103. Peng Red (101) – 14 Nov ’17

Standar

103. Pengantar Redaksi (101) – 14 November 2017

.

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-101 bertarikh 14 November 2017.

Silakan saja simak/klik selengkapnya warita di bawah ini.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

Semoga media pewarta warga ini bermanfaat.

.

ooOoo

.

Trostky, Sang Parewa Wall Street

.

103a-Trotsky-Guililma-VT-01

.

Oleh Galima Galiullina, Ph D untuk

Veterans Today, 31 Oktober 2017, “Trotsky, the Wall Street Thug”

.

Dalam rangka 100 Tahun Revolusi Besar Oktober

.

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita

.

Bagian I. Trotsky dan Rusia

[I.1] Kaum Muda Rusia sebagai Obyek dari Nafsu

Rusia bukan sebuah negara, ia adalah sebuah dunia (Russia is not a state, it is a world), tulis seorang pewarta terkenal tentang tanah tumpah darah Tsar yang mencerminkan keragaman bangsanya, berbagai zona iklim, keragaman besar sumber daya alam dan ketidaksamaan aspirasi yang luar biasa dari individu-individu manusia (human individuals), dimana kekaisaran tersusun.

Frasa pengantar ini untuk artikel “Young Russia: The Land of Unlimited Possibilities” diawali sebuah tinjauan analitis tentang Rusia pada awal abad ke-20 oleh Gilbert Grosvenor dalam terbitan Majalah National Geographic edisi November 1914.

Suami saya entah bagaimana secara ajaib memeroleh majalah ini dalam sebuah lelang eBay dan memberikannya kepada saya pada 2014, [sama-sama] tahun keseratus dari isu yang sepenuhnya didedikasikan untuk Rusia. Banyak foto-foto berwarna dan hitam dan putih menghiasi halaman-halaman spesifik [waxed pages] di majalah tersebut dan mengungkapkan keragaman kehidupan Rusia yang menakjubkan pada awal abad yang lalu.

Dan selama tiga tahun saya mengagumi majalah ini sampai hari-hari terakhir ini ketika saya membuat sebuah penemuan yang mengejutkan, mengapa dan untuk siapa ekspos tentang Rusia ini diterbitkan? Sesungguhnya, terbitan National Geographic ini adalah sebuah  produk pemasaran strategis para bankir Wall Street dan korporasi-korporasi Amerika terbesar.

Membaca “Young Russia” sebelum tindakan tegas mereka untuk menaklukkan pertiwi dengan oportunitas-oportunitas  tak terbatas melalui revolusi yang akan datang [1917], sulit untuk dapat melihat sesuatu di situ selain naskah yang dibuat dengan serius. Rusia sebagai pertiwi dengan oportunitas-opurtunitas tak terbatas adalah untuk mereka, dan bukan untuk rakyat yang mendiami Rusia.

Pada bagian terakhir [tulisan] kita menemukan pandangan tradisional tentang rakyat Rusia dan negerinya yang secara keseluruhan bagi dunia semata-mata “nasion yang luar biasa”: “Bagaimana nasion ini dalam beberapa hal yang bahkan lebih muda ketimbang Amerika Serikat, di mana nenek moyang kita yang dibawa dari institusi-institusi Inggris dan Belanda yang ditempa selama berabad-abad dengan pengujian yang keras, dan darah dan otak dilatih untuk pemerintahan sendiri melalui banyak, banyak generasi.”

Dan semuanya berakhir dengan harapan bahwa massa orang-orang Rusia yang buta huruf dan bodoh akan ditransformasikan oleh usaha mereka yang membawa pengalaman Amerika untuk membangun perkeretaapian, telepon, bioskop, agronomi dan peternakan serta, tentu saja, demokrasi.

Dalam artikel tersebut tidak ada sama sekali tentang universitas-universitas Rusia, para ilmuwan dan penulis-penulisnya, sejarah heroik dan para pemimpin hebat. Sesungguhnya, Rusia pra-revolusioner tampil sebagai objek geopolitik dan geoekonomi yang ideal bagi rencana strategis Wall Street untuk merebut pertiwi yang belum terjangkau, sumber-sumber daya alamnya dan seluruh Kawasan Inti [Heartland].

Melalui kekacauan dan perubahan revolusioner, penyingkirkan Tsar yang lemah dan picik, mengakali massa dengan slogan-slogan tentang tanah kepada para petani dan pabrik-pabrik untuk para pekerja, dongeng tentang kehidupan indah di bawah kekuasaan Bolshevik, rencana para pemodal dan kapitalis Barat untuk menghapus saingan yang lemah, mengubah Rusia menjadi pelengkap bahan baku [a raw material appendage], dan massa naifnya itu—menjadi budak kulit putih.

Siapa yang menjadi duta revolusi di Rusia untuk menerapkan rencana strategis para bankir Wall Street? Tentu saja, Trotsky (Leiba Bronstein). Dia sesungguhnya lahir untuk tujuan ini: karismatik, pemikir strategis, pembicara brilian, seorang pejalan tak kenal lelah dan organisator berbakat.

.

Selengkapnya simak/klik hlm 103a.

.

ooOoo

.

