PBNU Nilai Jokowi-JK Masih Konsisten Selama Setahun Memerintah

.

 

.

KOMPAS.com/DIAN MAHARANI Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama Said Aqil Siroj

KOMPAS.com/DIAN MAHARANI — Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama Said Aqil Siroj

.

JAKARTA, KOMPAS.com – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siradj menilai Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla masih konsisten merealisasikan janji-janji mereka dalam pemerintahannya yang hampir mencapai satu tahun. Pada 20 Oktober mendatang, pemerintahan Jokowi-Kalla mencapai usia setahun.

“Sampai saat ini saya lihat Pak Jokowi masih konsisten, masih tinggi semangatnya, optimis. Maklum bahwa pelemahan ekonomi ini akibat global juga kan,” kata Said di Jakarta, Selasa (6/10/2015).

Kendati demikian, Said berharap pemerintah bisa membuat terobosan yang mengakhiri situasi melemahnya perekonomian nasional. Kebijakan-kebijakan pemerintah, kata dia, sedianya tetap berpihak pada rakyat kecil.

“Kalau sudah rakyat sama-sama pemerintah mempertahankan ekonomi, Insya Allah akan sehat,” kata Said.

Sejauh ini, Said mengaku masih menghargai usaha yang dilakukan pemerintah dalam meningkatkan geliat perekonomian. Ia menilai Presiden Jokowi telah berusaha meningkatkan perekonomian melalui kerjasama dengan negara lain.

Sebelumnya Said Aqil menyatakan bahwa PBNU mendukung pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla. Ia juga menegaskan PBNU tidak terpecah dalam mendukung pemerintah. Salah satu desakan yang disampaikan PBNU kepada Presiden Jokowi adalah rencana penetapan tanggal 22 Oktober sebagai hari santri nasional.

Menurut Said, penetapan hari santri nasional perlu dilakukan dalam rangka meningkatkan semangat kebangsaan umat Islam. Peningkatan semangat kebangsaan ini dinilainya penting dalam menghadapi tantangan globalisasi, termasuk menghadapi gerakan radikalisme semacam ISIS.

Untuk menghadapi globalisasi yang ekstrim, lanjut dia, warga negara Indonesia, khususnya umat Islam harus memiliki prinsip yang mengedepankan jati diri bangsa. Lebih jauh, Said menyampaikan bahwa 22 Oktober tepat dijadikan hari santri nasional karena peran santri begitu menonjol dalam memperjuangkan kemerdekaan pada 22 Oktober 1945.

Ketika itu, Kiai Hasyim Asy’ari mengumumkan fatwanya yang disebut sebagai Resolusi Jihad. Resolusi Jihad yang lahir melalui musyawarah ratusan kiai dari berbagai daerah tersebut merespons agresi Belanda kedua.

Resolusi itu memuat seruan bahwa setiap muslim wajib memerangi penjajah. Para pejuang yang gugur dalam pemerangan melawan penjajah pun dianggap mati syahid. Sementara itu, mereka yang membela penjajah dianggap patut dihukum mati.

.

Penulis:Icha Rastika

Editor  : Fidel Ali

ooOoo

Iklan