83. Peng Red (81) – 14 Feb ’17

Standar

83. Pengantar Redaksi (81) – 14 Februari 2017

.

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-81 bertarikh 14 Februari 2017.

Silakan saja simak/klik selengkapnya warita di bawah ini.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

Semoga media pewarta warga ini bermanfaat.

.

ooOoo

.

Konsekuensi Trump bagi Ekonomi AS

Terjelaskan dalam 3 Grafik

.

Oleh John Ross

.

Sumber: blog John Ross Key Trends in GlobalisationTrump’s consequences for the US economy explained in 3 charts, 26 Januari 2017

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita

.

Ada banyak diskusi tentang kemungkinan efek dari Trump pada ekonomi AS [likely effect of Trump on the US economy – Red DK]. Tetapi beberapa diskusi ini gagal untuk membedakan dengan jelas antara efek-efek jangka pendek dan jangka panjang dari Trump tersebut.

Hal ini dapat menyebabkan interpretasi yang salah dari masalah dan kecenderungannya itu saat ia terungkap. Oleh karena itu tujuan dari artikel ini adalah untuk menetapkan parameter mendasar dari situasi ekonomi AS seperti yang dihadapi Trump.

Hal ini dapat jelas terlihat pada tiga grafik yang menunjukkan fitur fundamental dari ekonomi AS, tersaji di bawah ini.

.

Selengkapnya simak hlm 83a.

82. Pengeposan Khusus (80) Memeringati Hari Lahir Pramoedya Ananta Toer ke-92, 6 Februari 2017: “Ke Arah Sastra Revolusioner” (galeribukujakarta.com)

Standar

dk-81d-pram-2

Tampilan Google pada 6 Februari 2017, Hari Lahir Pramoedya Ananta Toer ke-92 . (Grafis/screenshot oleh kami, silakan simak Catatan Redaksi Dasar Kita di bawah, terkait pengeposan khusus ini — Red DK) 

.

Ke Arah Sastra Revolusioner

(Surat Kiriman Dengan Salam Tahun Baru kepada Sdr. Lie Tie Gwan)

.

Oleh: Pramoedya Ananta Toer

.

Sumber: galeribukujakarta.com

.

KINI tambah lama tambah menjadi jelas betapa dunia sastra Indonesia seakan-akan hanya merupakan pencerminan yang terakhir daripada dunia politik.

Dunia sastra menjadi gelanggang yang riuh dimana orang berteriak atau menggerutu beradu keras. Adalah sudah sewajarnya saja kalau sastra yang menunjukkan tendensi yang demikian bersifat negatif semata: ia hanya membuat teriak dan gerutuan bertambah menjadi riuh.

Suatu langkah yang dewasa ini merupakan jalan untuk mengimbangi dunia politik dewasa ini telah merintis jalan ke arah sastra revolusioner. Sepanjang sejarah sastra, dimana politik tidak bisa menyelesaikan persoalan-persoalannya sendiri, maka sastralah yang tampil ke depan untuk ambil pimpinan.

Ini mengingatkan  saya kepada Kartini di masa dibutuhkan suara yang nyaring akan adanya emansipasi pemerintahan dan emansipasi wanita. Juga mengingatkan kepada Chairil Anwar di mana hidup kekauman dalam penindasan Jepang telah menjadi demikian dekaden dan memasuki sikap hipokrit.

Dan bila kita menengok pada wajah kesusastraan dunia pada umumnya, hal ini menjadi lebih jelas lagi.

Tentu, bahwa sastra revolusioner ini tidak dapat merangkum seluruh persoalan masyarakatnya, tetapi ia dapat menggarap masalahnya yang paling esensial dan urgen.

Memang ada bahwa  penggarapan itu akan terjatuh pada pelaksanaan negatif, yakni tambah meriuhkan teriak dan gerutu. Ini memang mungkin, apabila jiwa si pengarang sendiri masih tersusun atas sikap-sikap dan pemikiran yang lama. Maka si pengarang sendiri yang harus  memulai sesuatu sikap dan penggarapan revolusioner.

