KTT G20 Menyoroti Tahap Baru ‘Kepemimpinan Pemikiran’ Internasional Tiongkok

.

Oleh John Ross

.

Sumber: blog John Ross Key Trends in GlobalisationG20 summit highlights new stage of China’s international ‘thought leadership’, 7 July 2017

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita

.

Versi Bahasa ini disebutkan di situs John Ross yang lain Learning from China-Blog, 15/7/2017, Archives: July 2017 

.

KTT G20 Hamburg pada satu tahun mendatang akan menampakkan sebuah tahap baru dalam dampak global Tiongkok.

Sejak krisis keuangan internasional [2008; simak selanjutnya – Red DK], bobot objektif pertumbuhan ekonomi Tiongkok [growing objective weight of China’s economy] dalam ekonomi global telah diakui secara internasional.

Tapi 2017 [kita] melihat tahap baru di mana Tiongkok, dan khususnya pidato-pidato utama Presiden Tiongkok Xi Jinping, memiliki dampak besar pada ‘kepemimpinan pemikiran’ internasional – meminjam [istilah thought leadership] Barat. Terutama pidato Presiden Tiongkok di Davos World Economic Forum yang menarik perhatian internasional secara luas. Karena itu, ada analisis media internasional tentang posisi yang akan diambil oleh Tiongkok pada KTT G20 tersebut.

Tapi penting untuk dipahami bahwa dua isu [yakni] situasi ekonomi objektif dan kepentingan analisis Xi Jinping, tidaklah terpisah.

Meningkatnya peran Tiongkok dalam ‘kepemimpinan pemikiran’ global dihasilkan dari fakta bahwa analisis dan kebijakannya saat ini secara sistematis merespons isu-isu yang saling terkait tentang situasi ekonomi domestik Tiongkok dan perkembangan ekonomi global.

Hal ini juga menjelaskan mengapa program-program utama Tiongkok seperti One Belt One Road (B & R) [Belt & Road] bukanlah inisiatif ‘semata wayang’ [‘one-off’ initiative] namun merupakan bagian dari perspektif terpadu.

Karena itu, berguna untuk mundur dari kebijakan-kebijakan individu dan melihat istilah-istilah paling umum pada situasi baru yang tercermin dalam ‘kepemimpinan pemikiran’ global Tiongkok. Inilah tujuan dari artikel ini.

.

DK-95xx

.

Situasi Menyusul Krisis Keuangan Internasional

Situasi yang dihadapi Tiongkok sejak krisis keuangan internasional, dan karena itu selama periode Presiden Xi Jinping, berbeda dalam aspek-aspek penting dari periode perkembangan sebelumnya Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan karena itu [berbeda pula] dari yang dihadapi para pemimpin Tiongkok, RRT sebelumnya.

Mengenai aspek internasional ini, dan mengingat mungkin ada kejutan pada kenyataan tren global, sumber non-Cina akan digunakan di sini untuk mencacakkan [establish; KBBI daring] proyeksi IMF ini yang menyertai World Economic Outlook-nya yang terbaru.

Keterkaitan dua realitas, dalam negeri Tiongkok dan internasional, menentukan ciri-ciri dari periode baru ini selama Kepresidenan Xi Jinping.

Kesimpulan yang mengalir dari keterkaitan keduanya itu menjelaskan mengapa diktum Deng Xiaoping ‘menyembunyikan kecemerlangan, melantan [KBBI daring] ketidakjelasan’ [‘hide brilliance, cherish obscurity’ – simak/klik tulisan lama Ross dalam bahasa Inggris, 2008] telah dimodifikasi berhubung situasi objektif yang baru, [dan] sebaliknya menunjukkan secara objektif pentingnya menjelaskan posisi Tiongkok ke khalayak global.