Iklan

102. Pengeposan Khusus (100) Tiga Tahun Pemerintahan Jokowi-JK: SELAMAT! Pecah Juga Rekor itu … Freeport Milik NKRI … “Blessing in Disguise” Deklasifikasi 1965 …

Standar

102. Pengeposan Khusus (100) Tiga Tahun Pemerintahan Jokowi-JK:

.

SELAMAT!

.

Pecah Juga Rekor itu …

Freeport Milik NKRI …

“Blessing in Disguise” Deklasifikasi 1965

.

.

* * *

.

Pecah Juga Rekor Itu

.

3 Tahun Jokowi-JK, Pecah Juga Rekor Itu…

.

Sumber: YOGA SUKMANA Kompas.com – 17/10/2017, 12:15 WIB

.

DK-102-Pengeposan khusus-3 th Jkw-JK
Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla saat sedang berbuka puasa bersama di Istana Kepresidenan Bogor, Senin (29/5/2017). (Agus Suparto/Fotografer Kepresidenan)

.

JAKARTA, KOMPAS.com – Dalam kurun waktu 3 tahun, pemeritahanJokowi-Jusuf Kalla bisa menyakinkan 3 lembaga pemeringkat internasional untuk memberikan peringkat layak investasi kepada Indonesia.

Menurut Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong, capaian itu layak dibanggakan. Sebab, hal tersebut merupakan yang pertama setelah 20 tahun silam.

(Selengkapnya simak/klik hlm 102a — Red DK)

.

* * * 

.

Freeport Milik NKRI

.

Kesepakatan Final Perundingan Antara Pemerintah dan PT Freeport Indonesia

.

 Sumber: esdm.go.id, Tim Komunikasi ESDM, Selasa, 29 Agustus 2017 

.

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

REPUBLIK INDONESIA

SIARAN PERS

NOMOR: 00115.Pers/04/SJI/2017

Tanggal: 29 Agustus 2017 

.

KESEPAKATAN FINAL PERUNDINGAN ANTARA PEMERINTAH DAN PT FREEPORT INDONESIA 

.

Pada hari Minggu, 27 Agustus 2017, telah berlangsung pertemuan antara Tim Perundingan Pemerintah dan PT Freeport Indonesia. Pertemuan berlangsung di kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Jakarta, dengan agenda finalisasi kesepakatan yang telah dihasilkan dari serangkaian pertemuan sebelumnya.

(Selengkapnya simak/klik hlm 102b — Red DK)

.

* * *

.

“Blessing in Disguise” Deklasifikasi 1965

.

Kedutaan Besar AS mengikuti berjalannya pembunuhan massal di Indonesia pada tahun 1965

Arsip Kedubes AS Jakarta yang baru saja dibuka merinci pembunuhan oleh AD, dan dukungan AS dalam penghancuran gerakan buruh berorientasi kiri

.

[Sumber: National Security Archive, nsarchive.gwu.edu, Indonesia Project — Red DK]

.

Washington, D.C., 17 Oktober 2017 – Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengetahui secara mendetail bahwa bagian Angkatan Darat (AD) dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) melakukan operasi pembunuhan massal terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) sejak 1965, menurut dokumen-dokumen yang baru saja dibuka (tidak dirahasiakan lagi) dan diposting hari ini oleh Arsip Keamanan Nasional (National Security Archive) di George Washington University. Bahan-bahan baru ini menunjukkan lebih jauh bahwa para diplomat di Kedutaan Besar AS di Jakarta menyimpan catatan identitas para pemimpin PKI yang dibunuh, dan para pejabat AS mendukung secara aktif upaya-upaya AD untuk menghancurkan gerakan buruh yang berorientasi kiri di Indonesia.

(Selengkapnya simak/klik hlm 102c — Red DK)

.

101. Pengeposan Khusus (99) Hari Pertama (17/10/2017) Pascainaugurasi Gubernur & Wakil Gubernur DKI: “Pribumi” Konteks Kolonialisme vs Memusuhi Pancasila-UUD 1945 di dalam Pancasila-UUD 1945 itu Sendiri–Pendekatan Nonstruktural (Grafis Kicauan Redaksi Dasar Kita)

Standar

101. Pengeposan Khusus (99) Hari Pertama (17/10/2017) Pascainaugurasi Gubernur & Wakil Gubernur DKI: “Pribumi” Konteks Kolonialisme vs Memusuhi Pancasila-UUD 1945 di dalam Pancasila-UUD 1945 itu Sendiri–Pendekatan Nonstruktural (Grafis Kicauan Redaksi Dasar Kita)

.

DK-101-Jelang 00 14-10-2017-Pengeposan Khusus 16 Okt 2017-Djon-01
Screenshot 1/5 – 17/0/2017 (Grafis oleh Red DK)

.

DK-101-Jelang 00 14-10-2017-Pengeposan Khusus 16 Okt 2017-Djon-02
Screenshot 2/5  – 17/10/2017 (Grafis oleh Red DK) — hlm 35a

.

DK-101-Jelang 00 14-10-2017-Pengeposan Khusus 16 Okt 2017-Djon-03
Screenshot 3/5 – 17/10/2017 (Grafis oleh Red DK)

.

