4a. Tiongkok itu Sosialis (2/6)-Nonkekerasan & Gotong Royong (Masohi) Politik-14 Januari 2011

.

Tiongkok itu Sosialis (2/6)

Ajar dari Film The Founding of a Republic

.

Ajar Pertama & Kedua: Nonkekerasan & Gotong Royong (Masohi) politik ala Tiongkok

(Bagian Kedua dari Tiga Subtulisan)

.

.

Sekali lagi: KKPRT, Masohi Politik ala Tiongkok

Ternyata negosiasi damai Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan Kuomintang (KMT) pada 28 Agustus 1945 di Chongqing itu membuahkan hasil.

Dalam sejarah tercatat, kesepakatan damai, hasil konsultatif politik itu, yang ditampilkan sebagai adegan pembuka film The Founding of a Republic (FaR), adalah cikal bakal Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok (KKPRT) yang Pertama.

The 1st Chinese People Political Consultative Conference (CPPCC), digelar jelang Proklamasi Republik Rakyat Tiongkok (RRT) pada 1 Oktober 1949.

Selang dua bulan setelah pertemuan di Chongqing itu, menyusul sebuah wujud lain konsultatif politik. Dicapainya Perjanjian Sepuluh Sepuluh (Double Tenth Agreement; 10-10-1945) antara PKT dan KMT untuk membentuk pemerintah koalisi. Perjanjian yang lahir atas desakan kuat kelompok nonkomunis LDT, Liga Demokrasi Tiongkok. Dengan salah seorang tokoh terkemukanya Zhang Lan, yang dalam film FaR ini ditampilkan sebagai mediator PKT-KMT.

Lantas pada 10-31 Januari 1946, bertempat di Chongqing, berlangsung Sidang Konsultatif Politik yang Pertama (First Political Consultative Assembly), diprakarsai pemerintah Tiongkok Nasionalis–dibuka oleh Chiang Kai-shek. Pertemuan yang lebih dikenal sebagai KKPRT. Dari cacatan sejarah, ikut hadir selain KMT dan PKT juga LDT dan PPT, Partai Pemuda Tiongkok (Chinese Youth Party).

Tapi ini KKPRT yang “lama” semasa Chiang berkuasa. Jadi, mafhumlah kita, kenapa KKPRT jelang proklamasi itu disebut “baru” dan “pertama”; disingkat KKPRT yang Pertama.

Dalam tulisan sebelum ini, Bagian Pertama dari Tiga Subtulisan/hlm 3a. Tiongkok itu Sosialis (1/6) … atau klik ini, Redaksi menyebut KKPRT itu Masohi Politik ala Tiongkok atau Masohi Politik ala Tiongkok yang Pertama. Kata masohiserapan dari bahasa Melayu Ambon bermakna “gotong royong”—sari pati atau perasan terakhir dasar negara kita Pancasila. (Simak catatan kaki 1 di hlm 1. Mengenai Blog Ini atau klik ini untuk penjelasan lanjut “masohi”).

Jadi, setidaknya bagi Redaksi, khususnya sebagai pemelajaran dari film FaR, wujud konsultatif-konsultatif politik, KKPRT-KKPRT tersebut tidak lain adalah masohi politik ala Tiongkok.

Masohi Politik ala Tiongkok dan Kekerasan Chiang

Dalam catatan sejarah, KKPRT versi Tiongkok Nasionalis itu, justru Chiang sendiri yang menggasaknya dengan kekerasan.

FaR menyuaragambarkan, Chiang yang lebih mendengar “bisikan” putranya maupun orang KMT sendiri untuk mengabaikan PKT dan LDT serta menolak KKPRT, masohi politik ala Tiongkok itu.

Selanjutnya …

Upacara penutupan KKPRT, awal Februari 1946, dimeriahkan oleh para murid, guru, dari Sinchuan dan massa rakyat yang berkumpul di salah satu sudut kota. Ada pagelaran teater jalanan. Tampak di antara penonton beberapa anggota LDT yang baru menghadiri KKPRT. Termasuk Zhou Enlai yang datang berkendara sedan, menonton dari kejauhan.

Di tengah pertunjukan berlangsung, segerombolan orang dengan pentung datang menyerang. Massa bubar kucar-kacir. Seorang perempuan muda terluka di kepalanya.

Keadaan tiba-tiba terkendali, berangsur senyap. Setelah seorang petinggi militer (jenderal yang juga Wakil Presiden Tiongkok Nasionalis) membuang tembakan ke udara. Polisi yang baru datang begitu mendengar letusan senjata api, malah kemudian lari terbirit-birit. Soalnya, tentara berhasil membekuk salah seorang pengacau, digebuk di hadapan sang jenderal dan polisi. Sang jenderal lalu menitip pesan keras lewat si pengacau,

“Aku tidak peduli pada siapa kau bekerja” … “Jangan menyelinap. Hentikan omong kosong ini.”

