87. Peng Red (85) – 14 Apr ’17

Standar

87. Pengantar Redaksi (85) – 14 April 2017

.

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-85 bertarikh 14 April 2017.

Silakan saja simak/klik selengkapnya warita di bawah ini.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

Semoga media pewarta warga ini bermanfaat.

.

ooOoo

.

@AhokDjarot Sebagai “Titik-Tolak”: 19 April 2017

.

2

.

Ada 2 “Titik-Tolak”:

.

1. “Titik-Bertolak” Menuju DKI/RI Hebat-Masyarakat Adil & Makmur Jalan Ideologis 18845 …

.

2. “Titik-Menolak” Sistem Proporsional Terbuka/UUD 2002 …

.

.* * *

.

1. “Titik-Bertolak” Menuju DKI/RI Hebat Masyarakat Adil & Makmur

Jalan ideologis 18845  …

Berikut ini beberapa di antara program @AhokDjarot: “Jakarta Punya Semua”:

.

DK-87-14 Apr 2017-Sambut Pilkada 2-01

(Snapshot oleh Red DK)

.

Selengkapnya simak/klik hlm 87a.

.

ooOoo

86. Pengeposan Khusus (84) Memeringati Hari Lahir Saridjah Niung [Ibu Soed] ke-109: “Tik Tik Bunyi Hujan”, “Tanah Air” & “Berkibarlah Benderaku” (YouTube)

Standar

.

DK-86-Ibu Soed-02

Tampilan Google pada 26 Maret 2017, istilah Google dijadikan “doodle”, Hari Lahir Saridjah Niung [Ibu Soed] ke-109. (Grafis/screenshot oleh kami, silakan tonton doodle Ibu Soed via YouTube juga kami pilih tiga karya Ibu Soed  “Tik Tik Bunyi Hujan”, “Tanah Air” & “Berkibarlah Benderaku” berlanjut Biografi Ibu Soed via Wikipedia Bahasa Indonesia serta Catatan Redaksi Dasar Kita, terkait pengeposan khusus ini; terima kasih Google sudah diingatkan — Red DK) 

 .

DK-86-Ibu Soed-03

Tonton doodle Saridjah Niung atau Ibu Soed via YouTube

.

DK-86-Ibu Soed-07

Tonton “Tik Tik Bunyi Hujan” Ibu Soed via YouTube

.

DK-86-Ibu Soed-06

Tonton “Tanah Air” Ibu Soed via YouTube

.

DK-86-Ibu Soed-01

Tonton “Berkibarlah Benderaku” Ibu Soed via YouTube

.

DK-86-Ibu Soed-05

Simak biografi Saridjah Niung [Ibu Soed] via Wikipedia Bahasa Indonesia

.

DK-86-Ibu Soed-08

Cuplikan biografi Ibu Soed Wikipedia Bahasa Indonesia

.

Catatan Redaksi Dasar Kita

Pertama-tama, terima kasih kepada Google yang sudah mengingatkan Hari Kelahiran Ibu Soed ke-109, hari ini 26 Maret 2017.

Dan begitu kita klik pada doodle Saridjah Niung, tampil versi Inggris tentang Ibu Soed.

Kami tutup peringatan 109 tahun kelahiran Ibu Soed dengan biografinya oleh Wikipedia Bahasa Indonesia.

Di mana sebelumnya, Pembaca Budiman bisa tonton tiga lagu merdu, melegenda dan “Indonesia banget” — di antara sekian ratus — karya Ibu Soed yakni “Tik Tik Bunyi Hujan”, “Tanah Air” dan “Berkibarlah Benderaku”.

Selamat untuk keluarga besar anak-cucu almarhumah Ibu Soed dan Indonesia yang pernah memiliki dan masih memiliki karya-karya akbar seorang Saridjah Niung, yang ikut merenda sebuah Indonesia yang Perkasa, yang Hebat, yang Adil dan Makmur.

.

ooOoo

85. Peng Red (83) – 14 Mar ’17

Standar

85. Pengantar Redaksi (83) – 14 Maret 2017

.

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-83 bertarikh 14 Maret 2017.

Silakan saja simak/klik selengkapnya warita di bawah ini.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

Semoga media pewarta warga ini bermanfaat.

.

ooOoo

.

Data Ekonomi 2016 Menunjukkan Klaim ‘Pemulihan Ekonomi yang Kuat’ AS adalah Sebuah Mitos

.

Oleh John Ross

.

Sumber: blog John Ross Key Trends in Globalisation, 2016’s economic data shows the claim of US ‘strong economic recovery’ was a myth, 03 February 2017

.

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita

.

Publikasi data ekonomi AS yang resmi untuk 2016, di mana ditunjukkan hanya 1,6% pertumbuhan PDB AS untuk tahun tersebut, dan hanya 0,9% pertumbuhan PDB per kapita, jelas menunjukkan dua hal:

  • Pembangunan ekonomi global utama pada 2016 adalah perlambatan tajam ekonomi AS – seperti yang ditunjukkan di bawah ini;
  • Sebagian besar dari media keuangan gagal untuk menganalisis realitas pertumbuhan AS yang lambat ini dan terus mengulangi mitos ‘pemulihan AS yang kuat’ [strong US recovery — Red DK].

Dua pertanyaan menguntit realitas ini:

.

Selengkapnya simak/klik hlm 85a.