DK-101-Jelang 00 14-10-2017-Pengeposan Khusus 16 Okt 2017-Djon-04
Screenshot 4/5 – 17/10/2017 (Grafis oleh Red DK) — hlm 88a

,

DK-101-Jelang 00 14-10-2017-Pengeposan Khusus 16 Okt 2017-Djon-05

Screenshot 5/5 – 17/10/2017 (Grafis oleh Red DK) — hlm 91d

.

Pendekatan Nonstruktural 

.

 

.

100. Peng Red (98) – 14 Okt ’17

Standar

100. Pengantar Redaksi (98) – 14 Oktober 2017

.

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-98 bertarikh 14 Oktober 2017.

Silakan saja simak/klik selengkapnya warita di bawah ini.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

Semoga media pewarta warga ini bermanfaat.

.

ooOoo

.

Kemungkinan Penerus Castro Kuba Menolak Permintaan AS untuk Perubahan

.

Sumber: Reuters/Marc Frank, October 8, 2017 / 10:13 PM 

.

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita

.

Havana (Reuters) – Orang yang diramalkan menggantikan Presiden Kuba Raul Castro awal tahun depan menolak permintaan AS agar negara yang berhaluan komunis itu mengubah sistem politik dan ekonominya.

.

   DK-100a-castro-okt-2017

.

Selengkapnya simak/klik hlm 100a.

.

99. Pengeposan Khusus (97) Memeringati 52 Tahun Awal “Kudeta Merangkak” — Abdurrahman Wahid: Pandangan Islam tentang Marxisme-Leninisme (NUOnline)

Standar

Pandangan Islam tentang Marxisme-Leninisme

.

Oleh Abdurrahman Wahid

.

Sumber: NUOnline, Kamis, 12 Maret 2015 13:10

.

Selama ini orang menganggap bahwa Marxisme-Leninisme atau lebih mudahnya komunisme, berada dalam hubungan diametral dengan Islam.

Banyak faktor pendorong kepada tumbuhnya anggapan seperti itu.

Secara politis, umpamanya dalam sejarah yang belum sampai satu abad. Marxisme-Leninisme telah terlibat dalam pertentangan tak kunjung selesai dengan negara-negara (dalam artian pemerintahan negara bangsa atau nation state), bangsa-bangsa, dan kelompok-kelompok muslim di seluruh dunia.

Dalam Peristiwa Madiun, 1948, umpamanya, kaum muslimin Indonesia berdiri berhadapan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) karena dua alasan.

Pertama, karena PKI di bawah pimpinan Muso berusaha menggulingkan pemerintahan Republik Indonesia yang didirikan oleh bangsa yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Kedua, karena banyak pemuka agama Islam dan ulama yang terbunuh, seperti kalangan pengasuh Pesantren Takeran yang hanya terletak beberapa kilometer di luar kota Madiun sendiri. Kiai Mursyid dan sesama kiai pesantren tersebut hingga saat ini belum diketahui di mana dikuburkan.

Percaturan geo-politik saat ini pun menghadapkan Uni Soviet, kubu pertama paham Marxisme-Leninisme kepada Dunia Islam, karena pendudukannya atas bangsa muslim Afghanistan semenjak beberapa tahun lalu.

Selain itu, secara ideologis, Marxisme-Leninisme juga tidak mungkin dipertemukan dengan Islam.

Marxisme-Leninisme adalah doktrin politik yang dilandaskan pada filsafat materialisme. Sedangkan Islam betapa pun adalah sebuah agama yang betapa praktisnya, sekalipun dalam urusan keduniaan, masih harus mendasarkan dirinya pada spiritualisme dan kepercayaan akan sesuatu yang secara empiris sudah tentu tidak dapat dibuktikan.

Apalagi Marxisme-Leninisme adalah pengembangan ekstrem dari filsafat Karl Marx yang justru menganggap agama sebagai opium (candu) yang akan melupakan rakyat dari perjuangan strukturalnya untuk merebut alat-alat produksi dari tangan kaum kapitalis.

Demikian pula dari skema penataan Marxisme-Leninisme atas masyarakat, Islam sebagai agama harus diperlakukan sebagai superstruktur yang dibasmi, karena “merupakan bagian dari jaringan kekuasaan reaksioner yang menunjang kapitalisme”, walaupun dalam dirinya ia mengandung unsur-unsur antikapitalisme.

Atau dengan kata lain, yang menjadi bagian inti dari doktrin Marxisme-Leninisme, Islam adalah “bagian dari kontradiksi internal kapitalisme”.

Dialektika paham tersebut memandang pertentangan antara Islam dan kapitalisme hanya sebagai pertentangan subsider dalam pola umum pertentangan antara kaum proletar melawan struktur kapitalisme yang didirikan oleh kaum feodal.

Sebuah aspek lain dari pertentangan ideologis antara Islam dan Marxisme-Leninisme dapat dilihat pada fungsi kemasyarakatan masing-masing.

Dalam kerangka ini, Marxisme-Leninisme berusaha mengatur kehidupan bermasyarakat secara menyeluruh atas wawasan-wawasan rasional belaka, sedangkan Islam justru menolak sekulerisme seperti itu.

