AS yang Mengimpor Terorisme ke Timur Tengah, Ujar Presiden Filipina yang Baru

.

Sumber: RT/Russia Today

Waktu Publikasi: 10 Juli 2016 Pk 00.56

.

Dibahasaindonesiakan oleh Redaksi Dasar Kita

.

dk-jul 2016-philippine-rodrigo duterte

Presiden Filipina terpilih Rodrigo Duterte © Lean Daval Jr / Reuters

.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte menuduh AS mengimpor teror ke Timur Tengah melalui intervensinya, menunjuk pada Irak, Libia dan Suriah sebagai contoh.

Berbicara di sebuah acara yang diselenggarakan untuk menghormati hari suci Islam Idul Fitri di Davao City pada Jumat [8/7/2016 – Red DK], sang pemimpin membantah narasi bahwa Timur Tengah adalah akar dari terorisme. “Bukan Timur Tengah yang mengekspor terorisme ke Amerika; Amerika yang mengimpor terorisme (ke Timur Tengah),” ujarnya.

.

dk-jul 2016-philippine-rodrigo duterte-02

.

Duterte mengecam AS dan Inggris dalam menampilkan Saddam Hussein sebagai diktator untuk membenarkan perang Irak pada 2003, dan tidak mau mengakui kesalahan mereka setelah [ada] fakta. “Mereka memaksa cara mereka pada Irak,” ucapnya kepada para jemaah Muslim itu.

“Setelah hampir 10 tahun penyidikan, ternyata tidak ada dasar hukum untuk menyatakan perang terhadap Irak. Anda lihat, itu adalah perang yang sia-sia,” terangnya.

“Lihatlah Irak sekarang. Lihatlah apa yang terjadi di Libia. Lihatlah apa yang terjadi di Suriah. Bahkan anak-anak disiram dengan bensin. Mereka dipepet ke tembok [/dipojokkan] untuk janji-janji yang dingkari,” imbuhnya.

Filipina bukan tanpa masalah-masalahnya sendiri yang bergejolak, seperti halnya kelompok-kelompok di kawasan Muslim minoritas negeri itu yang telah berjuang untuk otonomi di negara yang sebagian besar beragama Kristen sejak akhir 60-an.

dk-jul 2016-philippine-rodrigo duterte-03

BACA SELANJUTNYA — ‘Lanjutkan & bunuh’ para pecandu narkoba, Presiden Filipina mengatakan. [‘Go ahead & kill’ drug addicts, Philippines president says]

Duterte ingin [wants] mengadakan pembicaraan dengan kelompok-kelompok di kawasan itu, Front Pembebasan Nasional Moro dan sempalannya Front Pembebasan Islam Moro, untuk bekerja di luar detail dari kesepakatan otonomi yang dicapai pada 2014. Dia mendesak para pemimpin itu untuk fokus pada perdamaian. “Mari kita membangun sebuah bangsa yang didasarkan pada perdamaian dan pengertian,” katanya.

“Hal itu tidak akan datang dalam semalam. [Juga] Pasti tidak akan datang tahun depan. Mungkin, itu akan menjadi sesuatu sekitar dua sampai tiga tahun dari sekarang. Tapi saya meyakinkan Anda bahwa sesuatu akan berubah sebelum saya mengakhiri masa [jabatan] saya.”

Duterte juga mengatakan ia tidak akan menyebut  Abu Sayyaf kelompok pemberontak kriminal, karena mereka “didorong untuk putus asa,” berkat janji yang diingkari dan ketiadaan pemerintahan. “Itu sebabnya mereka dipepet ke tembok [/dipojokkan],” ujarnya. “Mereka menjadi radikal.”

Kelompok tersebut disebut [called] para teroris dan para bandit karena penculikan dan pembunuhan mereka, dan pemerintah Filipina telah memerangi mereka selama bertahun-tahun. Pada April [2016], kelompok itu dilaporkan menyatakan janji setia pada kelompok teroris Negara Islam [Islam state] (IS, sebelumnya ISIS/ISIL).

Duterte, mantan walikota Davao City, terpilih sebagai presiden pada Juni 2016, setelah dalam sebuah kampanye terbuka menjanjikan untuk menindak kejahatan. Segera setelah masa jabatannya sebagai presiden dimulai, kepala militer mengatakan mereka akan terlibat dalam suatu “shock and awe” [“kecut dan respek”; sebuah doktrin militer] untuk mengatasi kelompok pemberontak tersebut yang telah berjanji setia kepada IS.

dk-jul 2016-philippine-rodrigo duterte-04

BACA SELANJUTNYA — Filipina, AS gelar latihan laut skala besar ‘tanpa peduli pada Tiongkok’ [Philippines, US launch large-scale naval drills ‘without China in mind’]

Sembilan anggota Abu Sayyaf dan seorang tentara tewas pada Kamis [7/7/2016] dalam bentrokan antara pasukan bersenjata dan kelompok tersebut di selatan Filipina, al Jazeera melaporkan [reports].

Duterte menggambarkan perbandingan dengan negerinya sendiri yang disapu oleh kolonialisme, menunjuk pada fakta bahwa semua orang [Filipina] adalah “kawula dari para sultan” [natives of the sultanes] sampai [datangnya] kolonialisme Spanyol yang membawa serta Kekristenannya.

“Jadi meskipun agama adalah masalah yang sangat sensitif, mari kita sungguh-sungguh tidak melakukan sesuatu yang akan mengobarkan atau mengganggu masalah agama. Kita semua percaya pada Tuhan yang sama,” imbuhnya.

Presiden baru mengatakan kebijakan luar negerinya tidak akan bergantung pada AS, dengan siapa Filipina menikmati kemitraan pertahanan, dan akan “menjadi garis yang tidak dimaksudkan untuk menyenangkan siapa pun kecuali kepentingan Filipina.”

Dia [Duterte] telah berbicara tentang keterlibatan dalam pembicaraan dengan saingan jangka panjang Tiongkok atas sengketa Laut Tiongkok Selatan [disputed South China Sea], sebuah konflik di mana Washington dan Beijing telah bentrok selama bertahun-tahun.

.

ooOoo

Iklan