57h. Edisi 27 Juli 2015, 8-Pekan Pasca-1 Juni 2015, 3-Pekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

Standar

57h. Edisi 27 Juli 2015, 8-Pekan Pasca-1 Juni 2015, 3-Pekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

.

70 Tahun Pancasila
1 Juni 1945 – 1 Juni 2015

.
70 Tahun Republik Indonesia
17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2015

.

Jalan Ideologis Trisakti-Gotong Royong
Pemerintahan Jokowi-JK yang dilantik pada 20 Oktober 2014

.
pada hakikatnya:

.
Menegakkan satu dari Panca Azimat Revolusi (Nasakom, Pancasila, USDEK, Trisakti, Berdikari) yang sejatinya “lima Panca Azimat ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain”.

.
Yang sejatinya pula untuk mencapai sebuah Indonesia yang mengemban Ampera, Amanat Penderitaan Rakyat.

.
Yang sejatinya pula, Panca Azimat, Ampera, adalah Revolusi Indonesia yang “belum selesai”.

(Redaksi Dasar Kita)

.

♦ ♦ ♦

.

Nah, itu yang saya lihat di Indonesia Saudara-saudara, sesudah 30 September.

Kita gontok-gontokan satu sama lain, bakar-membakar semangat satu sama lain, sampai saya mengancam pada waktu itu di Bogor, Sidang Paripurna Kabinet, hayo, kalau ada golongan yang membakar-bakar semangat, saya sebagai Pemimpin Besar Revolusi, sebagai apa, sebagai pemimpin rakyat Indoensia ini, Pemimpin Bangsa Indonesia ini, saya merasa bertanggung jawab atas kesatuan bangsa Indonesia, golongan yang membakar semangat akan saya bubarkan.

[…]

Semua partai-partai yang mengajak gontok-gontokan, against ourselve Saudara-saudara, antara bangsa kita dengan bangsa kita, saya bubarkan.

[…]

Wartawan pun sudah saya ancam juga. Kalau ada surat kabar yang membakar-bakar semangat, pun akan saya bubarkan surat kabar itu.

[…]

Apa sebab?

Oleh karena saya bertanggung jawab atas bangsa Indonesia ini. Oleh karena saya bertanggung jawab atas keselamatan bangsa Indonesia ini. Saya tidak bisa toelaten bangsa Indonesia ini dirobek-robek oleh bangsa kita sendiri, tidak.
Malahan saya di Sidang Kabinet Paripurna telah berkata, saya punya politik dan sikap inilah, dan alls jullie mij nog lust, behoudt mij. Als jullie mij niet meer lust, trap mij eruit. 〈4〉

———
4〉 Kalau kalian masih suka sama saya, pertahankanlah saya. Kalau kalian tidak senang lagi, tendanglah saya.

[…]

Kalau jullie donder mij eruit, saya masih mempertanggungjawabkan saya punya pimpinan ini terhadap kepada Tuhan Yang Mahakuasa, saya insya Allah berkata, ya Allah ya Rabbi, I have done well.

Bahwa rakyat tidak ngikuti saya atau pemimpin-pemimpin, pentol-pentol rakyat tidak ngikuti saya, sorry, tetapi terhadap kepada-Mu, ya Tuhan ya Rabbi, saya bisa mempertanggungjawabkan segala saya punya pimpinan politik itu.

Karena saya berusaha memimpin bangsa Indonesia ini supaya tetap bersatu.

Nah, Saudara-saudara, yang saya mintakan account and discharge, Saudara benarkan, Syukur! Saudara tidak benarkan, ya sudahlah trap mij eruit!

Saudaralah yang menetapkan saya menjadi Presiden. Saudaralah yang menetapkan saya menjadi Pemimpin Besar Revolusi. Saudaralah yang menetapkan saya menjadi Mandataris.

Kalau Saudara masih membenarkan saya punya pimpinan, terima kasih. Sampai akhir hidup saya ini, Saudara-saudara, saya, insya Allah Swt. Dengan karunia Tuhan Yang Mahakuasa, akan tetap menyumbangkan jiwa ragaku ini kepada bangsa dan negara dan cita-cita bangsa.

Tapi kalau Saudara-saudara tidak membenarkan saya, O.K., O.K., trap mij eriut. Malah tidak perlu trap eruit itu, katakan saja kepada saya, saya akan mengundurkan diri.

Sebab Saudara-saudara, saya ini kadang-kadang, laillahaillallah, tiap-tiap golongan, tiap-tiap surat kabar menulis, taat kepada Pemimpin Besar Revolusi, taat kepada komando Bung Karno, tetapi apa yang saya lihat, dan itu pun sudah saya ucapkan, kadang-kadang saya merasa dikentuti, Saudara-saudara!

.

(Amanat PJM Presiden Soekarno pada Pembukaan Sidang Pimpinan MPRS ke-10 di Istana Negara, Jakarta, 6 Desember 1965 di dalam “Revolusi Belum Selesai” Kumpulan Pidato Soekarno 30 September 1965-Pelengkap Nawaskara, Penyunting Budi Setiyono dan Bonnie Triyana, PT Serambi Ilmu Semesta, 2014: 202-203)

.
ooOoo

.

Catatan Redaksi Dasar Kita

Menyambut 70 tahun Pancasila dan 70 tahun Republik Indonesia pada 2015 ini, secara periodik setiap Senin, terhitung sejak 1 Juni 2015 (kemudian 8 Juni, 15 Juni, 22 Juni, dan seterusnya) hingga berakhir Senin, 17 Agustus 2015, Pengeposan Khusus ini akan hadir. Dengan catatan bahwa “tradisi” pengeposan bulanan setiap tanggal 14, untuk 3 bulan ini digantikan Pengeposan Khusus pada 15 Juni, 13 Juli dan 17 Agustus.

Pengeposan Khusus hadir dengan “cuplikan-cuplikan” sambutan/pidato Soekarno yang kami kutip dari buku “Revolusi Belum Selesai” dimaksud seperti tersajikan di atas.

(Selengkapnya simak Pengeposan Khusus Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila).

.

ooOoo

.

Catatan untuk Pengeposan Khusus Edisi 27 Juli 2015

” … kadang-kadang saya merasa dikentuti, Saudara-saudara!”

