73. Peng Red (71) – 14 Mei ’16

Standar

73. Pengantar Redaksi (71) – 14 Mei 2016

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-71 bertarikh 14 Mei 2016.

Silakan saja simak/klik selengkapnya warita di bawah ini.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

Semoga media pewarta warga ini bermanfaat.

.

ooOoo

.

Pentagon Sedang Bergiat dalam Rencana untuk Mengkonversi Khalifah Negara Islam Menjadi Benteng Pemberontak Suriah yang Didukung AS

.

Oleh Stephen Gowans

.

Sumber:  what’s left, 6 Mei 2016

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita

.

Selengkapnya simak/klik hlm 73a.

ooOoo

.

72. Peng Red (70) – 14 Apr ’16

Standar

72. Pengantar Redaksi (70) – 14 April 2016

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-70 bertarikh 14 April 2016.

Silakan saja simak/klik selengkapnya warita di bawah ini.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

Semoga media pewarta warga ini bermanfaat.

.

ooOoo

KULIAH UMUM

MAHASISWA PROGRAM STUDI MAGISTER ADMINISTRAIS PUBLIK

UNIVERSITAS DIPONEGORO

26 Februari 2016

 

RESTRUKTURISASI PEMERINTAHAN DAERAH BERDASARKAN UUD 1945  

Prof. Dr. H. Hanif Nurcholis, M. Si

.

Profesor/ Guru Besar Bidang Ilmu Adminstrasi Pemerintahan Daerah

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Terbuka

.

Selengkapnya simak/klik hlm 72a.

ooOoo

Menanggapi Wawancara Prisma dengan Arief Budiman pada 1983 ….

.

Dalam pengeposan yang lalu ada dua risalah yang sesungguhnya saling terkait. Yang pertama di hlm 71a. “Investigators of Empirical Facts”: Berpikir ala Machisme, Ketika “Kiri” Minus “Ultimate Aim”. Dan yang kedua di hlm 71c. Arief Budiman: Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Ahistoris (Prisma, No 6 Juni 1983).

.

Selengkapnya simak/klik hlm 71d

.

Secara kronologis, risalah ini merupakan bagian dari pengeposan bulan ini 14 April 2016. Tetapi secara tematis/pokok pembahasan terkait dengan wawancara Prisma-Arief Budiman (hlm 71c) juga “diskusi kecil” Redaksi-Binsar-Yuang (hlm 71a) di pengeposan bulan lalu 14 Maret 2016.

Sehingga kami menempatkannya pada hlm 71d (Red DK).

.

71. Peng Red (69) – 14 Mar ’16

Standar

71. Pengantar Redaksi (69) – 14 Maret 2016

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-69 bertarikh 14 Maret 2016.

Silakan saja simak/klik selengkapnya warita di bawah ini.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

Semoga media pewarta warga ini bermanfaat.

.

.

Investigators of Empirical Facts”:

Berpikir ala Machisme

Ketika “Kiri” Minus “Ultimate Aim

.

Oleh Redaksi Dasar Kita

 .

Meski tajuk di atas sepintas ‘wah’ dan memang bernarasumber dari seorang Lenin, risalah Redaksi Dasar Kita pada pengeposan kali ini, sesungguhnya sebuah warita pendek.

Kabar singkat dari kami sebuah blog pewarta warga yang mewaritakan sebuah diskusi kecil (termasuk lewat WA) dengan dua kawan (katakanlah) aktivis-kiri, di salah satu acara “Belok Kiri Festival” (BKF). Di mana yang seorang dikenal bergiat di era Soeharto sedang ‘kencang-kencang’-nya. Seorang lagi jelang Soeharto lengser. Masing-masing kami sebut saja Binsar dan Yuang.

Di sela-sela jeda diskusi BKF pada suatu hari Minggu (6/3/2016) itu, Redaksi mencoba mengamprokkan keduanya dengan mengajukan tanya pada Binsar: “Tiongkok itu Sosialis?”

Silang pendapat antara Redaksi dan Binsar yang sempat ‘seru’ disimak Yuang tanpa komen. Hingga pembicaraan terhenti berhubung sesi berikutnya acara BKF akan berlanjut – Zely Ariane pembicaranya.

Tetapi diskusi dengan Yuang terus berlanjut lewat WA. Yuang bukan saja menanggapi obrolan Redaksi-Binsar tersebut malah termasuk merespons Zely.

Redaksi mencoba merangkumnya di sini. Berharap teman-teman yang berangkat dari doktrin Marxian (setidaknya) lebih sensi pada geopolitik dunia yang hari-hari ini sedang ‘disemarakkan’ oleh OBOR (One Belt One Road).

