96. Pengeposan Khusus (94) Merespons Doodle Google “Hari Kemerdekaan Indonesia 2017” dengan Pengeposan Hlm 95a. Arus Balik, Membalik: Poros Maritim Dunia “Soekarno Abad XXI”– Terinspirasi Film “Banda, The Dark Forgotten Trial”

Standar
DK-95a-Arus Balik Pram-1995-Doodle 1782017

Doodle Google “Hari Kemerdekaan Indonesia 2017” (Screenshot & grafis: Red DK)

.

Menyambut 72 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia

.

Arus Balik, Membalik:

Poros Maritim Dunia “Soekarno Abad XXI”

.

Terinspirasi Film “Banda, The Dark Forgotten Trail”

.

Oleh Redaksi Dasar Kita

.

DK-95a-Banda-Metropole-4-8-2017

.

Selengkapnya simak/klik hlm 95a.

.

Iklan

95. Peng Red (93) – 14 Agu ’17

Standar

95. Pengantar Redaksi (93) – 14 Agustus 2017

.

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-93 bertarikh 14 Agustus 2017.

Silakan saja simak/klik selengkapnya warita di bawah ini.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

Semoga media pewarta warga ini bermanfaat.

.

ooOoo

.

Menyambut 72 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia

.

Arus Balik, Membalik:

Poros Maritim Dunia “Soekarno Abad XXI”

.

Terinspirasi Film “Banda, The Dark Forgotten Trail”

.

Oleh Redaksi Dasar Kita

.

Jujur, tulisan menyambut 72 tahun NKRI-18845 ini terinspirasi film “Banda, The Dark Forgotten Trail” sutradara Jay Subiakto. Tayang di bioskop-bioskop grup XXI Ibukota, mulai 3 Agustus 2017 lalu.

Lantas kami beri judul berikut subjudulnya seperti di atas.

Sehingga, risalah ini lebih mentitikberatkan sisi politik kolonial/imperialis — konteks rayakan kemerdekaan — di bumi Nusantara negeri bahari ini. Dengan “titik berangkat” film perdana Bung Jay dimaksud.

.

Selengkapnya simak/klik hlm 95a.

.

94. Pengeposan Khusus (92) Memeringati 72 Tahun Pemboman Nuklir AS atas Hiroshima & Nagasaki: RDRK Mendesak Jepang untuk Tidak Mengikuti AS … (Xinhua)

Standar

94. Pengeposan Khusus (92) Memeringati 72 Tahun Pemboman Nuklir AS atas Hiroshima & Nagasaki:

.

RDRK Mendesak Jepang untuk Tidak Mengikuti AS Pada Peringatan 72 Tahun Pemboman Nuklir

.

Sumber: Xinhua, 18:24, 08 Agustus 2017

.

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita 

.

Republik Demokratik Rakyat Korea (RDRK) pada Selasa [8/8/2017], [dalam rangka] peringatan 72 tahun pemboman nuklir AS atas Jepang, menyerukan pada Tokyo untuk tidak mengikuti Amerika Serikat dalam konfrontasi terakhir dengan RDRK.

“Rakyat Jepang dan seluruh dunia mengingat dengan jelas bencana mengerikan di mana ratusan ribu orang kehilangan nyawa karena bom-bom A [A-bombs] yang dijatuhkan AS atas Hiroshima dan Nagasaki,” tulis Korean Central News Agency dalam sebuah artikel.

Mereka [RDRK] juga menuduh Jepang tampil sebagai “brigade dan para pelayan kejut [“shock brigade and servants”] bagi perang agresi AS” dan “berenang melawan kecenderungan zaman.”

“Tidak akan pernah menjadi sebuah kesempatan yang baik bagi Jepang menyaksikan situasi di Semenanjung Korea dan di Asia Timur Laut menjadi tegang karena AS,” tulisnya.

Selama tahap akhir Perang Dunia II, Amerika Serikat menjatuhkan dua bom atom di kota-kota Hiroshima dan Nagasaki Jepang masing-masing pada 6 dan 9 Agustus 1945. Jepang menyerah kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945, menandai berakhirnya perang.

.

ooOoo

.

93. Peng Red (91) – 14 Jul ’17

Standar

93. Pengantar Redaksi (91) – 14 Juli 2017

.

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-91 bertarikh 14 Juli 2017.

Silakan saja simak/klik selengkapnya warita di bawah ini.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

Semoga media pewarta warga ini bermanfaat.

.

ooOoo

.

Reunifikasi HK ‘Memutuskan Belenggu’ Kolonialisme Munafik Inggris

.

Oleh John Ross

.

