Ketegaran Korea! Sosialisme di Korea Demokratis.

oleh Vince Sherman.

Dibahasaindonesiakan Redaksi Dasar Kita dari artikel dalam bahasa Inggris bertajuk: 

Korea resilient! Socialism in democratic Korea 

Diposkan oleh Vince Sherman

di blognya Return to the Source, 17 Januari 2012

http://return2source.wordpress.com/2012/01/17/korea-resilient-socialism-in-democratic-korea/

Pada 22 Desember tahun lalu, “Fight Back! News, yang kerap mencerminkan pandangan Organisasi Sosialis Jalan Kebebasan (OSJK/FRSO Freedom Road Socialist Organisazation—Red), melansir sebuah tinjauan luas luar biasa atas RDRK (Republik Demokratis Rakyat Korea/DPRK Democratic People’s Republic of Korea—Red) dan imperialisme AS (Amerika Serikat—Red)  di Semenanjung Korea bertajuk  (tidak dibahasaindonesiakan; juga tajuk-tajuk selanjut tapi sengaja di-italic—Red) “Korea Stands Strong: Kim Jong-Il in Context.” Risalah dari sebuah kerja dahsyat menguraikan kemajuan yang dibuat oleh sosialisme Korea dan masalah-masalah yang ditimbulkan dari berlanjutnya pendudukan Barat di belahan selatan nasion Korea.

Dalam menanggapi analisis mendalam Fight Back! News tersebut, David Whitehouse dari Organisasi Sosialis Internasional (OSI/ISO International  Socialist Organization—Red) bersama dengan dua bagian lainnya yakni Partai untuk  Sosialisme dan Pembebasan (PSP/PSL Party for Socialism and Liberation—Red) serta Partai Pekerja Sedunia (PPS/WWP Workers World Party) meluncurkan sebuah risalah-serangan terhadap Kim Jong-Il dan yang merestorasi untuk digunakan lagi (dusted off—Red) argumen-argumen khas Cliffit-Trotskyit (sebutan kaum Marxis-Leninis yang menghindar menyebut Cliffis-Trotskyis—Red) yang sebenarnya melawan sosialisme sesungguhnya ada (acutually existing socialism — Red). Dipublikasikan pada 12 Januari, ‘Socialism in one dynasty’ membangkit-bangkitkan garis anti-komunis yang sama dari OSI yang memang hadir untuk mengkarakterkan Trotskyisme.

Kematian Kim Jong-Il mendorong kembali diskusi di antara kaum kiri mengenai Korea Demokratis, dan dengan volume tinggi propaganda anti-RDRK yang dihasilkan pihak Barat itu, adalah penting bagi kaum Marxis-Leninis untuk secara teliti menunjukkan keberhasilan-keberhasilan serta tantangan-tantangan yang dihadapi revolusi Korea. Fakta sederhana bahwa RDRK bertahan hidup di tengah gelombang kontra-revolusi yang terus melanda sebagian besar negara-negara sosialis memerlihatkan kekuatan dan ketegaran massa rakyat, serta kegigihan Korea Demokratis dalam menghadapi agresi akbar pihak Barat, hal ini menuntut studi yang lebih cermat oleh kaum Marxis-Leninis di abad ke-21.

Tentara RDRK bertempur untuk unifikasi

Korea yang Terbagi

Seperti yang ditekankan artikel Fight Back! News, “Korea adalah satu bangsa yang terbagi secara paksa oleh Amerika Serikat sesaat setelah Perang Dunia ke-2”. (1) RDRK dan Republik Korea eksis sebagai dua negara yang terpisah, tetapi rakyat Korea memenuhi semua fitur (feature/ciri—Red) karakteristik sebuah bangsa; “komunitas rakyat yang tegak secara historis, stabil, terbentuk pada basis bahasa, teritorial, kehidupan ekonomi, dan susunan psikologis (psychological make-up—Red) bersama, serta termanifestasikan dalam sebuah kebudayaan bersama.” (2) Memahami Korea bukan sebagai dua bangsa terpisah sangat penting untuk menempatkan tindakan-tindakan RDRK dalam konteks sesuai mereka.

Kekuatiran meluasnya popularitas revolusi Korea baik di utara maupun selatan, AS terus menduduki secara militer Republik Korea setelah Perang Dunia II. Rakyat kedua Korea diabaikan dalam keputusan untuk membagi negeri mereka dan walaupun janji-janji pemilihan umum (pemilu—Red) nasional yang adil dan bertujuan untuk reunifikasi, AS mengintervensi pemilu Korea Selatan dengan mengatasnamakan seseorang yang berpendidikan Barat, nasionalis sayap-kanan: Syngman Rhee (Presiden Korea Selatan pertama—Red).

Banyak sarjana dan kritikus borjuis atas RDRK yang berpendapat bahwa Tentara Rakyat Korea (TRK/KPA Korean People’s Army) berpusat  di utara, yang memulai  Perang Korea dengan melintasi 38th parallel *, aksi yang kerap dikutip sebagai awal Perang Korea. Sementara TRK yang mengirim pasukan ke Korea Selatan pada 25 Juni 1950 itu, disebut sebagai tindakan agresi dari sebuah negara berdaulat terhadap negara lainnya, secara implisit melegitimasikan kaum imperialis yang membagi Korea dalam Konferensi Postdam  pada 1945. Richards Stokes, Menteri Pekerjaan (Minister of Work—Red) Inggris, menyebutkan dalam sebuah laporan tahun 1950 mengenai asal-usul Perang Korea, seperti ini:

“Dalam Perang Sipil Amerika, orang-orang Amerika  tidak pernah memberikan toleransi sedikit pun untuk menyiapkan sebuah garis imajiner antara kekuatan-kekuatan Utara dan Selatan, serta tak pelak lagi reaksi mereka macam apa, jika kekuatan Inggris campur tangan atas nama Selatan. Hal ini sangat paralel lantaran konflik di Amerika bukanlah semata konflik antara  dua kelompok rakyat Amerika, tetapi konflik antara dua sistem ekonomi seperti kasus di Korea.” (3)

Hampir sama seperti Perang Sipil Amerika, setiap apa yang disebut agresi oleh pihak Utara, sebenarnya adalah upaya penyatuan-kembali sebuah bangsa yang telah terpartisi oleh kekuasaan imperialis asing. Setiap kritik atas tindakan Korea Demokratis dalam memulai konflik seharusnya juga mengutuk Presiden AS Abraham Lincoln dan Union Army untuk pengiriman suplai dalam memerkuat Fort Sumpter pada awal perang sipil, yang secara de facto memicu dimulainya konflik tersebut.

