100 Tahun Revolusi Oktober,

100 Tahun Ekonomi Terencana

 .

Oleh Bahalan, 27 November 2017

(Pengeposan Dasar Kita 14 Desember 2017)

.

100 tahun yang lalu, pada 7 November 1917, kaum Bolshevik yang dipimpin oleh Vladimir Illich Lenin merebut istana musim dingin St. Petersburg.

Peristiwa ini yang disebut Revolusi Oktober menurut penanggalan Rusia menandakan suatu era baru di Rusia … maaf, di dunia.

Selanjutnya partai komunis di bawah kepemimpinan Lenin mengkonsolidasikan kekuatan, membentuk soviet-soviet pertama-tama di Rusia kemudian di negeri-negeri sekitarnya dan menancapkan pengaruhnya setelah Perang Dunia Kedua hingga ke Eropa Timur.

Sulit menegasikan pernyataan bahwa Revolusi Oktober dimungkinkan salah satunya karena peran krusial dari Lenin.

Revolusi Oktober meski memiliki unsur kontingensi (peluang) [contingency— Red DK] merupakan hasil dari pekerjaan yang telah direncanakan dengan acuan teori yang militan kepada teori Marx.

Lenin bukan saja seorang organisator melainkan juga teoritikus militan Marxis. Kita dapat merunut kiprah Lenin dari karya-karyanya sebelum 1917 yang untungnya terdokumentasi dengan baik. Sebelum revolusi Lenin sibuk membangun organisasi politik proletariat yang berdisiplin besi dan sentralistik, memelajari kondisi obyektif kapitalisme pada masanya yang telah mengambil bentuk sebagai imperialisme, serta memertajam pisau analisis teori Marxisme.

Atas modal itulah Lenin memimpin perebutan kekuasaan pada 1917 dan kemudian mengkonsolidasikan kekuatan soviet serta mengkonstruksi sosialisme.

Dengan demikian ada suatu kontinuitas kerja di mana hasil ini menjadi landasan kokoh bagi partai komunis generasi berikutnya dalam mewujudkan adanya syarat-syarat bagi masyarakat komunis. Kontinuitas terhadap pemikiran Lenin ini terbukti secara mengejutkan akan kemunculannya pada reformasi sosialisme di Uni Soviet pada 1991.

Pada akhir tahun 80-an, Gorbachev menggunakan pemikiran Lenin mengenai kebijakan ekonomi baru (new economic policy/NEP) dalam melancarkan glasnot (keterbukaan) dan perestroika (restrukturisasi)1. Yang dimaksud di sini dengan keterbukaan adalah demokratisasi dalam politik dan restrukturisasi adalah masuknya kapitalisme dalam sistem perekonomian.

Singkat kata keterbukaan dan restrukturisasi tampak sebagai sebagai fenomena di mana negara-negara eks Uni Soviet membuka diri akan masuknya institusi-institusi borjuis. Rusia yang kita lihat saat ini adalah Rusia baru, Rusia yang telah mengalami tiga kali “revolusi” yakni “revolusi” 1917″, “revolusi industri” di bawah kepemimpinan Stalin dan “revolusi” 1991.

Tetapi apabila “revolusi” 1991 adalah kembali ke pemikiran Lenin, sebagaimana kata Gorbachev, maka Rusia saat ini sebenarnya hanya melanjutkan NEP-nya Lenin, setidak-tidaknya dalam tingkat pemikiran, yang sempat tertunda oleh komunisme perang (war communism)2. Dalam komunisme perang perekonomian sepenuhnya diambil-alih oleh negara sosialis tanpa memanfaatkan mekanisme pasar.

Keterbukaan yang sama terjadi di Tiongkok sejak Deng di mana elemen kapitalisme masuk sampai batas tertentu.

Sebuah negara sosialis yang sebelumnya mengatur perekonomiannya secara terpusat kemudian membuka diri untuk memasukkan sebagian elemen kapitalisme sering kali disalahartikan sebagai kemenangan kapitalisme atas sosialisme. Padahal apabila kembali kepada konsep NEP-nya Lenin, sebagian elemen kapitalisme tersebut hanya diperkenankan sebagai tahapan sementara dalam mematangkan syarat-syarat komunisme.

Kaum komunis di Rusia yang merebut kekuasaan dan kemudian menjalankan kekuasaan tersebut secara sentralis tersebut menyakini materialisme dialektik dan historis bahwa benih-benih yang masa depan sudah dikandung dalam keadaan sebelumnya, sehingga benih-benih sosialisme sudah dikandung dalam kapitalisme dunia yang sudah memasuki fase monopoli atau imperialisme.

Krisis Kapital Finansial dan Imperialisme I

Bagi Lenin, sosialisme tidak lain adalah langkah lanjut ke depan dari kapitalisme monopoli-negara (dalam The Impending Catastrophe and How to Combat It, akhir Oktober 1917)3.

Imperialisme atau yang disebut kapitalisme monopoli-negara sebagai fase tertinggi kapitalisme4 merupakan keadaan yang mendorong sosialisasi alat-alat produksi.

Produksi dalam kapitalisme bukan lagi merupakan produksi dengan alat-alat produksi yang dimiliki oleh kapitalis industri secara individual. Produksi industri kini mensyaratkan volume kapital yang besar sehingga tergantung pada lembaga keuangan bank. Dan kapital uang (money-capital) yang ditimbun dalam bank bukanlah dana dari seorang kapitalis, melainkan dari banyak kapitalis.

Untuk memahami perkembangan kapitalisme monopoli-negara ini kita perlu meninjau kembali Marx dalam karya utamanya Kapital.

Uang bukan hanya berfungsi sebagai alat tukar dalam sirkulasi kapital. Dalam proses pinjam-meminjam uang bertransformasi menjadi kapital pembawa-bunga (interest-bearing capital)5.

Pemilik uang dapat meminjamkan uangnya kepada pihak lain dan kemudian ia, sebagai kreditor (yang meminjamkan uang/penabung di bank), memeroleh pengembalian uangnya ditambah dengan bunga.

Bagaimana caranya debitor (penghutang) memeroleh uang tambahan untuk membayarkan bunga, tidak menjadi kepedulian kreditor. Marxisme mengajarkan bahwa satu-satunya cara memeroleh nilai lebih adalah melalui eksploitasi kerja-lebih buruh dalam industri produktif.

Dengan perkembangan sistem kredit dalam perbankan, proses pinjam-meminjam ini meningkat secara frekuensi dan volume sehingga seolah-olah bagi kreditor, si pemegang kapital pembawa-bunga, kapitalnya bertambah bukan dari proses produksi melainkan dari transaksi pinjam-meminjam yang terlepas dari sirkuit produksi kapital.

Para pelaku perdagangan finansial menjadi teralienasi [simak KBBI-daring] dengan kesadaran palsu bahwa uangnya bertambah secara otomatis tidak melalui proses produksi. Bagi mereka sirkuit otoekspansi kapitalnya M – M’, di mana M’ = M + I, dan I = bunga.

Tentang alienasi tersebut telah diuraikan Marx dalam Kapital Jilid III, Bab XXIV:

The relation of capital assume their most externalized and most fetish-lake form in interest-bearing capital. We have M – M’, money creating more money, self-expanding value, without the process that effectuates these two extremes … this appear directly, unassisted by processes of production and circulation. Capital appears as mysterious and self-creating source of interest – the source of its own increase.

The thing (money, commodity, value) is now capital even as a mere thing, and capital appears as a mere thing. … While interest is only a portion of the profit, i.e. the surplus-value, which the functioning capitalist squeezes out of the labourer, it appears now, on the contrary, as though interest was typical product of capital, the primary matter, and profit, in the shape profit of enterprise, were a mere accesory and by-product of the process of reproduction.

Thus we get fetish form of capital and conception of fetish capital. In M – M’ we have the meaningless form of capital, the perversion and objectification of relations in their highest degree, the interest-bearing form, the simple form of capital, in which it antecedes its own process of reproduction. It is the capacity of money, or of a commodity, to expand its own value independently of reproduction – which is a mystification of capital in most flagrant form5.

Bank mengumpulkan uang dari para kreditor. Uang yang terkumpul akan menjadi timbunan kekayaan (hoard) yang berfungsi sebagai sumber dana untuk investasi produktif. Sementara uang yang tersimpan saja (yang tidak digunakan dalam transaksi) hanya berpotensi sebagai kapital5.  Dalam perkembangan kapitalisme semakin membesar akumulasi kapital, semakin tersentralisasinya kapital finansial dan terkonsentrasinya kapital produktif6.