Ya, “dikentuti”. Malah hemat kami sudah berlangsung setengah abad ini.  Bung Karno kita “kentuti”. 

Yang bagi kami bukan saja kita memunggungi Soekarno, kita malah membuang gas busuk dari tubuh kita ke Soekarno.

Kita terus saja “kentuti” Bung Karno dengan menjauhi Panca Azimat (Nasakom, Pancasila, USDEK–UUD 1945-Sosialisme ala Indonesia–Demokrasi Tepimpin-Ekonomi Terpimpin-Kepribadian Indonesia, Berdikari) dan Ampera/Amanat Penderitaan Rakyat (NKRI, Masyarakat Adil Makmur, Hapusnya Penindasan Manusia atas Manusia, Nasion atas Nasion).

Lema “Nasakom” atau USDEK dengan “Sosialisme ala Indonesia” atau “Demokrasi Terpimpin” misalnya, bernasib “serupa” dengan lema “PKI”.

Makanya bagi kami, metafornya, imperialis berhasil “menanam” (pinjam sebuah produk teknologi komputer personal) chips di kepala kita masing-masing. “Chips-kentuti BK”. Menyusul Doktrin Truman yang (di kemudian hari “digenapi” konstitusi gadungan UUD 2002 semasa kerusuhan Ambon sedang marak-maraknya) sukses besar dengan Kudeta Merangkak yang bukan saja berhasil gusur BK berikut pikiran-pikirannya, Partai Komunis Indonesia pun di abad ke-21 ini masih diemohi dan malah dicerca kaum muda kita. Khususnya kaum kiri-revisionis (baca: left-cover for imperialism) didukung/pro ideologi yang diusung kaum cendekiawan borjuis.

Tetapi kaum imperialis tampaknya tidak pernah membayangkan. Jokowi yang “diorbitkan” Bu Mega (ideologis berbeda dengan sang Ayah yang konsisten memusuhi imperialisme) melalui kendaraan politik PDI-P, ternyata malah seorang “Soekarno abad ke-21″. Tapi yang justru merangkul para pebisnis negeri-negeri imperialis itu. Sembari mantap memilih model (versi Pepe Escobar) “pengintegrasian Eurasia” dengan bergabung ke AIIB yang digagas RRT bagian dari “One Belt, One Road”.

Tak pelak, sebuah pendekatan ala USDEK/Panca Azimat sedang direvitalisasi Jokowi.

Apalagi pascamangkatnya Lee Kuan Yew, dunia disuguhi semacam data empiris baru. Bahwa pilihan “struktur demokrasi vertikal” (pinjam istilah cendekiawan non-Marxis Naisbitt, 2010: 246) oleh RRT (prodoktrin Marxian) dan Singapura (antidoktrin Marxian) menghasilkan RRT macam apa dan Singapura macam apa hari ini.

Apalagi “intisari” (oleh Stephen Gowans — simak hlm 60) atas pidato Presiden Suriah al-Assad pada 27 Juli 2015 di Damaskus. Makin berandang, setidaknya bagi kami, kesejajaran apa yang dialami Assad dengan Soekarno — padahal sudah setengah abad berlalu. Bukti, “kemunduran” luar biasa Barat dalam memaknai “harkat manusia” sebagai mahluk penghuni planet ini di samping hewan dan fauna yang tak urusannya dengan martabat dan harga diri sebuah nasion.

Sehingga.bagi kami, mendukung Jokowi-JK tanpa reserve sama sebangun upaya mencabut “chips kentuti BK” dari kepala kita masing-masing” adalah keniscayaan.

ooOoo

Simak rangkaian Pengeposan Khusus:

Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila

Edisi 8 Juni 2015

Edisi 15 Juni 2015

Edisi 22 Juni 2015/488 Tahun Jakarta

Edisi 29 Juni 2015

Edisi 6 Juli 2015

Edisi 13 Juli 2015

Edisi 20 Juli 2015

57g. Edisi 20 Juli 2015, 7-Pekan Pasca-1 Juni 2015, 4-Pekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

Standar

57g. Edisi 20 Juli 2015, 7-Pekan Pasca-1 Juni 2015, 4-Pekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

.

70 Tahun Pancasila
1 Juni 1945 – 1 Juni 2015

.
70 Tahun Republik Indonesia
17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2015

.

Jalan Ideologis Trisakti-Gotong Royong
Pemerintahan Jokowi-JK yang dilantik pada 20 Oktober 2014

.
pada hakikatnya:

.
Menegakkan satu dari Panca Azimat Revolusi (Nasakom, Pancasila, USDEK, Trisakti, Berdikari) yang sejatinya “lima Panca Azimat ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain”.

.
Yang sejatinya pula untuk mencapai sebuah Indonesia yang mengemban Ampera, Amanat Penderitaan Rakyat.

.
Yang sejatinya pula, Panca Azimat, Ampera, adalah Revolusi Indonesia yang “belum selesai”.

(Redaksi Dasar Kita)

.

♦ ♦ ♦

.

Nah, Saudara-saudara, saya ulangi, inspirasi adalah pertemuan antara sadar dan tidak sadar dalam manusia, pertemuan secara scheppen, secara membina, membangun, cipta.

Nah, lantas revolusi itu apa?

Revolusi itu adalah kataku, razende inspiratie van de geschiedenis atau razande inspiratie, jadi tidak hanya hasil daripada bewuste. Sebab inspirasi adalah pertemuan antara bewuste dan onderbewuste.

Nah, karena revolusi adalah razende inspiratie, maka revolusi itu adalah bukan hasil daripada bewuste saja, tetapi hasil juga daripada onderbewuste daripada masyarakat, daripada yang onbewust dan bewust ini harus bertemu. Meledak pertemuan ini menjadi revolusi.

Nah, pada waktu itu saya berdiri di sini, saya terangkan hal itu. Saya beri contoh, lihat revolusi, baik revolusi kita maupun Revolusi Soviet, atau revolusi bangsa-bangsa lain, apakah yang menjalankan revolusi itu semuanya bewust, hasil pikiran mereka? Tidak, tidak.

Ambil rakyat kita. Rakyat kita itu banyak yang tidak bisa bicara, tidak bisa mengutarakan pikiran-pikiran. Bahkan pikiran pun tidak sampai-sampai tinggi-tinggi, jauh-jauh. En toh mereka melahirkan revolusi. Justru oleh karena dia punya bewuste en onderbewuste bertemu satu sama lain.