Tentu saja, kaum Marxis-Leninis mendukung upaya-upaya reunifikasi pihak Utara baik dalam perang sipil Amerika maupun dalam Perang Korea karena mereka secara historis, progresif dan revolusioner. Korea diduduki oleh pemerintah imperialis asing ketika TPK menyerbu ke selatan, persis seperti penjajah Jepang menduduki bangsa Korea selama 35 tahun sebelumnya. Dengan demikian, ‘invasi’ TPK ke selatan Korea adalah sebuah upaya yang lebih besar, perjuangan berkepanjangan untuk pembebasan nasional yang dimulai dengan sebuah perjuangan anti-kolonial melawan kekaisaran Jepang.

Pendudukan asing atas Korea berlanjut sampai hari ini, dan kaum Marxis-Leninis harus mengevaluasi tindakan-tindakan RDRK dalam kerangka perjuangan pembebasan nasional yang masih berlangsung itu. Sebanyak 28.000 tentara AS yang ditempatkan secara permanen di Republik Korea, membuktikan berlanjutnya dominasi imperialis di belahan selatan bangsa Korea.

Kim Jong-Il mengulas rencana produksi

Fitnah Memalukan atas Sosialisme Korea

Walaupun artikel OSI itu sarat dengan serangan atas kaum Marxis-Leninis dan posisi kaum itu terhadap RDRK, penyajiannya itu sebenarnya tidak menyanggah risalah di Fight Back! News, sebuah kelalaian telak dari artikel itu sendiri. Hal paling dekat  yang dapat dikatakan merupakan bantahan dari Whitehouse adalah kutipan berikut:

OSJK, misalnya, memikirkan sistem pelayanan sosial yang mencakup jaminan kesehatan universal dan pendidikan,  juga perumahan gratis. Catatan ini luar biasa untuk sebuah negeri seperti Korut dengan sumber daya terbatas. Tetapi, tidak luar biasa untuk sebuah negeri di mana negara mengontrol segalanya. Negara menyediakan perawatan kesehatan, pendidikan dan perumahan, karena tidak ada institusi di luar negara—kecuali Anda memerhitungkan Partai Pekerja-nya Kim yang terikat dengan negara dan yang menembus seluruh aspek kehidupan rakyat Korea Utara. (4)

Perhatikan bahwa Whitehouse tidak keberatan pernyataan faktual dalam artikel Fight Back! News yang terkait dengan Sosialisme Korea. Whitehouse mundur ke posisi tak nyaman dengan mengakui bahwa catatan pelayanan sosial RDRK adalah ‘luar biasa’, suatu pengakuan menakjubkan untuk sebuah organisasi yang dalam pernyataan prinsip-prinsipnya mengklaim bahwa keberadaan negera-negara sosialis, seperti Korea Demokratis, sebenarnya “tidak ada hubungannya dengan sosialisme”. (5) Sebaliknya, OSI berupaya mengecilkan pencapaian “luar biasa” ini dengan memberikan catatan bahwa negara adalah satu-satunya entitas terorganisasi dalam masyarakat Korea yang mampu menyediakan pelayanan-pelayanan ini.

Tentu saja hal ini menimbulkan pertanyaan: Apa entitas terorganisasi lainnya yang akan lebih dipilih OSI dalam menyediakan pelayanan sosial yang penting ini di Korea Demokratis? Return to the Source, bersama  Organisasi Sosialis Jalan Kebebasan dan kaum Marxis-Leninis lainnya di seluruh dunia, mendukung keputusan pemerintahan sosialis menggunakan regulasi ketat sosialisme pasar untuk mengembangkan tenaga-tenaga produktif  serta penyediaan barang dan jasa bagi rakyat. Tetapi OSI secara eksplisit menolak strategi yang dijalankan Tiongkok, dan Kuba—pada tahun lalu sebagai bukti (lagi—Red) sebuah negeri dengan ‘kapitalisme negara’. (6) Lantas, apa yang secara konkret ingin disaksikan oleh OSI dari negara Korea Demokratis bila mereka (OSI—Red) telah sepakat bahwa pelayanan RDRK adalah ‘luar biasa’,  tetapi sebaliknya mereka memprotes bahwa tidak ada entitas swasta yang eksis untuk menyediakan pelayanan-pelayanan ini, berbarengan menolak penerapan regulasi ketat pasar untuk negara-negara sosialis?

Ada sebuah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, tetapi sebenarnya tidak menyenangkan OSI. Faksi-faksi Trotskyit—kaum materialis jangan pernah merujuk pada organisasi-organisasi sangat kecil ini laiknya partai-partai dalam pengertian Marxis-Leninis—tidak pernah memimpin massa dalam revolusi justru karena mereka memahami sosialisme dan revolusi secara utopia. OSI tidak percaya bahwa Korea Demokratis adalah sebuah negara sosialis lantaran Partai Pekerja Korea (PPK/WPK Workers’ Party of Korea, di Korea Utara—Red) tidak memiliki sifat-sifat yang dikehendaki dari Marx: abstrak, kadang dogmatik, (layaknya—Red) katekismus (kitab pelajaran agama Kristen—Red) yang digunakan Marx dalam seruannya kepada kaum komunis untuk “memenangkan pertempuran bagi demokrasi’ (to win the battle for democracy—Red). (4) Mereka (OSI—Red) mengulang-ulangi secara ad nauseum (Latin: diulang-ulang hingga memuakkan—Red) bahwa sosialisme adalah sebuah masyarakat di mana para pekerja mengontrol alat-alat produksi, tetapi idealisme mereka menutupi mata mereka terhadap pengakuan bahwa sebuah masyarakat revolusioner seperti RDRK, meski tidak sempurna, telah mencapai tujuan itu.

