Marxisme dan Revisionisme.

Oleh VI Lenin.

.

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita

dari

Marxism and Revisionism.

Written: Written not later than April 3 (16), 1908
Published: Published in 1908 in the symposium Karl Marx—1818-1883. Signed: Vl. Ilyin. Published according to the symposium.
Source: Lenin Collected Works, Progress Publishers, 1973, Moscow, Volume 15, pages 29-39.
Translated:
Transcription: Zodiac
HTML Markup: B. Baggins and D. Walters
Public Domain: Lenin Internet Archive marx.org 1996; marxists.org 1999 (1996). You may freely copy, distribute, display and perform this work; as well as make derivative and commercial works. Please credit “Marxists Internet Archive” as your source.
——————-

.

.

Ada sebuah ungkapan kondang bahwa jika aksioma geometris memengaruhi kepentingan manusia, upaya-upaya untuk menyangkalnya pasti akan dibuat. 

(Cetak tebal dan peletakkan  alinea pertama ini di senter lalu menjadi subjudul adalah oleh kami–Red)

Teori sejarah alam (theory of natural history–Red), yang berkonflik dengan prasangka-prasangka lama teologi, memprovokasi dan masih memprovokasi oposisi yang paling fanatik.

Tidak heran, karena itu doktrin Marxian (doktrin yang menggunakan analisis/pendekatan teorinya Karl Marx—Red), yang secara langsung berfungsi mencerahkan dan mengorganisasi kelas termaju dalam masyarakat modern, mengindikasikan tugas-tugas tersebut yang dihadapi kelas ini serta menampilkan penggantian tak terelakkan (berdasarkan pengembangan ekonomi) dari sistem saat ini dengan sebuah tatanan baru—tidak heran, doktrin ini harus berjuang untuk setiap langkah maju dalam perjalanan hidupnya.

(… Marxisme sama sekali tidak terkonsolidasi posisinya dalam sekali jadi–Red)

Lamun bahkan di antara doktrin-doktrin yang bertalian dengan perjuangan kelas pekerja, dan terutama saat ini di antara kaum proletar, Marxisme sama sekali tidak terkonsolidasi posisinya dalam sekali jadi.

Pada setengah-abad pertama dari kehadirannya (dari 1840-an) Marxisme terlibat dalam melawan teori-teori yang secara mendasar memusuhinya.

Pada awal tahun 40-an itu Marx dan Engels menyelesaikan dengan kaum Hegel Muda radikal yang sudut pandangnya adalah filosofis idealisme.

Pada akhir tahun 40-an pertarungan dimulai dalam arena doktrin ekonomi, melawan Proudhounisme.

Pada tahun 50-an tampak penyelesaian pertarungan ini dalam kecaman atas partai-partai dan doktrin-doktrin yang termanifestasikan dalam diri mereka sendiri pada tahun yang menghebohkan itu, 1848 (tahun dilansirnya Manifesto Partai Komunis—Red).

Pada tahun 60-an pertarungan bergeser dari arena teori umum ke salah satu yang terdekat dengan gerakan buruh langsung: penolakan Bakuninisme dari Internasional.

Pada awal tahun 70-an panggung di Jerman diduduki sesaat oleh kaum Proudhon Mühlberger, dan pada akhir tahun 70-an oleh kaum Positif Dühring. Lamun pengaruh keduanya atas kaum proletar sangat tidak signifikan.

Marxisme telah meraih kemenangan yang tak diragukan lagi atas seluruh ideologi-ideologi lainnya dalam gerakan buruh.

Dalam tahun 90-an kemenangan ini genaplah sudah.

Bahkan di negeri-negeri Latin (Latin countries—Red), di mana tradisi Proudhonisme yang paling lama berkacak pada asas mereka dari semuanya, berdampak pada partai-partai pekerja yang membangun program dan taktik mereka atas dasar Marxisme.

Penyegaran kembali organisasi internasional gerakan buruh—dalam bentuk kongres internasional berkala—sejak awal, dan nyaris tanpa pertarungan, mengadopsi pandangan Marxis pada seluruh hal-hal hakiki.

