91. Peng Red (89) – 14 Jun ’17

Standar

91. Pengantar Redaksi (89) – 14 Juni 2017

.

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-89 bertarikh 14 Juni 2017.

Silakan saja simak/klik selengkapnya warita di bawah ini.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

Semoga media pewarta warga ini bermanfaat.

.

ooOoo

.

AYO! BUNG AHOK KASIH TANGAN MARI KITA BIKIN JANJI*

.

Menyambut dan Memeringati 490 Tahun DKI Jakarta 22 Juni 2017 “Beragam, Bersatu, Melayani” serta 51 Tahun Basuki Tjahaja Purnama 29 Juni 2017

.

(*Maaf dan terima kasih kepada para ahli waris/keluarga besar dari pencipta puisi “Persetujuan dengan Bung Karno”, 1948, Chairil Anwar)

.

Oleh Redaksi Dasar Kita

.

AYO! BUNG AHOK KASIH TANGAN MARI KITA BIKIN JANJI …

lanjutkan perjuangan kemerdekaan bagian kedua tegakkan keberagaman-persatuan-pelayanan tidak terbatas Ibukota DKI Jakarta, tapi seluruh Negara Kesatuan Republik Indonesia …

NKRI-178845 rumah kita bersama buah perjuangan pengorbanan jiwa raga para Pahlawan Kemerdekaan mengusir imperialisme …

berfondasi-konstitusi-18845 berikon Garuda ber-Kalung Tameng Pancasila mencengkram Pita Bhinneka Tunggal Ika.

.

Selengkapnya simak/klik hlm 91a

.

 

90. Pengeposan Khusus (88) Memeringati Hari Lahir Soekarno ke-116, 6 Juni 2017: “Soekarno Komunis?” — Sebuah Tawaran Diskusi di Era Jokowi -Term I

Standar

“Soekarno Komunis?”

.

Sebuah Tawaran Diskusi di Era Jokowi-Term I

.

Oleh Redaksi Dasar Kita

.

Pengantar Diskusi

Diskusi dalam rangka Memeringati Hari Lahir Soekarno ke-116 dengan topik “Soekarno Komunis?” ini, sesungguhnya berangkat dari bidasan, respons kami atas tuduhan terkait “PKI (Partai Komunis Indonesia)”. Khususnya tuduhan yang dialamatkan kepada Presiden Joko Widodo termasuk pembantu terdekatnya Teten Masduki, Kepala Staf Kepresidenan Indonesia.

Jokowi dituduh anak dari orang tua/keluarga anggota PKI dan Teten sebagai kader PKI.

Baik Jokowi maupun Teten sudah membantah, bahkan Teten telah melaporkan ke pihak berwajib. Hingga tulisan ini disiapkan tampaknya masih diproses-lanjut ke tingkat pengadilan.

Dari sumber-sumber yang kami miliki, kami berkeyakinan — seperti telah dijawab Jokowi dan Teten — tuduhan-tuduhan tersebut tak berdasar sama sekali.

Malahan tengarai kami (setidaknya sejak Kudeta Merangkak atas Soekarno) sudah menjadi “barang dagangan politik” oleh entitas yang kami sebut Deep State (DS)*. Khususnya para begundalnya yang tampil dipanggung politik Indonesia piawai “mensterilkan” DS dalam berbagai telaah politik kita pascakudeta itu.

Tuduhan PKI menjadi isu seksi yang sewaktu-waktu “dimainkan” para begundal itu dan terbukti efektif untuk “fragmentaris” bagian dari politik devide et impera DS. Setidaknya DS berhasil memertahankan NKRI yang menjadi “darling” DS selama tiga-plus-satu dasawarsa di bawah dua penguasa berlatar-belakang militer. (Simak/klik hlm 35a)

———

*DS, sebuah istilah bukan baru, yang dimunculkan kembali oleh Putin pasca-Trump menyerang Suriah dengan dalih kibul ala WMD-Irak “kepemilikan senjata kimia” (lihat bawah). DS, bagi kami, lebih pas sebagai represen “imperialisme tahap akhir/tertinggi kapitalisme” ketimbang pemerintah Amerika Serikat.

Pemerintah  AS lebih sebagai “komite”/”panitia” bagi kepentingan-kepentingan borjuis, kepentingan-kepentingan imperialisme, kepentingan-kepentingan DS, ketimbang sebagai sebuah pemerintahan “mandiri” yang berpihak pada rakyat Amerika. (Bandingkan era Jokowi-BTP di DKI, simak/klik hlm 33b).

“Orang-orang berpakaian gelap dengan kepentingan-kepentingan finansial-militer” begitu julukan Putin atas DS dalam dua kesempatan berbeda yang kami coba gabungkan (simak/klik hlm 88a.2 dan hlm 88a.1) .

Hal yang salah satunya ditunjukkan secara signifikan oleh naik-turunnya para Presiden AS. Tetapi tetap memiliki gaya imperialistis serupa: monopolistis, tak segan-segan menggunakan kekerasan senjata. Semisal perang Vietnam, yang menguras tenaga, dana dan korban jiwa anak-anak muda para serdadu AS, tak membuat DS jera.

Pemerintah AS yang dihadirkan DS hemat kami dijargonkan dengan “nyaris”-pas oleh penulis Amerika Gore Vidal: we are United State of Amnesia, we learn nothing because we remember nothing. [Kita adalah Amnesia Serikat, kita tidak belajar apa-apa karena kita tidak ingat apa-apa].

“Nyaris”, lantaran sesungguhnya ada yang diingat DS yaitu “perang”.

That’s why Americans are fighting for dollars, begitu kesimpulan Qiao Liang, seorang jenderal RRT yang menulis “One Belt, One Road” [OBOR]. Amerika yang disebut Qiao sebagai Kekaisaran Finansial (Financial Empire), negeri bodong (hollow country). Yang sejak 1971 (decoupling dolar-emas) tidak lagi andalkan ekonomi riil, membuat kami berani menyebut doktrin DS dalam “berbisnis dan mengatur” kebijakan ekonomi dan politik pemerintah AS: “war, riot & regional crisis”.

Sekaligus dengan doktrin DS ini, lebih menjelaskan keabsurditas sebuah negara kapitalis-maju (capitalist advance country)** mantan-adikuasa (?) yang sangat hipokrit, tetapi juga (meminjam Qiao) sedang menggali liang lahatnya sendiri.

PDB (Pendapatan Domestik Bruto) yang trennya terus menurun bukan sebatas year-to-year tapi dalam “perlambatan jangka panjang” seperti ditunjukkan John Ross (simak/klik hlm 83a) adalah prediksi-statistik yang mendukung tesis “liang lahat” versi kaum filsuf doktrin Marxian. Doktrin yang digandrungi Soekarno sejak muda itu.

———

**Negeri-negeri kapitalis maju (seperti AS) sesuai peta jalan yang dibayangkan oleh Marx sejatinya telah “matang” untuk menuju sosialisme. Lamun cendekiawan Tiongkok Duan Zhongqiao membantahnya:

“… negeri-negeri tersebut bagi sebagian besar memiliki prasyarat untuk mewujudkan perekonomian perencanaan dibayangkan oleh Marx, dan oleh karena itu, bagi mereka, masalah bagaimana untuk mewujudkan sosialisme adalah bukan bagaimana untuk melanjutkan dan mengembangkan ekonomi pasar, tapi bagaimana untuk menghapuskan ekonomi pasar dan membangun perekonomian perencanaan, selangkah demi selangkah. (Simak/klik hlm 40b).

Entitas DS atau imperialisme — musuh bebuyutan Bung Karno sejak muda — ini yang kami tawarkan hadir dalam diskusi “Soekarno Komunis?”. Ketika kami ajukan referensi karya Soekarno-muda “Nasionalisme, Islamisme, Marxisme” (1926; simak/klik “Bacaan Diskusi” di bawah) sebagai salah satu di antara tiga (saja) referensi diskusi ini.

Dua acuan lainnya: “Memperingati 50 Tahun Wafatnya Karl Marx” (1933, simak/klik “Bacaan Diskusi”) karya Soekarno-muda lainnya dan “Revolusi Belum Selesai” (2014, simak/klik “Bacaan Diskusi”): buku kumpulan pidato Soekarno periode Kudeta Merangkak (1965-1967) dengan sebandung penyuntingnya Budi Setiyono dan Bonnie Triyana.

Kami “Tahu Diri”: Gayung Bisa Jadi Tak (Pernah) Bersambut

Lamun, perlu pula kami tambahkan bahwa sejujurnya kami “tahu diri”. Kami sadar, kami bukan apa-apa bukan siapa-siapa. Gayung diskusi ini bisa jadi tak (pernah) bersambut. Meski, kami tetap optimis ada kawan pembaca budiman yang membidas tawaran diskusi ini.

Karena sesungguhnya tawaran ini hanyalah salah satu saja di antara berbagai upaya banyak pihak, untuk mencoba membentuk kembali potongan-potongan puzzle di tacit knowledge (pengetahuan noneksplisit yang ada di benak) kita masing-masing yang telah berantakan di-brain-washing DS.

Dalam artian, nalar kita menjadi “terbiasa” ahistoris, mensterilkan DS dalam setiap percakapan politik untuk sebuah Indonesia — notabene mantan koloni-imperialis — yang lebih baik dan maju ke depannya.

Pendekatan “strukturalis” yang melihat pertama-tama syarat-syarat material formasi sosial dalam masyarakat ketimbang langsung berserah diri pada pendidikan (individual) sebagai “obat mujarab” masa depan Indonesia lebih baik, seperti ditawarkan Arief Budiman tiga dasawarsa lalu, kini malah seolah “ahistoris”. (Simak/klik hlm 43a & hlm 45a).

Bahkan kita adem-ayem tanpa rasa bersalah melenggang atas “sukses besar” sang DS merubah konstitusi awal kita berdalih “amendemen UUD 1945” menjadi konstitusi gadungan sarat neolib: UUD 2002 (Simak/klik hlm 39a). False flag “reformasi” pun dikibarkan, “pahlawan”-nya pun dihadirkan. Luar biasa memang DS!

Beruntung ada seorang Jokowi yang mensiasatinya secara cantik dan cerdas — ala  pesilat setingkat-Guru yang memanfaatkan tenaga lawan. Upaya hadirkan negara (nihilkan neolib) dalam 9-Agenda Prioritas visi misi Jokowi-JK atau Nawacita. (Simak/klik hlm 51a). Membatalkan 3.143 Perda bermasalah (simak/klik hlm 74b) serta mengusulkan “Sistem Terbuka Terbatas” (pilih parpol sesuai UUD 45) menggantikan “Sistem Proporsional Terbuka” (pemilu langsung/UUD 2002). (Simak/klik hlm 83c).

Wacana dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan kritis seperti “PKI hancur atau dihancurkan?”; “Nasakom, siapa takut?”; “Sosialisme ala Indonesia versi Soekarno kenapa tidak? hemat kami sudah saatnya tidak lagi menjadi “pornografi politik” hasil rinsonisasi DS itu. Lantaran, setidaknya untuk kami, Soekarno adalah “Bapak Sosialisme ala Indonesia” dan Joko Widodo adalah “Soekarno Abad XXI”.

Hal terakhir ini yang tengarai kami membuat DS belingsatan, terus membuat gaduh. Gubernur DKI  — seorang administrator ulung kelas dunia dalam memaknai agenda prioritas-jalan ideologis-Soekarno Nawa Cita di lingkup Indonesia-kecil DKI Jakarta — bukan saja digagalkan lewat Pilkada malahan dipenjara! Pasalnya itu, DS kali ini (ternyata) lemot antisipasi hadirnya “Soekarno Abad XXI”.

Dua setengah tahun ke depan, bagi kami, sesungguhnya tarung sengit (benih) Sosialisme vs Kapitalisme (tahap akhir) — di Jakarta!

Ketika Jokowi dengan gaya blusukan (akar rumput maupun elite) merangsek dengan menggenjot pembangunan infrastruktur ber-APBN pruden/kehati-hatian. Untuk menjamin “kapitalisme negara” paralel reformasi pasar Deng Xiaoping (baca: paralel Ekonomi Terpimpin ala Soekarno***) yang di era Xi Jinping sedang “mendunia” dalam Inisiatif Sabuk dan Jalan (OBOR) berbasis hal yang “alamiah” dalam berbisnis: win-win deals. Melawan dan (bakal) menyudahi doktrin dari entitas kapitalisme tahap akhir  sejatinya anti-HAM/dunia-multipolar yang damai: war, riot & regional crisis.

———

***Diistilahkan oleh Amiruddin Al-Rahab dalam tajuk bukunya sebagai “Ekonomi Berdikari Sukarno” (2014). Referensi menarik setidaknya bagi kami, dari kaum muda non-ML Indonesia Abad XXI khususnya di era kemandirian jalan ideologis Trisakti-Nawa Cita pemerintahan Jokowi-JK.

Relevansi yang diakui sendiri Amiruddin, atas gagasan dasar dari skripsi S1 di Departemen Ilmu Sejarah FSUI ditulis pada 1994-1996. Sebuah tawaran pendekatan historis — “agar kita tidak berjalan dari titik nol, tapi bisa mulai berjalan dengan nukilan pemikiran Sukarno” (: xxx) — yang justru asimetris dengan penulis Pengantar bukunya: Budiman Sudjatmiko. Khususnya pembelaan ahistoris Budiman dalam menggagas UU No 6/2014 Tentang Desa, ketidaktulusannya terhadap jalan ideologis Jokowi-JK (simak/klik hlm 67a).

Ini esensi dari tawaran kami bersawala, berdiskusi dengan topik “Soekarno Komunis?”.

Jadi, silakan saja mulai bersawala dengan berkomentar di kolom yang  disediakan wordpress.com di bagian bawah halaman ini.

.

Bacaan Diskusi

  1. Hlm 23c. Ir Soekarno: Nasionalisme, Islamisme, Marxisme (Suluh Indonesia Muda, 1926)
  2. Hlm 6a. Ir Soekarno: Memperingati 50 Tahun Wafatnya Karl Marx (Fikiran Ra’jat, 1933)
  3. Buku “Revolusi Belum Selesai”, Kumpulan Pidato Presiden Soekarno 30 September 1965 – Pelengkap Nawaksara (2014, Penyunting Budi Setiyono & Bonnie Triyana) — cuplikan dari salah satu pidato, simak/klik hlm 57.

ooOoo

.

Terkait:

Hlm 90a. Screenshot Kicauan Blog Dasar Kita Membidas Pariwara di Kompas.com (12/6/2017) Program AIMAN KompasTV Isu HTI (20.00 WIB)

89. Pengeposan Khusus (87) Memeringati 72 Tahun Pancasila: Sambutan Presiden RI Dalam Rangka Hari Lahir Pancasila 1 Juni 1945 – 1 Juni 2017 (setneg.go.id)

Standar

89. Pengeposan Khusus (87) Memeringati 72 Tahun Pancasila:

.

Sambutan Presiden RI Dalam Rangka Hari Lahir Pancasila 1 Juni 1945 -1 Juni

.

Sumber: Setneg.go.id

.

Jkw-1-6-17

[Grafis/screenshot oleh Red DK]

Selengkapnya simak/klik dalam format PDF

.

Terkait:

Hlm 89a. Peraturan Presiden No 54 Tahun 2017 Tentang Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila [UKP-PIP] (peraturan.go.id)

Hlm 89b. Presiden Jokowi Teken Perpres Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (setkab.go.id)

.

ooOoo

.

Catatan Redaksi Dasar Kita

.

Konsistensi Jokowi Sejak Pilpres: Tegakkan Jalan Ideologis

.

“Reformasi 1998 menjanjikan lahirnya Indonesia baru yang lebih demokratis, sejahtera, berkeadilan, dan bermartabat.

Namun, 16 tahun kemudian, jalan menuju pemenuhan janji-janji reformasi itu tampak semakin terjal dan penuh dengan ketidakpastian. Selama 16 tahun itu pula Indonesia terbelenggu dalam transisi yang berkepanjangan.

Ketidakpastian dan transisi berkepanjangan itu harus segera dihentikan untuk memberi jalan bagi kelahiran Indonesia Hebat.

Perubahan menjadi sebuah keniscayaan.

Jalan perubahan adalah jalan ideologis. [Cetak tebal dari kami — Red DK]

Secara historis, jalan ideologis itu bersumber pada Proklamasi, Pancasila 1 Juni 1945, dan Pembukaan UUD 1945.

Proklamasi dan Pancasila 1 Juni 1945 menegaskan jati diri dan identitas kita sebagai sebuah bangsa yang merdeka dan berdaulat.

Pembukaan UUD 1945 dengan jelas mengamanatkan arah tujuan nasional dari pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.” [Cetak tebal dari sumber]

Demikianlah “Pendahuluan: Berjalan di Bawah Amanat Konstitusi” dari “Visi Misi dan Program Aksi Jokowi Jusuf Kalla 2014”.

Dan setelah mengemukakan dan merinci “Tiga Problem Bangsa”: merosotnya kewibawan negara; melemahnya sendi-sendi kehidupan nasional; merebaknya intoleransi dan krisis kepribadian bangsa. Dilanjutkan “Meneguhkan kembali Jalan Ideologis” yang diawali:

“Kami berkeyakinan bangsa ini mampu bertahan dalam deraan gelombang sejarah apabila dipandu oleh suatu ideologi. [Cetak tebal dari kami].

Ideologi sebagai penuntun; ideologi sebagai penggerak; ideologi sebagai pemersatu perjuangan; dan ideologi sebagai bintang pengarah.

Ideologi itu adalah PANCASILA 1 JUNI 1945 dan TRISAKTI.”

Pancasila 1 Juni 1945 (afirmasi Pancasila-Soekarno) dan Trisakti (satu dari Panca-Azimat: konsep “sosialisme ala Indonesia” versi Soekarno) tak lain merupakan visi dari Jokowi-JK: TERWUJUDNYA INDONESIA YANG BERDAULAT, MANDIRI DAN BERKEPRIBADIAN BERLANDASKAN GOTONG ROYONG.

Dan setelah 2,5 tahun Jokowi-JK memerintah, ketika gelombang deraan sejarah justru makin “memuncak” — yang dalam tengarai kami ulah Deep State bersama para begundalnya yang sudah pasti anti-18845 –, Jokowi konsisten pada tegaknya jalan ideologis yang dipegangnya saat mencalonkan diri sebagai Presiden RI. Dengan membentuk Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-UPP) lewat Perpres No 5/2017, di usia 72 tahun Pancasila.

“Tidak ada pilihan lain kecuali kita harus bahu membahu menggapai cita-cita bangsa sesuai dengan Pancasila.

Tidak ada pilihan lain kecuali seluruh anak bangsa harus menyatukan hati, pikiran dan tenaga untuk persatuan dan persaudaraan.

Tidak ada pilihan lain kecuali kita harus kembali ke jati diri sebagai bangsa yang santun, berjiwa gotong royong dan toleran.

Tidak ada pilihan lain kecuali kita harus menjadikan lndonesia bangsa yang adil, makmur dan bermartabat di mata internasional”. [Cetak tebal oleh kami].

Tak pelak, setidak untuk kami, Jokowi sang “Soekarno Abad XXI” telah “on-track” dalam konteks negeri-negeri Dunia Ketiga mengatasi Deep State: entitas penjajahan/imperialisme milenium ketiga yang di era Trump makin tampak bukan wujudnya tapi sepak terjangnya yang absurd. Dengan justru makin erat memeluk jalan ideologis. Sambil menempuh jalan kapitalis yang sedang nge-tren di era OBOR: win-win deals. Menggenjot infrastruktur dengan APBN yang prudent.

Seperti halnya terbukti pada Tiongkok sang raksasa ekonomi dunia (sebentar lagi menyalib AS), yang sejak proklamasi 1949 bukan saja tetap berpegang pada jalan ideologis “Sosialisme Berkarakteristik Tiongkok” malahan makin diperkuat oleh para pemimpin RRT pasca-Mao Zedong-Deng Xiaoping hingga Xi Jinping yang kini mengusung One Belt, One Road  (OBOR).

Sekaligus bagi kami, sebuah “persiapan” menghadapi Pilpres 2019. Bukan pertama-tama untuk melanggengkan kekuasaan apalagi berambisi personal, tetapi yang disikapi betul oleh “Soekarno Abad XXI” dalam sambutan ini yang kami kutip diatas sebagai sederetan  “tidak ada pilihan lain kecuali …” 

.

Jokowi untuk 2019!

88. Peng Red (86) – 14 Mei ’17

Standar

88. Pengantar Redaksi (86) – 14 Mei 2017

.

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-86 bertarikh 14 Mei 2017.

Silakan saja simak/klik selengkapnya warita di bawah ini.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

Semoga media pewarta warga ini bermanfaat.

.

ooOoo

.

Hanya Ada Satu Kata: LAWAN!

.

Ahok-Basuki Tjahaja Purnama, Pejuang Kemerdekaan Jilid-2

.

Jokowi untuk 2019

.

Oleh Redaksi Dasar Kita

.

Berikut ini risalah (Grafis-Screenshot) kami dalam konteks untuk mendukung Presiden Joko Widodo pada Pilpres 2019 mendatang.

Berangkat dari “keberhasilan” kaum “Deep-State” (selanjutnya DS) menggagalkan  Ahok-Basuki Tjahaja Purnama sebagai Gubernur DKI Jakarta pada Pilkada DKI Putaran Kedua 9 Mei 2017.

DS yang mengandalkan “Politik Identitas” yang tak lain adalah salah satu saja dari modus jadul “Politik Devide et Impera” — politik adu domba andalan kolonial yang sukses dalam bilangan abad.

Tak pelak, khususnya bagi kami, Ahok adalah Pejuang Kemerdekaan Jilid-2.

.

Selengkapnya simak/klik hlm 88a.

.

87. Peng Red (85) – 14 Apr ’17

Standar

87. Pengantar Redaksi (85) – 14 April 2017

.

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-85 bertarikh 14 April 2017.

Silakan saja simak/klik selengkapnya warita di bawah ini.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

Semoga media pewarta warga ini bermanfaat.

.

ooOoo

.

@AhokDjarot Sebagai “Titik-Tolak”: 19 April 2017

.

2

.

Ada 2 “Titik-Tolak”:

.

1. “Titik-Bertolak” Menuju DKI/RI Hebat-Masyarakat Adil & Makmur Jalan Ideologis 18845 …

.

2. “Titik-Menolak” Sistem Proporsional Terbuka/UUD 2002 …

.

.* * *

.

1. “Titik-Bertolak” Menuju DKI/RI Hebat Masyarakat Adil & Makmur

Jalan ideologis 18845  …

Berikut ini beberapa di antara program @AhokDjarot: “Jakarta Punya Semua”:

.

DK-87-14 Apr 2017-Sambut Pilkada 2-01

(Snapshot oleh Red DK)

.

Selengkapnya simak/klik hlm 87a.

.

ooOoo

86. Pengeposan Khusus (84) Memeringati Hari Lahir Saridjah Niung [Ibu Soed] ke-109: “Tik Tik Bunyi Hujan”, “Tanah Air” & “Berkibarlah Benderaku” (YouTube)

Standar

.

DK-86-Ibu Soed-02

Tampilan Google pada 26 Maret 2017, istilah Google dijadikan “doodle”, Hari Lahir Saridjah Niung [Ibu Soed] ke-109. (Grafis/screenshot oleh kami, silakan tonton doodle Ibu Soed via YouTube juga kami pilih tiga karya Ibu Soed  “Tik Tik Bunyi Hujan”, “Tanah Air” & “Berkibarlah Benderaku” berlanjut Biografi Ibu Soed via Wikipedia Bahasa Indonesia serta Catatan Redaksi Dasar Kita, terkait pengeposan khusus ini; terima kasih Google sudah diingatkan — Red DK) 

 .

DK-86-Ibu Soed-03

Tonton doodle Saridjah Niung atau Ibu Soed via YouTube

.

DK-86-Ibu Soed-07

Tonton “Tik Tik Bunyi Hujan” Ibu Soed via YouTube

.

DK-86-Ibu Soed-06

Tonton “Tanah Air” Ibu Soed via YouTube

.

DK-86-Ibu Soed-01

Tonton “Berkibarlah Benderaku” Ibu Soed via YouTube

.

DK-86-Ibu Soed-05

Simak biografi Saridjah Niung [Ibu Soed] via Wikipedia Bahasa Indonesia

.

DK-86-Ibu Soed-08

Cuplikan biografi Ibu Soed Wikipedia Bahasa Indonesia

.

Catatan Redaksi Dasar Kita

Pertama-tama, terima kasih kepada Google yang sudah mengingatkan Hari Kelahiran Ibu Soed ke-109, hari ini 26 Maret 2017.

Dan begitu kita klik pada doodle Saridjah Niung, tampil versi Inggris tentang Ibu Soed.

Kami tutup peringatan 109 tahun kelahiran Ibu Soed dengan biografinya oleh Wikipedia Bahasa Indonesia.

Di mana sebelumnya, Pembaca Budiman bisa tonton tiga lagu merdu, melegenda dan “Indonesia banget” — di antara sekian ratus — karya Ibu Soed yakni “Tik Tik Bunyi Hujan”, “Tanah Air” dan “Berkibarlah Benderaku”.

Selamat untuk keluarga besar anak-cucu almarhumah Ibu Soed dan Indonesia yang pernah memiliki dan masih memiliki karya-karya akbar seorang Saridjah Niung, yang ikut merenda sebuah Indonesia yang Perkasa, yang Hebat, yang Adil dan Makmur.

.

ooOoo

85. Peng Red (83) – 14 Mar ’17

Standar

85. Pengantar Redaksi (83) – 14 Maret 2017

.

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-83 bertarikh 14 Maret 2017.

Silakan saja simak/klik selengkapnya warita di bawah ini.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

Semoga media pewarta warga ini bermanfaat.

.

ooOoo

.

Data Ekonomi 2016 Menunjukkan Klaim ‘Pemulihan Ekonomi yang Kuat’ AS adalah Sebuah Mitos

.

Oleh John Ross

.

Sumber: blog John Ross Key Trends in Globalisation, 2016’s economic data shows the claim of US ‘strong economic recovery’ was a myth, 03 February 2017

.

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita

.

Publikasi data ekonomi AS yang resmi untuk 2016, di mana ditunjukkan hanya 1,6% pertumbuhan PDB AS untuk tahun tersebut, dan hanya 0,9% pertumbuhan PDB per kapita, jelas menunjukkan dua hal:

  • Pembangunan ekonomi global utama pada 2016 adalah perlambatan tajam ekonomi AS – seperti yang ditunjukkan di bawah ini;
  • Sebagian besar dari media keuangan gagal untuk menganalisis realitas pertumbuhan AS yang lambat ini dan terus mengulangi mitos ‘pemulihan AS yang kuat’ [strong US recovery — Red DK].

Dua pertanyaan menguntit realitas ini:

.

Selengkapnya simak/klik hlm 85a.

.

ooOoo