57k. Edisi 17 Agustus 2015, 11-Pekan Pasca-1 Juni 2015, Pengeposan Khusus (55-12) Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

Standar

57k. Edisi 17 Agustus 2015, 11-Pekan Pasca-1 Juni 2015, Pengeposan Khusus (55-12) Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

.

70 Tahun Pancasila
1 Juni 1945 – 1 Juni 2015

.
70 Tahun Republik Indonesia
17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2015

.

Jalan Ideologis Trisakti-Gotong Royong
Pemerintahan Jokowi-JK yang dilantik pada 20 Oktober 2014

.
pada hakikatnya:

.
Menegakkan satu dari Panca Azimat Revolusi (Nasakom, Pancasila, USDEK, Trisakti, Berdikari) yang sejatinya “lima Panca Azimat ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain”.

.
Yang sejatinya pula untuk mencapai sebuah Indonesia yang mengemban Ampera, Amanat Penderitaan Rakyat.

.
Yang sejatinya pula, Panca Azimat, Ampera, adalah Revolusi Indonesia yang “belum selesai”.

(Redaksi Dasar Kita)

.

♦ ♦ ♦

.

Revolusi adalah suatu proses terus-menerus.

Malahan saya terangkan, revolusi adalah di satu pihak menjebol, di lain pihak menanam. Revolusi adalah, malahan saya katakan, satu simfoni. Suatu simfoni dari suatu proses destructie dan constructie.

Suatu proses di satu pihak menggempur, menjebol, di lain pihak membina, menanam. Destructie dan constructie. Jebol dan bina. Itu revolusi.

Dan proses ini tidak berhenti-henti, terus, pratidina. Kita menjebol, pratidina. Kita membina pratidina, kita destructie pratidina, kita constructie pratidina.

Kalau kamu orang, demikian kataku pula pada pemimpin-pemimpin yang menghadap kepada saya, mengerti akan hal ini, maka kamu orang juga harus mengerti bahwa dari pihak yang dijebol oleh kita itu tentu ada reaksi.

Mana golongan yang mau dijebol? Mana ada orang yang mau dijebol? Mana ada sistem yang mau dijebol? Tidak ada!

Marx berulang-ulang telah aku citeer, berkata, geen klasee heeft ooit vrijwilling afstand gedaan van hare bevoorrechte positie.

[…]

Tetapi sebaliknya pun, Saudara-saudara, tidak satu golongan atau kelas dijebol, mau tidak mau, tentu melawan, tentu.

Melawan dengan cara terang-terangan, melawan dengan cara diam-diam, tetapi melawan, menentang. Ini suatu kenyataan sejarah.  

[…]

Kita, demikian kataku kepada kawan-kawan, menjalankan revolusi, penjebolan dan pembinaan. Nah, sudah barang tentu kita mengalami tentangan, mengalami kontra. Manakala aku berkata bahwa alweer menurut Marx ya, yang saya benarkan, manakala aku berkata, bahwa sosialisme datang, tidak boleh tidak mesti datang sebagai suatu historisch notwedigheid 〈6〉,suatu historisch notwedigheid.  

———

 〈6〉 Keharusan sejarah. [Keniscayaan sejarah/historis; Ketakterelakkan sejarah/historis– Red DK] 

Kalau Pak Madjid bersenda gurau, iya Pak memang, historisch notwedigheid, bukan hysterische notwendigheit 〈7〉, Pak Madjid.

———

 〈7〉 Kemutlakan yang histeris (permainan kata–terj). [Keniscayaan historis bukan keniscayaan histeris; canda Pak Madjid — Red DK]

Historisch notwedigheid, datangnya sosialisme adalah suatu historisch notwedigheid

Kontrarevolusi adalah juga suatu historisch notwedigheid. Notwedigheid! Yang tidak boleh tidak pasti datang. Dan kita sebagai orang revolusioner dari tadinya harus sudah mengerti hal ini. Dari tadinya.

Jangan Saudara-saudara lantas heran, ya ada tentangan. Tidak, kalau memang Saudara-saudara kaum revolusioner yang mengerti betul-betul jalannya proses revolusi.

Saudara-saudara dari tadinya sudah harus bisa mengatakan secara ramalan, suatu hari akan datang yang kita dikontra. Sebab, kita mau menjebol, sudah barang tentu kita akan menghadapai kontra.

Mengenai historisch notwedigheid daripada sosialisme, yang tujuan kita adalah itu, masyarakat adil dan makmur tanpa, kataku berulang-ulang, exploitaion de l’homme par l’homme.

Tentang hal ini pun sudah kuterangkan, sebagai seorang revolusioner yang sejati, maka dia mengerti bahwa sosialisme yang historisch notwedigheid itu, bahwa sosialisme itu tidak datang sebagai air embun yang jatuh di waktu malam.

Kita tidak apa-apa, diam saja, tunggu saja, sosialisme akan datang.

Tidak, kalau engkau berpikir begitu, engkau bukan revolusioner sejati. Kalau engkau revolusioner sejati, engkau pun harus mengerti bahwa sosialisme itu historisch notwedigheid  akan datang, tetapi juga bahwa perjuangan mendatangkan sosialisme, perjuangan menghantam kapitalisme adalah juga suatu historisch notwendigheid.

Kau sebetulnya mau tidak mau berjuang menentang imperialisme, menentang kapitalisme.

Kan sudah saya citeer di kitab Indonesia Menggugat, pidato pembelaanku di muka landraad Bandung. Aku kan sudah berkata, dengan perkataan gampang ya aksi, mosi, membangun reaksi . Tetapi aku citeer di di situ juga ucapan seorang ahli falsafah Inggris yang berkata bahwa pertentangan kita, penentangan kita terhadap exploitation, bahwa itu adalah suatu reactief verzet van verdrukte elementen.〈8〉

———

〈8〉 Perlawanan unsur-unsur (masyarakat) yang tertindas.

Baca di dalam kitab Indonesia Menggugat.

Reaktif, reaktif. Bukan oleh karena digerakkan oleh Tjokroaminoto, bukan oleh karena digerakkan oleh Semaoen, bukan oleh karena digerakkan oleh siapapun juga. Bahkan aku berkata, seribu Soekarno tidak akan bisa mengadakan ini, kalau ini memang bukan kehendak masyarakat dan sejarah. Kalau memang ini bukan kehendak masyarakat dan sejarah, kalau ini memang bukan suatu proses daripada masyarakat dan sejarah.