Ketika menelaah Korea Demokratis, kita harus secara kritis menilai keberhasilan mereka, tetapi hanya dalam konteks agresi imperialis tidak tertahankan yang mereka hadapi dari Amerika Serikat dan Republik Korea. RDRK terus menghadapi kesulitan-kesulitan dalam pembangunan sosialis, lamun (namun—Red) kebanyakan dari masalah-masalah itu berasal dari kondisi-kondisi eksternal dan agresi imperialis.  Sejak penghentian permusuhan pada 1953, AS “memertahankan sanksi ekonomi cukup komprehensif terhadap Korea Utara.” (7) Akses untuk barang-barang penting dan makanan pokok sangat dibatasi oleh Amerika dan Jepang—yang (misalnya—Red) memotong pengiriman beras ke RDRK pada 2003. (7)

Sementara artikel Whitehouse sebagai lipservice atas sanksi yang dikenakan pada RDRK bersama dengan warisan ajek kerusakan akibat perang Korea, tulisan itu pun menolak kondisi buruk ini sebagai sebuah cara “untuk memaafkan perilaku rezim secara domestik, mengesampingkan tuduhan bahwa rezim itu adalah kediktatoran yang menindas.” (4) Sesungguhnya, fakta bahwa penyebutan perang Korea dibatasi sampai 4 paragraf di pertengahan artikel dari 46 paragraf tersebut, menunjukkan OSI lebih tertarik untuk memfitnah RDRK dan menekankan garis kapitalisme negara yang gadungan ketimbang penerapan suatu analisis ketat, materialis dialektis atas sosialisme Korea.

Seperti artikel Fight Back! News dengan tepat menekankan, Anda tidak dapat memahami RDRK tanpa pemahaman Marxis-Leninis atas masalah nasionalnya yang menghasilkan kesimpulan tak terbantahkan bahwa Korea adalah satu bangsa yang diduduki oleh kekuatan imperialis setelah penghentian permusuhan pada 1953. Pemerintah Korea (Demokratis—Red) yang “penuh rahasia” itu sering disalahartikan menjadi sangat masuk akal dipandang dari sudut ancaman penghancuran yang menggelantung, yang dihadapi Korut di seberang zona demiliterisasi perbatasan.

Seni realis sosialis melukiskan Korea Demokratis

Sosialisme Korea dalam Kiprah

Kaum Marxis-Leninis harus memelajari kelemahan-kelemahan Korea Demokratis, tetapi mereka juga mesti secara antusias memuji pencapaian-pencapaian menonjol yang diraih oleh revolusi Korea. Seperti Bruce Cumings, Profesor Sejarah Korea di Universitas Chicago, menyebutkan dalam bukunya pada 2003: North Korea: Another Country, “Korea modern lahir dari salah satu masyarakat yang paling terbagi-bagi dalam kelas dan terstratafikasi di seluruh muka bumi, nyaris seperti hirarki keturunan dalam kerajaan.” (3) Cumings mencacat bahwa perbudakan terjadi di mana-mana, mencakup 60-90 persen masyarakat hingga dihapuskan pada 1894, di mana sebagai besar para budak itu berubah menjadi kaum petani feodal yang diperintah tuan-tuannya orang Korea dan akhirnya oleh orang-orang Jepang. (3)

Pengusiaran kolonialisme Jepang dalam Perang Dunia II dan pembentukan sosialisme di utara, mengakhiri disparitas kelas yang sangat besar ini serta pelanggaran-pelanggaran dengan mengeksploitasi kelas. Cumings mengutip laporan keamanan AS atas situasi di Korea revolusioner untuk membuktikan bahwa “Mereka yang disebut petani menengah dan miskin, tidak hanya membaik kehidupannya, tetapi mereka menjadi kelas favorit.” (3) Komitmen PPK menjadikan revolusi sosialis bottom-up tercermin dalam komposisi kelas mereka saat didirikan, di mana “keanggotaan kaum buruh 20 persen, para petani miskin 50 persen, dan samuwon [pekerja kerah-putih] 14 persen.” (3)

Revolusi Korea memberikan kesempatan kepada para pekerja dan petani miskin yang tak memiliki tanah, sesuatu yang tak terbayangkan di bawah kondisi penindasan masa lalu itu. Cumings menulis lagi, “Sebelum 1945, sebenarnya tidak terbayangkan bagi kaum tani tak berpendidikan untuk menjadi pejabat pemerintah atau perwira militer. Tetapi di Korut karier semacam itu normal saja.” (3) Cumings juga mencatat bahwa perkawinan antarkelas menjadi hal yang normal, biasa saja, dan meluas seiring pembentukan Korea Demokratis, serta akses untuk pendidikan yang terbuka bagi seluruh sektor masyarakat.

Pada persoalan vital reformasi tanah, PPK menempuh proses bertahap tapi pasti dengan mengkonversikan kepemilikan tanah dari swasta ke organisasi-organisasi koperasi. Bermula dari proses rekonstruksi pascaperang pada 1953, hanya 1,2 % rumah tangga petani yang terorganisasi sebagai koperasi yang seluruhnya mencakup 0,6 % total lahan. (13) Per Agustus 1958, 100% rumah tangga petani dikonversikan ke koperasi, mencakup 100 % total lahan. (13)  Ellen Brun seorang ekonom dalam studinya Socialist Korea, 1976, yang sampai saat ini tetap merupakan studi paling komprehensif, menulis  bahwa “Meskipun kekurangan alat-alat produksi modern, koperasi—dengan efisiensi dibantu negara—sudah sejak awal menunjukkan keunggulannya atas pertanian individu, yang pada akhirnya meyakinkan para petani yang dulunya enggan untuk berpartisipasi dalam gerakan. (13)

Yang sering menjadi sasaran kritik dari kaum komunis-kiri, Trotskyit, dan kaum antikomunis, ternyata kolektivitasi di Korea Demokratis tidak menghasilkan paceklik apapun ataupun kelaparan massal. Faktanya, “tidak sekecap pun selama pengkoperasian menurunkan keluaran (output) agrikultur; sebaliknya proses itu disertai  kenaikan produksi yang mantap.” (13) Menyitir statistik produksi pangan, Brun memerlihatkan kenaikan tajam, dari 2,9 juta ton pada 1956 menjadi 3,8 juta ton pada 1960. (13) Berawal dari RDRK yang mendorong swasembada, PPK mengarahkan bangsa untuk meningkatkan produksi pangan secara mantap  dan memberi makan seluruh negeri.