Seperti halnya di zaman junta militer Soeharto, nasib sang jenderal itu mudah ditebak. Ia dikirim ke luar negeri.

Sebelumnya ada adegan menarik. Presiden Chiang yang emoh bersua sang jenderal itu, lewat sekretarisnya berpesan sedang keluar. Tetapi Chiang terpaksa  buru-buru menyelinap lalu ngumpet dan nguping di ruang sebelah. Pasalnya wakil presiden bersikeras, memaksa menuju ruang kerja presiden sementara sekretaris Chiang tak mampu mencegah. Sang jenderal rupanya ingin pamitan di kantor Dewan Militer Nasional, Nanjing, sambil menenteng lampion bercahaya. Sebuah cendera mata buat presiden.

“Yang tampak bagiku hanyalah kegelapan. Aku tak bisa melihat tanpa lampion,”

ujar sang jenderal pada sekretaris Chiang yang tak paham metafor lampion bercahaya di siang hari bolong itu.

“Tiga Prinsip Manusia (San-Min Chu-i—Red) adalah landasan partai kita. Bila ia melencengkannya, partai kita tinggal menghitung hari.., ”

sang jenderal mengomentari Chiang dan KMT sambil meletakkan lampion di meja lalu meninggalkan kantor kepresidenan itu.

Kekerasan Chiang Terus berlanjut

Pembuat film FaR masih menyelipkan adegan lain pascasikap penolakan dan penghancuran Chiang atas  KKPRT itu. Terlebih pascaibukota kaum Nasionalis itu pindah ke Nanjing (Juni, 1946).

Penembakan seorang lelaki (dari catatan sejarah: Wen Yiduo, ahli Tiongkok Klasik—Red) seusai berbicara pada sebuah rapat umum terbuka, Juli 1946, di Kunming, Yunnan. Pidatonya yang berapi-api itu mengecam keras pembunuhan Li Gongpu oleh agen rahasia KMT 4 hari lalu. (Dari catatan sejarah, Li seorang komunis, Guru Besar, Profesor yang ditembak bersama anaknya masih kecil, juga di Kunming—Red).

“… Tuan Li memberikan nyawanya. Itu harga yang harus dibayar untuk hidupnya. Keadilan harus menang, karena kebenaran harus menang, …”

ucap lelaki itu tetap dengan nada tinggi. Pemuda bersyal melilit leher, dengan kumis, janggut, berkaca mata dan berbusana baju terusan cina warna cerah itu lalu menutup pidatonya lewat pekikan repetitif. Saling bersahutan dengan massa:

“Kami ingin demokrasi, bukan perang sipil!”

Pekikan repetitif  bersahutan itu terdengar kembali, mengunci adegan terjangan peluru-peluru yang menembus tubuh lelaki itu di malam pekat.

Gambar nyaris gelap total … hening … lalu tiba-tiba sebuah kaca mata tebal jatuh di atas jalan … salah satu kacanya retak.

Sebuah pesan gambalang: cendekiawan bahkan sastrawan pun dihabisi sang boneka. (Tak bedanya dengan kiprah boneka lainnya lagi di negeri kita ini dalam pemburuan daging manusia komunis menyusul “Kudeta Merangkak”—simak catatan kaki 4 & 5 tulisan Bagian Pertama—yang berhasil itu).

Tak cukup meluluhlantakkan KKPRT dan melibas kaum cerdik pandai. Chiang terus merangsek. Digelarlah KRN, Kongres Rakyat Nasional (National People’s Congress/NPC), November 1946. LDT tidak diajak, apalagi PKT.

“Ini pertunjukannya sendiri,”

reaksi Zhang tokoh penting LDT itu.

“Puncak”-nya ketika di akhir KNR dalam sambutan penutupan oleh Chiang terungkap agenda culas terselebung itu. Chiang pada hakikatnya sedang melansir sebuah pernyataan perang total lewat sambutannya itu:

“Dalam waktu 3 bulan penutupan KRN, pemerintah kita akan mengakhiri perang sipil. Kita akan memusnahkan rezim separatis dengan pasukan bersenjata. Untuk membawa negara yang bersatu dan membawa kedamaian pada bangsa kita.”

(Dikutip Redaksi dari teks Bahasa Indonesia pada adegan sambutan dimaksud)

Pembuat film FaR lalu secara cerdik mensiasati adegan pidato Chiang itu. Tepat sesudah kata-kata “…kedamaian pada bangsa kita”  terdengar sound effect deru pesawat terbang dilanjutkan adegan formasi pesawat-pesawat pembom yang menuju ke Yan’an, markas besar PKT.