Menurut ajaran formal Islam, pengaturan kehidupan bermasyarakat harus diselaraskan dengan semua ketentuan-ketentuan wahyu [revelation — Red DK] yang datang dari Allah. Pengaturan hidup secara revelational (walaupun memiliki wawasan pragmatis dan rasionalnya sendiri untuk dapat menampung aspirasi kehidupan nyata), bagaimanapun juga tidak mungkin akan berdamai sepenuhnya dengan gagasan pengaturan masyarakat secara rasional sepenuhnya.

Tidak heranlah jika pengelompokan politik dan sosial budaya yang memunculkan apa yang dinamai “golongan Islam” juga menggunakan pola penghadapan dalam meletakkan Marxisme-Leninisme dalam hubungannya dengan Islam. Seperti dalam forum yang melawan dan menentangnya.

Forum-forum formal Islam sendiri juga demikian, senantiasa meletakkan Marxisme-Leninisme dalam hubungannya dengan Islam. Seperti dalam forum yang melawan dan menentangnya.

Forum-forum formal Islam sendiri juga demikian, senantiasa meletakkan Marxisme-Leninisme dalam kategori “ideologi lawan”.

Atau dalam jargon Rabithah al-Alam al-Islami/(Islamic Word Association) yang berkedudukan di Makkah, “ideologi yang menentang Islam (al-fahm al-mudhadli al-islami).”

Dalam forum-forum resmi internasional di kalangan kaum muslimin, Marxisme-Leninisme dalam “baju” komunisme secara rutin dimasukkan ke dalam paham-paham yang harus ditolak secara tuntas.

Sikap demikian dapat juga dilihat pada karya-karya tulis para pemikir, ideolog, dan budayawan yang menjadikan Islam sebagai kerangka acuan dasar untuk menata kehidupan (dalam arti tidak harus dalam bentuk negara theokratis atau secara ideologis formal dalam kehidupan negara, tetapi sebagai semangat pengatur kehidupan). Para penulis “pandangan Islam” itu memberikan porsi panjang lebar kepada penolakan atas ideologi dan paham Marxisme-Leninisme dalam karya-karya mereka.

Penolakan ini antara lain berupa sikap mengambil bentuk peletakanpandangan Islam” sebagai jalan tengah antara kapitalisme dan komunisme atau menurut istilah Mustofa al-Siba’I, antara kapitalisme dan sosialisme.

Menurut pandangan mereka, kapitalisme akan membawa bencana karena terlalu mementingkan kepentingan perorangan warga masyarakat, karena sandarannya kepada inividualisme. Sedangkan kolektivisme yang menjadi ajaran Marxisme, diserap oleh Marxisme-Leninisme, justru akan menghilangkan hak-hak sah dari individu yang menjadi warga masyarakat. Islam menurut mereka memberikan pemecahan dengan jalan menyeimbangkan antara “hak-hak masyarakat” dan “hak-hak individu”.

Melihat pola hubungan diametral seperti itu memang mengherankan.

Bahwa masih saja ada kelompok-kelompok Marxis-Leninis dalam masing-masing lingkungan bangsa muslim mana pun di seluruh dunia.

Bahkan di kalangan minoritas muslim di negara yang mayoritas penduduknya beragama bukan Islam, seperti Sri-Lanka, Filipina. Bukan karena adanya orang-orang yang berpaham Marxis-Leninis. Karena memang mereka ada di mana-mana.

Tambahan pula, keadaan masyarakat bangsa-bangsa yang memiliki penduduk beragama Islam dalam jumlah besar memang membuat subur pertumbuhan paham itu.

Secara teoritis, karena besarnya kesenjangan antara teori kemasyarakatan yang terlalu muluk-muluk yang ditawarkan dan kenyataan menyedihkan akan meluaskan kemiskinan dan kebodohan.

Yang menarik justru kenyataan bahwa oleh pemerintah negara-negara berpenduduk mayoritas muslim (kecuali sudah tentu di Indonesia). Kalaupun dilarang, maka bukan karena paham itu sendiri tidak dibiarkan secara hukum negara, melainkan karena di lingkungan bangsa itu tidak diperkenankan adanya gerakan politik dari rakyat sama sekali, seperti Arab Saudi saat ini.

Yang lebih menarik lagi justru adalah terus-menerus adanya upaya untuk meramu ajaran Islam kepada atau dengan paham-paham lain, termasuk Marxisme.

Seperti yang saat ini dilakukan dengan giatnya oleh Muammar Khadafi, pemimpin Lybia yang berperilaku eksentrik itu.

Ternyata upaya tersebut tidak terbatas pada “penggalian” konsep konsep Marx yang nonkomunistis saja, tetapi juga mencapai “pengambilan” dari Marxisme-Leninisme.

Secara formal, paham tersebut di larang di Lybia. Tetapi secara faktual banyak unsur-unsur Marxisme-Leninisme [masuk] ke dalam doktrin politik Khadafi.

Umpamanya saja, pengertian “kelompok yang memelopori revolusi,’ yang jelas berasal dari konsep Lenin tentang pengalihan pemerintah dari kekuasaan kapitalisme (tidak harus yang berwatak finansial-industri, tetapi cukup yang masih berwatak agraris belaka).

Demikian juga konsep “pimpinan revolusi”, yang dicanangkan sebagai “dewan-dewan rakyat” (al-jamariyah) sebagai satu-satunya kekuatan “pengawal revolusi” dari kemungkinan direbut kembali oleh kapitalisme internasional.

