Menyambut 95 Tahun Peringatan Kongres VII ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereniging)

Semarang, 23 Mei 1920 — simak/gulirkan sampai bawah, pengantarnya di hlm 56

.

MASYARAKAT INDONESIA DAN REVOLUSI INDONESIA
[MIRI]

.
Kongres Nasional V Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dilangsung dalam bulan Maret 1954, sudah memberikan jawaban mengenai semua masalah penting dan pokok dari revolusi Indonesia. Tetapi sampai sekarang masih banyak anggota Partai yang belum mengetahui dengan jelas apa yang dimaksudkan dengan “masalah-masalah penting dan pokok dari revolusi Indonesia”.

Soal-soal pokok revolusi kita, penting diketahui. Mengetahui soal-soal pokok revolusi Indonesia, berarti mengetahui sasaran-sasaran dan tugas-tugas pokok revolusi Indonesia, kekuatan-kekuatan yang mendorongnya, karakternya dan perspektifnya.

Untuk mengetahui soal-soal pokok revolusi Indonesia, pertama-tama kita harus mengetahui masyarakat Indonesia.

.
Bab I
INDONESIA DAN MASYARAKATNYA

.
Pasal 1
Kedudukan Geografis Indonesia

.

.
Indonesia adalah negeri kepulauan yang terdiri dari ribuan buah pulau kecil dan besar, dan meliputi daerah daratan seluas hampir 2 juta Km2 (luasnya Indoneisa kira-kira 57 x Nederland, 5 x Jepang, 3,5 x Prancis, 2 x Pakistan. Pulau-pulau yang pokok ada 5 buah, yaitu Jawa, Sumatera, Kalimatan, Sulawesi dan Irian Barat.

Jarak antara ujung Indonesia yang paling Timur sampai yang paling Barat kira-kira sama dengan jarak antara pantai Timur dan pantai Barat Amerika Srikat, atau kira-kira sama dengan jarak antara Kaukasus dan Inggris.

Indonesia dikelilingi oleh 3 lautan besar, yaitu Samudera Pasi-[248]fik, Samudera Hindia dan Laut Tiongkok Selatan. Ia merupakan jembatan antara benua Asia dan Australia.

——–

[248] : tambahan dari kami  untuk menunjukkan halaman 248 buku yang diacu; artinya, kalimat/tulisan sebelum angka 248 berada di halaman 248 dan kalimat/tulisan sesudah angka 248 termasuk halaman 249, begitu seterusnya. (Red DK).

“Soal-soal pokok revolusi kita, penting diketahui. Mengetahui soal-soal pokok revolusi Indonesia, berarti mengetahui sasaran-sasaran dan tugas-tugas pokok revolusi Indonesia, kekuatan-kekuatan yang mendorongnya, karakternya dan perspektifnya. Untuk mengetahui soal-soal pokok revolusi Indonesia, pertama-tama kita harus mengetahui masyarakat Indonesia.”

Demikan alinea penutup dari pembukaan tulisan DN Aidit “Masyarakat Indonesia dan Revolusi Indonesia (1957), yang Redaksi Dasar Kita yakini dokumen-sejarah fenomenal ini perlu diketahui banyak orang (muda) Indonesia — di abad 21.  Abad yang ditandai dengan “Bangkitnya Asia jilid 2″ ketika Tiongkok  melansir “Satu Sabuk, Satu Jalan” (One Belt, One Road).

Dan adalah Indonesia di bawah pemerintahaan Jokowi-JK dengan Trisakti-Gotong Royong, salah satu dari Panca Azimat Soekarno (Nasakom, Pancasila, USDEK, Trisakti, Berdikari), telah me-link ide Jokowi-JK “Poros Maritim Dunia” dengan gagasan “Jalan Sutera Maritim Abad ke-21″ yang diumumkan Presiden RRT (Republik Rakyat Tiongkok) Xi Jinping di MPR, Jakarta, Oktober 2013. Menyusul “Sabuk Ekonomi Jalan Sutera Baru” yang dimumumkan di Astana, Ibukota Kazakhstan, September 2013. Kedua jalan sutera ini sebagai bagian dari “Satu Sabuk, Satu Jalan”.

Dalam konteks Indonesia di abad ke-21 (seperti) ini, pada pengeposan terbarui, MIRI kami hadirkan menyambut peringatan 95 tahun Kongres VII ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereniging) di Semarang, 23 Mei 1920, menandai berdirinya Partai Komunis Indonesia.

(Dikutip dari 56. Pengantar Redaksi (54) – 14 Mei 2015).

Dari kenyataan-kenyataan ini, mudah dipahami mengapa Indonesia sejak ribuan tahun yang lalu sampai sekarang memegang peranan yang penting dalam lalu lintas dunia, dalam ekonomi dan dalam politik dunia.

Sebagai negeri katulistiwa (equator), iklim Indonesia adalah tropis. Temperatur (suhu) Indonesia rata-rata 26 derajat Celcius (Jakarta, rata-rata 26,4, Bandung 22,6, Semarang 26,9 Ambon 27,2 derajat Celscius). Sebagai negeri tropis, di Indonesia hanya ada 2 musim yaitu musim kemarau dari Maret sampai September, dan musim hujan dari September sampai Maret. Turunnya hujan tidak sama banyaknya, di satu daerah lebih banyak dari daerah lain.

Pulau-pulau Indonesia tanahnya sangat subur. Pulau Jawa termasuk yang paling subur di dunia. Oleh karena itu, sudah sejak zaman dahulukala perladangan dan persawahan banyak dilakukan. Gunung dan bukit, lembah dan ngarai, sungai dan air terjun banyak terdapat di Indonesia.