Pemboman Yan’an (Maret 1947), bagi Redaksi, menyempurnakan terabainya kekuatan orang Tionghoa–Masohi Politik ala Tiongkok oleh segelintir orang Tionghoa sendiri yang tercabut dari sejarah Tiongkok.

“Kekerasan” Mao

Ya, itu hasil kekerasan segelintir orang Tionghoa ahistoris dengan Chiang dipucuknya.

Tetapi ucapan-ucapan Mao di bawah ini dari dua adegan berbeda sebelum pemboman Yan’an  sangat menarik. Bisa membantu menjelaskan duduk perkara jalan kekerasan kaum Marxis-Leninis Tiongkok waktu itu. “Kekerasan” Mao, Redaksi menyebutnya.

Penegasan–seperti disinggung pada tulisan sebelumnya Bagian Pertama dari Tiga Subtulisan/hlm 3a. Tiongkok itu Sosialis (1/6) atau klik ini–yang bisa menepis stigma sinis selama ini bahwa kaum komunis Tiongkok, kaum komunis umumnya, doyan kekerasan. Tanpa (mau) memahami syarat-syarat objektif perkembangan sejarah nasion bersangkutan–sejarah Tiongkok dalam hal ini.

“… Jika kita tidak memiliki ratusan ribu senjata, Tuan Chiang tidak akan pernah duduk dan bicara pada kami …

… 20 tahun lalu kita menyerahkan senjata untuk kedamaian. Dan apa yang terjadi? Kita dibunuh dengan keji. Bukan kedamaian.

Kita belajar dari kesalahan kita. Untuk kedamaian, untuk masa depan kita dan untuk menghilangkan perang, jika perang ini dijatuhkan oleh musuh kita, kita harus membalasnya.”

Lalu ketika pemboman itu memaksa kaum komunis evakuasi dari Yan’an, Mao kembali menunjukkan dirinya bukan saja sebagai pemimpin revolusi kaum Marxis-Leninis Tiongkok tetapi juga seorang pemimpin ulung perang gerilya rakyat Tiongkok:

“Orang bilang evakuasi dari Yan’an, menandai kemunduran dalam Revolusi Tiongkok. Jika ini kemunduran, partai ini dan pasukan kita telah selamat dari kemunduran yang tidak terhitung jumlahnya.”

“Kau pertahankan tanah dan kehilangan orang-orangnya, kau kehilangan keduanya. Kau memertahankan orang-orangnya dan kehilangan tanah, kau memiliki kedua-duanya.”

“Aku bertukar Yan’an untuk seluruh Tiongkok.”

Mao, sang revolusioner Marxis-Leninis itu, menepati janjinya: memiliki kedua-duanya, tanah dan rakyat; bertukar Yan’an untuk seluruh Tiongkok.

Hanya selang 14 bulan kemudian (Mei 1948) Yan’an sudah berhasil direbut kembali. Tepat di hari sang boneka Chiang “terpilih” dalam KNR—digelar secara sepihak—sebagai presiden pertama Republik Tiongkok (Republic of China). Dan 8 bulan kemudian (Januari 1949) kemenangan menentukan di Huaihai. Kemenangan Revolusi Tiongkok!

Kemenangan dan “Nasib Baik”

Lamun film FaR di tangan pembuatnya tidak melulu sebuah kisah, adegan demi adegan kemenangan Revolusi Tiongkok. Perang gerilya akbar berujung kemenangan gemilang itu, dibuat tak luput dari “keberuntungan-keberuntungan”. “Nasib baik” yang kerap mewarnai perjalanan hidup manusia.

Adegan Mao yang masih memakai piyama tidur dan belum terjaga betul digotong paksa dengan tandu oleh para gerilyawannya (karenanya sempat marah-marah), menghindari serangan pesawat Chiang. Posisi tepat Mao diketahui lewat informan pengkhianat yang adalah salah seorang komandan gerilyawan terdekat Mao.

Atau, panglima Chiang Jenderal Fu Zuoyi yang berputri gerilyawan komunis. Sang putri kemudian ikut berperan atas menyerahnya Fu pada kaum komunis. Sehingga pembebasan Beiping (Beijing Sekarang) pada Januari 1949 berlangsung secara damai. Hal yang membuka jalan berlangsungnya Masohi  Politik ala Tiongkok yang Pertama di Beiping jelang proklamasi.

