasi dolar meningkat, dan nilai tukar dolar secara alami rendah.

Sejak 1971, khususnya dengan krisis minyak 1973, nilai tukar dolar telah diperdagangkan rendah, yang menunjukkan bahwa mereka [AS] mencetak banyak dolar. Situasi ini berlangsung hampir 10 tahun. Nilai tukar dolar AS yang rendah tidak sepenuhnya hal yang buruk bagi perekonomian dunia karena itu berarti bahwa pasokan dolar meningkat, yang berarti peningkatan aliran modal. Sebagian besar modal ini tidak tinggal di Amerika Serikat, tetapi pergi ke luar negeri. Saat dimulainya nilai tukar dolar yang rendah, banyak dolar pergi ke Amerika Latin, yang dirangsang investasi dan juga membawa kemakmuran. Ini adalah ledakan ekonomi di Amerika Latin tahun 1970-an.

Periode banjir dollar berlangsung sekitar 10 tahun. Kemudian pada 1979, Amerika memutuskan untuk menutup pintu air. Nilai tukar dolar AS yang rendah setara dengan Amerika membuka pintu air, dan penutupan pintu-pintu air itu sebenarnya mengurangi likuiditas dolar. Pada 1979 tersebut, nilai tukar dolar menjadi kuat dan dolar yang mengalir ke luar negeri berkurang. Amerika Latin [yang sebelumnya] berpikir menerima banyak dolar yang mendorong pembangunan. Tiba-tiba investasi berkurang, likuiditas mengering, rantai investasi modal putus, dan dengan sendirinya ekonomi bermasalah.

Begitu mulai bermasalah, setiap negara Amerika Latin mulai memikirkan cara-cara untuk menyelamatkan diri. Ambil contoh Argentina. PDB per kapitanya telah masuk dalam jajaran negara-negara maju. Tapi ketika krisis ekonomi Amerika Latin muncul, Argentina adalah yang pertama memasuki resesi.

Ada banyak cara untuk memecahkan resesi, tapi sayangnya, ketika pemerintah Argentina berkuasa melalui kudeta militer, presidennya adalah Galtieri yang tidak memiliki sense ekonomi. Sebagai seorang prajurit, ide Galtieri hanyalah perang, dan ia berharap untuk menyelamatkan situasi lewat perang. Dia mengatur sasarannya pada Kepulauan Malvinas, 600 km jauhnya dari daratan Argentina dan menyebut Kepulauan Falkland [dikuasai] oleh Inggris. Pulau-pulau itu telah berada di bawah kekuasaan Inggris selama lebih dari 100 tahun, dan Galtieri memutuskan untuk mengklaimnya balik.

Tapi Argentina adalah Amerika Selatan, yang selalu dianggap sebagai halaman belakang [backyard] Amerika. Berperang di halaman belakang Amerika orang tidak bisa menghindar untuk bertanya pada Amerika. Jadi orang-orangnya Galtieri pergi berbicara dengan Presiden AS Ronald Reagan, untuk melihat sikap AS atas masalah tersebut.

Reagan pasti sudah tahu bahwa jika Galtieri ingin bertarung dalam pertempuran ini, bisa mengakibatkan perang skala besar dengan Inggris, namun diduga ia [Reagen] santai menyatakan bahwa ini adalah masalah antara Argentina dan Inggris, tidak ada hubungannya dengan Amerika Serikat: “kami tidak memiliki posisi apapun; kami tetap netral. Galtieri pikir itu adalah persetujuan presiden AS, sehingga ia melancarkan Perang Falklands dan dengan mudah menguasai kembali Falklands.

Semua orang di Argentina bersorak-sorak, antusias menggebu-gebu seperti pada sebuah karnaval. Namun, Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher menyatakan bahwa dia tidak akan pernah menerima hasil ini, dan juga memaksa presiden AS untuk mengambil sikap. Reagan kemudian segera meletakkan topeng netralitas dan mengeluarkan pernyataan keras mengutuk tindakan agresi Argentina, sambil berdiri teguh bersama Inggris. Selanjutnya, Inggris mengirim satuan tugas kapal induk mengarungi sebuah ekspedisi panjang dan berat sejauh 8.000 mil laut, memenangkan kembali Malvinas.

Sementara itu, dolar mulai menguat, dan modal internasional kembali ke Amerika Serikat sesuai dengan keinginan AS.

Ketika Perang Falklands pecah, investor global menarik kesimpulan langsung: Amerika Latin berada dalam krisis regional dan ada kerusakan pada iklim investasi di Amerika Latin. Satu demi satu investor pergi dengan melakukan divestasi dari Amerika Latin. The Federal Reserve mengamati momen tersebut dan segera mengumumkan kenaikan suku bunga. Setelah kenaikan tersebut, penarikan investasi dari Amerika Latin mendapatkan momentum. Ekonomi Amerika Latin berada dalam keruntuhan.

Penarikan modal dari Amerika Latin hampir seluruhnya lari ke Amerika Serikat dalam mengejar tiga pasar (obligasi, berjangka, dan pasar saham) di Amerika Serikat, dan ini membawa bull market [pasar di mana harga dari sejumlah besar saham mengalami peningkatan atau diharapkan mengalami peningkatan] besar pertama AS setelah decoupling dolar-emas. Nilai tukar dolar tumbuh sebesar 60 poin dan dalam satu lompatan kenaikan lebih dari 120 poin, sebuah pertambahan 100%.

Tiga pasar Amerika tersebut tidak menyimpan uang ini tapi mengambil kesempatan untuk mendapatkan [untung] lebih dengan kembali ke Amerika Latin, kali ini untuk membeli aset berkualitas tinggi yang harganya telah jatuh menjadi terendah, sehingga [sejatinya] mengatasi dengan keji [savagely fleecing] ekonomi Amerika Latin. Ini adalah situasi setelah penguatan dolar yang pertama.

Jika hal serupa terjadi hanya sekali, maka itu akan menjadi kejadian langka; jika terjadi berulang kali, maka harus ada aturan [rule]. Pada saat siklus [cycle] pertama  – “10 tahun dari dolar yang lemah, enam tahun dolar yang kuat” – orang tidak yakin apakah itu aturan. Setelah puncak krisis keuangan di Amerika Latin, nilai tukar dolar mulai turun lagi mulai pada 1986. Setelah itu ada krisis keuangan Jepang dan krisis mata uang Eropa, tetapi nilai tukar dolar masih rendah. Sekitar satu dasawarsa kemudian, pada tahun 1997, dolar menguat lagi. Dolar yang kuat kali ini juga berlangsung selama enam tahun. Hal ini sangat menarik, kita dapat melihat bahwa nilai tukar dolar menunjukkan kurang lebih pola yang sama: 10 tahun lemah, enam tahun yang kuat, dan kemudian [berulang] lagi 10 tahun lemah, enam tahun yang kuat. [Cetak tebal dari kami, Red DK]

Setelah 1986, nilai tukar dolar mulai melemah untuk kedua kalinya, maka setelah 10 tahun, dolar kembali seperti sebuah banjir, menumpahi seluruh dunia. Zona banjir utama saat itu adalah di Asia. Dan ide apa yang terhangat  pada 1980-an? “Empat Macan Asia”, “Angsa-Angsa Asia”, dan seterusnya.