Di dalam lautan Indonesia terdapat banyak kekayaan.

Di tanah yang subur dan kaya ini, yang lalu lintasnya dipermudah oleh lautan-lautan dan sungai-sungai, nenek moyang bangsa Indonesia berkembang biak.

Indonesia termasuk salah satu negeri yang besar, dilihat dari sudut besarnya jumlah penduduk. Sebagai negeri yang kaya dan sebagai negeri kepulauan yang menghubungkan 2 benua serta dikelingkungi oleh 3 lautan besar, maka ada hal-hal yang menguntungkan dan merugikan Indonesia sekarang.

Indonesia diuntungkan oleh kedudukan geografisnya, karena [itu – Red DK] Indonesia tidak mungkin terisolasi dari dunia ramai. Indonesia mempunyai syarat-syarat sepanjang masa menjadi negeri yang ramai dikunjungi orang.

.

Indonesia mempunyai syarat-syarat yang tidak terbatas untuk mempunyai perhubungan laut yang luas di dalam negeri dan dengan luar negeri.

.

Tetapi di pihak lain, jika Indonesia sendiri bukan negeri yang kuat, adalah sangat sulit mencegah desakan-desakan dari kaum penyerang yang sangat berkepentingan untuk menguasai Indonesia yang kaya-[249]raya.

.

[Cetak tebal, penempatan di senter menyerupai subtajuk dan huruf diberi warna, adalah dari kami, semata untuk “memanjakan Kawan Pembaca Budiman di monitor, semacam “jeda” tanpa menyentuh isi tentunya — Red DK]

.

Pantai-pantai Indonesia yang sangat panjang sukar dijaga dari serbuan-serbuan militer dan dari kaum penyelundup.

Pengalaman Revolusi Agustus 1945 mengajar kita, bahwa untuk memertahankan kedaulatan Indonesia adalah sangat penting rol [peranan – Red DK] dari peperangan gerilya.

Indonesia tidak memenuhi semua syarat yang sangat diperlukan untuk peperangan gerilya, misalnya tidak cukup untuk mempunyai daerah-daerah luas yang didiami manusia, tidak mempunyai daerah-daerah pegunungan serta hutan-hutan yang luas dan jauh letaknya dari kota-kota dan jalan-jalan perhubungan.

Keadaan menjadi lebih sukar lagi karena sekarang di sekitar Indonesia berderet benteng-benteng imperialis yang berupa tanah-tanah jajahan atau setengah jajahan.

Di sebelah utara berderet-deret Malaya, Singapura, Muangthai, Vietnam Selatan, Serawak, Kalimantan Utara dan Filipina. Di sebelah selatan ada Australia dan ada Pulau Christmas dan kepulauan Cocos yang dikuasai Inggris. Di sebelah timur ada Irian Timur yang dikuasai oleh Australia, sedangkan Irian Barat masih sepenuhnya dikuasai oleh kaum imperialis Belanda.

Indonesia sekarang tidak berbatasan dengan negeri yang sudah bebas sama sekali dari kekuasaan imperialis.

Semua kenyataan ini lebih mengharuskan kaum revolusioner Indonesia untuk menempuh jalannya sendiri dalam menyelesaikan revolusi Indonesia.

Pelajaran yang dapat kita tarik dari pengalaman-pengalaman Revolusi Agustus 1945 ialah, bahwa di Indonesia dapat dilakukan peperangan gerilya. Tetapi, karena negeri kita tidak memenuhi semua syarat untuk peperangan gerilya, maka revolusi kita pada waktu itu akan lebih berhasil jika seandainya dapat dikombinasi secara baik tiga bentuk perjuangan, yaitu perjuangan gerilya di desa-desa (terutama terdiri dari kaum tani), aksi-aksi revolusioner oleh kaum buruh di kota-kota dan pekerjaan yang intensif di kalangan tenaga bersenjata musuh.

Pasal 2
Bangsa Indonesia

Penduduk Indonesia pada 1955 berjumlah lebih dari 84 juta. Walaupun penduduk Indonesia terdiri banyak suku bangsa, mereka semua merupakan kesatuan, yaitu bangsa Indone-[250]sia. Bangsa Indonesia termasuk bangsa besar ke-6 di dunia (1. Tiongkok, 2. India, 3. Uni Soviet, 4. Amerika Serikat, 5. Jepang).

Penduduk Indonesia tersebarnya sangat tidak rata.

Pulau Jawa, yaitu pulau yang terkecil dari “Lima Besar” (Kalimantan, Irian Barat, Sumatera, Sulawesi dan Jawa), berpenduduk kira-kira 54 juta (sudah termasuk penduduk Madura).

Sumatera, yang hampir 3,5 x Jawa besarnya, berpenduduk kira-kira 12 juta. Sulawesi yang 1,5 x Jawa besarnya berpenduduk kira-kira 6 juta. Kalimantan (bagian Indonesia) yang 4 x Jawa besarnya, hanya berpenduduk kira-kira 3,5 juta. Selainnya, tersebar di pulau-pulau Nusatenggara (5,5 juta) dan di pulau-pulau Maluku (0,7 juta).

Pulau Jawa termasuk salah satu tempat di dunia yang paling padat penduduknya, yaitu kira-kira 393 orang per km² (1952), sedang di tempat yang terpadat sampai mencapai 460 orang per km² (di Jawa Tengah).

Di Indonesia terdapat lebih dari 100 suku bangsa, mulai yang berjumlah puluhan juta sampai yang hanya beberapa ribu.