Dorongan untuk mengakumulasi kapital menyebabkan kompetisi antarkapitalis. Dan suasana kompetitif ini mendorong kapitalis meningkatkan produktivitas sehingga menyebabkan peningkatan proporsi kapital konstan dibandingkan kapital variabel yang pada akhirnya akan memurahkan harga-harga barang dagangan.

Fenomena ini yang disebut sebagai konsentrasi6. Konsentrasi pada awalnya masih berada di tangan kapitalis individual. Tetapi dengan meningkatnya akumulasi dan semakin besarnya tuntutan syarat produksi yang semakin efisien akan memerbesar kapital yang dibutuhkan untuk produksi.

Akumulasi akan menyebabkan peningkatan produktivitas, konsentrasi dan reproduksi kapital yang semakin membesar. Syarat minimal kapital untuk  produksi tidak memungkinkan lagi bersumber dari seorang pemilik. Di sinilah bank memainkan peranan. Dalam kalimat Marx,

Generally speaking, this aspect of banking business consists of concentrating large amounts of loanable money-capital in the bankers’ hands, so that, in place of individual money-lenders, the bankers confront the industrial capitalist and commercial-capitalists as representatives of all money-lenders. They become the general managers of money-capital

(Kapital, Jilid III, Bab XXV)5.

Pada paruh kedua abad ke-19 kapitalisme telah meninggalkan kompetisi murni dan beralih kepada monopoli. Proses ini berlangsung bertahap mulai dari kemunculan perusahaan-perusahaan bersaham (joint stock company) dan pasar saham (stock exchange) hingga kartel [simak KBBI-daring — Red DK]. Perkembangan sistem kredit berpengaruh terhadap kemunculan perusahaan bersaham tersebut.

Engels menyebutkan bahwa setelah krisis 1866 jumlah perusahaan-perusahaan bersaham meningkat pesat. Dengan demikian sumber pendanaan produksi berasal dari banyak pemegang saham.

Pada tahap ini bank belum memegang peran dominan (lihat catatan Engels, Pasar Saham, dalam Kapital Jilid III)5. Perusahaan bersaham ini merupakan suatu fenomena di mana kapital bukan saja dimiliki oleh seorang kapitalis saja melainkan sudah bersifat sosial.

Kapital kini menjadi kapital sosial.

The capital, which in itself rests on a social mode of production and presupposes a social concentration of means of production and labour power, is here directly endowed with the form of social capital (capital of directly associated individuals) as distinct from private capital, and its undertakings. It is the abolition of capital as private property within the framework of capitalist production itself. …

This result of ultimate development of capitalist production is a necessary transitional phase towards the reconversion of capital into property of producers, although no longer as private property of individual producers, but rather as the property of associated producers, as outright social property. On the other hand, the stock company is a transition toward the conversion of all functions in the reproduction process which still remain linked with capitalist property, into mere functions of associated producers into social functions. …

This abolition of the capitalist mode of production within capitalist mode of production itself, and hence a self-disolving contradiction, which prima facie represents a mere phase of transition to a new form of production. It manifest itself as such a contradiction in its effects. It establishes a monopoly in certain spheres and thereby require state interference. It reproduces a new financial aristocracy, a new variety of parasites in the shape of promotors, speculators and simply nominal directors; a whole system of swindling and cheating by means of corporation promotion, stock inssuance, and stock speculation. It is private production without the control of private property. …

The credit system is not only the principal basis for gradual transformation of capitalist private enterprises into capitalist stock companies, but equally offers the means for gradual extention of co-operative enterprises on more or less national scale. The capitalist stock companies, as much as the cooperative factories, should be considered as transitional forms from the capitalist mode of production to the associated one, with the only distinction that the antagonism is resolved negatively in the one and positively in the other.

(Kapital, Jilid III, Bab XXVII – penebalan oleh penulis)5.

Dari kutipan penting Marx yang agak panjang di atas, ia sebenarnya telah menyatakan bahwa kondisi abolisi [simak KBBI-daring] milik privat sudah muncul dalam kapitalisme monopoli-negara (imperialisme). Dan perkembangan sistem kredit, perbankan, kapital finansial yang membuat kemunculan kondisi tersebut menjadi mungkin.

Revolusi Oktober dalam era imperialisme merupakan pembuktian atas Marx.

Adalah tidak tepat mengatakan bahwa sosialisme belum dapat direalisasikan di Rusia karena industrinya masih terbelakang. Kontribusi Revolusi Oktober bagi dunia adalah dengan berpedoman dari teori Marx, setiap negara, betapapun terbelakangnya, dalam era imperialisme ini, memiliki peluang untuk membangun sosialisme tanpa melalui kapitalisme (by passing capitalism)!

Perkembangan selanjutnya krisis-krisis kembali membuat kumpulan kapital-kapital “kecil” dari para pemegang saham tidak bermakna lagi. Melalui proses sentralisasi kapital-kapital besar menyedot kapital-kapital kecil. Lenin menunjukan bahwa sentralisasi kapital besar dalam kartel mendominasi sejak akhir abad ke-19 dan awal abad ke-204. Adapun pelaku utamanya adalah bank. Tentang fenomena sentralisasi ini, Marx telah menulis,

A bank represents a centralization of money-capital, of lenders, on the one hand and on the other a centralization of borrowers

(Kapital, jilid III, Bab XXV)5.

Dengan disubordinasinya kapital-kapital kecil di bawah kapital besar dalam bank, maka demikian pula para kapitalis industrial kini ditundukan oleh pemilik kapital uang. Dalam kapitalisme monopoli-negara kelas kapitalis industrial ini bertransformasi menjadi “pekerja upahan” dari pemilik perusahaan5.

Therefore, the industrial capitalist, as distinct from the owner of capital, does not appear as operating capital, but rather as functionary irrespective of capital, or as simple agent of the labour-process in general, as labourer, and indeed as a wage-labourer

(Kapital, Jilid III, Bab XXIII)5.

Namun kelas manajerial ini tidak dapat disamakan dengan kelas proletariat. Mereka menjadi kelas manajerial atau apa yang disebut kelas menengah. Pendapatan mereka bukan diturunkan dari perhitungan biaya hidup minimal, namun dari profit setelah dipotong bunga (atau deviden). Fungsi dari kelas manajerial, eks-kapitalis industri ini adalah mensupervisi [menyelia] proses perampasan nilai lebih dari kelas proletariat5.

Dengan kata lain imperialisme menciptakan ketimpangan pendapatan di dalam kelas pekerja sendiri, ketimpangan pendapatan antara kelas manajerial yang penghasilannya diperoleh dari profit industri dengan kelas proletar yang upahnya dipenuhi berdasarkan kebutuhan hidup minimal.

Pada tahap perkembangan yang telah lanjut ini negara ikut ambil bagian penting dalam proses akumulasi kapitalisme monopoli-negara sebagaimana surat hutang negara (government bond) merupakan salah satu komponen penting dari kapital bank. Besarnya volume uang sebagai kapital finansial yang diinvestasikan perlu melibatkan negara dalam mega proyek infrastruktur seperti pembangunan sarana transportasi kereta api. Dan peran Bank Sentral milik negara juga menjadi penting dalam mengatur perdagangan dalam maupun luar negeri.

Dalam teori ekonomi modern campur-tangan negara dalam perekonomian ada dua yakni melalui kebijakan fiskal yang mengatur pendapatan dan pengeluaran negara (lewat pajak dan belanja negara) serta kebijakan moneter yang mengatur jumlah uang yang bersirkulasi (lewat pengaturan tingkat suku bunga).  Dan saat negara ikut campur tangan, demikian pula unsur militernya juga terlibat. Perang Dunia Pertama tidak dapat dipisahkan dengan imperialisme terkait dengan skala kekuatan dan kehancuran yang ditimbulkan.

Dengan adanya kapital monopoli-negara maka ekonomi di dalam satu negara tidak didominasi oleh kompetisi antarkapitalis melainkan oleh monopoli. Persaingan dinetralisasi dengan pembagian wilayah untuk diekploitasi bagi sesama imperialis. Dan dengan dieleminasinya elemen persaingan maka elemen ekonomi perencanaan sudah muncul dalam kapitalisme monopoli-negara. Bank-bank besar terlibat dalam merencanakan dan mengatur produksi (investasi).