.

ooOoo

84. Pengeposan Khusus (82): Mengenang 50 Tahun Presiden Soekarno Dilengserkan MPRS, 12 Maret 1967*, Setahun pasca-Supersemar 1966 (TAP MPRS XXXIII/MPRS/1967 & Kutipan Pidato Presiden Soekarno pada Pelantikan Kabinet Ampera, 28 Juli 1966 — Hukumonline.com & “Revolusi Belum Selesai”)

Standar

*  

Tanggal ditetapkannya (silakan simak/klik):

.

Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Republik Indonesia Nomor XXXIII/MPRS/1967 Tahun 1967 Tentang Pencabutan Kekuasaan Pemerintahan Negara dari Presiden Soekarno (Sumber: Hukumonline.com)

.

♦ ♦ 

 

I Repeat Again, It is Not a Transfer of Authority. Sekadar Perintah Mengamankan!”

.

Kutipan pidato: Amanat Presiden Soekarno pada Pengambilan Sumpah dan Pelantikan Para Menteri Utama dan Para Menteri dalam Kabinet Ampera di Istana Negara, Jakarta, 28 Juli 1966 — Sumber: Revolusi Belum Selesai, Kumpulan Pidato Presiden Soekarno 30 September 1965–Pelengkap Nawaskara, Penyunting Budi Setiyono & Bonnie Triyana, 2014; hlm 551-552, 555-559, 560.

.

Oleh Redaksi Dasar Kita  

.

Di mana cetak tebal, alinea-alinea baru, indent yang tidak sesuai sumber adalah dari kami, semata untuk melayani pembaca  di layar perangkat juga untuk maksud ‘menggaris-bawahi’ tanpa sedikit pun menyentuh isi, termasuk tajuk di atas yang dikutip dari salah satu kalimat pidato tersebut.

.

.

.[… — Red DK]

Beberapa saat yang lalu Saudara-saudara sekalian telah menyaksikan saya mengambil sumpah menteri-menteri dalam Kabinet Ampera, yang dengan sudah payah dan sungguh-sungguh, dengan bekerja keras, telah saya susun bersama-sama dengan Letnan Jenderal Soeharto yang sekarang ini sudah jenderal penuh, Soeharto! Jenderal penuh lo sekarang ini! Four star general.

Dan insya Allah sesudah saya nanti memberi amanat, mereka akan saya lantik dengan resmi.

[hlm 551-552]

Nah, sekarang ini bagaimana, Saudara-saudara, Kabinet Ampera yang sekarang itu berdiri di hadapan saya ini.

Sebagai Saudara-saudara tahu, saya merasa hati plong, waktu saya berpidato di hadapan MPRS bahwa jiwa daripada perintah MPRS kepada Letnan Jenderal Soeharto, Pemegang SP 11 Maret [Surat Perintah 11 Maret, Supersemar], untuk membentuk Kabinet Ampera.

Saudara-saudara tahu apa sebab saya plong? Sebab ialah kalau, hh kalau MPRS menunjuk seseorang kabinetsformatuer di luar presiden, maka MPRS sebetulnya nyeleweng daripada UUD 1945.

Tetapi syukur alhamdulillah lantas MPRS menjelaskan, memberi penjelasan bahwa jiwa daripada perintah kepada Letnan Jenderal Soeharto untuk membentuk Kabinet Ampera itu ialah presiden bersama-sama dengan Letnan Jenderal Soeharto membentuk Kabinet Ampera.

Saya plong! Saking plongnya saya itu Saudara-saudara, ditaruh gambar di dalam majalah Time 15 Juli [1966] yang lalu. Who is the Time-man here?

Saking plongnya hati saya, majalah Time 15 Juli, ya translate to him. Saya digambar sebagai orang, Time 15 Juli, gambarnya Soekarno sebagai seorang yang terkejut. Di bawahnya: plong, plong! (hadirin ketawa semua — red). Ia, lihat tidak itu gambar? Eh katija’ teuing, Time.*

*[khadijah? … bermakna nama bayi perempuan Islam; jadi kami coba maknai secara harafiah Eh kekanak-kanakan sekali Time]

Dan saya juga plong bahwa Kabinet Ampera oleh MPRS diberi program empat, yang kemudian oleh kita dinamakan Catur Karya, program empat.

Saya kan berkata dengan terang-terangan, kalau hanya urusan perut tok Kabinet Ampera ini, saya tidak mau! Tetapi plong karena MPRS menentukan bukan hanya urusan perut, tapi empat hal.

Nomor satu, urusan ekonomi, sandang pangan. Nomor dua, politik luar negeri yang bebas aktif. Nomor tiga, melanjutkan perjuangan terhadap kepada imperialisme dan kolonialisme. Nomor empat, menyelenggarakan pemilihan umum di tahun 1968. Plong!

Dan atas dasar Catur Karya inilah maka saya bersama Pak Harto membentuk Kabinet Ampera yang barusan saya ambil sumpahnya itu tadi. Catur Karya ini menjadi program daripada Kabinet Ampera.

Dan saya, Pak Harto, semua menteri-menteri dan menteri utama yang berdiri di sini, semuanya bersedia mengerahkan dia punya tenaga, terhadap kepada penyelenggaraan daripada Catur Karya ini.

Ada lagi satu hal yang plongkan saya, Saudara-saudara. Ya, tulis!

