… komen Kompas.com …

Standar

komen Kompas.com

RDK, Jakarta, 21 Januari 2016. Ketika kami, Redaksi Dasar Kita, tidak bisa berkomentar di ruang komentar dari setiap warita Kompas.com. Selalu saja muncul “the page at megapolitan.kompas.com says: Maaf anda tidak bisa komentar, User telah diblok”.

Tiba-tiba saja, apalagi mengingat hal ini adalah hak penuh mereka medianya pun jenis tak berbayar pula, terbersit ide.

Dengan “berpikir positif ala Jokowi”, “energi positif” kami — yang mencoba berangkat dari doktrin Marxian nonrevisionis-ala Soekarno sejatinya percaya struktur demokrasi vertikal ala Naisbitt (2010) untuk tidak mengatakan prinsip kediktatoran proletar –, kami “alihkan” dan lahirkan halaman baru blog Dasar Kita “… komen Kompas.com …”.

Komentar kami untuk pilihan warita Kompas.com kini kami muat di halaman ini.

Pasalnya, bagaimana pun Kompas.com bagi kami “terpercaya dan perlu”. Pewarta tua profesional.

Terlebih untuk sebuah RI Hebat/Ampera ke depannya. Pas dengan motto mereka: Rayakan Perbedaan. Meski sebagai “sister company” dari koran tua Kompas yang lahir beberapa bulan pra-Gestok 1965 (istilah Soekarno). Koran yang kemudian besar bersama junta militer Suharto, justru hemat kami mereka “mitra” hebat menguatkan “keimanan” kami akan doktrin Marxian ala BK itu.

Poinnya hari ini dan ke depannya. Siapkah kami, atau siapa pun termasuk kelompok media massa yang meraksasa ini, bila jati diri kita itu — seperti dicanangkan Bung Karno dan dilanjutkan kembali Jokowi — bahwa gagasan Panca Azimat dengan cita-cita Ampera BK itu sesungguhnya sebuah sosialisme khas Indonesia?

.

Komentar Redaksi Dasar Kita

.

Krishna Murti Jawab Tudingan Kejanggalan Teror Bom Thamrin di “Facebook”

Rabu, 20 Januari 2016 | 15:03 WIB.

.

Cerita Mbah Tohari Tetap Keliling Berjualan Sabun pada Usia 104 Tahun

Jumat, 22 Januari 2016 | 07:00 WIB
.
.

Beri Somasi PDI-P, Nasdem Siap Hadapi Konsekuensi Politik

Jumat, 22 Januari 2016 | 11:21 WIB
.
.

Diresmikan Presiden, 10 Pabrik Ini Akan Serap 11.727 Tenaga Kerja

Sabtu, 23 Januari 2016 | 08:47 WIB
.

Selengkapnya simak komen Kompas.com …

.

69. Peng Red (67) – 14 Jan ’16: Presiden Jokowi: Kita Tidak Boleh Takut Dengan Aksi Teror! (Kompas.com)

Standar

Presiden Jokowi: Kita Tidak Boleh Takut Dengan Aksi Teror!

.

Sumber: Kompas.com, Kamis, 14 Januari 2016

.

DK-Jan 2016-Teror Jkt 14 Jan

.

Kamis,14 Januari 2016

Siang ini terjadi ledakan di Kawasan Sarinah …

ooOoo

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-67, pengeposan perdana di tahun yang baru kita masuki ini, bertarikh 14 Januari 2016.

Bertepatan pada hari ini merebak terorisme di jantung Ibukota Jakarta, kawasan Sarinah, Jl MH Thamrin.

Seiring ikhtiar blog ini mendukung Jokowi-JK sejak awal dalam salah satu tekad utama mereka “menghadirkan negara” sesuai visi jalan ideologis trisakti-masohi/gotong royong, menjadi alasan kami mengutip utuh warita Kompas.com pernyataan terkait dari Presiden Jokowi.

Selengkapnya (berbentuk video) simak/klik hlm 69a.

.

.ooOoo

.

Panglima TNI: NKRI Tidak Bisa Ditekan, Diancam oleh ISIS

.

.
dk-jan 2015-teror-02
.

JAKARTA, KOMPAS.com – Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menyebarkan semangat bahwa bangsa Indonesia tidak dapat ditakuti oleh aksi terorisme.

[…]

Masih di pengeposan yang sama ini dengan greget yang sama pula dalam mendukung Jokowi-JK tanpa reserve, kami kutip utuh pernyataan keras “kekuatan pemukul” kita yang disampaikan Panglima TNI Jenderal Gatoto Nurmantyo.

Selengkapnya simak/klik hlm 69b.

ooOoo

14 Januari 2016 “Deadline” Freeport Tawarkan Divestasi

.

.

dk-69c-freeport vs terorisme

KOMPAS/B JOSIE SUSILO HARDIANTO — PT Freeport Indonesia

JAKARTA, KOMPAS.com – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan PT Freeport Indonesia memiliki batas waktu hingga 14 Januari 2016 untuk menyampaikan penawaran divestasi saham.

