Investigators of Empirical Facts”:

Berpikir ala Machisme

Ketika “Kiri” Minus “Ultimate Aim

.

Oleh Redaksi Dasar Kita

 

 

Meski tajuk di atas sepintas ‘wah’ dan memang bernarasumber atau setidaknya terkait dengan Lenin, risalah Redaksi Dasar Kita pada pengeposan kali ini, sesungguhnya sebuah warita pendek.

Kabar singkat dari sebuah blog pewarta warga yang mewaritakan sebuah diskusi kecil (termasuk lewat WA) dengan dua kawan (katakanlah) aktivis-kiri, di salah satu acara “Belok Kiri Festival” (BKF). Di mana yang seorang dikenal bergiat di era Soeharto sedang ‘kencang-kencang’-nya. Seorang lagi jelang Soeharto lengser. Masing-masing kami sebut saja Binsar dan Yuang.

Di sela-sela jeda diskusi BKF pada suatu hari Minggu (6/3/2016) itu, Redaksi mencoba mengamprokkan keduanya dengan mengajukan tanya pada Binsar: “Tiongkok itu Sosialis?”

Silang pendapat antara Redaksi dan Binsar yang sempat ‘seru’ disimak Yuang tanpa komen. Hingga pembicaraan terhenti berhubung sesi berikutnya acara BKF akan berlanjut – Zely Ariene pembicaranya.

Tetapi diskusi kami dengan Yuang terus berlanjut lewat WA. Bukan saja menanggapi obrolan Redaksi-Binsar tersebut malah termasuk merespons Zely.

Redaksi mencoba merangkumnya di sini. Berharap teman-teman yang berangkat dari doktrin Marxian (setidaknya) lebih sensi pada geopolitik dunia yang hari-hari ini sedang ‘disemarakkan’ oleh OBOR (One Belt One Road).

Gagasan yang ‘jalur-darat’-nya “The Silk Road Economy Belt” dideklarasikan Xi Jinping di Astana, Ibukota Kazakhstan (September 2013). Dan ‘jalur-laut’-nya “The 21st Century Maritime Silk Road” di Gedung MPR Jakarta (Oktober 2013) – masih di era SBY yang menampik (atas tekanan Washington, versi RT) bergabung bank terkait yakni AIIB (Asian Infrastructure Investment Bank). Tetapi Indonesia di bawah Jokowi tercatat sebagai founding member ke-22 AIIB, satu-satunya negara yang bergabung (25/11/2014) hanya selang sebulan sejak AIIB didirikan (24/10/2014). (Simak hlm 50d).

Visi Jokowi jalan ideologis Trisakti-Gotong Royong tak lain adalah salah satu dari konsep Panca Azimat (baca: sosialisme ala Indonesia) dengan cita-cita Ampera (sejatinya masyarakat ‘dari masing-masing sesuai kemampuan/kerjanya, kepada masing-masing sesuai kebutuhannya’). Konsep yang hemat Redaksi adalah ‘hasil kolaboratif’ PKI-Soekarno jelang digelarnya Doktrin Truman di Jakarta pada 1965. (Simak hlm 56a).

Dalam pemahaman kami atas perspektif Pepe Escobar (simak hlm 53a), seorang kontributor/analisis untuk RT (d/h Russia Today) dan TomDispatch, Jokowi telah memilih model “pengintegrasian Eurasia” dengan bergabung AIIB/OBOR, memunggungi  model satu lagi yang ditawarkan Escobar “penyebaran Empire of Chaos”.

Dengan sikap geopolitik Jokowi semacam itu, kami mencoba ‘memanfaatkan peluang’ tersebut, jalan ideologis Jokowi-JK, dengan ‘langkah kecil’ mengamini bidasan Yuang di bawah ini – yang sudah dilengkapi-sunting berikut acuan terkait, diawali silang pendapat …

Redaksi-Binsar

“Ya, gua setuju-setuju aja Tiongkok sosialis,” Binsar menjawab kami. Namun, rupanya Binsar masih memberi imbuhan “tapi” untuk Tiongkok yang sosialis itu dengan menyebut kesenjangan kota-desa, kaya-miskin dalam konteks “kontradiksi” juga isu demokrasi-HAM di RRT.