Bukan saja di kalbu manusia ada pertemuan antara bewuste dan onderbewuste, juga di kalbu masyarakat, kalbu rakyat ada pertemuan antara bewuste dan onderbewuste, dan itu menjadi revolusi.

Karena itu saya tadi berkata, revolusi mempunyai selfbirth, lahir dengan sendirinya. Revolusi bukan bikinan manusia, revolusi menjalankan sendiri dia punya darma bakti.

Sehingga saya tadi berkata, one can teach the leaders, one can teach the masses as well, but can we teach the revolution something? Tidak.

Keluar daipada onderbewuste daripada rakyat jelata Indonesia, ingin makan cukup. Keluar daripada onderbewuste rakyat Indonesia ingin mempunyai negara. Keluar daripada onderbewuste rakyat Indonesia itu ingin, sekadar ingin, yang tidak bisa diutarakan, ingin supaya anaknya bisa membaca dan menulis. Keluar daripada ondebewuste daripada masyarakat

Indonesia itu, ingin mempunyai rumah yang tidak bocor. Keluar daripada onderbewuste rakyat Indonesia itu ingin menjadi suatu bangsa yang terhormat.

Marhaen atau rakyat jelata atau rakyat apapun tidak tahu teori revolusi, tidak tahu Marx, tidak tahun Sun Yat Sen, tidak tahu Rizal dari Filipina, tidak tahu Mustafa Kamil dari Mesir, tidak tahu pemimpin-pemimpin lain, tidak tahu what the French revolution is fighting for, tidak demokrasi parlementer, tidak tahu demokrasi yang dinamakan demokrasi terpimpin, tidak tahu.

En toh massa ini berevolusi! Sampai membakar rumahnya sendiri, sampai membakar jembatan-jembatan, sampai bersedia mati, sampai merelakan suaminya menjadi pejuang, sampai merelakan anaknya maju ke medan pertempuran, sampai ibu, nenek-nenek ini ikut di dalam gerakan yang dinamakan revolusi itu.

Padahal dia tidak tahu teori, tidak tahu. Tetapi dia punya onderbewustzijn, Saudara-saudara, dia menggerakkan, bertemu dengan dia punya bewutzijn.

Oleh karena itu maka saya berkata, revolution leads itself, revolusi adalah selfbirth, bukan keinginanku, bukan bikinanmu, bukan bikinanmu, bukan bikinanmu, bukan bikinanmu.

Nah, Revolusi Indonesia dus tidak bisa diselewengkan manusia. Tujuannya sudah tetap, tidak bisa di—saya punya perkataan akhir-akhir ini—tidak bisa diperkanankan. Oleh karena lahir sebagai bayi kiri. Kiri, sejak lahirnya kiri. Bayi kiri, dalam arti politik sosial kiri.

Bukan kok bayi yang tidak punya tangan kanan, cuma punya tangan kiri saja, tidak.

Revolusi Indonesia adalah revolusi kiri.

Menghendaki bukan saja satu masyarakat yang lepas daripada imperialisme, tetapi satu masyarakat yang benar-benar boleh dinamakan masyarakat sosial ekonomi kiri.

Antikapitalisme, kiri. Masyarakat yang sama rasa sama rata, kiri.

.

(Amanat PJM Presiden Soekarno pada Hari Ulang Tahun Lembaga Kantor Berita Antara di Istana Bogor, 12 Desember 1965;di dalam “Revolusi Belum Selesai” Kumpulan Pidato Soekarno 30 September 1965-Pelengkap Nawaskara, Penyunting Budi Setiyono dan Bonnie Triyana, PT Serambi Ilmu Semesta, 2014: 227-229)

.

ooOoo

.

Catatan Redaksi Dasar Kita

Menyambut 70 tahun Pancasila dan 70 tahun Republik Indonesia pada 2015 ini, secara periodik setiap Senin, terhitung sejak 1 Juni 2015 (kemudian 8 Juni, 15 Juni, 22 Juni, dan seterusnya) hingga berakhir Senin, 17 Agustus 2015, Pengeposan Khusus ini akan hadir. Dengan catatan bahwa “tradisi” pengeposan bulanan setiap tanggal 14, untuk 3 bulan ini digantikan Pengeposan Khusus pada 15 Juni, 13 Juli dan 17 Agustus.

Pengeposan Khusus hadir dengan “cuplikan-cuplikan” sambutan/pidato Soekarno yang kami kutip dari buku “Revolusi Belum Selesai” dimaksud seperti tersajikan di atas.

(Selengkapnya simak Pengeposan Khusus Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila).

.

ooOoo

.

Catatan untuk Pengeposan Khusus Edisi 20 Juli 2015

“Revolusi Indonesia adalah revolusi kiri.

Menghendaki bukan saja satu masyarakat yang lepas daripada imperialisme, tetapi satu masyarakat yang benar-benar boleh dinamakan masyarakat sosial ekonomi kiri.

Antikapitalisme, kiri. Masyarakat yang sama rasa sama rata, kiri”

Sangat berandang, gamblang, terlebih pasca-1/2-abad, era pemerintahan Jokowi-JK pula (baca: hakikatnya lanjutkan “Revolusi Belum Selesai” Bung Karno) . Bahwa yang Soekarno tawarkan dan wariskan — “berkolaborasi” dengan kaum kiri-materialis-nonrevisionis kala itu — adalah Ampera (NKRI, Masyarakat Adil dan Makmur, Hapusnya penindasan manusia atas manusia, penindasan nasion atas nasion). Dengan “jalan ideologis” Panca Azimat (Nasakom, Pancasila, USDEK–UUD 45-Sosialisme Indonesia-Demokrasi Terpimpin-Ekonomi Terpimpin-Kepribadian Indonesia –Trisakti, Berdikari).

ooOoo

.Simak rangkaian Pengeposan Khusus:

Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila

Edisi 8 Juni 2015

Edisi 15 Juni 2015

Edisi 22 Juni 2015/488 Tahun Jakarta

Edisi 29 Juni 2015

Edisi 6 Juli 2015

Edisi 13 Juli 2015

ooOoo

.

59. Peng Red (56) – 13 Jul ’15 – AHOK UNTUK PILKADA DKI 2017

Standar

AHOK UNTUK PILKADA DKI 2017

.

