Reunifikasi HK ‘Memutuskankan Belenggu’ Kolonialisme Munafik Inggris

.

Oleh John Ross

.

Sumber: Global Times Dipublikasikan: 30/6/2017 21:48:39

.

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita

.

Pada Sabtu [1/7/2017 – Red DK], Tiongkok merayakan kemenangan besar – kembalinya Hong Kong ke tempat bersejarahnya yang sah sebagai bagian dari Tiongkok.

Kemenangan itu bahkan lebih besar lagi, karena seperti ditekankan Presiden Xi Jinping, juga sebagai Sekretaris Jenderal Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan Ketua Komisi Militer Pusat, bahwa kembalinya Hong Kong secara damai ke Tiongkok adalah sebuah kasus yang jarang terjadi dalam sejarah Tiongkok dan dunia di mana tanah yang hilang sebagian besar dikembalikan secara paksa.

Untuk memahami apa maknanya itu, mari kita membuat perbandingan yang bisa dipahami setiap orang di Barat.

Ketika Lincoln, yang dipandang secara umum sebagai salah satu presiden AS terbesar, dihadapkan pada pemisahan diri oleh [pihak] Selatan, dia melakukan perang paling berdarah dalam sejarah AS untuk mencegahnya. Grant dan Sherman [simak/klik amazon.com: Grant and Sherman] memerjuangkan perang dengan kekejaman yang bengis – Sherman secara terbuka menyatakan “Saya akan membuat perang ini sesulit mungkin, dan tanpa menunjukkan gejala melelahkan sampai Selatan memohon belas kasihan” [William Tecumseh Sherman quotes] dan tindakannya sesuai kata-katanya dengan menciptakan “perang total”.

Tetapi Tiongkok mengamankan integritas teritorialnya, bersatu kembali dengan Hong Kong melalui cara-cara damai.

Karena ini adalah kemenangan besar bagi rakyat Tiongkok, kemenangan-kemenangan rakyat [di tempat] lainnya yang dirayakan, kecil jika dibandingkan. Tapi bagaimanapun, ada baiknya menunjukkan mengapa reunifikasi Hong Kong dengan Tiongkok juga merupakan kemenangan bagi Inggris.

Ini karena memahami kebenaran tentang Hong Kong adalah bagian dari pemutusan belenggu mental yang mencegah rakyat Inggris memahami kepentingan mereka sendiri. Kebenaran tentang Hong Kong adalah bagian dari pemutusan kemunafikan panjang dalam sejarah Inggris.

Bagaimana Inggris mendapatkan Hong Kong? Melalui perang untuk memaksa Tiongkok mengimpor candu – Inggris mengutuk jutaan orang karena kesengsaraan dan kematian akibat kecanduan obat-obatan [tetapi] dengan begitu perusahaan Inggris dapat memperoleh keuntungan. Inilah kemunafikan “peradaban Barat.”

Inggris terus memerintah Hong Kong selama lebih dari 150 tahun; untuk sebagian besar waktu itu, dengan sistem rasis dari elite Inggris dan beberapa orang Tionghoa kaya yang terpilih dengan mudah, tanpa pernah mengizinkan pemilihan gubernur Hong Kong – hanya karena tiba-tiba menyadari kapan Hong Kong dikembalikan ke Tiongkok, maka ada “Prinsip dasar” bahwa Hong Kong harus memilih gubernurnya. Anehnya, [mengapa] “prinsip dasar” ini tidak pernah dilakukan oleh Inggris?

Sekarang Hong Kong telah kembali ke negeri dari mana ia dicuri dengan paksa dan [dengan] obat-obatan terlarang, dan kini memilih pemimpin eksekutifnya dengan sistem yang lebih demokratis ketimbang yang pernah diizinkan Inggris, orang-orang yang mengemban sistem tidak demokratis ini, seperti gubernur terakhir Chris Patten, terus menulis artikel-artikel munafik yang tidak pernah menjelaskan sejarah riil Inggris di Hong Kong.

Apapun masalah-masalah yang ada di Tiongkok atau Hong Kong, adalah jelas dari sejarah ini, penolakan bahkan secara terbuka mengakui hal [sejarah] itu, serta kekuatan yang mendorongnya, bahwa Inggris tidak memiliki peran progresif dalam melakoni penyelesainnya dan oleh karena itu hal itu harus tetap berada di luar mereka.

Ada sebuah pelajaran dalam semuanya ini. Adalah tulisan terkenal bahwa “Sebuah bangsa yang memerbudak lainnya menempa rantai[perbudakan]nya sendiri.” Awalnya hal ini disampaikan terkait hubungan Inggris dengan Irlandia tapi [kini] juga berlaku untuk Hong Kong.

Di antara rantai yang ditempa sebuah negeri untuk dirinya sendiri dengan memerbudak yang lain adalah menyangkut mental [are mental ones]. Inggris tidak dapat melihat realitasnya sendiri sampai secara jujur melihat kemunafikan dan kejahatan yang ditimbulkan kolonialisme di negara lain. Karena itu, menemukan kebenaran atas masa lalu Inggris, merupakan bagian dari jalan menuju pembebasan riil Inggris.

Pada hubungan luar negeri dan sejarah Inggris, ada sebuah tes sederhana untuk mengetahui apa yang dibanggakan dan apa yang memalukan. Ada banyak hal dari Inggris yang disambut dengan sukarela penuh antusias oleh negara lain – Shakespeare, Newton, Darwin dan Harry Potter! Ini harus dibanggakan. [Tetapi] Hal-hal yang diberlakukan Inggris di negara lain dengan paksa – perdagangan budak Atlantik [Atlantic slave trade], pendudukan Irlandia, pendudukan India, pendudukan Hong Kong – adalah yang memalukan.

Pada Sabtu [1 Juli 2017], sejauh ini, partai terbesar akan berada di Tiongkok. Tapi orang-orang di Inggris juga memiliki alasan untuk menenggak segelas sampanye atau baijiu [arak putih] untuk merayakan lahirnya pelurusan sebuah kesalahan besar [to celebrate anniversary of the righting of a great wrong].
.

Penulis adalah Senior Fellow di Chongyang Institute for Financial Studies, Renmin University of China. Bizopinion@globaltimes.com.cn

.

ooOoo

.

Catatan Redaksi Dasar Kita

dk-83a-john-ross-bio

 

 

John Ross saat ini adalah Peneliti Senior di Institut Studi Finansial Chongyang, Universitas Renmin Tiongkok [Senior Fellow at Chongyang Institute for Financial Studies, Renmin University of China].

Selengkapnya dalam Bahasa Inggris klik John Ross Biography atau data terbarui About John Ross di blog beliau yang lain lagi Learning from China.

.

.

.

Versi Bahasa oleh Redaksi ini adalah sepengetahuan dan seijin John Ross melalui surat elektronik-Tweeter, meski kesalahan baik grafis maupun konten/isi dari versi Bahasa ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Redaksi,  di mana secara khusus beliau berharap para pembaca blog Redaksi Dasar Kita akan menyukai tulisannya ini. 

 Kami mengucapkan terima kasih atas kerja sama dan ijin yang diberikan oleh John Ross.

.

Simak/klik hlm HK-2. Artikel-artikel John Ross dalam Versi Bahasa di Blog Dasar Kita (termasuk artikel ini butir 8):

.