Ketika kami mengatakan bahwa bukankah ini sebuah konsekuensi logis jalan kapitalis yang ditempuh untuk “mematangkan” RRT sebagai tahapan most advanced country (MPK Marx-Engels, 1848/Surakarta 17-8-1995).

Atau tahapan di mana ekonomi komoditi telah mencapai pengembangan penuh, yang dari sudut pandang cetak biru ekonomi terencana secara kasar didesain oleh Marx, dengan letih ditransformasikan Uni Soviet dan negeri-negeri Eropa Timur. Negeri-negeri di mana ekonomi komoditi belum berkembang dan ekonomi natural menempati suatu bagian terbesar pada ekonomi nasional  (simak Duan Zhongqiao, hlm 40b).

Di samping PKT sendiri sejak 2013 sudah melansir “Cetak Biru Reformasi” dengan isu utama kesenjangan perdesaan-perkotaan selaras tujuan partai untuk mencapai masyarakat berada (well-off society). (Simak hlm 38c).

Dan, terkait isu demokrasi-HAM Binsar itu, bukankah dengan 700 juta penduduk perdesaan yang terangkat dari kemiskinan ekstrim versi Bank Dunia dalam tempo ‘hanya’ 36 tahun (1978-2014, simak hlm 67b) “Tiongkok adalah Kontribusi Terbesar Dunia bagi Pengembangan Riil Hak-Hak Asasi Manusia” (John Ross, simak hlm 52a).

Binsar lalu menegaskan bahwa dirinya menggunakan pendekatan “induksi” dalam melihat Tiongkok hari ini. Fakta-fakta di lapangan itu yang menjadi perhati Binsar. Dan kembali menekankan kontradiksi yang terjadi walau mengakui pengetasan kemiskinan di RRT yang sangat signifikan itu. (Isu kontradiksi ditanggapi Yuang lewat WA yang menyebutnya ada perbedaan antara  kontradiksi antagonistis dan kontradiksi nonantagonistis — lihat bawah).

Dan kemudian sama-sama disadari: Binsar membaca Indonesia secara induksi pasca-1965 sementara kami lebih pada keberhasilan imperialisme lewat Doktrin Truman. Sekaligus bagi kami kegagalan tahap tertinggi kapitalisme itu begitu Trisakti hadir kembali di panggung politik Indonesia permulaan abad ke-21. (Ibid hlm 56a).

Karenanya ideologi negara*** menjadi perhati kami termasuk ‘digenapinya Kesaktian Pancasila’ menjadi konstitusi gadungan UUD 2002 – saat kerusuhan Ambon sedang marak-maraknya: 1 “amendemen” per tahun selama 4 tahun (1999-2002).  Sebuah konstitusi baru bukan lagi amendemen yang sejatinya seturut citra mereka kaum pembohong dan agresor di Irak-Libia* (kini Suriah**): sarat neolib. (Simak hlm 21a).

——–

* Kemarin, Irak dan Bush dan Blair adalah para pembohong dan agresor ketika  mereka membuat pernyataan tak berdasar atas kepemilikan senjata pemusnah massal. Kini, negara-negara NATO adalah para pembohong dan agresor ketika mereka membuat pernyataan serupa yang tak berdasar atas perusakan kehidupan sipil oleh Kadhafi.

(Robert Mugabe, Presiden Zimbabwe di SU PBB ke-66 22 September 2013, New York)

**Data terbarui: dengan serangan udara Rusia (digelar sejak 30 September 2015) termasuk rudal-rudal yang ditembakkan dari kapal perang Rusia, bekerja sama dengan Angkatan Bersenjata Pemerintah Suriah, ‘hanya’ dalam kurun 5 bulan (hingga 15 Maret 2016) di mana antara lain 9.000 sorties (serangan-serangan mendadak) serta 400 kawasan berpenduduk yang dibebaskan dari kaum pemberontak/teroris, ‘memaksa’ Washington/NATO ke meja perundingan di Jenewa. Untuk tidak mengatakan upaya imperialis meng-Saddam-Khadafi-kan Assad praktis gagal total.