Dengan demikian imperialisme bukan cuma menyebabkan sosialisasi alat-alat produksi melainkan juga meletakan fondasi untuk ekonomi terencana.

Di awal abad ke-20, imperialis yang mengakumulasi kapital finansial pada segelintir negara, mentransformasi negara-negara tersebut menjadi negara kreditor atau negara rentenir (rentier state/rentnerstaat), sedangkan negara-negara lainnya menjadi negara penghutang4. Kapital finansial tertarik untuk mencari sumber-sumber bahan baku maupun sumber potensialnya4. Dan hal inilah yang mendorong pembentukan koloni dan pembagian dunia dan rivalitas di antara imperialis.

Tentu kolonisasi bukan fenomena baru, akan tetapi yang membedakan koloni pada imperialisme dari periode sebelumnya adalah bahwa monopoli menjamin keamanan dari ketidakpastian akibat kompetisi4.  Inilah situasi pada awal abad ke-20, situasi yang sudah ada menjelang Revolusi Oktober.

Imperialisme memberikan jalan bagi revolusi sosialis. Revolusi Oktober 1917 merupakan jawaban Lenin atas krisis kapitalisme dalam fase monopoli.

Revolusi sosialis tidak terjadi di panggung sejarah tanpa sebab yang masuk akal. Dan karena revolusi tidak dapat dipisahkan dari pengambilalihan negara oleh partai proletariat, maka ekonomi sosialisme tidak dapat dipisahkan dari kehadiran negara (sebenarnya juga pada kapitalisme monopoli-negara)!

Dalam merefleksikan 100 tahun Revolusi Oktober, tema-tema ini bermunculan dan saling terkait: negara, ekonomi perencanaan dan sejauh mana peran pasar masuk dalam ekonomi sosialis.

Ekonomi Terencana I

Di samping syarat-syarat yang tercipta oleh ekonomi imperialisme, Revolusi Oktober 1917 dimungkinkan karena pekerja-pekerja revolusionernya terorganisasi dalam partai yang sentralistik dan berdisiplin: partai leninis. Organisasi yang sentralistik macam ini membuat ekonomi perencanaan terpusat dapat direalisasikan. Segera setelah Revolusi Oktober, Rusia menghadapi kekuatan kontra-revolusioner baik dari dalam maupun dari luar. Kondisi ini mendorong diberlakukannya komunisme perang (war communism).

Dalam komunisme perang ekonomi seluruhnya dikendalikan oleh negara secara terpusat. Perusahaan-perusahaan swasta serta bank-bank seluruhnya dinasionalisasi dan hal ini dimulai pada pertengahan tahun 1918.

Tentu dalam pelaksanaan ekonomi ini tidak ada kapitalis yang ikut serta dan juga tidak dimanfaatkan mekanisme pasar. Produksi dan pendistribusian barang-barang diatur melalui perencanaan terpusat. Komunisme perang dikondisikan oleh perlawanan terhadap kekuatan kontra-revolusi yang merupakan pertaruhan hidup dan mati, sehingga ekonomi diselenggarakan seperti operasi militer.

Akan tetapi pada dasarnya komunisme perang merupakan suatu sistem ekonomi yang spesifik di dalam rezim sosialis yang baru lahir untuk keperluan survival [kemampuan bertahan hidup].

Pada tahun 1920an telah jelas bahwa kaum komunis memenangkan perang sipil melawan kekuatan kontra-revolusi. Kemudian Lenin mengusung kebijakan ekonomi baru NEP [lihat atas] pada 1921.

Dalam NEP mekanisme pasar dimanfaatkan sampai batas tertentu dan kapitalis turut berpartisipasi dalam produksi.

Sejarawan Inggris Eric Hobsbawm mencatat bahwa Lenin sebenarnya siap menerima investor asing untuk membantu ekonomi Rusia saat itu, namun tidak ada satu pun kapitalis yang mengambilnya2. Politik imperialis yang memojokan Rusia sehingga terisolasi dari dunia lain secara ekonomi dan bukan atas tuntutan sosialisme sendiri untuk mengisolasi diri.

Komunisme perang muncul dalam situasi khusus untuk survival dan merupakan tahapan sementara menuju sosialisme.

Lenin melalui kerja teoritis selama periode revolusi dalam karyanya Negara dan Revolusi sampai pada kesimpulan bahwa diperlukan suatu fase transisi dari kapitalisme menuju komunisme7. Apa yang dimaksud dengan sosialisme tidak lain adalah bentuk kediktaktoran proletariat selama masa transisi tersebut. Dalam kediktaktoran proletariat negara borjuis yang sebelum revolusi merupakan instrumen represif kapitalis dihancurkan kemudian alat-alat produksi dirampas dari status kepemilikan privatnya menjadi milik semua.

Akan tetapi setelah perang sipil melawan kekuatan kontra-revolusi dimenangkan, Rusia masuk dalam keterpurukan ekonomi akibat perang sehingga tingkat produksinya merosot hingga di bawah jaman Tsar. Perlu terobosan melampaui kapasitas komunisme perang untuk mendongkrak produktivitas. Di sini, dalam mengelola masa transisi tampak fleksibilitas dalam memanfaatkan pasar dan kapital.  Fleksibilitas tersebut diperkenankan selama alat-alat produksi utama dikuasai negara sosialis dan negara sosialislah yang memimpin perekonomian.

Apa kondisi yang memungkinkan dimanfaatkannya kapitalis dan pasar dalam sosialisme?

Sarjana ekonomi politik Soviet pada 1980-an Vsevolod Kulnikov menyebutkan bahwa banyaknya produsen komoditas kecil (petty-commodity) merupakan faktor penghambat sosialisme8. Dalam keadaan seperti ini corak produksi sosialisme tidak dapat dikenalkan secara langsung8. Karena revolusi sosialis secara historis terjadi pada daerah-daerah semiperiferi seperti Rusia dan Tiongkok, maka persoalan yang dihadapi dalam konstruksi sosialisme adalah mayoritas populasinya adalah petani (borjuis kecil).

Di awal abad keduapuluh lebih dari delapan puluh persen penduduk Rusia tinggal di desa dan hanya kurang dari sepuluh persen yang bekerja di luar sektor pertanian (lihat Hobsbawm, 1994)2.

Dengan demikian meskipun kapitalisme telah memasuki fase tertinggi (imperialisme) pada masa Tsar namun ia tidak menjamin perkembangan yang merata sehingga perampasan nilai lebih tetap dijamin tanpa perlu membangun industri sehingga massa petani tetap dalam kebodohan dan keterbelakangan.

Hal ini terjadi juga pada koloni-koloni kapitalis, termasuk Indonesia.

Kapitalisme bukan merupakan sistem untuk membangun peradaban manusia melainkan sistem ekploitasi l’homme par l’homme. Kapitalisme dengan mekanisme pasarnya tidak menjamin perkembangan suatu negeri tanpa adanya suatu kepemimpinan visioner (baca: ideologi). Sedangkan prinsip ekonomi sosialisme produksi ditujukan untuk kesejahteraan dan kemajuan seluruh anggota masyarakat atau dalam kalimat Lenin sendiri:

“production is to ensure “full well-being and free, all-around development for all members of society”

(Notes on Plekanov’s Second Draft Programme, dikutip dalam V. Kulnikov)8.

Setelah Lenin memperkenalkan NEP maka produktivitas Rusia berhasil meningkat hingga ke tingkat jaman Tsar. Hobsbawm menilai bahwa periode NEP adalah periode emas bagi petani2. Namun perlu ditekankan di sini bahwa NEP meski memanfaatkan kapitalis (borjuis kecil) dan pasar, [tetap] merupakan varian ekonomi dalam sosialisme. kediktaktoran proletariat tetap merupakan kekuasaan yang berlaku.

Dan prinsip ekonomi sosialisme adalah ekonomi terencana.

Dalam waktu yang tidak terlalu jauh dengan dikenalkannya NEP dibentuk pula komisi-komisi perencanaan, dua yang terkenal adalah komisi untuk pelistrikan Rusia (GoELRo) pada 1920 dan yang lebih umum adalah komisi perencanaan negara (Gosplan) pada 19212.