Dus kalau kita mengadakan perlawanan terhadap imperialisme dan kapitalisme itu, itu pun sebenarnya historisch notwedigheid. Adanya masyarakat tanpa kita toh revolusi ini akan datang. Toh kita itu lantas bergerak. Toh kita lantas mengadakan perlawanan terhadap sistem pengisapan, sistem kemelaratan kita, sistem yang membuat kita natie van koelies en een koelie onder de natie, 〈9〉 kataku meniru perkataan seorang Belanda, yaitu Dr Huender. Mau tidak mau.

——– 

〈9〉 Suatu bangsa (yang terdiri atas) kuli-kuli, dan seorang kuli di antara bangsa-bangsa.

[…]

Yang revolusi itu adalah suatu proses. Nah, tiap-tiap proses itu melalui fase-fase. Sebagaimana tumbuhnya manusia itu melalui fase pula, maka revolusi pun melewati fase-fase.

[…]

Tapi, fase kanak-kanak mempunyai karakteristik sendiri. Engkau sekarang hidup di dalam fase dewasa, mempunyai karakteristik sendiri. Nanti kalau engkau sudah kakek, karakteristik sendiri lagi. Revolusi demikian pula, oleh karena revolusi adalah suatu proses.

Nah, itu fase kita sekarang ini yaitu fase nasional demokratis, yang karakteristik daripada fase nasional demokrasi sebetulnya adalah lain daripada fase sosialisme, fase kemudian daripada revolusi kita.

Di dalam fase nasional demokrasi kita punya musuh utama yaitu imperialisme dan sistem-sistem kolot di dalam negeri sendiri. Terutama sekali feodalisme, autokratisme, dan lain-lain sebagainya.

Karakteristik daripada fase nasional demokratis ini ialah perjuangan antiimperialisme, antigolongan-golongan di dalam negeri yang memegang teguh kepada feodalisme, autokrasi, dan lain sebagainya.

Karakterisitik daripada fase yang kemudian, yaitu fase sosialisme, ialah penamaan daripada masyarakat tanpa exploitaion de l’homme par l’homme itu.

Tetapi sebagaimana yang kuterangkan di dalam kitab Sarinah bagian terakhir, aku berkata, fase nasional demokrasi mempunyai tugas sendiri. Tetapi fase nasional demokratis ini pun telah berisikan, telah berisikan syarat-syarat untuk fase sosialisme. Oleh karena fase-fase tidak terpisah satu sama lain. Terpisah sebagai, yah, barang yang terpisah. Sebagaimana di dalam hidup manusia, fase kanak-kanak, fase baby dengan fase dewasa tidak terpisah satu sama lain tetapi, kataku di dalam kitab Sarinah, in elkaar vloeien. 〈10〉.

——–

〈10〉 Harfiah: mengalir. Maksudnya, menjadi satu-kesatuan, tak ada retakan di antara satu fase dan yang lainnya.

 .   

64. Kali ini Fahri Puji Jokowi (JPPN.com) (3 Pidato Jokowi di Parlemen 14/8/2015 — Pengeposan ke-62 Agustus ’15)

Standar

Kali ini Fahri Puji Jokowi

.

Sumber: JPPN.com, Jumat, 14 Agustus 2015 , 13:01:00

.

.

JAKARTA – Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fahri Hamzah memuji Presiden Joko Widodo yang telah membuat sejarah baru dalam hal pidato kenegaraan. Menurut Fahri, baru kali  ini Presiden RI menyampaikan tiga pidato penting di parlemen.

“Satu momen yang belum pernah terjadi dalam sejarah Indonesia, presiden menyampaikan tiga pidato penting di DPR,” kata Fahri di kompleks parlemen Jakarta, Jumat (14/8).

Selengkapnya simak hlm 64a.

Termasuk pranala (link) ke masing-masing dari ketiga pidato Jokowi dimaksud.

Selamat membaca Pembaca Budiman — di pengeposan (posting) kami yang ke 62, di sela-sela pengeposan blog ini menyambut 70 tahun Pancasila dan 70 tahun Republik Indonesia.

Semoga media ini bermanfaat.

ooOoo

.

63. Jokowi Lantik 5 Menteri dan Seskab (Kompas.com) (Pengeposan ke-61 Agustus ’15)

Standar

Jokowi Lantik 5 Menteri dan Seskab

.

..

JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Joko Widodo (Jokowi) melantik enam menteri dan pejabat setingkat menteri dalam Kabinet Kerja, Rabu (12/8/2015). Mereka dilantik setelah pelantikan Rano Karno sebagai Gubernur Banten di Istana Negara, Jakarta.

Selengkapnya smak/klik hlm 63a.

Termasuk suntingan-catatan dari Redaksi Dasar Kita pada warita bersumber Kompas.com terkait susunan Kabinet Kerja total 34 menteri saat diumumkan (Minggu, 26/10/2014) silakan simak/klik hlm 49e;dan saat dilantik (Senin, 2710/2014) hlm 49e.3; dan14 menteri (pasca-12/8/2015) berasal dari parpol hlm 49e.1; serta 20 menteri (pasca-12/8/2015) dari nonparpol atau kalangan profesional hlm 49e.2.

ooOoo

.

57j. Edisi 10 Agustus 2015, 10-Pekan Pasca-1 Juni 2015, Sepekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus (55-11) Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

Standar

57j. Edisi 10 Agustus 2015, 10-Pekan Pasca-1 Juni 2015, Sepekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus (55-11) Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

.

70 Tahun Pancasila
1 Juni 1945 – 1 Juni 2015

.
70 Tahun Republik Indonesia
17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2015

.

Jalan Ideologis Trisakti-Gotong Royong
Pemerintahan Jokowi-JK yang dilantik pada 20 Oktober 2014

.
pada hakikatnya:

.
Menegakkan satu dari Panca Azimat Revolusi (Nasakom, Pancasila, USDEK, Trisakti, Berdikari) yang sejatinya “lima Panca Azimat ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain”.