Komite-komite rakyat lokal, di mana setiap pekerja Korea dapat berpartisipasi, memilih pemimpin untuk membimbing produksi agrikultur dan berkolaborasi dengan otoritas nasional dalam mengkoordinasi efisiensi nasional. (13)  Komite-komite ini merupakan sarana utama di mana “Partai tetap berhubungan dengan massa rakyat pada berbagai ladang kolektif, sehingga memungkinkan untuk menakar opini publik pada isu-isu yang memengaruhi kebijakan-kebijakan komite rakyat nasional.” (13) Pada 1966, PPK memerkenalkan “sistem manajemen”, yang  “mengorganisasi kelompok-kelompok terdiri dari sepuluh sampai dua puluh lima orang penggarap ladang yang dimasukkan pada unit-unit produksi, dan masing-masing mereka kemudian ditempatkan secara permanen untuk bertanggung jawab pada suatu areal tanah tertentu, tugas tertentu, instrumen produksi tertentu.” (13)  Hal ini menggambarkan instrumen lain lagi dari implementasi demokrasi rakyat dalam produksi sosialis Korea.

Tidak ada antagonisme serius antara perdesaan dengan pusat-pusat pengembangan industri dalam proses konstruksi sosialis di Korea Demokratis. Brun mencacat  “puluhan ribu orang  terdemobilisasi, kebanyakan adalah sarjana yunior maupun senior termasuk pula murid-murid sekolah menengah yang pergi ke perdesaan pada musim sibuk dan bantuan yang diberikan itu berjumlah jutaan hari kerja,” seluruhnya relawan dan tanpa paksaan oleh negara. (13)

Yang paling penting, konstruksi sosialis Korea mereorganisasi produksi industri oleh dan demi kepentingan  kaum proletar Korea yang dulu dicabut kepemilikannya. Mendasarkan pada garis massa—metode pengorganisasian Marxis-Leninis yakni “baik penyebab maupun dampaknya adalah dari politisasi dan keterlibatan massa rakyat dalam proses pengembangan ekonomi dan konstruksi sosialis”—PPK mengimplementasikan sistem kerja Daean pada Desember 1961. (13) Kontras dengan sistem yang lalu di mana para manajer dipercayakan mengawasi suatu tempat kerja yang secara terpisah (dipimpin—Red) oleh seorang anggota partai, “Komite-pabrik Partai memangku otoritas tertinggi pada level perusahaan” dalam sistem kerja Daean. (13) Brun lebih lanjut menggambarkan sistem ini, dan saya akan mengutip lengkap Ibu Brun:

 “Cara untuk memecahkan masalah yang berdampak pada produksi dan aktivitas pekerja, sama seperti pada metode pelaksanaan keputusan, adalah melalui diskusi kolektif di dalam komite pabrik yang para anggotanya dipilih oleh anggota-anggota Partai pabrik tersebut. Agar menjadi efektif, komite ini relatif kecil, jumlah tepatnya tergantung pada besarnya perusahaan. Di Daean Kilang Elektris, dengan tenaga kerja 5.000 orang,  komite-Partai pabrik terdiri dari 35 anggota yang mengadakan pertemuan sekali atau dua kali per bulan sementara terus dijalin hubungan dengan 9 anggota dewan direksi. Enam puluh persen dari para anggota tersebut adalah para pekerja produksi, dan sisanya adalah yang mewakili lintas-bagian dari seluruh aktivitas pabrik meliputi para: fungsionaris, manajer, deputi-manajer, insinyur, teknisi, representatif liga perempuan, anggota liga pemuda, anggota serikat buruh dan pegawai kantor. Dengan begitu, komposisi tersebut memberikan akses pada seluruh aspek sosioekonomi perusahaan dan kehidupan para pekerjanya.

Komite ini menjadi apa yang disebut sebagai “kemudi” unit industri, mengadakan pendidikan ideologi dan memobilisasi para pekerja untuk mengimplementasikan keputusan-keputusan kolektif serta untuk memenuhi target produksi. Melalui hubungannya itu dengan Partai, memberikan gambaran jelas tentang kebijakan-kebijakan menyeluruh, tujuan-tujuan serta juga fungsi sesungguhnya setiap perusahaan dalam konteks nasional. Dengan kata lain, penataan ini menjamin politik diprioritaskan.” (13) 

Jauh dari karaketerisasi gampangan dan penuh leluconnya Gedung Putih dan OSI atas RDRK seperti “sebuah negara di mana satu orang memegang kekuasaan diktator  dan sebagian besar rakyat hidup dalam kemiskinan,” model organisasi sosialis ini mempresentasikan komitmen tertinggi terhadap demokrasi para pekerja. (4) Para pekerja mendapat masukan dan memegang supremasi dalam produksi serta berinteraksi secara dialektik dengan negara untuk merencanakan dan melaksanakan produksi kolektif atas nama seluruh rakyat Korea.