Banyak orang percaya bahwa kemakmuran Asia datang melalui kerja keras, kecerdasan, dan ketajaman bisnis orang Asia. Kenyataannya, alasan utamanya adalah karena negeri-negeri Asia menerima cukup dolar [bahkan] lebih dari cukup untuk investasi [ample investment].

Ketika ekonomi Asia secara kasar makmur, Amerika merasa sudah waktunya untuk menuai panen. Kemudian, setelah 1997, ketika nilai tukar dolar menjadi rendah sehabis 10 tahun penuh, dengan mengurangi jumlah uang yang beredar untuk Asia, Amerika membawa kembali reversal dolar yang kuat. [Maka] Sebagian besar negeri-negeri Asia, perusahaan-perusahaan, dan industri-industrinya mengalami kekurangan likuiditas, dan beberapa bahkan langsung saja memutuskan rantai pembiayaan modal, dan dengan begitu datanglah tanda-tanda atas krisis ekonomi dan keuangan Asia.

Kali ini air di panci sudah 99 derajat, hanya 1 derajat lagi mendidih, lalu dengan peningkatan derajat berikutnya ini krisis regional akan pecah. Itu [berarti] tidaklah selalu harus [melalui] sebuah perang seperti Argentina itu. Untuk membuat krisis regional, perang bukan satu-satunya cara. [Cetak tebal dari kami, Red DK]

Berhubung tujuannya adalah untuk memeras uang lewat modal [squeeze out of capital], bahkan tanpa suatu pertempuran orang dapat membuat krisis regional. Maka kita melihat bahwa spekulan keuangan seperti Soros, dengan Quantum Fund, dan ratusan pengelola investasi global [hedge fund] di dunia, bagaikan segerombolan serigala mulai menyerang ekonomi terlemah dari negeri-negeri di Asia, seperti Thailand, menyerang mata uang Thailand baht.

Seminggu atau lebih setelah krisis baht dimulai, terjadi reaksi berantai, mengarah ke selatan, secara bertahap bergerak ke Malaysia, Singapura, Indonesia, dan Filipina, kemudian ke utara ke Tiongkok, Taiwan, Hong Kong, Jepang, Korea Selatan, dan mengarah sampai ke Rusia – krisis keuangan Asia Timur pecah. Kali ini air mendidih.

Para investor global menyimpulkan bahwa lingkungan investasi di Asia telah memburuk dan menarik modal mereka dari Asia. Fed sekali lagi mengambil kesempatan untuk membunyikan terompet kenaikan suku bunga. Menyusul perintah penarikan [modal] dari Asia ke Amerika Serikat, modal sekali lagi mencari tiga pasar utama AS [obligasi, berjangka, pasar saham] dan membawa bull market besar kedua ke Amerika Serikat [yang pertama, lihat atas]. Ketika Amerika menabung cukup banyak uang seperti yang mereka lakukan di Amerika Latin, mereka [kini] kembali ke Asia untuk membeli aset-aset berkualitas di Asia pada harga terendah. Kali ini ekonomi Asia telah benar-benar hancur, tanpa kekuatan untuk melawan. [Tetapi] Kali ini Tiongkok adalah satu-satunya yang beruntung.

[1] 3. Sekarang Giliran Tiongkok

Setelah itu, tepat pada waktunya dan akurat seperti datangnya pasang, setelah enam tahun menjadi kuat, nilai tukar dolar pada 2002 itu mulai melemah lagi, dan kemudian 10 tahun lagi, pada 2012, Amerika mulai memersiapkan diri untuk membuat dolar yang kuat lemah lagi. Metode itu masih sama dengan yang dulu: untuk menciptakan krisis regional bagi orang lain.

Kita telah menyaksikan insiden Cheonan [catatan penerjemah: Sebuah kapal angkatan laut Korea Selatan tenggelam pada tahun 2010, mungkin dengan torpedo Korea Utara – dari sumber, Red DK]; di tetangga Tiongkok, sengketa Diaoyu/Kepulauan Senkaku [catatan penerjemah: antara Tiongkok dan Jepang – dari sumber, Red DK], dan sengketa Pulau Huangyan/ Scarborough Shoal [antara Tiongkok dan Filipina – dari sumber, Red DK]. Hampir semua terjadi dalam periode yang sangat singkat.

Tapi sungguh malang, Amerika Serikat pada 2008 yang bermain api di rumah sendiri, untuk kali pertama dilanda krisis keuangan. Hal ini mengakibatkan keterlambatan dalam penguatan nilai tukar dolar AS. Tampaknya bahwa sengketa Sino-Filipina di Huangyan dan Sino-Jepang di Kepulauan Diaoyu tidak banyak berdampak atas nilai tukar dolar AS, tapi apakah itu benar demikian? Mengapa insiden ini terjadi tepat pada awal periode 10-tahun ketiga dolar yang lemah? Hanya sedikit orang yang mengeksplorasi masalah ini, tapi hal itu sungguh layak dipertimbangkan.

Jika kita mengakui bahwa dari decoupling dolar-emas 1971 telah terjadi siklus nilai tukar dolar, dan menurut siklus tersebut Amerika mengambil kesempatan untuk menimbulkan ketegangan [to strain] ekonomi negara-negara lain, maka kita dapat menyimpulkan bahwa, sekarang giliran Tiongkok.

Mengapa kita katakan demikian? Karena sekarang Tiongkok telah menjadi daya tarik global untuk menerima investasi-investasi dan sejumlah besar modal internasional telah tiba di Tiongkok dari orang-orang yang optimis tentang ekonominya [Tiongkok].

Dari perspektif hukum ekonomi, tidak hanya Tiongkok sebagai negara. Sebuah ekonomi seukuran Tiongkok setara dengan seluruh Amerika Latin, bahkan lebih besar dari total keluaran [output] ekonomi Amerika Latin; dan jika kita bandingkan dengan ekonomi-ekonomi Asia Timur maka kita dapat mengatakan bahwa perekonomian Tiongkok adalah setara dengan seluruhnya yang ada di Asia Timur.

Selain itu, dalam dasawarsa terakhir, banyak modal masuk ke Tiongkok membuat ekonomi Tiongkok tumbuh pada kecepatan menggiurkan dan menjadi terbesar kedua di dunia. Jika demikian, tidak aneh bahwa Amerika Serikat bertujuan untuk menargetkan Tiongkok sebagai straining-nya yang ketiga [setelah Amerika Latin dan Asia]. [Cetak tebal dari kami, Red DK]

Apabila penilaian ini benar, maka dari tahun 2012, sejak sengketa Kepulauan Diaoyu Sino-Jepang dan sengketa Kepulauan Huangyan Sino-Filipina, sengketa-sengketa [dengan] tetanggaTiongkok datang silih berganti, sampai bentrokan Sino-Vietnam tahun lalu [2014] atas rig “981” dan yang belakangan gerakan “Occupy Central” Hong Kong. Dapatkah terjadinya semua peristiwa ini masih dilihat sebagai kebetulan?

Tahun lalu pada bulan Mei [2014], ketika saya menemani Jenderal Liu Yazhou, komisaris politik dari Universitas Pertahanan Nasional, ke Hong Kong untuk sebuah kunjungan studi, gerakan “Occupy Central sudah siap digodok dan kemungkinan akan dimulai pada akhir Mei. Tetapi sampai akhir Mei itu belum [juga] dimulai, dan tidak juga pada akhir Juni atau Juli atau Agustus. Apa alasannya? Apa gerakan yang digodok [brewing movement]  ini sedang menunggu [sesuatu]?