(… setelah Marxisme berhasil … suatu tren memusuhi Marxisme di dalam Marxisme itu sendiri–Red)

Lamun, setelah Marxisme berhasil menghalau seluruh, lebih kurangnya doktrin-doktrin utuh itu, yang memusuhinya, kecenderungan-kecenderungan mengekspresikan doktrin-doktrin tersebut mulai mencari saluran-saluran lain. Dan pada setengah-abad kedua dari eksistensi Marxisme, dimulai (pada tahun 90-an) dengan pertarungan atas suatu tren memusuhi Marxisme di dalam Marxisme itu sendiri.

Bernstein, seorang mantan Marxis ortodoks , namanya diberikan pada tren ini, yang datang mengemuka dengan ekspresi sangat bising dan dengan maksud-maksud sangat berpamrih atas amendemen terhadap Marx, revisi atas Marx, revisionisme.

Bahkan di Rusia di mana—berhutang pada terbelakangnya ekonomi negara dan populasi kaum tani berlebihan yang membebani peninggalan dari para hamba budak pengelola tanah—sosialisme non-Marxis yang secara alamiah berkacak (berpegang–Red/Endarmoko, 2006) pada asasnya lebih lama dari semuanya dengan enteng melintas ke dalam revisionisme sebelum kita melek.

Keduanya, dalam persoalan agraria (program-program ketataprajaan [municipalisation–Red] seluruh tanah) dan dalam persoalan-persoalan umum program serta taktik, kaum Sosial-Narodnik kita, makin dan makin mensubstitusi “amendemen-amendemen” atas Marx untuk sisa-sisa sistem kuno mereka yang sekarat dan lungsuran (pakaian bekas [barang lama dan sebagainya]–Red/KBBI, 1999), yang dengan caranya sendiri utuh dan secara mendasar memusuhi Marxisme.

Sosialisme pra-Marxis takluk.

(Marilah kita telaah isi ideologi dari revisionisme–Red)

Pertarungan berlanjut tidak lagi pada asasnya yang independen, lamun pada dasar umum Marxisme, sebagai revisionisme. Marilah kita telaah isi ideologi dari revisionisme.

Dalam dunia filsafat, revisionisme mengikuti di belakang “ilmu” profesoral (tergolong dalam kalangan guru besar—Red/Badudu, 2005) borjuis.

Para profesor itu “kembali pada Kant”—dan revisionisme terseret menyusul neo-Kantian. Profesor-profesor itu mengulangi bualan bahwa para imam telah ribuan kali melawan filosofis materialisme—dan kaum revisionis, tersenyum  ramah, berkomat-kamit (kata demi kata dari handbuch [Inggris: handbook—Red] terakhir) bahwa materialisme telah “ditolak” sejak lama.

Para profesor itu memerlakukan Hegel seperti seekor “anjing mati”, [2] dan sementara mereka sendiri berkotbah tentang idealisme, (tapi—Red) hanya idealisme yang seribu kali lebih picik dan dangkal dari Hegel, mencemooh sambil mengangkat bahu mereka terhadap dialektika—dan kaum revisionis menggelepar-gelepar di belakang mereka (para profesor itu—Red) dalam lumpur vulgarisasi filsafat ilmu pengetahuan, menggantikan dialektika yang “licik” (dan revolusioner) dengan “evolusi” yang “sederhana” (dan sentosa).

Para profesor itu mendapatkan gaji resmi mereka dengan menyesuaikan baik sistem idealis maupun sistem “kritik” mereka dengan “filsafat” abad pertengahan yang dominan (semisal teologia)—dan kaum revisionis mendekat pada mereka, berupaya menjadikan agama sebuah “urusan pribadi”, bukan dalam hubungannya dengan negara modern, lamun dalam hubungannya dengan partai dari kelas yang sudah maju (advanced class—Red).

Apa yang sesungguhnya dimaksudkan dengan “amendemen-amendemen” semacam itu atas Marx dalam pengertian kelas, tidak perlu dijelaskan: hal itu sudah terbukti sendiri.