Di antara suku-suku bangsa itu terdapat suku-suku bangsa Jawa, Sunda, Madura, Melayu, Aceh, Minangkabau, Batak, Palembang, Lampung, Dayak, Banjar, Minahasa, Bugis, Toraja, Makassar, Bali, Sasak, Maluku, Timor, Sabu, suku-suku bangsa di Irian Barat dan banyak lagi.

Di antara suku-suku bangsa ini, suku bangsa Jawa adalah yang terbesar, menyusul Sunda, Madura, Minangkabau, Batak, dan lain-lain.

Suku bangsa Melayu adalah suku bangsa yang sudah sejak lama paling luas daerah tersebarnya, yaitu di pesisir Timur Pulau Sumatera, di pulau-pulau antara Sumatera dan Kalimantan dan di seluruh pesisir Kalimantan.

Tiap-tiap suku bangsa mempunyai bahasanya sendiri-sendiri, di samping semuanya menerima Bahasa Indonesia, yang dasarnya adalah bahasa Melayu, sebagai bahasa persatuan.

Tingkat kebudayaan suku-suku bangsa tidak sama, tetapi semuanya mempunyai sejarah yang sudah tua.

Jadi, bangsa Indonesia adalah bangsa yang terdiri dari banyak suku bangsa, banyak bahasa, dan banyak tingkat kebudayaan, tetapi mereka berasal dari satu rumpun bangsa, bahasa dan kebudayaan. Mereka terpecah-belah untuk sementara waktu, tetapi dalam proses perjuangan untuk kemerdekaan nasional dan untuk Indonesia[251]Baru mereka bersatu kembali.

Semua suku bangsa menganggap Indonesia sebagai tanah airnya, merasa berkebangsaan Indonesia, menganggap Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan menganggap adanya satu kebudayaan Indonesia di samping kebudayaan suku-suku bangsa.

.

Yang sangat menarik, ialah bahwa Bahasa Indonesia bukanlah bahasa yang berasal dari suku bangsa yang terbesar.

.

Dalam sejarah bahasa ini tidak pernah menjadi bahasa kolonisator, sebaliknya ia adalah bahasa yang memersatukan lebih dari 100 suku bangsa. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang digembleng dalam perjuangan untuk kemerdekaan nasional, ia adalah bahasa liberator.

.
[Cetak tebal, penempatan di senter … ibid — Red DK]

.

Di samping para warganegara yang berasal dari berbagai suku bangsa, di Indonesia terdapat juga beberapa juta warganegara dari keturunan asing seperti keturunan Tionghoa, Eropa dan Arab, masing-masing mempunyai bahasa dan kebudayaan tersendiri di samping mengakui bahasa dan kebudayaan Indonesia sebagai kepunyaan sendiri.

Perkembangan ekonomi di berbagai pulau dan daerah adalah tidak sama.

Hal ini tampak dalam soal industri, pertanian, apalagi dalam transpor, di mana di Pulau Jawa telah terdapat jaring-jaring jalan kereta api dan mobil yang luas, sedangkan di pulau-pulau lain masih sedikit atau sama sekali belum ada. Malahan di berbagai pulau dan daerah masih terdapat sisa-sisa sistem ekonomi yang lebih terbelakang.

Berdasarkan perbedaan keadaan ekonomi ini, di negeri kita terdapat tingkat-tingkat dan ciri-ciri perkembangan masyarakat yang tidak sama.

Dilihat dari sudut sejarah, ribuan tahuan yang lalu bangsa Indonesia yang sekarang bukanlah penduduk asli Indonesia.

Kira-kira 1.500 tahun Sebelum Masehi atau kira-kira 3.500 tahun yang lalu, bangsa Indonesia yang sekarang ini belum berada di Indonesia, mereka masih bertempat tinggal di India Belakang (sekarang Indocina, Muangthai, Birma) dan pada waktu itu namanya “bangsa Mon Khmer”, yang kini masih terdapat di Tongkin, Muangthai dan Kamboja.

“Bangsa Mon Khmer” adalah salah satu dari cabang “bangsa Austro-Asia” (Asia Selatan), cabang-cabang lainnya ialah “bangsa Kasi” (Asam), “bangsa Munda” (India) dan “bangsa Santali (India).

Bangsa Indonesia adalah salah satu dari 4 cabang “bangsa Mon [252] Khmer” (cabang-cabang lainnya: Melanesia, Polinesia dan Mikronesia).

Keempat cabang dari “bangsa Mon Khmer” ini dinamakan “bangsa Austronesia” (bangsa pulau-pulau Selatan).

“Bangsa Mon Khmer” bukanlah penghuni asli India Belakang, mereka adalah pendatang dari Yunan (Tiongkok Selatan) dan ketika masih berada di Yunan, mereka termasuk “bangsa Austria” (bangsa Selatan).

.

Jadi bangsa Indonesia yang sekarang ini walaupun terbagi dalam banyak suku bangsa (termasuk juga di Irian Barat dan Halmahera Utara, yang etnologis tergolong “bangsa Melanesia” tetapi politis tergolong Indonesia) adalah bangsa yang berasal dari satu rumpun (rumpun “bangsa Austria”, kemudian rumpun “bangsa Austro-Asia” dan kemudian lagi “bangsa Mon Khmer”) yang mempunyai sejarah yang sangat panjang dan mengalami perjuangan yang berat dalam peperangan dan dalam melawan bencana alam.

.

[Cetak tebal, penempatan di senter … ibid — Red DK]

.

Kira-kira 3.500 tahun yang lalu nenek moyang bangsa kita masih mengembara di India Belakang, mereka bercocok tanam di lembah-lembah Sungai Mekong (Indocina), Irawadi dan Salwin (Birma).