Tempat kerja di Korea Demokratis bukan sekadar tempat produksi, tetapi sebagaimana yang ditekankan metode pengorganisasian Daean, adalah juga sebagai pusat pendidikan dan memerkaya diri (baca: memerluas wawasan—Red). Setelah 1950, “sekolah-sekolah pekerja” yang diorganisasi untuk tempat kerja spesifik mulai bermunculan, di mana para buruh menghadiri program pendidikan sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas sambil bekerja di industri dalam rangka memersiapkan diri mereka untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. (13)

Sosialisme Korea mencapai standar hidup yang mengesankan bagi rakyat Korea sebelum runtuhnya mitra dagang terbesar mereka, Uni Soviet, pada 1991. Sebagai sarjana independen, Stephen Gowans menunjukkan dalam  artikelnya pada 2006 “Understanding North Korea,”  Korea Demokratis menikmati dengan baik standar hidup yang berimbang dengan tetangganya di selatan sampai 1980-an. (14) Dengan gaya hidup spartan, rakyat Korea pada 1967 nyaris memenuhi sendiri kebutuhan mereka dalam hal industri ringan dan barang-barang kebutuhan sehari-hari yang ketersediaannya makin meningkat bagi setiap orang, seperti tekstil, baju dalam, kaus kaki, sepatu, dan minuman ringan beralkohol. (13)

Bagaimana pun, industri berat tetap merupakan, dalam kalimat Brun, “tulang punggung ekonomi”. Ibu Brun mencatat bahwa “walaupun bantuan dari negara-negara blok sosialis boleh dikatakan merupakan hal yang substansial di awal periode rehabilitasi, beberapa tahun kemudian—setelah mencapai rekor pada 1954—bantuan asing mulai berkurang dan Korut secara bertahap menjadi berdikari (berdiri di atas kaki sendiri—Red). (13) Lantaran perpecahan Tiongkok-Soviet yang berdampak pada politik perdagangan, RDRK secara bertahap kehilangan beberapa bantuan yang diterima dari Uni Soviet. Meski demikian, mereka mengelola pengembangan industri berat secara substansial, memberikan kemajuan pada keluaran (output—Red) industri sebesar 51,7 % dalam kurun 1953-1955. (13)

Sosialisme Korea mengalami kemunduran luar biasa pada 1991 dengan runtuhnya Uni Soviet dan sebagian besar blok sosialis. Tegar seperti lazimnya, bangsa ini bertahan melewati tahun-tahun yang sulit walaupun menghadapi kelaparan, kondisi cuaca mengerikan, dan akses perdagangan internasional yang diblokir oleh kekuatan imperialisme Barat. (14) Korea Demokratis tetap stabil dan komitmennya untuk demokrasi sejati bagi para pekerja tetap berlanjut, mantap, seperti galibnya.

Kim Jong-Il tampak lebih menakutkan dari yang sebenarnya

Kim Jong-Il dan Mahapentingnya sebuah Korea (Ber)Nuklir

Yang paling jelas dari semua adalah pilihan OSI untuk tidak menyerang argumen bahwa Korea Demokratis memeroleh senjata nuklir merupakan perkembangan penting dan positif  dari segi kemananan jangka panjang atas konstruksi sosialisme Korea. Mengingat kemampuan nuklir merupakan aspek penting dari artikel Fight Back! News, Whitehouse memilih tidak terlibat dalam alur argumen ini, sebuah pilihan yang disengaja dan sadar sebagai akibat dari ceruk tak nyaman pada garis politik kontra-revolusioner OSI. Dari artikel Fight Back!News:

Pentingnya Korea Demokratis memeroleh senjata nuklir tidak dapat dilebih-lebihkan. Pada 2005, AS mengajukan ultimatum baik terhadap Libia maupun RDRK, menuntut agar keduanya menanggalkan program senjata nuklir dan bekerja sama dengan imperialisme Barat dalam ‘perang melawan teror’. Kepala negara Libia Muammar Kadhafi memainkan bola (yang dilempar imperialis—Red). Sementara Kim Jong-Il pada AS mengacungkan jari tengahnya (ikon f **k you—Red). Ketika kita mendekati akhir 2011, menyaksikan kebrutalan NATO yang menginvasi Libia dan  menggulingkan pemerintahan  Kadhafi, sangatlah jelas siapa yang membuat pilihan tepat. (1)   

Bahkan pewarta borjuis Tad Daley dari Christian Science Monitor sepakat dengan penilaian oleh Fight Back! News. Dari tulisannya pada 13 Oktober 2011 bertajuk “Nuclear lesson from Libya: Don’t be like Qaddafi. Be like Kim,” Daley menulis:

Seandainya Libia memiliki kemampuan untuk, oh, memusnahkan pangkalan militer utama Amerika di Italia; atau untuk menguapkan seluruh Amerika “pemboyong gerombolan perang” di lepas pantai selatan Prancis, hampir dipastikan akan dibujuk Washington (untuk tidak menyebut Roma dan Paris) dari aksi militer. Jika rezim Libia ingin memastikan kelangsungan hidupnya, maka sama seperti Korut, mereka harus mengembangkan penangkal senjata nuklir—kecil, mampu bertahan, dan cukup berbahaya untuk menimbulkan kerusakan yang tak dapat diterima setiap agresor. (8)    

Fakta bahwa kedua pemimpin ini, Kadhafi dari Libia Jamahiriya dan Kim Korea Demokratis, meninggal pada tahun yang sama dengan cara yang sangat berbeda, merupakan hal kontras yang menarik. Kadhafi digulingkan  setelah para pemberontak-dukungan imperialis meluncurkan kampanye rasis untuk menumbangkan sebuah pemerintahan revolusioner di Afrika Utara—yang sangat berhasil lantaran dukungan NATO.  Ia mati dipukuli, babak-belur, disodomi, disiksa, dan dieksekusi dalam pipa pembuangan lumpur tanpa diadili.