Sementara Rusia yang menarik pulang pesawat-pesawat tempurnya dari pangkalan-pangkalan udara di Suriah pada pertengah Maret 2015 itu (bukti gamblang Rusia yang bukan agresor), masih “berlanjut” dengan menggelar 70-an lebih drone atau pesawat tanpa awak (UAV) melengkapi kerja intelijen termasuk konstelasi satelit mereka dalam konteks (ini yang membedakan dengan kaum imperialis) mentaati genjatan senjata.

(Simak pengeposan terbarui di hlm 71b; juga untuk dalih keterlibatan serangan udara Rusia dimaksud, simak hlm 65c).

***Ideologi negara yang kami maksudkan di sini, bukanlah dalam pemahaman “ideologi” seperti yang dimaksud (pinjam istilah Yuang, simak pengeposan terbarui di hlm 71d) Kaum Kiri Secara Tidak Marxis.  Kaum yang menurut Yuang dan kami sepakati, menolak pengetahuan aproiri: analisis basis material imperialisme.

Tetapi lebih pada konstitusi 18 Agustus 1945 dalam konteks “negara dan hukum” versi kaum materialis yang antara lain berpendapat: “Teori Marxis-Leninis mengenai negara dan hukum adalah sebuah ilmu hukum politik [politico-legal] yang bertautan erat, di satu pihak, dengan filsafat dialektika dan materialisme historis, ekonomi politik, dan sosialisme ilmiah, dan di lain pihak, dengan berbagai sektor dan ilmu hukum terapan [applied legal sciences].  Yang juga berhubungan dengan ilmu-ilmu alam dan teknik.

(“Theory of State and Law” Contributors: A. Denisov, A. Kenenov, O. Leist, [et al /dan lain-lain], Progress Publisher, 1987:7; dibahasaindonesiakan oleh Redaksi DK).      .

“Investigators of Empirical Facts”: Berpikir ala Machisme

“Gaya berpikir Binsar yang induktif, bertolak dari kenyataan itu, tak lain adalah sebuah kecenderungan di dalam filsafat yang disebut dengan positivisme,” tulis Yuang dalam WA ke Redaksi.

Yuang mengacu pada ‘manual ML’ (selanjutnya MML) di bawah Chapter 1. Philosopical Materialism, butir 6. Opponents of Philosophical Materialism, subtajuk The Attempt to Lay Down a “Third” Line in Philosophy (“Fundamentals of Marxism and Leninism Manual”, Second Revised Edition, Foreign Language Publishing House 1963: 43-45. Kutipan versi Bahasa adalah dari kami — Red DK).

Positivisme yang muncul pada paruh pertama abad [ke-19 — Red DK] yang lalu, menurut MML (:43), mewakili sebuah “third” line in philosophy [lini “ketiga” dalam filsafat] karena berdiri “di atas” [above] baik filsafat materialisme maupun idealisme.*

———

*Persoalan relasi pikiran manusia atas material adalah persoalan mendasar dari seluruh variasi filsafat, termasuk yang paling terkini. Mana yang primer [primary] keberadaan/ada [being] atau berpikir [thinking]? Para filsuf terbagi ke dalam dua kubu besar [two great camps] sesuai dengan bagaimana [masing-masing] mereka menjawab pertanyaan ini.

Mereka yang perhati bahwa basis material — alam [nature] — adalah primer [dan] memandang pikiran [thought], spirit sebagai properti [milik] dari materi [matter], menjadi bagian dari kubu “materialisme”.