Bukan saja dua plong. Plong pertama ialah jiwa daripada perintah, ialah presiden bersama-sama dengan dengan Letnan Jenderal Suharto membentuk Kabinet Ampera. Plong Kedua ialah program daripada Kabinet Ampera, Catur Karya.

Ada lagi plong yang ketiga. Malahan plong ketiga ini sebelumnya, Saudara-saudara. Apa plong yang ketiga ini?

Plong tiga ialah MPRS mengukuhkan Surat Perintah saya, 11 Maret.

Boleh dikatakan Surat Perintah saya, 11 Maret itu diambil oper oleh MPRS. Dibenarkan, dikukuhkan supaya SP 11 Maret ini tetap sampai nanti ada pemilihan umum.

Jadi Saudara-saudara jangan salah pengertian lo, jangan kira aya merasa, apa itu, terjegal atau bagaimana, manakala MPRS mengukuhkan SP 11 Maret itu. Oh, Tidak!

Saya malah gembira, malah senang bahwa perintah saya 11 Maret itu, bukan hanya perintah saya, tetapi perintah yang seluruhnya diambil oper oleh MPRS.

Apa sebabnya?

Pertama, oleh karena di situ ternyata bahwa perintah saya 11 Maret itu adalah perintah yang tepat dan benar. Bukan satu perintah yang tidak tepat dan tidak benar, sehingga dibenarkan oleh MPRS.

Keduanya, oleh karena isi perintah itu. Nah itu Saudara-saudara, isi perintah ini sangat membenarkan dan memperkuat kepada perintah itu. Coba, coba, coba, dengan kaca mata saya, ini lo 11 Maret, Surat Perintah.

Menimbang, perlu adanya ketenangan dan kestabilan pemerintahan dan jalannya revolusi. Perlu adanya jaminan keutuhan Pemimpin Besar Revolusi, ABRI dan rakyat untuk memelihara kepemimpinan dan kewibawaan Presiden/Pemimpin Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi,segala ajaran-ajarannya.

Di atas pertimbangan ini, lantas memutuskan, memerintahkan kepada Letnan Jenderal Soeharto, Menteri/Panglima Angkatan untuk atas nama Presiden/PemimpinTertinggi/Pemimpin Besar Revolusi:

satu mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk terjaminnya keamanan dan ketenangan serta kestabilan jalannya pemerintahan dan jalannya revolusi, serta menjamin keselamatan pribadi dan kewibawaaan Presiden/PemimpinTertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS, demi untuk keutuhan bangsa dan negara Republik Indonesia.

Dan melaksanakan dengan pasti segala ajaran Pemimpin Besar Revolusi.

Juga dimasukkan dalam perintah, mengadakan koordinasi pelaksanaan perintah dengan panglima-panglima angkatan-angkatan lain dengan sebaik-baiknya.

Diisikan pula supaya melaporkan segala sesuatu yang sangkut paut dalam tugas dan tanggung jawabnya seperti tersebut di atas.

Hh, yang bikin plong saya! Saya baca lagi.

Memutuskan, memerintahkan kepada Pak Harto untuk–dengarkan betul-betul ya–atas nama Presiden/PemimpinTertinggi/Pemimpin Besar Revolusi: satu, mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk terjaminnya keamanan dan ketenangan serta kestabilan jalannya pemerintahan dan jalannya revolusi.

Perhatikan!

Menjamin keamanan dan ketenangan serta kestabilan jalannya pemerintahan dan jalannya revolusi.

Get wel! Perhatikan!

Terjaminnya keamanan, ketenangan, kestabilan jalannya pemerintahan.

Dalam bahasa Inggris saya berkata, jalannya pemerintahan, jalannya any pemerintahan Republik Indonesia, tidak peduli pemerintahan corak apapun.

Apakah ini pemerintahan yang dipimpin oleh, katakanlah Pak Mulyadi. Umpama Pak Mulyadi adalah pemimpin pemerintahan. Atau pemerintahan yang dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku Buwono. Atau pemerintahan yang dipimpin oleh Pak Tambunan.

Artinya pemerintahan corak apapun, jalannya pemerintahan itu. Saya ulangi dalam bahasa Inggris, jalannya any pemerintahan itu harus dijamin keamanan dan kestabilannya oleh pemegang surat 11 Maret.

Ini saya terangkan begini Saudara-saudara, apalagi para asing, pers asing mengatakan bahwa perintah ini adalah a transfer of authority to General Soeharto.

Tidak. It is not a transfer a transfer of authority kepada General Soeharto. Ini sekadar perintah kepada Letnan Jenderal Soeharto untuk menjamin jalannya pemerintahan untuk ini, untuk itu, untuk itu.

Perintah ini bisa juga saya berikan misalnya kepada Pak Mul, Mulyani Pangal [Panglima Angkatan Laut]. Saya bisa perintahkan juga kepada Pak Sucipto Judodihardjo, apalagi dia itu Pangak [Panglima Angkatan Kepolisian]. Saya bisa, hei Saudara Tjip, Pangak, saya perintahkan kepadamu untuk keamanan, kestabilan jalannya pemerintahan. Untuk keamanan pribadi Presiden/Pemimpin Besar Revolusi, dan lain-lain sebagainya.

I repeat again, it is not a transfer of authority. Sekadar perintah mengamankan!

Malahan sebagai Saudara-saudara baca dan dengar sendiri, bukan sekadar mengamankan jalannya pemerintahan yang sudah saya terangkan, jalannya any pemerintahan, tetapi di sini juga dikatakan, keutuhan bangsa negara Republik Indonesia dan melaksanakan dengan pasti segala ajaran Pemimpin Besar Revolusi.