Desakan-desakan yang kuat dari bangsa-bangsa yang datang dari Utara dan Barat yang menduduki tanah-tanah mereka, yang merampas dan mengacau ketentraman hidup mereka, memaksa mereka harus memilih salah satu: diperlakukan sebagai budak atau mencari kediaman lain.

Mereka berpendirian lebih baik menyingkir dan hidup merdeka dari pada diperbudak.

Karena peperangan dan sebab-sebab yang lain, seperti kekurangan makanan, bencana alam, banjir besar dan penyakit menular, dengan perahu-perahu bersayap yang sederhana nenek moyang bangsa Indonesia meninggalkan daratan Asia, makin lama makin jauh.

Mereka mengerti tentang pelayaran, tegap-tegap tubuhnya dan pemberani-pemberani.

Mereka mengarungi samudera-samudera raya, ada yang sampai ke Madagaskar, Filipina, Kalimantan, Sumatera dan pulau-pulau Indonesia lainnya.

Dengan berangsur-angsur dan berbondong-bondong mereka berpindah ke pulau-pulau Selatan, akhirnya ke seluruh pantai Indonesia dari ujung Barat sampai ke ujung Timur mereka duduki.

Mereka seakan-akan bala tentara yang menang dan menduduki daerah baru.

Di tempat yang baru mereka bebas memilih tempat bercocok tanam, berburu dan meneruskan kebiasaan berlayar. Rumah-rumah mereka dirikan sepan-[253]jang pantai yang mereka duduki.

Tetapi pulau-pulau Indonesia tidaklah kosong ketika nenek moyang bangsa kita tiba. Mereka menjumpai penghuni “asli”.

Penghuni “asli” ini tergolong ras-ras Negrito dan Wedda yang sudah ribuan tahun bertempat tinggal di kepulauan Indonesia. Penduduk “asli” ini tidak suka didesak oleh pendatang-pendatang dari Utara, mereka mula-mula mengadakan perlawanan-perlawanan.

Nenek moyang kita di samping harus mencari penyelesaian dengan penghuni “asli” untuk mendapat tempat tinggal dan nafkah, mereka juga harus berjuang melawan binatang-binatang buas, air bah dan lain-lain.

Dibanding dengan penghuni “asli” persenjataan nenek moyang bangsa kita sudah lebih sempurna, mereka sudah menggunakan senjata tajam terbuat dari besi (pisau, lembing, busur panah). Penghuni “asli” hanya bersenjatakan sumpit dengan panah kecil yang berbisa.

Nenek moyang bangsa kita sudah pandai bercocok tanam, sedangkan penghuni “asli” hidupya tergantung dari hasil hutan.

Setelah berabad-abad lamanya penghuni “asli” dan kaum pendatang dapat hidup bersama, sedangkan yang tetap tidak mau mencampurkan diri lari ke tempat-tempat terasing.

Pendeknya, nenek moyang bangsa kita mendapatkan tanah air Indonesia tidak begitu saja, mereka harus berjuang mati-matian, dengan gagah berani mereka harus mengarungi samudera raya, melawan binatang-binatang buas, air bah dan lain-lain.

Bangsa Indonesia yang berasal dari satu rumpun bangsa, satu rumpun bahasa dan kebudayaan ketika masih di daratan Asia, setelah sampai di Indonesia mereka terpisah-pisah menurut pulau-pulau, dan di pulau-pulau dipisah-pisahkan lagi oleh gunung-gunung, sungai-sungai dan rawa-rawa yang besar, mereka menjadi terisolasi satu dengan yang lainnya.

Isolasi alam yang berabad-abad menyebabkan mereka tumbuh menurut keadaan sendiri-sendiri, tumbuh menjadi suku-suku bangsa dengan bahasa dan kebudayaan sendiri.

Sesampainya di kepulauan Indonesia, nenek moyang bangsa kita meneruskan cara hidup seperti ketika mereka masih berada di daratan Asia, yaitu hidup berkelompok-kelompok, mendirikan rumah-rumah di atas tiang berjajar berhadap-hadapan, bercocok tanam, berlayar dan memburu.

Perkakas-perkakas produksi mereka yang sangat primitif mengharuskan adanya kerja yang kolektif. Alat-alat produksi adalah milik bersama, tidak ada penghisapan atas manusia oleh manusia dan semua [254] penduduk berhak atas kekayaan alam.

.

Pada waktu itu belum ada kelas-kelas masyarakat.

.

[Cetak tebal, penempatan di senter … ibid — Red DK]

.

Mereka memilih pemimpin-pemimpin desanya, mereka belum mengenal raja yang ditetapkan dari atas dan belum mengenal kekuasaan negara. Negara tidak dibutuhkan waktu itu.

Ketertiban masyarakat ketika itu diatur berdasarkan kebiasaan, adat istiadat, kewibawaan, penghargaan dan kekuasaan yang dimiliki oleh pengetua-pengetua [orang yang dipertua {pemimpin, kepala, dsb} – Red DK].

Nenek moyang bangsa kita pada waktu itu hidup dalam masyarakat komune primitif.

Restan-restan [sisa-sisa – Red DK] dari masyarakat komune primitif sampai sekarang masih bisa kita temukan di negeri kita, misalnya dalam bentuk milik bersama desa atas tanah, bentuk kebiasaan gotong royong, sisa-sisa gen matriarkal (seperti di Minangkabau dan Pulau Enggano), sisa-sisa gen patriarkat (seperti di Batak dan Maluku), dan lain-lain.