(Selengkapnya simak/klik hlm 71a)

ooOoo

 

9.000 sorti, 400 Daerah Dibebaskan:

Apa yang telah dicapai Rusia selama 5 bulan Operasi di Suriah

.

Sumber: RT

Waktu Publikasi: 14 Maret 2016 22.16, Waktu Sunting: 15 Maret 2016 02.40

.

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita

.

dk-71b-feb 2016-Russia left Syria

Sehubungan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan dimulainya penarikan pasukan Rusia dari Suriah, Menteri Pertahanan Sergei Shoigu telah melaporkan pencapaian operasi antiteror kepada Panglima Angkatan Bersenjata [Rusia — Red DK].

(Selengkapnya simak/klik hlm 71b)

ooOoo

.

Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia  Ahistoris

.

Arief Budiman

.

Sumber: Prisma, No 6 Juni 1983

.

TanyaAnda sering mengemukakan pendapat bahwa ilmu-ilmu sosial dalam praktiknya di Indonesia banyak yang bersifat “ahistoris”. Bisakah dijelaskan, apa maksud anda sebenarnya? Bagaimana memberikan penjelasan historis tentang keadaan ilmu sosial itu?

Jawab: Yang saya maksud historis itu adalah suatu dialektik antara yang empiris dan ide.

Dari sana sebenarnya kita memperoleh ilmu pengetahuan. Saya tidak mempersoalkan mana yang lebih penting, ide yang apriori itu atau esensi dari suatu fenomena.

Tetapi yang jelas suatu pengetahuan selalu berkaitan dengan suatu peristiwa empiris, terutama dalam ilmu sosial. Kalau pengetahuan memang muncul dari kasus-kasus tertentu, hendaknya dalam mencoba mengaplikasikannya lagi harus kita lihat keadaan empiris yang berubah. Jadi faktor kesejarahannya.

(Selengkapnya simak/klik hlm 71c)

.

ooOoo

.

Menanggapi Wawancara Prisma dengan Arief Budiman pada 1983 ….

.

Dalam pengeposan yang lalu ada dua risalah yang sesungguhnya saling terkait. Yang pertama di hlm 71a. “Investigators of Empirical Facts”: Berpikir ala Machisme, Ketika “Kiri” Minus “Ultimate Aim”. Dan yang kedua di hlm 71c. Arief Budiman: Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Ahistoris (Prisma, No 6 Juni 1983).

.

(Selengkapnya simak/klik hlm 71d)

.

Secara kronologis, risalah ini merupakan bagian dari Pengeposan ke-70 (bulan depan) 14 April 2016. Tetapi secara tematis/pokok pembahasan terkait dengan wawancara Prisma-Arief Budiman (hlm 71c) juga “diskusi kecil” Redaksi-Binsar-Yuang (hlm 71a). Sehingga kami menempatkannya di sini pada hlm 71d (Red DK).

.

70. Peng Red (68) – 14 Feb ’16

Standar

70. Pengantar Redaksi (68) – 14 Februari 2016

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-68 bertarikh 14 Februari 2016.

Silakan saja simak/klik selengkapnya warita di bawah ini.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

Semoga media pewarta warga ini bermanfaat.

.

Perubahan Rezim Suriah[-nya] AS Hadapi Jalan Buntu

.

Oleh Finian Cunningham

.

Sumber: American Herald Tribune, 4 Februari 2016

.

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita

.

DK-70a-foto dari AHT

.

Dan begitu pula roda pembicaraan Jenewa macet dengan cara spektakuler, di mana semua pihak saling menyalahkan atas kegagalan apa yang disebut proses perdamaian Suriah.

Negosiasi di kota negeri Swiss [Jenewa—Red DK] itu hanya berlangsung hingga hari kedua – yang dibuka pada hari Senin [1/2/2016 – Red DK], dan setelah penundaan sejak minggu sebelumnya [seharusnya pada 29 January 2016 – Red DK] – ketika utusan khusus PBB Staffan de Mistura mengumumkan bahwa pembicaraan akan ditunda hingga 25 Februari [2016—Red DK]. Hendaknya dibaca sebagai: ini sudah berakhir.

… Selengkapnya simak hlm 70a

.

ooOoo

.

“Enggak ada preman kok. Kami preman resminya,” kata Basuki.

.

Sumber: 

Kompas.com, Senin, 15 Februari 2016 | 12:19 WIB: “Komentar Ahok soal Warga Kalijodo yang Mengadu ke Komnas HAM” 

.

dk-70b-ahok vs HAM

.

Catatan Redaksi Dasar Kita:

Kalimat penutup warita Kompas.com yang, setidaknya bagi kami, sangat menarik.

