“Viva Fidel!” Abu Castro Dikebumikan di Kota Santiago, Kuba (FOTO)

.

Sumber: RT/Russia Today

Waktu Publikasi: 4 Desember 2016 15:02

Waktu Sunting: 4 Desember 2016 18:32

.

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita

.

dk-79h-castros-ashes-1
Guci berisi abu pemimpin Kuba Fidel Castro meninggalkan Lapangan Revolusi di Santiago, Kuba pada 4 Desember 2016 dalam perjalanan ke pemakaman. © Ronaldo Schemidt / AFP

Sembilan hari [26/11-4/12/2016 — Red DK] berkabung dan empat hari prosesi di seluruh negeri berakhir pada Minggu [4/12/2016] di Kuba timur, tempat Fidel Castro itu dimakamkan di samping pahlawan kemerdekaan nasional [country’s independence hero] Jose Marti.

.

dk-79h-castros-ashes-2

[Tonton via YouTube — Red DK]

.

Orang-orang yang berkerumun berteriak “Viva Fidel!” [Hidup Fidel!] dan “Saya Fidel!” [I am Fidel!]. Berbaris di jalan-jalan Santiago, kota terbesar kedua Kuba, saat mobil jenazah berkamuflase hijau dalam perjalanan ke pemakman Santa Ifigenia, tempat peristirahatan terakhir  dari berbagai tokoh nasional, di mana diam-diam sebuah makam telah disiapkan beberapa bulan terakhir.

.

dk-79h-castros-ashes-3
Rakyat menonton iring-iringan yang membawa abu mantan Presiden Kuba Fidel Castro berkendara menuju Pemakaman Santa Ifigenia di Santiago de Cuba, Kuba, 4 Desember 2016. © Carlos Barria / Reuters

.

Dua puluh satu kali tembakan penghormatan dilakukan, saat abu yang ditempatkan dalam peti mati terbungkus bendera nasional Kuba, [perlahan] menghilang menjauhi gerbang pemakaman. Upacara itu tidak disiarkan televisi, dan para pewarta tidak diizinkan masuk ke dalam.

.

dk-79h-castros-ashes-4
Reaksi seorang perempuan saat menonton iring-iringan yang lewat berkendara membawa abu mantan Presiden Kuba Fidel Castro menuju pemakaman Santa Ifigenia di Santiago de Cuba, Kuba, 4 Desember 2016. © Carlos Garcia Rawlins / Reuters

.

Lima ratus mil [sekitar 800 km] perjalanan dari Havana, di mana orang yang memimpin negaranya selama 49 tahun meninggal pada 25 November [2016], adalah kebalikan dari mars-1959 [1959 Castro’s march] ke Havana, berakhir dengan Castro  yang memegang kendali atas pulau tersebut. Setiap aspek dari prosesi, termasuk malam ketika jenazah disemayamkan di luar makam Che Guevara, dilaporkan telah direncanakan oleh Fidel sendiri sebelum kematiannya pada usia 90 itu.

.

dk-79h-castros-ashes-5

Presiden Venezuela Nicolas Maduro (kiri) melambaikan bendera Kuba saat Presiden Kuba Raul Castro berpidato dalam sebuah upacara penghormatan kepada mantan pemimpin Kuba Fidel Castro di Santiago de Cuba, Kuba, 3 Desember 2016. © Carlos Barria / Reuters.

.

Perhelatan perkabungan publik memuncak pada Sabtu [26/11/2016] malam, ketika adiknya Fidel, Raul Castro, berusia 80 tahun, menyampaikan pidato di sebuah lapangan di Santiago yang dipadati puluhan ribu warga Kuba, banyak di antaranya yang menangis.

.

dk-79h-castros-ashes-6
Presiden Kuba Raul Castro berpidato dalam sebuah upacara penghormatan kepada kakaknya dan mendiang mantan pemimpin Kuba Fidel Castro di Santiago de Cuba, Kuba, 3 Desember 2016. © Carlos Barria / Reuters.

.

“Ini adalah Fidel yang tak terkalahkan [unconquered Fidel] yang menyerukan kepada kita dengan teladannya,” ujar Raul Castro, yang memegang kendali penuh atas Kuba pada 2008, setelah serangkaian kemunduran kesehatan kakaknya. “Kami akan mengatasi setiap kendala, gejolak atau ancaman dalam membangun sosialisme di Kuba,” ucapnya.

.

dk-79h-castros-ashes-7
Kedua mantan Presiden Brasil Dilma Rousseff (kiri) dan Luiz Inacio Lula da Silva serta Presiden Venezuela Nicolas Maduro (kanan) berdiri di samping Presiden Kuba Raul Castro (kedua dari kanan), mereka yang menghadiri upacara penghormatan sebagai penghargaan terhadap mantan pemimpin Kuba Fidel Castro di Santiago de Cuba , Kuba. © Carlos Barria / Reuters.

.