Sumber: Global Times Dipublikasikan: 30/6/2017 21:48:39

.

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita

.

Pada Sabtu [1/7/2017 – Red DK], Tiongkok merayakan kemenangan besar – kembalinya Hong Kong ke tempat bersejarahnya yang sah sebagai bagian dari Tiongkok.

Kemenangan itu bahkan lebih besar lagi, karena seperti ditekankan Presiden Xi Jinping, juga sebagai Sekretaris Jenderal Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan Ketua Komisi Militer Pusat, bahwa kembalinya Hong Kong secara damai ke Tiongkok adalah sebuah kasus yang jarang terjadi dalam sejarah Tiongkok dan dunia di mana tanah yang hilang sebagian besar dikembalikan secara paksa.

Untuk memahami apa maknanya itu, mari kita membuat perbandingan yang bisa dipahami setiap orang di Barat.

.

Selengkapnya simak/klik hlm 93a.

.

ooOoo

.

KTT G20 Menyoroti Tahap Baru ‘Kepemimpinan Pemikiran’ Internasional Tiongkok

.

Oleh John Ross

.

Sumber: blog John Ross Key Trends in GlobalisationG20 summit highlights new stage of China’s international ‘thought leadership’, 7 Juli 2017

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita

.

KTT G20 Hamburg pada satu tahun mendatang akan menampakkan sebuah tahap baru dalam dampak global Tiongkok.

Sejak krisis keuangan internasional [2008; simak selanjutnya – Red DK], bobot objektif pertumbuhan ekonomi Tiongkok [growing objective weight of China’s economy] dalam ekonomi global telah diakui secara internasional.

Tapi 2017 [kita] melihat tahap baru di mana Tiongkok, dan khususnya pidato-pidato utama Presiden Tiongkok Xi Jinping, memiliki dampak besar pada ‘kepemimpinan pemikiran’ internasional – meminjam [istilah thought leadership] Barat. Terutama pidato Presiden Tiongkok di Davos World Economic Forum yang menarik perhatian internasional secara luas. Karena itu, ada analisis media internasional tentang posisi yang akan diambil oleh Tiongkok pada KTT G20 tersebut.

Tapi penting untuk dipahami bahwa dua isu [yakni] situasi ekonomi objektif dan kepentingan analisis Xi Jinping, tidaklah terpisah.

 

Selengkapnya simak/klik hlm 93b.

.

.

92. Pengeposan Khusus (90) Memeringati Hari Lahir Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ke-51, 29 Juni 2017: “Hanya Kartu Pos (Indonesia) …”

Standar

“Hanya Kartu Pos (Indonesia) ….”

.

DK-91c-51 tahun Ahok

“Hanya Kartu Pos (Indonesia) …” Hanya beberapa kartu pos cetakan PT Pos Indonesia (Persero)  berperangko Rp 3.000 — dari beberapa rekan — yang bisa kami kirimkan kepada Basuki  Tjahaja Purnama (Ahok). Dengan ucapan “Selamat Hari Lahir ke-51, 29/6/2017, sehat lahir & batin ♥ , 28/6/2017”. (Foto & Grafis oleh Red DK)

.

Terkait:

.

91a. AYO! BUNG AHOK KASIH TANGAN MARI KITA BIKIN JANJI — Menyambut dan Memeringati 490 Tahun DKI Jakarta 22 Juni 2017 “Beragam, Bersatu, Melayani” serta 51 Tahun Basuki Tjahaja Purnama 29 Juni 2017

.

.

91. Peng Red (89) – 14 Jun ’17

Standar

91. Pengantar Redaksi (89) – 14 Juni 2017

.

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-89 bertarikh 14 Juni 2017.

Silakan saja simak/klik selengkapnya warita di bawah ini.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

Semoga media pewarta warga ini bermanfaat.

.

ooOoo

.

AYO! BUNG AHOK KASIH TANGAN MARI KITA BIKIN JANJI*

.

Menyambut dan Memeringati 490 Tahun DKI Jakarta 22 Juni 2017 “Beragam, Bersatu, Melayani” serta 51 Tahun Basuki Tjahaja Purnama 29 Juni 2017

.

(*Maaf dan terima kasih kepada para ahli waris/keluarga besar dari pencipta puisi “Persetujuan dengan Bung Karno”, 1948, Chairil Anwar)

.

Oleh Redaksi Dasar Kita

.