Kita cukup mencatat bahwa satu-satunya Marxis dalam gerakan Sosial-Demokratis internasional yang mengkritik bualan luar biasa kaum revisionis dari sudut pandang dialektika materialisme yang konsisten adalah Plekhanov.

Hal ini harus ditekankan, seluruhnya dengan lebih tegas lantaran upaya-upaya dengan kesalahan mendasar sedang dilakukan saat ini untuk menyelundupkan sampah-sampah filsafat kuno dan reaksioner menyamar sebagai sebuah kritik terhadap taktis Plekhanov yang oportunisme. [1]

(… ekonomi politik … “amendemen-amendemen” kaum revisionis …–Red)

Lompat ke ekonomi politik, pertama-tama harus dicatat bahwa dalam lingkup ini “amendemen-amendemen” kaum revisionis jauh lebih komprehensif dan mendalam, upaya-upaya dilakukan untuk memengaruhi publik dengan “data baru pada pembangunan ekonomi”.

Dikatakan bahwa pemusatan dan pengusiran produksi skala kecil oleh produksi skala besar sama sekali tidak terjadi pada bidang pertanian, sementara hal itu berjalan sangat lamban di bidang perdagangan dan industri.

Dikatakan bahwa krisis kini menjadi jarang dan lemah, dan akan memungkinkan kapital menghilangkan sama sekali kartel dan perwalian (trusts—Red).

Dikatakan bahwa “teori kolaps” ketika kapitalisme yang dituju, bukanlah teori yang kokoh, karena kecenderungan pertentangan kelas menjadi lebih lunak dan kurang akut.

Dikatakan, akhirnya, bahwa tidak akan beres untuk mengoreski teori nilai Marx, juga, sesuai dengan Böhm-Bawerk.[3]

Pertarungan melawan kaum revisionis pada persoalan-persoalan ini membuahkan kebangkitan kembali pemikiran teoritis dalam sosialisme internasional seperti halnya kontroversi Engels dengan Dűhring dua puluh tahun silam.

Argumen-argumen kaum revisionis dianalisis dengan bantuan fakta dan angka. Terbukti bahwa kaum revisionis secara sistematis melukiskan sebuah gambaran  mawar-berwarna (rose-colored bermakna “to convey message without word” / “symbol of confidentially” /  “antara kita sama kita, di bawah empat mata”—Red/http://www.teleflora.com/rose colors.asp; Echols-Shadily, 2005) dari produksi skala kecil modern.

Keunggulan teknis dan komersial dari produksi skala besar atas produksi skala kecil tidak hanya di industri, lamun juga di pertanian, terbukti dengan fakta-fakta tak terbantahkan.

Lamun produksi komoditi jauh kurang berkembang dalam pertanian, dan para ahli statistik dan ekonomi modern, sesuai aturan, sangat tidak terampil dalam memilih cabang-cabang khusus (kadang bahkan pengoperasian) di bidang pertanian yang menunjukkan pertanian secara progresif ditarik ke dalam proses pertukaran pada ekonomi dunia.

Produksi skala kecil memertahankan dirinya pada reruntuhan ekonomi alamiah dengan memburuknya pola makan secara ajek, dengan kelaparan kronis, dengan memerpanjang jam kerja, dengan penurunan pada kualitas dan perawatan peternakan, dalam satu kalimat, dengan metode-metode di mana produksi kerajinan tangan justru memertahankan dirinya sendiri terhadap manufaktur kapitalis.

Setiap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tak terelakkan dan tanpa henti melemahkan fondasi produksi skala kecil dalam masyarakat kapitalis; dan itu menjadi tugas ekonomi politik sosialis untuk menyelidiki proses ini dalam segala bentuknya yang kerap ruwet dan berbelit-belit, serta untuk memerlihatkan pada produsen kecil itu ketidakmungkinan ia menangani usaha miliknya itu dibawah kapitalisme, ketiadaharapan bagi petani peternakan di bawah kapitalisme, dan perlunya bagi petani untuk mengadopsi sudut pandang proletar.