Mereka yang memertahankan pikiran, spirit atau ide itu eksis sebelum alam dan alam itu ada, dalam satu dan lain cara, penciptaan spirit dan ketergantungan padanya, tercakup [dalam] kubu “idealisme”.

(MML: 43)

Kaum yang seperti Binsar ini, lanjut Yuang, disebut “investigators of empirical facts” (para penyidik fakta-fakta empiris — Red DK).

Klaim sebagai para penyidik fakta-fakta empiris ini, mengacu manual ML (ibid: 43), lantaran klaim mereka sebagai men of science [manusia ilmu pengetahuan], kaum yang bukan materialis maupun idealis. Tetapi sesungguhnya, kaum ini menyerang materialisme bersama-sama dengan kaum idealis, ke kubu mana mereka menjadi bagian.

“Tetapi kenyataan itu, fakta bagi kaum ini dibatasi ‘persepsi’ dan ‘sensasi’ saja (baca: terbatas pada kenyataan lapangan yang sanggup ditangkap saja). Bila ada hal lain yang tidak berasal dari sensasi atau persepsi, ditolak,” Yuang menimpali.

WA dari Yuang ini oleh MML (: 43): “Untuk menolak menjawab pertanyaan mendasar dari filsafat dan mengafirmasi [menegaskan] bahwa hal tersebut tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan, kaum positivis menutupi diri mereka sendiri dari dunia material, mengisolasi diri mereka di dalam kerangka kerja [framework] dari kesadaran mereka sendiri sehingga bergeser ke posisi idealisme subjektif*

——–

*Di samping idealisme objektif**, yang menggerakkan [drives] alam dari beberapa ide ilahi [some divine idea], ada pula idealisme subjektif, yang menyatakan [asserts] bahwa hal-hal material hanyalah jumlah total  kesadaran-kesadaran, pikiran-pikiran kita. 

———

**Pandangan idealis atas dunia di dalam bentuknya yang paling primitif, tetapi tetap yang paling luas tersebar, menemukan ekspresinya dalam doktrin religius dari spirit nonmaterial, atau keilahan [deity], yang diandaikan hadir sebelum sistem alam semesta [physical universe] dan [lalu] diciptakannya.

Filsafat ini [idealisme subjektif] membuat dunia bagian dari kesadaran subjek, artinya [bagian] dari pengakuan manusia [cognising human being].

[Seorang] Idealis subjektif akan bertanya: Apa yang saya tahu tentang hal-hal di sekeliling saya? Dan jawabnya adalah: Hanyalah sensasi dari warna, rasa [taste], bau [odour], kepekatan [density], bentuk [form], dan seterusnya. […]

Idealisme subjektif adalah distorsi kasar/mementahkan [crude distortion] relasi aktual antara persepsi kita dan berbagai hal [things]. Ia mengidentifikasikan persepsi manusia dengan hal-hal yang dipandangnya [perceived].   

Kesimpulan logis yang bisa ditarik dari ajaran dasar idealisme subjektif tersebut adalah ini: hal-hal/segala-sesuatu [things] dan persepsi mereka adalah satu dan sama. Tetapi dalam kasus itu kita harus menyimpulkan bahwa keseluruhan dunia diciptakan oleh saya sendiri, oleh kesadaran saya, dan semua individu-individu yang lain, termasuk orang tua saya, hanyalah persepsi pikiran saya [my mind] dan tidak eksis secara objektif.

Jadi idealisme subjektif mengarah pada [lead to] solipsisme [solipsism] (dari istilah Latin solus bermakna sendirian [alone] dan ipse bermakna sendiri [self]), sebuah filsafat absurd yang menyatakan bahwa hanya saya sendiri yang eksis, dan bahwa keseluruhan dunia, termasuk orang-orang lain, semata-mata isapan jempol [figments] dari imajinasi saya.

Setiap bentuk idealisme subjektif mau tak mau/terikat [bound] untuk mengarah pada konklusi solipsitis, dan hal ini membuktikan kepalsuannya itu.   

(MML: 42)

   

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s