Marilah kita bandingkan jadwal dari peristiwa yang lain: Fed QE (pelonggaran kuantitatif ) [quantitaive easing dari The Fed] yang keluar dari jadwal. Awal tahun lalu [2014], Amerika Serikat mengatakan akan menarik QE, lamun selepas April, Mei, Juni, Juli, dan Agustus, mereka masih tidak mengakhirinya. Jika AS tidak mengakhiri QE, maka mereka akan tetap menerbitkan banyak dolar dan dolar tidak bisa menjadi kuat, karenanya gerakan “Occupy Central” Hong Kong ” tidak dimulai.

Jadwal dari kedua peristiwa tersebut benar-benar tumpang tindih. Pada akhir September tahun lalu, Fed akhirnya mengumumkan penarikan AS dari QE, dan nilai tukar dolar mulai menguat pada awal Oktober – dan lantas gerakan “Occupy Central” Hong Kong pecah. Sejatinya, [Insiden-insiden] Kepulauan Diaoyu, Kepulauan Filipina Huangyan, rig pengeboran 981, dan gerakan “Occupy Central” Hong Kong ” adalah  empat situasi eksplosif.

Jika manapun dari empat pukulan  tersebut, akan menyebabkan krisis keuangan regional, yang akan berarti bahwa wilayah di sekitar Tiongkok tidak lagi baik untuk investasi. Ini sepenuhnya akan memenuhi syarat dasar dari model pendapatan dollar [dollar revenue model]: “ketika nilai tukar dolar menjadi lebih kuat, daerah lain harus muncul sebagai dalam krisis regional; kerusakan dari lingkungan investasi di kawasan tersebut memaksa sejumlah besar investor untuk menarik modal.” [Cetak tebal dari kami, Red DK]

Tapi malangnya bagi Amerika, kali ini mereka harus berurusan dengan Tiongkok sebagai lawan. Orang-orang Tionghoa menggunakan metode taijiquan [tai chi chuan, versi di Indonesia] untuk memecahkan satu persatu krisis di kawasan tetangganya. Hasilnya sampai saat ini adalah bahwa apa yang Amerika harapkan – bahwa  air panas yang 99 derajat akan naik sederajat lagi – telah gagal terjadi; air tidak mendidih.

Jika air tidak mendidih,  Fed harus terus menaikkan suku bunga. Tampaknya Amerika Serikat mengerti adalah tidak begitu mudah untuk menggunting wol Tiongkok, tetapi [juga] tidak berniat untuk hanya menunggu dan menunggu. Pada saat berbarengan mempromosikan gerakan “Occupy Central” di Hong Kong, pendekatan bercabang-banyak Amerika Serikat [United States multipronged approach] mulai di dijalankan di kawasan lain.

Dimana? Ukraina, di mana Uni Eropa bertemu dengan Rusia. Ukraina, di bawah kepemimpinan Viktor Yanukoviych, tentu saja bukan sebutir telur yang perfek, jadinya lalat bisa mengisinya dengan belatung. Tapi Amerika Serikat mengincar Ukraina tidak hanya karena mereka telur busuk, tapi karena mereka baik untuk [dipakai] memerangi Yanukovych, seorang politisi tak taat, dan juga [untuk] menghalangi Uni Eropa dan Rusia yang semakin dekat.

Ini juga yang dapat menyebabkan memburuknya lingkungan investasi Eropa – [menggenapi] tujuan ideal membunuh tiga burung dengan satu batu. Dengan begitu, bagi seorang Ukraina tampaknya “revolusi warna” yang populer dan spontan itu pecah sudah, dan tujuan dari Amerika tercapai melampaui harapan Amerika [sendiri] atau siapa pun di muka bumi ini: orang kuat Rusia Vladimir Putin, mengambil keuntungan dari kesempatan tersebut, memulihkan Crimea. Meskipun langkah ini tidak dalam rencana Amerika, hal tersebut memberi Amerika alasan untuk melakukan tekanan pada Uni Eropa dan Jepang, memaksa mereka untuk bergabung dengan Amerika Serikat atas sanksi terhadap Rusia, membawa tekanan besar untuk Rusia tetapi juga terhadap ekonomi Eropa.

Mengapa Amerika harus melakukannya? Orang seringkali melihat masalah dari perspektif geopolitik ketimbang dari perspektif modal. Setelah krisis di Ukraina, hubungan Rusia dengan Eropa dan Amerika memburuk dengan cepat, tapi sanksi Barat terhadap Rusia menciptakan kerusakan lingkungan investasi di Eropa yang mengarah pada penarikan modal. Menurut statistik, lebih dari satu triliun dolar modal meninggalkan Eropa.

Desain dua cabang Amerika berhasil. Maksudnya, jika Anda tidak bisa mendapatkan modal yang ditarik dari Tiongkok untuk mengejar Amerika Serikat, maka setidaknya Anda dapat menyebabkan modal Eropa untuk pergi ke AS. Ini adalah langkah pertama [yakni] untuk mencapai perubahan dramatis pada situasi di Ukraina, tetapi langkah kedua, [modal] tidak kabur [dari Eropa] seperti yang Amerika Serikat inginkan. Modal yang ditarik dari Eropa [ternyata] menurut data tidak pergi ke Amerika Serikat — sebagian besar lari ke Hong Kong. Ini berarti bahwa investor global masih tidak optimis atas pemulihan ekonomi AS. Meskipun pertumbuhan ekonomi AS melambat [tidak statis/negatif], mereka tetap mencari negeri dengan tingkat pertumbuhan tercepat: Tiongkok.

Ini poin pertama. Yang kedua, bahwa pemerintah Tiongkok tahun lalu [2014] mengumumkan ia ingin memiliki “komunikasi pasar Shanghai dan Hong Kong” [Shanghai and Hong Kong markets communication], sehingga para investor global sangat bersemangat  dalam berharap untuk meraih keuntungan melalui “komunikasi Shanghai dan Hong Kong” tersebut.

Di masa lalu modal Barat tidak berani masuk pasar saham Tiongkok. Satu alasannya yang sangat penting adalah kontrol devisa Tiongkok yang ketat, [khususnya] dengan strict exits [penarikan modal yang ketat]  – Anda bebas untuk datang, tetapi Anda tidak bisa dengan mudah keluar – sehingga para investor umumnya takut untuk berinvestasi di pasar saham Tiongkok. Dengan “komunikasi Shanghai dan Hong Kong,” mereka dapat dengan mudah [masuk] melalui Hong Kong berinvestasi di pasar saham Shanghai, dan mereka bisa pergi begitu mereka memeroleh keuntungan.

Lebih dari satu triliun dolar sekarang stuck [macet] di Hong Kong dan telah terjadi sejak September [2014] lalu, yang merupakan awal dari gerakan “Occupy Central”. Inilah sebabnya mengapa kekuatan-kekuatan di balik gerakan “Occupy Central” selalu menolak untuk menyerah dan selalu ingin tampil kembali – Amerika butuh menciptakan suatu krisis regional dengan sasaran padaTiongkok, sehingga modal yang terjebak di Hong Kong akan ditarik dari Tiongkok untuk mendukung ekonomi Amerika.