Para mantan maupun pemimpin dunia saat ini, termasuk Nicolas Maduro dari Venezuela, Evo Morales Bolivia, Jacob Zuma Afrika Selatan, dan Dilma Rousseff serta Luiz Inacio Lula da Silva, kedua mantan Presiden Brasil, tampak hadir dan tampil di depan publik.

Raul Castro mengumumkan bahwa, berhubung “pemimpin revolusi sangat menentang manifestasi kultus pribadi”, tidak ada tempat yang akan diberi nama Fidel Castro, dan tidak ada monumen yang didirikan baginya.

ooOoo

Catatan Redaksi Dasar Kita

Kami tak kuasa menahan diri untuk ikut mengomentari kematian Pemimpin Besar Revolusi Kuba Fidel Castro. Khususnya warita bersumber RT ini — pemakaman abu mendiang Fidel Castro — yang merupakan “penutup” serangkaian kabar terkait wafatnya Fidel Castro yang kami tampilkan di blog ini.

Sebuah media pewarta warga yang dalam ke-“kecil”-annya ini berupaya dengan segala keterbatasannya mencoba “keluar dari kotak”. Atau katakanlah mencoba menolak seliweran pemikiran dominan di bumi Nusantara kita ini bahwa tawaran sosialisme — konsep yang kami coba pahami secara sederhana dan ringkas dalam sebuah kalimat mengacu Lenin: untuk menentang kapitalisme khususnya kapitalisme tahap akhir atau imperialisme alias kapitalisme yang monopolis  — sudah tidak relevan lagi, dalam konteks sebuah republik yang bernama Indonesia hari ini, di abad XXI.

Justru kematian Fidel Castro — salah seorang sahabat Soekarno dalam menentang imperialisme — yang mendapat respons hebat dari para penganut sistem sosialisme seantero dunia* atas tegarnya sebuah nasion dan negara Kuba yang sosialistis ketika berada dan berhadapan hanya “selemparan batu” di depan sang kaisar yang imperialistis, Kekaisaran Finansial (Qiao Liang), adalah momentum inspiratif sangat signifikan khususnya bagi republik yang kita cintai ini.

*Terlebih ketika sebuah negeri berorientasi sosialis Republik Rakyat Tiongkok yang merupakan negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat, melalui Xi Jinping melansir pernyataan yang mewakili Partai Komunis Tiongkok, rakyat dan pemerintah Tiongkok, serta dirinya sendiri selaku Presiden RRT, yang antara lain menitipkan optimisme bagi Kuba pasca-Fidel: “… pemerintah dan rakyat Kuba akan melanjutkan pekerjaan yang belum selesai semasa hidup Kamerad Fidel Castro, mengubah kesedihan menjadi kekuatan dan terus membuat pencapaian-pencapian baru dalam kausa konstruksi sosialis”. (Selengkapnya simak/klik hlm 79f).

Hal yang seakan kontradiksi sekaligus menurut hemat kami menunjukkan di mana posisi Fidel Castro dan Kuba di dunia abad XXI, sebagai sebuah negeri berorientasi sosialis yang disegani. Ketika baru saja sekitar dua bulan sebelumnya Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe datang menemui Fidel “meminta bantuan Kuba menjinakkan Korea Utara” (simak/klik hlm 78a) terkait program senjata nuklir Republik Demokratis Rakyat Korea — negeri berorientasi sosialis yang pendirinya Kim Il Sung “seangkatan” dengan Fidel dan Soekarno, Mao Zedong dan Ho Chi Minh.

(Terkait lima negeri berorientasi sosialis RRT, RDRKorea, Kuba, Vietnam dan Laos, simak/klik artikel Vince Sherman di hlm 28b).

Terlebih ketika Soekarno — yang pernah menghadiahi Fidel dengan sebuah keris dan kopiah** — jelang di ujung kekuasaannya, telah menawarkan konsep “sosialisme ala Indonesia”.

**Yang hemat kami keris sebagai simbol kekuatan pemukul (dunia wayang, Dunia Ketiga) untuk mengawal kelangsungan tegaknya pemerintahan berstruktur demokrasi vertikal (Naisbitt, 2010), untuk tidak menyebut demokrasi terpimpin (dengan kopiah sebagai lambang kekhasannya ala Indonesia) atau kediktatoran proletariat (dalam terminologi yang mengemuka di dalam manifesto-Februari 1848 oleh Marx dan Engels), sebagai ciri utama sistem sosialisme.

Sekaligus diametral “demokrasi-HAM”-nya John Kerry atau Madeleine Albright bersama lembaganya NDI (National Democratic Institute; berperan strategis lahirnya UUD 2002/niramendemen UUD 1945) yang akrab kekerasan bahkan antiperadaban seperti paling anyar kemelut di Suriah.

Konsep yang dikenal sebagai “Panca Azimat”: Nasakom, Pancasila, USDEK (UUD 1945, Sosialisme ala Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, Kepribadian Indonesia), Trisakti, dan Berdikari.