Fenomena upaya meramu unsur Marxisme-Leninisme ke dalam teori politik yang ditawarkan sebagai “ideologi Islam” sangat menarik untuk dikaji, karena bagaimanapun ia mengandung dua aspek.

Pertama, ia tidak terbatas pada kalangan eksentrik seperti Khadafi, tetapi juga di kalangan sujumlah pemikir muslim serius, semisal Abdel Malek dan Ali Syari’ati.

Saat ini pun, gerakan Mojaheddin eKhalq yang bergerak di bawah tanah di Iran dan dipimpin oleh Masoud Rajavi dari Paris, menggunakan analisis perjuangan kelas yang mengikuti acuan Marxisme-Leninisme.

Kedua, kenyataan bahwa upaya “meramu” tersebut sampai hari ini masih mampu mempertahankan warna agamanya yang kuat. Bukan proses akulturasi yang muncul, di mana Islam dilemahkan, melainkan sebaliknya, terjadi penguatan ajaran-ajarannya melalui “penyerapan sebagai alat analisis”.

Keseluruhan yang dibentangkan di atas menghendaki adanya kajian lebih mendalam tentang hubungan Islam dan Marxisme-Leninisme, yang akan membawa kepada pemahaman yang lebih terinci dan pengertian lebih konkret akan adanya titik-titik persamaan yang dapat digali antara Islam sebagai ajaran kemasyarakatan dan Marxisme-Leninisme sebagai ideologi politik.

Pemahaman dan pengertian seperti itu akan memungkinkan antisipasi terhadap peluang bagi terjadinya “titik sambung” keduanya di negeri ini. Antisipasi mana dapat saja digunakan, baik untuk mencegahnya maupun mendorong kehadirannya.

Salah satu cara untuk melihat titik-titik persamaan antara Islam dan Marxisme Leninisme, keduanya sebagai semacam “ajaran kemasyarakatan” (untuk meminjam istilah yang populer saat ini di kalangan sejumlah teolog Katolik yang menghendaki perubahan struktural secara mendasar) adalah menggunakan pendekatan yang disebut sebagai vocabularies of motive (keragaman motif) oleh Bryan Turner dalam bukunya yang terkenal, Weber and Islam (hlm. 142).

Menurut pendekatan ini, tidak ada satu pun motif tunggal dapat diaplikasikan secara memuaskan bagi keseluruhan perilaku kaum muslimin sepanjang sejarah mereka.

Kecenderungan “agama” seperti tasawuf (mistisisme), syariat (legal-formalisme), dan akhlak (etika sosial), dalam hubungannya dengan kecenderungan “ekonomis”, seperti semangat dengan etos kerja agraris, pola kemiliteran dan asketisme politis, ternyata menampilkan banyak kemungkinan motivatif bagi perilaku kaum muslimin itu.

Walaupun pendekatan itu oleh Turner dipakai justru untuk mencoba melakukan pembuktian atas kaitan antara Islam dan kapitalisme, bagaimanapun juga penggunaannya sebagai alat untuk meneliti kaitan antara Islam Marxisme-Leninisme akan membuahkan hasil kajian yang diharapkan.

Umpamanya saja, pendekatan ini dapat mengungkapkan adanya kesamaan orientasi antara pandangan kemasyarakatan Marxisme-Leninisme yang bersumber pada kolektivisme dan tradisi kesederhanaan hierarki dalam masyarakat suku yang membentuk masyarakat Islam yang pertama di Madinah di zaman Nabi Muhammad.

Kesamaan orientasi tersebut dapat dilihat pada besarnya semangat egalitarianisme dan populisme dalam kedua sistem kehidupan itu.

Orientasi kehidupan seperti itu mau tidak mau akan membawa sikap untuk cenderung menyusun pola kehidupan serba senang kepada tindakan (action-oriented), dan menjauhi kecenderungan kontemplatif dan meditatif.

Orientasi kepada tindakan ini demikian kuat terlihat dalam kehidupan masyarakat Islam, sehingga keimanan dan tuntasnya keterlibatan kepada ajaran agama (dikenal dengan nama Rukun Islam) sepenuhnya diidentifisir [didentifikasikan] dengan “tindakan”. Dari syahadat (pengakuan akan keesaan Allah dan kerasulan Muhammad), salat, zakat, puasa, hingga kewajiban menjalankan peribadatan haji.

Walaupun Marxisme bersandar pada ajaran determinisme-materialistis (dalam jargon sosialisme dikenal dengan nama historis-materialisme), dan dengan demikian Marxisme-Leninisme mendasarkan ideologinya sampai titik tertentu pada acuan tersebut, tetapi orientasinya kepada “sikap aksional” tetap tampak sangat nyata. [Mengacu Tesis XI Marx kepada Feuerbach]

Justru acuan deterministis yang mendorong kaum Marxis termasuk Marxis-Leninis, untuk mempersoalkan struktur kekuasaan dan tindakan terprogram dalam memperjuangkan dan kemudian melestarikan struktur masyarakat yang mereka anggap sebagai bangunan kehidupan yang adil.