.
Yang sejatinya pula untuk mencapai sebuah Indonesia yang mengemban Ampera, Amanat Penderitaan Rakyat.

.
Yang sejatinya pula, Panca Azimat, Ampera, adalah Revolusi Indonesia yang “belum selesai”.

(Redaksi Dasar Kita)

.

♦ ♦ ♦

.

Oleh karena itulah belakangan ini selalu saya menangis, bahkan donder-donder, marah-marah, he bangsa Indonesia jangan gontok-gontokan!

Sampai saya men-citeer Gibbon dan Toynbee. A great civilization never goes down unless its detroys itself from within. Lincoln berkata, kataku juga berulang-ulang, a nation divided against itself cannot stand.

Kena apa kita kok destroy ourselves from within? Kena apa kok kita divided against ourselves?

Nah, sekarang ini malahan, Saudara-saudara, kita punya pemuda-pemudi kita maki-maki kepada bapak-bapaknya yang duduk di sini ini; menteri goblog!

Cobalah, cobalah, cobalah cobalah! Waar gaan wij naar toe bangsa kita ini, kalau anak-anak kecil sudah begitu, bagaimana ini? Saudara-saudara?

Pendek kata, Saudara-saudara, saya melihat keadaan ini lama-lama saya ini lantas mupus [putusan pewaris? – Red DK]. Saya selidik diri sendiri. Saya mengadakan introspeksi kepada diri sendiri. Saya sekarang ini, Saudara-saudara, sesudah saya introspeksi ini, apakah seluruhnya salah saya?

Kok saya sebagai pemimpin dari Koti, kok saya sebagai Panglima Besar Koti, kok saya sebagai Pemimpin Besar Revolusi, kok kejadian ini. Harga naik, harga tidak bisa diturunkan, dan lain sebagainya.

Saya mengadakan introspeksi, saya selidiki, selidiki, selidiki. Ada saya menemukan satu hal, dan saya tidak menuduh engkau lo, saya tidak menuduh mahasiswa, dengarkan ini: nekolim ikut-ikut, nekolim ikut-ikut. Nekolim ikut-ikut untuk menjatuhkan Soekarno.

Tenslotte gaat het teggen Soekarno! Ini penyelidikan saya yang sedalam-dalamnya. Bukan tegen Bandrio, meskipun engkau dinamakan Durna, yang hidupnya seperti betet. Bukan engkau Chaerul Saleh, meskipun engkau dikatakan penjual daripada bangsa! Bukan Achmadi, bukan ini, bukan itu, tidak! Pada pokoknya, semua meruncing pada Soekarno.

[…]

Sekarang sudah saya melihat kejadian-kejadian ini, wah. Ini ndodro [ndadra: lebih buruk lagi – Red DK] kalau begitu. Karena itu saya sekarang mengeluarkan ucapan lain. Saya mengucapkan apa?

Hier, ini Soekarno, Pemimpin Besar Revolusi, Presiden Republik Indonesia, Saya Pemimpin Besar Revolusi ini, saya di sini, ayo, siapa yang mau ikut saya, ikutlah kepada saya! Saya tidak akan bergeser satu milimeter pun.

Ya, saya yang bertanggung jawab terhadap kepada bangsa, terhadap kepada Tuhan Yang Maha Esa Swt., Nabi Muhammad saya bawa-bawa.

Ini saya Soekarno, Pemimpin Besar Revolusi. Sebagaimana Luther, Martin Luther di gereja Wurtemberg berkata, hier ben ik, ik kan niet anders! Saya pun berkata, ini aku Soekarno berdiri di sini, Pemimpin Besar Revolusi, ik kan niet anders, saya tidak bisa lain daripada ini. Ayo, siapa yang senang kepada Soekarno sebagai Pemimpin Besar Revolusi, ayo kumpulkan tenagamu, barisanmu susun, pertahankan Soekarno!

Sebab, ini saya melihat Soekarno sekarang ini mau didongkel-dongkel oleh orang lain. Cuma kepada pengikut-pengikut saya, saya berkata, jangan betindak liar. Tunggulah komando saya.

[…]

Saya tidak mau didongkel dengan cara seperti ini. Dengan cara gelap-gelapan. Dengan pamflet-pamflet gelap, dengan cara gelap-gelapan yang lain.

Demikian pula kepada KAMI, saya berkata saya tidak senang perbuatan-perbuatanmu.

Maka oleh karena itu saya bermaksud untuk mengadakan satu persatuan daripada seluruh mahasiswa. Dan aku sendiri akan membuat, yang terdiri ya KAMI, ya dari PMII, semua golongan mahasiswa bersatu menjadi satu National Union of Indonesian Students.

Apa yang dikatakan oleh Pak Menteri PTP dulu itu apa? Dewan Nasional atau bagaimana? Saya akan membentuk. Sebab, saya terang saya tidak senang dengan keadaan yang demikian ini sekarang.

Dan terus terang, sebagai saya tadi katakan, saya sudah datang pada satu garis ketetapan hati. Saya tidak mau dibeginikan. Saya tidak mau didongkel gelap-gelapan.

Ayo , orang-orang yang senang kepada Soekarno, senang kepada Soekarno senang sama Pemimpin Besar Revolusi Soekarno, berdiri di belakang Soekarno, susun kau punya barisan. Persatukan dirimu! Tetapi jangan betindak liar. Jangan berbuat, kecuali jikalau ada komando dari saya.

Inilah, he Saudara-saudara Menteri, saya punya ucapan tegas terhadap kepada seluruh bangsa Indonesia via engkau sekalian.

Maka sekarang saya perintahkan kepada engkau sekalian berkumpul, orang-orang yang kecuali yang dulu dikonsinyir di Cipanas, ditambah mungkin dengan beberapa orang, antara lain ditambah Sri Sultan Hamengkubowono, Wapangsar urusan Ekonomi Koti. Ditambah dengan Kas Koti, Jenderal Soeharto, ditambah dengan apa yang dianggap perlu, berkumpullah sekali lagi untuk memikirkan sekali lagi, memikirkan sekali lagi, memikirkan sekali lagi hal financieel economische maatregelen 〈3〉 yang telah kita ambil itu.

———
〈3〉 Tindakan di bidang keuangan dan ekonomi.

.

Sekian.[]

.