Sebuah sinyal kuat bagi para pengusung “HAM & demokrasi” yang “naik daun” justru di era Soeharto-SBY, era “Kesaktian-Pancasila” (baca: era Koruptor Terkaya di Dunia) berlanjut  era “transaksional” atawa “demokrasi kriminal” (versi Rizal Ramli).

Dan Bang Ahok, kini di era Trisakti-Masohi/Gotong Royong, satu dari Panca-Azimat (Nasakom, Pancasila, USDEK, Trisakti, Berdikari), dengan sengaja indentifikasi diri sebagai “preman resmi”.

Adalah posisi sangat jelas, seperti halnya Bung Karno berhadapan dengan kaum imperialis, atau hari-hari ini Presiden Assad tinggal menghitung hari untuk “meng-Vietnam-kan” imperialis dari tanah tumpah darah Suriah (ref hlm 70a).

Selengkapnya warita Kompas.com dimaksud, simak hlm 70b.

ooOoo

… komen Kompas.com …

Standar

komen Kompas.com

RDK, Jakarta, 21 Januari 2016. Ketika kami, Redaksi Dasar Kita, tidak bisa berkomentar di ruang komentar dari setiap warita Kompas.com. Selalu saja muncul “the page at megapolitan.kompas.com says: Maaf anda tidak bisa komentar, User telah diblok”.

Tiba-tiba saja, apalagi mengingat hal ini adalah hak penuh mereka medianya pun jenis tak berbayar pula, terbersit ide.

Dengan “berpikir positif ala Jokowi”, “energi positif” kami — yang mencoba berangkat dari doktrin Marxian nonrevisionis-ala Soekarno sejatinya percaya struktur demokrasi vertikal ala Naisbitt (2010) untuk tidak mengatakan prinsip kediktatoran proletar –, kami “alihkan” dan lahirkan halaman baru blog Dasar Kita “… komen Kompas.com …”.

Komentar kami untuk pilihan warita Kompas.com kini kami muat di halaman ini.

Pasalnya, bagaimana pun Kompas.com bagi kami “terpercaya dan perlu”. Pewarta tua profesional.

Terlebih untuk sebuah RI Hebat/Ampera ke depannya. Pas dengan motto mereka: Rayakan Perbedaan. Meski sebagai “sister company” dari koran tua Kompas yang lahir beberapa bulan pra-Gestok 1965 (istilah Soekarno). Koran yang kemudian besar bersama junta militer Suharto, justru hemat kami mereka “mitra” hebat menguatkan “keimanan” kami akan doktrin Marxian ala BK itu.

Poinnya hari ini dan ke depannya. Siapkah kami, atau siapa pun termasuk kelompok media massa yang meraksasa ini, bila jati diri kita itu — seperti dicanangkan Bung Karno dan dilanjutkan kembali Jokowi — bahwa gagasan Panca Azimat dengan cita-cita Ampera BK itu sesungguhnya sebuah sosialisme khas Indonesia?

.

Komentar Redaksi Dasar Kita

.

Krishna Murti Jawab Tudingan Kejanggalan Teror Bom Thamrin di “Facebook”

Rabu, 20 Januari 2016 | 15:03 WIB.

.

Cerita Mbah Tohari Tetap Keliling Berjualan Sabun pada Usia 104 Tahun

Jumat, 22 Januari 2016 | 07:00 WIB
.
.

Beri Somasi PDI-P, Nasdem Siap Hadapi Konsekuensi Politik

Jumat, 22 Januari 2016 | 11:21 WIB
.
.

Diresmikan Presiden, 10 Pabrik Ini Akan Serap 11.727 Tenaga Kerja

Sabtu, 23 Januari 2016 | 08:47 WIB
.

Selengkapnya simak komen Kompas.com …

.

69. Peng Red (67) – 14 Jan ’16: Presiden Jokowi: Kita Tidak Boleh Takut Dengan Aksi Teror! (Kompas.com)

Standar

Presiden Jokowi: Kita Tidak Boleh Takut Dengan Aksi Teror!

.

Sumber: Kompas.com, Kamis, 14 Januari 2016

.

DK-Jan 2016-Teror Jkt 14 Jan

.

Kamis,14 Januari 2016

Siang ini terjadi ledakan di Kawasan Sarinah …

ooOoo

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-67, pengeposan perdana di tahun yang baru kita masuki ini, bertarikh 14 Januari 2016.

Bertepatan pada hari ini merebak terorisme di jantung Ibukota Jakarta, kawasan Sarinah, Jl MH Thamrin.

Seiring ikhtiar blog ini mendukung Jokowi-JK sejak awal dalam salah satu tekad utama mereka “menghadirkan negara” sesuai visi jalan ideologis trisakti-masohi/gotong royong, menjadi alasan kami mengutip utuh warita Kompas.com pernyataan terkait dari Presiden Jokowi.