Orientasi inilah yang “menghubungkan” antara Islam dan Marxisme-Leninisme, menurut versi pikiran orang-orang seperti Khadafi dan Masoud Rajavi. Walaupun secara prinsipil mereka menentang komunisme sebagai ideologi dan memenjarakan pemimpin-pemimpin komunis serta melawan mereka dalam bentrokan-bentrokan fisik.

Berbeda dengan mendiang Gamal Abdul Nasser dari Mesir, yang berideologi sosialistis dan sedikit banyak dapat mentolerir [mentolerankan] kehadiran pemimpin-pemimpin komunis, seperti Mustafa Agha di negerinya, walupun sering juga ditahan kalau ternyata masih melakukan aktivitas yang dinilainya subversif.

Sikap Nasser ini juga diikuti oleh kedua rezim sosialis Ba’ath (kebangunan) yang berkuasa di Irak dan Suriah sekarang ini.

Sebuah perkecualian menarik dalam hal ini, karena perbedaan ideologis yang ada dapat “dijembatani” oleh kesamaan orientasi di atas adalah kasus Partai Tudeh di Iran.

Partai yang nyata-nyata berideologi Marxis-Leninis itu ternyata hingga saat ini masih dibiarkan hidup oleh rezim revolusi Islam di Iran, walaupun gerakan gerilya Fedayen E-Khalq yang juga Marxis-Leninis justru ditumpas dan dikejar-kejar.

Ternyata kesamaan orientasi populistik dan egalitarian antara ideologi Islam dan Marxis-Leninisme dihadapan lawan bersama imperialisme Amerika Serikat menurut jargon mereka, mengandung juga benih-benih kontradiksi interen antara kaum muda dan kaum Marxis-Leninis Iran, selama yang terakhir ini tidak mengusik-usik kekuasaan Partai Republik Islam, selama itu pula mereka ditolerir [ditolerankan].

Dari sudut pandangan ini, sikap kaum muslimin Indonesia yang menolak kehadiran Marxisme-Leninisme melalui ketetapan MPR adalah sebuah anomali, yang hanya dapat diterangkan dari kenyataan bahwa telah dua kali mereka dikhianati oleh kaum komunis di tahun 1948 dan 1965. Penolakan dengan demikian berwatak politis, bukannya ideologis.

Hal ini menjadi lebih jelas, jika diingat bahwa kaum muslimin Indonesia sudah tidak lagi memiliki aspirasi mereka sendiri di bidang ideologi, tetapi meleburkannya ke dalam ideologi “umum” bangsa, Pancasila.

Kenyataan seperi ini memang jarang dimengerti, karena tinjauan yang dilakukan selama ini atas hubungan Islam dan Marxisme-Leninisme sering sekali bersifat dangkal, melihat persoalannya dari satu sisi pandangan saja, itu pun yang bersifat sangat formal.

Wajar sekali kalau kaitan dengan Marxisme-Leninisme tidak diakui secara formal di kalangan gerakan-gerakan Islam, tetapi diterima dalam praktik.

Seperti wajarnya ”garis partai” yang menolak kehadiran agama di negara-negara komunis, tetapi dalam praktik diberikan hak melakukan kegiatan serba terbatas.

Melihat kenyataan di atas, menjadi nyata bagi mereka yang ingin melakukan tinjauan mendalam atas Marxisme-Leninisme dari sudut pandangan Islam. Bahwa harus dilakukan pemisahan antara sikap Islam yang dirumuskan dalam ajaran resmi keagamaannya dan “sikap Islam” yang tampil dalam kenyataan yang hidup dalam bidang politik dan pemahaman secara umum.

Banyak pertimbangan lain yang mempengaruhi hubungan antara Islam dan Marxisme-Leninisme dalam praktik, sehingga tidak dapat begitu saja digeneralisasi tanpa mengakibatkan penarikan kesimpulan yang salah.

Demikian juga, dalam melihat kaitan dalam praktik kehidupan pemerintahan, tidaklah cukup kaitan itu sendiri diidentifikasikan sebagai sesuatu yang sumir dan berdasarkan kebutuhan taktis belaka, seperti yang disangkakan pihak Amerika Serikat atas hubungan Khadafy dan Uni Soviet.

Karena sebenarnya yang terjadi adalah proses saling mengambil antara dua ideologi besar, tanpa salah satu harus mengalah terhadap yang lain. Betapa tidak permanennya hubungan itu sekalian [sekalipun], karena keharusan tidak boleh mengalah kepada ideologi lain, kaitan antara Islam dan Marxisme-Leninisme memiliki dimensi ideologinya sendiri. Yaitu kesamaan sangat besar dalam orientasi perjuangan masing-masing.

Kalau diproyeksikan terlebih jauh ke masa depan, bahkan akan muncul varian lain dari pola hubungan yang telah ada itu.

Yaitu dalam hasil akhir ideologis dari upaya yang sedang dilakukan sejumlah intelektual muslim untuk mendalami sumber-sumber ajaran Islam melalui analisis pertentangan kelas yang menjadi “merek dagang” Maxisme-Leninisme.

Ayat-ayat Al-Qur’an, ucapan nabi dalam hadits dan penjelasan ulama dalam karya-karya mereka diperiksa kembali “wawasan kelas”-nya, digunakan sudut pandangan sosial-historis untuk melakukan penfsiran kembali atas “pemahaman salah” akan sumber-sumber ajaran agama itu.