Kim, di lain pihak, meninggal penuh kedamaian akibat serangan jantung di kereta api dalam perjalanan ke sebuah pabrik untuk mengadakan inspeksi dan rapat umum dengan para pekerja Korea. Sementara kematian Kim mengguncang Korea dengan kesedihan dari Pyongyang hingga melampaui Beijing, revolusi Korea terus berlanjut dan tidak memerlihatkan tanda-tanda kegoncangan. Kedekatan Tiongkok dengan Korea adalah faktor berlanjutnya keamanan Korea Demokratis, tetapi tidak ada yang bisa mencegah militer Amerika untuk berperang habis-habisan dalam menumbangkan PPK kecuali ancaman bom atom yang dapat menghancurkan salah satu dari sekian banyak pangkalan militer Amerika di Republik Korea. Fakta bahwa kaum imperialis tidak dapat mengubah operasi bendera-palsu (false-flag operation—Red) seperti apa yang dinamakan ‘Insiden Cheonan’  tahun lalu menjadi sebuah gaya-Teluk-Tonkin yang dapat menyebabkan perang Korea kedua, adalah lantaran penangkal nuklir yang dimungkinkan di bawah kepemimpinan Kim Jong-Il. (9)

OSI tidak dapat melibatkan argumen ini. Soalnya, argumen ini secara objektif benar dan memungkinkan menjadi bukti terbaik kontribusi revolusioner Kim Jong-Il atas sosialisme Korea. Mengkritik dengan kasar PPK dalam hal keagresifan, kerahasiaan, secara diam-diam melanjutkan program nuklir, sama saja dengan mengundang kritik lebih kasar lagi atas garis lelucon kaum imperialis terhadap konflik Libia yang merupakan seruan untuk mendepak front-dan-pusat Kadhafy, sesuatu yang bertentangan dengan kutukan atas invasi NATO.

Dicekoki ideologi Cliffit-Trotskyit mereka, OSI memiliki sejarah panjang dalam mendukung penggulingan pemerintahan revolusioner, dan yang mencapai puncaknya pada 1991 ketika sekte mereka menyebut kejatuhan Uni Soviet sebagai sebuah peristiwa yang “membuat setiap sosialis sejati bersuka cita.” (10) Yang paling baru, OSI berkiprah di tahap awal konflik Libia dengan mengabaikan arah pro-Barat yang terang-terangan dari kaum kontra revolusi yang bermula di Benghazi dan meremehkan praktik terorisme sistematik dan rasis oleh kaum ‘pemberontak’ itu. (11) Setelah invasi NATO, sekte Cliffit-Trotskyit ini melanjutkan desakan garis “Kadhafi harus pergi” sebagai fokus utama, yang dalam praktiknya membuktikan untuk kesekian kali fungsi mereka secara de-facto sebagai perisai-kiri imperialisme (left-cover for imperialism— cetak tebal dari Red DK).

Memalukan, kelompok tersebut tidak pernah mundur dari garis ini dan salah menyimpulkan kontra-revolusi Libia sebagai gerakan progresif yang bekerja sama dengan NATO. Bahkan setelah kematian Kadhafi dan bukti tak terbantahkan bahwa para pemberontak itu sejak awal adalah kontra-revolusioner dukungan-Barat, pemimpin OSI Alan Maass tetap memerlihatkan senam logika (baca: aksi silang menyilang—Red) untuk mencoba dan memelintir garis kebohongan mereka itu menjadi sesuatu yang menyerupai anti-imperialisme dengan mengklaim bahwa walaupun menjadi korban invasi imperialisme yang menggulingkan pemerintahannya, Khadafy sebenarnya adalah seorang boneka Barat. (12)

Setiap orang yang membaca risalah Whitehouse tentang Kim Jong-Il, dapat menyimpulkannya sebagai pengakuan kekalahan OSI baik untuk kebijakan yang mereka ambil terhadap Libia maupun Korea Demokratis. Kaum Marxis-Leninis dapat mengedepankan kritik atas pemerintah Kadhafi yang menanggalkan program senjata nuklir saat menghadapi tekanan berat dari Barat, tetapi itu berarti pilihan Kim Jong-Il untuk terus mengejar senjata nuklir tak pelak lagi adalah pada jalan yang benar. Daley menuangkannya seperti ini:

Tapi sebaliknya, Kadhafi tergoda oleh sirene lagu Barat. Tinggalkan senjata pemusnah massal Anda, kata mereka, dan kami akan menyambut kalian ke dalam komunitas internasional. Libia pun  melakukannya, pada akhir 2003.

Dan dalam retrospeksi (mengenang kembaliRed), ujar pejabat Korut, sekarang menjadi jelas bahwa itu tak lain adalah “taktik invasi untuk melucuti negara” oleh pihak Barat. Karena begitu Kadhafi yang terlepas dari gigitan berbisa (defanged—Red) lalu bertindak yang tidak disenangi para penguasa Barat, menggemuruhlah  godam militer yang kuat dari negara-negara maju datang menimpa dirinya. (8)

Kegagalan OSI untuk mengedepankan segala macam sanggahan—atau kegagalan menyebutkan apapun tentang masalah nuklir—sekali lagi memerlihatkan pemahaman OSI yang non-materialis atas sosialisme, baik secara teori maupun praktik.

Massa yang mencurahkan kesedihan setelah kabar kematian Kim Jong-Il

Massa yang Berkabung di RDRK

Pusat dari serangan OSI atas posisi kaum Marxis-Leninis terhadap RDRK, adalah kritik mereka yang kerap disebut ‘kultus individu’ sekeliling Kim Jong-Il. Whitehouse menuliskannya seperti ini:

Adalah benar bahwa ritual bangsa Korea—dalam hal ini, kehidupan sehari-hari orang-orang Korea—secara emosional lebih ekpresif ketimbang orang Tionghoa atau Jepang. Tapi adalah hal yang lain lagi untuk mengatakan bahwa itu semata “tradisional” saat ratusan ribu rakyat dikumpulkan dalam cuaca dingin membeku untuk meratapi kematian pemimpin negara dalam bayang-bayang monumen, dan foto-foto yang menggambarkan mereka 10 atau 100 kali lipat ukuran sesungguhnya.

Tampaknya itu “sudah diatur”. Dan bagaimana dengan para serdadu bersama senjata mereka yang berbaris membentuk kolom-kolom masif—bukankah mereka harus berlatih?(4)    

Tak pelak lagi, dengan mengesampingkan setiap bantahan serius terhadap artikel Fight Back! News, justru kaum Marxis-Leninis dituturkan banyak tentang bagaimana tersusunnya garis politik  OSI. Menyikapi tuduhan bahwa tampilan massa yang berduka itu “disandiwarakan” oleh Tentara Rakyat Korea (TRK), artikel Fight Back! diawali dengan sebuah anekdot di sebuah restoran Korea di Beijing, nun jauh dari mata TRK. Saya akan mengutip anekdot itu secara lengkap sebagai ilustrasi kekontrasan itu.