(Amanat PJM Presiden Soekarno di Sidang Paripurna Kabinet Dwikora dengan Dihadiri Juga oleh Wakil-Wakil dari Mahasiswa dan Wartawan-Wartawan, Bogor, 15 Januari 1966, di dalam “Revolusi Belum Selesai” Kumpulan Pidato Soekarno 30 September 1965-Pelengkap Nawaskara, Penyunting Budi Setiyono dan Bonnie Triyana, PT Serambi Ilmu Semesta, 2014: 336-339)

ooOoo

.

Catatan Redaksi Dasar Kita

Menyambut 70 tahun Pancasila dan 70 tahun Republik Indonesia pada 2015 ini, secara periodik setiap Senin, terhitung sejak 1 Juni 2015 (kemudian 8 Juni, 15 Juni, 22 Juni, dan seterusnya) hingga berakhir Senin, 17 Agustus 2015, Pengeposan Khusus ini akan hadir. Dengan catatan bahwa “tradisi” pengeposan bulanan setiap tanggal 14, untuk 3 bulan ini digantikan Pengeposan Khusus pada 15 Juni, 13 Juli dan 17 Agustus.

Pengeposan Khusus hadir dengan “cuplikan-cuplikan” sambutan/pidato Soekarno yang kami kutip dari buku “Revolusi Belum Selesai” dimaksud seperti tersajikan di atas.

(Selengkapnya simak Pengeposan Khusus Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila).

ooOoo

.

Catatan untuk Pengeposan Khusus Edisi 10 Agustus 2015

“Saya mengadakan introspeksi, saya selidiki, selidiki, selidiki. Ada saya menemukan satu hal, dan saya tidak menuduh engkau lo, saya tidak menuduh mahasiswa, dengarkan ini: nekolim ikut-ikut, nekolim ikut-ikut. Nekolim ikut-ikut untuk menjatuhkan Soekarno.”

Ya, Nekolim alias Neo-Kolonialisme atau imperialisme. Hal yang 1/2-abad ini terus “dilupakan” atau setidaknya terus ditempatkan bukan sebagai “musuh revolusi”. Lantaran revolusi yang diusung Bung Karno berikut pikiran-pikirannya yang mengalasi revolusi itu malahan ironinya Bung Karno itu sendiri, “diharamkan”. Mengatasnamakan “pembangunan” berlanjut “reformasi”.

Keadaan yang dengan baik sekali digambarkan oleh Asvi W Adam:

Tahun 1965 menjadi watershed, pembatas zaman.

Terjadi perubahan drastis secara serempak dalam segala bidang. Politik luar negeri Indonesia menjadi lembek dan pro-Barat.

Ekonomi berdikari (berdiri di atas kaki sendiri—Red) berubah jadi ekonomi pasar yang bergantung pada modal asing dan utang.

Polemik dalam bidang politik dan kebudayaan berganti dengan asas tunggal yang tidak membiarkan kritik.

Sekaligus hari-hari ini, perubahan per ’65 (Asvi) tersebut tengah diupayakan “direset” kembali  oleh pemerintahan Jokowi-JK lewat visi mereka jalan ideologis yang bertumpu pada salah satu dari Panca Azimat Bung Karno, yakni Trisakti. Semoga.

ooOoo

Simak rangkaian Pengeposan Khusus:

Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila

Edisi 8 Juni 2015

Edisi 15 Juni 2015

Edisi 22 Juni 2015/488 Tahun Jakarta

Edisi 29 Juni 2015

Edisi 6 Juli 20515

Edisi 13 Juli 2015

Edisi 20 Juli 2015

Edisi 27 Juli 2015

Edisi 3 Agustus 2015

57i. Edisi 3 Agustus 2015, 9-Pekan Pasca-1 Juni 2015, 2-Pekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus (55-10) Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

Standar

57i. Edisi 3 Agustus 2015, 9-Pekan Pasca-1 Juni 2015, 2-Pekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus (55-10) Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

.

70 Tahun Pancasila
1 Juni 1945 – 1 Juni 2015

.
70 Tahun Republik Indonesia
17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2015

.

Jalan Ideologis Trisakti-Gotong Royong
Pemerintahan Jokowi-JK yang dilantik pada 20 Oktober 2014

.
pada hakikatnya:

.
Menegakkan satu dari Panca Azimat Revolusi (Nasakom, Pancasila, USDEK, Trisakti, Berdikari) yang sejatinya “lima Panca Azimat ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain”.

.
Yang sejatinya pula untuk mencapai sebuah Indonesia yang mengemban Ampera, Amanat Penderitaan Rakyat.

.
Yang sejatinya pula, Panca Azimat, Ampera, adalah Revolusi Indonesia yang “belum selesai”.

(Redaksi Dasar Kita)

.

♦ ♦ ♦

.
Saudara-saudara, pada hari ini kita meresmikan pembukaan Patal Senayan. Patal, pabrik pemintalan, Senayan.

Dan sebagai tadi telah dipidatokan oleh para menteri, Menteri Ashari, Menteri Wakil Perdana Menteri III Doktor Chaerul Saleh, semuanya itu berpusat kepada usaha kita untuk berdikari, berdiri di atas kaki sendiri.

Berdikari adalah singkatan daripada berdiri di atas kaki sendiri. Sesuai dengan apa yang berulang-ulang kukatakan, bahwa kemerdekaan barulah kemerdekaan yang sempurna jikalau bangsa yang merdeka itu atau kita yang merdeka itu bisa berdiri di atas kaki sendiri.

Malahan saya sering ucapkan hal ini dalam bahasa Inggris, The crown atau the crowning of independence is the ability to stand on our own feet. The corwn or the crowning of independence is the ability to stand on our own feet.

Bangsa yang tidak bisa stand on our own feet, yang tidak bisa berdiri di atas kaki sendiri, bangsa yang demikian itu sebenarnya tidak merdeka atau atau belum merdeka.

Karena itu saya yang merasa bertugas dan berkewajiban untuk membantu dan memimpin perjuangan rakyat Indonesia ini untuk menjadi suatu bangsa yang benar-benar [merdeka – Red DK].

