Upaya Kudeta Gagal: 411

.

Jokowi: “Saya Heran, Ini Urusan DKI Kok Digeser Ke Presiden.”

.

“Coba kita logika dan kalkulasi nalar saja. Kalau saya sih senyam senyum saja.”

.

Oleh Redaksi Dasar Kita

.

dk-79a-jkw-marinir

Fabian Januarius Kuwado — Presiden Joko Widodo saat mengecek pasukan Marinir dalam apel pasukan di Markas Korps Marinir Jakarta Selatan, Jumat (11/11/2016). [Sumber: Kompas.com, 11/11/2016 — Red DK]

.

Baru saja kita menyaksikan kepiawaian seorang Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia, dalam menyiasati — yang sulit bagi kami untuk tidak menyebutnya — sebuah upaya kudeta, yang berbentuk demonstrasi masal berlangsung di Jakarta pada 4 November 2016 lalu. Peristiwa yang kami sebut saja, mengutip viral terkait,  Upaya Kudeta Gagal: 411.

Dan baru lepas sepekan, sejak pernyataan yang dinilai malah penuh tanya Jokowi Sebut Kericuhan Demo 4 November Ditunggangi Aktor Politik” (Riautribune.com, 5/11/2016)”, Pak Presiden berkomentar “enteng” (dijadikan tajuk warita Kompas.com, 13/11/2016), Jokowi: Saya Heran, Ini Urusan DKI Kok Digeser ke Presiden.

Dan kami juga mengutip sepenggal kalimat Jokowi, masih dari warita Kompas.com tersebut, “Coba kita logika dan kalkulasi nalar saja. Kalau saya sih senyam senyum saja.”

Senyam Senyum & Pekan Konsolidasi [Politik]

Tetapi “senyam senyum” itu — yang didahului kata-kata “logika dan kalkulasi nalar saja” — bisa jadi memiliki multi-tafsir. Setidaknya bagi kami yang berseberangan dengan Pengamat Politik LIPI Siti Juhro menyoal isu kudeta atau penggulingan kekuasaan.

Ketika Jokowi bergaya blusukan melakukan apa yang Kompas.com (11/11/2016) sebut “pekan konsolidasi”. *

———

* Yang dalam warita terbarui (lihat bawah) Kompas.com melengkapi serta memerluas “pekan konsolidasi” itu sebagai “Konsolidasi Politik Jokowi” (khususnya pasca-15 November 2016, dalam bentuk himpunan warita, simak/klik hlm 79b.1)  di mana tercakup di dalamnya “Safari Militer Presiden Jokowi (7-11 & 15/11/2016; simak/klik hlm 79b.2).

dk-79a-pekan-konsolidasi

Selama sepekan ini, tulis Kompas.com,  Presiden aktif memanggil dan menemui berbagai kelompok dan lembaga, mulai dari TNI, Polri, ulama, habib, pimpinan pondok pesantren, tokoh partai politik hingga unsur media massa.

dk-79a-jkw-3-angkatan

Presiden Joko Widodo menyalami prajurit TNI Angkatan Udara usai apel mendadak di Markas Besar TNI Angkatan Darat, Jakarta, Senin (7/11/2016). [Sumber: Kompas.com, 7/11/2016 — Red DK]

Kompas pun secara kronologis merinci pekan konsolidasi itu. Dimulai sejak Senin (7/11) siang saat Jokowi mendadak menggelar apel “sebanyak 2.185 personel TNI dari tiga matra, yakni Angkatan Darat, Angkatan Udara dan Angkatan Laut. Mereka yang mengamankan aksi unjuk rasa pada Jumat (4/11/2016), di kawasan Istana”. 

“Pada hari yang sama, Presiden bertandang ke Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)”, tulis Kompas.com (11/11/2016).

dk-79a-jkw-polisi

KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG — Polisi berjaga di sekitar istana negara, Jakarta, Jumat, (4/11/2016). Pengunjuk rasa menuntut proses hukum terhadap bakal calon gubernur DKI Jakarta Nomor Urut 2 Basuki Tjahaja Purnama yang dianggap telah menistakan agama. [Sumber: Kompas.com, 8/11/2016 — Red DK]

Hingga Kamis (10/11) bertepatan Hari Pahlawan saat “Presiden menyambangi Markas Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Cijantung”. Dengan ucapan beliau “Sebagai panglima tertinggi, lewat Panglima TNI, (dapat digerakkan) untuk keperluan-keperluan khusus,” tulis Kompas.com (10/11/2016).