NEP yang merupakan periode emas bagi borjuis kecil ternyata setelah dievaluasi hanya memberikan peningkatan output [keluaran] produksi yang tidak terlalu tinggi. Borjuis kecil dan pasar tidak dapat memajukan Rusia lebih lanjut tanpa ada terobosan besar dalam cara produksi.

Hobsbawm menyebutkan bahwa dalam NEP terjadi krisis gunting (scissor crises) di mana surplus pertanian mengambang tidak dapat diinvestasikan kembali atau dikonsumsi selama kota-kota tidak bertumbuh2. Basis ekonomi NEP berada dalam sektor pertanian di perdesaan bukan di perkotaan. Dengan demikian surplus produksi petani tidak dapat ditukar dengan dengan barang-barang industri dari perkotaan.

Dalam NEP desa bertumbuh namun tidak bersamaan dengan pertumbuhan industrialisasi di kota. Stagnasi terjadi. Industrialisasi merupakan jalan keluar untuk mengatasi kemandekan tersebut.

Pada 1926 Stalin memimpin industrialisasi Rusia setelah wafatnya Lenin pada 1924. Dan proses industrialisasi ini bukan hal yang mudah. Negara-negara kapitalis melakukan industrialisasi melalui sokongan finansial dari bank atau dari akumulasi primitif yang diperoleh dari kolonisasi.

Bagaimana industrialisasi Rusia yang terisolasi dari ekonomi dunia?

Kita perlu mencatat bahwa setelah revolusi oktober terjadi migrasi tenaga terdidik seperti kelas bangsawan, borjuis, kaum teknisi dan intelektual keluar dari Rusia. Apa yang disisakan di Rusia hanya populasi yang mayoritasnya adalah pekerja dengan pendidikan rendah dan massa yang tidak terdidik. Hal ini mendorong pelaksanaan industrialisasi berlangsung secara terpusat. Pekerjaan organ sentral memiliki beban yang sangat berat dalam merencanakan segala sesuatunya mulai dari tingkat strategis hingga tingkai detail operasional. Dan itu belum semua. Target produksi dipatok sangat tinggi.

Untuk memobilisasi massa rakyat melakukan pekerjaan raksasa semacam itu dibutuhkan figur, tokoh.

Terus terang ini adalah sebuah revolusi. Dari Marx kita belajar manusia ditentukan oleh kondisi obyektif, tetapi dari Stalin kita belajar manusia harus dapat melampaui kondisi obyektif!

Media Barat menyebut hal ini sebagai pengkultusan Stalin namun sebenarnya dalam menjawab tuntutan industrialisasi Rusia sisi subyektif massa haruslah lebih kuat dibandingkan dengan kondisi obyektif mereka.

Penokohan merupakan syarat subyektif yang diperlukan untuk memobilisasi massa melakukan karya raksasa.

Penokohan ini dimungkinkan oleh sedikit transformasi dari organisasi sentralistik yang sebelumnya kepemimpinan dipegang secara kolektif digeser ke bentuk yang lebih efisien berupa kekuasaan satu orang.

Hal ini dapat dipandang bermanfaat untuk mengatasi kelambanan birokratik partai dan debat intern partai yang berkepanjangan (dalam masa kepemimpinan Stalin jarak antar kongres partai berlangsung lebih panjang sehingga kongres lebih jarang diselenggarakan)2.

Faktor lain yang perlu diperhatikan dalam menjelaskan mengapa hal bentuk kepemimpinan satu orang muncul ini adalah munculnya faksi kontra-revolusi intrapartai.

Stalin adalah pahlawan yang harus menjaga revolusi industri Rusia dari ancaman agen imperialis Trotsky (lihat artikel Galima Galiullina tentang tindak-tanduk Trotsky sebagai preman dari Wall Street)9 maupun ancaman dari faksi Bukarin yang mengusung gradualisme pembangunan ekonomi.

Hal ini membuat demokrasi internal dan kepemimpinan kolektif partai yang faksional menjadi kontra-revolusi.

Namun berbicara tentang diktaktor proletariat, setelah pembersihan para pengkhianat partai, dalam kepemimpinan Stalin banyak pucuk pimpinan komunis yang berasal dari kelas pekerja (fresh from factory floor) dibandingkan era Lenin.

Sejarah membuktikan bahwa keputusan yang diambil Stalin adalah keputusan yang tepat. Produktivitas Rusia meningkat berkali-kali lipat.

Dalam sejarah resmi Partai Komunis Uni Soviet [PKUS-Wikipedia] yang terbit pada 1939, output produksi Rusia pada 1937 meningkat 428 persen dari output produksi pada 1929, sementara pada tahun yang sama dunia kapitalis hanya sanggup mencapai 95-96% output produksinya pada 1929 itupun dengan terseok-terseok10.

Dan syukurnya karena isolasi dari ekonomi dunia, bila 1930-an ekonomi dunia (kapitalis) memasuki depresi ekonomi, hal ini tidak terjadi di dunia sosialis.

Dunia terbagi dua.

Ekonomi sosialis sedang bertumbuh dengan pesat di mana ekonomi kapitalis loyo kehabisan darah. Dan kekuatan industri Rusia di bawah Stalin terbukti saat menahan invasi dan mengalahkan Nazi.

Keberhasilan ekonomi terencana menunjukan kepada rakyat Dunia Ketiga yakni negeri-negeri jajahan kapitalis bahwa ada sistem ekonomi yang berhasil memajukan peradaban manusia selain kapitalisme dan mekanisme pasarnya.

Wajarlah jika Soekarno memasukan komunisme sebagai salah satu prinsip perjuangan Indonesia.

Pada tahun 1920 ekonom borjuis L von Mises menyangkal bahwa kemungkinan aktivitas ekonomi dapat direncanakan secara rasional seperti dalam sosialisme. Posisi ini kemudian dilanjutkan oleh F A von Hayek dengan argumen yang lebih lemah pada 1935.

Perkembangan debat teoritis mengenai kemungkinan tidaknya sosialisme melakukan kalkulasi rasional dan perencanaan terhadap ekonomi dapat dilihat pada makalah Allin Cottrell dan W Paul Cockshott berjudul Calculation, Complexity and Planning: The Socialist Calculation Debate Once Again (1993)11.

Secara garis besar, tentang penyangkalan Mises terhadap kemampuan ekonomi sosialis melakukan perencanaan, Cottrell-Cockshott (1993)  berpendapat bahwa argumen Mises tidak jelas.

Mises mengakui bahwa dalam ekonomi sosialis perhitungan nilai produk tidak diturunkan dari harga (uang) melainkan hanya dari nilai kerja saja11. Bila Mises ingin mengatakan bahwa ekonomi perencanaan tidak dapat mencapai ekuilibrium, Mises salah sebab pada dekade pertama abad kedua puluh ekonom besar lainnya Pareto dan Barone telah menunjukan bahwa terdapat ekuivalensi antara sistem perencanaan sosialis dan sistem pasar kompetitif dalam mencapai alokasi optimum dan keseimbangan11.

Bantahan Mises akan kemampuan ekonomi terencana sosialis melakukan kalkulasi rasional dengan demikian sudah terbantahkan sebelumnya oleh Pareto dan Barone.

Selanjutnya pada 1935 Hayek melakukan bantahan yang lebih lemah dengan mengatakan bahwa ekonomi sosialis akan menghadapi kesulitan memecahkan masalah matematis yang dibutuhkan, sedangkan mekanisme pasar sanggup11. Argumen kesulitan teknis ini sudah disanggah oleh ekonom sosialis neoklasik Polandia Oskar Lange11.

Terdapat perkembangan dalam formulasi serangan dari ekonom borjuis terhadap kemampuan perencanaan sosialis pasca-Perang Dunia Kedua (lihat Cottrell-Cockshott, 1993)11.

Sanggahan mereka terutama terhadap model ekonomi dalam kalkulasi sosialis dan model ekonomi walrasian [lihat General equilibrium theory-Wikipedia] bersifat statis tidak berlaku untuk keadaan yang berubah-ubah11.

Akan tetapi artikel Cottrell-Cockshott (1993) justru ditulis untuk membela ekonomi terencana dari tuduhan ekonom borjuis. Mereka berargumen bahwa dengan teknologi komputer saat ini adalah mungkin untuk melakukan komputasi perencanaan sosialis11.

Kepercayaan dogmatis von Mises dan Hayek kepada mekanisme pasar menjadi acuan imperialis dalam mengusung program neoliberal mulai awal tahun 1980an.