Pagi, 19 Desember, dimulai seperti normalnya hari Senin bagi karyawan Korea di restoran Hae Dang Hwa  di Beijing. Penyambut tamu, menyapa para pelanggan yang sudah keroncongan di pintu masuk, para koki mulai menyiapkan pilihan terbaik mereka untuk kimchi serta masakan Korean lainnya, lalu para pramusaji perempuan maupun lelaki mulai mencatat order para tetamu. Semuanya itu berubah, ketika reporter China Daily menyebutkan dalam pembicaraan dengan seorang pramusaji bahwa Kim Jong-Il, kepala pemerintahan Republik Demokratis Rakyat Korea (RDRK), meninggal dunia pagi tadi akibat serangan jantung. Hanya beberapa menit, seluruh karyawan Korea itu—dari pramusaji sampai para koki di dapur—larut dalam cucuran air mata, dan setelah meminta maaf kepada para pelanggan, menutup restorannya lebih awal agar mereka bisa ikut berkabung bersama dalam tragedi nasional.

Massa berduka seperti yang terjadi di restoran di Bejing, sekian ribu km jauhnya dari ibukota Pyongyang, kini melanda ibukota, para lelaki, perempuan, dan anak-anak—dari pejabat partai yang paling terhormat sampai para buruh pabrik baja—turun ke jalan-jalan meratapai kematian Kim. (1)

Hal ini merupakan ketidaknyamanan luar biasa bagi citra yang OSI ingin lukiskan. Pada satu pihak, tidak masuk akal bahwa tentara sekalipun bisa memaksa seluruh bangsa nyaris kompak untuk meratap-ratap dan pagelaran kesedihan itu dilansir secara umum. Lamun, di lain pihak, anekdot restoran yang terjadi di Beijing itu justru bagaikan tusukan ke dalam lubang besar klaimnya Whitehouse (baca: begitu mudahnya “lubang-lubang” klaim Whitehouse ditemukan dan dimentahkan—Red), lantaran para pegawai restoran ini—menanggapi kedukaaan itu dengan menutup lebih awal rumah makan mereka—tidak bakal mendapat reaksi (baca: ancaman dari pemerintah RDRK—Red) berhubung mereka tidak menggelar kesedihan di tempat kerjanya.

Whitehouse menyerang OSJK yang menggunakan sebuah konfigurasi ulang menyedihkan dalam argumen-argumen pada artikel Fight Back! News, menjadikan Whitehouse seseorang yang hanya dapat dikelompokkan sebagai antek paling culas. Whitehouse yang semestinya melibatkan argumen Fight Back! News, malah menulis ulang argumen dimaksud untuk membuat anekdot seperti disinggung diatas tampak seperti sebuah bukti “untuk mengesahkan mandat demokrasi dari sebuah rezim yang bagi siapa pun terlihat sebagai sebuah otokrasi.” (4)

Sementara artikel Fight Back! News, seperti halnya penulis sendiri, setuju bahwa sosialisme Korea adalah sangat demokratis, paragraf terakhir artikel tersebut mengungkapkan argumen utama risalah ini:

“Mengapa orang-orang Korea meratapi kematian Kim Jong-Il? Itu lantaran pembangkangan beliau yang gagah berani atas dominasi Amerika, komitmennya terhadap reunifikasi, serta keberhasilan nyata sosialisme. Dalam menghadapi mereka yang berperang untuk eksploitasi dan penindasan, keputusan Kim mewakili aspirasi  para pekerja, kaum petani, perempuan, dan anak-anak Korea—bangsa Korea bersatu—untuk kebebasan. Walaupun Kim telah meninggal, rakyat Korea akan terus berbaris maju sambil mengibarkan panji-panji: reunifikasi nasional, penentuan nasib sendiri, dan revolusi.” (1)   

Jauh dari sekadar ‘pengesahan mandat demokrasi’ RDRK, curahan kesedihan massal oleh rakyat Korea menunjukkan pemahaman yang luas atas pencapaian sosialisme Korea dan perjuangan tak kenal lelah bagi runifikasi nasional.

Sistem pidana rehabilitatif Korea Demokratis

Gulag Korea Utara?

Yang pokok dari anti-komunisme OSI adalah ketergantungannya kuat pada sumber-sumber borjuis yang telah membuktikan dirinya sendiri tidak mampu bertahan terhadap telaah saksama kaum materialis yang paling mendasar sekalipun. Sebagai contoh, Whitehouse menyerang artikel Fight Back! News dengan mengatakan bahwa tajuk “ ‘Korean stand strong,’ mereka mengacu pada kekuatan negara. Negara yang sama yang menahan 200.000 tahanan politik, menurut Amnesti Internasional. Negara yang sama yang menembak mati tiga warga negara Korea Utara dalam upaya mereka melintasi perbatasan dengan Tiongkok akhir Desember.” (4)

Penyelidikan lebih mendasar atas sistem penjara Korea di utara—disebut ‘gulag’ oleh kaum borjuis  dan juga oleh OSI—ironisnya datang dari sejarawan borjuis Bruce Cummings. Dalam bukunya pada 2004, North Korea: Another Country, ia mencacat bahwa klaim tentang sistem pidana Korea terlalu berlebihan. Misalnya, ia menyebutkan, “Para kriminal biasa yang melakukan tidak pidana kecil dan yang kelas teri [sic] dipahami secara keliru atas kedudukan mereka di dalam family state di mana yang melakukan pelanggaran politik ringan dikirim ke kamp-kamp kerja atau tambang-tambang untuk bekerja keras (dalam jangka waktu—Red) bervariasi sesuai masa tahanan,” tujuannya untuk, “mereedukasi mereka.” (3) Hal ini mencerminkan sebuah pemahaman materialis terhadap akar dari kriminal, yang timbul sebagian besar dari syarat-syarat material dan ide-ide keliru seseorang, yang dapat diubah melalui perubahan syarat-syarat seseorang. Penting untuk dicatat bahwa sebagian besar kejahatan dalam sistem pidana Korea termasuk dalam katagori ini dan dengan demikian tujuannya adalah untuk merehabilitasi dan mereedukasi, yang berlawanan dengan tujuan penghukuman dalam sistem pidana Amerika.