Sejak dari dahulu, lebih dari 30 tahun yang lalu, hampir-hampir 40 tahun yang lalu, sudah saya tekankan akan hal ini. Berusahalah agar supaya kita berdiri di atas kaki sendiri, sebagai kita percaya kepada diri sendiri.

Supaya kita menjalankan politik yang dinamakan politik self reliance. Malahan saya tambah lagi dengan satu perkataan, self reliance no mendicancy. Mendicancy itu apa artinya? Ngemis. Pengemisan.

Self reliance ialah percaya kepada diri sendiri, berdirilah di atas kakimu sendiri, jangan dan tidak ngemis-ngemis.
Self reliance no mendicancy bukan saja di lapangan politik, tetapi juga di segala lapangan yang lain.

Nah ini, ide self reliance no mendicancy, belakangan Saudara-saudara, bertumbuh, bertumbuh, bertumbuh, bertumbuh, menjadi apa yang kita sekarang kenal dengan perkataan Trisakti; berdaulat penuh di lapangan politik, berdikari di lapangan ekonomi, berkepribadian di lapangan kebudayaan.

Hanya bangsa yang ber-Trisakti, hanya bangsa yang berdaulat penuh di lapangan politik, dan juga berdikari di lapangan politik, dan juga berdikari di lapangan ekonomi, dan juga berkepribadian sendiri di lapangan kebudayaan, bangsa yang demikian adalah bangsa yang benar-benar merdeka. [305-306 — Red DK]

[…].

Nah, lantas kita berkata, kita melepas daripada imperialisme. Bagaimana kita bisa lepas daripada imperialisme kalau kita hanya melepaskan diri kita hanya dari lapangan politik saja daripada imperialisme. Dan kita tidak melepaskan diri kita daripada imperialisme di lapangan ekonomi. Bahkan juga tidak melepaskan diri kita daripada imperialisme di lapangan kebudayaan? Coba ingat Saudara-saudara, kebudayaan kita beberapa waktu yang lalu boleh dikatakan copy, copy, copy daripada imperialisme, daripada negeri Belanda. [311-312 — Red DK]

[…]

Sudara-saudara, maka saya ulangi lagi, jikalau kita benar-benar menjadi satu bangsa yang hendak mereka, benar-benar merdeka, jalankanlah Trisakti itu dengan segenap konsekuensi.

Tidak ada satu sesuatu yang besar yang bisa dicapai dengan gampang, tidak ada.

Bangsa yang takut akan usaha, bangsa yang takut mencucurkan keringat, bangsa yang takut akan kesulitan-kesulitan, bangsa yang demikian itu tidak mungkin akan bisa menjadi bangsa yang besar dan benar-benar merdeka.

Oleh karena itu kesulitan apapun yang ada di muka kita, mari kita tabrak segala kesulitan itu. Mari kita ganyang segala kesulitan itu.

Dan jikalau kita benar-benar, Saudara-saudara, bisa memecahkan segala kesulitan, menabrak mengganyang segala kesulitan itu sebagai dianjurkan oleh Saudara Chaerul Saleh dengan slogan tenslotte beslist de mens. Manusia Saudara-saudara, harus menabrak, manusia harus mengganyang, manusia harus memecahkan segala persoalan, barulah kita bisa menjadi satu bangsa sebagai yang diidam-idamkan oleh bangsa kita sendiri.

Bismillah, saya beri restu kepada patal ini.

Sekian.

.

(Amanat PJM Presiden Soekarno pada Peresmian Pembukaan Pabrik Pemintalan di Senayan,29 Desember 1965 di dalam “Revolusi Belum Selesai” Kumpulan Pidato Soekarno 30 September 1965-Pelengkap Nawaskara, Penyunting Budi Setiyono dan Bonnie Triyana, PT Serambi Ilmu Semesta, 2014: 305-306, 311-313)

ooOoo

.

Catatan Redaksi Dasar Kita

Menyambut 70 tahun Pancasila dan 70 tahun Republik Indonesia pada 2015 ini, secara periodik setiap Senin, terhitung sejak 1 Juni 2015 (kemudian 8 Juni, 15 Juni, 22 Juni, dan seterusnya) hingga berakhir Senin, 17 Agustus 2015, Pengeposan Khusus ini akan hadir. Dengan catatan bahwa “tradisi” pengeposan bulanan setiap tanggal 14, untuk 3 bulan ini digantikan Pengeposan Khusus pada 15 Juni, 13 Juli dan 17 Agustus.

Pengeposan Khusus hadir dengan “cuplikan-cuplikan” sambutan/pidato Soekarno yang kami kutip dari buku “Revolusi Belum Selesai” dimaksud seperti tersajikan di atas.

(Selengkapnya simak Pengeposan Khusus Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila).

.

ooOoo

.

Catatan untuk Pengeposan Khusus Edisi 3 Agustus 2015

“Sudara-saudara, maka saya ulangi lagi, jikalau kita benar-benar menjadi satu bangsa yang hendak merdeka, benar-benar merdeka, jalankanlah Trisakti itu dengan segenap konsekuensi.”

Apa ini omongan Jokowi? Ya jelas bukan, ini kutipan alinea jelang penutup dari amanat Soekarno di atas.

Tapi kok mirip? Ya jelas mirip. Wong visi pemerintahan Jokowi-JK kan jalan ideologis Trisakti-Gotong Royong.

Makanya bagi kami, Redaksi Dasar Kita, tak pelak, “Soekarno Abadi ke-21” sedang bangkit per 20 Oktober 2014 lalu itu. Persis ketika kita merayakan “kemerdekaan” yang ke-70 pada 2015 ini. Semoga “menjadi satu bangsa seperti yang diidam-idamkan bangsa kita sendiri”.

ooOoo

Simak rangkaian Pengeposan Khusus:

Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila

Edisi 8 Juni 2015

Edisi 15 Juni 2015

Edisi 22 Juni 2015/488 Tahun Jakarta

Edisi 29 Juni 2015

Edisi 6 Juli 2015

Edisi 13 Juli 2015

Edisi 20 Juli 2015

Edisi 27 Juli 2015

57h. Edisi 27 Juli 2015, 8-Pekan Pasca-1 Juni 2015, 3-Pekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus (55-9) Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

Standar

57h. Edisi 27 Juli 2015, 8-Pekan Pasca-1 Juni 2015, 3-Pekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus (55-9) Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

.