Kepercayaan yang muncul akibat dari ketakutan akan kemenangan sosialisme sejak 1920-an di mana Rusia telah memenangkan perang sipil kontra-revolusi.

Mereka takut bila model ekonomi perencanaan sosialis menular ke seluruh dunia. Ketakutan mereka tentu beralasan mengingat kapitalisme tidak kunjung selesai menuai krisis-krisis.

Krisis Kapital Finansial dan Imperialisme II

Jika, seperti yang telah diurai pada bagian sebelumnya, imperialisme sudah mengandung benih ekonomi terencana, mengapa revolusi sosialis tidak terjadi pada negara-negara imperialis?

Harus dilihat fakta bahwa monopoli oleh kartel telah menundukkan gerakan buruh di sana. Lenin menyebutkan bahwa kaum imperialis menyuap lapisan kelas atas dan bersekutu dengan kaum oportunis di negara-negara mereka4.

Sikap oportunisme ditunjukan dengan bukannya membela kepentingan proletariat di seluruh dunia melainkan malahan mendukung kepentingan imperialis. Basis materi dari penyuapan tersebut adalah profit monopoli yang sangat besar.

Lenin dengan mengutip Hobson menulis:

“There is first the habit of economic parasitism, by which the rulling state has use its provinces, colonies, and dependencies in order to enrich its rulling class and to bribe its lower classes into acquiescene.” And we should add that the economic possibility of such bribery, whatever its form may be, requires high monopoly profits. … The intensification of antagonism between imperialist nations for divisions of the world increases this striving. And so there is created that bond between imperialism and opportunism The leader of present-day, so-called, “Social-Democratic” Party of Germany are justly called “social-imperialist”, that is socialist in words and imperialist in deeds.

(Imperialism, penebalan oleh penulis)4.

Suasana yang kental dengan oportunisme tersebut membuat tokoh marxis revisionis semacam Kautsky percaya bahwa imperialisme dapat menjalankan semacam ekonomi terencana yang menghilangkan kontradiksi-kontradiksi dalam kapitalisme dan mencapai perdamaian.

Kautsky percaya akan ultra-imperialisme di mana terbentuk persatuan antarimperialis di seluruh dunia dan pada fase itu perang-perang akan lenyap.

Lenin menganggap pandangan tersebut abstraksi yang mengalihkan perhatian dari antagonism mendalam yang ada dan tidak sesuai dengan kenyataan4.

Pendek kata imperialisme, meskipun memiliki potensi untuk menjalankan ekonomi terencana namun tidak dapat menghilangkan kontradiksi-kontradiksinya.

Dan apa itu kontradiksi-kontradiksi dalam imperialisme?

Lenin menyebutkan tiga di antaranya yakni: kontradiksi monopoli vs kompetisi, kontradiksi operasi dan profit raksasa vs perdagangan “yang jujur” dalam pasar bebas, dan kontradiksi industri kartel vs industri nonkartel.

Kautsky’s theoretical critique of imperialism has nothing in common with Marxism and serve only as a preamble to propaganda for peace and unity with the opportunists and the social-chauvinists, precisely for the reason that it evades and obscures the very profound and fundamental contradiction of imperialism: the contradiction between monopoly and free competition which exists side by side with it, between the gigantic “operation” (and gigantic profits) of finance capital and “honest” trade in the free market, the contradiction between cartels and trusts, on the one hand, and non-cartelised industry, on the other, etc.

(Imperialism)4.

Vsevolod Kulikov (1988) menyebutkan bahwa perencanaan yang dilakukan imperialis bukanlah perencanaan yang menyeluruh melainkan perencanaan yang parsial8.

Imperialisme tidak dapat menyejahterakan seluruh manusia karena perencanaan yang dibuat hanya dilakukan untuk kepentingan pemilik modal. Sosialisasi alat-alat produksi dalam imperialis masih terbatas pada oligarki [simak KBBI-daring] finansial.

Berbeda dengan revolusi sosialis di mana kediktaktoran proletariat mengabolisi kepemilikan privat sehingga perencanaan produksi untuk semua orang dapat dilakukan.

Hambatan sesungguhnya produksi kapitalis adalah kapital itu sendiri (The real barrier of capitalist production is capital itself), demikian tulis Marx dalam Kapital Jilid III5.

Kapital menuntut pengambilan nilai lebih terus menerus serta ekspansi dirinya sendiri. Dengan demikian ia terus mencari peluang baru untuk investasi. Ketika peluang baru muncul seperti pembangunan infrastruktur di wilayah baru, maka optimisme akan pengembalian investasi berlebihan sehingga bank memberikan pinjaman juga berlebihan.

Namun setelah masa optimisme tersebut lewat maka kapitalisme memasuki masa depresi sebab peminjaman (konsumsi produktif) merupakan proses yang cepat namun pengembalian pinjaman membutuhkan proses yang cukup panjang dan kadang-kadang hasil investasi tidak terjual sesuai harapan. Pinjaman terancam tidak dapat dikembalikan. Ini yang terjadi pada tahun 1930-an.

Salah satu ahli ekonomi keuangan terkemuka Irving Fisher dalam artikelnya yang terkenal The Debt Deflation Theory of Great Depression (1933) menyebutkan bahwa perang meski tampak awalnya seperti investasi yang tidak produktif dalam bentuk konsumsi persenjataan untuk penghancuran, namun yang menyusul setelah perang adalah konstruksi kembali di wilayah-wilayah yang telah dihancurkan (When the starter consists of new opportunities to make unusually profitable investment, the bubble of debt tends to be blown bigger and faster then when the starter is great misfortune causing merely non-productive debts. The only notable exception is great war and even chiefly because it lead after it is over to productive debt for reconstruction purposes)12.

Dan tilikan Fisher di atas betul-betul terjadi. Tampaknya jalan keluar dunia kapitalis untuk menjebol hambatan (barriers) produksi kapitalis yang disebutkan Marx adalah Perang Dunia Kedua. Di sinilah kisah utama kita dimulai.

Pasca-Perang Dunia Kedua kekuatan-kekuatan imperialis lama di Eropa Barat telah hancur. Amerika Serikat (AS) yang negerinya utuh selama perang dunia secara faktual merupakan sumber kekuatan ekonomi dan finansial untuk rekonstruksi Eropa (dan Jepang) pascaperang.

Di sinilah institusi-institusi internasional Bretton Woods bermunculan: IMF, World Bank, GATT-WTO, PBB. Institusi-institusi tersebut menjamin kendali dan intervensi AS. Kita memasuki era baru imperialisme AS.

Namun tampaknya negara-negara Eropa Barat cukup cepat memulihkan industri-industri dan ekonomi mereka. Apa yang disebutkan Fisher sebagai investasi produktif pascaperang berlangsung selama kurang lebih dua puluh tahun.

Periode ini sering disebut-sebut sebagai tahun-tahun keemasan (golden years)2. Dan setelah itu seperti biasa siklus bisnis umumnya, kapitalisme, lebih tepatnya imperialisme AS, memasuki periode krisis kembali.

Ekonom marxis Samir Amin menjelaskan bahwa krisis pada tahun 1970-an dapat dijelaskan dengan runtuhnya kesempatan bagi investasi produktif13. Dolar yang tertimbun di bank AS menjadi kapital mengambang13 karena gagal mencari saluran investasi produktif.

Solusi terhadap stagnasi ini adalah spekulasi finansial13. Dan untuk menjamin kegiatan spekulasi, restriksi dolar terhadap emas harus dilepaskan sehingga menyebabkan nilai tukar mengambang13.

Jenderal Tentara Merah Tiongkok, Qiao Liang, menyebut fenomena ini sebagai decoupling dolar14. Kemudian kapital finansial ini menyerbu seluruh dunia dalam bentuk pinjaman-pinjaman dan pembukaan pasar-pasar bursa berjangka serta pasar-pasar saham.

Untuk memaksa penerimaan kapital finansial tersebut digunakan cara lama imperialisme yakni pemerasan pesaing-pesaingnya dengan monopoli harga (kartel). Hal ini, kita sudah disadarkan oleh Lenin3.

Qiao Liang menjelaskan bahwa AS dan pengekspor minyak dalam OPEC (yang dikuasai Arab Saudi sebagai sekutunya AS) membentuk kartel untuk menentukan cara pembayaran transaksi dengan dolar14. Dan OPEC juga menetapan harga minyak.