  • Di dalam negeri, Tiongkok berada dalam masa transisi selama lima tahun dengan kriterianya sendiri ‘kemakmuran moderat [‘moderat prosperity’] dan dalam satu dasawarsa terhadap definisi Bank Dunia tentang ‘ekonomi berpenghasilan tinggi’ [’high income economy’]. Mencapai yang terakhir ini dalam satu gebrakan akan menjadi dobel jumlahnya dari mereka yang tinggal di negara-negara [berpenghasilan tinggi] tersebut – sebuah transformasi ekonomi global.
  • Secara internasional, ketua G20 2016 Tiongkok menegaskan harapannya untuk, dan berperan dalam membantu, pertumbuhan ekonomi maju. Tapi Tiongkok tidak dapat bergantung pada setiap jaminan pertumbuhan Barat  – bahkan data IMF proyek-proyek yang membuntuti krisis keuangan internasional ekonomi maju menghadapi pertumbuhan rata-rata yang panjang [prolonged average growth] yang lebih lambat daripada setelah Depresi Besar dimulai pada 1929.

Mengingat perkembangan ekonomi global yang lambat membuat Tiongkok sulit mencapai target ekonomi berpenghasilan tinggi, karenanya Tiongkok harus secara proaktif tidak hanya melakukan inisiatif domestik tapi juga membantu pertumbuhan dunia – jadinya kebijakan-kebijakan seperti B & R dan pentingnya menjelaskan analisis-analisis Tiongkok secara global.

‘Stagnasi Besar’

Pertama-tama dalam menganalisis dimensi internasional atas situasi sekarang, istilah ‘Resesi Besar’ [‘Great Recession’] terutama digunakan mengacu pada peristiwa setelah 2008. Tetapi beberapa analis telah melangkah lebih jauh – Larry Summers, mantan Menteri Keuangan AS, berbicara tentang ‘stagnasi sekuler’ [‘secular stagnasion’; simak/klik ini] dan Managing Director IMF Christine Lagarde berbicara tentang ‘medioker baru’ [‘new mediocre’: pola pertumbuhan baru yang biasa-biasa saja].

Kendati demikian, mungkin akan mengejutkan jika disadari  proyeksi ekonomi IMF menyiratkan bahwa frasa umum Barat yang ekonominya menghadapi masalah-masalah ekonomi terdalam sejak Depresi Besar [Great Depression] pada salah satu aspek krusial, [malah] mengkerdilkan situasinya [understates the situation].

Proyeksi IMF menunjukkan bahwa pada akhir 2017 total pertumbuhan [adalah] 12 persen pada ekonomi maju, [yang] setelah 2007 akan lebih lambat ketimbang 15 persen pada dasawarsa setelah 1929. Secara mencolok, pada tahun 2021, empat belas tahun setelah tahun 2007, pertumbuhan total pada ekonomi maju akan berkurang dari setengahnya dalam 14 tahun setelah 1929 – [sebesar] 21 persen dibandingkan dengan 50 persen setelah 1929.

Hal ini tidak mungkin bagi AS, atau untuk alasan serupa para ekonomi maju lainnya, untuk keluar dari pertumbuhan yang lambat ini dengan alasan-alasan yang dianalisis dalam buku saya The Great Chess Game (一 盘 大 棋? – 中国 新 命运 解析). [Simak/klik ini]

Peran Penentu B & R

Karena stagnasi relatif di negara-negara Barat tidak akan disertai oleh tren yang sesuai di Asia, sebuah transformasi mencolok ekonomi dunia diproyeksikan dalam setengah dasawarsa berikutnya yang membuat secara grafis jelas baik peran dari Tiongkok maupun dari pengembangan ‘wilayah B & R’. Analisis terperinci mengenai hal ini diberikan di artikel saya ‘Why the ‘Belt & Road’ [simak/klik ini], wilayah yang akan menjadi lokomotif utama ekonomi dunia, sehingga hanya hasil utama yang akan dirangkum di sini.

Mengambil definisi ‘inti’ dari wilayah B & R Tiongkok (Asia yang berkembang, Asia Timur kecuali Jepang, bekas Uni Soviet tak termasuk Negara-negara Baltik, Iran, Irak, Turki):

  • Pada proyeksi nilai tukar saat ini dari data IMF menunjukkan pada 2016-2021, wilayah B & R membukukan [accounting] 45 persen pertumbuhan global – dibandingkan dengan 24 persen di Amerika Utara dan 10 persen Uni Eropa.
  • Dalam paritas daya beli (PPP)[Purchasing Power Parity], wilayah B & R akan bukukan 57 persen pertumbuhan dunia – dibandingkan dengan 14 persen di Amerika Utara dan 11 persen Uni Eropa.