Jelas apa tidak?! Ditulis di sini.

Segala ajaran Pemimpin Besar Revolusi, segala ajaran Bung Karno harus dijaga keamanannya, harus di, apa itu di sini dikatakannya.

Melaksanakan dengan pasti lo, lo, lo. Zwart op it, hitam di atas putih, melaksanakan dengan pasti segala ajaran Pemimpin Besar Revolusi.

Nah, maka oleh karena itu saya plong, mahaplong kalau juga MPRS membenarkan ini. Di situ berarti bahwa MPRS agar supaya segala ajaran daripada Pemimpin Besar Revolusi dijaga dan dilaksanakan ajaranku.

Ajaran ini harus dijaga, diamankan, dilaksanakan. Pribadiku harus diamankan. Wibawaku juga harus diamankan. Ada perkataan wibawa. Coba saya baca:

serta menjamin keselamatan dan kewibawaan Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS.

MPRS sekarang membenarkan ini. Dus MPRS menganggap perlu wibawa Pemimpin Besar Revolusi harus dijaga. Jangan wibawa Pemimpin Besar Revolusi itu dikorek-korek, dimasukkan ke dalam Lumpur. Nah, karena itu Saudara-saudara, maka saya plong, mahaplong tentang hal ini bahwa MPRS juga membenarkan mengukuhkan SP 11 Maret.

Di samping saya plong bahwa Kabinet Ampera ini ber-Catur Karya.

Catur Karya. Sandang pangan, ekonomi. Ya memang. Saya sudah berulang kali berkata bahwa kita selalu mati-matian bekerja, bekerja mati-matian untuk hal ini. Jadi saya gembira bahwa Kabinet Ampera itu bertugas mengurus ekonomi rakyat.

Kedua, saya gembira bahwa MPRS menetapkan salah satu daripada Catur Karya satu politik luar negeri bebas dan aktif yang sudah saya terangkan di dalam pidato saya penutupan MPRS.

Saya bergembira bahwa kita harus menjalankan terus, terus perjuangan kita terhadap kolonialisme dan imperialisme.

Buka Mukadimah UUD 1945. Kalimat pertama daripada Mukadimah UUD 1945 itu sudah mengatakan artinya bahwa kita harus mengutuk, membersihkan, menghabisi kolonialisme dari muka bumi ini. Jadi gembira bahwa Kabinet Ampera harus berprogram demikian.

Di dalam picture inilah Saudara-saudara maka saya sekarang memberitahu kepada Saudara-saudara bahwa memang politik saya juga di dalam hal Malaysia, hh, jelas adalah satu politik terus menghantam kepada kolonialisme dan imperialisme.

Sudah saya jelaskan berulang-ulang Malaysia itu apa?! Malaysia itu adalah satu neo-colonialist project. Neo-coloniialist project. Neo atau bukan neo, ini adalah satu colonialist project. Dus harus kita tentang. Malaysia as such.

Duta besar-duta besar besar please keep in mind, Malaysia as such is a new colonialist project. Nah, itu harus kita tentang! Saya tidak menentang atau kita tidak menentang rakyat Malaysia, tidak!

Tidak menentang rakyat Singapura, tidak! Tidak menentang rakyat Sabah, tidak! Tidak menentang rakyat Serawak,tidak! Tidak menentamg rakyat Brunei, tidak!

Tetapi yang kita tentang ialah Malaysia as such, being a neo-colonialist project.

[hlm 552-559] 

Tetapi kita perlu menunjukkan bahwa untuk memecahkan persoalan Malaysia ini, yang as such harus kita hantam, ada juga jalan damai, jalan yang tidak dengan tembak-tembakan, jalan yang tidak dengan physical confrontation.

Nah, jalan apa itu? Itu pun sudah sering saya katakan. Manila agreements. Manila agreements. Let us turn to Manila Agreements. Let us implement the Manila Agreement.

[hlm 560]

.

ooOoo

.

Catatan Redaksi Dasar Kita

.

Dari Supersemar 1966 & Tap MPRS XXXIII/MPRS/1967 & Pidato Presiden Soekarno pada Pelantikan Kabinet Ampera, 28 Juli 1966

.

Tak Ada Keraguan Sedikit Pun

.

untuk

.

Dukung “Soekarno Abad XXI”  @Jokowi & @AhokDjarot

.

Hadapi

.

Kaum Reaksioner Anti-Konstitusi-18845

.

Kaum Pembohong Masyarakat

.

‘Pontius Pilatus” — Genosida Akbar Abad XX — “Kau Juga Brutus?”

.

Jongos Sang Tuan Imperialis Bukan Pelayan Rakyat 

.

Menuju

.

RI Hebat-Masyarakat yang Adil & Makmur/Ampera.

.

DK-84-50 Th Soekarno lengser

KOMPAS.com/NABILLA TASHANDRA — Acara haul almarhum Soeharto di Masjid At-Tin, Jakarta Timur, Sabtu (11/3/2017).

“Tinggalkan Masjid At Tin, Djarot Disoraki Pengunjung Acara Haul Soeharto”, Kompas.com, Sabtu, 11 Maret 2017 | 21:33 WIB

.