Ternyata, teror 14 Januari 2016 di Jakarta itu bertepatan dengan tenggat (deadline) PT Freeport Indonesia untuk menyampaikan divestasi 10,64 % (berhubung kita telah memiliki 9,36 %) sehingga total 20%.

Suatu kebetulan yang dengan sendirinya menimbulkan tanya. Seperti halnya Bu Clinton yang “kebetulan” berkunjung ke Indonesia pada awal September 2012 dan terjadilah “relokasi Syiah Sampang” — pas “kebetulan” pula Presiden Suriah Assad sudah setahun (dan sampai hari ini) belum juga terjungkal beda dengan Saddam Husein dan Moammar Khadafi.

Silakan saja simak warita selengkapnya di hlm 69c.

Semoga media pewarta warga ini bermanfaat.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

 

ooOoo

.
.

68. Peng Red (66) – 14 Des ’15

Standar

Renungan Akhir Tahun 2015

 .

Upaya Kudeta Politik (Gagal)

 

di Saat

 

Setahun Pemerintahan Jokowi-JK

Dari “Kanan” ke “Kiri” Berhenti Sejenak di “Tengah”

.

Oleh Redaksi Dasar Kita

 

Tanpa kami sadari, “Renungan Akhir Tahun” di setiap pengeposan bulan Desember telah menjadi semacam tradisi.

Dan untuk kali kedua renungan di penghujung tahun ini terkait pemerintahan Jokowi-JK. Setelah pada tahun lalu kami poskan renungan:  Jalan Ideologis Trisakti-Gotong Royong Solusi Cerdas & Cantik Jokowi-JK Atasi Konstitusi Gadungan UUD 2002.

Secara kebetulan sekitar medio November 2015 lalu, setahun lebih-sebulan pemerintahan Jokowi-JK, merebak kisruh Freeport , pinjam  istilah Menko Rizal Ramli,  “sinetron antar-geng”.

Selengkapnya simak pranala (link) di bawah ini.

.

ooOoo

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-66 bertarikh 14 Desember 2015.

Pengeposan risalah kami yang menyoal kisruh Freeport, “sinetron antar-geng” vrsi Rizal Ramli. Yang kami coba timbang dari sudut upaya kudeta politik, cara pandang yang kami pungut dari pengamat politik LIPI Ikrar Nusa Bakti.

Lalu, dalam konteks upaya kudeta politik (gagal) ini, bila tidak keberatan mengajak Kawan Pembaca Budiman menimbang ulang risalah kami juga sebelumnya menyambut: Setahun pemerintahan Jokowi-JK, Dari “Kanan” ke “Kiri” Berhenti Sejenak di “Tengah”.

Silakan saja simak/klik hlm 68a.

.

ooOoo

.

Ahok: Ikan Mati Itu Ikut Arus, Ikan Hidup Hadapi Arus

.

.

Warita satu ini dari Bang Ahok, setidaknya untuk kami sangat inspiratif, seperti diindikasikan pada tajuknya. Dan lebih dari itu, ada terucap dari Abang kita: “sekarang bahagia lebih banyak memberi daripada menerima”.

Frasa serupa yang ditulis Soekarno, menutup tulisan monumentalnya  pada 1926, kekuatan hidup itu letaknya tidak dalam menerima tapi dalam memberi.(Simak hlm 23c).

Sebuah tip untuk menyongsong Tahun Baru 2016: melawan arus dan banyak memberi!

Selengkapnya silakan simak/klik hlm 68b.

Selamat Membaca Kawan.

Semoga media pewarta warga ini bermanfaat.

Selamat Tahun Baru 2016.

ooOoo

67. Peng Red (65) – 14 Nov ’15

Standar

Kita Tidak Semua Mendukung

Trisakti—Jokowi-JK Dalam Ketulusan

 .

Kaum Revisionis & UU No 6/2014 Tentang Desa

Memusuhi Trisakti di dalam Trisakti itu Sendiri

Sebuah Ironi sebuah UU: 4 Pilar (alm) sebagai Dasar

.

Saran Dr Hanif Nurcholis atas Desa sebagai

“Unit Pemerintahan Palsu” UU No 6/2014: 

Mahapenting Direspons!

Sebuah “Model” Atasi UUD 2002

.

Oleh Redaksi Dasar Kita

.

“Kita tidak semua berkabung dalam ketulusan”  judul tulisan Profesor Toad yang Redaksi Dasar Kita bahasaindonesiakan dari “We are not all Mourning on the Inside”.

Sebuah tulisan pendek yang lebih dari sekadar obituari dilansir Toad bertepatan dengan meninggalnya  Presiden Venezuela Hugo Chaves pada 5 Maret 2013 di Ibukota Venezuela, Caracas.

Gelombang berkabung sedang menyapu seluruh Amerika Latin dan dunia atas kematian Hugo Chavez. Pemimpin Revolusi Bolivarian yang menghancurkan struktur politik kaku dan korup Venezuela, mengantarkan negeri itu ke era baru di mana ia menempatkan pertama-tama kebutuhan rakyatnya sendiri dan berdiri di atas kaki sendiri dalam komunitas dunia.