AYO! BUNG AHOK KASIH TANGAN MARI KITA BIKIN JANJI …

lanjutkan perjuangan kemerdekaan bagian kedua tegakkan keberagaman-persatuan-pelayanan tidak terbatas Ibukota DKI Jakarta, tapi seluruh Negara Kesatuan Republik Indonesia …

NKRI-178845 rumah kita bersama buah perjuangan pengorbanan jiwa raga para Pahlawan Kemerdekaan mengusir imperialisme …

berfondasi-konstitusi-18845 berikon Garuda ber-Kalung Tameng Pancasila mencengkram Pita Bhinneka Tunggal Ika.

.

Selengkapnya simak/klik hlm 91a

.

 

90. Pengeposan Khusus (88) Memeringati Hari Lahir Soekarno ke-116, 6 Juni 2017: “Soekarno Komunis?” — Sebuah Tawaran Diskusi di Era Jokowi -Term I

Standar

“Soekarno Komunis?”

.

Sebuah Tawaran Diskusi di Era Jokowi-Term I

.

Oleh Redaksi Dasar Kita

.

Pengantar Diskusi

Diskusi dalam rangka Memeringati Hari Lahir Soekarno ke-116 dengan topik “Soekarno Komunis?” ini, sesungguhnya berangkat dari bidasan, respons kami atas tuduhan terkait “PKI (Partai Komunis Indonesia)”. Khususnya tuduhan yang dialamatkan kepada Presiden Joko Widodo termasuk pembantu terdekatnya Teten Masduki, Kepala Staf Kepresidenan Indonesia.

Jokowi dituduh anak dari orang tua/keluarga anggota PKI dan Teten sebagai kader PKI.

Baik Jokowi maupun Teten sudah membantah, bahkan Teten telah melaporkan ke pihak berwajib. Hingga tulisan ini disiapkan tampaknya masih diproses-lanjut ke tingkat pengadilan.

Dari sumber-sumber yang kami miliki, kami berkeyakinan — seperti telah dijawab Jokowi dan Teten — tuduhan-tuduhan tersebut tak berdasar sama sekali.

Malahan tengarai kami (setidaknya sejak Kudeta Merangkak atas Soekarno) sudah menjadi “barang dagangan politik” oleh entitas yang kami sebut Deep State (DS)*. Khususnya para begundalnya yang tampil dipanggung politik Indonesia piawai “mensterilkan” DS dalam berbagai telaah politik kita pascakudeta itu.

Tuduhan PKI menjadi isu seksi yang sewaktu-waktu “dimainkan” para begundal itu dan terbukti efektif untuk “fragmentaris” bagian dari politik devide et impera DS. Setidaknya DS berhasil memertahankan NKRI yang menjadi “darling” DS selama tiga-plus-satu dasawarsa di bawah dua penguasa berlatar-belakang militer. (Simak/klik hlm 35a)

———

*DS, sebuah istilah bukan baru, yang dimunculkan kembali oleh Putin pasca-Trump menyerang Suriah dengan dalih kibul ala WMD-Irak “kepemilikan senjata kimia” (lihat bawah). DS, bagi kami, lebih pas sebagai represen “imperialisme tahap akhir/tertinggi kapitalisme” ketimbang pemerintah Amerika Serikat.

Pemerintah  AS lebih sebagai “komite”/”panitia” bagi kepentingan-kepentingan borjuis, kepentingan-kepentingan imperialisme, kepentingan-kepentingan DS, ketimbang sebagai sebuah pemerintahan “mandiri” yang berpihak pada rakyat Amerika. (Bandingkan era Jokowi-BTP di DKI, simak/klik hlm 33b).

“Orang-orang berpakaian gelap dengan kepentingan-kepentingan finansial-militer” begitu julukan Putin atas DS dalam dua kesempatan berbeda yang kami coba gabungkan (simak/klik hlm 88a.2 dan hlm 88a.1) .

Hal yang salah satunya ditunjukkan secara signifikan oleh naik-turunnya para Presiden AS. Tetapi tetap memiliki gaya imperialistis serupa: monopolistis, tak segan-segan menggunakan kekerasan senjata. Semisal perang Vietnam, yang menguras tenaga, dana dan korban jiwa anak-anak muda para serdadu AS, tak membuat DS jera.

Pemerintah AS yang dihadirkan DS hemat kami dijargonkan dengan “nyaris”-pas oleh penulis Amerika Gore Vidal: we are United State of Amnesia, we learn nothing because we remember nothing. [Kita adalah Amnesia Serikat, kita tidak belajar apa-apa karena kita tidak ingat apa-apa].

“Nyaris”, lantaran sesungguhnya ada yang diingat DS yaitu “perang”.