Syok [terguncang; terpukul] kenaikan harga minyak pertama pada 1973 membuat negara-negara lain yang produktif tergantung pada kapital finansial. Melalui inflasi harga minyak yang tinggi dan pemaksaan pembayaran minyak dalam dolar, pemerasan dilakukan oleh AS.

Sementara itu di dalam negeri AS sendiri sekitar sepertiga perekonomiannya adalahnya ekonomi yang digalakkan negara terutama dalam bidang pertahanan dan kemiliteran2,13.

AS adalah negara penghutang besar untuk konsumsi militernya yang besar, namun surplus hasil pemerasan melalui harga minyak yang tinggi menjamin sumber pendanaan hutang tersebut. Demikianlah perputaran petrodollar terjadi.

Dari sejak penetapan nilai tukar mengambang hingga 100 tahun pasca-Revolusi Oktober saat ini, dunia masih hidup dalam bayang-bayang pemerasan AS.

Melalui kampanye dari ekonom-ekonom neoliberalnya AS mempromosikan pembukaan pasar-pasar finansial di setiap negara. Kita juga masih mengalami kelonjakan harga minyak yang luar biasa pada tahun 2008.

Namun demikian perlu digarisbawahi bahwa ekonomi finansial pada dasarnya bukan ekonomi riil.

Sebagaimana yang telah dijelaskan Marx di atas, otoekspansi kapital-uang dasarnya adalah kapital pembawa-bunga yang teralienasi dari sirkuit kapital produktif. Alienasi tersebut memberikan kesan bahwa kapital finansial bisa berkembang independen dari ekonomi riil namun pada kenyataannya ia bergantung kepada industri produktif.

Bunga (interest) adalah bagian dari profit industri dan besarnya tidak akan melebihi profit industri. Marx menulis,

Since interest is merely a part of profit paid, according to our earlier assumption, by the industrial capitalist to the money-capitalist, the maximum limit of interest is the profit itself, in which case the portion pocketed by productive capitalist would = 0. Aside from exceptional cases, in which might actually be larger than profit, but then could not be paid out the profit, one might consider as the maximum limit of interest the total profit minus the portion (to be subsequently analysed) which resolves itself as wages of superintendence. The minimum limit of interest is altogether indeterminable. It may fall to any low. Yet in that case there will always be counteracting influences to raise it again above this relative minimum

(Kapital, Jilid III, Bab XXII, penebalan oleh penulis)5.

Namun dalam imperialisme, dengan ditundukannya kapitalis industri menjadi pekerja oleh kapitalis pemilik kapital-uang, maka bagi pemilik uang (sekaligus pemilik industri) profit adalah pertama-tama milik pemilik uang (peminjam uang/kreditor).

Pemilik kapital-uang mengambil profit sesuai dengan tingkat pengembalian yang diharapkan (bunga). Sisa dari potongan tersebut yang dinamakan profit perusahaan (profit of enterprise) atau gaji untuk para supervisor (manajer) yang dulunya adalah kapitalis industrial.

Profit perusahaan juga disebut surplus profit sehingga seolah-olah besaran profit tersebut diperoleh setelah total profit dipotong bunga (deviden) untuk pemilik uang (saham).

Dengan perkembangan sistem kredit dan lembaga-lembaga keuangan nonbank lainnya dalam imperialisme maka tumbuh kesadaran palsu bahwa sektor keuangan dapat melakukan otoekspansi bebas dari industri. Jumlah pertumbuhan uang atau surat-surat berharga baik yang beredar maupun disimpan dalam deposit bank bertambah.

With the development of interest-bearing capital and credit system, all capital seems to double itself, and sometimes treble itself, by the various modes in which the same capital, or perhaps even the same claim on a debt, appear in different forms in different hands. The greater portion of this ‘money-capital’ is purely fictitious. All the deposit, with the exception of the reserved fund, are merely claims on banker, which, however, never exist as deposits”.

(Kapital, Jilid III, Bab XXIX, penebalan oleh penulis)5.

Uang kertas dan surat-surat berharga sebenarnya hanya merupakan kapital fiktif (fictitious-capital) yang hanya merupakan klaim atau keterangan kepemilikan (title of ownership).

Akibat perkembangan sistem kredit tersebut terjadi surplus kapital-uang. Namun untuk menghasilkan profit, kapital-uang tersebut harus dipekerjakan (diinvestasikan kembali) dalam proses produksi terus menerus. Apabila terjadi hambatan dalam proses reproduksi kapital maka akan terjadi timbunan kapital-uang yang tidak produktif. Stagnasi terjadi.

Hence, if there is a disturbance in this expansion or even in the normal flow of reproduction process, credit also becomes scare, it is more difficult to obtain commodities on credit. … The capital already invested is then, indeed, idle in large quantities because the reproduction process is stagnant. … It is precisely at such times that there is a superabundance of productive capital, partly in relation to the normal, but temporarily reduced scale of reproduction, and partly in relation to the paralysed consumption. … a crises could only be explained as the result of a disproportion of production in various branches of economy, and as a result of disproportion between the consumption of the capitalist and their accumulation. But as the matter stand, the replacement of capital invested in the production depends largely upon the consuming power of the non-productive classes; while the consuming power of the workers is limited partly by the laws of wages, partly by the fact that they are used only as long as they can be profitably employed by capitalist class. The ultimate reason for all real crises always remains the poverty and restricted consumption of the masses as opposed to the drive of capitalist production to develop the productive forces as though only the absolute consuming power of society constituted their limit”.

(Kapital, Jilid III, Bab XXX – penebalan oleh penulis)5.

Jadi memang imperialis sanggup menjalankan ekonomi terencana, namun perencanaannya bersifat parsial dan tak imbang.

Dalam perencanaan imperialis pertimbangan utamanya adalah kepentingan oligarki finansial untuk otoekspansi kapital-uang.

Dalam imperialisme kesejahteraan bagi seluruh masyarakat hanyalah efek samping, bukan tujuan. Dicapai syukur, tidak dicapai tidak masalah selama akumulasi tercapai.

Akibatnya terjadi ketidakseimbangan produksi dalam bentuk disproporsi antara produksi dan konsumsi. Di satu sisi terdapat produksi berlebih (overproduction) dan di sisi lain kita memperoleh konsumsi rendah (underconsumption). Kenyataan rendahnya kapasitas konsumsi massa tetap merupakan kehadiran yang laten dalam imperialisme.

Keseimbangan penawaran (supply) dan permintaan (demand) hanyalah asumsi ekonomi pasar kompetitif yang digunakan dalam buku teks ekonomi di bangku kuliah yang pada kenyataanya jarang sekali tercapai pada kapitalisme monopoli-negara.

Nyanyian pembukaan pasar-pasar keuangan sebagai jalan menuju kesejahteraan oleh ekonom neoliberal AS adalah mimpi di siang hari sebagaimana yang ditunjukkan oleh Lenin saat ia mengkritik perdamaian oleh ultra-imperialismenya Kautsky.

Jalan menuju kesejahteraan dalam era imperialisme ini adalah ekonomi terencana yang berimbang.

Ekonomi Terencana II

Revolusi Oktober 1917 membagi dunia menjadi dua. Yang satu kapitalisme dan yang lainnya sosialis. Keduanya hadir bersamaan.

Setelah Lenin, Stalin membawa Rusia kepada suatu pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan hal ini sangat kontras dengan dunia kapitalis yang senantiasa dilanda krisis-krisis ekonomi.

Perencanaan ekonomi di bawah kediktaktoran proletariat bukanlah perencanaan yang parsial, melainkan perencanaan yang dilakukan secara berimbang. Perencanaan ini didasarkan atas perhitungan kebutuhan dan ketersediaan sumber daya riil masyarakat.

Bank dunia dalam salah satu publikasinya telah memberikan gambaran proses perencanaan sosialis dilakukan:

The starting point for planning was a set of politically determined economic targets. A central planning office (CPO) guided and organized planning procedures and set the plan’s targets. But planning was, in fact, a joint task of government agencies (branch ministries and sub-branch associations) and enterprises that had to meet the targets. The planning process was iterative, sometimes referred to as “dialogue” or “bargaining” and involved upward flows of microeconomic information and downward flows of microeconomic instruction

(Historically Planned Economies, 1993)15.

Proses perencanaan yang dilakukan secara iteratif [iterative] sebagaimana diuraikan Bank Dunia di atas mengafirmasi komputasi kalkulasi perencanaan sosialis yang diangkat oleh Cottrell-Cockshott (1993) di atas.