Dengan makin majunya perkakas produksi dan dengan makin meningkatnya tenaga produktif, maka hubungan produksi yang lama sudah menghalangi perkembangan lebih lanjut dari tenaga produktif.

Kerja sama secara komune primitif sudah tidak cocok lagi dengan kemajuan perkakas-perkakas produksi, pembagian kerja kemasyarakatan timbul dan berkembang.

Dengan demikian, maka mau tak mau hak milik bersama atas alat-alat produksi perlu diganti dengan hak milik perseorangan. Ternak dan perkakas produksi lainnya menjadi milik perseorangan. Tetapi sawah dan tegalan, hutan-hutan dan padang-padang rumput serta pengairan masih milik bersama.

Hak milik perseorangan atas alat-alat produksi tertentu dan atas kekayaan perseorangan menimbulkan nafsu untuk mengumpulkan alat-alat produksi dan kekayaan sebanyak-banyaknya dari mereka yang mempunyai kesempatan untuk itu, yaitu mereka yang berkuasa (pengetua-pengetua yang dibantu oleh panglima-panglima perang dan pejabat-pejabat keagamaan).

Milik-milik umum dijadikan milik sendiri oleh yang berkuasa. Juga timbul nafsu mengadakan ekspansi, mengadakan perluasan daerah, menaklukkan desa-desa lain dan dengan demikian timbullah gabungan-gabungan desa yang dikepalai oleh satu pengetua.

Peperangan berlangsung dengan tiada henti-hentinya, karena tiap-tiap pengetua desa (daerah kecil) ingin meluaskan daerahnya agar dapat lebih banyak menguasai alat produksi dan kekayaan.

Mereka yang ditawan dalam peperangan tidak lagi dibunuh, tapi dijadikan budak dan dipaksa bekerja agar hasil pekerjaannya dapat dimiliki oleh [255] golongan yang berkuasa untuk menambah kekayaannya.

Mereka yang tenggelam dalam hutang dan tidak dapat membayar hutangnya juga dijadikan budak. Para tuan budak bebas berbuat segala sesuatu terhadap budak-budaknya, termasuk bebas memerjualbelikan dan membunuh budak-budaknya.

.

Nenek moyang bangsa kita dengan demikian memasuki masyarakat perbudakan.

.

Perpecahan dalam masyarakat perbudakan makin lama makin jelas antara dua kelas pokok dalam masyarakat, yaitu kelas tuan budak dan kelas budak, antara yang berkuasa dengan yang dikuasai.

Dengan demikian, mulailah perjuangan kelas dalam masyarakat nenek moyang bangsa kita.

.

[Cetak tebal, penempatan di senter … ibid — Red DK]

.

Kekuasaan pengetua desa makin lama makin besar sampai ia berhak menunjuk penggantinya sendiri (tadinya pengetua dipilih). Daerah kekuasan pengetua-pengetua ini makin lama makin luas, desa yang dikuasai dan keluarga yang di bawah kekuasaannya makin bertambah banyak.

Pengetua-pengetua yang sudah kaya ini kemudian hidup memisahkan diri dari rakyat, mereka dengan keluarga dan pembantu-pembantunya hidup menyendiri dan bermewah dalam keraton (ke-ratu-an) atau kedaton (ke-datu-an). Di samping sebagai pemimpin, mereka juga dianggap sebagai wakil nenek moyang yang harus dihormati dan ditaati.

Karena adanya perlawanan-perlawanan dari pihak budak, kaum penguasa budak membutuhkan alat untuk menindas perlawanan budak dan untuk menguasai budak.

Dengan demikian lahirlah untuk pertama kalinya negara, suatu aparat yang memberikan kekuasaan kepada kaum pemilik budak dan memungkinkan mereka untuk memerintah para budak.

Restan-restan masyarakat perbudakan di negeri kita msih terdapat di berbagai pulau pada awal abad ke-20 ini, misalnya tuan budak boleh menyuruh bunuh budaknya tanpa hukuman, tuan budak (“meramba” seperti di Pulau Sumba) berhak atas seluruh hasil dari tanah yang dikerjakan oleh budak-budak (“atta”), anak yang lahir dari perkawinan budak menjadi kepunyaan tuan budak.

Tetapi adanya negara di tangan tuan budak untuk menindas para budak, tidaklah menghentikan perlawanan para budak, baik secara terang maupun tidak.

Kerja perbudakan yang pada mulanya mendorong kemajuan tenaga produktif jika dibanding dengan kerja secara komune primitif, lama kelamaan terbukti tidak produktif lagi karena orang yang diperbudak tidak mungkin mempunyai minat [256] atas pekerjaannya dan oleh karena itu tidak mungkin kreatif.

Sebagian dari orang-orang merdeka yang hidup dalam masyarakat perbudakan, yaitu kaum tani dan kaum kerajinan tangan [ yang melakukan pekerjaan tangan bukan mesin – Red DK], karena tidak tahan memikul biaya untuk peperangan, menjadi bangkrut dan jatuh menjadi budak; sebagian melarikan diri ke tempat-tempat pesisir atau ke tempat-tempat lain yang tidak bisa dijangkau oleh kekuasaan tuan budak dan ikut ambil bagian dalam perlawanan terhadap negara budak.

Peperangan yang terus-menerus untuk memertahankan kekuasaan tuan budak ditambah lagi oleh makin merosotnya produksi serta makin mundurnya perdagangan, menyebabkan kekuasaan perbudakan makin menjadi lemah dan kebudayaan makin mundur.

.

Kemajuan tenaga produktif sudah tidak sesuai lagi dengan hubungan produksi yang berdasarkan perbudakan, masyarakat perbudakan sudah menjadi belenggu, oleh karena itu akhirnya diganti dengan masyarakat feodal.