Lebih dari itu, revolusi Chavez menginspirasikan gerakan-gerakan yang membawa perubahan mendalam di banyak negeri.

Meskipun kiri itu terkenal sektarian, sensasi luar biasa dari kaum kiri di seluruh dunia adalah duka cita saat berpulangnya seorang lelaki yang menggerakkan perjuangan begitu jauh ke depan.

Lamun, seperti kesehatan Chavez yang memburuk dalam beberapa bulan terakhir, menjadi jelas bahwa ada beberapa di antara kita yang akan, paling buruknya, mencampur adukkan perasaan atas kematiannya, melihat di dalamnya unsur-unsur yang pasti kesempatan bagi program politik mereka sendiri.

Pertanyaannya adalah seberapa cepat dalam periode berkabung yang mendalam ini, ular-ular  ini akan membiarkan perasaan mereka yang sebenarnya terlihat.

Ya, “ular-ular” yang dimaksud Toad adalah kaum Trotskyis Venezuela, khususnya dalam bidasan (respons) Toad atas risalah yang ditulis oleh Lopez Roberto bertajuk Skenario Kebijakan yang Mungkin (Possible Policy Scenarios). Artikel ini tampaknya berasal di situs Trotskyis Venezuela disebut laguarura.net, tetapi gaungnya dapat juga ditemukan di situs internationalviewpoint.org, yang ternyata situs resmi sekte Trotskyis kecil yang sok menyebut dirinya Internasional Keempat.” 

[…]

Kaum Revisionis & UU No 6/2014 Tentang Desa: “Unit Pemerintahan Palsu”

[…]

Lamun, yang pasti,  seorang akademisi kita dalam sebuah makalah penelitiannya di sebuh desa menyebutkan antara lain bahwa  pemerintahan desa yang diatur dalam UU No 6/2014 Tentang Desa ini termasuk dalam “Unit Pemerintahan Palsu”.

Jauhari yang kami maksud adalah Dr Hanif Nurcholis dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Terbuka dalam sebuah makalah hasil penelitiannya (silakan simak/klik dalam format PDF) bertajuk “Pemerintahan Desa: ‘Unit Pemerintahan Palsu’ dalam Sistem Administrasi Negara Republik Indonesia (Kasus Desa Jabon Mekar, Parung, Kabupaten Bogor)”.

Di mana “Kesimpulan” dan “Saran” Hanif yang kami kutip utuh di bawah ini, sangat menarik, setidaknya bagi kami, bahwa dari sudut “sistem administrasi negara” UU No 6/2014 tersebut ternyata bermasalah. Sehingga saran penyelesaiannya antara lain — ini bagian menarik lainnya dari penelitian Hanif — Desa perlu direstrukturisasi (pertama-tama) sesuai konstitusi 18 Agustus 1945 bukan konstitusi gadungan UUD 2002.

[…]

Saran Dr Hanif Nurcholis juga hemat kami pada hakikatnya sebagai sebuah “model” atasi konstitusi gadungan UUD 2002. Regulasi, perundang-undangan sebagai produk UUD 2002 yang pasal-pasalnya tidak sesuai greget Tritunggal (Pembukaan–Batang Tubuh–Penjelasan) UUD 1945 dihapus, tapi yang sesuai tetap dipertahankan.

Selengkapnya simak/klik pranala halaman terkait di bawah ini.

ooOoo

.

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-65 bertarikh 14 November 2015.

Kali ini kami coba angkat UU No 6 Tahun 2014 Tentang Desa digagas kaum revisionis, yang — seperti halnya UUD 2002/nramendemen UUD 1945 — ternyata “bermahabencana”. Perundang-undangan tentang desa yang digolkan sebelum Jokowi-JK dilantik masih di (ujung) era SBY-Boediono, ternyata didasarkan pada frasa 4 pilar (almarhum oleh keputusan Mahkamah Konstitusi pada 3 Maret 2014) … juga dari segi “teknis” Sistem Administrasi Negara RI, Pemerintahan Desa versi UU Desa ini bermasalah, termasuk “Unit Pemerintahan Palsu” …

Selengkapnya silakan simak/klik hlm 67a.

.

ooOoo

.

700 juta Penduduk Perdesaan Terangkat dari Kemiskinan Sejak 1978 di Tiongkok

.

Sumber: en.people.cn (Xinhua), 16 Oktober 2015, Pk 20.49

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita

.

Masih di pengeposan November 2015 ini kami tampilkan warita dilansir e.people.cn (Xinhua) pada 16 Oktober 2015 lalu tentang 700 juta penduduk perdesaan Tiongkok yang terangkat dari kemiskinan “hanya” dalam kurun 36 tahun (1978-2014). Sejak kebijakan reformasi dan pintu terbuka yang diprakarsai Deng Xiaoping.

Selengkapnya silakan simak/klik hlm 67b.

.

ooOoo

.

Freeport dan Bisnis Orang Kuat (1/4)

.