Menarik, setidaknya bagi kami Redaksi Dasar Kita, bahwa pada hari yang sama 11 Maret 2017, media daring republica.co.id menurunkan tulisan seorang wakil rakyat daerah dari Kalimantan Timur, Balikpapan.

Menyoal Pilkada DKI 2017 Putaran Kedua dengan mengkritisi intervensi “kekuasaan”. Tetapi, ini hal menarik untuk kami, dengan mendasarkan pada “tiga teori sumber kekuasaan atau kedaulatan selama manusia ini hidup”, sebuah NKRI diabaikan sebagai negara hasil perjuangan merebut kemerdekaan dari kolonialisme-imperialisme.

Jadinya gagal paham dalam memaknai dan (apalagi) memilah “kekuasaan” yang diperebutkan pada Pilkada DKI 2017 Putaran II versus “kekuasaan” pemerintah Jokowi-JK.  Pemerintah yang, misalnya, dalam mengacu demokrasi kita (UUD 1945), mengusulkan “sistem terbuka terbatas” (memilih partai) sebagai gantinya yang berlaku saat ini (UUD 2002) termasuk di Pilkada DKI 2017 “sistem proporsional terbuka” (memilih calon legislatif/eksekutif) — simak/klik hlm 83c.

Tak pelak, cara pandang ini — represen sebagian politisi Islam kita yang bagi kami sulit dikatakan tulus terhadap konstitusi awal 18 Agustus 1945 — paralel kebijakan junta militer Suharto notabene “kentuti” poin ke-3 Catur Karya (“melanjutkan perjuangan terhadap imperialisme dan kolonialisme” — lihat kutipan pidato Soekarno di atas) yang diperintahkan MPRS kepada Kabinet Ampera setelah mengambil oper Supersemar Soekarno.

Sekaligus tulisan wakil rakyat daerah ini, bagi kami sepotong “bukti”. Bagaimana kekhusukan terhadap religiositas sempit memaknai Islam di bumi Nusantara ini yang tidak seperti dibayangkan Soekarno (Nasionalisme, Islamisme, Marxisme – simak/klik hlm 23c), mencuat dalam Putaran II, Pilkada DKI 2017. Isu vulgar yang sangat “menyentuh” bagi sebagian rakyat seperti “jangan pilih pemimpin kafir, cina pula”, bagi penulis yang wakil rakyat daerah ini tentu saja tidak dimasalahkan karena sang calonnya yang “tidak kafir” kalah tipis di putaran I.

Selengkapnya tulisan dimaksud simak/klik:

.

Pilkada Jakarta dan Sumber Kekuasan, Republika.co.id, Sabtu, 11 Maret 2017 22:34

.

.

83. Peng Red (81) – 14 Feb ’17

Standar

83. Pengantar Redaksi (81) – 14 Februari 2017

.

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-81 bertarikh 14 Februari 2017.

Silakan saja simak/klik selengkapnya warita di bawah ini.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

Semoga media pewarta warga ini bermanfaat.

.

ooOoo

.

Konsekuensi Trump bagi Ekonomi AS

Terjelaskan dalam 3 Grafik

.

Oleh John Ross

.

Sumber: blog John Ross Key Trends in GlobalisationTrump’s consequences for the US economy explained in 3 charts, 26 Januari 2017

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita

.

Ada banyak diskusi tentang kemungkinan efek dari Trump pada ekonomi AS [likely effect of Trump on the US economy – Red DK]. Tetapi beberapa diskusi ini gagal untuk membedakan dengan jelas antara efek-efek jangka pendek dan jangka panjang dari Trump tersebut.

Hal ini dapat menyebabkan interpretasi yang salah dari masalah dan kecenderungannya itu saat ia terungkap. Oleh karena itu tujuan dari artikel ini adalah untuk menetapkan parameter mendasar dari situasi ekonomi AS seperti yang dihadapi Trump.

Hal ini dapat jelas terlihat pada tiga grafik yang menunjukkan fitur fundamental dari ekonomi AS, tersaji di bawah ini.

.

Selengkapnya simak hlm 83a.

82. Pengeposan Khusus (80) Memeringati Hari Lahir Pramoedya Ananta Toer ke-92, 6 Februari 2017: “Ke Arah Sastra Revolusioner” (galeribukujakarta.com)

Standar

dk-81d-pram-2

Tampilan Google pada 6 Februari 2017, Hari Lahir Pramoedya Ananta Toer ke-92 . (Grafis/screenshot oleh kami, silakan simak Catatan Redaksi Dasar Kita di bawah, terkait pengeposan khusus ini — Red DK) 

.

Ke Arah Sastra Revolusioner

(Surat Kiriman Dengan Salam Tahun Baru kepada Sdr. Lie Tie Gwan)

.

Oleh: Pramoedya Ananta Toer

.

Sumber: galeribukujakarta.com

.

KINI tambah lama tambah menjadi jelas betapa dunia sastra Indonesia seakan-akan hanya merupakan pencerminan yang terakhir daripada dunia politik.

Dunia sastra menjadi gelanggang yang riuh dimana orang berteriak atau menggerutu beradu keras. Adalah sudah sewajarnya saja kalau sastra yang menunjukkan tendensi yang demikian bersifat negatif semata: ia hanya membuat teriak dan gerutuan bertambah menjadi riuh.