Kawan Pembaca Budiman, di “sela-sela” Pengeposan Khusus menyambut 70 Tahun Pancasila dan 70 Tahun RI, di samping ada pengeposan yang juga khusus dalam hal ini terkait isu Presiden Joko Widodo dan Perekonomian Indonesia (simak hlm 58), masih ada lagi pengeposan khusus lainnya kami beri tajuk “AHOK UNTUK PILKADA DKI 2017″.

Pengeposan khusus yang tak lain berisi serangkaian pewartaan yang merupakan wujud dukungan Redaksi Dasar Kita kepada Bang Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama dalam Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) DKI (Daerah Khusus Ibukota) Jakarta pada 2017 mendatang.

Dan bagi kami, dukungan dimaksud tidak melihat/memerhitungkan pada “kendaraan politik” yang digunakan Bang Ahok. Maksudnya, entah Bang Ahok menggunakan jalur independen atau parpol tertentu, kami tetap dukung tanpa reserve.

Kami tidak akan beragumen ala “reinventing the wheel” mengapa Bang Ahok perlu dan harus memenangkan Pilkada DKI 2017. Seperti apa yang dengan sangat baik sekali sudah dan tengah dilakukan oleh “Teman Ahok”

Paling kami (yang percaya perubahan signifikan dan berjangkau jauh ke depan adalah lewat parpol pelopor progresif-revolusioner yang belum “berhasil” dicapai PDI-P dan NasDem yang usung pikiran-pikiran Soekarno) coba “melengkapi”  — dalam konteks “jasmerah” (jangan sekali-kali meninggalkan sejarah) — dengan memuat utuh …

Teks lengkap pidato Soekarno seusai pelantikan Ali Sadikin sebagai Gubernur Jakarta pada 1966 (sumber: “Revolusi Belum Selesai”, 2014).  Yang sudah lebih awal diposkan, mengawali pagina khusus ini, dukungan kepada Ahok untuk memenangkan Pilkada DKI 2017. Amin.

Silakan simak halaman-halaman berikut (yang akan bertambah hingga Pilkada DKI 2017 yang akan datang):

hlm 59a;    hlm 59b;    hlm 59c: hlm 59d & terbarui: hlm 59e

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman

Dan semoga tertarik ikut mendukung Bang Ahok untuk Pilkada DKI 2017.

57f. Edisi 13 Juli 2015, 6-Pekan Pasca-1 Juni 2015, 5-Pekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

Standar

57f. Edisi 13 Juli 2015, 6-Pekan Pasca-1 Juni 2015, 5-Pekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

.

70 Tahun Pancasila
1 Juni 1945 – 1 Juni 2015

.
70 Tahun Republik Indonesia
17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2015

.

Jalan Ideologis Trisakti-Gotong Royong
Pemerintahan Jokowi-JK yang dilantik pada 20 Oktober 2014

.
pada hakikatnya:

.
Menegakkan satu dari Panca Azimat Revolusi (Nasakom, Pancasila, USDEK, Trisakti, Berdikari) yang sejatinya “lima Panca Azimat ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain”.

.
Yang sejatinya pula untuk mencapai sebuah Indonesia yang mengemban Ampera, Amanat Penderitaan Rakyat.

.
Yang sejatinya pula, Panca Azimat, Ampera, adalah Revolusi Indonesia yang “belum selesai”.

(Redaksi Dasar Kita)

.

♦ ♦ ♦

.

Saya ulangi lagi, perjuangan antiimperialisme harus kita jalankan terus, juga atas skala internasional.

Kita menyadari dan tahu benar bahwa perikehidupan bangsa di abad XX sekarang ini tidak mungkin lagi kita jalankan sendiri-sendirian.

Dunia sekarang ini memang telah menjadi kecil. Bola dunia sekarang ini telah menjadi laksana satu kelereng kecil di dalam tangannya Si Pembuat Sejarah. Segede mrico binubut ing astane Sang Murbeng Dumadi.

John Foster Dulles dalam perdebatannya dengan saya mengatakan bahwa Amerika menjalankan satu politik dunia – menjalankan satu global policy.

Well! Sekarang saya menjawab, Indonesia, terutama sekali dalam perjuangannya melawannya antiimperialisme, menjalankan strategi dunia – Indonesia menjalankan satu global strategy.

Apalagi kalau kita ingat bahwa Revolusi Indonesia hanyalah satu bagian saja daripada revolusi umat manusia, satu bagian saja daripada the universal revolution of man.

Dan apakah inti daripada the universal revolution of man itu? Apakah ini daripada tiap-tiap revolusi dalam abad XX ini?

Inti hakiki dari tiap-tiap revolusi dalam abad XX ini ialah kemerdekaan bagi manusia, kemerdekaan bagi bangsa, antiimperialisme, anti-exploitation de l’homme par l’homme dan anti-exploitation de nation par nation.

Karena itulah maka sebagai salah satu mercu suar daripada universal voice – mempunyai suara sejagad, Indonesia didengarkan, dilihat, diperhatikan, sering-sering dikagumi oleh orang di lima benua dan tujuh samudra!

Inilah kemercusuaran kita, berkat perjuangan kita berdasarkan Proklamasi Kemerdekaan dan Deklarasi Kemerdekaan kita itu.

Saudara-saudara, saya pernah dihadiahi dengan coretan tembok yang berbunyi: “Mercu suar politik no, mercu suar ekonomi yes”.

Wah, wah, wah, wah hebat bener nih! Hebat bener!

Tapi saya tanya: Siapa bisa dalam abad XX memisahkan politik dari ekonomi, baik nasional maupun internasional?
Dalam abad XX dua hal ini, ekonomi dan politik, adalah kait-mengait, kait-mengait satu sama lain, rante-rinante satu sama lain, interwoven satu sama lain.

Apalagi buat kita, ekonomi kita!

Sebab, ekonomi kita kejar bukan ialah ekonomi atas dasar orde baru, ekonomi atas dasar orde sosialis, bukan ekonomi seperti di Amerika atau ekonomi seperti di Jepang, satu ekonomi sosialis tanpa exploitation de l’homme par l’homme.

Tetapi saya tanya lagi, ekonomi tanpa exploitation de l’homme par l’homme apakah mungkin tanpa perjuangan, tanpa menghilangkan exploitation de nation par nation?