KOMPAS/IWAN SANTOSA Pemandangan di pertambangan emas-tembaga PT Freeport Indonesia yang merupakan investasi Amerika Serikat. Indonesia hanya menerima satu persen dari bagi hasil pertambangan di lokasi yang menghasilkan sekurangnya 300 kilogram emas setiap hari. Pada 25 tahun pertama beroperasi, Republik Indonesia tidak menerima bagi hasil dari penambangan emas.

.

Oleh: Ferdy Hasiman

KOMPAS.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said melaporkan salah satu politisi Senayan kepada Mahkamah Kehormatan Dewan DPR yang mencatut nama Presiden dan Wakil Presiden untuk mendapat jatah 20,64 persen saham PTFreeport Indonesia yang didivestasikan ke pihak nasional (pemerintah pusat, daerah, BUMN-BUMD, dan swasta nasional).
jitet

Politisi itu juga meminta jatah 49 persen saham PLTU Urumuka, sebuah PLTU yang direncanakan menjadi pembangkit listrik terbesar di Indonesia.

Permintaan itu muncul dalam transkrip pembicaraan antara politisi, salah satu pengusaha, dan perwakilan Freeport. JikaFreeport sepakat dengan permintaan politisi itu, maka raksasa tambang asal Amerika Serikat itu bisa mengakumulasi modal dari kekayaan tambang emas dan tembaga di Grasberg, Papua, sampai tahun 2041.

.

Selengkapnya silakan simak hlm 67c.

Selamat membaca Kawan Pembaca Budiman.

Semoga media pewarta warga ini bermanfaat.

.

ooOoo

.

.

.

66. Peng Red (64) – 14 Okt ’15: Menyambut Satu Tahun Pemerintahan Jokowi-JK 20 Oktober 2015

Standar

Menyambut Satu Tahun Pemerintahan Jokowi-JK  20 Oktober 2015

 .

Dari “Kanan” ke “Kiri”

Berhenti Sejenak di “Tengah”

 .

MPR (Produk UUD 2002) Siap Menghadang

dengan Sosialisasi 4 Pilar (alm)

.

Ironi Sebuah “Majelis Permusyawaratan Rakyat”

 .

Oleh Redaksi Dasar Kita

.

“Lha ini, di waktu-waktu belakangan ini saya melihat, dan ini sudah saya katakan juga, dengan sedih saya melihat bahwa ada tren, tren yang mau menggeserkan revolusi kita ini ke kanan.

Jangan kira, Saudara-saudara, kiri is allen mar antiimperialisme. Jangan kira kiri hanya antiimperialisme, tapi kiri juga anti-uitbuiting [antieksploitasi – Red DK].

Kiri adalah juga menghendaki satu masyarakat yang adil dan makmur, di dalam arti tiada kapitalisme, tiada exploitation de l’homme par l’homme, tetapi kiri.

Oleh karena itu saya berkata tempo hari, Pancasila adalah kiri.

Oleh karena apa?

Terutama sekali oleh karena di dalam Pancasila adalah unsur keadilan sosial.

Pancasila adalah antikapitalisme.

Pancasila adalah anti-exploitation de l’homme par l’homme.

Pancasila adalah anti-exploitation de nation par nation.

Karena itulah Pancasila kiri.

Tetapi yang saya lihat di waktu-waktu yang akhir-akhir ini, Saudara.

Manakala saya berkata, rupanya revolusi kita mau dikanankan, itu oleh karena saya melihat bahwa sekarang ini ada actieve krachten [kekuatan aktif – Red DK] bekerja untuk on-kiri-en [Meniadakan unsur-unsur kiri – Peyunt/Red DK], unsur-unsur di dalam revolusi kita ini.

Lha ini yang membuat saya sedih. Apalagi on-kiri-en itu adalah sesuai dengan kehendaknya pihak nekolim.

(Pidato PJM Presiden Soekarno pada Sidang Paripurna Kabinet Dwikora di Bogor, 6 November 1965; di dalam ibid “Revolusi Belum Selesai”: 96)

Hanya sekitar lima pekan sejak dimulainya Kudeta Merangkak (1/10/1965), Bung Karno sudah merasakan apa yang kemudian menjadi kenyataan selama setengah abad ke depan di sebuah republik yang ia ikut perjuangkan sejak muda dan turut memproklamasikannya. Futuristik yang ia ungkapkan dengan sangat pas:

. “… Apalagi on-kiri-en itu adalah sesuai dengan kehendaknya pihak nekolim.”

Ya, selama 50 tahun ini, sejak Soeharto “meng-kanan-kan” revolusi itu dengan pola kaum revisionis “memusuhi Pancasila-UUD 1945 di dalam Pancasila-UUD 1945 itu sendiri” lewat apa yang disebut “Kesaktian Pancasila” dalam  program indoktrinasi (ala partai komunis) P4 (Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila).

Berlanjut “digenapi” dengan UUD 2002/niramendemen UUD 1945 … Kental sekali “on-kiri-en itu adalah sesuai dengan kehendaknya pihak nekolimterus saja diupayakan lenyap dari ingatan kolektif bangsa.