Suatu langkah yang dewasa ini merupakan jalan untuk mengimbangi dunia politik dewasa ini telah merintis jalan ke arah sastra revolusioner. Sepanjang sejarah sastra, dimana politik tidak bisa menyelesaikan persoalan-persoalannya sendiri, maka sastralah yang tampil ke depan untuk ambil pimpinan.

Ini mengingatkan  saya kepada Kartini di masa dibutuhkan suara yang nyaring akan adanya emansipasi pemerintahan dan emansipasi wanita. Juga mengingatkan kepada Chairil Anwar di mana hidup kekauman dalam penindasan Jepang telah menjadi demikian dekaden dan memasuki sikap hipokrit.

Dan bila kita menengok pada wajah kesusastraan dunia pada umumnya, hal ini menjadi lebih jelas lagi.

Tentu, bahwa sastra revolusioner ini tidak dapat merangkum seluruh persoalan masyarakatnya, tetapi ia dapat menggarap masalahnya yang paling esensial dan urgen.

Memang ada bahwa  penggarapan itu akan terjatuh pada pelaksanaan negatif, yakni tambah meriuhkan teriak dan gerutu. Ini memang mungkin, apabila jiwa si pengarang sendiri masih tersusun atas sikap-sikap dan pemikiran yang lama. Maka si pengarang sendiri yang harus  memulai sesuatu sikap dan penggarapan revolusioner.

            Sikap dan penggarapan ini tidak mungkin bisa diperoleh dengan meniru ataupun mengikuti suatu gerakan politik ataupun sosial. Tetapi syarat pertama yang diminta adalah pengoreksian kembali atas pandangan dunia dan hidupnya yang telah dibentuknya dari pengalaman, pendidikan dan pembacaan. Continuity daripadanya telah menyusun kembali dunia pikirannya, dan menempatkan urgensi permasalahan masanya di atas kepentingan-kepentingan yang lain.

Dalam sepanjang sejarah berpikir, memang individu yang sadarlah yang ditantang oleh perombakkan cara berpikir ini. Tanpa ini revolusionerisme tidak akan timbul.

Di masa kekalutan sosial di dalam segala seginya inilah individu yang merasa kuat ditantang untuk keluar dari singgasananya dan menaklukkan kekalutan sosialnya. Maka tiap individu yang merasa kuat di atas singgasananya akan dihadapkan pada ujian – dan dalam perjuangan inilah dia akan memperoleh ketentuan akan kekuatannya.

Kekuatan individu bukan terletak pada kuatnya bercokol di singgasana, tetapi dalam mengadu kekuatan dengan dekadensi masyarakatnya.

Itulah sebabnya memang sudah wajar sekali bila presiden Sukarno senang sekali berkata tentang “Revolusi Belum Selesai”. [Sudah terbit buku “Revolusi Belum Selesai” (2014) Penyunting Budi Setyono & Bonnie Triyana; kumpulan pidato Soekarno masa “Kudeta Merangkak” 1965-67; simak/klik hlm 57  — Red DK]

Tetapi selama kata-kata itu tinggal menjadi suatu frasa atau pepatah untuk menyenang-nyenangkan hati belaka, dia merupakan kepalsuan yang tidak dapat diampuni. Mengapa?

Karena selamanya masyarakat diancam oleh bahaya dekadensi, yang berarti pula, bahwa revolusi dalam segala bentuknya, sebenarnya tidak pernah selesai. Selesainya sesuatu bentuk revolusi adalah berubahnya keadaan sesuatu dengan nilai yang lebih baik dan lebih berguna. Dan karena sesuatu norma dalam masyarakat terus menjadi tumpul dalam pergeseran dengan masanya, maka dia membutuhkan pembaharuan terus, membutuhkan penilaian kembali.

Tetapi bagaimanapun juga tanpa melakukan penyusunan dunia pikiran kembali, maka mereka yang setahun-dua yang lalu merupakan tokoh revolusioner, berubahlah dengan cepatnya menjadi reaksioner, bahkan juga anti-revolusioner.

Soalnya, bukan karena proses perubahan itu disebabkan karena tindakan permusuhan terhadap semangat revolusi, tetapi kebanyakan hanya karena tak ada kemampuan untuk menyusun kembali dunia pikirannya.

Biasanya pada barang siapa mendapat keuntungan yang paling gemuk dan paling baik daripada revolusi yang telah diperjuangkannya, dan tidak jarang mereka ini lebih suka tewas daripada merubah atau menyusun dunia pikirannya kembali.

Demikianlah, maka dalam dunia sastra pada tarafnya yang sekarang ini dibutuhkan perintisan jalan ke arah sastra revolusioner.

Dari problem-stelling di atas telah saya jelaskan apa yang saya maksudkan dengan sastra revolusioner itu.

Maka konsekuensi daripada sesuatu revolusi adalah pembasmian ataupun pembatasan dalam bentuk ekstrimnya adalah pembunuhan.

Sebelum orang berhasil dalam menyusun kembali dunia pikirannya, artinya memandang kejadian-kejadian baru dengan melalui norma-norma lama, dia tetap takkan mengerti, karena kejadian-kejadian baru sebagai bentuk-bentuk kontinuitas revolusi itu, nampak baginya hanya sebagai suatu kejahatan.

Tetapi bila orang sudah menyusun kembali dunia pikirannya, maka laku basmi dan batas hanyalah suatu langkah pertama, langkah-langkah yang merupakan keharusan.