Ekonomi tanpa exploitation de l’homme par l’homme tak dapat kita selenggarakan tanpa hilangnya exploitation de nation par nation, yaitu tanpa hilangnya imprialisme! Membangun ekonomi sosialis dengan bersama-sama dengan itu menggempur imperialisme, menggempur imperialisme untuk bersama-sama dengan itu membangun sosialisme, inilah rantai yang saya maksudkan, itu adalah Dwi Tunggal!

Dwi Eka! Dwi Simultanisme!

Karena itulah maka Ampera bukan hanya urusan isi perut.

Ampera adalah urusan isi perut dan negara merdeka dari imperialisme plus Dunia Baru.

Ampera adalah Dwi Tunggal politik dan ekonomi, Dwi Tunggal ekonomi dan politik.

Dan tidak ada ke-ambeg-parama-arta dari yang satu di atas yang lain.

Malah Ampera adalah Tritunggal, yaitu:

Negara Merdeka – politik!

Masyarakat adil dan makmur – ekonomi!

Dunia Baru – politik!

Pun di dalam Tri Tunggal Ampera ini tidak ada ke-ambeg-parama-arta-an.

Karena itulah maka saya tempo hari berkata bahwa hati saya plong karena MPRS memberi kepada Kabinet Ampera tugas Catur Karya, bukan Eka karya: satu, ekonomi, dua, gempur imperialisme, tiga, politik bebas aktif, empat, pemilihan umum.

Ekonomi dan politik bersama-sama, ekonomi dan politik simultan, ekonomi dan politik door elkaar en aan elkaar. 〈12〉

.———
〈12〉 Tercampur dan terkait

Bagaimana hal stabilisasi ekonomi dan stabilisasi politik? Bagaimana itu Dwi Dharma yang ditugaskan oleh MPRS ?
Itu pun tak dapat dipisahkan satu sama lain. Itu pun interwoven satu dengan yang lain.

Kita bekerja keras untuk stabilisasi ekonomi dan stabilisasi politik, bersama-sama.

Tapi stabilisasi adalah satu pengertian yang relatif. Stabilisasi adalah satu relatief begrip!

Jangan takut memasuki z.g. instabilisasi, kalau instabilisasi itu sementara perlu mencapai stabilisasi.

Memang revolusi ia punya antithesa dan synthesa, dengan ia punya dialektika, adalah satu rantai panjang instabilisasi dan stabilisasi.

Dan terutama sekali camkan dalam hatimu dan pikiranmu, camkan secam-camnya bahwa stabilisasi yang kita perlukan sekarang bukanlah stabilisasi imperialis tetapi stabilisasinya perjuangan kita yang revolusioner, sebagai batu loncatan untuk meneruskan revolusi dan memenangkan revolusi itu.

Saudara-saudara, saya bergembira pula bahwa MPRS mengenai PBB berkata, “Harus meningkatkan perjuangan untuk mengadakan perombakan dalam tubuh PBB, baik struktural maupun komposisional, untuk disesuaikan dengan perkembangan zaman.”

(Pidato Presiden Soekarno pada Hari Ulang Tahun ke-21 Republik Indonesia, Jakarta, 17 Agustus 1966; di dalam “Revolusi Belum Selesai” Kumpulan Pidato Soekarno 30 September 1965-Pelengkap Nawaskara, Penyunting Budi Setiyono dan Bonnie Triyana, PT Serambi Ilmu Semesta, 2014: 598-600)

.
ooOoo

.

Catatan Redaksi Dasar Kita

Menyambut 70 tahun Pancasila dan 70 tahun Republik Indonesia pada 2015 ini, secara periodik setiap Senin, terhitung sejak 1 Juni 2015 (kemudian 8 Juni, 15 Juni, 22 Juni, dan seterusnya) hingga berakhir Senin, 17 Agustus 2015, Pengeposan Khusus ini akan hadir. Dengan catatan bahwa “tradisi” pengeposan bulanan setiap tanggal 14, untuk 3 bulan ini digantikan Pengeposan Khusus pada 15 Juni, 13 Juli dan 17 Agustus.

Pengeposan Khusus hadir dengan “cuplikan-cuplikan” sambutan/pidato Soekarno yang kami kutip dari buku “Revolusi Belum Selesai” dimaksud seperti tersajikan di atas.

(Selengkapnya simak Pengeposan Khusus Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila).

.

ooOoo

.

Catatan untuk Pengeposan Khusus Edisi 13 Juli 2015

Kami, Redaksi Dasar Kita, tegaskan ulang, buku “Revolusi Belum Selesai” dimaksud ini merupakan salah satu referensi terpenting dalam upaya, istilah kami, “mencabut chips ’kentuti BK (Bung Karno)’ yang ditanam kaum imperialis di kepala kita masing-masing” setengah abad terakhir ini. (Simak pengeposan terbarui hlm 57h).

Chips “kentuti BK”, yang (salah satunya) “berhasil menunda” terbitnya pidato-pidato Soekarno setidaknya selama 50 tahun sebelum Budi Setiyono dan Bonnie Triyana bersama PT Serambi Ilmu Semesta melansir kerja akbar “Revolusi Belum Selesai” pada 2014.

Berbarengan naiknya Jokowi-JK yang memilih Jalan Ideologis pada tahun yang sama (20 Oktober 2014) dengan mengusung (salah satu unsur) Panca Azimat: Trisakti. Sekaligus “bukti” gagalnya Doktrin Truman (penghadangan komunisme sejagat termasuk pikiran-pikiran Soekarno) di Indonesia.

Maka “Revolusi Belum Selesai”, setidaknya bagi kami bagaikan “booster”/penambah tenaga dalam menegakkan kembali batang yang tumbang (bukan tenggelam) untuk tegaknya sebuah RI ber-Panca Azimat dengan Ampera yang “bukan hanya urusan perut” itu.

Jalan Ideologis Trisakti-Masohi/Gotong Royong Jokowi-JK yang bagi kami adalah “solusi cerdas dan cantik” penggelaran “karpet merah” untuk atasi konstitusi gadungan UUD 2002. Lantaran, mustahil visi misi Jokowi-JK akan mencapai hasil optimal sebuah RI Hebat (baca: Ampera) bila Jalan Ideologis itu berada di “habitat” bukan revolusi Agustus 1945.