Zakat sebagai salah satu Rukun Islam, umpamanya, dilihat secara kritis sebagai alat populistik untuk menata orientasi kemasyarakat kaum muslimin dalam pengertian struktural.

Lembaga tersebut diwahyukan dengan beban terbesar atas penyelenggaraan hidup bermasyarakat pada pundak lapangan pertanian sebagai profesi kaum elite Madinah waktu itu (karena membutuhkan masukan modal sangat besar, tidak seperti usaha dagang kecil-kecilan di pasar yang menjadi kerja utama kebanyakan penduduk Madinah).

Pendekatan struktural dalam menafsirkan kembali ajaran agama itu bagaimanapun akan membawa kepada kesadaran akan pentingnya analisis perjuangan kelas untuk menegakkan struktur masyarakat yang benar-benar adil dalam pandangan Islam.

Di pihak lain, semakin berkembangnya pemahaman “humanis” atas Marxisme-Leninisme, seperti dilakukan Partai Komunis Italia dewasa ini akan membawa apresiasi lebih dalam lagi tentang pentingnya wawasan keagamaan ditampung dalam perjuangan kaum Marxis-Leninis untuk menumbangkan struktur kapitalis secara global.

Hal ini sebenarnya sudah disadari oleh sejumlah teoritisi Marxis-Leninis sejak dasawarsa tigapuluhan dari abad ini, semisal Gramsci. Sudah tentu akan muncul aspek kesamaan orientasi kemasyarakatan antara Islam dan Marxisme-Leninisme dengan dilakukan kajian-kajian di atas yang antara lain sedang dilakukan oleh Mohammad Arkoun dan Ali Merad, yang dua-duanya kini tinggal di Prancis.

.

* Tulisan ini pernah dimuat di Persepsi, No.1, 1982

.

ooOoo

Catatan Redaksi Dasar Kita

Tulisan Gus Dur di atas, penampilannya berbeda dengan sumbernya NUOline, adalah atas inisiatif kami sendiri tapi tanpa sedikit pun menyentuh isi.

Artinya, kami sengaja baik alinea-alinea yang dipisah-pisahkan menjadi alinea-alinea baru. Ataupun menggunakan ukuran huruf (font) berbeda-beda serta memberikan highlight (huruf berwarna) pada kalimat-kalimat maupun alinea-alinea tertentu sebagai penekanan laiknya mahasiswa yang memberikan stabilo atau menggaris-garisbawahi buku teksnya.

Tiada lain maksudnya, untuk pertama-tama “memanjakan” pembaca di perangkat gadget-nya. Lalu berikutnya mengajak pembaca menangkap beberapa poin dari tulisan Bapak Bangsa kita ini yang sudah 3,5 dasawarsa usianya. Ketika “kesadaran kolektif” tentang Marxisme-Leninisme hari-hari ini baru “sebatas” nobar film ahistoris 309 produksi junta militer Kudeta Merangkak 1 Oktober 1965-12 Maret 1967.

Atau seperti digambarkan dengan pas oleh Gus Dur:

Kenyataan seperti ini memang jarang dimengerti, karena tinjauan yang dilakukan selama ini atas hubungan Islam dan Marxisme-Leninisme sering sekali bersifat dangkal, melihat persoalannya dari satu sisi pandangan saja, itu pun yang bersifat sangat formal.

Apalagi ini era visi jalan ideologis Trisakti-Gotong Royong Soekarno dengan 9-Agenda Prioritas/Nawa Cita visi misi pemerintahan Jokowi-JK.

Trisakti notabene bagian tak terpisahkan dari “Panca Azimat” tak lain konsep “Sosialisme ala Indonesia” Soekarno.

Soekarno yang malah “hilang” oleh kegaduhan tiap tahun di akhir bulan September terkait isu Marxisme-Leninisme atau (pinjam Gus Dur) lebih mudahnya komunisme.

Padahal kegaduhan sentimen anti-komunisme yang meningkat tahun ini, hemat kami terkait kegeraman  Deep State pada satu kebijakan Jokowi yang meruntuhkan “keberhasilan” Kudeta Merangkak selama 50 tahun ini: PT Freeport Indonesia per 29 Agustus 2017 menjadi milik Indonesia dengan 51% divestasi.

Di lain pihak, risalah Gus Dur ini sangat menarik setidaknya bagi kami untuk membantu “menjelaskan” mengapa kawasan Timur Tengah dan Semanjung Korea terus “memanas”. Karna negeri-negeri itu menganut atau dipengaruhi kuat oleh paham sosialisme.

Tak pelak, tulisan Gus Dur ini untuk kami adalah sebuah afirmasi bahwa tarung soialisme vs kapitalisme belum juga kelar.

Malah Deep State makin kalap. Seiring ketidaksadarannya sedang menggali liang lahatnya sendiri lewat bisnis utamanya yang memunggungi ekonomi riil: war, riot & regional crisis

Selamat jalan Paman! Selamat Datang Indonesia Hebat!

98. Pengeposan Khusus (95) Memeringati Hari Kelahiran Google ke-19 (Google Doodle)

Standar
DK-97-Pengeposan Khusus 19 th Google
Google Doodle: Hari Kelahiran Google ke-19 (Screenshot/Grafis oleh Red DK)

.