            Langkah-langkah selanjutnya adalah membuat suatu garis perbatasan antara sastera anti-revolusioner dan reaksioner dengan yang revolusioner. Bila pembatasan ini tidak ada maka front pun tidak akan ada. Dan bila front tidak ada, maka antara laku revolusioner dengan laku anti-revolusioner dan reaksioner pun tidak ada. Jelasnya: tidak terjadi apa-apa.

Dengan datangnya akhir tahun 1956 dan bermulanya tahun 1957, maka menjadi jelaslah bagi saya, bahwa kita tidak bisa memandang sastra terlepas daripada perkembangan sosial dewasa ini.

Sastra pun wajib memandang dunia kita dari suatu totalitas, bukan dari suatu pojok yang telah kita tentukan sendiri. Ini pun bukan atau belum berarti, bahwa saya meniadakan kesempatan untuk berleha-leha bagi mereka yang tidak mau menginsyafi esensi dan urgensi masanya sendiri.

Justru dalam kesempatan ini tenaga-tenaga revolusioner memperoleh antipodanya, sehingga front yang dibuatnya bukan saja menjadi lebih tegas, juga perjuangannya menjadi kian sengit.

Apabila dalam sastra ini orang sudah bisa mengadakan perbedaan yang tegas antara ide revolusioner dan yang bukan, usaha dan kemajuan-kemajuan lagi akan dapat dilakukan dengan baik.

Sesuai dengan ini maka saya menyetujui pengertian masyarakat Tiongkok, bahwa pengarang adalah insinyur jiwa bagi bangsanya. Tentang hasil-hasil yang diperoleh daripada pengertian ini memang tidak dapat kita jadikan pegangan, yang lebih penting adalah usaha para pengarang untuk mengerti masyarakat dan masa kininya.

Tanpa pengertian akan masyarakat dan masa kininya akan berakibat, bahwa pengarang hanyalah akan sibuk dengan dirinya sendiri, yang berarti pula, bahwa penyelesaian-penyelesaian yang dibuat oleh si pengarang itu hanyalah untuk kepentingannya sendiri dan sepatutnya diselesaikan oleh dirinya sendiri, tanpa membawa-bawa pembicaranya ikut menjadi riuh rendah tanpa guna, bahkan tidak jarang kejangkitan penyakit  egosentrisme.

Maka bagi mereka yang tak mampu menyusun kembali dunia pikirannya sejak dari A, dia takkan mungkin mengerti kontinuitas daripada laku golongan atau perseorangan yang telah menyusun kembali dunia pikirannya.

Dan tentulah, bahwa demi keutuhan dunia pikirannya yang lama dengan kontinuitasnya, maka tiap laku daripada golongan yang akhir itu bukan saja tidak dipahaminya, juga dianggapnya mengancam dan merusak. Kerusakan ini akan memaksa orang melakukan pembetulan, tetapi asas daripada tiadanya kemampuan menyusun kembali dunia pikiran adalah sama: kemalasan, dan sudah merasa aman dengan dunia pikirannya yang lama.

Dalam dunia sastra hal yang demikian bukanlah suatu gejala aneh, bahkan di lapangan ilmu pengetahuan, terutama filsafat.

.

dk-81a-pram

PRAMOEDYA MARET 1989 (DENGAN ISTRI DAN POTRET ORANG TUANYA) PICT BY INSIDE INDONESIA.

.

Saya kira, bagi bangsa muda sebagai Indonesia ini, penyakit yang sungguh-sungguh sulit diberantas adalah bersenang-senang dengan dunia pikirannya, yang sudah [sulit?] diberantas adalah dengan dunia pikirannya yang merasa aman ini, yang menjadi demikian beku sehingga tidak lagi produktif dan kreatif.

Dan memang benar, bahwa di lapangan sastra, tidak menjadi keharusan bahwa sastra revolusioner itu mesti bernilai, karena nilai ini tidak bisa ditentukan dengan satu ukuran.

Yang pasti adalah, bahwa sastra revolusioner mempunyai guna sesuai dengan esensi dan urgensi hari ini, orang tidak akan mengerti sejarah, juga tidak akan mengerti politik sebagai sejarah dalam keadaan menjadi. Sedang kesusastraan tidak bisa terlepas daripada semua ini

Mereka yang tidak mempunyai kemampuan menyusun kembali dunia pikirannya ini, yang pada masa ini bukan hanya tidak mengerti dan bahkan menentang laku revolusioner, pada suatu kali dia akan mengerti dan menjadi jelas baginya apa yang sebenarnya sedang terjadi dan apa pula arah daripada kejadian itu, tetapi di kala ia sedang mengerti, tenaga-tenaga revolusioner baru telah menyusul, dan mereka ini tenggelam kembali dalam lipatan prasangka, dalam susunan dunia pikiran yang tetap aman dan sentosa.

Dengan datangnya tahun baru ini, patutlah kiranya yang mengatakan, bahwa sudah pada tempatnyalah, bahwa kita sebagai bangsa yang muda memelihara semangat revolusi menetap, dan tiap kali membuat pengamatan atas laku-laku yang terjadi di dalam masyarakatnya dan mengenalnya serta memperbedakannya antara yang revolusioner dan yang sebaliknya. Tanpa ini benar-benar suatu revolusi sudah gagal atau macet. (*)

Jakarta, akhir 1956.

.

Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925.