Lema nekolim, neokolonialisme atau imperialisme sebagai tahap tertinggi/terakhir kapitalisme “bernasib sama” seperti halnya sebandung kata “sosialisme Indonesia”  yang digambarkan dengan pas oleh Burhan D Magenda:

Sejak tahun 1968, kekangan ideologis ini tambah lunak 5,6,7. Seirama dengan laju pertumbuhan yang tinggi, maka solidaritas sosial mulai mengendor, bahkan pembicaraan tentang sosialisme Indonesia dianggap sebagai “bagian dari masa lalu yang buruk”.

(Selengkapnya simak hlm 66a)

ooOoo

Kawan, Selamat Datang di blog kami pengeposan (posting) ke-64 bertarikh 14 Oktober 2015.

Menyambut Satu Tahun Pemerintahan Jokowi-JK pada 20 Oktober 2015, kami turunkan tulisan dengan tajuk dan subtajuk seperti tercantum di atas. Sebuah sikap kami — sebagai kaum yang mencoba memaknai dan berpandangan materialis nonrevisionis — mendukung tanpa reserve pemerintahan Jokowi-JK.

Silakan simak hlm 66a.

ooOoo

.

Menteri Susi Instruksikan Penenggelaman 16 Kapal “Illegal Fishing” Tanpa Proses Pengadilan

.

.

.

Masih dalam suasana menyambut setahun pemerintahan Jokowi-JK. Warita bersumber Kompas.com tentang Bu Susi terkait “Hadirnya Negara” dalam penenggelaman kapal “illegal fisihing” ini — melangkaui pengadilan pula — menjadi alasan Redaksi memuatnya utuh.

Silakan simak hlm 66b.

Selamat  Membaca Kawan Pembaca Budiman.

Semoga media pewarta warga ini bermanfaat.

ooOoo

.

65. Peng Red (63) – Sep ’15

Standar

50 Tahun Kudeta Merangkak  (1 Oktober 2015)

 

Jalan Ideologis Trisakti Jokowi-JK

Bagian Tak Terpisahkan dari “Panca Azimat” Menuju “Ampera”

.

Tahapan Sosialisme ala Indonesia

Revolusi Belum Selesai

 .

Oleh Redaksi Dasar Kita

.

“Kok pakai perkataan ‘Nasakom’? Kenapa ‘Kom’? Kenapa tidak ‘Sos’. Kenapa tidak ‘Marx’? Nasamarx atau Nasasos? Kok Bung Karno memakai perkataan Nasakom?

.

Jelaslah di sini saudara-saudara, dengarkan, perkataan yang paling dicatut, dicatut oleh pencoleng-pencoleng politik, oleh coro-coro politik, perkataan yang paling dicatut pencoleng-pencoleng politik dan coro-coro politik ini ialah perkataan Marxisme saudara-saudara.

.

Saudara-saudara mengetahui bahwa misalnya PSI, Partai Sosialis Indonesia yang saya bubarkan itu, PSI itu selalu menepuk dada: Kami Marxis, Kami Marxis, Kami Marxis! – Saya berkata mereka bukan Marxis! Mereka adalah pencoleng daripada Marxisme.

.

Karena itu aku tidak mau memakai perkataan Nasamarx. Kalau aku memakai perkataan Nasamarx, jangan-jangan nanti orang-orang PSI juga ikut-ikut dalam Nasamarx itu saudara-saudara.

Padahal mereka adalah revisionis tulen, padahal mereka adalah pencoleng Marxisme!

.

.

Tahun ini bukan saja tepat 70 tahun Pancasila dan juga 70 tahun Republik Indonesia. Tetapi juga tepat setengah abad “Kudeta Merangkak”. Kudeta yang …

Redaksi Dasar Kita merasa perlu menyambutnya – seperti halnya kami menyambut kedua peristiwa paling bersejarah itu lantaran dan khususnya dan terlebih saat ini Jokowi-JK bervisi Trisakti (Soekarno) – dengan sebuah tulisan yang kami awali jawaban sekilas atas pertanyaan …

Apa itu “Kudeta Merangkak”?

Pewarta senior sebuah koran tua cukup diperhitungkan Budiarto Shambazy dalam tulisan yang meskipun diberi judul 45 Tahun “Kudeta Merangkak” (Kompas, 25/10/2010), tidak memberikan penjelasan langsung ataupun sekadar kalimat ikhtisar memaknai “Kudeta Merangkak” .

Selengkapnya simak/klik hlm 65a.

ooOoo

.

Ini Alasan Suku Amungme Tuntut Freeport Rp 288 Triliun

.

JAKARTA, KOMPAS.com — Uang tuntutan Suku Amungme, Papua, terhadap PT Freeport Indonesia sebesar 20,8 miliar dollar AS atau setara Rp 288 triliun bukanlah jumlah yang sedikit. Apa alasan suku itu menuntut biaya ganti rugi yang sangat besar itu?

Selengkapnya simak/klik hlm 65b.