70 Tahun Pancasila
1 Juni 1945 – 1 Juni 2015

.
70 Tahun Republik Indonesia
17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2015

.

Jalan Ideologis Trisakti-Gotong Royong
Pemerintahan Jokowi-JK yang dilantik pada 20 Oktober 2014

.
pada hakikatnya:

.
Menegakkan satu dari Panca Azimat Revolusi (Nasakom, Pancasila, USDEK, Trisakti, Berdikari) yang sejatinya “lima Panca Azimat ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain”.

.
Yang sejatinya pula untuk mencapai sebuah Indonesia yang mengemban Ampera, Amanat Penderitaan Rakyat.

.
Yang sejatinya pula, Panca Azimat, Ampera, adalah Revolusi Indonesia yang “belum selesai”.

(Redaksi Dasar Kita)

.

♦ ♦ ♦

.

Nah, itu yang saya lihat di Indonesia Saudara-saudara, sesudah 30 September.

Kita gontok-gontokan satu sama lain, bakar-membakar semangat satu sama lain, sampai saya mengancam pada waktu itu di Bogor, Sidang Paripurna Kabinet, hayo, kalau ada golongan yang membakar-bakar semangat, saya sebagai Pemimpin Besar Revolusi, sebagai apa, sebagai pemimpin rakyat Indoensia ini, Pemimpin Bangsa Indonesia ini, saya merasa bertanggung jawab atas kesatuan bangsa Indonesia, golongan yang membakar semangat akan saya bubarkan.

[…]

Semua partai-partai yang mengajak gontok-gontokan, against ourselve Saudara-saudara, antara bangsa kita dengan bangsa kita, saya bubarkan.

[…]

Wartawan pun sudah saya ancam juga. Kalau ada surat kabar yang membakar-bakar semangat, pun akan saya bubarkan surat kabar itu.

[…]

Apa sebab?

Oleh karena saya bertanggung jawab atas bangsa Indonesia ini. Oleh karena saya bertanggung jawab atas keselamatan bangsa Indonesia ini. Saya tidak bisa toelaten bangsa Indonesia ini dirobek-robek oleh bangsa kita sendiri, tidak.
Malahan saya di Sidang Kabinet Paripurna telah berkata, saya punya politik dan sikap inilah, dan alls jullie mij nog lust, behoudt mij. Als jullie mij niet meer lust, trap mij eruit. 〈4〉

———
4〉 Kalau kalian masih suka sama saya, pertahankanlah saya. Kalau kalian tidak senang lagi, tendanglah saya.

[…]

Kalau jullie donder mij eruit, saya masih mempertanggungjawabkan saya punya pimpinan ini terhadap kepada Tuhan Yang Mahakuasa, saya insya Allah berkata, ya Allah ya Rabbi, I have done well.

Bahwa rakyat tidak ngikuti saya atau pemimpin-pemimpin, pentol-pentol rakyat tidak ngikuti saya, sorry, tetapi terhadap kepada-Mu, ya Tuhan ya Rabbi, saya bisa mempertanggungjawabkan segala saya punya pimpinan politik itu.

Karena saya berusaha memimpin bangsa Indonesia ini supaya tetap bersatu.

Nah, Saudara-saudara, yang saya mintakan account and discharge, Saudara benarkan, Syukur! Saudara tidak benarkan, ya sudahlah trap mij eruit!

Saudaralah yang menetapkan saya menjadi Presiden. Saudaralah yang menetapkan saya menjadi Pemimpin Besar Revolusi. Saudaralah yang menetapkan saya menjadi Mandataris.

Kalau Saudara masih membenarkan saya punya pimpinan, terima kasih. Sampai akhir hidup saya ini, Saudara-saudara, saya, insya Allah Swt. Dengan karunia Tuhan Yang Mahakuasa, akan tetap menyumbangkan jiwa ragaku ini kepada bangsa dan negara dan cita-cita bangsa.

Tapi kalau Saudara-saudara tidak membenarkan saya, O.K., O.K., trap mij eriut. Malah tidak perlu trap eruit itu, katakan saja kepada saya, saya akan mengundurkan diri.

Sebab Saudara-saudara, saya ini kadang-kadang, laillahaillallah, tiap-tiap golongan, tiap-tiap surat kabar menulis, taat kepada Pemimpin Besar Revolusi, taat kepada komando Bung Karno, tetapi apa yang saya lihat, dan itu pun sudah saya ucapkan, kadang-kadang saya merasa dikentuti, Saudara-saudara!

.

(Amanat PJM Presiden Soekarno pada Pembukaan Sidang Pimpinan MPRS ke-10 di Istana Negara, Jakarta, 6 Desember 1965 di dalam “Revolusi Belum Selesai” Kumpulan Pidato Soekarno 30 September 1965-Pelengkap Nawaskara, Penyunting Budi Setiyono dan Bonnie Triyana, PT Serambi Ilmu Semesta, 2014: 202-203)

.
ooOoo

.

Catatan Redaksi Dasar Kita

Menyambut 70 tahun Pancasila dan 70 tahun Republik Indonesia pada 2015 ini, secara periodik setiap Senin, terhitung sejak 1 Juni 2015 (kemudian 8 Juni, 15 Juni, 22 Juni, dan seterusnya) hingga berakhir Senin, 17 Agustus 2015, Pengeposan Khusus ini akan hadir. Dengan catatan bahwa “tradisi” pengeposan bulanan setiap tanggal 14, untuk 3 bulan ini digantikan Pengeposan Khusus pada 15 Juni, 13 Juli dan 17 Agustus.

Pengeposan Khusus hadir dengan “cuplikan-cuplikan” sambutan/pidato Soekarno yang kami kutip dari buku “Revolusi Belum Selesai” dimaksud seperti tersajikan di atas.

(Selengkapnya simak Pengeposan Khusus Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila).

.

ooOoo

.

Catatan untuk Pengeposan Khusus Edisi 27 Juli 2015

” … kadang-kadang saya merasa dikentuti, Saudara-saudara!”

Ya, “dikentuti”. Malah hemat kami sudah berlangsung setengah abad ini.  Bung Karno kita “kentuti”. 

Yang bagi kami bukan saja kita memunggungi Soekarno, kita malah membuang gas busuk dari tubuh kita ke Soekarno.