Novelis Indonesia paling produktif dan terkemuka yang pernah meredakturi ruang kebudayaan “Lentera” Harian Rakyat(1952-65) dan dosen di Universitas Res Publica Jakarta ini setelah peristiwa G30S/PKI ditahan di Jakarta dan Pulau Buru sebelum akhirnya diebabaskan pada 1979.

Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, antara lain: Inggris, Perancis, Jerman, Rusia, Jepang.

Novel-novelnya yang telah diterbitkan: Kranji-Bekasi Jatuh (1947); Perburuan (1950; Pemenang Hadiah Pertama Sayembara Balai Pustaka 1949); Keluarga Gerilya (1950); Mereka yang Dilumpuhkan (1951); Bukan Pasar Malam(1951); Di Tepi Kali Bekasi (1951); Gulat di Jakarta (1953); Maidah, Si Manis Bergigi Emas (1954); Korupsi (1954);Suatu Peristiwa di Banten Selatan (1958; menerima Hadiah Sastera Yayasan Yamin 1964, dan ditolak pengarangnya);Bumi Manusia (1980);Anak Semua Bangsa (1980); Jejak Langkah (1985); Gadis Pantai (1985); Rumah Kaca (1987); Arus Balik (1995); Arok Dedes(1999).

Cerita-cerita pendeknya dikumpulkan dalam: Subuh (1950); Percikan Revolusi (1950); Cerita dari blora (1952; memperoleh Hadiah Sastera Nasional BMKN 1952); Cerita dari Jakarta (1957; meraih Hadian Sastera Nasional BMKN 1957-58, dan ditolak oleh penulisnya).

Sedangkan karya-karya terjemahannya antara lain: Tikus dan Manusia (1950; John Steinbeck); Kembali kepada Cinta Kasihmu (1950; Leo Tolstoy); Perjalanan Ziarah yang Aneh (1956; Leo Tolstoy); Kisah Seorang Prajurit Soviet (1956; Mikhail Solokhov); Ibu (1956; Maxim Gorky); Asmara dari Rusia (1959; Alexander Kuprin); Manusia Sejati (1959; Boris Pasternak).

Selain itu, ia juga menulis memoar, esai, dan biografi. (*)

Sumber: E. Ulrich Kratz, Sumber Terpilih Sejarah Sastera Indonesia Abad XX, KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2000.

ooOoo

Catatan Redaksi Dasar Kita

Akhir bulan lalu, Kamerad Yuang WA kami. Isinya tulisan Pram ini “Ke Arah Sastra Revolusioner” termuat di laman galeribukujakarta.com, dengan komen:

“Tulisan tahun baru 1957 Pram, 60 tahun yang lalu. Cukup inspiratif. Sastra  perlu mengarahkan masyarakat untuk membedakan mana ide yang revolusioner, mana yang anti-revolusi.”

Kami WA balik Yuang. Intinya bahwa kami prihatin dengan dunia kesusastraan kita hari-hari ini. Ketika  jalan kapitalisme yang kita tempuh bukan karena dengan sengaja dan sadar seperti yang dilakoni Beijing sejak era Deng Xiaoping. Apalagi sepeninggal Pram.

Singkat cerita, dari sebuah pegelaran teater di TIM, Jakarta, beberapa waktu lalu dalam rangka merayakan Hari Lahir ke-70 Megawati, komen kami pada Kamerad Yuang:

“Politik jadi dagelan, dan memang sungguh menghibur penontonnya”.

Tapi kami menutup WA dengan janji tulisan Pram itu akan kami muat.

Tadi malam lewat tengah malam, kami surprise Google ingatkan kami akan 92 tahun Pram tepat hari ini, 6 Februari 2017 — seperti grafis/screenshot kami di atas. 

Tak pelak, hari yang baik ini kami manfaatkan untuk pengeposan khusus blog  Dasar Kita. Memuat utuh — dengan suntingan sebatas lema Bahasa “baik & benar” dan alinea-alinea yang tak sesuai sumber tanpa menyentuh isi untuk “manjakan” pembaca di screen — tulisan Pram 6-dasawarsa lalu … mengamini Yuang … mengamini Pram:

“Dunia sastra menjadi gelanggang yang riuh dimana orang berteriak atau menggerutu beradu keras. Adalah sudah sewajarnya saja kalau sastra yang menunjukkan tendensi yang demikian bersifat negatif semata: ia hanya membuat teriak dan gerutuan bertambah menjadi riuh.

[…]

Apabila dalam sastra ini orang sudah bisa mengadakan perbedaan yang tegas antara ide revolusioner dan yang bukan, usaha dan kemajuan-kemajuan lagi akan dapat dilakukan dengan baik.”

81. Peng Red (79) – 14 Jan ’17

Standar

81. Pengantar Redaksi (79) – 14 Januari 2017

.

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-79 bertarikh 14 Januari 2017.

Silakan saja simak/klik selengkapnya warita di bawah ini.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

Semoga media pewarta warga ini bermanfaat.

.

ooOoo

.

Membangun Fondasi untuk Pertumbuhan yang Berkelanjutan

.

Sri Mulyani Indrawati

Menteri Keuangan Republik Indonesia

Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia

.

Kuliah Umum

Universitas Syiah Kuala

Banda Aceh

5 Januari 2017 

.

dk-81a-membangun-fondasu-utk-pertumbuhan-sri-mulyani-i-univ-syiah-kuala-5-1-2017-01

.

Selengkapnya simak/klik hlm 81a.

.

ooOoo