Sekaligus, Jalan Ideologis Jokowi-JK secara alamiah/natural itu akan “melapangkan jalan” – seiring hadirnya negara secara bertahap dan signifikan – hapusnya UUD 2002 setidaknya makin optimal syarat-syarat material bagi amendemen pada greget Tritunggal (Pembukaan-Batang Tubuh-Penjelasan) UUD 45.

Dalam konteks (Jokowi-JK di abad ke-21) ini, ucapan Soekarno menjadi sangat bermaka: “Memang revolusi ia punya antithesa dan synthesa, dengan ia punya dialektika, adalah satu rantai panjang instabilisasi dan stabilisasi.”

.

ooOoo

.

Simak rangkaian Pengeposan Khusus:

Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila

Edisi 8 Juni 2015

Edisi 15 Juni 2015

Edisi 22 Juni 2015/488 Tahun Jakarta

Edisi 29 Juni 2015

Edisi 6 Juli 2015

Edisi 13 Juli 2015

58. Peng Red (55) – Presiden Joko Widodo & Perekonomian Indonesia — Juli 2015

Standar

Tepat setahun setelah berlangsungnya Pemilu Pilpres 2014 yang membawa Jokowi-JK ke pucuk pimpinan negeri ini, Presiden Joko Widodo menghadiri acara yang digelar Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) di Convention Center, Jakarta, 9 Juli 2015.

“Presiden Joko Widodo berbicara blak-blakan soal lesunya perekonomian yang kini dirasakan di berbagai sektor. Jokowi membeberkan bahwa faktor siklus ekonomi yang berubah menjadi faktor utama perekonomian melambat,” demikian Kompas.com (9/7/2015) yang kami kutip utuh waritanya dalam pengeposan kali ini di “sela-sela” Pengeposan Khusus Redaksi Dasar Kita menyambut 70 tahun Pancasila dan 70 tahun RI.

Lamun, kami awali dengan kutipan utuh warita sebelumnya (juga bersumber pada Kompas.com) tentang Chairman Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI) Christianto Wibisono menyatakan bahwa ada tokoh ‘George Soros’ di dalam negeri untuk melemahkan nilai mata uang rupiah terhadap dollar AS.” (Kompas.com, 17/6/2015).

Kabar yang berbau “rumors” tapi setidaknya mengingatkan kita pada era di ujung kekuasaan Soekarno di mana ekonomi memburuk secara “absurd”. Dan adalah Christianto Wibisono yang tercacat dalam sejarah menulis buku “Wawancara Imajiner dengan Soekarno” — meski dalam kaca mata kami (dalam proses-belajar) sebagai kaum materialis-nonrevisionis, tidak “setegas” isu “George Soros lokal” yang dilansir dalam mendukung Jokowi-JK. Menarik.

Silakan simak “serial perekonomian Jokowi-JK semester I 2015″ ini yang bersumber pada Kompas.com:

hlm 58a, hlm 58b, hlm 58c

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

Semoga media ini bermanfaat.

57e. Edisi 6 Juli 2015, 5-Pekan Pasca-1 Juni 2015, 6-Pekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

Standar

57e. Edisi 6 Juli 2015, 5-Pekan Pasca-1 Juni 2015, 6-Pekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

.

70 Tahun Pancasila
1 Juni 1945 – 1 Juni 2015

.
70 Tahun Republik Indonesia
17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2015

.

Jalan Ideologis Trisakti-Gotong Royong
Pemerintahan Jokowi-JK yang dilantik pada 20 Oktober 2014

.
pada hakikatnya:

.
Menegakkan satu dari Panca Azimat Revolusi (Nasakom, Pancasila, USDEK, Trisakti, Berdikari) yang sejatinya “lima Panca Azimat ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain”.

.
Yang sejatinya pula untuk mencapai sebuah Indonesia yang mengemban Ampera, Amanat Penderitaan Rakyat.

.
Yang sejatinya pula, Panca Azimat, Ampera, adalah Revolusi Indonesia yang “belum selesai”.

(Redaksi Dasar Kita)

.

♦ ♦ ♦

.

Saudara-saudara sekalian, assalammualaikum warakhmatullahi wabarakatuh!

Syukur alhamdulillah, MPRS telah menyudahi sidangnya yang berlaku beberapa hari, beberapa minggu ini, dan syukur alhamdulillah telah disampaikan kepada saya atas nama Ketua, oleh Wakil-wakil Ketua, Saudara Mashudi dan Saudara Siregar.

Sekarang saya diminta untuk mengadakan pidato pembukaan.

Tatkala saya menerima naskah itu tadi, maka yang ditulis di dalam naskah ialah hanya ketetapan tentang pemilihan umum. Pemilihan umum pasal 1, pasal 2, pasal 3, pasal 4.

Keputusan-keputusan yang lain atau ketetapan-ketetapan yang lain tidak dimaktubkan di dalam naskah yang diserahkan kepada saya itu tadi.

Hanya sekadar dari pidato pembukaan oleh Saudara Ketua, demikian pula sekadar daripada apa yang saya dengar kanan-kiri, sekadar daripada apa yang saya baca di surat-surat kabar, di samping hal yang mengenai pemilihan umum, MPRS telah mengambil keputusan-keputusan dan ketetapan-ketetapan lain yang penting pula.

Nah, tadi saya mendengar daripada Ketua bahwa saya ditetapkan oleh MPRS menjadi Mandataris daripada MPRS. Artinya bahwa saya ditugaskan untuk melaksanakan apa-apa yang telah ditetapkan atau diputuskan di dalam sidangnya yang sekarang ini.

Tapi dengan secara detail saya sebetulnya belum mengetahui apa keputusan-keputusan dan ketetapan-ketetapan daripada MPRS itu. Sebab, Saudara-saudara tadi telah mendengar dari saya, saya hanya sekadar menerima naskah ini yang hanya menyebut pemilihan umum.

[…]

MPRS telah mengambil keputusan-keputusan lain-lain yang penting-penting pula  mengenai ini mengenai itu, yang semuanya itu telah diterima baik oleh MPRS dan sekarang sebagai Ketua tadi saya dijadikan mandataris untuk melaksanakan keputusan-keputusan dan ketetapan-ketetapan itu.