Mengapa ekonomi AS perlu dan begitu sangat tergantung pada arus modal internasional? Alasannya adalah bahwa setelah decoupling dolar-emas 15 Agusutus 1971, ekonomi AS secara bertahap menghentikan produksi fisik dan meninggalkan ekonomi riil.

Amerika menganggap ekonomi riil – manufaktur low-end, industri-industri nilai tambah rendah [low-value-added industries] – sebagai industri-industri sampah atau mereka menyebutnya “industri matahari terbenam,” [“sunset industries”] dan secara bertahap dipindahkan ke negeri-negeri berkembang, terutama ke Tiongkok.

Selanjutnya, selain dari yang disebut industri-industri berteknologi tinggi seperti IBM, Microsoft, dan perusahaan-perusahaan lainnya, Amerika secara bertahap mengalihkan sekitar 70% dari lapangan pekerjaan kepada pelayanan keuangan dan finansial.

Sekarang, Amerika Serikat telah menjadi kosong secara industri [industrially empty]  dan tidak banyak memiliki ekonomi riil yang dapat membawa keuntungan besar bagi para investor global. Pada keadaan ini, Amerika harus membuka pintu lain yaitu ekonomi virtual [virtual economy].

Ekonomi virtual adalah tiga pasar tersebut. Selama modal keuangan internasional masuk ke kolam dari ketiga pasar tersebut, ia akan mendatangkan untung bagi uang Amerika sendiri. Kemudian, Amerika menggunakan uang yang diperoleh itu sebagai selimut-hangat bagi dunia [to fleece the world], dan sekarang, inilah satu-satunya cara orang Amerika bisa hidup. Atau kita menyebutnya pandangan hidup orang Amerika [the American way of life].

Pendekatan demikian membuat Amerika Serikat membutuhkan kembalinya banyak modal untuk mendukung kehidupan sehari-hari orang Amerika dan ekonomi AS. Mereka yang memblokir kembalinya modal ke AS adalah musuh Amerika Serikat. Kita harus memahami hal ini untuk memikirkannya dengan jernih.

Kedua, Porsi Siapa yang Berkurang [Whose Cheese was Moved] oleh Peningkatan Pesat Tiongkok?

[2] 1. Mengapa Kelahiran Euro Memprovokasi Perang?

Pada 1 Januari 1999, euro lahir. Tiga bulan kemudian, perang Kosovo pecah. Banyak orang berpikir bahwa perang di Kosovo terjadi karena Amerika Serikat dan NATO bergabung untuk melawan rezim Milosevic ,yang telah membantai etnis Albania di Kosovo menciptakan bencana kemanusiaan yang mengerikan.

Setelah perang, kebohongan cepat merebak, dan Amerika mengakui bahwa ini adalah langkah yang dimainkan bersama oleh CIA dan media Barat dengan tujuan memukul pemerintah Yugoslavia. Lamun, apakah perang di Kosovo benar-benar untuk melawan Yugoslavia? Eropa [semula] sangat memercayai tujuan dimaksud itu, tetapi setelah 72 hari perang, orang Eropa mendapatkan diri mereka dikelabui, dan mengapa?

Dengan peluncuran euro, Eropa sangat percaya diri. Mereka menetapkan kurs euro-dolar 1: 1,07. Setelah pecahnya perang Kosovo, orang Eropa terlibat penuh dalam aksi NATO tersebut dalam mendukung serangan AS di Kosovo. Setelah 72 hari pemboman, rezim Milosevic runtuh dan Yugoslavia takluk.

Tetapi kemudian setelah semua ini, Eropa menemukan rekening [mereka] tidak cocok. Dalam 70 hari perang, euro justru puntung [crippled/merugi]. Ketika perang berakhir, euro anjlok 30 persen menjadi $ 0,82 untuk satu euro. Eropa tiba-tiba menyadari [meski] mereka laris manis [sold out] tapi mereka masih [harus] menghitung uang untuk orang lain. Eropa mulai bangun. Itulah sebabnya  belakangan ketika Amerika Serikat berperang di Irak, Perancis dan Jerman – dua kekuatan UE – dengan tegas menentang perang tersebut.

Ada yang mengatakan bahwa demokrasi Barat tidak bertarung satu sama lain. Sejauh ini setelah Perang Dunia II, tidak ada perang langsung antara negara-negara Barat, tetapi ini tidak berarti tidak ada perang ekonomi atau finansial di antara mereka. Perang Kosovo adalah perang finansial tidak langsung Amerika dengan euro, pertarungan itu [memang] dengan Yugoslavia tapi euro yang rasakan sakit .

Itu karena kelahiran euro menggeser porsi dolar [dollar’s cheese]. Sebelum kelahiran euro, mata uang dunia adalah dolar AS, dan dolar digunakan oleh sekitar 80% dari setelmen global – bahkan sekarang sekitar 60%. Munculnya euro segera menyunat potongan porsi dolar AS.

Ekonomi UE adalah sebesar $ 27 triliun, dan penampilan tiba-tiba membayangi ekonomi terbesar dunia [yakni] Kawasan Perdagangan Bebas Amerika Utara [North American Free Trade] ($ 24-25 triliun). Sebagai ekonomi yang besar, Uni Eropa tentu tidak senang dengan dolar sebagai setelmen perdagangan internalnya, sehingga Eropa memutuskan untuk meluncurkan mata uang mereka sendiri, euro. Munculnya euro menyunat  sekitar sepertiga dari setelmen dolar, dan sekarang 23% dari setelmen perdagangan dunia menggunakan euro bukan dolar.

Amerika cukup waspada ketika orang-orang Eropa mulai berbicara tentang euro, tetapi kemudian ketika mereka menemukan bahwa penampilan euro adalah sebuah tantangan terhadap keunggulan [primacy] dolar, itu sudah agak terlambat. Oleh karena itu AS memetik ajar, sehingga di satu sisi menekan Uni Eropa dan euro, di sisi lain harus menekan para penantang lainnya.

[2] 2. Apa yang Amerika Inginkan untuk Menyeimbangkan dengan Asia-Pacific Strategic Rebalancing?”

Kebangkitan Tiongkok membuat kami [Tiongkok, menjadi] penantang baru itu. Sengketa Kepulauan Diaoyu dan sengketa Kepulauan Huangyan pada 2012 adalah upaya terbaru untuk menekan keberhasilan penantang [baru] Amerika itu. Kedua [peristiwa itu] terjadi di kawasan geopolitik tetangga Tiongkok, dan meskipun hal itu gagal menyebabkan arus keluar modal yang besar dari Tiongkok, setidaknya sebagian memenuhi tujuan Amerika dan menciptakan dua masalah.

Pada awal 2012, negosiasi Tiongkok-Jepang-Korea dalam sebuah trilateral Northeast Asia FTA [Free Trade Agreement] mendekati sukses; pada April [2012], Tiongkok dan Jepang mencapai kesepakatan awal pada swap [tukar menukar] mata uang dan obligasi Jepang. Tapi kali ini, sengketa Kepulauan Diaoyu dan sengketa Kepulauan Huangyan muncul satu demi satu, dan mendadak negosiasi Northeast Asia FTA dan swap mata uang Jepang berakhir dibawa angin .

Setelah beberapa tahun, kami [Tiongkok] telah hampir menyelesaikan negosiasi bilateral dalam China-South Korea FTA, yang memiliki sedikit makna, karena sangat berbeda dari Northeast Asia FTA. Mengapa demikian? Karena sekali negosiasi FTA Tiongkok-Jepang-Korea berhasil, itu akan mencakup Tiongkok, Jepang, Korea, Hong Kong, Makau, dan Taiwan. Sebuah Northeast Asia FTA bakal berarti bahwa akan munculnya perekonomian terbesar ketiga, raksasa skala dunia sekitar 20 triliun dolar.

Kemudian, setelah Northeast Asia FTA hadir, ia tidak akan berhenti tetapi akan bergerak cepat ke selatan untuk berintegrasi [dengan] kawasan perdagangan bebas Asia Tenggara dan membentuk sebuah kawasan perdagangan bebas di Asia Timur yang menghasilkan lebih dari 30 triliun dolar. Ini akan menjadi ekonomi pertama di dunia yang lebih besar dari UE dan Amerika Utara.

Kemudian kita bisa terus berspekulasi bahwa zona perdagangan bebas di Asia Timur masih belum akan berhenti. Ini bisa membawa India di barat daya, kemudian bergerak ke utara untuk mengintegrasikan lima republik Asia Tengah [Central Asia], dan lalu pergi ke barat untuk mengintegrasikan Timur Tengah – dengan demikian seluruh Asian FTA akan memiliki skala lebih dari 50 triliun dolar AS, melebihi Uni Eropa dan Amerika Utara yang disatukan.

Jika sebuah zona perdagangan bebas akbar yang muncul, apakah ia akan bersedia untuk menggunakan euro atau dolar AS untuk clearing [kliring] perdagangan internalnya? Tentu saja tidak. Ini berarti bahwa dolar Asia mungkin akan lahir.

Tapi saya pikir, jika Asian FTA menjadi kenyataan, kami [Tiongkok] hanya bisa mempromosikan internasionalisasi RMB dan membiarkan yuan menjadi mata uang yang dominan di Asia, seperti dolar yang menjadi mata uang yang kuat [hard currency] di Amerika Utara dan kemudian untuk aliran barang [flow of goods] di seluruh dunia.

Makna dari internasionalisasi RMB jauh melampaui apa yang kami katakan tentang RMB: untuk pergi keluar dan memainkan peran dalam kebijakan “one belt, one road” [OBOR, “satu sabuk, satu jalan”] dan seterusnya. Ia akan membagi dunia [antara yuan] dengan dolar AS dan euro.

Rakyat Tiongkok dapat melihatnya, akankah Amerika tidak melihat hal ini? Ketika Amerika mengumumkan menyeimbangkan kembali timur [rebalancing east], mereka mendorong Jepang di Kepulauan Diaoyu dan bertengkar dengan Tiongkok, mendukung Filipina dalam konfrontasi Kepulauan Huangyan.

Jika kita berpikir ala mata rabun jauh [shortsightedly, miopia] maka sengketa Kepulauan Diaoyu dimulai setelah sayap kanan Jepang “membeli pulau tersebut” dan sengketa dengan Filipina dimulai ketika Presiden Filipina Corazon Aquino terbawa nafsu mencoba membuat masalah dengan Tiongkok.

Tapi apa yang tidak kita lihat adalah kejelian Amerika dalam mencegah RMB dari menjadi penantang dolar [a challenger the dollar]. Amerika tahu benar apa yang mereka lakukan karena mereka tahu mereka tidak harus membiarkan hal seperti itu terjadi lagi [seperti euro – dari sumber, Red DK].

Jika Northeast Asia FTA terbentuk, hal itu akan memiliki efek riak [ripple effect] membagi dunia dalam tiga [bagian: dolar, euro, yuan]. Jika hanya sepertiga dari uang global di tangan dolar, bagaimana bisa mata uang AS dapat memertahankan kepemimpinannya? Dapatkah Amerika Serikat bukan lagi sebuah negeri bodong [could a hollow out United States; lihat pengertian Amerika a hollow country di atas], yang tanpa kepemimpinan moneter, masih menjadi pemimpin global?

Bila kita ingin memahami hal ini, kita harus melihat mengapa di balik semua masalah Tiongkok belakangan ini, di situ [selalu] ada bayangan Amerika Serikat. Hal ini karena Amerika Serikat harus berpikir lebih jangka panjang daripada kami [Tiongkok], melihat hal-hal lebih dalam untuk pertama-tama mencegah “bahaya” Tiongkok [China “peril”] , dan dengan demikian selalu memberikan kami kesulitan. Ini adalah alasan mendasar AS menerapkan strategi rebalancing Asia-Pasifik. [Pertanyaannya,] Persisnya, apa yang Anda ingin seimbangkan? Apakah sungguh-sungguh mencoba untuk menyeimbangkan Tiongkok dan Jepang, Tiongkok dan Filipina, atau Tiongkok dan negara-negara lain? Tentu saja tidak, tujuannya adalah untuk mengimbangi momentum meningkatnya kekuatan Tiongkok saat ini.

Ketiga, Rahasia Bahwa Tentara Amerika Berjuang untuk Dolar AS

[3] 1. Perang Irak dan Mata Uang yang Digunakan dalam Akuntansi Transaksi Minyak

Setiap orang mengatakan kekuatan Amerika bertumpu pada tiga pilar: uang, teknologi, dan militer. Bahkan, saat ini kita dapat melihat bahwa pilar yang riil dari AS adalah moneter dan militer, dan yang mendukung mata uang adalah militer Amerika Serikat. Peperangan di seluruh dunia membakar uang, tapi meski demikian militer AS terus berperang. Tapi di satu sisi perang bisa membakar uang dan di sisi yang lain bisa mendapatkan uang untuk AS, yang negara-negara lain tidak bisa lakukan. Hanya Amerika Serikat  yang dapat memeroleh banyak keuntungan dari deal melalui perang, meskipun Amerika Serikat juga telah kehilangan dari sisi [yang lain] itu. [Cetak tebal dari kami, Red DK].

Mengapa Amerika berperang di Irak? Yang ada dalam pikiran banyak orang hanya satu kata: minyak. Apakah Amerika benar-benar pergi berperang untuk minyak? Tentu saja tidak. Jika Amerika pergi berperang untuk minyak, maka mengapa Amerika tidak mengambil setiap satu barel minyak dari Irak setelah kemenangan? Lagi pula, harga minyak melesat dari $ 38 per barel sebelum perang menjadi $ 149 per barel setelah perang. [Dan] Rakyat Amerika tidak menikmati harga minyak yang rendah karena pendudukan AS di Irak. Oleh sebab itu, perang AS di Irak bukan soal minyak, tapi dolar.

Mengapa begitu? Alasannya sangat sederhana. Karena untuk menguasai dunia, Amerika Serikat butuh dunia yang menggunakan dolar. Dalam rangka untuk membiarkan dunia menggunakan dolar, Amerika membuat langkah yang sangat cerdas pada 1973: mereka tautkan dolar dan minyak dengan memaksa negara terkemuka OPEC Arab Saudi untuk melakukan transaksi minyak global dalam dolar.

Jika Anda memahami bahwa transaksi minyak global dalam dolar AS, Anda dapat memahami mengapa Amerika berperang untuk minyak.