Cummings mencatat kontras antara sistem peradilan kriminal Korea dengan Amerika Serikat, terutama dalam hal hubungan dan dukungan keluarga terpidana. Ia menulis:

“Akuarium** Pyongyang adalah cerita menarik dan dapat dipercaya, justru karena secara keseluruhan bukanlah, seperti yang dipahami semula oleh  para penerbit Prancis: kisah menakutkan dari penindasan negara totaliter; melainkan hal itu menunjukkan bahwa satu dasawarsa penahanan terpidana bersama salah seorang anggota keluarga terdekat, terlangsungkan kehidupannya dan tidak ada halangan sama sekali untuk memasuki status elite warga Pyongyang serta memasuki perguruan tinggi. Sementara kita memiliki gulag-berlangsung-lama, tak-berkesudahan dipenuhi orang-orang berkulit hitam dalam penjara-penjara kita, mencapai 25 persen penahanan, seluruhnya anak-anak muda berkulit hitam. (3)

Fakta bahwa waktu dalam sistem pidana Korea tidak mengakibatkan hukuman sosial seperti yang terjadi di negara-negara kapitalis, mencerminkan hal kontras yang mencolok dengan sistem pidana kapitalis. Menggunakan salah seorang anggota keluarga sebagai sebuah jaringan pendukung, negara mendorong reedukasi politik dan membuka kesempatan bagi para narapidana yang telah terehabilitasi untuk memasuki kembali masyarakat Korea sebagai warga negara penuh.

Di dalam dan dari artikel-serangan Whitehouse itu sendiri terhadap sosialisme Korea adalah tidak layak lebar-pita (bandwidth: besarnya lalu-lintas data dalam bit per second—Red) yang diambilnya, karena tulisan itu tidaklah berisi argumen-argumen serius melawan artikel Fight Back! News yang diharapkan untuk dibidas (ditanggapi—Red). Tapi bagaimana pun, artikel-serangan tersebut tetap penting bagi kaum Marxis-Leninis, untuk melawan OSI yang unik dan campuran kiri-antikomunis mengganggu itu ketika ia muncul, dan untuk membela pencapaian rakyat Korea.

Terlepas dari berbagai tantangan dan kelemahannya, Korea Demokratis adalah salah satu dari negara-negara yang masih tersisa di mana para pekerjanya dapat mengendalikan masyarakat secara kolektif sebagai sebuah kelas. Sebagai salah satu negara yang bertahan menyusul kejatuhan Uni Soviet, kaum Marxis-Leninis harus memelajari dan belajar dari ketegaran rakyat Korea.

Dirgahayu revolusi Korea!

Jangan menggapil RDRK!

Satu Korea!       

 

(Daftar acuan tidak dibahasaindonesiakan—Red)

(1) “Korea stands strong: Kim Jong-Il in context,” Fight Back! News, December 21, 2011, http://bit.ly/uLybSH

(2) Josef Stalin, Marxism & the National Question, “1. The Nation,” 1913, http://bit.ly/tQjf1l

(3) Bruce Cumings, North Korea: Another Country, The New Press, New York, 2004.

(4) David Whitehouse, “Socialism in one dynasty,” Socialist Worker, January 12, 2011, http://bit.ly/ysT2e1

(5) “Where We Stand,” The International Socialist Organization, Socialist Worker, http://bit.ly/y4ht0W

(6) Ahmed Shawki, “China: Deng’s Legacy,” International Socialist Review, Issue 2, Fall 1997, http://bit.ly/xapFEV

(7) Dianne E. Rennack, “North Korea: Economic Sanctions,” Congressional Research Service, January 24, 2003, http://bit.ly/vpv9NO

(8) Tad Daley, “Nuclear lesson from Libya: Don’t be like Qaddafi. Be like Kim,”The Christian Science Monitor, October 13, 2011, http://bit.ly/w1wO00

(9) Stephen Gowans, “US Ultimately to Blame for Korean Skirmishes in the Yellow Sea,” what’s left, December 5, 2010, http://bit.ly/xnID99

(10) Socialist Worker, September 1991; Quoted by Workers Vanguard, No. 866, March 17, 2006, “Parliamentary Cretinism ISO Goes All the Way with Capitalist Greens,” http://www.icl-fi.org/english/wv/866/isogreen.html

(11) Socialist Worker, editorial, March 9, 2011, “The US is no friend to the Libyan uprising,” http://socialistworker.org/2011/03/09/no-friend-to-libyan-uprising

(12) Alan Maass, Lance Selfa, “Washington celebrates Qaddafi’s death,” Socialist Worker, October 24, 2011, http://bit.ly/z8Df7r

(13) Ellen Brun, Jacques Hersh, Socialist Korea: A Case Study in the Strategy of Economic Development, 1976, Monthly Review Press, New York and London

(14) Stephen Gowans, “Understanding North Korea,” what’s left, November 5, 2006, http://bit.ly/AyDa8q

ooOoo

Catatan Redaksi

*38th parallel adalah garis perbatasan antara kedua Korea, sekitar 38º lintang utara. Batas yang sudah dikenal sejak 1896 ketika Rusia berusaha menarik Korea. Dan sejak malam 10-11 Agustus 1945, menyusul menyerahnya Jepang, tepatnya empat hari sebelum terbaginya Korea oleh AS, 38th parallel diresmikan oleh pemerintahan di Washington. (Sumber: wikipedia.org)

**Antonio Gramsci membandingkan sel penjara dengan akuarium, dalam bukunya Prison Notebooks Volume 1, Columbia University Press,1991, hlm 13, klik ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s