Pada 2021 dengan nilai tukar saat ini, PDB wilayah B & R akan menjadi 31 persen dari PDB dunia – dibandingkan dengan 27 persen di Amerika Utara dan UE 19 persen. Dalam PPP, proporsi masing-masing akan menjadi 47 persen, 18 persen, dan UE 15 persen.

Pertumbuhan ekonomi dunia konsekuensinya lebih tergantung pada kesuksesan kawasan B & R ketimbang pada Amerika Utara atau Uni Eropa dan peran Tiongkok dengan pertumbuhan wilayah B & R akan menjadi penentu [decisive role, peran penentu].

Analisis oleh Xi Jinping

Karena itu Xi Jinping menghadapi situasi yang berbeda secara mendasar dengan para pemimpin Tiongkok sebelumnya.

Analisis Mao Zedong dan Deng Xiaoping tentu saja sangat berpengaruh secara internasional. Tapi ini disebabkan terutama dampak geopolitik bukan ekonomi Tiongkok.

  • Pada 1949 hanya sekitar 10 negara memiliki PDB [pendapatan domestik bruto] per kapita yang lebih rendah daripada Tiongkok di bawah kepemimpinan Mao. Tiongkok dalam periode ‘pra-reformasi’ Mao Zedong membuat kemajuan sosial terbesar di sebuah negara besar dalam sejarah dunia. Dalam 27 tahun antara berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada 1949 dan kematian Mao Zedong pada 1976, harapan hidup [life expectancy] di Tiongkok meningkat 31 tahun, atau lebih dari satu tahun per tahun kronologis [over a year per chronological year] – tingkat tercepat yang pernah dialami di sebuah negara besar. ‘Maoisme’ meningkatkan harapan hidup Tiongkok dari 73 persen dari rata-rata dunia [world average] pada 1949/50 hingga 105 persen pada 1976. Landasan penting industrialisasi pun diletakkan. Namun secara keseluruhan 4,9 persen pertumbuhan PDB rata-rata tahunan [/per tahun: annual average GDP growth ] Tiongkok pada 1950-78 hanya sedikit di atas rata-rata dunia 4,6 persen.
  • Kepemimpinan Tiongkok sejak Deng Xiaoping hingga krisis keuangan internasional menghasilkan pertumbuhan yang pesat. Pada 1978-2007, tingkat pertumbuhan PDB tahunan Tiongkok rata-rata 9,9 persen, pencapaian transisi dari ekonomi ‘pendapatan rendah’ [‘low income] ke ‘pendapatan menengah atas’ [‘upper middle income’] menurut klasifikasi internasional. Pada periode ini, Tiongkok mendapat keuntungan dari pertumbuhan ekonomi tahunan yang relatif pesat 2,8 persen. Karena itu, dalam periode ‘Mao Zedong’ dan periode ‘Deng Xiaoping’, ekonomi Barat sedang mengalami pertumbuhan yang relatif cepat – yang berlanjut sampai krisis keuangan internasional 2008.

Situasi internasional ini berubah secara fundamental pada 2008.

Dampak Inisiatif Internasional Tiongkok

Xi Jinping adalah pemimpin Tiongkok pertama yang menghadapi kombinasi dari transisi Tiongkok secara simultan ke ekonomi berpenghasilan tinggi dengan pertumbuhan Barat yang sangat rendah.

Lantaran inilah, kombinasi baru antara faktor internasional dan domestik dianalisis oleh Xi Jinping. Karena alasan inilah, secara objektif hal ini merupakan periode baru dalam pengembangan analisis di Tiongkok setelah fase awal pengembangan [pemikiran/analisis] Mao Zedong dan Deng Xiaoping.

Dampak internasional yang besar dari analisis Xi Jinping, seperti ditunjukkan pada peristiwa-peristiwa yang mengarah ke KTT G20, karena itu mencerminkan kombinasi ini [yakni] antara faktor-faktor ‘objektif’ dan ‘kepemimpinan pemikiran’.