That’s why Americans are fighting for dollars, begitu kesimpulan Qiao Liang, seorang jenderal RRT yang menulis “One Belt, One Road” [OBOR]. Amerika yang disebut Qiao sebagai Kekaisaran Finansial (Financial Empire), negeri bodong (hollow country). Yang sejak 1971 (decoupling dolar-emas) tidak lagi andalkan ekonomi riil, membuat kami berani menyebut doktrin DS dalam “berbisnis dan mengatur” kebijakan ekonomi dan politik pemerintah AS: “war, riot & regional crisis”.

Sekaligus dengan doktrin DS ini, lebih menjelaskan keabsurditas sebuah negara kapitalis-maju (capitalist advance country)** mantan-adikuasa (?) yang sangat hipokrit, tetapi juga (meminjam Qiao) sedang menggali liang lahatnya sendiri.

PDB (Pendapatan Domestik Bruto) yang trennya terus menurun bukan sebatas year-to-year tapi dalam “perlambatan jangka panjang” seperti ditunjukkan John Ross (simak/klik hlm 83a) adalah prediksi-statistik yang mendukung tesis “liang lahat” versi kaum filsuf doktrin Marxian. Doktrin yang digandrungi Soekarno sejak muda itu.

———

**Negeri-negeri kapitalis maju (seperti AS) sesuai peta jalan yang dibayangkan oleh Marx sejatinya telah “matang” untuk menuju sosialisme. Lamun cendekiawan Tiongkok Duan Zhongqiao membantahnya:

“… negeri-negeri tersebut bagi sebagian besar memiliki prasyarat untuk mewujudkan perekonomian perencanaan dibayangkan oleh Marx, dan oleh karena itu, bagi mereka, masalah bagaimana untuk mewujudkan sosialisme adalah bukan bagaimana untuk melanjutkan dan mengembangkan ekonomi pasar, tapi bagaimana untuk menghapuskan ekonomi pasar dan membangun perekonomian perencanaan, selangkah demi selangkah. (Simak/klik hlm 40b).

Entitas DS atau imperialisme — musuh bebuyutan Bung Karno sejak muda — ini yang kami tawarkan hadir dalam diskusi “Soekarno Komunis?”. Ketika kami ajukan referensi karya Soekarno-muda “Nasionalisme, Islamisme, Marxisme” (1926; simak/klik “Bacaan Diskusi” di bawah) sebagai salah satu di antara tiga (saja) referensi diskusi ini.

Dua acuan lainnya: “Memperingati 50 Tahun Wafatnya Karl Marx” (1933, simak/klik “Bacaan Diskusi”) karya Soekarno-muda lainnya dan “Revolusi Belum Selesai” (2014, simak/klik “Bacaan Diskusi”): buku kumpulan pidato Soekarno periode Kudeta Merangkak (1965-1967) dengan sebandung penyuntingnya Budi Setiyono dan Bonnie Triyana.

Kami “Tahu Diri”: Gayung Bisa Jadi Tak (Pernah) Bersambut

Lamun, perlu pula kami tambahkan bahwa sejujurnya kami “tahu diri”. Kami sadar, kami bukan apa-apa bukan siapa-siapa. Gayung diskusi ini bisa jadi tak (pernah) bersambut. Meski, kami tetap optimis ada kawan pembaca budiman yang membidas tawaran diskusi ini.

Karena sesungguhnya tawaran ini hanyalah salah satu saja di antara berbagai upaya banyak pihak, untuk mencoba membentuk kembali potongan-potongan puzzle di tacit knowledge (pengetahuan noneksplisit yang ada di benak) kita masing-masing yang telah berantakan di-brain-washing DS.

Dalam artian, nalar kita menjadi “terbiasa” ahistoris, mensterilkan DS dalam setiap percakapan politik untuk sebuah Indonesia — notabene mantan koloni-imperialis — yang lebih baik dan maju ke depannya.

Pendekatan “strukturalis” yang melihat pertama-tama syarat-syarat material formasi sosial dalam masyarakat ketimbang langsung berserah diri pada pendidikan (individual) sebagai “obat mujarab” masa depan Indonesia lebih baik, seperti ditawarkan Arief Budiman tiga dasawarsa lalu, kini malah seolah “ahistoris”. (Simak/klik hlm 43a & hlm 45a).

Bahkan kita adem-ayem tanpa rasa bersalah melenggang atas “sukses besar” sang DS merubah konstitusi awal kita berdalih “amendemen UUD 1945” menjadi konstitusi gadungan sarat neolib: UUD 2002 (Simak/klik hlm 39a). False flag “reformasi” pun dikibarkan, “pahlawan”-nya pun dihadirkan. Luar biasa memang DS!