            Sikap dan penggarapan ini tidak mungkin bisa diperoleh dengan meniru ataupun mengikuti suatu gerakan politik ataupun sosial. Tetapi syarat pertama yang diminta adalah pengoreksian kembali atas pandangan dunia dan hidupnya yang telah dibentuknya dari pengalaman, pendidikan dan pembacaan. Continuity daripadanya telah menyusun kembali dunia pikirannya, dan menempatkan urgensi permasalahan masanya di atas kepentingan-kepentingan yang lain.

Dalam sepanjang sejarah berpikir, memang individu yang sadarlah yang ditantang oleh perombakkan cara berpikir ini. Tanpa ini revolusionerisme tidak akan timbul.

Di masa kekalutan sosial di dalam segala seginya inilah individu yang merasa kuat ditantang untuk keluar dari singgasananya dan menaklukkan kekalutan sosialnya. Maka tiap individu yang merasa kuat di atas singgasananya akan dihadapkan pada ujian – dan dalam perjuangan inilah dia akan memperoleh ketentuan akan kekuatannya.

Kekuatan individu bukan terletak pada kuatnya bercokol di singgasana, tetapi dalam mengadu kekuatan dengan dekadensi masyarakatnya.

Itulah sebabnya memang sudah wajar sekali bila presiden Sukarno senang sekali berkata tentang “Revolusi Belum Selesai”. [Sudah terbit buku “Revolusi Belum Selesai” (2014) Penyunting Budi Setyono & Bonnie Triyana; kumpulan pidato Soekarno masa “Kudeta Merangkak” 1965-67; simak/klik hlm 57  — Red DK]

Tetapi selama kata-kata itu tinggal menjadi suatu frasa atau pepatah untuk menyenang-nyenangkan hati belaka, dia merupakan kepalsuan yang tidak dapat diampuni. Mengapa?

Karena selamanya masyarakat diancam oleh bahaya dekadensi, yang berarti pula, bahwa revolusi dalam segala bentuknya, sebenarnya tidak pernah selesai. Selesainya sesuatu bentuk revolusi adalah berubahnya keadaan sesuatu dengan nilai yang lebih baik dan lebih berguna. Dan karena sesuatu norma dalam masyarakat terus menjadi tumpul dalam pergeseran dengan masanya, maka dia membutuhkan pembaharuan terus, membutuhkan penilaian kembali.

Tetapi bagaimanapun juga tanpa melakukan penyusunan dunia pikiran kembali, maka mereka yang setahun-dua yang lalu merupakan tokoh revolusioner, berubahlah dengan cepatnya menjadi reaksioner, bahkan juga anti-revolusioner.

Soalnya, bukan karena proses perubahan itu disebabkan karena tindakan permusuhan terhadap semangat revolusi, tetapi kebanyakan hanya karena tak ada kemampuan untuk menyusun kembali dunia pikirannya.

Biasanya pada barang siapa mendapat keuntungan yang paling gemuk dan paling baik daripada revolusi yang telah diperjuangkannya, dan tidak jarang mereka ini lebih suka tewas daripada merubah atau menyusun dunia pikirannya kembali.

Demikianlah, maka dalam dunia sastra pada tarafnya yang sekarang ini dibutuhkan perintisan jalan ke arah sastra revolusioner.

Dari problem-stelling di atas telah saya jelaskan apa yang saya maksudkan dengan sastra revolusioner itu.

Maka konsekuensi daripada sesuatu revolusi adalah pembasmian ataupun pembatasan dalam bentuk ekstrimnya adalah pembunuhan.

Sebelum orang berhasil dalam menyusun kembali dunia pikirannya, artinya memandang kejadian-kejadian baru dengan melalui norma-norma lama, dia tetap takkan mengerti, karena kejadian-kejadian baru sebagai bentuk-bentuk kontinuitas revolusi itu, nampak baginya hanya sebagai suatu kejahatan.

Tetapi bila orang sudah menyusun kembali dunia pikirannya, maka laku basmi dan batas hanyalah suatu langkah pertama, langkah-langkah yang merupakan keharusan.

            Langkah-langkah selanjutnya adalah membuat suatu garis perbatasan antara sastera anti-revolusioner dan reaksioner dengan yang revolusioner. Bila pembatasan ini tidak ada maka front pun tidak akan ada. Dan bila front tidak ada, maka antara laku revolusioner dengan laku anti-revolusioner dan reaksioner pun tidak ada. Jelasnya: tidak terjadi apa-apa.