.

Di Indonesia, terutama Jawa, nenek moyang bangsa kita memasuki masyarakat feodal kira-kira sejak awal tarikh Masehi.

.

[Cetak tebal, penempatan di senter … ibid — Red DK]

.

Dalam masyarakat feodal bekas-bekas budak dapat mengerjakan tanah “untuk sendiri” dengan syarat harus menyetorkan sebagian yang penting dari hasil kepada tuan tanah feodal.

Di sini pembagian antara hasil kerja-perlu [kerja yang diperlukan – Red DK/*hlm-257] bagi kaum tani dan hasil kerja-lebih [ibid *hlm-257, lihat bawah – Red DK] yang dirampas oleh tuan tanah feodal menjadi jelas.

———
*hlm-257

[“Dalam artikel terdahulu kita melihat bahwa setiap pekerja yang dipekerjakan oleh sang kapitalis {tuan tanah feodal dalam konteks MIRI – Red DK} melakukan suatu kerja rangkap: selama satu bagian dari waktu-kerjanya ia menggantikan upah-upah yang dipersekotkan pada dirinya oleh sang kapitalis, dan bagian kerjanya ini diistilahkan kerja yang diperlukan oleh Marx.

Tetapi setelah itu ia mesti terus bekerja dan selama waktu itu ia memproduksi nilai-lebih untuk sang kapitalis, suatu bagian penting yang merupakan laba. Bagian dari kerja ini disebut kerja-lebih,” dikutip dari “Frederick Engels Tentang Das Kapital Marx”, penerjemah Ira Iramanto, Hasta Mitra, 2002: 8; cetak tebal oleh kami – Red DK].

Pertentangan yang pokok dalam masyarakat feodal ialah pertentangan antara para tuan tanah feodal (raja-raja, bangsawan-bangsawan pendeta-pendeta dan punggawa-punggawa) dengan kaum tani.

Kedudukan kaum tani sedikit “bebas” jika dibanding dengan kaum budak, oleh karena itu kaum tani lebih produktif jika dibanding dengan kaum budak. Pada umumnya kaum tani sudah tidak bisa dibunuh secara sewenang-wenang.

Kaum tani bukan budak, tetapi hamba dan bekerja untuk tuan-tuan feodal dalam bentuk bekerja cuma-cuma (rodi, corvee) [corvee = korve: kerja paksa – Red DK], menyetor bagian yang sangat besar dari hasil panen.

Di samping, kaum tani juga [adalah – Red DK] tukang-tukang kerajinan tangan dan para pedagang, termasuk kelas-kelas yang dikuasai dan dirintangi perkembangannya oleh feodalisme.

Sejarah perdaban bangsa Indonesia menunjukkan, bahwa pertanian dan kerajinan tangan sudah berumur sangat tua, bahwa [257] Indonesia mempunyai filosof-filosof sendiri, sarjana-sarjana, seniman-seniman besar dan ahli-ahli militer sendiri.

Lama sebelum Masehi, jadi jauh sebelum orang-orang Hindu datang, Indonesia sudah memproduksi secara besar-besaran perkakas kerja dan senjata terbikin dari batu dan besi ; kalender yang sangat dibutuhkan untuk mengatur pekerjaan di sawah juga sudah dikenal, sistem irigasi sudah dilaksanakan.

Dalam tahun 150 sesudah Masehi ahli ilmu bumi dan bintang-bintang bangsa Yunani dari abad ke-2 yang bernama Ptolomeus menulis, bahwa Pulau Jawa sangat subur dan banyak menghasilkan emas (maksudnya barang-barang dari emas).

Dari masa yang sama kita dapat membaca dalam kitab Hindu (Ramayana): “periksalah dengan teliti Jawadwipa (Jawa) yang mempunyai tujuh kerajaan, pulau emas dan pulau perak, di mana terdapat kemasan-kemasan.” [kemasan: orang yang pekerjaannya membuat perhiasan emas dan intan – Red DK].

Tahun 132 dari Jawa dikirim dikirim utusan ke Tiongkok yang membawa tanda-kerajaan (segel) dari emas.
Kedudukan Indonesia yang berada di antara India dan Tiongkok membikin Indonesia sejak permulaan Masehi menjadi pusat perdagangan dunia.

Diterangkan bahwa pada tahun 414 sesudah masehi bertolaklah dari Jawa Barat seorang saudagar Tiongkok dengan 200 orang lain lagi, kebanyakan saudagar-saudagar Hindu, menuju Kanton.

Dari keadaan di atas, jelaslah bahwa sudah sejak sebelum orang asing datang bangsa Indonesia adalah bangsa yang sudah berkebudayaan, jadi adalah tidak benar pendapat orang bahwa bangsa Indonesia baru berkebudayaan sesudah bangsa asing datang untuk mengajar bangsa Indonesia.

Kemudian, sesudah orang-orang Hindu datang, timbullah candi-candi yang megah dan indah, seni tari dan seni wayang yang tersohor. Semuanya ini adalah ciptaan bangsa Indonesia sendiri, kepribadian bangsa Indonesia sendiri. Kedudukan orang-orang Hindu hanya sebagai pembantu dan penasehat.

Dari hasil-hasil kebudayaan ini, jelaslah bahwa sudah sejak zaman dahulu kala bangsa Indonesia tidak segan untuk menerima yang baik dari luar, yang berupa pikiran maupun bantuan para ahli tetapi dengan sama sekali tidak melepaskan kepribadiannya.