Alasan Redaksi Dasar Kita  memuat utuh warita bersumber Kompas.com pada pengeposan terbarui ini. Bahwa dari sejarah, kita mengetahui PT Freeport adalah PMA (Penanaman Modal Asing) pertama, “produk sulung” dari UU No 1 Tahun 1967 Tentang PMA. Eksekusinya semasa “Kudeta Merangkak”, hanya beberapa minggu setelah Suharto dilantik sebagai Pejabat Presiden RI.

Sehingga warita ini setidaknya bagi kami menunjukkan komitmennya kuat dari pemerintahan Jokowi-JK untuk hadirkan negara. Konsistensinya di jalan ideologis Trisakti-Masohi/Gotong Royong yang sejatinya tak terpisahkan dari Panca Azimat–Ampera.

ooOoo

.

Rusia Berperang Melawan ISIS: Mengapa dan Bagaimana?

.

Sumber: RT/Russia Today

Waktu publikasi: 30 September 2015, Pk 09.43

Waktu Sunting: 30 September, Pk 10.45

.

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita

.

Russian President Vladimir Putin © Alexei Nikolsky / Reuters

.

.

Moskow sekarang bersiap-siap untuk menggunakan militernya di Suriah. RT menjelaskan mengapa Rusia terlibat, siapa yang akan dilawan, bagaimana dan untuk berapa lama.

Silakan simak hlm 65c..

ooOoo

.

Neo, Batman & Buddha semuanya, sesungguhnya Putin: Ekspos Edan di Moskow & London (FOTO, VIDEO) 

.

Sumber: RT/Russia Today

Waktu terbit: 6 Oktober 2015  Pk 20.13

Waktu sunting: 6 Oktober 2015 Pk 20.16

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita

.

.

Anyway, Putin fans, this is quite an unorthodox way to say happy birthday!” begitu komen RT menutup waritanya ini.

Ya, pada hari ini, 7 Oktober 2015, Presiden Rusia Vladimir Putin genap berusia 63 tahun. Kepemimpinan Putin yang sudah “beyond” batas-batas Federasi Rusia merambah, menyentuh banyak orang di seluruh muka bumi ini. Lantaran Rusia di bawah kepemimpinan Putin, bagi banyak pihak dilihat sebagai kelanjutan kejayaan, keperkasaan Uni Soviet. Khususnya dalam konteks menghadapi rival lama yang sama, sang imperialis Amerika Serikat.

Apalagi, hari-hari ini, hampir sepekan pesawat-pesawat tempur dan pembom Rusia yang berpangkalan  di Suriah membantu Suriah menyerang pusat-pusat konsentrasi ISIS di Suriah. Serangan udara atas permintaan pemerintah Suriah serta di bawah hukum internasional — terukur jadinya, tidak seperti invasi-invasi ilegal AS selama ini. ..

ISIS yang sudah bukan rahasia umum secara tak langsung terbentuk oleh “permainan” AS di Timur Tengah sejak porak poranda Irak-Libia bareng terbunuhnya Saddam Hussein-Moammar Khadafi. Berlanjut kebelet ingin menjatuhkan Assad-Suriah, juga tanpa alasan apalagi legitimasi secara internasional.

Ekspos yang menarik dari seorang pemimpin dunia untuk sebuah dunia multipolar yang damai dan sejahtera.

Selamat Hari Lahir ke-63 Pak Putin.

Semoga sehat selalu. Salam dari Jakarta, RDK.

.

Silakan simak hlm 65d..

ooOoo

.

Angkatan Bersenjata Suriah Melancarkan Serangan Skala Besar Terhadap ISIS:  Staf Umum Suriah

.

.

Sumber: RT/Russia Today

Waktu terbit: 8 Oktober 2015 Pk 07.13

Waktu sunting: 8 Oktober 2015 Pk 09.34

.

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita

.

.

Dibantu Rusia yang terbatas pada serangan udara, Angkatan Bersenjata Suriah yang bertempur di darat, maka eksistensi ISIS khususnya di Suriah mestinya tinggal “menghitung hari” — setidaknya nyaris lumpuh alias “pengungsi dari Suriah pun nyaris terhenti”. Semoga.

Silakan simak hlm 65e.

ooOoo

 .

Komentar: Ini Akan Baik

untuk Tidak Seharusnya TPP Memainkan “Zero-Sum Game”∗  

.

oleh Jin Chen, Penerjemah, Penyunting (People’s Daily) /

Su Xiaohui, Penulis (People’s Daily Overseas Edition)

.

Sumber: People’s Daily, 8 Oktober 2015 Pk 17.19

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita

.

.

Apa itu TPP? Lagi-lagi negeri yang pantas menyandang (salah satu tajuk bukunya Lenin, 1920) “Imperialisme: Tahap Tertinggi Kapitalisme”, menggelar tandingan “One Belt, One Road” gagasan Tiongkok. Yang dengan pas dikomentari pewarta People’s Daily sebagai “zero-sum game” — pas pula bila mengacu definisinya yang diajukan dalam “Mas Gigih Uzaman’s blog”.

Silakan simak hlm 65f.

.

ooOoo

.