Dengan datangnya akhir tahun 1956 dan bermulanya tahun 1957, maka menjadi jelaslah bagi saya, bahwa kita tidak bisa memandang sastra terlepas daripada perkembangan sosial dewasa ini.

Sastra pun wajib memandang dunia kita dari suatu totalitas, bukan dari suatu pojok yang telah kita tentukan sendiri. Ini pun bukan atau belum berarti, bahwa saya meniadakan kesempatan untuk berleha-leha bagi mereka yang tidak mau menginsyafi esensi dan urgensi masanya sendiri.

Justru dalam kesempatan ini tenaga-tenaga revolusioner memperoleh antipodanya, sehingga front yang dibuatnya bukan saja menjadi lebih tegas, juga perjuangannya menjadi kian sengit.

Apabila dalam sastra ini orang sudah bisa mengadakan perbedaan yang tegas antara ide revolusioner dan yang bukan, usaha dan kemajuan-kemajuan lagi akan dapat dilakukan dengan baik.

Sesuai dengan ini maka saya menyetujui pengertian masyarakat Tiongkok, bahwa pengarang adalah insinyur jiwa bagi bangsanya. Tentang hasil-hasil yang diperoleh daripada pengertian ini memang tidak dapat kita jadikan pegangan, yang lebih penting adalah usaha para pengarang untuk mengerti masyarakat dan masa kininya.

Tanpa pengertian akan masyarakat dan masa kininya akan berakibat, bahwa pengarang hanyalah akan sibuk dengan dirinya sendiri, yang berarti pula, bahwa penyelesaian-penyelesaian yang dibuat oleh si pengarang itu hanyalah untuk kepentingannya sendiri dan sepatutnya diselesaikan oleh dirinya sendiri, tanpa membawa-bawa pembicaranya ikut menjadi riuh rendah tanpa guna, bahkan tidak jarang kejangkitan penyakit  egosentrisme.

Maka bagi mereka yang tak mampu menyusun kembali dunia pikirannya sejak dari A, dia takkan mungkin mengerti kontinuitas daripada laku golongan atau perseorangan yang telah menyusun kembali dunia pikirannya.

Dan tentulah, bahwa demi keutuhan dunia pikirannya yang lama dengan kontinuitasnya, maka tiap laku daripada golongan yang akhir itu bukan saja tidak dipahaminya, juga dianggapnya mengancam dan merusak. Kerusakan ini akan memaksa orang melakukan pembetulan, tetapi asas daripada tiadanya kemampuan menyusun kembali dunia pikiran adalah sama: kemalasan, dan sudah merasa aman dengan dunia pikirannya yang lama.

Dalam dunia sastra hal yang demikian bukanlah suatu gejala aneh, bahkan di lapangan ilmu pengetahuan, terutama filsafat.

.

dk-81a-pram

PRAMOEDYA MARET 1989 (DENGAN ISTRI DAN POTRET ORANG TUANYA) PICT BY INSIDE INDONESIA.

.

Saya kira, bagi bangsa muda sebagai Indonesia ini, penyakit yang sungguh-sungguh sulit diberantas adalah bersenang-senang dengan dunia pikirannya, yang sudah [sulit?] diberantas adalah dengan dunia pikirannya yang merasa aman ini, yang menjadi demikian beku sehingga tidak lagi produktif dan kreatif.

Dan memang benar, bahwa di lapangan sastra, tidak menjadi keharusan bahwa sastra revolusioner itu mesti bernilai, karena nilai ini tidak bisa ditentukan dengan satu ukuran.

Yang pasti adalah, bahwa sastra revolusioner mempunyai guna sesuai dengan esensi dan urgensi hari ini, orang tidak akan mengerti sejarah, juga tidak akan mengerti politik sebagai sejarah dalam keadaan menjadi. Sedang kesusastraan tidak bisa terlepas daripada semua ini

Mereka yang tidak mempunyai kemampuan menyusun kembali dunia pikirannya ini, yang pada masa ini bukan hanya tidak mengerti dan bahkan menentang laku revolusioner, pada suatu kali dia akan mengerti dan menjadi jelas baginya apa yang sebenarnya sedang terjadi dan apa pula arah daripada kejadian itu, tetapi di kala ia sedang mengerti, tenaga-tenaga revolusioner baru telah menyusul, dan mereka ini tenggelam kembali dalam lipatan prasangka, dalam susunan dunia pikiran yang tetap aman dan sentosa.