(Pada persoalan ini kaum revisionis telah berdosa, …–Red)

Pada persoalan ini kaum revisionis telah berdosa, dalam pengertian ilmiah, dengan generalisasi dangkal berdasarkan fakta yang dipilih dari satu sisi saja tanpa mengacu pada sistem kapitalisme sebagai suatu keseluruhan.

Dari sudut pandang politik, dosa mereka adalah fakta yang mereka tak bisa hindarkan, suka tidak suka, mereka mengundang atau mendesak kaum tani untuk mengadopsi sikap seorang pemilik kecil (yakni sikap borjuasi) ketimbang mendesak sang petani untuk mengadopsi sudut pandang kaum proletar revolusioner.

Posisi revisionisme malah lebih buruk terkait teori krisis dan teori kolaps. Orang pikir, cukup dalam waktu dan dengan pengamatan sangat singkat, dapat mengubah kembali dasar-dasar teori Marx di bawah pengaruh beberapa tahun ledakan industri dan kemakmuran.

Realitas segera saja membuatnya jelas bagi kaum revisionis, bahwa krisis bukanlah sesuatu dari masa lampau: kemakmuran diikuti oleh krisis. Bentuk, urutan, gambaran krisis tertentu berubah, lamun krisis tetaplah komponen tak terelakkan dari sistem kapitalis.

Sementara menyatukan produksi dengan cara yang jelas bagi semuanya, pada waktu bersamaan para kartel dan perwalian, memerparah anarki produksi, (terjadi—Red) ketidakamanan eksistensi kaum proletar dan penindasan kapital, karena itu mengintensifkan pertentangan kelas pada suatu tahap yang belum ada presedennya. Bahwa kapitalisme sedang menuju pada kerusakan—dalam pengertian baik krisis politik dan ekonomi individu maupun keruntuhan sepenuhnya seluruh sistem kapitalis—telah dibuat sangat jelas, dan pada skala sangat besar, justru oleh perwalian raksasa yang baru (new giant trusts—Red).

(Krisis finansial di Amerika … menghasilkan “teori-teori” terbaru kaum revisionis yang telah dilupakan semua orang …–Red) 

Krisis finansial di Amerika baru-baru ini dan bertambahnya pengangguran yang mengerikan  di seluruh Eropa, untuk tidak mengatakan krisis industri akan terjadi dengan banyaknya gejala-gejala mengarah—semuanya ini menghasilkan “teori-teori” terbaru kaum revisionis yang telah dilupakan semua orang, termasuk, ternyata, banyak dari kaum revisionis itu sendiri.

Lamun ajar di mana ketidakstabilan para jauhari (cendekiawan—Red) ini yang diberikan bagi kelas pekerja tidak boleh dilupakan.

Seperti pada teori nilai, hanya perlu disebut bahwa terpisah dari petunjuk-petunjuk dan desahan napas yang samar, ala Böhm-Bawerk, kaum revisionis tidak berkontribusi sama sekali, karena itu tidak meninggalkan jejak apapun pada perkembangan pemikiran ilmiah.

Dalam bidang politik kaum revisionis itu sungguh-sungguh berupaya untuk merevisi fondasi dari Marxisme, yakni doktrin perjuangan kelas.

Kebebasan politik, demokrasi dan hak pilih universal menghilangkan dasar bagi perjuangan kelas dan membuat tidak benar proposisi lama—yang kita tahu—dari Manifesto (Partai–Red) Komunis bahwa para pekerja tidak punya tanah air (the workingmen have no country–Red/Modern Socialism Edited by Massimo Salvadori, New York, 1968, hlm 120).

Lantaran, kata mereka, “keinginan mayoritas” berlaku dalam demokrasi, tidak seorang pun harus menganggap negara sebagai organ kekuasaan kelas, juga menolak aliansi dengan (kalangan—Red) progresif, kaum borjuasi reformasi sosial yang melawan kaum reaksioner.

Tak dapat dibantah bahwa argumen-argumen kaum revisionis berjumlah cukup seimbang pada suatu sistem cara pandang, yakni pandangan kaum borjuis liberal yang kuno dan terkenal itu.