EKSKLUSIF DARI RT:

Laporan dari Garis Depan di Mana Tentara Suriah Berjuang Melawan  ISIS

.

Sumber: RT/Russia Today

Waktu terbit: 12 Oktober 2015 Pk 06.24

Waktu sunting: 12 Oktober 2015 Pk 06.28

.

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita

.

.

Masih dari perang melawan ISIS, Tentara Suriah yang dibantu serangan udara Rusia dalam waktu relatif singkat sudah membuahkan hasil.

Silakan simak video terkait (tonton di YouTube), di hlm 65g.

Selamat Membaca Kawan Pembaca Budiman.

Semoga media pewarta warga ini bermanfaat.

 .

ooOoo

57k. Edisi 17 Agustus 2015, 11-Pekan Pasca-1 Juni 2015, Pengeposan Khusus (55-12) Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

Standar

57k. Edisi 17 Agustus 2015, 11-Pekan Pasca-1 Juni 2015, Pengeposan Khusus (55-12) Menyambut: 70 Tahun Pancasila – 70 Tahun Republik Indonesia, 2015

.

70 Tahun Pancasila
1 Juni 1945 – 1 Juni 2015

.
70 Tahun Republik Indonesia
17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2015

.

Jalan Ideologis Trisakti-Gotong Royong
Pemerintahan Jokowi-JK yang dilantik pada 20 Oktober 2014

.
pada hakikatnya:

.
Menegakkan satu dari Panca Azimat Revolusi (Nasakom, Pancasila, USDEK, Trisakti, Berdikari) yang sejatinya “lima Panca Azimat ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain”.

.
Yang sejatinya pula untuk mencapai sebuah Indonesia yang mengemban Ampera, Amanat Penderitaan Rakyat.

.
Yang sejatinya pula, Panca Azimat, Ampera, adalah Revolusi Indonesia yang “belum selesai”.

(Redaksi Dasar Kita)

.

♦ ♦ ♦

.

Revolusi adalah suatu proses terus-menerus.

Malahan saya terangkan, revolusi adalah di satu pihak menjebol, di lain pihak menanam. Revolusi adalah, malahan saya katakan, satu simfoni. Suatu simfoni dari suatu proses destructie dan constructie.

Suatu proses di satu pihak menggempur, menjebol, di lain pihak membina, menanam. Destructie dan constructie. Jebol dan bina. Itu revolusi.

Dan proses ini tidak berhenti-henti, terus, pratidina. Kita menjebol, pratidina. Kita membina pratidina, kita destructie pratidina, kita constructie pratidina.

Kalau kamu orang, demikian kataku pula pada pemimpin-pemimpin yang menghadap kepada saya, mengerti akan hal ini, maka kamu orang juga harus mengerti bahwa dari pihak yang dijebol oleh kita itu tentu ada reaksi.

Mana golongan yang mau dijebol? Mana ada orang yang mau dijebol? Mana ada sistem yang mau dijebol? Tidak ada!

Marx berulang-ulang telah aku citeer, berkata, geen klasee heeft ooit vrijwilling afstand gedaan van hare bevoorrechte positie.

[…]

Tetapi sebaliknya pun, Saudara-saudara, tidak satu golongan atau kelas dijebol, mau tidak mau, tentu melawan, tentu.

Melawan dengan cara terang-terangan, melawan dengan cara diam-diam, tetapi melawan, menentang. Ini suatu kenyataan sejarah.  

[…]

Kita, demikian kataku kepada kawan-kawan, menjalankan revolusi, penjebolan dan pembinaan. Nah, sudah barang tentu kita mengalami tentangan, mengalami kontra. Manakala aku berkata bahwa alweer menurut Marx ya, yang saya benarkan, manakala aku berkata, bahwa sosialisme datang, tidak boleh tidak mesti datang sebagai suatu historisch notwedigheid 〈6〉,suatu historisch notwedigheid.  

———

 〈6〉 Keharusan sejarah. [Keniscayaan sejarah/historis; Ketakterelakkan sejarah/historis– Red DK] 

Kalau Pak Madjid bersenda gurau, iya Pak memang, historisch notwedigheid, bukan hysterische notwendigheit 〈7〉, Pak Madjid.

———

 〈7〉 Kemutlakan yang histeris (permainan kata–terj). [Keniscayaan historis bukan keniscayaan histeris; canda Pak Madjid — Red DK]

Historisch notwedigheid, datangnya sosialisme adalah suatu historisch notwedigheid

Kontrarevolusi adalah juga suatu historisch notwedigheid. Notwedigheid! Yang tidak boleh tidak pasti datang. Dan kita sebagai orang revolusioner dari tadinya harus sudah mengerti hal ini. Dari tadinya.

Jangan Saudara-saudara lantas heran, ya ada tentangan. Tidak, kalau memang Saudara-saudara kaum revolusioner yang mengerti betul-betul jalannya proses revolusi.

Saudara-saudara dari tadinya sudah harus bisa mengatakan secara ramalan, suatu hari akan datang yang kita dikontra. Sebab, kita mau menjebol, sudah barang tentu kita akan menghadapai kontra.