Dengan datangnya tahun baru ini, patutlah kiranya yang mengatakan, bahwa sudah pada tempatnyalah, bahwa kita sebagai bangsa yang muda memelihara semangat revolusi menetap, dan tiap kali membuat pengamatan atas laku-laku yang terjadi di dalam masyarakatnya dan mengenalnya serta memperbedakannya antara yang revolusioner dan yang sebaliknya. Tanpa ini benar-benar suatu revolusi sudah gagal atau macet. (*)

Jakarta, akhir 1956.

.

Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925.

Novelis Indonesia paling produktif dan terkemuka yang pernah meredakturi ruang kebudayaan “Lentera” Harian Rakyat(1952-65) dan dosen di Universitas Res Publica Jakarta ini setelah peristiwa G30S/PKI ditahan di Jakarta dan Pulau Buru sebelum akhirnya diebabaskan pada 1979.

Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, antara lain: Inggris, Perancis, Jerman, Rusia, Jepang.

Novel-novelnya yang telah diterbitkan: Kranji-Bekasi Jatuh (1947); Perburuan (1950; Pemenang Hadiah Pertama Sayembara Balai Pustaka 1949); Keluarga Gerilya (1950); Mereka yang Dilumpuhkan (1951); Bukan Pasar Malam(1951); Di Tepi Kali Bekasi (1951); Gulat di Jakarta (1953); Maidah, Si Manis Bergigi Emas (1954); Korupsi (1954);Suatu Peristiwa di Banten Selatan (1958; menerima Hadiah Sastera Yayasan Yamin 1964, dan ditolak pengarangnya);Bumi Manusia (1980);Anak Semua Bangsa (1980); Jejak Langkah (1985); Gadis Pantai (1985); Rumah Kaca (1987); Arus Balik (1995); Arok Dedes(1999).

Cerita-cerita pendeknya dikumpulkan dalam: Subuh (1950); Percikan Revolusi (1950); Cerita dari blora (1952; memperoleh Hadiah Sastera Nasional BMKN 1952); Cerita dari Jakarta (1957; meraih Hadian Sastera Nasional BMKN 1957-58, dan ditolak oleh penulisnya).

Sedangkan karya-karya terjemahannya antara lain: Tikus dan Manusia (1950; John Steinbeck); Kembali kepada Cinta Kasihmu (1950; Leo Tolstoy); Perjalanan Ziarah yang Aneh (1956; Leo Tolstoy); Kisah Seorang Prajurit Soviet (1956; Mikhail Solokhov); Ibu (1956; Maxim Gorky); Asmara dari Rusia (1959; Alexander Kuprin); Manusia Sejati (1959; Boris Pasternak).

Selain itu, ia juga menulis memoar, esai, dan biografi. (*)

Sumber: E. Ulrich Kratz, Sumber Terpilih Sejarah Sastera Indonesia Abad XX, KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2000.

ooOoo

Catatan Redaksi Dasar Kita

Akhir bulan lalu, Kamerad Yuang WA kami. Isinya tulisan Pram ini “Ke Arah Sastra Revolusioner” termuat di laman galeribukujakarta.com, dengan komen:

“Tulisan tahun baru 1957 Pram, 60 tahun yang lalu. Cukup inspiratif. Sastra  perlu mengarahkan masyarakat untuk membedakan mana ide yang revolusioner, mana yang anti-revolusi.”

Kami WA balik Yuang. Intinya bahwa kami prihatin dengan dunia kesusastraan kita hari-hari ini. Ketika  jalan kapitalisme yang kita tempuh bukan karena dengan sengaja dan sadar seperti yang dilakoni Beijing sejak era Deng Xiaoping. Apalagi sepeninggal Pram.