Sebuah konsekuensi langsung dari perang di negara-negara penghasil minyak adalah lonjakan harga minyak, dan lonjakan harga minyak berarti bahwa permintaan untuk dolar meningkat. Sebagai contoh, sebelum perang jika Anda punya $ 38, teorinya, Anda dapat membeli satu barel minyak dari sebuah perusahaan minyak. Dengan perang, harga minyak menjadi lebih dari empat kali lipat mencapai $ 149.

Jadi, $ 38 hanyalah cukup untuk membeli seperempat barel minyak, dan untuk 3/4 barel sisa Anda kekurangan lebih dari 100 dolar.

Lantas, apa yang harus dilakukan? Anda hanya bisa berpaling pada Amerika dengan produk dan sumber daya Anda sendiri dan menyerahkannya pada mereka dengan imbalan dolar Amerika. Dan lalu [menjadikan] pemerintah AS dapat percaya diri, terbuka, dan dibenarkan mencetak dolar. Demikianlah  melalui perang – perang melawan negara-negara penghasil minyak menciptakan harga minyak selangit  – di mana AS menciptakan permintaan yang tinggi atas dolar.

Perang Amerika di Irak memiliki lebih dari hanya satu tujuan. [Perang] Itu juga untuk memertahankan kepemimpinan dolar. Lalu mengapa George W. Bush bersikeras perang di Irak? Sekarang ini kita dapat menjadi sangat jelas bahwa Saddam tidak mendukung terorisme atau al-Qaeda, juga tidak atas [kepemilikan] senjata pemusnah massal – [tapi] mengapa Saddam akhirnya dibawa ke tiang gantungan? Karena Saddam berpikir dirinya pintar, dan bermain dengan api dengan superpowers. Dalam peluncuran resmi euro pada 1999, Saddam Hussein mengambil kesempatan untuk bermain dengan api antara dolar dan euro – Amerika Serikat dan Uni Eropa – dan dia tidak sabar untuk mengumumkan bahwa transaksi minyak Irak akan dilakukan dalam euro. Inilah yang membuat marah Amerika, khususnya hal itu menghasilkan reaksi berantai. Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dan Presiden Venezuela Hugo Chavez, juga mengumumkan setelmen ekspor minyak negara mereka akan dalam euro.

Tidakkah ini menusuk di punggung Amerika? Beberapa orang berpikir hal itu [setelmen dalam dolar bukan euro] terlalu mengada-ada untuk mengatakan bahwa setelah perang ini di Irak adalah mandatori [wajib]. Maka silakan simak ini: apa yang Amerika lakukan setelah memenangi Irak? Bahkan sebelum menangkap Saddam, Amerika mendirikan sebuah pemerintah sementara Irak yang keputusan perdana adalah untuk menyatakan ekspor minyak Irak akan diperhitungkan dalam dolar dan tidak dalam euro. Itulah sebabnya Amerika berperang untuk dolar.

[3] 2. Perang Afghanistan dan Surplus Neraca Modal AS

Sementara orang mungkin mengatakan bahwa dapat dimengerti perang di Irak adalah pertarungan untuk dolar AS, tapi di Afghanistan tidak ada minyak, sehingga perang di Afghanistan tidak bisa disebut perang untuk dolar,  bukan? Lagi pula, perang di Afghanistan jelas-jelas terjadi setelah “9/11,” ketika Amerika Serikat ingin membalas  terhadap al-Qaeda dan Taliban untuk [sejatinya] mendukung al-Qaeda.

Tapi apakah itu benar demikian? Perang di Afghanistan dimulai [hanya] sebulan lebih setelah “9/11” – sebuah model yang terburu-buru. Setelah beberapa saat  AS kehabisan rudal jelajah namun perang masih berlanjut. Pentagon mau tak mau perintahkan membuka simpanan persenjataan nuklir, menghapus 1.000 hulu ledak nuklir dari rudal jelajah, dan menempatkan hulu ledak konvensional, lalu mereka melontarkan lebih dari 900 rudal dan selanjutnya tinggal meruntuhkan Afghanistan. Ini adalah bukti jelas bahwa persiapan sangat tidak memadai, dan dalam kasus ini [pertanyaannya] mengapa Amerika bersikeras bergegas ke medan perang?

Amerika tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Pada awal abad ke-21, Amerika Serikat adalah sebuah negeri industri bodong [an industrially hollow country] dan membutuhkan sekitar $ 700 miliar per tahun dalam aliran kas masuk neto [net inflows] untuk bertahan hidup. Tapi dalam waktu satu bulan setelah “9/11”, iklim investasi di AS telah merosot dengan buruk ke level kekhawatiran dan kegelisahan yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Tidak peduli seberapa kuatnya, jika Amerika Serikat tidak bisa menjaga keamanannya sendiri, bagaimana bisa menjamin keamanan finansial para investor? Dampaknya [jelas], lebih dari $ 300 miliar uang panas meninggalkan Amerika Serikat. Hal ini memaksa Amerika Serikat untuk berperang sesegera mungkin.

Perang itu tidak hanya untuk menghukum Taliban dan al-Qaeda, tetapi juga untuk mendapatkan kembali kepercayaan investor global. Seperti rudal jelajah pertama yang meledak di Kabul, Dow Jones rebound [kenaikan harga saham setelah anjlok] 600 poin dalam satu hari, aliran modal keluar mulai kembali ke AS, dan pada akhirnya ada sekitar $ 400 milyar bergerak kembali ke Amerika Serikat. Apa hal ini tidakkah membuktikan bahwa perang di Afghanistan adalah untuk dolar dan modal?

[3] 3. Mengapa Kapal Induk Memberi Jalan bagi Sistem Serangan Cepat Global

Banyak orang memiliki ekspetasi besar terhadap kapal induknya Tiongkok sendiri, karena mereka telah melihat sejarah kapal induk dan bersemangat menantikan Tiongkok dengan miliknya sendiri. Kemudian ketika kita mendengar peluit dari Liaoning [kapal induk pertama Tiongkok], kita bergegas untuk menyaksikan [ yang ternyata] produk terakhir [last train] kapal induk Tiongkok. [Lantaran] Sementara kapal induk hari ini tetap suatu penanda [a sign] sebuah negara besar, tetapi sebuah penanda semata. Karena ekonomi global yang semakin berfokus pada teknologi finansial, peranan kapal induk secara bertahap akan menurun.

Sejarah kapal induk adalah produk dari zamannya. Ketika Kekaisaran Inggris berkembang pesat, ia mempromosikan perdagangan global, dan akan menjual barang yang diproduksi untuk dunia, dan kemudian mendapatkan sumber-sumber daya sebagai imbalan. Hal ini membutuhkan angkatan laut yang kuat untuk menjamin kelancaran arus jalur laut. Kemudian pengembangan kapal induk seluruhnya itu untuk mengontrol laut dan untuk menjamin keamanan jalur laut. Ini adalah era “logistik adalah raja”: untuk menjamin kontrol aliran sumber daya dan produk di laut yang [ujungnya] akan menjamin kontrol aliran kekayaan global [mereka]. Tapi dunia hari ini adalah pada era “modal adalah raja”. Milyaran, ratusan miliar, atau bahkan triliun dalam aliran modal dari satu tempat ke yang tempat lain [hanya] dalam beberapa detik dengan ketukan beberapa tombol pada komputer. Tentu saja, kapal induk melayari lautan dengan kecepatan [terkait] logistik, tetapi tidak mampu bersaing dengan kecepatan modal, tidak akan mampu mengendalikan modal global.

Saat ini, apa alternatifnya? Dapatkah Anda bersaing dengan arah, volume, dan kecepatan aliran modal global yang didukung oleh Internet? Amerika sedang mengembangkan sebuah sistem tempur-global raksasa yang cepat [a huge, rapid global combat system]: menggunakan rudal balistik dan pesawat supersonik yang lima kali atau sepuluh kali lebih cepat dari rudal jelajah supersonik, yang dengan cepat dapat menyerang setiap area konsentrasi-modal yang tinggi.

Saat ini AS mengklaim dapat menyerang setiap bagian manapun di dunia dalam waktu 28 menit, jadi tidak masalah di mana pun modal terkonsentrasi, ia dapat menyerang di mana saja di dunia. Sepanjang Amerika Serikat tidak ingin tempat tertentu untuk memiliki modal, rudal bisa sampai di situ dalam 28 menit.

Dan ketika rudal jatuh, modal tetap bisa ditarik dengan tenang dan baik. Inilah alasannya mengapa sistem tempur global yang cepat akan menggantikan kapal induk. Tentu saja, kapal induk masa depan masih akan memiliki peran yang tak tergantikan, seperti perlindungan atas keselamatan maritim dan atas jalur laut, misi kemanusiaan, dan sebagainya, karena kapal induk adalah landasan lepas pantai yang sangat baik. Tetapi sebagai senjata untuk mengendalikan arus modal masa depan, ia [kapal induk] memiliki kecepatan jauh dibawah sistem penyerangan global.

Keempat, “Pertempuran Udara dan Laut”: Sebuah Simpul Gordian [Gordian Knot] bagi AS

Ketika Amerika memertimbangkan penggunaan militer untuk berurusan dengan kebangkitan Tiongkok, mereka mengusulkan sebuah konsep yang disebut “pertempuran udara dan laut”. Saya pikir “pertempuran udara dan laut” tersebut tetap dilema ribet [intractable dilemma] bagi AS.

“Pertempuran Udara dan laut” melawan Tiongkok diangkat pada KTT bersama Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS 2010. Strategi ini terutama mencerminkan fakta bahwa militer AS saat itu melemah. Tentara AS yang dimanfaatkan untuk berpikir bahwa mereka bisa menggunakan serangan udara dan Angkatan Laut melawan Tiongkok. Saat itu [2010] AS mendapati bahwa baik Angkatan Udara maupun Angkatan Laut [secara] sendiri-sendiri tak dapat memeroleh keuntungan melawan Tiongkok; serangan bersama udara dan laut yang dapat memberikan keuntungan tertentu atas Tiongkok. Tapi meskipun AS mengangkat ide tersebut sekitar lebih dari empat tahun lalu, Amerika tiba-tiba merubah namanya, sekarang sebutannya “konsep keterlibatan umum global dan mobilitas bersama” [“concept of global common involvement and joint mobility”].

Dalam konsep operasi bersama melalui udara dan laut ini, Amerika percaya bahwa tidak akan ada perang antara kedua negara dalam sepuluh tahun ke depan.

Setelah studi Amerika baru-baru ini atas pengembangan militer Tiongkok, mereka percaya kapasitas yang ada dari AS tidak cukup untuk mengimbangi beberapa keuntungan militer Tiongkok yang telah dibangun, seperti kemampuan untuk menghancurkan sistem angkasa luar atau serangan kapal induk.

Amerika Serikat kemudian harus muncul dengan sepuluh tahun pengembangan dan suatu sistem tempur yang lebih maju untuk mengimbangi keunggulan Tiongkok.

Ini berarti bahwa Amerika mungkin menjadwalkan perang pada sepuluh tahun kemudian. Sementara perang mungkin tetap tidak terjadi dalam satu dekade, kami [Tiongkok] harus siap untuk itu. Jika Tiongkok tidak ingin perang dalam sepuluh tahun ke depan, kami perlu menempatkan seluruh urusan kami secara urut, termasuk persiapan militer dan perang.

Kelima, Makna Strategis One Belt, One Road” [“Satu Sabuk, Satu Jalan”]

Mari kita simak kegairahan [passion, semangat] Amerika untuk olahraga: yang pertama adalah basket dan yang kedua adalah tinju.

Tinju biasanya mencerminkan kekuatan dalam gaya penyokong Amerika [Americans advocate]: langsung, pukul [strike], menang KO (knock out), dan semuanya beres.

Tiongkok sebaliknya, suka kekaburan [blur] dan kelembutan, dan kami tidak berharap untuk merobohkan Anda, tapi ingin menyelesaikan dan memahami semua tindakan Anda. Orang Tionghoa suka berlatih taichi, yang memang merupakan sebuah seni yang lebih tinggi dari tinju.

“One belt, one road” merefleksikan ide ini. Sejarah munculnya semua kekuatan besar menyangkut gerakan globalisasi mereka. Ini berarti bahwa globalisasi bukanlah proses yang konsisten sejak jaman dahulu sampai sekarang, tetapi masing-masing tempat – Kekaisaran Romawi, Kekaisaran Qin – memiliki proses globalisasi sendiri.

Setiap proses globalisasi didorong oleh munculnya kekaisaran; setiap kekaisaran dikaitkan dengan suatu periode globalisasi, dengan masa jayanya globalisasi ketika mencapai puncaknya. Dan globalisasi juga akan dibatasi oleh kekuatan mereka, yang merupakan jangkauan maksimum yang dapat dicapai dengan wahana [vehicles] mereka – artinya, ini adalah titik akhir untuk setiap fase globalisasi.

Oleh karena itu, baik globalisasi Kekaisaran Romawi maupun  Kekaisaran Qin, sekarang ini hanya tampak seperti proses regionalisasi dari ekspansi kekaisaran. Globalisasi riil dari sejarah modern berasal dari awal Kekaisaran [Kerajaan] Inggris raya yang merupakan globalisasi perdagangan.

Setelah Amerika Serikat mengambil alih mantel dari Kekaisaran Inggris, ia melanjutkan dengan globalisasi perdagangan, sementara  globalisasi Amerika yang sesungguhnya adalah globalisasi dolar. Ini adalah globalisasi yang kita alami dewasa ini.

Tapi saya tidak setuju bahwasanya strategi Tiongkok saat ini “one belt, one road” adalah suatu integrasi ke dalam sistem ekonomi global. Untuk mengatakan bahwa dolar akan melanjutkan globalisasinya dan integrasi, [cetak tebal dari kami, Red DK] adalah suatu kesalahpahaman. Sebagai sebuah kekuatan besar yang sedang meningkat, “one belt, one road” adalah tahap awal dari globalisasi Tiongkok. Sebagai sebuah negara besar, proses meningkatnya harus menyangkut rencana untuk memajukan globalisasi.

”One belt, one road” sejauh ini adalah strategi Tiongkok terbaik yang bisa diajukan. Ini adalah strategi a hedge [menghindar, membatasi, hedging] terhadap langkah ke arah timur dari AS.

Beberapa orang akan mempertanyakan hal ini, percaya hedging harus di arah yang sama – bagaimana bisa Anda melakukan hedging dengan pergi ke arah yang berlawanan? Benar, “one belt, one road” adalah strategi hedging Tiongkok yang berbalik melawan pergeseran ke-arah-timurnya AS: Anda mendorong dalam satu arah; Saya pergi ke arah yang berlawanan. Tidakkah Anda menekan saya untuk itu? Saya pergi ke barat, tidak untuk menghindari Anda juga bukan karena saya takut, tapi dengan sangat cerdik memencarkan [defuse] tekanan yang Anda berikan pada saya di timur.