dk-79a-kopasus

Fabian Januarius Kuwado — Presiden Joko Widodo saat diberikan penjelasan mengenai alutsista Kopassus di Markas Kopassus, Cijantung, Pasar Rebo, Jakarta Timur pada Kamis (10/11/2016). [Sumber: Kompas.com, 10/11/2016 — Red DK]

Serta “Pada hari yang sama, Presiden juga bertemu puluhan ulama, dan pimpinan pondok pesantren se-Jawa Barat dan Banten,” tulis Kompas.com (10/11/2016).

dk-79a-ulama-jabar-banten

Ihsanuddin — Presiden Jokowi mengundang para kiai dan ulama di wilayah Banten dan Jawa Barat ke Istana Negara, Jakarta, Kamis (10/11/2016). [Sumber: Kompas.com, 10/11/2016 — Red DK]

Pekan konsolidasi yang “ditutup” (belum muncul pada kronologis pekan konsolidasi versi Kompas.com di atas) dengan (pinjam Siti) gesture Jokowi menaiki panser menginspeksi 3.000-an personel marinir, pasukan elite TNI-AL, pada Jumat (11/11) tepat sepekan sejak Upaya Kudeta Gagal: 411 (Kompas.com, 11/11/2016).  Di mana sebelumnya pada hari yang sama (11/11/2016) Presiden Jokowi mengunjungi markas Brimob di Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

dk-79a-brimob

Ihsanuddin — Presiden Joko Widodo usai memberikan pengarahan kepada personil Korps Brimob Polri, di Mako Brimob, Depok, Jumat (11/11/2016). [Sumber: Kompas.com,11/11/2016 — Red DK]

Atas senyam senyum Jokowi yang bagi kami adalah respons, bidasan Jokowi terhadap upaya kudeta demo 411 dalam (bagian dari) kerja-kerja-kerja berbentuk “pekan konsolidasi” versi Kompas.com tersebut.

Pekan konsolidasi yang “dibuka dan ditutup” dengan gesture merapat ke kekuatan pemukul negara. Mengingatkan,menagaskan kembali Presiden RI sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata RI.

Bahwa bila Anda membuat gaduh yang berpotensi kuat mengganggu visi-misi Trisakti-Agenda Prioritas Nawa Cita, malah sangat mengemuka dengan isu nirnalar penglengseran, maka sesuai konstitusi, Presiden RI Pangti ABRI yang paling berkepentingan atas kelangsungan bukan saja visi misi tetapi tegaknya NKRI yang Pancasila-UUD 1945.

Negeri populasi keempat dunia, yang bhinneka, yang majemuk,  beragam etnik, ras, agama, bahasa daerah, dan seterusnya, yang — sesuai perintah konstitusi — harus bhinneka tunggal ika. “Kalau tidak bersatu, mau jadi apa?” ucap Jokowi di lain kesempatan.

Dan dengan persatuan, mencuat “rasa aman”. Ini poinnya, menurut kami yang namanya Konsolidasi Politik tersebut.

Yang makin terang benderang dari warita terbarui kunjungan Jokowi ke markas Korps Paskhas TNI-AU di Bandung,”menggenapi” pekan konsolidasi politik di Jakarta dan Depok (lihat bawah). Kemudian menjambangi pasukan Kostrad, Bandung, di hari Selasa (15/11/2016) yang sama (Humas Sekretariat Kabinet RI, 15/11/2016).

(Selengkapnya, dari warita terbarui, dalam tayangan audio-visual oleh Kompas.com bertajuk “Safari Militer Presiden Jokowi”, silakan simak/klik hlm 79b.2)

dk-79a-kostrad

Foto yang diunggah Pak Presiden @jokowi disertai “twit”-nya: Kostrad harus jadi perekat kemajemukan yang melindungi NKRI dari mereka yg ingin memecah belah bangsa -Jkw

“Sinyal aman” yang kami kira lebih dikhususkan bagi para calon investor (asing maupun lokal) terkait Agenda Prioritas Nawa Cita yang mengemuka dengan “hadirnya negara”.

Sekaligus Pekan Konsolidasi dimaksud, hemat kami adalah jawaban gamblang bagi pihak-pihak tertentu (pengamat, politisi, dan seterusnya) yang berargumentasi — mayoritas mereka bersandar pada asumsi teori yang dari sejarah negeri ini jelas sekali keberpihakannya pada kaum borju, kaum pengakumulasi-kapital purba, kaum penjajah, kaum globalis, sang imperialis alias Kekaisaran Finansial — berargumentasi bahwa mustahil ada pelengseran. Mustahil ada pemakzulan, mustahil ada upaya kudeta.

dk-79a-jkw-ormas-ulama

Kompas.com/Fabian Januarius Kuwado –Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla saat menerima pimpinan ormas Islam di Istana Merdeka, Jakarta pada Rabu (9/11/2016). [Sumber: Kompas.com, 11/11/2016 — Red DK]

Data terbarui, pernyataan mantan aktivis “kiri” kondang di era Soeharto, bahwa “Pemakzulan tidak Punya Dasar” (Media Indoensia, 15/11/2016), adalah sepotong bukti empiris.