Atau, adegan tokoh LDT Zhang Lan yang sudah diujung maut, tiba-tiba perwira tentara Chiang yang diserahi tugas mengeksekusi malah membelot. Zhang dibiarkan hidup.

Atau, pesawat-pesawat pembom Chiang yang gagal menyerang Beping saat proklamasi RRT akan diumumkan. “Hanya” lantaran Amerika menolak mengisi ulang bahan bakar untuk pesawat-pesawat di Pusan, Korea, dalam perjalanan dari Guangzhou. Teknologi kedirgantaraan (aeronautika) pada waktu itu tidak memungkinkan penerbangan langsung ulang alik Guangzhou-Beiping.

Sederetan (adegan-adegan) hal ikhwal manusiawi yang selama ini dicitrakan oleh media massa kaum imperialis tak bakal ada dalam kehidupan orang komunis.

Mungkin pula, sadar tidak sadar, pembuat film FaR ingin mengingatkan metafor Kakek Pandir Memindahkan Gunung dalam Buku Merah Kecil atau buku Kutipan Kata-Kata Mao Zedong1. Bahwa bila manusia berupaya keras, Tuhan pun terharu lalu mengirimkan malaikat membantu.

Padahal, menurut hemat Redaksi, ada (pula) namanya syarat-syarat objektif, syarat-syarat materialis–ciri khas pemikiran kaum komunis dilandaskan materialisme historis–melahirkan “nasib baik” itu. Setidaknya, “keberuntungan” itu tidak berdiri sendiri atau “datang dari langit” dalam konteks perjalanan sejarah (historical movement).

(Bersambung Bagian Ketiga dari Tiga Subtulisan.)

______________

1 Ada sebuah dongeng Tiongkok kuno yang bernama “Kakek Pandir Memindahkan Gunung”.

Diceritakan pada zaman dahulu kala ada seorang kakek yang tinggal di Tiongkok Utara, namanya Kakek Pandir Gunung Utara. Rumahnya menghadap ke Selatan dan di seberang pintu rumahnya tegak dua buah gunung besar, Taihang dan Wangwu, yang merintangi jalan.

Kakek Pandir membulatkan tekad memimpin anak-anaknya untuk meratakan kedua gunung besar itu dengan cangkul.

Seorang kakek lainnya yang dikenal dengan nama Kakek Cerdik melihat kejadian itu lalu menertawakan mereka. “Terlalu tolol kalian kerja begitu! Kalian anak-beranak yang hanya beberapa orang ini sama sekali tak mungkin meratakan kedua gunung sebesar ini.”

Kakek Pandir menjawab: “Bila aku mati, masih ada anak-anakku; bila mereka mati, masih ada cucu-cucuku, anak-cucuku tak kunjung habis. Betapapun tingginya, kedua gunung ini tak dapat tumbuh lebih tinggi lagi, dan setiap dicangkul sedikit akan kurang sedikit. Maka mengapa pula tak dapat diratakan?”

Setelah membantah pikiran Kakek Cerdik yang salah itu, Kakek Pandir terus mencangkul setiap hari tanpa goyah sedikitpun keyakinannya.

Tuhan terharu karenanya, lalu dikirimnya ke dunia dua malaikat yang kemudian mengangkat pergi kedua gunnung itu.

Sekarang ada juga dua gunung besar yang menindih Tiongkok, yang satu namanya imperialisme dan yang satu lagi namanya feodalisme.

Partai Komunis Tiongkok sudah lama  membulatkan tekad untuk mencangkul habis kedua gunung itu.

Kita harus tetap teguh, harus bekerja tak henti-hentinya dan kita akan mengharukan Tuhan juga. Tuhan tak lain ialah massa rakyat seluruh Tiongkok.

Jika massa rakyat seluruh negeri bangkit dan mencangkul kedua gunung itu bersama kita, mengapa pula tak dapat diratakan?

Catatan Redaksi

Dongeng ini disitir dari edisi Bahasa Indonesia, Kutipan Kata-Kata Ketua Mao Zedong, Edisi Pertama 1967, Dicetak di Republik Rakyat Tiongkok, hlm 236-238, sumber: “Kakek Padir Memindahkan Gunung” (11 Juni 1945), Pilihan Karya Mao Zedong, Jilid III.

Menurut James Pinckney Harrison dalam bukunya “The Long March to Power” (Praeger Publishers Inc., New York, USA, 1972) hlm 365, dongeng dimaksud (yg versi Inggris dikutip utuh oleh Harrison dengan memberi catatan bahwa tajuknya yang umum dalam bahasa Inggris The Foolish Old Man Who Removed the Mountains) disampaikan pada penutupan Kongres Nasional PKT ke-7, 11 Juni 1945.

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s