Dan … alhamdulillah … pascanyaris setengah abad republik ini “di bawah bayang-bayang adikuasa” (pinjam judul buku alm Romo YB Mangunwijaya, 1987) atau seperti kalimat penutup buku karya seorang non-Marxis Bradley E Simpson “Economists with Guns” (2008/2010) “Rakyat Indonesia yang terus mengajukan visi berbeda tentang modernisasi negara mereka — yang berakar pada pluralisme, demokrasi, dan pembangunan seimbang — masih bergulat dengan warisan pahit pilihan-pilihan yang disusun di Jakarta dan Washington selama bertahun-tahun yang menentukan ini”, tampilnya Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang mengusung visi jalan ideologis Trisakti-Gotong Royong sejak 20 Oktober 2014, hari-hari ini menjadi makin jelas setidaknya bagi kami bahwa telah hadir di panggung politik Indonesia “Soekarno abad XXI”.

“Soekarno abad XXI” bukan saja bergulat dengan warisan pahit susunan Jakarta-Washington semisal yang disebut Simpson itu, malahan harus “terpaksa hidup bersama dengan sang kaisar yang imperialistis itu di planet ini” yang dalam sindiran kepo (‘bahasa gaul’ kaum muda-remaja Jakarta belakangan ini, bermakna “mau tahu saja urusan orang lain”) ala Presiden Rusia Vladimir Putin kepada Washington: “to change things from outside”.

Sehingga, ketika  sedang berlangsung prosesi empat hari kendara yang membawa abu mendiang Fidel Castro meninggalkan Havana menuju peristirahatan terakhir di pemakaman Santa Ifigenia, Santiago de Cuba, Kuba — menandai ketegaran sebuah negeri berorientasi sosialis, suar perlawanan terhadap kekaisaran yang imperialistis — di Jakarta, “Soekarno abad XXI” baru saja dengan cerdas dan cantik mengalihkan niat busuk kaum begundal pro-“demokrasi-HAM” untuk menunggangi ratusan-laksa umat muslim yang berkumpul di Monas sebagai kelanjutan kudeta-gagal-411, lamun sesuai rencana Jokowi, berubah dari niat demo menjadi DOA-212: doa bersama, shalat Jumat berjamaah di Monas, pada 2 Desember 2016, dihadiri Jokowi sendiri.

Tetapi seperti halnya sang imperialis yang tak pernah kehabisan akal apalagi niat ingsunnya merupakan proyek resmi Kementerian Luar Negeri AS mata anggaran “demokrasi, HAM & pemerintahan” seantero dunia senilai $ 585 juta pada tahun fiskal (per 30/11) 2016  — notabene ikut dibiayai pajak rakyat Amerika — untuk “change things from outside” seperti di Suriah, maka hanya selang 4 hari pasca-DOA-212, di Bandung, acara KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani) pada Selasa (6/12/2016) tidak berlanjut ke sesi berikutnya lantaran desakan sekolompok muslim yang  keberatan ruang publik digunakan untuk kegiatan keagamaan.

Tetapi, keperkasaan sebuah negara kesatuan Republik Indonesia sekaligus sebuah rumah kita bersama yang berfondasi konstitusi 18 Agustus 1945 dengan ikonnya seekor burung garuda berperisai dihiasi emblem kelima sila yang menggelantung di lehernya sementara kakinya mencengkram pita Bhinneka Tunggal Ika, makin kokoh di abad XXI ini.

Seiring dunia yang multipolar atas dasar “win-win deals” semakin menjadi kebutuhan bersama meninggalkan sang kaisar yang “semakin berjalan sendiri seturut kebijakan American First” (simak/klik hlm 79i) dengan kertas hijaunya “in God we trust” yang semakin tak berdaya dihadapan Yuan Beijing.

Dan lagi-lagi — dari warita terbarui — “Soekarno abad XXI” sigap merespons … “Jokowi Minta Nilai Tukar Rupiah Diukur Juga Pakai Yuan”.***

***Suatu kebetulan ala lahirnya UUD 2002 dan kerusuhan Ambon, di hari Selasa (6/12) yang sama di mana Jokowi tampil di Indef, Jakarta, menegaskan keinginan beliau terkait mata uang Yuan, sorenya di Bandung terjadi penghentian acara KKR seperti disinggung di atas.

Seluruh jajaran Polri khususnya yang langsung berhadapan dengan ragam problem masyarakat, hemat kami, seyogianya makin menangkap betul langkah-langkah Jokowi yang sangat dinamis dalam memaknai “hadirnya negara” lewat Nawa Cita, sembilan agenda prioritas dari visi misi pemerintahan Jokowi-JK.

Seperti kerja akbar Kapolri yang berkontribusi signifikan atas kesuksesan DOA-212 Jokowi.

Mungkin berlebihan, tetapi mengacu sejarah negeri ini […]

Maka, sebuah (cikal bakal) “Laboratorium Orientasi Sosialis-Berkarakter-Bersesuaian Terbesar Kedua di Dunia Setelah Beijing” kiranya baru saja tegak (kembali) di bumi pertiwi […]

(Selengkapnya simak hlm 79i)

Selamat Jalan Kamerad Fidel Castro, Selamat Datang “Soekarno abad XXI” …