  • Secara objektif Tiongkok telah melewati masa berlarut-larut sejak krisis keuangan internasional dengan perkembangan yang jauh lebih cepat daripada setiap ekonomi utama lainnya dan dengan jelas berhasil melakukan transisi ke ekonomi ‘pendapatan tinggi’ menurut standar internasional.
  • Dalam hal ‘kepemimpinan pemikiran’ Tiongkok, sebagaimana disoroti dalam pidato Xi Jinping di Davos dan KTT B & R Beijing, telah merespons ‘Stagnasi Besar’ di negara-negara Barat tidak hanya dengan inisiatif kebijakan yang tepat, seperti B & R dan AIIB, namun dengan analisis yang jelas atas masalah-masalah globalisasi dan ekonomi global saat ini. Oleh alasan ini, konsep khas seperti ‘komunitas takdir bersama’ [‘community of common destiny’] yang mendukung pendekatan Tiongkok telah memberi dampak dalam pembentukan kebijakan, dan mengapa ada kepentingan internasional dalam analisis Tiongkok seperti yang ditunjukkan pada persiapan KTT G20.

Mengikuti proses objektif Martin Wolf, komentator ekonomi utama Financial Times dan salah satu pewarta paling berpengaruh di Barat, menyatakan secara terus terang pada akhir Mei [2017] bahwa pertanyaan yang sekarang sedang dibahas di semua negara adalah: “Tidakkah lebih bijak, mereka bertanya-tanya, untuk mendekati Tiongkok?”

Dalam hal ‘Kepemimpinan Pemikiran’, Ian Bremmer, Presiden Grup Eurasia, perusahaan ‘analisis risiko’ paling berpengaruh di Barat, mencatat mengenai salah satu indikator kunci keberhasilan Tiongkok dalam memproyeksikan bukan hanya kekuatan praktis [practical power] tapi juga gagasan [ideas]: ‘Reaksi Davos terhadap sambutan Xi: Sukses dalam semua hal.’

Karena itu, kembali ke pokok permasalahan di awal artikel ini, pidato Xi Jinping telah menarik perhatian internasional yang besar pada 2017 tidak hanya karena dampak ekonomi yang objektif dari Tiongkok namun karena konsep yang dikembangkan selama tahap baru analisis Tiongkok telah sesuai dengan situasi baru baik ekonomi internasional maupun Tiongkok.

.

Ini adalah versi yang disunting dari sebuah artikel yang aslinya dimuat dalam bahasa Tionghoa di Sina Finance Opinion Leaders.

.

ooOoo

.

Catatan Redaksi Dasar Kita

dk-83a-john-ross-bio

 

 

John Ross saat ini adalah Peneliti Senior di Institut Studi Finansial Chongyang, Universitas Renmin Tiongkok [Senior Fellow at Chongyang Institute for Financial Studies, Renmin University of China].

Selengkapnya dalam Bahasa Inggris klik John Ross Biography atau data terbarui About John Ross di blog beliau yang lain lagi Learning from China Blog.

.

.

.

Versi Bahasa oleh Redaksi ini adalah sepengetahuan dan seijin John Ross melalui surat elektronik-Twitter, meski kesalahan baik grafis maupun konten/isi dari versi Bahasa ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Redaksi,  di mana secara khusus beliau berharap para pembaca blog Redaksi Dasar Kita akan menyukai tulisannya ini. 

Dan adalah sebuah kehormatan bagi kami, bahwa pada 15 Juli 2017 John Ross — atas persetujuan yang kami sampaikan melalui twitter — menyebutkan versi Bahasa artikel ini “KTT G20 Menyoroti Tahap Baru ‘Kepemimpinan Pemikiran’ Internasional Tiongkok” di blognya yang lain lagi seperti ditampilkan di atas ‘Learning from China Blog’.

 Kami mengucapkan terima kasih atas kerja sama dan ijin yang diberikan juga kesediaan John Ross untuk menyebutkan versi Bahasa artikel ini di blognya.

.

Simak/klik hlm HK-2. Artikel-artikel John Ross dalam Versi Bahasa di Blog Dasar Kita (termasuk artikel ini butir 9):

.

Iklan