Mengenai historisch notwedigheid daripada sosialisme, yang tujuan kita adalah itu, masyarakat adil dan makmur tanpa, kataku berulang-ulang, exploitaion de l’homme par l’homme.

Tentang hal ini pun sudah kuterangkan, sebagai seorang revolusioner yang sejati, maka dia mengerti bahwa sosialisme yang historisch notwedigheid itu, bahwa sosialisme itu tidak datang sebagai air embun yang jatuh di waktu malam.

Kita tidak apa-apa, diam saja, tunggu saja, sosialisme akan datang.

Tidak, kalau engkau berpikir begitu, engkau bukan revolusioner sejati. Kalau engkau revolusioner sejati, engkau pun harus mengerti bahwa sosialisme itu historisch notwedigheid  akan datang, tetapi juga bahwa perjuangan mendatangkan sosialisme, perjuangan menghantam kapitalisme adalah juga suatu historisch notwendigheid.

Kau sebetulnya mau tidak mau berjuang menentang imperialisme, menentang kapitalisme.

Kan sudah saya citeer di kitab Indonesia Menggugat, pidato pembelaanku di muka landraad Bandung. Aku kan sudah berkata, dengan perkataan gampang ya aksi, mosi, membangun reaksi . Tetapi aku citeer di di situ juga ucapan seorang ahli falsafah Inggris yang berkata bahwa pertentangan kita, penentangan kita terhadap exploitation, bahwa itu adalah suatu reactief verzet van verdrukte elementen.〈8〉

———

〈8〉 Perlawanan unsur-unsur (masyarakat) yang tertindas.

Baca di dalam kitab Indonesia Menggugat.

Reaktif, reaktif. Bukan oleh karena digerakkan oleh Tjokroaminoto, bukan oleh karena digerakkan oleh Semaoen, bukan oleh karena digerakkan oleh siapapun juga. Bahkan aku berkata, seribu Soekarno tidak akan bisa mengadakan ini, kalau ini memang bukan kehendak masyarakat dan sejarah. Kalau memang ini bukan kehendak masyarakat dan sejarah, kalau ini memang bukan suatu proses daripada masyarakat dan sejarah.

Dus kalau kita mengadakan perlawanan terhadap imperialisme dan kapitalisme itu, itu pun sebenarnya historisch notwedigheid. Adanya masyarakat tanpa kita toh revolusi ini akan datang. Toh kita itu lantas bergerak. Toh kita lantas mengadakan perlawanan terhadap sistem pengisapan, sistem kemelaratan kita, sistem yang membuat kita natie van koelies en een koelie onder de natie, 〈9〉 kataku meniru perkataan seorang Belanda, yaitu Dr Huender. Mau tidak mau.

——– 

〈9〉 Suatu bangsa (yang terdiri atas) kuli-kuli, dan seorang kuli di antara bangsa-bangsa.

[…]

Yang revolusi itu adalah suatu proses. Nah, tiap-tiap proses itu melalui fase-fase. Sebagaimana tumbuhnya manusia itu melalui fase pula, maka revolusi pun melewati fase-fase.

[…]

Tapi, fase kanak-kanak mempunyai karakteristik sendiri. Engkau sekarang hidup di dalam fase dewasa, mempunyai karakteristik sendiri. Nanti kalau engkau sudah kakek, karakteristik sendiri lagi. Revolusi demikian pula, oleh karena revolusi adalah suatu proses.

Nah, itu fase kita sekarang ini yaitu fase nasional demokratis, yang karakteristik daripada fase nasional demokrasi sebetulnya adalah lain daripada fase sosialisme, fase kemudian daripada revolusi kita.

Di dalam fase nasional demokrasi kita punya musuh utama yaitu imperialisme dan sistem-sistem kolot di dalam negeri sendiri. Terutama sekali feodalisme, autokratisme, dan lain-lain sebagainya.

Karakteristik daripada fase nasional demokratis ini ialah perjuangan antiimperialisme, antigolongan-golongan di dalam negeri yang memegang teguh kepada feodalisme, autokrasi, dan lain sebagainya.

Karakterisitik daripada fase yang kemudian, yaitu fase sosialisme, ialah penamaan daripada masyarakat tanpa exploitaion de l’homme par l’homme itu.

Tetapi sebagaimana yang kuterangkan di dalam kitab Sarinah bagian terakhir, aku berkata, fase nasional demokrasi mempunyai tugas sendiri. Tetapi fase nasional demokratis ini pun telah berisikan, telah berisikan syarat-syarat untuk fase sosialisme. Oleh karena fase-fase tidak terpisah satu sama lain. Terpisah sebagai, yah, barang yang terpisah. Sebagaimana di dalam hidup manusia, fase kanak-kanak, fase baby dengan fase dewasa tidak terpisah satu sama lain tetapi, kataku di dalam kitab Sarinah, in elkaar vloeien. 〈10〉.

——–

〈10〉 Harfiah: mengalir. Maksudnya, menjadi satu-kesatuan, tak ada retakan di antara satu fase dan yang lainnya.

 .