Terlebih sang tokoh yang juga wakil rakyat ini, dari pengamatan kami lewat UU No 6/2014 Tentang Desa, ketulusannya kami pertanyakan dalam mendukung pemerintahan Jokowi-JK dengan jalan ideologis Trisakti-Gotong Royong.

Jadi, kami pun nimbrung bersama Jokowi ikutan senyam senyum saja!

ooOoo

Catatan Redaksi Dasar Kita

Pascatulisan kami ini diunggah (upload) tersiar warita terbarui: “Istana Bantah Konsolidasi Politik Jokowi akibat Ada Isu Pelengseran” (Kompas.com, 15/11/2016).

Enggak (ada upaya penglengseran), kata Sekretaris Kabinet Pramono Anung, seperti kami kutip dari warita Kompas.com itu. 

” ‘Yang jelas Presiden berkomunikasi, bersilaturahim, berdialog dengan siapa pun agar masyarakat ini segera tenang karena momentum perbaikan,’ kata Pramono seperti dikutip dari Setkab.go.id, Selasa (15/11/2016),” lanjut Kompas.com.

Sebelumnya saat demo 411 tersebut, media daring (dalam jaringan,online) ini menurunkan warita dengan tajuk “Fahri Hamzah: Dua Cara Jatuhkan Presiden, lewat Parlemen Ruangan atau Jalanan” (Kompas.com, 4/11/2016).

Kutipan lengkap alinea-alinea awal warita seputar Fahri Hamzah seperti diwaritakan Kompas.com dimaksud, kami kutip utuh berikut ini.

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menyinggung soal penggulingan pemerintahan. Ia menyatakan, ada dua cara yang bisa dilakukan untuk menjatuhkan presiden.

Hal itu disampaikan Fahri saat berorasi dalam “Aksi Bela Islam” di depan Istana Negara, Jakarta, Jumat (4/11/2016).

Fahri berorasi di depan massa yang menuntut proses hukum terhadap Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok terkait dugaan penistaan agama.

Jatuhkan presiden itu ada dua cara, pertama lewat parlemen ruangan dan kedua lewat parlemen jalanan,” kata Fahri.

Karena itu, Fahri mengimbau agar Presiden Joko Widodo berhati-hati dalam menyikapi proses hukum terhadap Ahok yang kini tengah berlangsung.

Selengkapnya silakan simak/klik tautan warita Kompas.com terkait di atas.

dk-79a-jkw-paskhas

Sementara itu, pada tengah hari masih pada 15 November 2016, di Bandung, Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden Bey Machmudin melansir Siaran Pers bertajuk “Presiden Jokowi: Negara Dalam Keadaan Aman”.

Presiden Joko Widodo, tulis Bey yang kami kutip dari Infopublik.id, menjamin dan menyatakan bahwa saat ini negara dalam keadaan aman. (Cetak tebal dari kami, hal yang kami singgung di atas terkait “Pekan Konsolidasi”  — Red DK).

Hal tersebut, lanjut Bey, ditegaskannya usai memberikan pengarahan kepada Komando Korps Pasukan Khas (KORPASKHAS) di markas komando KORPASKHAS di Lanud Sulaiman, Bandung, Jawa Barat, Selasa, 15 November 2016.

Merasa pengarahan Presiden Joko Widodo ini penting, kami memuat utuh Siaran Pers dimaksud ini, mengacu Infopublik.id. Silakan simak/klik hlm 79b.

Siaran Pers Bey Machmudin ini kiranya para pembaca budiman dapat menempatkannya sebagai “bagian tak terpisahkan” dari risalah kami ini, Upaya Kudeta Gagal: 411, Jokowi: “Saya Heran, Ini Urusan DKI Kok Digeser Ke Presiden.”

ooOoo

Terkait

Sebagai bagian tak terpisahkan risalah kami di hlm 79a:

Konsolidasi Politik Jokowi  (Himpunan warita Kompas.com oleh Kompas.com; atau simak/klik hlm 79b.1 serta Siaran Pers Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden Bey Machmudin di hlm 79b).

Safari Militer Presiden Jokowi [Audio-Visual] di hlm 79b.2.