Kita terus saja “kentuti” Bung Karno dengan menjauhi Panca Azimat (Nasakom, Pancasila, USDEK–UUD 1945-Sosialisme ala Indonesia–Demokrasi Tepimpin-Ekonomi Terpimpin-Kepribadian Indonesia, Berdikari) dan Ampera/Amanat Penderitaan Rakyat (NKRI, Masyarakat Adil Makmur, Hapusnya Penindasan Manusia atas Manusia, Nasion atas Nasion).

Lema “Nasakom” atau USDEK dengan “Sosialisme ala Indonesia” atau “Demokrasi Terpimpin” misalnya, bernasib “serupa” dengan lema “PKI”.

Makanya bagi kami, metafornya, imperialis berhasil “menanam” (pinjam sebuah produk teknologi komputer personal) chips di kepala kita masing-masing. “Chips-kentuti BK”. Menyusul Doktrin Truman yang (di kemudian hari “digenapi” konstitusi gadungan UUD 2002 semasa kerusuhan Ambon sedang marak-maraknya) sukses besar dengan Kudeta Merangkak yang bukan saja berhasil gusur BK berikut pikiran-pikirannya, Partai Komunis Indonesia pun di abad ke-21 ini masih diemohi dan malah dicerca kaum muda kita. Khususnya kaum kiri-revisionis (baca: left-cover for imperialism) didukung/pro ideologi yang diusung kaum cendekiawan borjuis.

Tetapi kaum imperialis tampaknya tidak pernah membayangkan. Jokowi yang “diorbitkan” Bu Mega (ideologis berbeda dengan sang Ayah yang konsisten memusuhi imperialisme) melalui kendaraan politik PDI-P, ternyata malah seorang “Soekarno abad ke-21”. Tapi yang justru merangkul para pebisnis negeri-negeri imperialis itu. Sembari mantap memilih model (versi Pepe Escobar) “pengintegrasian Eurasia” dengan bergabung ke AIIB yang digagas RRT bagian dari “One Belt, One Road”.

Tak pelak, sebuah pendekatan ala USDEK/Panca Azimat sedang direvitalisasi Jokowi.

Apalagi pascamangkatnya Lee Kuan Yew, dunia disuguhi semacam data empiris baru. Bahwa pilihan “struktur demokrasi vertikal” (pinjam istilah cendekiawan non-Marxis Naisbitt, 2010: 246) oleh RRT (prodoktrin Marxian) dan Singapura (antidoktrin Marxian) menghasilkan RRT macam apa dan Singapura macam apa hari ini.

Apalagi “intisari” (oleh Stephen Gowans — simak hlm 60) atas pidato Presiden Suriah al-Assad pada 27 Juli 2015 di Damaskus. Makin berandang, setidaknya bagi kami, kesejajaran apa yang dialami Assad dengan Soekarno — padahal sudah setengah abad berlalu. Bukti, “kemunduran” luar biasa Barat dalam memaknai “harkat manusia” sebagai mahluk penghuni planet ini di samping hewan dan fauna yang tak urusannya dengan martabat dan harga diri sebuah nasion.

Sehingga.bagi kami, mendukung Jokowi-JK tanpa reserve sama sebangun upaya mencabut “chips kentuti BK” dari kepala kita masing-masing” adalah keniscayaan.

ooOoo

Simak rangkaian Pengeposan Khusus:

Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila

Edisi 8 Juni 2015

Edisi 15 Juni 2015

Edisi 22 Juni 2015/488 Tahun Jakarta

Edisi 29 Juni 2015

Edisi 6 Juli 2015

Edisi 13 Juli 2015

Edisi 20 Juli 2015

Edisi 3 Agustus 2015

57g. Edisi 20 Juli 2015, 7-Pekan Pasca-1 Juni 2015, 4-Pekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus (55-8) Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

Standar

57g. Edisi 20 Juli 2015, 7-Pekan Pasca-1 Juni 2015, 4-Pekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus (55-8) Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

.

70 Tahun Pancasila
1 Juni 1945 – 1 Juni 2015

.
70 Tahun Republik Indonesia
17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2015

.

Jalan Ideologis Trisakti-Gotong Royong
Pemerintahan Jokowi-JK yang dilantik pada 20 Oktober 2014

.
pada hakikatnya:

.
Menegakkan satu dari Panca Azimat Revolusi (Nasakom, Pancasila, USDEK, Trisakti, Berdikari) yang sejatinya “lima Panca Azimat ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain”.

.
Yang sejatinya pula untuk mencapai sebuah Indonesia yang mengemban Ampera, Amanat Penderitaan Rakyat.

.
Yang sejatinya pula, Panca Azimat, Ampera, adalah Revolusi Indonesia yang “belum selesai”.

(Redaksi Dasar Kita)

.

♦ ♦ ♦

.

Nah, Saudara-saudara, saya ulangi, inspirasi adalah pertemuan antara sadar dan tidak sadar dalam manusia, pertemuan secara scheppen, secara membina, membangun, cipta.

Nah, lantas revolusi itu apa?

Revolusi itu adalah kataku, razende inspiratie van de geschiedenis atau razande inspiratie, jadi tidak hanya hasil daripada bewuste. Sebab inspirasi adalah pertemuan antara bewuste dan onderbewuste.

Nah, karena revolusi adalah razende inspiratie, maka revolusi itu adalah bukan hasil daripada bewuste saja, tetapi hasil juga daripada onderbewuste daripada masyarakat, daripada yang onbewust dan bewust ini harus bertemu. Meledak pertemuan ini menjadi revolusi.

Nah, pada waktu itu saya berdiri di sini, saya terangkan hal itu. Saya beri contoh, lihat revolusi, baik revolusi kita maupun Revolusi Soviet, atau revolusi bangsa-bangsa lain, apakah yang menjalankan revolusi itu semuanya bewust, hasil pikiran mereka? Tidak, tidak.

Ambil rakyat kita. Rakyat kita itu banyak yang tidak bisa bicara, tidak bisa mengutarakan pikiran-pikiran. Bahkan pikiran pun tidak sampai-sampai tinggi-tinggi, jauh-jauh. En toh mereka melahirkan revolusi. Justru oleh karena dia punya bewuste en onderbewuste bertemu satu sama lain.

