Pembunuhan Massal di Houla.

Oleh Stephen Gowans.

 

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita dari risalah Stephen Gowans bertajuk The Houla Massacre  termuat di blognya what’s left beralamat http://gowans.wordpress.com/2012/05/30/the-houla-massacre/

Mengacu risalah dimaksud di blognya kamerad BJ Murphy The Prison gate are open … beralamat http://redantliberationarmy.wordpress.com/2012/05/31/syria-the-houla-massacre/

.

Pemakaman massal 108 warga sipil yang terbunuh di Houla (gambar dan teks: BJ Murphy)

Tentara pemerintah Suriah mungkin atau tidak mungkin bertanggung jawab atas pembunuhan 108 warga sipil di Houla. Laporan saksi mata mengarah pada para milisi yang bisa jadi telah bertindak secara independen dari pemerintah Suriah. Sebuah laporan menggambarkan pembunuhan itu sebagai pembalasan serangan pemberontak sektarian atas sebuah desa Alawit. Semuanya sama, tidak ada laporan saksi mata yang telah diverifikasi secara independen. Peristiwa yang, dalam istilah seorang monitor PBB, “kelam” (murky—Red).

Bagaimana pun, pemerintah AS, telah terlampau jauh melebihi bukti dalam menyalahkan pemerintah Suriah untuk kekejaman tersebut, sebuah serangan humas (hubungan masyarakat/public relations assault; cetak tebal dari kami—Red) yang tak tahu malu dan munafik atas Suriah. Dipandang dari serial pembunuhan massal ratusan warga sipil Pakistan dan Afghanistan termasuk anak-anak oleh serangan pesawat tak berawak AS, pemerintah AS tidak memiliki kredibilitas sebagai pihak yang mau menang sendiri dan tak bersalah.

Menilik konflik tersebut dengan mengacu pada sasaran kebijakan luar negeri AS, dan tujuan-tujuan para pihak lainnya, ada kemungkinan bahwa para penentang pemerintah Assad tergantung pada konflik bersenjata dan melengkapi eksploitasi peluang-peluang humas atas konflik, untuk memenuhi sasaran mereka penggantian rezim.

Di pihak lain, Damaskus memiliki keuntungan lebih banyak dengan menerapkan modus vivende (penyelesaian sementara menjelang suatu pertikaian diselesaikan—Red/Badudu, 2005) dengan oposisi internalnya ketimbang mencoba untuk memenangkan perang terbuka dengan para pemberontak bersenjata yang mendapat dukungan diplomatik dan sumber-sumber daya materiil yang hebat dari Amerika Serikat dan negara-negara Teluk petro-monarki kaya.

Sasaran

Dalam konflik Suriah, sasarannya:

● Arab Saudi, Qatar dan negara-negara lainnya yang tergabung dalam Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Co-operation Council/GCC; total 6 negara dengan: Bahrain, Kuwait, Oman, Uni Emirat Arab; simak hlm 18a atau klik ini—Red) petro-monarki Suni, adalah untuk menggantikan negara Suriah yang didominasi Alawit dengan sebuah kepemimpinan Suni;

● Amerika Serikat dan sekutu Baratnya memaksakan persekutuan-Rusia, pendukung Iran, pembeking ekonomi Hesbulah, dan rezim kaum Baathis Suriah nasionalis Arab untuk melepaskan kendali atas negara Suriah. Akhirnya, Washington ingin melihat sebuah rezim satelit di Damaskus yang mengusir Rusia dari pangkalan angkatan laut di Mediterania, memutuskan hubungan dengan Iran, memotong dukungan atas Hesbulah, menerima aneksasi (penyerobotan, pencaplokan—Red) Israel atas Dataran Tinggi Golan dan membuka ekonominya bagi perusahaan-perusahaan dan para investor AS. Apakah Washington dapat mewujudkan seluruh ambisi ini, tidaklah jelas, lamun (namun) mereka tampaknya menjadikan ambisi negara AS mencakup:

● Kaum Islamis Suni dan Al-Qaeda adalah untuk menggulingkan pemerintah Assad yang mereka anggap bervariasi sebagai “ateis” dan “sesat”.

● Oposisi di pengasingan dan Tentara Pembebasan Suriah (Free Syrian Army—Red) adalah untuk menggantikan Assad sebagai penguasa lokal yang meminang beking AS dengan menyatakan komitmen terhadap kepentingan-kepentingan Wall Street dan Departemen Luar Negeri.

● Pemerintah Baathis Suriah adalah untuk bertahan hidup menghadapi oposisi yang ditetakkan (ditentukan, ditetapkan—Red/Endarmoko, 2006) dan dengan sejumlah kecil sekutu-sekutu.