Singkat cerita, dari sebuah pegelaran teater di TIM, Jakarta, beberapa waktu lalu dalam rangka merayakan Hari Lahir ke-70 Megawati, komen kami pada Kamerad Yuang:

“Politik jadi dagelan, dan memang sungguh menghibur penontonnya”.

Tapi kami menutup WA dengan janji tulisan Pram itu akan kami muat.

Tadi malam lewat tengah malam, kami surprise Google ingatkan kami akan 92 tahun Pram tepat hari ini, 6 Februari 2017 — seperti grafis/screenshot kami di atas. 

Tak pelak, hari yang baik ini kami manfaatkan untuk pengeposan khusus blog  Dasar Kita. Memuat utuh — dengan suntingan sebatas lema Bahasa “baik & benar” dan alinea-alinea yang tak sesuai sumber tanpa menyentuh isi untuk “manjakan” pembaca di screen — tulisan Pram 6-dasawarsa lalu … mengamini Yuang … mengamini Pram:

“Dunia sastra menjadi gelanggang yang riuh dimana orang berteriak atau menggerutu beradu keras. Adalah sudah sewajarnya saja kalau sastra yang menunjukkan tendensi yang demikian bersifat negatif semata: ia hanya membuat teriak dan gerutuan bertambah menjadi riuh.

[…]

Apabila dalam sastra ini orang sudah bisa mengadakan perbedaan yang tegas antara ide revolusioner dan yang bukan, usaha dan kemajuan-kemajuan lagi akan dapat dilakukan dengan baik.”

81. Peng Red (79) – 14 Jan ’17

Standar

81. Pengantar Redaksi (79) – 14 Januari 2017

.

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-79 bertarikh 14 Januari 2017.

Silakan saja simak/klik selengkapnya warita di bawah ini.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

Semoga media pewarta warga ini bermanfaat.

.

ooOoo

.

Membangun Fondasi untuk Pertumbuhan yang Berkelanjutan

.

Sri Mulyani Indrawati

Menteri Keuangan Republik Indonesia

Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia

.

Kuliah Umum

Universitas Syiah Kuala

Banda Aceh

5 Januari 2017 

.

dk-81a-membangun-fondasu-utk-pertumbuhan-sri-mulyani-i-univ-syiah-kuala-5-1-2017-01

.

Selengkapnya simak/klik hlm 81a.

.

ooOoo

80. Peng Red (78) – 14 Des ’16

Standar

80. Pengantar Redaksi (78) – 14 Desember 2016

.

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-78 bertarikh 14 Desember 2016.

Silakan saja simak/klik selengkapnya warita di bawah ini.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

Semoga media pewarta warga ini bermanfaat.

.

ooOoo

.

Renungan Akhir Tahun 2016

Menyambut Dua Tahun Pemerintahan Jokowi-JK 2014-2016

.

Selamat Jalan Fidel Castro,

Selamat Datang “Soekarno Abad XXI”

.

Oleh Redaksi Dasar Kita

.

Tajuk utama di atas sesungguhnya merupakan kutipan dari risalah kami, tepatnya “Catatan Redaksi Dasar Kita” (selanjutnya CRDK) atas wafatnya Kamerad Fidel Castro pada Jumat, 25 November 2016, di Havana, Kuba.

CRDK atas warita bersumber RT (dahulu Russia Today) yang kami bahasaindonesiakan di bawah tajuk “Viva Fidel!” Abu Castro Dikebumikan di Kota Santiago, Kuba (FOTO). Selengkapnya silakan simak/klik hlm 79h.

Sehingga bila Pembaca Budiman berkesempatan menyimak CRDK di  hlm 79h tersebut, kami harapkan ke arah mana risalah ini — dengan tajuk di atas — bermuara, mestinya cukup benderang.

Tetapi mengapa kami toh mengutipnya ulang di sini?

Jawabnya, karena sekadar atau malah mungkin lebih dari sekadar ingin “menggarisbawahi” frasa terebut. Khususnya dalam konteks tradisi renungan tutup tahun blog Dasar Kita, yang kali ini tentunya “Renungan Akhir Tahun 2016”. Sekalian sejak Jokowi-JK berkuasa, kali ini “Menyambut Dua Tahun Pemerintahan Jokowi-JK 2014-2016”.