”One belt, one road” bukanlah sebuah strategi dari dua garis sejajar, tapi di situ harus ada fokus primer dan sekunder. Menyadari bahwa kekuatan laut Tiongkok masih lemah, pilihan pertama ”One belt, one road” harus bersaing [to compete] di darat, yang berarti “jalan (jalur laut)” [“the way (sea lanes)] harus menjadi arah serangan sekunder dan “sabuk” [“the belt”] harus menjadi arah utama.

Bila “sabuk” telah menjadi arah utama, itu berarti bahwa kita harus kembali mengakui peran Angkatan Darat. Sebagian orang mengatakan bahwa Pasukan Lapangan Tiongkok [Chinese Field Army] tak terkalahkan. Jika yang mereka maksudkan dalam lingkup wilayah Tiongkok, ya, Pasukan Tiongkok tak terkalahkan. Siapa yang ingin menginjakkan kaki di wilayah Tiongkok untuk bertarung dalam pertempuran skala besar? Masalahnya adalah, apakah pasukan Tiongkok memiliki kemampuan ekspedisi [expeditionary capabilities; simak Expeditionary warfare]?

Tahun lalu saya berbicara mengenai isu ini di forum Global Times. Saya mengatakan bahwa dalam memilih Tiongkok sebagai rival, Amerika memilih oponen yang salah dan arah yang salah. Karena di masa depan, tantangan riil terhadap Amerika Serikat bukan Tiongkok; tapi adalah Amerika Serikat sendiri, dan Amerika Serikat akan menguburkan dirinya sendiri.

Karena mereka tidak menyadari bahwa sebuah era besar sedang berakhir, Amerika Serikat akan tumbang seiring berjalannya waktu [fall with time] karena kapitalisme finansial telah dibawa ke tahap tertinggi [“Imperialism the Highest Stage of Capitalism” salah satu buku karya VI Lenin, 1920].

Di satu sisi, melalui ekonomi virtual, Amerika Serikat telah melahap [eaten up] semua keuntungan kapitalisme. Di sisi lain, melalui inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi – yang berbangga sebagai pemimpin dunia  – Internet, data besar, dan awan [the cloud] mendorong ke ekstrim yang pada akhirnya akan menguburkan Amerika Serikat  sebagai representatif dari oponen paling penting kapitalisme keuangan. [Artinya, internet dan awan akan mendapatkan kehidupan mereka sendiri dan melawan pemerintah AS — dari sumber, Red DK].

Pada “double 11” [11 November, hari Valentine Tiongkok – dari sumber, Red DK] tahun lalu, belanja daring [dalam jaringan/online] mencapai 50,7 miliar yuan dalam satu hari pada Alibaba Taobao. Selama tiga hari setelah libur Thanksgiving, penjualan secara daring dan pada toko-toko biasa [on-the-ground stores] AS mencapai total setara 40,7 miliar yuan, kurang dari penjualan Alibaba dalam satu hari. Dan Tiongkok bahkan tidak memerhitungkan Netease, Tencent, Jingdong, atau pendapatan dari mal.

Ini berarti bahwa sebuah era baru telah tiba, sedangkan reaksi Amerika masih lamban. Jual beli Alibaba seluruhnya dilakukan langsung dengan Alipay [sebuah platform pembayaran pihak ketiga tanpa biaya transaksi]. Apa arti pembayaran langsung? Ini berarti bahwa mata uang [currency] sudah keluar dari panggung transaksi, dan [sementara] kepemimpinan Amerika dibangun pada dolar. Apa itu dolar? Ia adalah sebuah mata uang. Di masa datang, ketika kita tidak lagi menggunakan uang, setelmen uang tradisional akan menjadi tak berguna [cetak tebal dari kami Red DK]. Ketika uang menjadi sia-sia, akankah sebuah kekaisaran yang dibangun di atas uang masih eksis? Ini adalah pertanyaan yang harus dipertimbangkan oleh Amerika.

3D printer [pencetak 3D]  juga menggambarkan arah masa depan dan akan membawa perubahan mendasar dalam mode produksi [mode of production] di masyarakat dewasa ini. Karena produksi berubah dan perdagangan berubah, dunia pasti berubah secara radikal.

Tapi sejarah telah membuktikan bahwa perubahan riil dapat menyebabkan perubahan dalam sifat sosial [social nature], yang akan dipimpin oleh dua faktor ini [perubahan dalam mode-mode produksi dan perdagangan – dari sumber, Red DK] dan bukan oleh yang lainnya.

Di Tiongkok sejak periode akhir Kaisar Qin, rakyat mulai memberontak: Chen Sheng Wu Guang membangkitkan sebuah revolusi dan [selanjutnya] pemberontakan terjadi berkali-kali selama 2.000 tahun sejarah. Pemberontakan, perang, revolusi – apakah mereka memecahkan masalah? Mereka tidak memecahkan masalah; mereka hanya membawa perubahan penguasa, riak-riak kecil air [a low-level water circulation]. Gerakan-gerakan ini tidak bisa mengubah sifat dari komunitas petani, mereka juga tidak mengubah mode produksi atau cara-cara berdagang [ways of trade]. Mereka hanya bisa membawa perubahan rezim.

Di Barat juga, Napoleon membawa kemuliaan Revolusi Perancis dan memimpin pasukan yang baru ditahbiskan dalam revolusi ke seluruh Eropa, mencampakkan satu demi satu mahkota, tetapi ketika ia gagal di Waterloo, Napoleon mengundurkan diri. Semua raja Eropa dipulihkan dan segera saja mereka kembali ke masyarakat feodal.

Revolusi Industri datang ketika mesin uap Inggris memungkinkan manusia untuk lebih meningkatkan produksi dan munculnya sejumlah besar surplus produk. Dengan produk-produk yang demikian terjadilah surplus nilai [value surplus], begitu pula dengan kapital [modal] dan para kapitalis. Masyarakat kapitalis telah tiba.

Jadi dewasa ini ketika modal bisa hilang dengan hilangnya uang dan ketika produksi juga akan berubah dengan munculnya 3D printer, umat manusia akan memasuki suatu tahap sosial baru.

Saat ini Tiongkok dan Amerika Serikat berdiri di garis start yang sama, garis start dari Internet, data besar, dan komputasi awan.

Kita harus membandingkan siapa yang lebih baik saat memasuki era ini, ketimbang berlomba-lomba untuk menyalip satu sama lain. Dalam sense ini, saya mengatakan bahwa Amerika Serikat memilih oponen yang salah. Oponen yang riil adalah Amerika Serikat sendiri – atau adalah era ini.

Tepatnya pada titik ini, Amerika tampaknya luar biasa lamban. Karena mereka terlalu bernafsu untuk menjaga kepemimpinan mereka dan tidak pernah berpikir untuk berbagi kekuasaan dengan negara-negara lain, [untuk] mendekati tahap sosial yang baru ini bersama-sama [yang] masih memiliki banyak area yang tidak diketahui dan banyak hambatan tak menentu.

(17 Luglio [Juli] 2015)

ooOoo