Dan sistem perencanaan tersebut merupakan tabel dengan input [masukan] ganda di mana kolom kiri berisikan jumlah pengiriman barang (supply) dari daftar industri tertentu dan baris atas berisikan jumlah kebutuhan (demand) dari daftar sektor-tertentu15.

Model perencanaan semacam ini dalam ilmu riset operasional disebut sebagai model Masalah Transportasi [Transportation Problem], yakni bagaimana mendistribusikan barang dari beberapa lokasi produsen ke beberapa lokasi konsumen.

Tidak mengherankan bila tokoh di bidang riset operasi yang pertama berasal dari Uni Soviet, Leonid Kantorovich, yang memenangkan nobel ekonomi pada 1975.

Selain daripada sistem perencanaan berimbang, sosialisme juga menghapuskan uang sebagai kapital yang menjadi sumber kontradiksi dan krisis. Ideal ini sudah dinyatakan oleh Marx,

In the case of socialised production, the money-capital is eliminated. Society distributes labour-power and means of production to the different branches of production. The producers may, for all it matter, receive paper vouchers, entitling them to withdraw from the social supplies of consumer goods a quantity corresponding to their labour time.  These vouchers are not money. They do not circulate”.

(Kapital, Jilid II, Bab XXVIII)16.

Dalam masyarakat sosialis, “uang” dalam bentuk kupon (voucher) yang hanya berfungsi sebagai alat tukar bagi produsen (pekerja) untuk memperoleh barang-barang kebutuhan, bukan uang seperti dalam kapitalisme yang juga berfungsi juga sebagai kapital.

Demikian pula dalam perhitungan perencanaan produksi dan distribusi barang tidak digunakan uang atau harga. Perencanaan dilakukan secara in-natura di mana perhitungan dilakukan langsung dengan menggunakan ukuran sejati komoditas tersebut seperti satuan berat (Kg, Ton) atau jumlah satuan untuk barang-barang konsumsi17.

Dalam sosialisme penetapan kebutuhan (target produksi) tidak dihitung dari berapa harga kebutuhan gandum dari masyarakat, melainkan berapa ton gandum yang dibutuhkan masyarakat.

Karena produksi yang diselenggarakan sesuai dengan jumlah kebutuhan yang riil, maka ekonomi sosialis tidak menemui krisis-krisis periodik yang dihadapi dalam kapitalisme akibat ketidakseimbangan atau disproporsi antara produksi dan konsumsi.

Selain itu Marx juga sudah menyatakan bahwa harga barang di pasar sosialis akan sama dengan nilainya.

Ekonomi sosialis bebas dari inflasi atau deflasi akibat bertambah atau berkurangnya uang dalam pasar sejak kapital-uang dieleminasi.

It is only where production is under the actual, predetermining control of society that the latter establishes a relation between the volume of social labour-time applied in producing definite articles, and the volume of social want to be satisfied by these articles. … if the quantity of social labour expended in the production of a certain article corresponds to the social demand for that article, so that the produced quantity correspond to the usual scale of reproduction and demand remain unchanged, then the article is sold at its market-value”.

(Kapital, Jilid III, Bab X, penebalan oleh penulis)5.

Karena secara prinsip waktu kerja disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, bukan tuntutan otoekspansi kapital, maka dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang akan meningkatkan produktivitas tenaga-tenaga produktif akan menyebabkan pengurangan waktu kerja (selama tidak ada peningkatan kebutuhan yang radikal).

Hal ini akan menambah waktu luang kelas pekerja sehingga penggunaannya untuk aktivitas kebudayaan dan pendidikan dimungkinkan. Sosialisme mendorong pengembangan potensi tiap individu.

Setelah Stalin wafat pada 1954, kepemimpinan politik Uni Soviet bertransformasi dari kepemimpinan tokoh ke kepemimpinan kolektif sebelum akhirnya beralih ke demokrasi multi-partai ala Barat.

Proses reformasi politik dimulai sejak era Khruschev pada tahun 60-an, kemudian digalakkan dalam format yang lebih radikal oleh Gorbachev pada tahun 80-an.

Demokratitsasi di Rusia adalah proses yang tidak dipaksakan oleh kekuatan imperialis, melainkan inisiatif dari partai komunis.

Salah satu kondisi yang mendorong demokratisasi adalah kemajuan tenaga-tenaga produktif sosialisme yang telah berkembang sehingga kontrol yang terpusat sudah tidak diperlukan lagi.

Kondisi basis material sosialisme Uni Soviet pasca-Stalin perlu diperhatikan dalam menganalisis perubahan politik di Rusia.

Sebelum Stalin melancarkan industrialisasi, industri di Rusia masih terbelakang, tetapi setelah Stalin wafat Uni Soviet adalah negara adikuasa dengan teknologi luar angkasa dan bom atom.

Kedua keadaan di atas adalah kontras. Jadi proses demokratisasi dimulai ketika Uni Soviet telah mencapai perkembangan industrialisasi hingga taraf tertentu.

Dan juga demokrasi menuntut adanya rakyat terdidik dan untuk mencapai hal ini tentunya membutuhkan waktu.

Bila pada titik awalnya mayoritas populasi Rusia masih terbelakang, pasca-Revolusi Oktober 1917, pasca-Stalin Uni Soviet tidak lagi terisolasi total dan mulai terintegrasi dengan pasar dunia.

Fokus pembangunan pada sektor industri membuat sektor pertanian terbengkalai. Output pertanian sejak tahun 60-an terus menurun dan pada 1972 mengimpor gandum hingga 30 juta ton sebagian besar dari AS18.

Dan ketika harga minyak sedang tinggi-tingginya Uni Soviet juga menikmati dampaknya sebagai salah satu pengekspor minyak.

Solusi mudah terhadap kekurangan pangan terlihat mudah yakni dari pada susah payah memproduksi lebih mudah menggunakan surplus penjualan minyak untuk membeli pangan2. Wabah kemalasan dan korupsi merajalela. Gorbachev menjelaskan hal ini dalam laporannya pada rapat pleno komite sentral partai komunis uni soviet 27-28 Januari 1987,

“… at some point the country began lose momentum, difficulties and unresolved problems started to pile up, and there appeared elements of stagnation and other phenomena alien to socialism. All that had most a most adverse effect on economy and social, cultural and intellectual life19.

Orang kemudian menuduh era Bhreznev pada tahun 1970 sebagai sumber stagnasi dan korupsi. Namun sejarawan Eric Hobsbawm menemukan bahwa bagi kebanyakan warga Soviet era Bhresnev tidak disebut sebagai “stagnasi” namun periode terbaik yang mereka dan orang tua bahkan kakek-nenek mereka pernah ketahui (Moreover, for most Soviet citizen the Bhreznev era spelled not ‘stagnation’ but the best times they and their parent, or even grandparents, had ever known – penebalan oleh penulis)2. Dengan demikian Uni Soviet sebenarnya telah memasuki era kemakmuran.

Pada 1980-an hanya 268 per 100.000 penduduknya yang dipenjara bila dibandingkan dengan AS 426 per 100.0002.

Pada 1960-an dan 1970-an adalah era yang di mana warga Soviet merasa hidup paling aman di negaranya, bebas dari ancaman terbunuh karena kriminalitas dan konflik sipil. Kita tidak akan menemui di sana orang psikopat bergentayangan dengan pistol menembaki anak sekolahan seperti yang diberitakan terjadi di AS belakangan ini.

Sosialisme pada era itu menurut Hobsbawn,

It provided a guaranteed livelihood and comprehensive social securitu at modest but real level, a socially and economically egalitarian society and at least one of the traditional aspiration of socialism, Paul Lafargue’s ‘Right to Idleness’ .”

(Lafargue, 1883)2.

Hobsbawm mengaitkan fenomena Uni Soviet pasca-Stalin dengan hak malas dari Lafargue.

Sosialisme menjamin hak warganya untuk bermalas-malasan!

Hal ini ada benarnya juga. Kita harus menyadari penilaian malas atau rajin adalah konstruksi dari perspektif kapitalis. Kapitalis menjadikan buruh sebagai ternak-ternaknya di mana perlaku rajin dipuji dan malas dihina, padahal kapitalis memaksa orang rajin untuk bekerja kepada dirinya sebagai agen kapital.