Kaum liberal selalu mengatakan bahwa parlementarisme borjuis menghancurkan kelas-kelas dan pembagian kelas, berhubung hak untuk memilih dan berpartisipasi dalam pemerintahan negara telah terbagi di antara warga negara tanpa perbedaan.

Seluruh sejarah Eropa pada paruh kedua abad kesembilan belas, dan seluruh sejarah revolusi Rusia pada awal abad keduapuluh, dengan jelas menunjukkan betapa absurdnya pandangan semacam itu.

Perbedaan ekonomi tidak dikurangi lamun diperparah dan diintensifkan di bawah kebebasan kapitalisme “demokratis”.

Parlementarisme tidak menghilangkan, lamun menelanjangi karakter bawaan bahkan dari republik-republik borjuis yang paling demokratis sebagai organ penindasan kelas.

Dengan membantu untuk mencerahkan dan mengorganisasikan massa dari populasi lebih luas yang tak terhingga besarnya dibandingkan mereka yang sebelumnya mengambil bagian aktif dalam peristiwa politik, parlementarisme tidak dibuat untuk mengeliminasi krisis dan revolusi politik, lamun untuk intensifikasi maksimum atas perang sipil selama revolusi itu.

Peristiwa di Paris pada musim semi 1871 (dikenal sebagai Paris Commune—Red) dan kejadian di Rusia pada musim dingin 1905 (dikenal sebagai Revolusi Rusia 1905—Red) menunjukkan dengan sejelas-jelasnya bagaimana intensifikasi ini tak terelakkan terjadi.

Kaum borjuis Perancis tanpa keraguan sedikit pun membuat kesepakatan dengan musuh dari seluruh bangsa, dengan tentara asing yang telah meruntuhkan negaranya, dalam rangka menghancurkan gerakan proletar.

Siapa yang tidak memahami dialetika di dalam parlementarisme dan demokrasi borjuis yang tak terelakkan itu—yang mengarah pada keputusan yang lebih curang lagi dari argumen oleh kekerasan massa dibanding sebelumnya—tidak akan pernah, pada basis parlementarisme ini, dapat mengadakan propaganda dan agitasi yang konsisten secara prinsip, yang sungguh-sungguh memersiapkan massa kelas pekerja meraih kemenangan (dengan—Red) berpartisipasi dalam “argumen-argumen” semacam itu.

Pengalaman dalam aliansi, kesepakatan dan blok dengan kaum liberal sosial-reformsi di Barat dan dengan kaum reformis liberal (para Kadet [Cadets—Red]) pada Revolusi Rusia, telah menunjukkan dengan menyakinkan bahwa kesepakatan-kesepakatan ini hanya menumpulkan kesadaran massa, bahwa mereka (massa—Red) bukan diperkuat lamun diperlemah makna sesungguhnya dari perjuangan mereka, dengan menautkan para pejuang itu pada unsur-unsur yang kurang mampu berjuang serta paling meragukan dan kerang-keroh (sangat curang; treacherous—Red).

Millerandisme di Prancis—percobaan terbesar dalam menerapkan taktis politis kaum revisionis pada skala yang luas dan benar-benar nasional—memberikan sebuah penilaian praktis atas revisionisme yang tak pernah dilupakan oleh kaum proletar di seluruh dunia.

(“Gerakan adalah segala-galanya, tujuan akhir tidak ada sama sekali”…–Red) 

Suatu pelengkap alami terhadap tendensi ekonomi dan politik dari revisionisme adalah sikap mereka terhadap tujuan akhir dari gerakan sosialis. “Gerakan adalah segala-galanya, tujuan akhir tidak ada sama sekali” (The movement is everything, the ultimate aim is nothing–Red)—ini yang ditangkap dari frasa Bernstein yang mengungkapkan substansi revisionisme lebih baik ketimbang banyak diskuisisi (penelaahan, pemeriksaan—Red) yang panjang .