Beruntung ada seorang Jokowi yang mensiasatinya secara cerdas dan cantik — ala  pesilat setingkat-Guru yang memanfaatkan tenaga lawan. Upaya hadirkan negara (nihilkan neolib) dalam 9-Agenda Prioritas visi misi Jokowi-JK atau Nawacita. (Simak/klik hlm 51a). Membatalkan 3.143 Perda bermasalah (simak/klik hlm 74b) serta mengusulkan “Sistem Terbuka Terbatas” (pilih parpol sesuai UUD 45) menggantikan “Sistem Proporsional Terbuka” (pemilu langsung/UUD 2002). (Simak/klik hlm 83c).

Wacana dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan kritis seperti “PKI hancur atau dihancurkan?”; “Nasakom, siapa takut?”; “Sosialisme ala Indonesia versi Soekarno kenapa tidak? hemat kami sudah saatnya tidak lagi menjadi “pornografi politik” hasil rinsonisasi DS itu. Lantaran, setidaknya untuk kami, Soekarno adalah “Bapak Sosialisme ala Indonesia” dan Joko Widodo adalah “Soekarno Abad XXI”.

Hal terakhir ini yang tengarai kami membuat DS belingsatan, terus membuat gaduh. Gubernur DKI  — seorang administrator ulung kelas dunia dalam memaknai agenda prioritas-jalan ideologis-Soekarno Nawa Cita di lingkup Indonesia-kecil DKI Jakarta — bukan saja digagalkan lewat Pilkada malahan dipenjara! Pasalnya itu, DS kali ini (ternyata) lemot antisipasi hadirnya “Soekarno Abad XXI”.

Dua setengah tahun ke depan, bagi kami, sesungguhnya tarung sengit (benih) Sosialisme vs Kapitalisme (tahap akhir) — di Jakarta!

Ketika Jokowi dengan gaya blusukan (akar rumput maupun elite) merangsek dengan menggenjot pembangunan infrastruktur ber-APBN ekspansif & pruden/kehati-hatian. Untuk menjamin “kapitalisme negara” paralel reformasi pasar Deng Xiaoping (baca: paralel Ekonomi Terpimpin ala Soekarno***) yang di era Xi Jinping sedang “mendunia” dalam Inisiatif Sabuk dan Jalan (OBOR) berbasis hal yang “alamiah” dalam berbisnis: win-win deals. Melawan dan (bakal) menyudahi doktrin dari entitas kapitalisme tahap akhir  sejatinya anti-HAM/dunia-multipolar yang damai: war, riot & regional crisis.

———

***Diistilahkan oleh Amiruddin Al-Rahab dalam tajuk bukunya “Ekonomi Berdikari Sukarno” (2014). Referensi menarik setidaknya bagi kami, dari kaum muda non-ML Indonesia Abad XXI khususnya di era kemandirian jalan ideologis Trisakti-Nawa Cita pemerintahan Jokowi-JK.

Relevansi yang diakui sendiri Amiruddin, atas gagasan dasar dari skripsi S1 di Departemen Ilmu Sejarah FSUI ditulis pada 1994-1996. Sebuah tawaran pendekatan historis — “agar kita tidak berjalan dari titik nol, tapi bisa mulai berjalan dengan nukilan pemikiran Sukarno” (: xxx) — yang justru asimetris dengan penulis Pengantar bukunya: Budiman Sudjatmiko. Khususnya pembelaan ahistoris Budiman dalam menggagas UU No 6/2014 Tentang Desa, ketidaktulusannya terhadap jalan ideologis Jokowi-JK (simak/klik hlm 67a).

Ini esensi dari tawaran kami bersawala, berdiskusi dengan topik “Soekarno Komunis?”.

Jadi, silakan saja mulai bersawala dengan berkomentar di kolom yang  disediakan wordpress.com di bagian bawah halaman ini.

.

Bacaan Diskusi

  1. Hlm 23c. Ir Soekarno: Nasionalisme, Islamisme, Marxisme (Suluh Indonesia Muda, 1926)
  2. Hlm 6a. Ir Soekarno: Memperingati 50 Tahun Wafatnya Karl Marx (Fikiran Ra’jat, 1933)
  3. Buku “Revolusi Belum Selesai”, Kumpulan Pidato Presiden Soekarno 30 September 1965 – Pelengkap Nawaksara (2014, Penyunting Budi Setiyono & Bonnie Triyana) — cuplikan dari salah satu pidato, simak/klik hlm 57.

ooOoo

.

Terkait:

Hlm 90a. Screenshot Kicauan Blog Dasar Kita Membidas Pariwara di Kompas.com (12/6/2017) Program AIMAN KompasTV Isu HTI (20.00 WIB)