Maka, saudara-saudara, pada saat sekarang ini saya hanya bisa berkata atau menjawab bahwa dalam prinsipnya, insya Allah, saya mau dan menerima dan menjadi Mandataris daripada MPRS

Tentu isinya mandat itu belum saya ketahui dengan jelas, dengan benar, dengar detail. Tetapi pada garis besarnya, pada prinsipnya, insya Allah Swt., dengan taufik dan hidayah dan inayah-Nya, saya terima menjadi Mandataris daripada MPRS.

Tadi Saudara Ketua tentu menyebut beberapa hal di dalam keputusan dan ketetapan itu. Ada mengenai pemiihan umum juga disebut, dan juga termasuk di dalam naskah ada mengenai Kabinet Ampera. Diucapkan oleh Ketua ada mengenai, apalagi tadi ya, sampai-sampai saya tidak tahu jelas apalaginya..

.

(Pidato Presiden Soekarno pada Sidang Umum IV MPRS di Istora Senayan, Jakarta, 6 Juli 1966; di dalam “Revolusi Belum Selesai” Kumpulan Pidato Soekarno 30 September 1965-Pelengkap Nawaskara, Penyunting Budi Setiyono dan Bonnie Triyana, PT Serambi Ilmu Semesta, 2014: 539-540)

ooOoo

Catatan Redaksi Dasar Kita

Menyambut 70 tahun Pancasila dan 70 tahun Republik Indonesia pada 2015 ini, secara periodik setiap Senin, terhitung sejak 1 Juni 2015 (kemudian 8 Juni, 15 Juni, 22 Juni, dan seterusnya) hingga berakhir Senin, 17 Agustus 2015, Pengeposan Khusus ini akan hadir. Dengan catatan bahwa “tradisi” pengeposan bulanan setiap tanggal 14, untuk 3 bulan ini digantikan Pengeposan Khusus pada 15 Juni, 13 Juli dan 17 Agustus.

Pengeposan Khusus hadir dengan “cuplikan-cuplikan” sambutan/pidato Soekarno yang kami kutip dari buku “Revolusi Belum Selesai” dimaksud seperti tersajikan di atas.

(Selengkapnya simak Pengeposan Khusus Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila).

.

ooOoo

.

Catatan untuk Pengeposan Khusus Edisi 6 Juli 2015

Tapi dengan secara detail saya sebetulnya belum mengetahui apa keputusan-keputusan dan ketetapan-ketetapan daripada MPRS itu. […] Ada mengenai pemiihan umum juga disebut, dan juga termasuk di dalam naskah ada mengenai Kabinet Ampera. Diucapkan oleh Ketua ada mengenai, apalagi tadi ya, sampai-sampai saya tidak tahu jelas apalaginya.

Demikian yang kami kutip ulang dari pidato Soekarno di atas dengan tambahan cetak tebal.

Artinya, kini, memasuki dasawarsa kedua abad ke-21, sekali lagi kami, Redaksi Dasar Kita, dengan rangkaian Pengeposan Khusus setiap Senin ini — yang mengutip buku “Revolusi Belum Selesai” cuplikan-cuplikan pidato/sambutan Soekarno dalam periode “kudeta merangkak” itu — sekadar mengingatkan lagi dan lagi.

Bahwa tercatat dalam sejarah republik ini, lembaga tertinggi para senator, lembaga tertinggi para wakil rakyat kita sulit dikatakan tidak terlibat dalam kudeta yang mengakhiri kekuasaan Soekarno “secara merangkak”.

Sekaligus juga, sulit dikatakan steril dari intervensi kaum pembohong dan agresor (di Irak-Libia — istilah Presiden Zimbabwe Mugabe) apalagi peristiwa ’65 masuk dalam daftar versi William Blum: kiprah kekerasan kaum imperialis sejak PD II.

Artinya pula, setidaknya bagi kami, pemerintahan Jokowi-JK tentunya sudah mafhum adanya, MPR RI di abad ke-21 ini, tak banyak berubah ketimbang MPRS yang membuat Soekarno “curhat”:  sampai-sampai saya tidak tahu jelas apalaginya.

Sehingga, Pengeposan Khusus ini tak lain secuil upaya Redaksi Dasar Kita agar Jokowi-JK bisa bertahan hingga 2019.

Semoga.

.

ooOoo

 .

Simak rangkaian Pengeposan Khusus:

Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila

Edisi 8 Juni 2015

Edisi 15 Juni 2015

Edisi 22 Juni 2015/488 Tahun Jakarta

Edisi 29 Juni 2015

57d. Edisi 29 Juni 2015, 4-Pekan Pasca-1 Juni 2015, 7-Pekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

Standar

57d. Edisi 29 Juni 2015, 4-Pekan Pasca-1 Juni 2015, 7-Pekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

.

70 Tahun Pancasila
1 Juni 1945 – 1 Juni 2015

.
70 Tahun Republik Indonesia
17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2015

.

Jalan Ideologis Trisakti-Gotong Royong
Pemerintahan Jokowi-JK yang dilantik pada 20 Oktober 2014

.
pada hakikatnya:

.
Menegakkan satu dari Panca Azimat Revolusi (Nasakom, Pancasila, USDEK, Trisakti, Berdikari) yang sejatinya “lima Panca Azimat ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain”.

.
Yang sejatinya pula untuk mencapai sebuah Indonesia yang mengemban Ampera, Amanat Penderitaan Rakyat.

.
Yang sejatinya pula, Panca Azimat, Ampera, adalah Revolusi Indonesia yang “belum selesai”.

(Redaksi Dasar Kita)

.

♦ ♦ ♦

.

Dan saya berkata bahwa revolusi kita adalah revolusi rakyat.

Dan kita harus mengucap syukur ke hadirat Allah Swt. bahwa rakyat kita itu mempunyai pikiran-pikiran, mempunyai ideologi-ideologi, mempunyai angan-angan, sebagai dikatakan oleh Mao Tse Tung [Mao Zedong – Red DK] — saya bukan komunis, Saudara-saudara, tapi saya kira benar itu perkataan Mao Tse Tung — let flowers blooms. Biarlah macam-macam kembang berkembang.

Padahal nanti kembang-kembang ini bisa dirangkai menjadi satu karangan bunga yang indah. Biarlah mawar berkembang sebagai mawar. Biarlah cempaka berkembang sebagai cempaka. Biarlah melati berkembang sebagai melati. Let flowers bloosom. Asal kembang-kembang ini nanti menjadi satu rangkaian bunga. Een grote ruiker bloemen [sebuah karangan-bunga besar – Red DK] yang indah.