Untuk menentukan perilaku dari kasus ke kasus, untuk mengadaptasi diri dengan peristiwa-peristiwa sepanjang hari, dan untuk menebas dan mengubah politik kecil (petty politics—Red), untuk melupakan kepentingan utama dari kaum proletar dan fitur (ciri—Red) dasar dari keseluruhan sistem kapitalis, dari seluruh evolusi kapitalis, untuk mengorbankan kepentingan-kepentingan utama ini bagi momen keuntungan-keuntungan riil atau diasumsikan—itulah kebijakan revisionisme.

Dan mereka terang-terangan mengikuti sifat sangat mendasar dari kebijakan ini yang dapat berasumsi dengan beragam bentuk tak terbatas, dan yang setiap persoalan lebih atau kurang “baru”, yang setiap giliran peristiwa-peristiwa lebih atau kurang tak terduga dan tak tampak sebelumnya, (dan—Red) sekalipun mereka hanya merubah garis dasar pembangunan ke suatu tingkat tidak signifikan dan hanya untuk suatu periode singkat, akan selalu (saja—Red) tak terelakkan menimbulkan satu atau lebih variasi revisionisme.

Ketidakterelakkan revisionisme ditentukan oleh akar kelasnya dalam masyarakat modern. Revisionisme adalah sebuah fenomena internasional. 

(Cetak tebal dan peletakkan alinea ini di senter lalu menjadi subjudul adalah oleh kami–Red)

Sosialis yang tidak berpikir (sekalipun tapi–Red)  setidaknya terinformasi, memiliki sedikit sekali keraguan, bahwa hubungan antara yang ortodoks dan Bernsteinian di Jerman, kaum Guesdis dan kaum Jaurèsis (dan sekarang khususnya kaum Broussis) di Prancis, Federasi Sosial Demokratis dan Partai Buruh Independen di Inggris, Brouckère dan Vandervelde di Belgia, kaum Integralis dan Reformis di Italia, Bolsheviks dan Mensheviks di Rusia, di mana-mana pada dasarnya adalah serupa, lepas dari keragaman yang luas dari syarat-syarat nasional dan faktor-faktor historis saat ini dari semua negara-negara ini.

Pada kenyataannya, “pembagian” di dalam gerakan sosialis internasional saat ini, sekarang telah berlanjut sepanjang lini-lini yang sama di seluruh aneka ragam negara di dunia, yang menjadi bukti kemajuan luar biasa dibanding dengan tiga puluh atau empat puluh tahun lalu, ketika tren heterogen pada berbagai negara itu berjuang di dalam satu gerakan sosialis internasional.

Dan “revisionisme dari kiri” tersebut yang mengambil bentuk di negeri-negeri Latin sebagai “sindikalisme revolusioner”, [4] juga mengadaptasi diri dengan Marxisme, “mengamendemen”-nya: Labriolla di Italia dan Lagardelle di Prancis yang kerap berseru dari Marx yang dipahami secara salah atas Marx yang dipahami secara benar.

Kita tidak dapat berhenti di sini untuk menganalisis konten ideologi dari revisionisme ini, yang belum jauh dikembangkan pada tingkat yang sama seperti oportunis revisionisme: yang belum menjadi internasional, belum teruji oleh sebuah pertempuran praktis yang besar dengan sebuah partai sosialis di satu negara pun.

Karenanya, kami membatasi diri pada “revisionisme dari kanan” tersebut yang sudah diuraikan di atas.

Di mana terbujur ketidakterelakkannya itu (its inevitability­—Red) dalam masyarakat kapitalis? Mengapa hal itu (ketidakterelakkannya—Red) lebih besar ketimbang perbedaan kunikan nasional dan tingkat perkembangan kapitalis?

Karena dalam setiap negara kapitalis, di situ, bersanding dengan kaum proletar, selalu ada strata yang luas dari kaum borjuis kecil (petty bourgeoisie—Red), para pemilik kecil (small proprietors—Red). Kapitalisme bangkit dan kebangkitannya secara ajek dari produksi kecil (small production—Red).