Dalam perdagangan dan politik luar negeri bangsa Indonesia mempunyai peranan yang aktif dan pandai menggunakan kedudukan geografis Indonesia yang sangat baik. Politik ini mem-[258]bikin Indonesia di masa lampau menjadi salah satu pusat perdagangan dunia.

Tetapi bangsa Indonesia tidak hanya terkenal sebagai bangsa yang rajin dan ulet, yang beradab dan berkebudayaan, tetapi juga terkenal sebagai bangsa pejuang dan revolusioner. Sudah sejak masih di daratan Asia bangsa Indonesia sudah biasa berjuang. Ketika akan mendapatkan tanah air Indonesia mereka juga harus berjuang, demikian juga untk memertahankan tanah airnya dari serangan-serangan asing.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang cinta merdeka dan bertradisi revolusioner. Hal ini terbukti sampai abad-abad belakangan ini, sampai abad ke-20, sampai hari ini.

Sejarah Indonesia sejak zaman dahulu kala adalah sejarah pemberontakan tani, sejarah pahlawan-pahlawan, sejarah revolusi-revolusi, sejarah rakyat pekerja.

Abad ke-20 adalah abad di mana perjuangan bangsa Indonesia mendapat bentuk-bentuk yang modern, yang pada hakikatnya tidak lain dari pada melanjutkan tradisi revolusioner yang sudah belasan abad lamanya.

.

Pasal 3

Masyarakat Feodal

.

.Walaupun Indonesia adalah negeri yang besar, mempunyai kedudukan geografis yang sangat baik, tanahnya sangat subur, penduduknya banyak, mempunyai sejarah kebudayaan yang sudah tua, kaya dengan tradisi revolusioner, tetapi karena berlakunya sistem feodalisme yang sudah lebih dari 1.500 tahun lamanya, sampai sekarang Indonesia masih terbelakang di lapangan ekonomi, politik dan kebudayaan.

Sistem ekonomi dan politik di dalam masayarakat feodal Indonesia adalah sebagai berikut.

1. Dalam masyarakat feodal ekonominya adalah ekonomi alamiah, yaitu ekonomi di mana produksi dipakai untuk keperluan sendiri, bukan produksi untuk dijual atau untuk pasar.

Sistem irigasi sudah maju sejak permulaan zaman feodalisme di negeri kita; ini dibuktikan oleh perintah raja Purnawarman dari Kerajaan Taruma Negara (di Jawa Barat, meliputi kira-kira Jakarta, [259] Bogor dan Krawang) dalam abad ke-4 Masehi untuk membikin kanal sepanjang 15 km.

Tukang-tukang kerajinan tangan pasti sudah ada sejak permulaan zaman ini, karena sudah sejak sebelum orang Hindu datang orang-orang Indonesia sudah pandai membikin barang dari besi, tembaga, kulit penyu, tanduk dan emas.

Tetapi barang-barang ini bukan dibikin terutama untuk pasar. Pertukaran memang sudah ada, yaitu pertukaran di antara penduduk maupun dengan orang luar, misalnya antara raja dan pembesar-pembesar Indonesia lainnya dengan saudagar-saudagar dari Tiongkok, India dan lain-lain, tetapi ini tidak bersifat menentukan.

2. Dalam masyarakat feodal yang berkuasa ialah kelas feodal yang terdiri dari raja-raja yang bertempat tinggal di keraton-keraton, pedeta-pendeta dan punggawa-punggawa (pegawai-pegawai, amtenar-amtenar).

Dasar kekuasaan kaum feodal ialah hak milik mereka atas tanah dan hak milik mereka yang terbatas atas kaum tani.

Raja adalah kekuasaan tertinggi, ia berhak mengangkat para pembesar untuk pemerintahan pusat dan para pembesar lokal untuk mengurus angkatan perang, pengadilan, perbedaharaan negara dan gudang-gudang makanan.

Raja-raja hanya menguasai sebagian kecil dari kekuasaan secara langsung, sedangkan selebihnya dikuasakan kepada para bangsawan lainnya dan punggawa-punggawa sebagai wakil raja.

Wakil-wakil raja inilah yang berkewajiban mengumpulkan setoran hasil panen kaum tani untuk keperluannya sendiri dan untuk raja (Pemerintah Pusat).

Di samping harus menyetorkan hasil panennya, kaum tani juga diwajibkan bekerja dengan cuma-cuma (rodi, korve) untuk para bangsawan dan punggawa, diwajibkan bekerja untuk membangun keraton-keraton dan candi-candi, untuk membikin saluran-saluran dan bendungan-bendungan, dan dalam keadaan perang harus mengerahkan segala yang ada padanya, juga sampai menjadi prajurit untuk memenangkan peperangan.

Sesudah ada tentara tetap, dan ini terutama terjadi sesudah berdiri kerajaan-kerajaan Islam, kaum tani juga diwajibkan mengongkosi tentara, yang digunakan terutama untuk menindas kaum tani dan jarang-jarang untuk melawan serangan musuh dari luar.

Untuk memerdalam “kebaktian” Raja kepada raja, rasa keagamaan dipertebal (misalnya raja Darmawangsa dari abad [260] ke-10 dan ke-11, memerintahkan kepada para punggawa keraton untuk menerjemahkan cerita-cerita wayang dari Mahabrata yang berbahasa Sanskerta ke dalam bahasa Jawa Kuno).

Jadi jelaslah, bahwa masyarakat feodal berdasarkan hak milik tanah oleh tuan tanah, sedangkan kaum tani bekerja sebagai hamba (kaum tani “hanggaduh” tanah atau “meminjam” tanah untuk dikerjakan). Tanah yang merupakan alat produksi pokok dalam masyarakat feodal dimiliki oleh para tuan tanah feodal.