Dalam sosialisme sebagaimana telah dibahas di atas lama kerja disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan karena peningkatan ilmu serta teknologi yang akan meningkatkan pula produktivitas, hal ini akan menyebabkan pengurangan waktu kerja dalam sosialisme.

Sisa waktu luang yang berlimpah yang bagi pekerja untuk memanusiakan dirinya tampak bukan sesuatu yang bernilai bagi kapitalis. Dasar ekonomi dari pilihan waktu luang dari pada kerja lebih adalah bahwa manfaat (utility) waktu luang memiliki nilai kompetitif daripada kerja lebih untuk memperkaya diri.

Ekonom sosialis yang dididik secara neoklasik Oskar Lange menulis,

By putting leisure, safety, agreeableness of work, etc, into the utility scales of individual, the disutiliy of any occupation can be represented as opportunity cost. The choice of an occupation of offering a lower money income, but also a smaller disutility, may be interpreted as purchase of leisure, safety, agreeableness of work, etc., at a price equal to the difference between the money income earned in that particular occupation and in others20.

Dengan sederhana dan singkat situasi kerja sosialisme di Uni Soviet pasca-Stalin dapat  penulis ilustrasikan sebagai seorang pekerja yang memilih bekerja 4 jam per hari dari pada bekerja 8 jam per hari untuk membeli mobil pribadi sementara negara sudah menyediakan transportasi publik yang baik. Sisa waktu luangnya ia dapat gunakan untuk bermain catur, membaca karya sastra Tolstoy atau Dostoyevsky yang tebal-tebal, bermain teater, bermain musik, ikut kuliah filsafat atau kegiatan-kegiatan budaya lainnya.

Situasi inilah yang disebut borjuis sebagai stagnasi dan kemalasan.

Pilihan 4 jam waktu luang daripada bekerja 4 jam untuk menambah kekayaan pribadi dalam ekonomi neoklasik merupakan opportunity cost yang ia bayar.

Dalam sosialisme seseorang dapat lebih kaya dengan tidak terlalu menyolok di atas  rata-rata apabila ia bekerja lebih panjang atau dengan kata lain ia mengorbankan waktu luangnya.

Kemajuan tenaga-tenaga produktif sosialisme membuat organisasi negara yang sentralistik tidak diperlukan.

Oleh sebab itu negara perlahan-lahan perlu dikurangi otoritasnya. Dalam suatu masyarakat yang dalam sejarahnya hidup dalam kediktaktoran proletariat yang dipimpin oleh partai komunis secara tunggal serta sentralistik, inisiatif reformasi mustahil berasal dari bawah.

Glasnot dan Pereistroika adalah inisiatif dari atas, dari pimpinan partai.

Dan berdirinya negara-negara eks Uni Soviet (Federasi Rusia, Armenia, Azerbaijan, Byelorussia, Estonia, Georgia, Kazakhstan, Latvia, Lithuania, Moldavia, Tadjikistan, Turkmenistan, Ukraina dan Uzbekistan) hanya melanjutkan sistem ekonomi Uni Soviet, di mana masing-masing negara-negara tersebut dalam kapitalisme negara dapat dipandang sebagai perusahaan-perusahaan mandiri dengan Sekretaris Partai di masing-masing negara soviet tersebut sebagai CEO-nya.

Kita tidak mengharapkan dalam kondisi di atas terbentuknya demokrasi ala Barat.

Masyarakat Rusia sudah nyaman dengan sistem soviet pada dasarnya menolak reformasi radikal menuju kepada liberalisme. Yeltsin sebagai penerus Gorbachev dan yang juga merupakan oposannya menolak demokratisasi ala Barat.

Tampaknya ekonomi terencana  dan berimbang dengan peran dominan negara tetap merupakan sistem ekonomi politik di Rusia dan di negara-negara eks Uni Soviet lainnya mengingat penerus ideologis Yeltsin adalah Vladimir Putin.

Putin menganggap likuidasi Uni Soviet sebagai bencana besar geopolitik. Ia tidak akan membiarkan Rusia dan negara-negara eks Uni Soviet di sekitarnya ditundukkan imperialis.

Hal ini ditunjukkan dengan sikapnya yang tidak tinggal diam pada krisis politik di Ukraina 2014 yang lalu21.

Putin juga mengkampanyekan melawan nilai-nilai dekaden [simak KBBI-daring] Barat seperti kebebasan seks, narkoba, dan kebebasan absurd lainnya yang dipropagandakan imperialis22,23. Hal ini mengingatkan kita dengan kepahlawanan Stalin dalam menyelamatkan Uni Soviet dari erosi nilai oleh imperialis yang dikerjakan Trotsky9. [versi Bahasa simak hlm 103a]

.

Referensi

  1. Mikhail Gorbachev, Perestroika, Cetakan Kedua, PT Gelora Aksara Pratama, 1992
  2. Eric Hobsbawm, Age of Extremes, The Short Twentieth Century 1914-1991, Abacus, London, 1994
  3. V. I. Lenin, The Impending Catastrophe and How to Combat It, dalam Selected Works, Vol. 2, Foreign Language Publishing House, Moscow, 1960
  4. V.I. Lenin, Imperialism, The Highest Stage of Capitalism, dalam Selected Works, Vol. 1, Foreign Language Publishing House, Moscow, 1960
  5. Karl Marx, Capital, Vol. III, Foreign Language Publishing House, Moscow, 1962
  6. Karl Marx, Capital, Vol. I, Foreign Language Publishing House, Moscow, 1960
  7. V.I.Lenin, State and Revolution, dalam Selected Works, Vol. 2, Foreign Language Publishing House, Moscow, 1960
  8. Vsevolod Kulikov, Formation of Socialist Economic System, Progress Publisher, Moscow, 1988
  9. Galima Galiullina, Trotsky, The Wall Street Thug, www.veteranstoday.com/2017/10/31/trotsky-the-wall-street-thug/ , diakses 17 November 2017
  10. History of the C.P.S.U (B) (Short Course), 1939, https://communismgr.blogspot.co.id/pjv-stalin-archives.html?m=1, di akses di bulan November 2017
  11. Allin Cottrell and W Paul Cockshott, Calculation, Complexity and Planning: The Socialist Calculation Debate Once Again, 1993, http://ricardo.ecn.wfu.edu/~cottrell/socialism_book/calculation_debate.pdf
  12. Irving Fisher, The Debt Deflation Theory of Great Depressions (1933), http://www.jstor.org/stable/1907327, diakses 20 November 2017
  13. Samir Amin, Capitalism in The Age of Globalization, The Management of Contemporary Society, Zed Books, London & New Jersey, 1997.
  14. Qiao Liang, One Belt, One Road (OBOR), https://dasarkita5sila17845.wordpress.com/peng-re-jul-16des-16/76-peng-red-74-14-agu-16/76a-jen-gioo-liang-one-belt-one-road-menyambut-71-tahun-ri-45-tahun-decoupling-dolar-as-emas/
  15. Historically Planned Economies, A Guide To The Data, A World Bank Publication, 1993.
  16. Karl Marx, Capital, Vol. II, Foreign Language Publishing House, Moscow, 1961
  17. Paul Cockshott, Calculation in-Natura, from Neurath to Kantorvich, https://www.researchgate.net/publication/250396619_Calculation_in-Natura_from_Neurath_to_Kantorovich, diakses 26 November 2017
  18. R.A. Medvedev & Z.A. Medvedev, Khrushchev: The Years In Power, The Norton Library, New York, 1978.
  19. Mikhail Gorbachev, Reorganization and the Party’s Personel Policy, The Report and Concluding Speech by General Secretary of CPSU Central Committee at the Plenary Meeting of CPSU Central Committee, January 27-28, 1987, Novosti Press Publishing House, Moscow, 1987.
  20. Oskar Lange, The Economist’s Case for Socialism, dalam Essensial Work of Socialism, 3rd edition, Irving Howe (Ed), Yale University Press, New York, 1986
  21. Vladimir Putin answered journalists’ questions on the situation in Ukraine, https://eng.kremlin.ru/news/6763
  22. Frederik Hansen, Putin Stands Up To Western Decadence, https://www.atimes.com/atimes/Central_Asia/CEN-01-280214.html
  23. Paul R. Grenier, Distorting Putin’s Favorite Philosophers, https://consortiumnews.com/2015/03/27/distorting-putins-favorite-philosophers/

.

ooOoo