DK-97-Pengeposan Khusus 19 th Gogle-02
Silakan klik ini (Screenshot/Grafis oleh Red DK)

.

Catatan Redaksi Dasar Kita

Pertama-tama Pengeposan Khusus ini sengaja kami tujukan untuk Google yang pada hari ini (27 September 2017) genap berusia 19 tahun. Selamat!

Sengaja, berhubung selama kami “terbang” bersama (terima kasih juga kepada) WordPress.com sebagai “Pewarta Warga” (Citizen Journalist) Google betul-betul sangat membantu.

Dalam artian, katakanlah, kami sinergikan dengan WordPress.com untuk mengefektifkan dan mengoptimalkan — baik secara langsung ataupun tidak langsung — tulisan-tulisan yang kami poskan.

Semisal penggunaan fasilitas Google URL Shortener. Tak ketinggalan Google sebagai mesin pencari untuk mendapatkan data pendukung argumentasi-argumentasi kami. Terlebih kami yang mengkhususkan diri pada upaya yang oleh pakar sosiologi kondang di era junta militer Suharto, Dr Arief Budiman, disebut: formasi sosial sosialistis.

Dengan mencoba menimbang pikiran-pikiran Soekarno yang memang kuat dipengaruhi oleh doktrian marxian — khususnya konsep Panca Azimat atau konsep “Sosialisme ala Indonesia” dikenal sebagai “Ekonomi dan Demokrasi Terpimpin”.

Lima azimat yang terdiri dari: Nasakom (Nasionalis–Agamais–Komunis), Pancasila, USDEK (UUD 1945–Sosialisme ala Indonesia–Demokrasi Terpimpin–Ekonomi Terpimpin–Kepribadian Indonesia), Trisakti (berdaulat politik, berdaulat ekonomi, berkepribadian Indonesia) dan Berdikari (berdiri di atas kaki sendiri).

Dan, ini poin kedua, sekitar tiga tahun setelah kami “terbang” bersama WordPress.com didukung Google itu , seolah gayung bersambut. Pasangan Jokowi-JK yang mengusung visi jalan ideologis Trisakti-Soekarno dengan 9-Agenda Prioritas visi misi atau Nawa Cita/hadirnya NKRI-18845, terpilih dan berkuasa sejak 20 Oktober 2014 hingga saat ini.

Nyaris 3 tahun setelah Jokowi berkuasa, bagi kami, tak ada jalan lain kecuali …. Jokowi untuk 2019!

Kenapa? … Maaf, silakan iseng-iseng berselancar di blog kami ini … dan mungkin pengeposan satu ini bisa sebagai petunjuk awal … simak/klik hlm 91a

juga pengeposan yang satu ini lagi … simak/klik hlm 76a

Ketiga, fantasi kami, mengutip pengeposan hlm 76a:

Di satu sisi, melalui ekonomi virtual, Amerika Serikat telah melahap [eaten up] semua keuntungan kapitalisme. Di sisi lain, melalui inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi – yang berbangga sebagai pemimpin dunia  – internet, data besar, dan awan [the cloud] mendorong ke ekstrim yang pada akhirnya akan menguburkan Amerika Serikat  sebagai representatif dari oponen paling penting kapitalisme keuangan. [Artinya, internet dan awan akan mendapatkan kehidupan mereka sendiri dan melawan pemerintah AS — dari sumber, Red DK].

Ya, internet dan awan yang ironinya digagas oleh warga Amerika Serikat sendiri  …

Sekali lagi, Selamat Hari Kelahiran* ke-19 Google!

———

*Seyogianya jangan lagi menggunakan sebandung lema “ulang tahun”.

Ini berarti bahwa dalam setiap satuan waktu tertentu terjadi daur ulang menyangkut detik, menit, jam, hari dan bulan. […]

Ternyata hitungan waktu setelah bulan sebenarnya tidak pernah berulang. […]

Jadi di manakah letak ulang tahun yang dirayakan dalam urusan bertambahnya umur? […]

Karena peristiwa berlalunya satu tahun itu diperingati atau dirayakan, tampaknya makna hari kelahiran akan lebih tepat.

(“Ulang Tahun” oleh Ayatrohaedi dalam “Inul itu Diva? Kumpulan Kolom Bahasa Kompas” Penyunting Salomo Simanungkalit, Penerbit Buku Kompas, Jakarta September 2003; hlm 195-198)

96. Pengeposan Khusus (94) Merespons Doodle Google “Hari Kemerdekaan Indonesia 2017” dengan Pengeposan Hlm 95a. Arus Balik, Membalik: Poros Maritim Dunia “Soekarno Abad XXI”– Terinspirasi Film “Banda, The Dark Forgotten Trial”

Standar
DK-95a-Arus Balik Pram-1995-Doodle 1782017

Doodle Google “Hari Kemerdekaan Indonesia 2017” (Screenshot & grafis: Red DK)

.

Menyambut 72 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia

.

Arus Balik, Membalik:

Poros Maritim Dunia “Soekarno Abad XXI”

.

Terinspirasi Film “Banda, The Dark Forgotten Trail”

.

Oleh Redaksi Dasar Kita

.

DK-95a-Banda-Metropole-4-8-2017

.

Selengkapnya simak/klik hlm 95a.

.