.

Selengkapnya simak/klik hlm 80a.

.

ooOoo

.

.

.

79. Peng Red (77) – 14 Nov ’16

Standar

79. Pengantar Redaksi (77) – 14 November 2016

.

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-77 bertarikh 14 November 2016.

Silakan saja simak/klik selengkapnya warita di bawah ini.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

Semoga media pewarta warga ini bermanfaat.

.

ooOoo

.

Upaya Kudeta Gagal: 411

.

Jokowi: “Saya Heran, Ini Urusan DKI Kok Digeser Ke Presiden.”

.

“Coba kita logika dan kalkulasi nalar saja. Kalau saya sih senyam senyum saja.”

.

Oleh Redaksi Dasar Kita

.

Baru saja kita menyaksikan kepiawaian seorang Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia, dalam menyiasati — yang sulit bagi kami untuk tidak menyebutnya — sebuah upaya kudeta, yang berbentuk demonstrasi massal berlangsung di Jakarta pada 4 November 2016 lalu. Peristiwa yang kami sebut saja, mengutip viral terkait di media sosial,  Upaya Kudeta Gagal: 411.

Dan baru lepas sepekan Pak Presiden berkomentar “enteng” (dijadikan tajuk warita Kompas.com, 13/11/2016), Jokowi: Saya Heran, Ini Urusan DKI Kok Digeser ke Presiden.

Dan kami juga mengutip sepenggal kalimat Jokowi, masih dari warita Kompas.com tersebut, “Coba kita logika dan kalkulasi nalar saja. Kalau saya sih senyam senyum saja.”

.

dk-79a-jkw-marinir

.

Selengkapnya silakan simak/klik hlm 79a.

.

ooOoo

.

Presiden Jokowi: Negara Dalam Keadaan Aman

.

Sumber: Siaran Pers Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden Bey Machmudin, Bandung 15 November 2016

Acuan: Infopublik.idSelasa, 15 November 2016, 12:19 pm, Reporter Irvina Falah Ditayangkan Irvina Falah

.

dk-79a-jkw-paskhas

. 

Bandung – Presiden Joko Widodo menjamin dan menyatakan bahwa saat ini negara dalam keadaan aman. Hal tersebut ditegaskannya usai memberikan pengarahan kepada Komando Korps Pasukan Khas (KORPASKHAS) di markas komando KORPASKHAS di Lanud Sulaiman, Bandung, Jawa Barat, Selasa, 15 November 2016.

Pernyataan ini disampaikan Presiden menjawab pertanyan seorang jurnalis yang menanyakan kunjungan ke beberapa markas TNI dan Polri yang telah dilakukan Presiden seolah menunjukkan adanya kekhawatiran.

“Saya datang ke markas-markas di TNI dan Polri ini untuk memberikan rasa tenteram bagi masyarakat. Karena pasukan semuanya pada posisi siap mengamankan negara. Jadi justru menentramkan. Negara aman, sangat aman,” tegasnya.

.

Selengkapnya silakan simak/klik hlm 79b.

.

ooOoo

78. Peng Red (76) – 14 Okt ’16

Standar

78. Pengantar Redaksi (76) – 14 Oktober 2016

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-76 bertarikh 14 Oktober 2016.

Silakan saja simak/klik selengkapnya warita di bawah ini.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

Semoga media pewarta warga ini bermanfaat.

.

ooOoo

.

Abe Jepang Bertemu Fidel Castro, Meminta Bantuan Kuba Menjinakkan Korea Utara

.

Sumber: RT/Russia Today

Waktu Publikasi: 23 Sep 2016  05: 38, Waktu Sunting: 23 Sep 2016 05:43

.

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita

.

dk-77d-abe-castro

.

Selengkapnya simak/klik hlm 78a.

.

ooOoo

77. Peng Red (75) – 14 Sep ’16

Standar

.

dk-77-dilma-roussef-04

.

Sumber: Sputniknews.com, 02/09/2016 18:13 – diperbarui 02/09/2016 18:15

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita

.

Selengkapnya simak/klik hlm 77a.

.

ooOoo

 

.

%d blogger menyukai ini: