57d. Edisi 29 Juni 2015, 4-Pekan Pasca-1 Juni 2015, 7-Pekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

Standar

57d. Edisi 29 Juni 2015, 4-Pekan Pasca-1 Juni 2015, 7-Pekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

.

70 Tahun Pancasila
1 Juni 1945 – 1 Juni 2015

.
70 Tahun Republik Indonesia
17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2015

.

Jalan Ideologis Trisakti-Gotong Royong
Pemerintahan Jokowi-JK yang dilantik pada 20 Oktober 2014

.
pada hakikatnya:

.
Menegakkan satu dari Panca Azimat Revolusi (Nasakom, Pancasila, USDEK, Trisakti, Berdikari) yang sejatinya “lima Panca Azimat ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain”.

.
Yang sejatinya pula untuk mencapai sebuah Indonesia yang mengemban Ampera, Amanat Penderitaan Rakyat.

.
Yang sejatinya pula, Panca Azimat, Ampera, adalah Revolusi Indonesia yang “belum selesai”.

(Redaksi Dasar Kita)

.

♦ ♦ ♦

.

Dan saya berkata bahwa revolusi kita adalah revolusi rakyat.

Dan kita harus mengucap syukur ke hadirat Allah Swt. bahwa rakyat kita itu mempunyai pikiran-pikiran, mempunyai ideologi-ideologi, mempunyai angan-angan, sebagai dikatakan oleh Mao Tse Tung [Mao Zedong – Red DK] — saya bukan komunis, Saudara-saudara, tapi saya kira benar itu perkataan Mao Tse Tung — let flowers blooms. Biarlah macam-macam kembang berkembang.

Padahal nanti kembang-kembang ini bisa dirangkai menjadi satu karangan bunga yang indah. Biarlah mawar berkembang sebagai mawar. Biarlah cempaka berkembang sebagai cempaka. Biarlah melati berkembang sebagai melati. Let flowers bloosom. Asal kembang-kembang ini nanti menjadi satu rangkaian bunga. Een grote ruiker bloemen [sebuah karangan-bunga besar – Red DK] yang indah.

Tiap-tiap perjuangan politik yang besar adalah, sebagai kukatakan tempo hari, perjuangan daripada politieke ideen [ide-ide politik – Red DK]. Tiap-tiap perjuangan politik is een strijd van politieke ideen [adalah suatu pertarungan gagasan-gagasan politik – Red DK].

[…]

dan pada waktu itu juga sudah kenyataan ada tiga golongan politieke ideen.

Politiek idee [ide politik – Red DK] yang saya golongkan nasionalis. Politiek idee yang saya golongkan Islam. Politiek idee yang saya golongkan marxis. Karena itulah tahun 1926 saya sudah menulis saya punya tulisan yang termasyhur, Nasionalisme, Islamisme, Marxisme [simak hlm 23c – Red DK].

Yang tiga realitas ini, realitas, Saudara-saudara, harus bisa kita persatukan sebagai satu ruiker [karangan – Red DK] bunga yang terdiri daripada bunga merah, bunga kuning, bunga hijau, bunga lain-lain warna. Sebab uitgangspunt [titik tolak – Red DK] dari saya ialah, tidak bisa kita mencapai apa yang menjadi kehendak kita, yaitu negara merdeka, masyarakat yang baik, jikalau kita tidak mempertahankan bunga-bunga ini.

Tidak ada Revolusi Indonesia itu bisa berhasil jikalau tidak dengan persatuan dan kesatuan daripada seluruh rakyat Indonesia. Yang pada waktu itu baru 70 juta. Sekarang sudah 105 juta.

Itulah sebagai Saudara-saudara ketahui, permulaan daripada idee saya, kristalisasi daripada idee saya, Nasakom.

Nah, oleh karena tiap-tiap revolusi, tiap-tiap politieke beweging [gerakan politik – Red DK] yang besar, tiap-tiap rakyat yang hidup, dia punya mind, dia punya spirit, sebagai kita punya rakyat, […] tiap-tiap bangsa sebagai bangsa kita ini, sebagai satu realitas mesti mempunyai golongan-golongan, politieke ideen, menelurkan, mengeluarkan secara objectief, maka salahlah jikalau kita hendak mencoba mematikan salah satu politiek idee ini.

Saya akan salah besar kalau saya hendak mematikan nasionalisme. Saya akan salah besar kalau hendak mematikan agama. Saya akan salah besar kalau saya hendak mematikan apa yang saya namakan tempo hari itu marxisme, sosialisme, komunisme.

Salah besar!

Oleh karena golongan-golongan ini objectief gegrooid uit de 〈52〉 rakyat.

———

〈52〉 Secara objektif timbul dari.

.

(Pidato PJM Presiden Soekarno pada Sidang Paripurna Kabinet Dwikora di Bogor, 6 November 1965; di dalam “Revolusi Belum Selesai” Kumpulan Pidato Soekarno 30 September 1965-Pelengkap Nawaskara, Penyunting Budi Setiyono dan Bonnie Triyana, PT Serambi Ilmu Semesta, 2014: 112-113)

ooOoo

Catatan Redaksi Dasar Kita

Menyambut 70 tahun Pancasila dan 70 tahun Republik Indonesia pada 2015 ini, secara periodik setiap Senin, terhitung sejak 1 Juni 2015 (kemudian 8 Juni, 15 Juni, 22 Juni, dan seterusnya) hingga berakhir Senin, 17 Agustus 2015, Pengeposan Khusus ini akan hadir. Dengan catatan bahwa “tradisi” pengeposan bulanan setiap tanggal 14, untuk 3 bulan ini digantikan Pengeposan Khusus pada 15 Juni, 13 Juli dan 17 Agustus.

Pengeposan Khusus hadir dengan “cuplikan-cuplikan” sambutan/pidato Soekarno yang kami kutip dari buku “Revolusi Belum Selesai” dimaksud seperti tersajikan di atas.

(Selengkapnya simak Pengeposan Khusus Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila).

.

ooOoo

.

Catatan untuk Pengeposan Khusus Edisi 29 Juni 2015

Nasakom.

“Itulah sebagai Saudara-saudara ketahui, permulaan daripada idee saya, kristalisasi daripada idee saya, Nasakom,” begitu sebaris kalimat dari pidato Soekarno pada cuplikan di atas.

Ya, Nasakom.

Sebuah lema yang hari-hari ini masih saja terus “dijauhi”, bak pengucilan seseorang yang mengidap penyakit  menular berbahaya, ketika “kom” kepanjangan dari “komunis” setengah abad sudah dicoba dipisahkan dari dua gagasan politik Soekarno lainnya “Nasa” (nasionalis, agama).

Dan … gagal!

Setidaknya bagi kami, Redaksi Dasar Kita, Doktrin Truman itu gagal! (Ref hlm 56a)

Ketika pada 20 Oktober 2014, dilantiknya pemerintahan Jokowi-JK dengan visi “Jalan Ideologis” Trisakti-Masohi/Gotong Royong (salah satu dari Panca Azimat: Nasakom, Pancasila, USDEK, Trisakti, Berdikari) untuk sebuah RI Hebat (atawa Ampera/Amanat Penderitaan Rakyat: NKRI, Masyarakat Adil Makmur, Hapusnya Penindasan Manusia atas Manusia — Penindasan Nasion atas Nasion).

Pengeposan Khusus mengutip penggalan-penggalan pidato-pidato Soekarno setiap Senin, sejak 1Juni 2015 hingga 17 Agustus 2015 mendatang, adalah secuil upaya Redaksi Dasar Kita untuk ikut memertahankan peradaban, berpihak pada sains.

Lantaran RI Hebat/Ampera tak mungkin terwujud bila kita masih saja di alam berpikir pra-Copernicus menampik “aksioma geometris” doktrin Marxian (ref hlm 21b), sekalipun keseharian kita tak lepas dari teknologi informasi khas awal abad ke-21 dan bergagah-gagahan dengan tren pascamodern.

.

ooOoo

.

Simak rangkaian Pengeposan Khusus:

Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila

Edisi 8 Juni 2015

Edisi 15 Juni 2015

Edisi 22 Juni 2015/488 Tahun Jakarta

.

57c. Edisi 22 Juni 2015/488 Tahun Jakarta, 3-Pekan Pasca-1 Juni 2015, 8-Pekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

Standar

Edisi 22 Juni 2015/488 Tahun Jakarta, 3-Pekan Pasca-1 Juni 2015, 8-Pekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

.

70 Tahun Pancasila
1 Juni 1945 – 1 Juni 2015

.
70 Tahun Republik Indonesia
17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2015

.

Jalan Ideologis Trisakti-Gotong Royong
Pemerintahan Jokowi-JK yang dilantik pada 20 Oktober 2014

.
pada hakikatnya:

.
Menegakkan satu dari Panca Azimat Revolusi (Nasakom, Pancasila, USDEK, Trisakti, Berdikari) yang sejatinya “lima Panca Azimat ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain”.

.
Yang sejatinya pula untuk mencapai sebuah Indonesia yang mengemban Ampera, Amanat Penderitaan Rakyat.

.
Yang sejatinya pula, Panca Azimat, Ampera, adalah Revolusi Indonesia yang “belum selesai”.

(Redaksi Dasar Kita)

.

♦ ♦ ♦

.

(Pengambilan sumpah telah dilakukan—peny.)

Saudara-saudara sekalian,

Beberapa saat yang lalu alhamdulillah Sudara Mayjen Ali Sadikin telah mengucapkan sumpah menjadi Gubernur/Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta, menjadi Gubernur Jakarta.

Wah, itu bukan pekerjaan yang mudah.

Dalam hal mengangkat walikota-walikota daripada beberapa kota, saya sering mengalami kekecewaan. Sesudah saya angkat, yang tadinya saya kira dan saya anggap walikota itu dapat dapat menjalankan tugasnya sebagai walikota dengan cara yang baik, kiranya tidak memuaskan.

Misalnya, saya pernah mengangkat seorang walikota [… —Red DK]. Kemudian setelah beberapa bulan dia menjalankan kewajibannya sebagai walikota, ternyata amat, atau setidak-tidaknya mengecewakan.

(Amanat PJM Presiden Soekarno pada Pelantikan/Penyumpahan Mayor Jenderal KKO Ali Sadikin Menjadi Gubenur/Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya Istana Negara, Jakarta, 28 April 1966; di dalam “Revolusi Belum Selesai” Kumpulan Pidato Soekarno 30 September 1965-Pelengkap Nawaskara, Penyunting Budi Setiyono dan Bonnie Triyana, PT Serambi Ilmu Semesta, 2014: 495-502)

(Selengkapnya simak hlm 57c.1).

ooOoo

Catatan Redaksi Dasar Kita

Menyambut 70 tahun Pancasila dan 70 tahun Republik Indonesia pada 2015 ini, secara periodik setiap Senin, terhitung sejak 1 Juni 2015 (kemudian 8 Juni, 15 Juni, 22 Juni, dan seterusnya) hingga berakhir Senin, 17 Agustus 2015,

Pengeposan Khusus ini akan hadir. Dengan catatan bahwa “tradisi” pengeposan bulanan setiap tanggal 14, untuk 3 bulan ini digantikan Pengeposan Khusus pada 15 Juni, 13 Juli dan 17 Agustus.

Pengeposan Khusus hadir dengan “cuplikan-cuplikan” sambutan/pidato Soekarno yang kami kutip dari buku “Revolusi Belum Selesai” dimaksud seperti tersajikan di atas.

(Selengkapnya simak Pengeposan Khusus Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila).

ooOoo

Catatan untuk Pengeposan Khusus Edisi 22 Juni 2015/488 Tahun Jakarta

Pada edisi khusus kali ini, bertepatan dengan Hari lahir kota Jakarta yang ke-488.

Dan secara kebetulan dalam konteks mencuplik buku “Revolusi Belum Selesai” , ada sebuah amanat Soekarno yang setidaknya bagi Redaksi Dasar Kita, masih relevan sampai hari ini. Yakni: pidato Soekarno setelah pengambilan sumpah Bang Ali alias Ali Sadikin sebagai Gubernur Jakarta pada 28 April 1966.

Terlebih, ketika hari-hari ini Jakarta dipimpin oleh seorang sosok yang bagi kami adalah salah satu “fenomenal” — bukan saja bagi DKI Jakarta, tapi bahkan bagi historis negeri akbar ini awal-awal abad ke-21: Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama.

Ya, Bang Ahok bagi kami — di tengah “banyak kontroversial” — malah “nyaris tak bercela”.

Ketika Jakarta bukan saja membutuhkan seorang yang mengerti sebatas, kutip Bung Karno, kekotaprajaan, tapi juga istilah kami “tetap menjadi perawan di sarang penyamun”. Ketika penyamun di Jakarta itu, kutip Ahok, dari yang miskin sampai konglomerat. Sebuah “panen raya” atas benih “transaksional” — anak kandung formasi sosial kapitalistis (simak hlm 44a dan hlm 45a) yang secara legalitas diatur oleh konstitusi gadungan UUD 2002 (simak hlm 21a dan hlm 22a juga hlm 39a)– yang ditebar sejak Bung Karno di-kudeta-merangkak, “digenapi” di Senayan Jakarta, bareng marak-maraknya kerusuhan Ambon .

Ketika Jakarta sebagai Ibukota sebuah republik yang menjadi bagian dari Asia Pasifik yang tengah bergeliat dan ikut — dibawah kepemimpinan Jokowi-JK — bersama Tiongkok yang terus menjauhi kebijakan jadul “perluasan empire of chaos“; atas dasar win-win deals yang tak lain adalah perwujudan “spirit Bandung” di abad ke-21. (Ref hlm 53a).

Sehingga, singkat kata, dengan mengutip, memuat utuh amanat Bung Karno saat pelantikan Bang Ali ini, kami berupaya ikut “merenda kembali historis” kita yang setengah abad ini kita punggungi bahkan “kentutin”: Panca Azimat (Nasakom, Pancasila, USDEK, Trisakti, Berdikari) dan lanjutkan cita-cita revolusi Ampera (NKRI, Masyarakat Adil Makmur, Hapusnya Penindasan Manusia atas Manusia — Penindasan Nasion atas Nasion). 

Sekaligus, “secara teknis”, ini adalah “langkah pertama” Redaksi Dasar Kita (sebagai pewarta-warga biasa, bukan apa-apa/siapa-siapa):

Mendukung Bang Ahok

sebagai

DKI-1 pada Pilkada DKI Jakarta 2017.

Semoga.

“Untuk Bang Ahok dan seluruh jajarannya: Selamat Hari Lahir Jakarta ke-488″.

ooOoo

Simak rangkaian Pengeposan Khusus:

Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila

Edisi 8 Juni 2015

Edisi 15 Juni 2015

Edisi 29 Juni 2015

57b. Edisi 15 Juni 2015, 2-Pekan Pasca-1 Juni 2015, 9-Pekan Pra-17 Agustus 2015; Pengeposan Khusus Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

Standar

Edisi 15 Juni 2015, 2-Pekan Pasca-1 Juni 2015, 9-Pekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

.

70 Tahun Pancasila
1 Juni 1945 – 1 Juni 2015

.
70 Tahun Republik Indonesia
17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2015

.

Jalan Ideologis Trisakti-Gotong Royong
Pemerintahan Jokowi-JK yang dilantik pada 20 Oktober 2014

.
pada hakikatnya:

.
Menegakkan satu dari Panca Azimat Revolusi (Nasakom, Pancasila, USDEK, Trisakti, Berdikari) yang sejatinya “lima Panca Azimat ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain”.

.
Yang sejatinya pula untuk mencapai sebuah Indonesia yang mengemban Ampera, Amanat Penderitaan Rakyat.

.
Yang sejatinya pula, Panca Azimat, Ampera, adalah Revolusi Indonesia yang “belum selesai”.

(Redaksi Dasar Kita)

.

♦ ♦ ♦

Cuma saya mau memberi pengertian kepada Saudara-saudara, zo de politieke van de nekolim. Dan jangan kita terjebak. Jangan kita masuk kepada politik nekolim itu. Maka beberapa kali dulu saya sudah berkata: daan kunen wij onze revolutie ook maar oprollen [Mendingan kita hentikan saja revolusi kita. – Peny./Red DK].

Sebab revolusi kita ialah Revolusi Ampera, sebab revolusi kita ialah revolusi kiri.

Saya anggap normal bahwa Amerika cs ingin mengusahakan agar revolusi kita ini menjadi revolusi kanan.

Ik wind stom wanneer ze dat niet zouden doen (saya anggap bodoh kalau mereka tidak bertindak demikian).

Cuma kita, kita janganlah, jangan kita ini terjebak. Ada satu kalimat Latin: Pecunia non olet. Geld stinkt niet. Uang tidak berbau busuk. Seluruh dunia, di seluruh dunia ada saja manusia yang, ha money, money, money! Kalau sudah disekap dengan money, sudah, lemas. Bukan saja di Indonesia, tetapi di mana-mana.

Tetapi harap di Indonesia ini semuanya ingat kepada revolusi kita, bahwa revolusi kita ini ialah antinekolim , kalau tidak revolusi kiri, dan is het geen revolutie, bukan revolusi! Beter kunnen wij onze matten gaan opraken (maka lebih baik kita gulung tikar).

Saya, Saudara-saudara, dalam usaha saya menyelamatkan revolusi ini, saya ulangi met drie onderstrepingen en ik zal het ook drie keer zeggen (dengan tiga garis bawah dan saya juga akan katakan tiga kali), menyelamatkan revolusi ini, menyelamatkan revolusi ini, menyelamatkan revolusi, dalam usaha itu saya minta kepada semua golongan untuk mengadakan ketenangan.

Di sini pada Paripurna Kabinet saya sudah berkata, di muka Panca Tunggal saya sudah berkata, di muka tujuh partai politik saya sudah berkata: hanya jikalau dalam ketenangan saya bisa mempelajari sedalam-dalamnya—kataku di lain tempat de proloog 30 September (pendahuluan daripada 30 September), satu; 30 September het feit op zichzelf (faktanya sendiri), dua; epiloog van 30 September (buntut daripada 30 September), tiga; kalau saya sudah mempunyai beeld, picture, darstellung (gambaran) daripada semua fakta-fakta dan alasan-alasan daripada proloog, dari 30 September an sich, daripada epiloog atau naloog (buntutnya), baru saya bisa mengadakan penyelesaian daripada 30 September itu.

(Pidato PJM Presiden Soekarno pada Sidang Paripurna Kabinet Dwikora di Bogor, 6 November 1965; di dalam “Revolusi Belum Selesai” Kumpulan Pidato Soekarno 30 September 1965-Pelengkap Nawaskara, Penyunting Budi Setiyono dan Bonnie Triyana, PT Serambi Ilmu Semesta, 2014: 101-102) .

.

ooOoo

Catatan Redaksi Dasar Kita

Menyambut 70 tahun Pancasila dan 70 tahun Republik Indonesia pada 2015 ini, secara periodik setiap Senin, terhitung sejak 1 Juni 2015 (kemudian 8 Juni, 15 Juni, 22 Juni, dan seterusnya) hingga berakhir Senin, 17 Agustus 2015, Pengeposan Khusus ini akan hadir. Dengan catatan bahwa “tradisi” pengeposan bulanan setiap tanggal 14, untuk 3 bulan ini digantikan Pengeposan Khusus pada 15 Juni, 13 Juli dan 17 Agustus.

Pengeposan Khusus hadir dengan “cuplikan-cuplikan” sambutan/pidato Soekarno yang kami kutip dari buku “Revolusi Belum Selesai” dimaksud seperti tersajikan di atas.

(Selengkapnya simak Pengeposan Khusus Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila).

ooOoo

.

Catatan untuk Pengeposan Khusus Edisi 15 Juni 2015

Dari cuplikan pidato Soekarno di atas, menjadi terang benderang bahwa di era kepemimpinan RI yang didominasi (42 tahun) oleh Soeharto dan Soesilo Bambang Yudhoyono, Indonesia (dalam kalimat kami) “sudah terjebak, sudah masuk ke dalam politik nekolim;  RI oleh Amerika Serikat sudah berhasil diusahakan agar revolusi kita ini menjadi revolusi kanan.” (Sebagai salah satu acuan, simak pengeposan kami terdahulu di hlm 35a).

Sehingga bagi kami, Redaksi Dasar Kita, pemerintahan Jokowi-JK dengan Jalan Ideologis (simak hlm 44b.1 dan hlm 51a) — seperti sudah kami singgung sebelumnya dalam Pengeposan Khusus ini — pada hakikatnya sedang “menyelamatkan revolusi” kita ini. Setelah setengah abad revolusi kita menjadi revolusi kanan.

Sehingga pula, isu miring yang terus ditiup-tiup bahwa Jokowi-JK tidak akan bertahan sampai 5 tahun, pinjam Soekarno (dari cuplikan di atas): “Ik wind stom wanneer ze dat niet zouden doen (saya anggap bodoh kalau mereka tidak bertindak demikian).”

.

Simak rangkaian Pengeposan Khusus:

Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila

Edisi 8 Juni 2015

Edisi 22 Juni 2015/488 Tahun Jakarta

Edisi 29 Juni 2015

57a. Edisi 8 Juni 2015, Sepekan Pasca-1 Juni 2015, 10-Pekan Pra-17 Agustus 2015; Pengeposan Khusus Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

Standar

Edisi 8 Juni 2015, Sepekan Pasca-1 Juni 2015, 10-Pekan Pra-17 Agustus 2015 Pengeposan Khusus Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015 .

70 Tahun Pancasila 1 Juni 1945 – 1 Juni 2015

. 70 Tahun Republik Indonesia 17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2015

.

Jalan Ideologis Trisakti-Gotong Royong Pemerintahan Jokowi-JK yang dilantik pada 20 Oktober 2014

.

. pada hakikatnya:

.

. Menegakkan satu dari Panca Azimat Revolusi (Nasakom, Pancasila, USDEK, Trisakti, Berdikari) yang sejatinya “lima Panca Azimat ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain”.

. Yang sejatinya pula untuk mencapai sebuah Indonesia yang mengemban Ampera, Amanat Penderitaan Rakyat.

. Yang sejatinya pula, Panca Azimat, Ampera, adalah Revolusi Indonesia yang “belum selesai”.

(Redaksi Dasar Kita)

.

♦ ♦ ♦

.

Saudara-saudara, daripada pengetahuan umum tentang politik internasional, dari juga informasi informasi dan dokumentasi rahasia daripada politik nekolim ialah ternyata sebagai berikut.

Dulu pernah saya sinyalir, nekolim menganggap dunia ini ada dua musuh yang besar sekali, RRT dan Indonesia.

RRT terutama sekali di bagian utara Asia, Indonesia di bagian Asia Tenggara. Malahan bagian Asia Tenggara ini dianggap oleh pihak nekolim satu danger spot yang paling berbahaya bagi mereka. Yaitu Indonesia ini adalah danger spot bagi mereka.

Apalagi ternyata Indonesia ini telah menjadi mercusuar daripada perjuangan bangsa-bangsa di seluruh dunia, mercusuar perjuangan bangsa-bangsa antiimperialisme. Perjuangan bangsa-bangsa ini kok Indonesia menjadi mercusuarnya!

Makin, makin nekolim menghendaki supaya Indonesia ini hancur.

Sekarang ini bagaimana?

Nomor satu, jangan sampai Indonesia ini rapat dengan musuh nekolim yang lain di utara itu, yaitu Tiongkok. Pisahkan dua itu.

Satu, kalau dua ini terpisah, mudah, artinya sudah het halve werk is algedaan [separuh tugas sudah selesai – Peny./Red DK]. Nekolim [tinggal – Red DK] menghancurkan Tiongkok, karena Tiongkok [sudah – Red DK] berdiri sendiri[an – Red DK].

.Dan Saudara-saudara barangkali mengerti salah satu, salah satu unsur dari peperangan di Vietnam ini ialah untuk testing ground, kataku tempo hari dalam pidatoku di Senayan, daripada cara pertempuran-pertempuran baru, sama dengan dulu zaman Hitler, Spanyol dijadikan testing ground.

Hitler dengan kedok menghantam pergerakan buruh kaum komunis di Spanyol ikut menghantam Revolusi Spanyol yang mula-mula berpusat di Barcelona. Tapi pada pokoknya untuk testing ia punya senjata-senjata baru, dia punya taktik-taktik baru. Taktik misalnya dengan ia punya nieuws Heinkel bommenwerper. Heinkel fighter tapi sama sekali bommenwerper. Sesudah ternyata senjata-senjata baru ini efektif, barulah Hitler pergunakan senjata-senjata baru ini untuk menghantam Polandia, etc, etc.

Amerika sekarang berbuat hetzelfde (yang sama), hetzelfde grapje (perbuatan yang sama) di Vietnam. Caranya bagaimana menundukkan bangsa yang menjalankan satu guerilla warfare (perang gerilya). Caranya dengan napalm, menghancurkan, membakar puluhan hektar hutan sekaligus di dalam suatu aanval (serangan). Caranya dengan menghantam desa-desa, etc, etc.

Sekarang ini Amerika telah bisa mendapat satu bukti bahwa pos-pos missiles, ground-to-air missiles, 40 km dari Hanoi, bisa dihantam juga. Dulu semua mengira, kalau ada satu kesatuan missiles ground-to-air, kapal udara tidak bisa datang di situ untuk menghantamnya. Sebab, sebelum kapal udara bisa menghantam, sudah ada missiles nanti yang akan mengejar kapal udara itu dan menghancurkan kapal udara itu di udara.

Bomabardement 40 km dari Hanoi yang sekaligus 4 missiles unit dibikin hancur menunjukkan bahwa juga missiles bases bisa dihancurkan dengan cara baru daripada Amerika itu.

Sehingga Amerika berkata: now, kalau saya jalankan taktik baru ini, ik kan ook alle missiles-bases [Saya juga dapat semua pangkalan peluru kendali – Peny./Red DK] di RRT hancurkan.

.

(Pidato PJM Presiden Soekarno pada Sidang Paripurna Kabinet Dwikora di Bogor, 6 November 1965; di dalam “Revolusi Belum Selesai” Kumpulan Pidato Soekarno 30 September 1965-Pelengkap Nawaskara, Penyunting Budi Setiyono dan Bonnie Triyana, PT Serambi Ilmu Semesta, 2014: 96-98) .

ooOoo

.

Catatan Redaksi Dasar Kita

Menyambut 70 tahun Pancasila dan 70 tahun Republik Indonesia pada 2015 ini, secara periodik setiap Senin, terhitung sejak 1 Juni 2015 (kemudian 8 Juni, 15 Juni, 22 Juni, dan seterusnya) hingga berakhir Senin, 17 Agustus 2015, Pengeposan Khusus ini akan hadir. Dengan catatan bahwa “tradisi” pengeposan bulanan setiap tanggal 14, untuk 3 bulan ini digantikan Pengeposan Khusus pada 15 Juni, 13 Juli dan 17 Agustus.

Pengeposan Khusus hadir dengan “cuplikan-cuplikan” sambutan/pidato Soekarno yang kami kutip dari buku “Revolusi Belum Selesai” dimaksud seperti tersajikan di atas.

(Selengkapnya simak Pengeposan Khusus Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila).

ooOoo

..

Catatan untuk Pengeposan Khusus Edisi 8 Juni 2015

Ketika Indonesia di bawah kepemimpinan Jokowi-JK, hal mencolok adalah RI yang lebih “merapat” ke Beijing ketimbang dua pemerintahan sebelumnya, Soeharto dan SBY, yang lebih cenderung ke Washington.

Keputusan RI yang menjadi anggota bank gagasan Tiongkok AIIB (Asian Infrastructure Investment Bank), bank skala internasional (disebut-sebut sebagai alternatif Bank Dunia dan IMF) setelah pada peresmiannya di Beijing beberapa hari setelah Jokowi-JK dilantik RI tidak bergabung (ditengarai media dalam-jaringan Rusia RT, RI/SBY enggan masuk AIIB oleh tekanan AS), maka setidaknya untuk kami, Redaksi Dasar Kita, Presiden Joko Widodo yang mengusung Jalan Ideologis visi Trisakti-Masohi/Gotong Royong, tak pelak lagi adalah “Soekarno abad ke-21″.

Cuplikan pidato Soekarno di atas, adalah sepotong “bukti empiris” terkait.

Dan lantaran geopolitik dunia hari ini, di abad ke-21 ini, sang nekolim (neoimperialisme) masih “dia-dia juga”. Dalam artian masih saja jumawa dengan aksi invasi-militer (salah satu dalih melanggengkan bisnis senjata di samping modus oprandi jadul penguasaan SDA Negara Dunia Ketiga semisal di Irak, Libia, Suriah, Yaman) pertanyaan logisnya: “Apa nekolim akan berdiam diri?”

Kami serahkan jawabannya kepada Kawan Pembaca Budiman, dengan “pedoman jawaban”: sudah sejak kampanye pilpres bahkan baru seumur jagung, belum juga 3 bulan pemerintahan Jokowi-JK, sudah marak isu “Jokowi tak sampai 5 tahun”.

ooOoo

.

Simak rangkaian Pengeposan Khusus:

Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila

Edisi 15 Juni 2015 

Edisi 22 Juni 2015/488 Tahun Jakarta

Edisi 29 Juni 2015

57. Pengeposan Khusus Menyambut: 70 Tahun Pancasila — 70 Tahun Republik Indonesia, 2015 (Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila)

Standar

Pengeposan Khusus Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015 (Edisi 1 Juni 2015/70 Tahun Pancasila)

.

70 Tahun Pancasila
1 Juni 1945 – 1 Juni 2015

.
70 Tahun Republik Indonesia
17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2015

.

Jalan Ideologis Trisakti-Gotong Royong
Pemerintahan Jokowi-JK yang dilantik pada 20 Oktober 2014

.
pada hakikatnya:

.
Menegakkan satu dari Panca Azimat Revolusi (Nasakom, Pancasila, USDEK, Trisakti, Berdikari) yang sejatinya “lima Panca Azimat ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain”.

.
Yang sejatinya pula untuk mencapai sebuah Indonesia yang mengemban Ampera, Amanat Penderitaan Rakyat.

.
Yang sejatinya pula, Panca Azimat, Ampera, adalah Revolusi Indonesia yang “belum selesai”.

(Redaksi Dasar Kita)

.

♦ ♦ ♦

.

“Memang waktu-waktu belakangan ini banyak orang-orang yang mempunyai wishful thinking. Banyak orang yang mengagitasi dengan mempergunakan kata macam-macam; juga di kalangan kita sendiri. Mengadakan agitasi dengan memakai perkataan Ampera, Amanat Penderitaan Rakyat, mengadakan agitasi dengan memakai perkataan Panca Azimat Revolusi.

Mereka sekadar mengadakan agitasi dengan mempergunakan perkataan Ampera, dengan mempergunakan Panca Azimat Revolusi, tanpa mengerti apa itu Ampera, apa itu Panca Azimat Revolusi. Padahal di Istana Negara ini beberapa waktu yang lalu sudah saya jelaskan dengan jelas, Ampera yang terdiri daripada tiga unsur:

[I — Red DK] negara Republik Indonesia Kesatuan berwilayah kekuasaan antara Sabang dan Merauke;
[II — Red DK] masyarakat adil dan makmur di Indonesia;
[III — Red DK] suatu dunia baru tanpa tanpa exploitation de l’homm par l’homme dan exploitation de nation par nation.

Tidak bisa tiga hal ini dipisah-pisahkan satu sama lain.

Sebagaimana juga di dalam Panca Azimat Revolusi, lima Panca Azimat ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Apa itu Panca Azimat Revolusi?

Nasakom, Pancasila, Manipol/USDEK, Tri Shakti, Berdikari. Tidak bisa lima hal ini dipisahkan satu sama lain. Bahkan tiap-tiap unsur pun tidak bisa dipisahkan dalam artiannya satu sama lain.

Nasakom adalah satu kesatuan; Nas, A, Kom. Jangan dipisahkan satu sama lain.

Pancasila adalah satu kesatuan, jangan dipisahkan satu sama lain, atau sekadar diambil daripada Pancasila itu, itu yang ditonjol-tonjolkan, tidak bisa.

Kalau kita berkata, kita adalah Pancasilais, pergunakanlah Pancasila itu benar-benar sebagai entity, sebagai satu kesatuan daripada kelima-lima unsur, kelima-lima sila dari Pancasila.

Manipol/USDEK [Manifesto Politik/UUD 1945, Sosialisme ala Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, Kepribadian Indonesia – Red DK] itu adalah pun satu kesatuan. USDEK, Manipol.

Demikian pula Tri Shakti, satu kesatuan yang terdiri daripada tiga unsur, yaitu berdaulat sepenuh-penuhnya di lapangan politik, berdikari di lapangan ekonomi, berkepribadian di lapangan kebudayaan. Itu adalah Tri Shakti. Bukan kok satu bagian saja, tidak. Ketiga-tiganya adalah satu entity, satu kesatuan.

Berdikari [berdiri di atas kaki sendiri — Red DK] adalah satu kesatuan pula. Berdikari di lapangan ekonomi, di dalam segala hal berdikari.

Demikian pula, Saudara-saudara, bahkan kita punya revolusi ini adalah satu kesatuan.

Revolusi Indonesia yang berulang-ulang kita namakan revolusi Pancamuka, bahkan revolusi Anekamuka. Revolusi Indonesia which is the summing up of many, many revolutions in one generation, satu kesatuan. Jangan diambil satu ditekankan ini saja, yang lain-lain itu seakan-akan dilupakan. Tidak bisa Saudara-saudara, dan tidak boleh.

Belakangan ini misalnya Saudara-saudara, selalu satu saja yang ditekankan, satu saja yang ditonjolkan, lain hal seakan-akan dilupakan.

Ambilah kita punya pembangunan negara kesatuan Republik Indonesia berwilayah kekuasaan dari Sabang sampai Merauke.

Berulang-ulang saya katakan, ini belum selesai pekerjaan ini, ini belum selesai mendirikan satu negara Republik Indonesia kesatuan berwilayah kekuasaan dari Sabang sampai Merauke, belum selesai. Tetapi ini laksana dilupakan. Ditonjolkan sekadar hanya masyarakat adil dan makmur saja.

Padahal tempo hari sudah saya terangkan, how can you, how can you, how can you, bagaimana engkau bisa mendirikan satu negara, satu masyarakat yang adil makmur tanpa Republik Indonesia kesatuan berwilayah kekuasaan dari sabang sampai Merauke yang kuat, tidak dirongrong oleh imperialisme?

Bagaimana engkau bisa mendirikan satu masyarakat yang adil dan makmur jikalau tidak dihubungkan dengan pembinaan satu dunia baru tanpa exploitation de l’homme par l’homme, satu dunia baru tanpa exploitation de nation par nation, satu dunia baru tanpa kapitalisme dan imperialisme.

Janganlah dilepaskan daripada perjuangan mendirikan satu dunia tanpa kapitalisme ini, jangan dilepaskan daripada perjuangan menentang kapitalisme dan imperialisme ini.

Segala perbuatan kita, Saudara-saudara, adalah satu perbuatan kesatuan.

One great entity of struggle. Jangan dipisahkan satu sama lain.”

(Amanat PJM Presiden Soekarno pada Pelantikan/Penyumpahan Menteri/Panglima Angkatan Udara yang Baru, Komodor Udara Roosmin Nurjadin di Istana Negara, Jakarta, 7 April 1966; di dalam “Revolusi Belum Selesai” Kumpulan Pidato Soekarno 30 September 1965-Pelengkap Nawaskara, Penyunting Budi Setiyono dan Bonnie Triyana, PT Serambi Ilmu Semesta, 2014: 467-468; penempatan di senter dan alinea-alinea baru tidak sesuai di buku adalah dari kami, semata untuk “memanjakan” Kawan Pembaca Budiman di monitor, tanpa menyentuh isi — Red DK)

.

♦ ♦ ♦

.

“Lha ini, di waktu-waktu belakangan ini saya melihat, dan ini sudah saya katakan juga, dengan sedih saya melihat bahwa ada tren, tren yang mau menggeserkan revolusi kita ini ke kanan.

Jangan kira, Saudara-saudara, kiri is allen mar antiimperialisme.

Jangan kira kiri hanya antiimperialisme, tapi kiri juga anti-uitbuiting.

Kiri adalah juga menghendaki satu masyarakat yang adil dan makmur, di dalam arti tiada kapitalisme, tiada exploitation de l’homme par l’homme, tetapi kiri.

Oleh karena itu saya berkata tempo hari, Pancasila adalah kiri.

Oleh karena apa?

Terutama sekali oleh karena di dalam Pancasila adalah unsur keadilan sosial.

Pancasila adalah antikapitalisme.

Pancasila adalah anti-exploitation de l’homme par l’homme.

Pancasila adalah anti-exploitation de nation par nation.

Karena itulah Pancasila kiri.

Tetapi yang saya lihat di waktu-waktu yang akhir-akhir ini, Saudara.

Manakala saya berkata, rupanya revolusi kita mau dikanankan, itu oleh karena saya melihat bahwa sekarang ini ada actieve krachten bekerja untuk on-kiri-en [Meniadakan unsur-unsur kiri – Peyunt/Red DK], unsur-unsur di dalam revolusi kita ini.

Lha ini yang membuat saya sedih. Apalagi on-kiri-en itu adalah sesuai dengan kehendaknya pihak nekolim.

(Pidato PJM Presiden Soekarno pada Sidang Paripurna Kabinet Dwikora di Bogor, 6 November 1965; di dalam ibid “Revolusi Belum Selesai”: 96)

ooOoo

.

Catatan Redaksi Dasar Kita

Menyambut 70 tahun Pancasila dan 70 tahun Republik Indonesia pada 2015 ini, secara periodik setiap Senin, terhitung sejak 1 Juni 2015 (kemudian 8 Juni, 15 Juni, 22 Juni, dan seterusnya) hingga berakhir Senin, 17 Agustus 2015, Pengeposan Khusus ini akan hadir. Dengan catatan bahwa “tradisi” pengeposan bulanan setiap tanggal 14, untuk 3 bulan ini digantikan Pengeposan Khusus pada 15 Juni, 13 Juli dan 17 Agustus.

Pengeposan Khusus hadir dengan “cuplikan-cuplikan” sambutan/pidato Soekarno yang kami kutip dari buku “Revolusi Belum Selesai” dimaksud seperti tersajikan di atas.

Perlu Kawan Pembaca Budiman ketahui, bahwa blog ini, kami, Redaksi Dasar Kita, tidak ada hubungan apapun — personal maupun hubungan kerja — dengan para penyunting, penerbit, pihak-pihak yang terkait buku “Revolusi Belum Selesai” dimaksud.

Sehingga, ketika “cuplikan-cuplikan” dari buku “Revolusi Belum Selesai” dimaksud secara “beruntun” nantinya hadir di blog ini, kami justru maksudkan secara berandang sebagai pariwara atau iklan atas buku tersebut agar Kawan Pembaca Budiman blog ini kiranya dapat “tergerak” untuk memilikinya setidaknya membacanya.

Mengapa?

Karena, hemat kami, “Revolusi Belum Selesai” adalah salah satu buku yang wajib dibaca rakyat Indonesia, agar — mengutip salah satu kalimat kondang dalam pidato (terakhir menyambut Revolusi Agustus) Soekarno pada 17 Agustus 1966  — “jangan sekali-kali meninggalkan sejarah” atau Jas Merah.

Agar, Revolusi Indonesia yang belum selesai itu — dengan Panca Azimat untuk mencapai Indonesia yang Ampera — terus dilanjutkan. Terlebih ketika pemerintahan Jokowi-JK dengan visi Jalan Ideologis Trisakti-Masohi/Gotong Royong, hakikatnya telah menegakkan satu dari Panca Azimat — awal yang sangat baik setelah nyaris setengah abad Soekarno kita “kentuti”.

Di titik-kala ini, buku “Revolusi Belum Selesai” menduduki posisi “sangat strategis” dalam (ikut) membentuk tacit knowledge (pengetahuan tak terucap) di benak masing-masing kita, agar masing-masing kita — lebih spesifik penekanannya pada kaum muda — siap berpraksis sebagai kiri “sekiri Soekarno”. Bukan kiri-revisionis, bukan kiri yang ditendang dari komunisme: Trostkyisme. Bukan kiri yang mengiming-iming kaum muda kita agar berpacu menjadi “doktoral/pakar Marxisme” di sebuah “zona aman” penuh berkecukupan, (jadinya) ogah “merubah dunia” ala tesis XI Marx kepada Feuerbach, de facto sebagai left-cover for imperialism boro-boro lanjutkan perjuangan parpol Marxis-Leninis yang berdiri 95 tahun lalu di Semarang, 23 Mei 1920  Semoga.

Dan dengan penjelasan ini, melalui sepatah dua patah kata dari kami, Redaksi Dasar Kita, maka secara khusus, dengan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada Budi Setiyono dan Bonnie Triyana serta Penerbit PT Serambi Ilmu Semesta, kami lanjutkan pencuplikan-pencuplikan pada rentang waktu yang kami sebutkan di atas — bahkan bukan tidak mungkin pada waktu-waktu sesudah itu. Terima kasih banyak.

Salam Hangat, Tetap Merdeka!

ooOoo

.

Simak rangkaian  Pengeposan Khusus:

Edisi 8 Juni 2015

Edisi 15 Juni 2015

Edisi 22 Juni 2015/488 Tahun Jakarta

Edisi 29 Juni 2015

56. Peng Red (54) – 14 Mei ’15

Standar

Trisakti-Gotong Royong Jokowi-JK: Kegagalan Doktrin Truman di Indonesia

.

Dinyatakan Punah Ternyata Kiprah

.

Oleh Redaksi Dasar Kita

.

Sejak pelantikan Jokowi Widodo-Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia pada 20 Oktober 2014, dengan mengusung visi Jalan Ideologis Trisakti-Gotong Royong (simak hlm 44b), tak pelak lagi pemikiran Soekarno kembali tampil di pentas politik Indonesia, menjadi kebijakan politik negara setelah nyaris setengah abad tersingkir.

Trisakti notabene adalah salah satu dari lima azimat atau Panca Azimat yang digagas Soekarno: Nasakom, Pancasila, USDEK, Trisakti, Berdikari.

Pemikiran-pemikiran Soekarno yang bersama-sama dengan Marxisme-Leninisme yang diusung kaum kiri-antirevisionisme era Presiden Soekarno, berikut ratusan ribu hingga jutaan kader/simpatisan partai politik yang kali pertama menggunakan nama “Indonesia” 25 tahun sebelum proklamasi 17 Agustus 1945 “harus tumbang akibat teror brutal yang dilakukan saudara sebangsanya sendiri sejak tahun 1965” (Bilven {ed} dalam Busjarie Latief, Ultimus, 2014: v).

***

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-54 bertarikh 14 Mei 2015.

Seperti sudah disimak pada cuplikan di atas, pada pengeposan kali ini, Redaksi Dasar Kita ingin “berbagi” (sharing) akan keyakinan kami.

Bahwa …

Selanjutnya silakan simak hlm 56a.

ooOoo

.

Jimly: Sudah Dibatalkan MK, Frasa Empat Pilar Kebangsaan Jangan Digunakan Lagi

.

Sumber: Kompas.com, Senin, 18 Mei 2015 | 05:14 WIB

.

.

Alhamdulillah, kutip komentar Redaksi Dasar Kita di warita Kompas.com dimaksud, ada juga pakar hukum tata negara bicara keputusan MK (Google: 43b mk hapus pilar). Tinggal “berlanjut” ke konstitusi gadungan UUD 2002. Konstitusi baru niramendemen UUD 45. UUD 2002 yang menghapus Penjelasan UUD 45, Batang Tubuh diacak-acak, Pembukaan sebagai pajangan. G: 42a jokowi. G: 39a renungan.

Silakan simak hlm 56b.

ooOoo

.

Di Hadapan Mantan Presiden, Bendera Merah Putih Dipasang Terbalik

.

Sumber: MSN Berita

.

.

.

Warita dan kedua foto bersumber dari MSN Berita ini bagi Redaksi Dasar Kita sungguh menarik. Makanya komentar kami: silakan nikmati kedua foto tersebut plus klik wartanya di atas tepat di bawah tajuk lalu … terserah Anda, Kawan Pembaca Budiman. Silakan.

Silakan simak hlm 56c.

ooOoo

.

Menyambut 95 Tahun Peringatan Kongres VII ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereniging)

Semarang, 23 Mei 1920

.

MASYARAKAT INDONESIA DAN REVOLUSI INDONESIA
[MIRI]

.

“Soal-soal pokok revolusi kita, penting diketahui. Mengetahui soal-soal pokok revolusi Indonesia, berarti mengetahui sasaran-sasaran dan tugas-tugas pokok revolusi Indonesia, kekuatan-kekuatan yang mendorongnya, karakternya dan perspektifnya. Untuk mengetahui soal-soal pokok revolusi Indonesia, pertama-tama kita harus mengetahui masyarakat Indonesia.”

Demikan alinea penutup dari pembukaan tulisan DN Aidit “Masyarakat Indonesia dan Revolusi Indonesia (1957), yang Redaksi Dasar Kita yakini dokumen-sejarah fenomenal ini perlu diketahui banyak orang (muda) Indonesia — di abad 21.  Abad yang ditandai dengan “Bangkitnya Asia jilid 2″ ketika Tiongkok  melansir “Satu Sabuk, Satu Jalan” (One Belt, One Road).

Dan adalah Indonesia di bawah pemerintahaan Jokowi-JK dengan Trisakti-Gotong Royong, salah satu dari Panca Azimat Soekarno (Nasakom, Pancasila, USDEK, Trisakti, Berdikari), telah me-link ide Jokowi-JK “Poros Maritim Dunia” dengan gagasan “Jalan Sutera Maritim Abad ke-21″ yang diumumkan Presiden RRT (Republik Rakyat Tiongkok) Xi Jinping di MPR, Jakarta, Oktober 2013. Menyusul “Sabuk Ekonomi Jalan Sutera Baru” yang dimumumkan di Astana, Ibukota Kazakhstan, September 2013. Kedua jalan sutera ini sebagai bagian dari “Satu Sabuk, Satu Jalan”.

Dalam konteks Indonesia di abad ke-21 (seperti) ini, pada pengeposan terbarui ini, MIRI kami hadirkan menyambut 95 tahun peringatan Kongres VII ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereniging) di Semarang, 23 Mei 1920, menandai berdirinya Partai Komunis Indonesia.

Selengkapnya silakan simak hlm 56d.

Semoga media ini bermanfaat.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

ooOoo

55.Peng Red (53) – 14 Apr ’15

Standar

Sebuah Tawaran Menjawab Tantangan Ahok:

.

Parpol Baru? Kenapa Tidak! Landasannya: Pemikiran USDEK-Sukarno

.

Oleh Redaksi Dasar Kita

.

“Walaupun semua parpol di Indonesia enggak beres, yang namanya bernegara ya harus berpolitik, politik ya harus masuk ke parpol, itu sudah konstitusi yang mengatur. Kalau tidak mau masuk parpol yang ada, ya bikin parpol baru yang isinya anak-anak muda idealis, yang penting lakukan perubahan,” ujar Basuki seperti ditulis Kompas.com (12/4/2015) di bawah tajuk “Ahok Ajak Para Pemuda Mau Jadi Anggota DPRD”.

Meski cuma pewarta warga atau gagah-gagahannya aktivis-klik (dalam pengertian ikutan “berkesadaran politis”) yang semuanya itu tak lebih dari omdo, kami, Redaksi Dasar Kita, antusias membidas, merespons. Dengan “sebuah tawaran menjawab tantangan Ahok” seperti tajuk di atas.

***

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-53 bertarikh 14 April 2015. Seperti sudah disimak di atas, pada pengeposan kali ini, Redaksi Dasar Kita awali dengan “sebuah tawaran menjawab tantangan Ahok:” sebuah partai politik baru. Parpol baru berlandaskan pemikiran Sukarno: USDEK.

Selanjutnya silakan simak hlm 55a.

ooOoo

.

AS Mengincar Venezuela setelah Rusia, Karena Kehilangan Pengaruh Global — Maduro kepada RT

.
Sumber: Russia Today, RT http://rt.com/news/257337-maduro-rt-us-russia/

.
Waktu publikasi: 10 Mei 2015, Pk 18.59
.
Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita

.

.

Washington kehilangan bobotnya di arena internasional dan ini membuatnya menargetkan Rusia dan Venezuela, serta upaya untuk membatasi pertumbuhan Tiongkok, Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengatakan kepada saluran RT berbahasa Spanyol dalam sebuah wawancara eksklusif.

Redaksi Dasar Kita dalam rangka ikut memeringati V-Day 9 Mei 2015, pada pengeposan terbarui ini, membahasaindonesiakan interviu RT berbahasa Spanyol dengan Presiden Venezuela Nicolas Madura.

Silakan simak hlm 55b.

Semoga media ini bermanfaat.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

ooOoo