Dipandang dari sasaran-sasaran ini, sangatlah tidak mungkin bahwa pasukan oposisi dijajarkan untuk melawan pemerintah Suriah yang berkomitmen secara tulus atas rencana perdamaian Anan. Pasalnya, rencana tersebut berupaya menemukan sebuah akomodasi antara pemerintah Suriah dan oposisi internalnya tanpa menuntut pembubaran pemerintah, hal yang gagal untuk memuaskan tujuan oposisi: perubahan rezim.

Lamun, rencana itu menjanjikan sebuah jalan setapak bagi maksud pemerintah Suriah untuk kelangsungan hidup politiknya, karenanya itulah Damaskus, dari semua pihak yang dijelaskan di atas, cenderung memiliki komitmen terbesar untuk membuat rencana tersebut terlaksana.

Di pihak lain, oposisi yang berkomitmen menggulingkan Assad dan tidak akomodatif dengan Assad sangat mungkin menggandrungi komitmen retoris (komitmen bersifat keterampilan berbahasa secara efektif; sederhananya komitmen “omong doang”—Red/KBBI, 1999) dari rencana itu, seraya terus mengejar tujuan perubahan rezim melalui perlawanan bersenjata mengandalkan sokongan materiil, diplomatik, dan moral dari AS dan para sekutunya.

Hal ini mendorong Damaskus menuju dilema telur di atas tanduk (horns of dilemma—Red). Jika mereka gagal membidas (merespons—Red/Endarmoko, 2006) serangan para oposisi hal itu menempatkan Damaskus pada kelangsungan hidup yang berisiko. Jika berhasil membidasnya, mereka dituduh melanggar rencana perdamaian itu.

Houla

Kekejaman yang menjadi kebiasaan terlebih di dalam perang, sangat mungkin ada satu hal yang akhirnya akan muncul bahwa Washington dan Eropa dapat memetik keuntungan. Menyalahkan dengan menekankan kekejaman pemerintah Suriah akan memungkinkan Washington untuk meningkatkan tekanan pada kaum Baathis, memermalukan para pendukung mereka (kaum Baathis—Red) berujung penarikan atau pelemahan dukungan, serta penguatan beking publik dalam hal peningkatan intervensi di Suriah.

Peristiwa seputar pembantaian massal di Houla adalah, dalam istilah pemantau PBB,”kelam”, dan identitas mereka yang melakukan pembunuhan 108 warga sipil, kebanyakan dari jarak dekat, tetap tidak jelas. Testimoni para saksi, tidak ada yang telah diverifikasi secara independen, menunjuk hidung “para militant pro pemerintah” sebagai bromocorah (culprit/orang yang telah melakukan kejahatan—Red/Echols-Shadily, 2005) yang dapat diartikan adalah orang-orang bersenjata dari sektarian yang diorganisasi dengan longgar bertindak secara independen dari Damaskus. Seorang saksi menuturkan pada The Wall Street Journal bahwa “serangan tersebut … bisa jadi untuk membalas serangan pemberontak di dekat desa Alawit sehari sebelumnya.” [1]

Sementara tentara Suriah terlibat dalam pertempuran dengan pemberontak bersenjata di daerah itu, pemantau PBB menemukan bahwa kurang dari 20 orang terbunuh oleh arteleri pemerintah. [2] Dan “pemberontak bersenjata”, menurut The Wall Street Journal, “mengakui melakukan perlawanan sengit terhadap pasukan pemerintah … ketimbang klaim (mereka—Red) mula-mula. Bahwa pertempuran tampaknya membuat pemerintah dipersalahkan lantaran berondongan artelerinya.” [3]

Biarpun ”kekelaman” peristiwa itu dan bukti bahwa kemungkinan terkait dengan orang-orang bersenjata Alawit yang membalas serangan sektarian sebelumnya, Washington menyalahkan pembunuhan massal itu langsung pada Damaskus, berbarengan memaksakan diri (sequeezing—Red) dalam mengutuk Iran. Juru bicara Departemen Luar Negeri Victor Nuland menyebut peristiwa Houla sebagai sebuah “pembunuhan massal yang sama sekali tidak bisa dibela, keji, tercela terhadap anak-anak tak berdosa, perempuan-perempuan, ditembak jarak dekat (shot at point blank range­­–Red) oleh para preman rezim,” mengimbuh bahwa para perpetrasi (perpetrator, pelaku kejahatan—Red/Echols-Shadily, 2005/Badudu, 2005) “dibantu dan bersekongkol dengan orang-orang Iran, yang senyatanya menemberang  (membual—Red/Endarmoko, 2006) tentang hal itu selama akhir pekan.” [4]

Apa yang senyatanya dilakukan orang-orang Iran adalah menunjukkan bahwa mereka telah memberikan bantuan militer kepada Suriah, apa yang AS dan negara-negara monarki Teluk berikan kepada para pemberontak yang berupaya menggulingkan pemerintah Assad.

Baik Nuland maupun sesama kompatriot (teman setanah air—Red/Badudu, 2005) para praktisi seni Goebbels (Menteri Propaganda era Nazi Jerman yang beken oleh ketekunannya dalam antisemitisme/Yahudi—Red/Wikipedia) telah bekerja sampai mereka sendiri jengkel atas terbunuhnya 175 anak dan 828 penduduk sipil oleh serangan pesawat tak berawak AS di Pakistan sejak 2004 [5]—yang sama sekali tidak bisa dibela, keji, pembunuhan tercela terhadap anak-anak tak berdosa, perempuan-perempuan, dibunuh pada jarak aman dari sebuah gudang di Nevada oleh para preman rezim AS yang membidikkan joy-stick komputer. Dan dalam kasus pembunuhan-pembunuhan ini tidak ada kekelaman tentang siapa pembunuh senyatanya.

Kekejaman AS tidak mengurangi pembunuhan massal Houla maupun memaafkan pemerintah Suriah bila mereka terlibat. Pembunuhan itu memang tidak dapat dibela, keji, dan tercela. Lamun ada dua poin di sini.

Tidak seperti kasus dengan jumlah yang jauh lebih besar dari warga sipil yang diberondong bertubi-tubi oleh AS, tidak jelas apakah pemerintah Suriah terlibat dalam pembunuhan  di Houla. Mungkin saja. Lamun bukti itu sangat tidak meyakinkan dan poinnya sama kuatnya dengan para perpetrasi yang bertindak independen dari pemerintah.

Rekam jejak AS dipenuhi dengan pembunuhan anak-anak tak berdosa dan perempuan-perempuan oleh tentara AS, yang tidak bisa dibela, keji, tercela—dalam skala yang jauh lebih besar ketimbang yang terjadi di Houla. Apakah ada bukti kuat Damaskus sebagai pemicu, kutukan Washington atas pemerintah Assad akan menjadi nyata: kemunafikan. Lamun dengan tidak adanya bukti dimaksud, Washington yang berbagi pikulan kesalahan atas kekejaman tersebut dengan pemerintah Suriah, bukan saja munafik lamun politik terang-terangan—berondongan perang lain lagi yang mewalakkan (menempatkan—Red/Endarmoko, 2006) Washington lebih kuat lagi di kursi sopir di Suriah.

(Daftar acuan tidak dibahasaindonesiakan—Red)

1. Nour Malas and Jay Solomon, “Syria crisis deepens divisions”, The Wall Street Journal, May 29, 2012.

2. Nour Malas and Joe Lauria, “Western nations expel Syrian diplomats”, The Wall Street Journal, May 29, 2012.

3. Malas and Solomon

4. Malas and Lauria

5. “Obama terror drones: CIA tactics in Pakistan include targeting rescuers and funerals”, The Bureau of Investigative Journalism, http://www.thebureauinvestigates.com/ February 4, 2012 cited in Seumas Milne, “America’s murderous drone campaign is fuelling terror”, The Guardian (UK), May 29, 2012.

Catatan Redaksi Dasar Kita

Alinea baru maupun indent yang tidak sesuai risalah asli, adalah dari Redaksi tanpa menyentuh isi sama sekali, semata untuk membantu pembaca di layar monitor.

KBBI, 1999: Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua, Balai Pustaka, Cetakan Kesepuluh, Jakarta, 1999.

Echols-Shadily, 2005: Kamus Inggris-Indonesia, John M. Echols dan Hassan Shadily, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2005.

Badudu, 2005: Kamus Kata-Kata Serapan Asing Dalam Bahasa Indonesia, J.S. Badudu, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2005.

Endarmoko, 2006: Tesaurus Bahasa Indonesia, Eko Endarmoko, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2006

One response »

  1. Fantastic goods from you, man. I have understand your stuff previous to and you are just too fantastic. I really like what you have acquired here, really like what you’re saying and the way in which you say it.

    You make it enjoyable and you still care for to keep it smart. I can’t wait to read much more from you. This is really a great website.

    Redaksi Dasar Kita

    Terima kasih Bung Benjamin Schwartz dari situs “Religion y Sociedad”, telah mampir dan meninggalkan komentar positif.

    Mohon maaf, kami menanggapi dalam Bahasa Indonesia, sebuah cara yang tentunya tidak begitu menyenangkan. Tetapi kami memiliki kendala yang lebih besar lagi ketika (akan) menulis dalam Bahasa Inggris ketimbang menerjemahkan dari Bahasa Inggris ke Bahasa kami. Dengan harapan–dan terima kasih–“Google translate” dapat membantu kami.

    Situs Bung Schwartz kalau kami tidak salah dalam Bahasa Spanyol. Namun dari hlm “Contacto” mengertilah kami sedikit banyak tentang Common Ground Publishing, University of Illinois, IL, Amerika Serikat.

    Apakah kami bisa dikirimkan atau berlangganan situs “Religion y Sociedad” dalam Bahasa Inggris?

    Sekali lagi terima kasih.

    Salam hangat.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s