Kaum tani pada umumnya tidak dapat dibunuh seperti dalam zaman perbudakan, tetapi mereka bisa diperjualbelikan.

Negara feodal adalah kepunyaan para tuan tanah untuk memertahankan eksploitasi feodal mereka.

Di samping menderita eksploitasi feodal yang berat, kaum tani juga menderita penindasan-penindasan politik. Kaum tani tidak mempunyai hak politik dan tidak mempunyai kemerdekaan perseorangan, tuan tanah berhak memukul dan menyiksa mereka, malahan juga membunuh mereka, walaupun yang belakangan ini tidak lagi umum berlaku.

Kemelaratan dan keterbelakangan dari kaum tani sebagai akibat dari eksploitasi ekonomi dan penindasan-penindasan politik feodal yang luar biasa, adalah alasan pokok yang menjadi sebab ekonomi dan kehidupan sosial negeri kita terbelakang berabad-abad jika dibanding dengan negeri-negeri yang maju sekarang.

Dalam masyarakat feodal kelas-kelas pokok yang menciptakan kekayaan dan kebudayaan ialah kaum tani dan tukang-tukang kerajinan tangan, sedangkan tuan dan kliknya (para raja, bangsawan, pendeta dan para punggawa) adalah sama sekali tidak produktif, sebaliknya mereka menghisap dan menindas golongan yang sangat terbesar dari rakyat.

Eksplotasi ekonomi dan penindasan politik yang luar biasa telah membikin kaum tani Indonesia memberontak melawan kekuasaan tuan tanah, seperti misalnya pemberontakan terhadap kerajaan Mataram I (abad ke-8 dan abad ke-9), pemberontakan terhadap kerajaan Kediri (awal abad ke-13) di bawah pimpinan anak petani Ken Arok, pemberontakan terhadap kerajaan Singasari (akhir abad ke-13), pemberontakan-pemberontakan dalam kerajaan Majapahit (abad ke-14 dan abad ke-15), dan lain-lain pemberontakan tani.

Pemberontakan-pemberontakan ini memang hanya berhasil dengan menjatuhkan raja yang [261] satu dan menaikkan raja yang lain, dengan tidak berakibat perbaikan nasib kaum tani.

Tetapi kenyataan ini tidak memungkiri bahwa pemberontakan-pemberontakan itu adalah pemberontakan-pemberontakan kaum tani. Perlawanan kaum tani terhadap eksploitasi ekonomi dan penindasan-penindasan politik feodal menyebabkan adanya pemberontakan-pemberontakan.

Pemberontakan-pemberontakan kaum tani gagal, tidak berakhir dengan kemenangan kaum tani dan hanya berakibat penggantian raja-raja belaka, adalah karena kaum tani sebagai pemilik-pemilik perseorangan kecil tidak mewakili hubungan produksi yang baru.

Pemberontakan-pemberontakan meletus secara spontan karena kebencian mereka terhadap tuan tanah, tetapi mereka tidak mampu menyusun program agraria yang revolusioner.

Juga belum ada kelas dan partai politik yang maju, yang mampu memimpin kaum tani menuju kemenangan.

Jadi, pemberontakan dan peperangan taniketika itu dengan sendirinya berakhir dengan kegagalan, sehingga tidak mengubah hubungan ekonomi dan sistem politik feodal.

Tetapi adalah tidak benar, jika dikatakan bahwa pemberontakan-pemberontakan tani yang gagal itusama sekali tidak membawa sekadar kemajuan sosial.

Yang sudah terang, kaum tani menjadi lebih terlatih dalam berperang dan ada juga raja-raja baru yang mereka naikkan ke atas tahta terpaksa meringankan atau menghapuskan beberapa bentuk penghisapan yang paling kejam.

Pemberontakan-pemberontakan itu bersifat menentukan dalam melemahkan dan akhirnya akan meruntuhkan sama sekali feodalisme.

.
Pasal 4
Masyarakat Kolonial
.

Dengan bertambah luasnya perdagangan luar negeri Indonesia dalam abad ke-14, terutama perdagangan rempah-rempah dengan Eropa, maka kedudukan kota-kota pesisir Indonesia menjadi sangat penting dan perdagangan dengan Eropa menjadi lebih penting daripada perdagangan dengan India dan Tiongkok.

Rempah-rempah sangat dibutuhkan oleh apotik-apotik dan dapur-dapur orang Eropa. Dalam perdagangan yang ramai ini Malaka dan Banten memainkan rol yang sangat penting.

Di Malaka dan Banten banyak bertempat tinggal pedagang [262] asing, terutama pedagang-pedagang Islam yang datang dari India dan Persia, yang mempunyai pengaruh besar atas raja-raja lokal.

Pedagang-pedagang ini menyediakan barang-barang mewah untuk para raja. Mereka juga mengislamkan raja-raja lokal yang beragama Hindu dan mendorong kerajaan-kerajaan lokal menjadi kerajaan Islam yang berdiri sendiri, terpisah dari kekuasaan Maharaja Majapahit yang berpusat di pedalaman.

Untuk mendapat pengaruh, saudagar-saudagar Islam itu juga mengawinkan anak-anaknya dengan raja-raja lokal . Dengan bertambahnya pengaruh mereka atas raja-raja lokal bertambah pula keuntungan mereka dalam perdagangan.

Gerakan Islam ini kemudian dipimpin oleh guru-guru yang terkenal dengan nama Wali Songo (Wali Sembilan).

(Maaf Kawan Pembaca Budiman, masih proses penyuntingan, akan tuntas dalam waktu dekat – Red DK)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s