Selengkapnya (berbentuk video) simak/klik hlm 69a.

.

.ooOoo

.

Panglima TNI: NKRI Tidak Bisa Ditekan, Diancam oleh ISIS

.

.
dk-jan 2015-teror-02
.

JAKARTA, KOMPAS.com – Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menyebarkan semangat bahwa bangsa Indonesia tidak dapat ditakuti oleh aksi terorisme.

[…]

Masih di pengeposan yang sama ini dengan greget yang sama pula dalam mendukung Jokowi-JK tanpa reserve, kami kutip utuh pernyataan keras “kekuatan pemukul” kita yang disampaikan Panglima TNI Jenderal Gatoto Nurmantyo.

Selengkapnya simak/klik hlm 69b.

ooOoo

14 Januari 2016 “Deadline” Freeport Tawarkan Divestasi

.

.

dk-69c-freeport vs terorisme

KOMPAS/B JOSIE SUSILO HARDIANTO — PT Freeport Indonesia

JAKARTA, KOMPAS.com – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan PT Freeport Indonesia memiliki batas waktu hingga 14 Januari 2016 untuk menyampaikan penawaran divestasi saham.

Ternyata, teror 14 Januari 2016 di Jakarta itu bertepatan dengan tenggat (deadline) PT Freeport Indonesia untuk menyampaikan divestasi 10,64 % (berhubung kita telah memiliki 9,36 %) sehingga total 20%.

Suatu kebetulan yang dengan sendirinya menimbulkan tanya. Seperti halnya Bu Clinton yang “kebetulan” berkunjung ke Indonesia pada awal September 2012 dan terjadilah “relokasi Syiah Sampang” — pas “kebetulan” pula Presiden Suriah Assad sudah setahun (dan sampai hari ini) belum juga terjungkal beda dengan Saddam Husein dan Moammar Khadafi.

Silakan saja simak warita selengkapnya di hlm 69c.

Semoga media pewarta warga ini bermanfaat.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

 

ooOoo

.
.

68. Peng Red (66) – 14 Des ’15

Standar

Renungan Akhir Tahun 2015

 .

Upaya Kudeta Politik (Gagal)

 

di Saat

 

Setahun Pemerintahan Jokowi-JK

Dari “Kanan” ke “Kiri” Berhenti Sejenak di “Tengah”

.

Oleh Redaksi Dasar Kita

 

Tanpa kami sadari, “Renungan Akhir Tahun” di setiap pengeposan bulan Desember telah menjadi semacam tradisi.

Dan untuk kali kedua renungan di penghujung tahun ini terkait pemerintahan Jokowi-JK. Setelah pada tahun lalu kami poskan renungan:  Jalan Ideologis Trisakti-Gotong Royong Solusi Cerdas & Cantik Jokowi-JK Atasi Konstitusi Gadungan UUD 2002.

Secara kebetulan sekitar medio November 2015 lalu, setahun lebih-sebulan pemerintahan Jokowi-JK, merebak kisruh Freeport , pinjam  istilah Menko Rizal Ramli,  “sinetron antar-geng”.

Selengkapnya simak pranala (link) di bawah ini.

.

ooOoo

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-66 bertarikh 14 Desember 2015.

Pengeposan risalah kami yang menyoal kisruh Freeport, “sinetron antar-geng” vrsi Rizal Ramli. Yang kami coba timbang dari sudut upaya kudeta politik, cara pandang yang kami pungut dari pengamat politik LIPI Ikrar Nusa Bakti.

Lalu, dalam konteks upaya kudeta politik (gagal) ini, bila tidak keberatan mengajak Kawan Pembaca Budiman menimbang ulang risalah kami juga sebelumnya menyambut: Setahun pemerintahan Jokowi-JK, Dari “Kanan” ke “Kiri” Berhenti Sejenak di “Tengah”.

Silakan saja simak/klik hlm 68a.

.

ooOoo

.

Ahok: Ikan Mati Itu Ikut Arus, Ikan Hidup Hadapi Arus

.

.

Warita satu ini dari Bang Ahok, setidaknya untuk kami sangat inspiratif, seperti diindikasikan pada tajuknya. Dan lebih dari itu, ada terucap dari Abang kita: “sekarang bahagia lebih banyak memberi daripada menerima”.

Frasa serupa yang ditulis Soekarno, menutup tulisan monumentalnya  pada 1926, kekuatan hidup itu letaknya tidak dalam menerima tapi dalam memberi.(Simak hlm 23c).

Sebuah tip untuk menyongsong Tahun Baru 2016: melawan arus dan banyak memberi!

Selengkapnya silakan simak/klik hlm 68b.

Selamat Membaca Kawan.

Semoga media pewarta warga ini bermanfaat.

Selamat Tahun Baru 2016.

ooOoo