Tiap-tiap perjuangan politik yang besar adalah, sebagai kukatakan tempo hari, perjuangan daripada politieke ideen [ide-ide politik – Red DK]. Tiap-tiap perjuangan politik is een strijd van politieke ideen [adalah suatu pertarungan gagasan-gagasan politik – Red DK].

[…]

dan pada waktu itu juga sudah kenyataan ada tiga golongan politieke ideen.

Politiek idee [ide politik – Red DK] yang saya golongkan nasionalis. Politiek idee yang saya golongkan Islam. Politiek idee yang saya golongkan marxis. Karena itulah tahun 1926 saya sudah menulis saya punya tulisan yang termasyhur, Nasionalisme, Islamisme, Marxisme [simak hlm 23c – Red DK].

Yang tiga realitas ini, realitas, Saudara-saudara, harus bisa kita persatukan sebagai satu ruiker [karangan – Red DK] bunga yang terdiri daripada bunga merah, bunga kuning, bunga hijau, bunga lain-lain warna. Sebab uitgangspunt [titik tolak – Red DK] dari saya ialah, tidak bisa kita mencapai apa yang menjadi kehendak kita, yaitu negara merdeka, masyarakat yang baik, jikalau kita tidak mempertahankan bunga-bunga ini.

Tidak ada Revolusi Indonesia itu bisa berhasil jikalau tidak dengan persatuan dan kesatuan daripada seluruh rakyat Indonesia. Yang pada waktu itu baru 70 juta. Sekarang sudah 105 juta.

Itulah sebagai Saudara-saudara ketahui, permulaan daripada idee saya, kristalisasi daripada idee saya, Nasakom.

Nah, oleh karena tiap-tiap revolusi, tiap-tiap politieke beweging [gerakan politik – Red DK] yang besar, tiap-tiap rakyat yang hidup, dia punya mind, dia punya spirit, sebagai kita punya rakyat, […] tiap-tiap bangsa sebagai bangsa kita ini, sebagai satu realitas mesti mempunyai golongan-golongan, politieke ideen, menelurkan, mengeluarkan secara objectief, maka salahlah jikalau kita hendak mencoba mematikan salah satu politiek idee ini.

Saya akan salah besar kalau saya hendak mematikan nasionalisme. Saya akan salah besar kalau hendak mematikan agama. Saya akan salah besar kalau saya hendak mematikan apa yang saya namakan tempo hari itu marxisme, sosialisme, komunisme.

Salah besar!

Oleh karena golongan-golongan ini objectief gegrooid uit de 〈52〉 rakyat.

———

〈52〉 Secara objektif timbul dari.

.

(Pidato PJM Presiden Soekarno pada Sidang Paripurna Kabinet Dwikora di Bogor, 6 November 1965; di dalam “Revolusi Belum Selesai” Kumpulan Pidato Soekarno 30 September 1965-Pelengkap Nawaskara, Penyunting Budi Setiyono dan Bonnie Triyana, PT Serambi Ilmu Semesta, 2014: 112-113)

ooOoo

Catatan Redaksi Dasar Kita

Menyambut 70 tahun Pancasila dan 70 tahun Republik Indonesia pada 2015 ini, secara periodik setiap Senin, terhitung sejak 1 Juni 2015 (kemudian 8 Juni, 15 Juni, 22 Juni, dan seterusnya) hingga berakhir Senin, 17 Agustus 2015, Pengeposan Khusus ini akan hadir. Dengan catatan bahwa “tradisi” pengeposan bulanan setiap tanggal 14, untuk 3 bulan ini digantikan Pengeposan Khusus pada 15 Juni, 13 Juli dan 17 Agustus.

Pengeposan Khusus hadir dengan “cuplikan-cuplikan” sambutan/pidato Soekarno yang kami kutip dari buku “Revolusi Belum Selesai” dimaksud seperti tersajikan di atas.

(Selengkapnya simak Pengeposan Khusus Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila).

.

ooOoo

.

Catatan untuk Pengeposan Khusus Edisi 29 Juni 2015

Nasakom.

“Itulah sebagai Saudara-saudara ketahui, permulaan daripada idee saya, kristalisasi daripada idee saya, Nasakom,” begitu sebaris kalimat dari pidato Soekarno pada cuplikan di atas.

Ya, Nasakom.

Sebuah lema yang hari-hari ini masih saja terus “dijauhi”, bak pengucilan seseorang yang mengidap penyakit  menular berbahaya, ketika “kom” kepanjangan dari “komunis” setengah abad sudah dicoba dipisahkan dari dua gagasan politik Soekarno lainnya “Nasa” (nasionalis, agama).

Dan … gagal!

Setidaknya bagi kami, Redaksi Dasar Kita, Doktrin Truman itu gagal! (Ref hlm 56a)

Ketika pada 20 Oktober 2014, dilantiknya pemerintahan Jokowi-JK dengan visi “Jalan Ideologis” Trisakti-Masohi/Gotong Royong (salah satu dari Panca Azimat: Nasakom, Pancasila, USDEK, Trisakti, Berdikari) untuk sebuah RI Hebat (atawa Ampera/Amanat Penderitaan Rakyat: NKRI, Masyarakat Adil Makmur, Hapusnya Penindasan Manusia atas Manusia — Penindasan Nasion atas Nasion).

Pengeposan Khusus mengutip penggalan-penggalan pidato-pidato Soekarno setiap Senin, sejak 1Juni 2015 hingga 17 Agustus 2015 mendatang, adalah secuil upaya Redaksi Dasar Kita untuk ikut memertahankan peradaban, berpihak pada sains.

Lantaran RI Hebat/Ampera tak mungkin terwujud bila kita masih saja di alam berpikir pra-Copernicus menampik “aksioma geometris” doktrin Marxian (ref hlm 21b), sekalipun keseharian kita tak lepas dari teknologi informasi khas awal abad ke-21 dan bergagah-gagahan dengan tren pascamodern.

.

ooOoo

.

Simak rangkaian Pengeposan Khusus:

Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila

Edisi 8 Juni 2015

Edisi 15 Juni 2015

Edisi 22 Juni 2015/488 Tahun Jakarta

.