Sejumlah “strata menengah” baru tak terelakkan terbawa lagi dan lagi ke dalam eksistensinya oleh kapitalisme (bertebaran di seluruh negeri—embel-embel pabrik, bekerja di rumah, bengkel-bengkel kecil—untuk memenuhi kebutuhan industri besar, seperti industri sepeda dan mobil, dll).

Produsen-produsen kecil yang baru ini juga sama tak terelakkannya dicampakkan lagi ke dalam jajaran kaum proletar.

Hal itu betul-betul alamiah bahwa pandangan dunia kaum borjuis kecil harus muncul lagi dan lagi di jajaran partai buruh yang luas. Hal itu betul-betul alamiah bahwa ini harus demikian dan selalu akan demikian, hingga perubahan nasib yang akan berlangung dalam revolusi kaum proletar.

Karena itu akan menjadi kesalahan besar untuk berpikir bahwa proletarianisasi “komplet” (menyeluruh—Red) dari mayoritas populasi adalah penting untuk mewujudkan sebuah revolusi semacam itu.

(Cetak tebal dan peletakkan alinea ini di senter lalu menjadi subjudul adalah oleh kami–Red)

Apa yang sekarang kerap kita alami hanyalah dalam domain ideologi, yakni perselisihan mengenai amendemen teoritis atas Marx; apa yang sekarang muncul dalam praktik hanyalah menyangkut sisi individu isu-isu gerakan buruh, sebagai perbedaan taktis dengan kaum revisionis dan sempalan-sempalan pada basis ini—adalah loncatan untuk berpengalaman oleh kelas pekerja pada suatu skala besar tak terkirakan ketika revolusi proletarian akan memertajam semua isu-isu perselisihan, akan memfokuskan seluruh perbedaan pada butir-butir yang paling segera pentingnya dalam menentukan perilaku massa, dan akan menjadikannya diperlukan dalam semangat pertarungan untuk membedakan musuh dan kawan, dan mencampakkan sekutu yang busuk dalam rangka menangani pukulan menentukan terhadap musuh.

Perjuangan ideologi yang diperangi oleh Marxisme revolusioner melawan revisionisme pada akhir abad kesembilan belas hanyalah prelude atas pertempuran revolusioner akbar dari kaum proletar, yang berbaris maju untuk kemenangan komplet dari penyebabnya terlepas dari semua keragu-raguan dan kelemahan kaum borjuis kecil.

ooOoo

Catatan Redaksi Dasar Kita

Naskah asli dalam bahasa Inggris tersebut, dapat diakses dengan mengklik salah satu saja dari 4 catatan kaki tersebut. 

Alinea-alinea baru dan cetak tebal serta peletakkan di senter alinea-alinea tertentu maupun sub-subjudul adalah dari Redaksi (artinya tidak ada/sesuai di naskah asli Lenin) dengan maksud membantu Pembaca Budiman di layar monitor, tanpa sedikit pun menyentuh isi.

Karenanya, sub-subjudul dimaksud diberi tanda kurung buka dan tutup dilengkapi notasi “Red”; kalimat-kalimatnya pun terambil dari risalah Lenin itu sendiri.

Lamun, yang tidak diberi kurung buka dan tutup adalah kutipan utuh alinea (dalam urutan/bagian  tulisan Lenin itu) yang lalu dijadikan  subjudul, dan diberi catatan oleh kami.

Terkait:

32a. Imperialisme versi James Petras-Coen Husain Pontoh: Sibuk ‘Memahami Dunia’, ‘Otokritik’ bagi Sang Tuannya, Imperialis? ‘Perjuangan Kelas’ Minus Kediktatoran Proletariat (Bag Pertama dari Dua Tulisan)

33a. Imperialisme versi James Petras-Coen Husain Pontoh: Sibuk ‘Memahami Dunia’, ‘Otokritik’ bagi Sang Tuannya, Imperialis? ‘Perjuangan Kelas’ Minus Kediktatoran Proletariat (Bag Kedua dari Dua Tulisan)

35a. Memusuhi Pancasila-UUD 45 di Dalam Pancasila-UUD 45 itu sendiri

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s