Bukan saja di kalbu manusia ada pertemuan antara bewuste dan onderbewuste, juga di kalbu masyarakat, kalbu rakyat ada pertemuan antara bewuste dan onderbewuste, dan itu menjadi revolusi.

Karena itu saya tadi berkata, revolusi mempunyai selfbirth, lahir dengan sendirinya. Revolusi bukan bikinan manusia, revolusi menjalankan sendiri dia punya darma bakti.

Sehingga saya tadi berkata, one can teach the leaders, one can teach the masses as well, but can we teach the revolution something? Tidak.

Keluar daipada onderbewuste daripada rakyat jelata Indonesia, ingin makan cukup. Keluar daripada onderbewuste rakyat Indonesia ingin mempunyai negara. Keluar daripada onderbewuste rakyat Indonesia itu ingin, sekadar ingin, yang tidak bisa diutarakan, ingin supaya anaknya bisa membaca dan menulis. Keluar daripada ondebewuste daripada masyarakat

Indonesia itu, ingin mempunyai rumah yang tidak bocor. Keluar daripada onderbewuste rakyat Indonesia itu ingin menjadi suatu bangsa yang terhormat.

Marhaen atau rakyat jelata atau rakyat apapun tidak tahu teori revolusi, tidak tahu Marx, tidak tahun Sun Yat Sen, tidak tahu Rizal dari Filipina, tidak tahu Mustafa Kamil dari Mesir, tidak tahu pemimpin-pemimpin lain, tidak tahu what the French revolution is fighting for, tidak demokrasi parlementer, tidak tahu demokrasi yang dinamakan demokrasi terpimpin, tidak tahu.

En toh massa ini berevolusi! Sampai membakar rumahnya sendiri, sampai membakar jembatan-jembatan, sampai bersedia mati, sampai merelakan suaminya menjadi pejuang, sampai merelakan anaknya maju ke medan pertempuran, sampai ibu, nenek-nenek ini ikut di dalam gerakan yang dinamakan revolusi itu.

Padahal dia tidak tahu teori, tidak tahu. Tetapi dia punya onderbewustzijn, Saudara-saudara, dia menggerakkan, bertemu dengan dia punya bewutzijn.

Oleh karena itu maka saya berkata, revolution leads itself, revolusi adalah selfbirth, bukan keinginanku, bukan bikinanmu, bukan bikinanmu, bukan bikinanmu, bukan bikinanmu.

Nah, Revolusi Indonesia dus tidak bisa diselewengkan manusia. Tujuannya sudah tetap, tidak bisa di—saya punya perkataan akhir-akhir ini—tidak bisa diperkanankan. Oleh karena lahir sebagai bayi kiri. Kiri, sejak lahirnya kiri. Bayi kiri, dalam arti politik sosial kiri.

Bukan kok bayi yang tidak punya tangan kanan, cuma punya tangan kiri saja, tidak.

Revolusi Indonesia adalah revolusi kiri.

Menghendaki bukan saja satu masyarakat yang lepas daripada imperialisme, tetapi satu masyarakat yang benar-benar boleh dinamakan masyarakat sosial ekonomi kiri.

Antikapitalisme, kiri. Masyarakat yang sama rasa sama rata, kiri.

.

(Amanat PJM Presiden Soekarno pada Hari Ulang Tahun Lembaga Kantor Berita Antara di Istana Bogor, 12 Desember 1965;di dalam “Revolusi Belum Selesai” Kumpulan Pidato Soekarno 30 September 1965-Pelengkap Nawaskara, Penyunting Budi Setiyono dan Bonnie Triyana, PT Serambi Ilmu Semesta, 2014: 227-229)

.

ooOoo

.

Catatan Redaksi Dasar Kita

Menyambut 70 tahun Pancasila dan 70 tahun Republik Indonesia pada 2015 ini, secara periodik setiap Senin, terhitung sejak 1 Juni 2015 (kemudian 8 Juni, 15 Juni, 22 Juni, dan seterusnya) hingga berakhir Senin, 17 Agustus 2015, Pengeposan Khusus ini akan hadir. Dengan catatan bahwa “tradisi” pengeposan bulanan setiap tanggal 14, untuk 3 bulan ini digantikan Pengeposan Khusus pada 15 Juni, 13 Juli dan 17 Agustus.

Pengeposan Khusus hadir dengan “cuplikan-cuplikan” sambutan/pidato Soekarno yang kami kutip dari buku “Revolusi Belum Selesai” dimaksud seperti tersajikan di atas.

(Selengkapnya simak Pengeposan Khusus Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila).

.

ooOoo

.

Catatan untuk Pengeposan Khusus Edisi 20 Juli 2015

“Revolusi Indonesia adalah revolusi kiri.

Menghendaki bukan saja satu masyarakat yang lepas daripada imperialisme, tetapi satu masyarakat yang benar-benar boleh dinamakan masyarakat sosial ekonomi kiri.

Antikapitalisme, kiri. Masyarakat yang sama rasa sama rata, kiri”

Sangat berandang, gamblang, terlebih pasca-1/2-abad, era pemerintahan Jokowi-JK pula (baca: hakikatnya lanjutkan “Revolusi Belum Selesai” Bung Karno) . Bahwa yang Soekarno tawarkan dan wariskan — “berkolaborasi” dengan kaum kiri-materialis-nonrevisionis kala itu — adalah Ampera (NKRI, Masyarakat Adil dan Makmur, Hapusnya penindasan manusia atas manusia, penindasan nasion atas nasion). Dengan “jalan ideologis” Panca Azimat (Nasakom, Pancasila, USDEK–UUD 45-Sosialisme Indonesia-Demokrasi Terpimpin-Ekonomi Terpimpin-Kepribadian Indonesia –Trisakti, Berdikari).

ooOoo

.Simak rangkaian Pengeposan Khusus:

Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila

Edisi 8 Juni 2015

Edisi 15 Juni 2015

Edisi 22 Juni 2015/488 Tahun Jakarta

Edisi 29 Juni 2015

Edisi 6 Juli 2015

Edisi 13 Juli 2015

Edisi 27 Juli 2015

Edisi 3 Agustus 2015

ooOoo

.